Actions

Work Header

Merengkuh Asfar

Work Text:

 

 

 

Jika disuruh mengeliminasi warna dan menyisakan satu, Sehun akan menyelamatkan kuning.

Kuning gersing  yang murni. Kuning buluh sewarna batang bambu. Kuning emas yang berkilauan. Kuning gading yang pucat manai. Kuning manyala seperti bulu kepodang. Kuning jenar yang mewujud jingga saat diberi sentuhan merah. Semuanya. Semua yang berdasar kuning. 

Kuning, untuk bagian tengah telur setengah matang mengilat saat sarapan pagi. Teruntuk ladang bunga matahari di rumah nenek yang dikunjunginya saban musim panas. Adalah topi munjung di kepala murid-murid TK yang bergerombol menyeberangi jalan. Juga untuk dedaunan pohon mapel yang bagai terbakar pada pertengahan musim gugur. 

Kuning ialah selaput pelangi dan rambut pirang Lu Han. Juga semburat terang matahari. Sesuatu yang bisa melukainya.  

Risiko berpacaran dengan kaum darah dingin, Sehun terkadang mesti memilih antara warnanya atau kekasihnya. 

 

***

 

Pertama kali dia bertemu Lu Han, seluruh elemen perjumpaan mengimpresikan gelap. Benar-benar kontras dengan kuning. Bulan baru, langit malam tanpa rembulan. Gang sempit lembap sehabis hujan. Lampu redup, nyala-padam bergantian setiap dasasekon. Melengkapi semua, adalah kesialan Sehun diadang dua orang perampok. 

Sebilah pisau hanya berjarak milimeter dari lehernya, siap menggores kulit. Dia mendengar bunyi gedebuk disertai teriakan, tak lama setelah memejamkan mata rapat-rapat. Setelah itu, hening. Saat pelupuknya terangkat, tidak ditemukannya apa pun kecuali satu, pemuda asing yang tengah bertelut di sudut bak penampung sampah. 

Sehun sangka, pemuda itu mungkin terluka gara-gara berusaha menolongnya. Dia bergegas mendekatinya tanpa bimbang dan ragu. 

“Hei, kamu baik-baik saja? Apa kamu terluka?” 

Sehun menepuk pundaknya. Di antara fase nyala-padam, lampu gang memilih menyala tepat di saat pemuda itu menoleh. Sepasang bola mata keemasan dan taring terlihat mencuat. Sekitar bibirnya berlumur darah, milik tikus got gemuk yang mati terkoyak di tangannya. 

Membelalak kaget, Sehun impulsif mundur hingga terjerembap di aspal sompek yang becek. Dia panik. Tangannya gemetar meraih ponsel, dan di tengah selubung rasa takut, dia masih sempat meramban gambar salib. Layar ponsel lantas dihadapkan ke muka. 

“Ba-Bapa Yang Mulia, dunia ini penuh dengan kebencian dan kedengkian, semua berasal dari iblis dan roh jahat.” Sehun berusaha merapal doa pengusiran setan. “Ya, Bapa, Eng-Engkau yang mencintai manusia, kami memohon kepada-Mu agar … agar … ugh, berengsek! Apa lanjutannya?!” 

“Sudah selesai?” Suara Lu Han ketika berbicara, di luar duga terdengar empuk dan lembut. “Sia-sia kamu berdoa sambil mengumpat. Tuhan memang Maha Mendengar, tapi Dia juga pilih-pilih doa baik untuk dikabulkan duluan.” Dia berjongkok di depan Sehun, lalu menyeka sisa darah di sudut bibir. “Tenang saja. Meski sangat haus, aku tidak tertarik dengan spesiesmu.”

Sehun tercengang, menyaksikan pemuda itu meninggalkannya begitu saja tanpa menyentuhnya. Dia tampak terhuyung-huyung saat akan melangkahi bibir gang. Tubuhnya sempat bersandar pada dinding sebelum merosot jatuh sambil memegangi perut. 

Semestinya Sehun kabur, tetapi dia malah menghampiri. Dilihatnya sang pemuda setengah tak sadarkan diri. Telunjuk Sehun menancap-nancap pipinya. Dia tidak bergerak saking lemahnya. Dalam kondisi demikian, rasa takut Sehun mendadak hilang. Sebaliknya, dia merasa amat kasihan. 

Mungkin, akibat doa yang tidak paripurna, Sehun tanpa sengaja malah mendatangkan setan. Telinganya tumpat oleh bisikan untuk melakukan tindakan abnormal. Sehun memutuskan membawanya pulang, dan saat itulah benang relasinya dengan Lu Han mulai terpilin. 

Mereka berkenalan setelah sang vampir siuman penuh. Lu Han bercerita bahwa dia kehabisan suplai darah hewan. Stok labu di kediamannya kosong, sementara persediaan di bank darah vampir juga sedang menipis pada minggu ini. Para vampir memperebutkan stok yang tersisa. Tidak semua beruntung. Lu Han termasuk yang sial. Demi mencukupi kebutuhan, dia terpaksa harus berburu sampai minggu depan, dan berburu di perkotaan tidak semudah di pedesaan. 

Jarang ada hewan unggas dan mamalia liar. Hewan domestik jelas tidak akan disentuhnya. Terlalu mencolok, dan pastinya berpotensi menimbulkan gempar. Yang tersisa untuk diburu hanyalah hewan-hewan hama seperti tikus, yang jauh dari mengenyangkan apabila cuma dikonsumsi seekor. 

“Itu berarti, semua vampir saat ini sedang aktif mencari makan, sepertimu?” Sehun sudah berani bertanya tanpa segan. Kesan dari kejadian di gang sebelumnya benar-benar lenyap tak berbekas. Saat itu, dia sudah yakin betul, Lu Han bukan ancaman. 

“Hanya mereka yang tidak punya penyuplai tetap.”  

“Penyuplai?” 

“Ya, manusia yang melakukan kesepakatan dengan satu vampir untuk sukarela menyediakan darahnya.” 

“Dan kamu … tidak punya?” 

Lu Han membisu, minus respons. Bagaimana dia bisa berakhir terkulai di ranjang Sehun, semestinya sudah sebentuk jawaban.  

“Aku tidak mau terikat.” 

Bangkit yang menyegera membuatnya sempoyongan. Sisa pening ternyata masih ada. Sehun refleks merengkuhnya. Dalam jarak sedekat itu, dengan kondisi dahaga, Lu Han mampu mendengar aliran darah di pembuluh Sehun amat jelas. Jakunnya bergerak, berusaha menahan goda. 

“Bagaimana aku bisa membantu?” Sehun sepertinya sedang tidak waras ketika tiba-tiba mengatakan itu. 

Kesadaran Lu Han seperti diangkat dari koma. Didorongnya Sehun menjauh. “Jangan bertanya. Kamu tidak bisa.”

Sehun terdiam, memandangnya cukup lama. Membawa Lu Han ke apartemennya saja sudah keputusan absurd. Sejak itu, entah mengapa isi kepalanya tampak berputar-putar terus di sekitar hal-hal tidak masuk nalar. Seperti secara sadar, dia meraih silet alat cukur dari laci. 

Lu Han mencium gelagat yang tidak beres. “Sehun … apa yang—” 

“Kalau cuma sedikit, tidak apa-apa, kan? Tidak akan membuat kita otomatis terikat.” 

“Tunggu!”

Terlambat. Satu sayatan pendek menyobek kulit telunjuk. Darah pekat merembes keluar dari celah yang sengaja dibuat. Olfaktori Lu Han dihantam aroma legit memabukkan. Rasanya bagaikan memasuki bakeri saat roti-roti baru dikeluarkan dari oven. 

Mundur setindak demi setindak, Lu Han menghalau raksi dengan punggung tangan. “Tidak … jangan mendekat …. kumohon.”

“Anggap saja ini balas jasa untuk pertolonganmu tadi.”

“Balas jasa apa?! Aku tidak punya niat menyelamatkanmu!” Sentakan Lu Han dibuntuti desis. Berupaya menunjukkan bahwa dia masih sanggup mendominasi dan memukul mundur Sehun. “Para perampok itu … aku mengusirnya karena mereka terlalu ribut, bikin buruanku hampir lepas.”

Telinga Sehun sepertinya tersumbat, sebab langkahnya tidak berhenti. 

“Kondisimu terlihat menyedihkan. Kamu butuh ini.” 

Itu benar. Namun, bukan dengan cara ini dia ingin ditolong. 

Punggung Lu Han telah merapat di dinding, sementara Sehun mengiming-imingi darah di hadapannya. Mata memejam rapat. Aroma menginfiltrasi semakin dalam. Saat kelopaknya membuka, telunjuk sudah berada tepat di muka. 

Barikade luruh. Dua tangan mencengkeram pergelangan, dan Lu Han memasukkan jari Sehun ke mulutnya. Dia menjilat, mengisap, dan mengulum dengan rakus. Tidak mau menyia-nyiakan tiap tetes. 

“Sehun, darahmu … oh ….” Lu Han mendesah laiknya tengah menikmati hidangan surgawi.

Sehun terkesima menyaksikan penampilan Lu Han berubah perlahan-lahan. Rambutnya, dari kusam menjadi pirang cerah dan tampak berkilau. Roman yang sebelumnya sepucat mayat, lambat laun berona sehangat manusia hidup. Kisut-kisut menipis hingga raib total, kulitnya kembali mengencang. Bola mata dengan iris keemasan, yang sempat memelototinya di gang, kian berpancar secerlang kerlip bintang. 

Jantung Sehun merenyut. Lu Han sungguh seperti penggambaran pangeran vampir abad pertengahan dalam kisah fiksi fantasi. Rupawan, memesona, dan … sensual.    

“Apa enak?”

“Ya, ya. Oh, sudah lama sekali aku tidak merasakan yang seenak ini.”

Disebut darahnya bermutu baik, Sehun jadi berbangga diri. “Tentu saja. Aku menerapkan gaya hidup sehat. Tidak merokok. Konsumsi alkohol rendah. Olahraga rutin. Nutrisi seimbang. Bahkan menghitung setiap jumlah kalori yang—uhm, apa kamu belum selesai? Tampaknya, kamu haus sekali.” 

Taring Lu Han menggigit-gigit serta menusuk-nusuk pelan. Serasa disuntik berkali-kali, Sehun sedikit merasakan pening. Dia berusaha menarik jarinya. 

“Lu Han ….” 

Panggilan terabai. Lu Han masih belum rela melepaskan sumber energinya. Sehun mulai cemas. Takut niatnya mendermakan sedikit darah berakhir kebablasan.

“Lu-Lu Han … cukup, aku ….” 

Kalimat tidak keburu rampung. Semua telanjur berbayang, kemudian gelap.

 

***

 

Sehun tidak mengingat apa yang terjadi setelah itu. Keesokan pagi, dia terbangun di ranjangnya, tergelung dalam selimut. Sendirian. Kamarnya benderang oleh sinar matahari yang menerabas kaca jendela lantai 12. Sehun tidak pernah menutup penuh tirai. Dia selalu menyukai matahari sebagai alarmnya. Telunjuk lantas dia angkat. Ditemukannya bekas luka segaris dan dua titik. 

Semalam memang nyata. 

Namun, Lu Han menghilang seperti mimpi. 

Kejadian itu tidak bisa dia lupakan. Tepatnya, dia tidak bisa melupakan Lu Han. Seminggu, dua minggu, tiada tanda-tanda perjumpaan kembali. Minggu ketiga, Sehun seperti orang linglung. Diam-diam, dia rindu. Dalam ilustrasi terbarunya, tanpa sadar dia menggambar Lu Han dalam bentuk super deformed imut. Lu Han digambarkan tengah mengejar kupu-kupu kuning di sore yang cerah.  

Lu Han dan kuning, menurut Sehun, serasi. 

Minggu keempat, tepat sebulan pascainteraksi perdana, Lu Han kembali. Hari itu, Sehun baru tiba dari pameran kriya selepas petang. Begitu lampu apartemen menyala, dia terkejut menemukannya di sudut kamar. Tatapan Lu Han dingin, memerangkap sosoknya tanpa bicara. Sehun pun tidak tahu harus membuka obrolan macam apa. Mereka berdiam-diaman, sampai akhirnya Sehun tidak tahan.

“Hai?” Itu yang terucap pertama kali.

Lu Han menghampirinya. Semakin dekat. Terus mendekat. Betis Sehun sudah membentur sisi tempat tidur, sedangkan Lu Han tidak ada intensi berhenti, apalagi mundur. Sehun pun terjatuh di permukaan kasur bersama tubuh Lu Han yang menimpa dada. Untungnya, dia ringan. 

“Kamu tahu,” Lu Han tidak bernapas, tetapi Sehun merasakan udara dingin yang membikin leher merinding ketika dia bicara, “darahmu berhasil menghalau rasa hausku selama tiga minggu.”

“Oh? Itu ... sesuatu yang bagus atau bukan?” tanya Sehun, gugup.

Kedua sisi mantel Sehun diremat. “Menurutmu?!” 

Sehun tersentak.

“Darahmu benar-benar anugerah terkutuk!” Badannya lantas diguncang-guncang. “Gara-gara itu, darah apa pun yang kuminum, rasanya jadi tidak karuan. Bahkan darah Wagyu Kobe favoritku terasa seperti comberan! Bikin aku ingin muntah.”

Guncangan berhenti. Kening Lu Han jatuh menumpu ke dadanya. “Aku membencimu, Oh Sehun,” ucapnya melirih. “Benci.”

Sehun termangu usai menjadi sasaran kekesalan. Dalam diam, masih berusaha mencerna. Dia bermaksud mengusap kepala Lu Han. Intensi diredam. Tangannya kembali dikepalkan.  

“Kamu,” Sehun memberanikan diri bertanya, “ingin aku menjadi penyuplaimu?”

Terperanjat, sontak Lu Han mengangkat kepala. “Bicara apa kamu? Tidak. Aku ke sini bukan untuk itu.”

“Lantas, untuk apa?”

Sang vampir bungkam. Di antara kedipan, bola mata indahnya memancarkan kebingungan. Lu Han seperti tersesat. Kelihatan berusaha keras menahan ego agar tidak terkesan mengemis atau minta belas kasihan. 

Dia gigit bibirnya hingga taring menampak. Merasa hilang arah, Lu Han berdiri dan hendak pergi.   

“Lu Han ….” Sehun turut bangkit, masih sempat meraih pergelangannya. 

Hening yang menggelembung kemudian pecah oleh satu frasa. 

“Aku mau.”

Lu Han membeku. Matanya memejam. Umpatan ‘sialan’ tergumam. Dia telah diundang masuk. Sehun menggenggam patronasi yang sulit dia tolak. Lu Han telanjur terikat, mau tidak mau, suka tidak suka.

Pandangannya kembali terpaut kepada laki-laki itu. “Aku membencimu,” ulangnya. 

“Tapi, tidak darahku, kan?” 

Sehun tersenyum, dan menurut Lu Han reaksinya sungguh konyol. Dia akan menjadi ‘santapan’. Tidak semestinya dia senang. Kesepakatan terjalin kendatipun opini mereka berseberangan. 

Saat menyatakan kesediaan, sepertinya Sehun sudah siap lahir batin untuk pingsan saban tiga minggu. 

 

***

 

Dua pertemuan, Lu Han hanya datang untuk makan. Sehun akan mengantuk, tertidur, dan terbangun tanpa siapa pun di sisinya. Benar-benar pola yang sama dengan temu pertama. Lama-kelamaan Sehun sadar, dengan interaksi demikian, posisinya tidak lebih dari seorang budak, sebab hanya Lu Han yang diuntungkan. 

Sehun menuntut timbal balik pada temu ketiga. “Kamu dapat darahku, lalu aku dapat apa darimu?”

Taring Lu Han sejurus lagi menembus kulit. Dia menjeda ketika Sehun meminta. 

“Maumu apa? Tolong jangan bilang ‘keabadian’. Kalau itu, aku tidak bisa. Mengubah manusia butuh tanggung jawab, seperti membesarkan anak, dan itu merepotkan.”

“Tidak. Bukan itu. Yang kumau cuma pendampingan.” Sehun kemudian memperjelas. “Aku ingin kamu ada saat aku butuh kawan. Bisa temani aku makan malam, mengobrol, atau cukup duduk saja dan melihatku bekerja. Intinya, tinggal di sisiku.”

Tatapan berserobok. Sang vampir tampak sedang mempertimbangkan. 

“Hal yang sederhana seperti itu ... tidak muluk, kan?”

Seringai tipis tersungging. Lu Han membelai pipi Sehun sebelum menanamkan taring. 

“Pendampingan,” kata tersebut didesahkan di telinganya, “tentu saja, itu mudah.”

Kesadaran Sehun terenggut pelan-pelan. Dia tertidur di paha sang vampir dan masih sempat mengigau, “Lu Han, jangan buru-buru pergi.”

Lu Han menjaga kata-katanya. Dia tinggal hingga subuh. Semburat mentari menggugah Sehun. Didapatinya kekosongan. Lu Han tinggal, tetapi Sehun tentu tidak sempat merasa.  

 

***

 

Darah dibarter afeksi. Pertukaran itu menjadi harga mati. Pendampingan adakalanya bukan sekadar pendampingan. Sesekali terjadi, bisnis mereka melibatkan keintiman seksual. Lu Han akan menuntun Sehun bersanggama apabila sedang ingin makan mewah. Darah yang diisap saat tiba di puncak kenikmatan, rasanya berlipat-lipat lebih gurih. Sehun jelas tidak akan menampik. Sensasi bercinta dengan vampir ialah salah satu pengalaman terbaik hidupnya. 

Adalah satu malam ketika Lu Han berkunjung hanya karena Sehun butuh seseorang untuk dipeluk. Sederhana. Sesuai permintaannya. Mereka berselonjor di ranjang usai mengakhiri satu sesi ciuman panjang.

“Apa yang kamu kerjakan untuk hidup?” Setelah puluhan interaksi, baru kali ini Lu Han menaruh ketertarikan.

“Aku? Menggambar.” 

“Seperti pelukis atau komikus?”

“Lebih tepatnya, ilustrator buku cerita anak-anak,” terang pria itu. “Mau lihat karyaku?”

Sehun bangkit menuju meja kerja untuk mengambil sejilid portofolio. Dia menyerahkan buku itu kepada Lu Han, lalu kembali merangkulnya. Halaman demi halaman dibuka. Ilustrasi Sehun didominasi warna cerah. Saat menemukan gambar yang dianggapnya lucu, sudut bibir Lu Han akan naik. Sehun curi-curi memandang senyumnya.   

“Berapa umurmu?”

“Bisa lebih spesifik?” Lu Han merespons tanpa menoleh. Masih terfokus pada buku ilustrasi. “Umur terakhirku sebagai manusia, atau—”

“Ya, yang itu.” 

Bunyi gesekan kertas mendahului. “Dua puluh dua,” jawabnya.

“Hm, dua puluh dua, ya. Kamu lebih muda empat tahun dariku.”

“Lebih muda?” Perhatiannya langsung berpaling dari buku. “Apa kamu ingin dengar umurku versi yang satu lagi?”

“Tidak. Aku tidak peduli sudah berapa lama kamu menjalani usia itu.” 

Sehun bukan pribadi yang melit. Tidak pula dia ingin memaksa mengorek kisah-kisah purba kecuali Lu Han sendiri yang memutuskan membaginya. 

Dia terkekeh sembari merapatkan pelukan. Mata sang vampir menyipit, sinis pada reaksi konyol yang sepertinya sudah lumrah. 

“Terserahmu saja, lah.”

Kembali dia mengamati buku. Sisi wajah Sehun bertumpu di puncak kepala pirang. Pipinya bersentuhan dengan rambut selembut surai kucing. 

“Aku menyukaimu.”

Pelan. Diucapkan dengan sadar. Terlalu tiba-tiba.

Lu Han tidak menjawab.

 

***

 

Kalimat pernyataan itu bukan satu-satunya. Saat Lu Han menemaninya ke pasar seni malam, saat dia menggantikannya menyirami bunga zinia lekuk di pot samping jendela, saat dia hanya duduk saja menyaksikannya menggambar, Sehun akan berkata, “terima kasih, aku menyukaimu.”

Tanggapan yang semula nihil, berubah menjadi, “hmm.” Itu lumayan, daripada sebelumnya cuma membisu.

Malam kesekian kala mereka berlaga kasih, Sehun mengucapkan sesuatu yang berbeda.

I love you.

Kadar tidak lagi sama. Perasaannya sudah mengendap terlampau tebal dan dalam. Bagi Sehun, hubungannya dengan Lu Han bukan lagi sebentuk bisnis.

Ketika Lu Han tidak bersuara, kalimat itu terus direntetkannya membersamai desah dan laku jasmani.

“Lu Han, I said, I love you.” Sehun mengharap secuil respons. 

Balasan Lu Han, “Ya, aku tahu.” 

Kemudian, dia menggigitnya. Dilandasi kekhawatiran Sehun akan mendesaknya mengatakan balasan lain.

Helai-helai rambut hitam melewati sela-sela jemari ramping. Sehun pulas dalam belaian dan pelukan sang vampir hingga dini hari. Lu Han membetulkan letak selimut yang tidak utuh menyalut tubuhnya. Dia turun dan menghampiri meja kerja Sehun. Tempat ide-ide pria itu tertuang. Telapak meraba tulang buku yang tersusun vertikal. Diambilnya satu yang masih terasa hangat oleh sisa sentuhan. Sebuah buku sketsa. 

 

All About Lu

 

Buku itu adalah koleksi kartun dirinya yang dilukis dengan cat air. 

Lu Han mengejar kupu-kupu. Lu Han di atas timbunan rerontokan daun musim gugur. Lu Han di tengah padang bunga matahari. Lu Han dikelilingi anak-anak itik di pinggir danau. Lu Han membangun istana pasir di bibir pantai.  Lu Han memetik buah lemon. Lu Han mengendarai skuter kuning, dan kali ini ada Sehun di jok belakang merentangkan tangan.

Senyum apresiasi yang sempat merekah segera layu begitu menyadari semua gambar itu berlatar saat hari terang. Sisi kala yang disukai Sehun. Setengah sirkadian yang mustahil Lu Han sintas. 

Sudah jelas, Sehun berkarib dengan matahari. Tetapi, dia juga mengumbar kata ‘cinta’ kepadanya, sang epitome kegelapan. Bagaimana bisa Sehun menaruh hati kepada dua anasir yang tidak bisa direngkuh bersamaan? 

Tiba-tiba Lu Han merasakan sesuatu yang menurutnya tidak berhak; cemburu, terkhianati.

Buku itu dia tutup, lalu diletakkan ke tempat semula. Ranjang kembali dihampiri. Dia duduk di sebelah Sehun.

“Aku membencimu, manusia konyol.” Wajah selelap bayi ditekuri cukup lama. “Tidak. Aku bohong.” 

Bibir Sehun lantas diciumnya. Penuh kelembutan dan tidak menyegera untuk diakhiri. Setelah itu, Lu Han pergi sebelum saingannya muncul dan mengejeknya dari balik jendela. 

Ternyata ada yang lebih merepotkan selain mengubah manusia, yaitu mencintainya.

 

***

 

Malam purnama. Sehun sedang menggambar sekuens adegan putri dan pangeran berdansa wals di balkon istana yang dinaungi rembulan. Lu Han kebetulan mengintip draf pekerjaannya.

“Latarmu Wina abad tujuh belas, kan? Ini langkah kotak gaya Amerika. Salah lokasi dan salah waktu,” celetuknya.  

Sehun menengadah. “Kamu mengerti wals?” Antusias, dia pun berdiri. “Dari dulu aku selalu ingin belajar. Ajari aku.” 

“Sekarang?”

Pekerjaannya ditelantarkan. Dia giring Lu Han ke sisi jendela. Seluruh tirai didedah. Pendar purnama terlihat bersaing dengan lampu-lampu kota. 

Dia membuka aplikasi layanan streaming musik. “Pilih komposisi yang kamu suka.” 

Ponsel berpindah tangan. Pilihan Lu Han jatuh pada “Seid umschlungen, Millionen!, opus 443”. 

“Tunggu.” Putaran musik dihentikan sementara.

Dia menggengam tangan Lu Han, membawanya mendekati bibir, kemudian mencium buku-buku jarinya. 

Sang vampir tertegun. “Untuk apa yang barusan itu?”

“Bukankah seperti itu kalau di film-film?” 

“Uh, kamu sungguh menelan bulat-bulat semua produk fiksi yang kamu lihat.” 

“Tidak juga. Yang ini, aku memang ingin melakukannya.”

Intermeso Sehun ditutup senyuman usil. Sebelum dia kembali melempar rayuan-rayuan tidak penting, Lu Han segera mengatur posisi tubuh dan memberi aba-aba langkah.

Komposisi itu baru mengalun setengah durasi, tetapi Sehun sudah menggerutu beberapa kali. Wals Wina 180 ketukan yang Lu Han kuasai ternyata bukan untuk pemula. Kakinya terseret-seret. Dia keteteran menyesuaikan ketukan langkah yang dipandu Lu Han dengan irama musik. Dansa yang semestinya romantis itu pun bubar setelah Sehun tidak sengaja menginjak kaki kiri Lu Han.

“Kenapa kalau di film terlihat gampang?” Dia menggerundel usai meminta maaf. “Aku merasa tertipu.”

Practice makes perfect. Memangnya kamu bisa langsung mahir menggambar ketika baru lahir?” Lu Han tersenyum mengejek. “Padahal tadi kamu duluan yang menggebu-gebu.”  

“Oke, aku ralat. Belajarnya nanti lagi saja.” Letak tangan Sehun berpindah, merangkup pinggang Lu Han. “Tapi, aku masih ingin satu dansa denganmu.”

“Supaya sekalian bisa menginjak kakiku yang lain?” 

Sehun tertawa. “Jika dansa lambat pun kakimu masih terinjak, berarti aku betul-betul tidak berbakat. Kamu tidak usah buang-buang waktu mengajariku wals lagi.” 

Musik pengiring berganti tembang lawas pilihan Sehun; “Put Your Head on My Shoulder” milik Paul Anka. Tubuh mereka berayun pelan senyaman mungkin, mengesampingkan teknik serta pakem-pakem. Mata berbeda warna iris merefleksi. Sehun menemukan sosoknya di sana.

Lirik lagu digumamkan Sehun sesekali meski tahu suaranya tidak merdu-merdu amat, serta terdapat disharmoni nada. Satu tangannya naik menuju tengkuk Lu Han. Merasa dipandu, Lu Han sukarela meletakkan kepalanya di pundak lebar pria itu. Bayangan mereka dalam posisi tersebut dapat dia lihat di pantulan kaca jendela. 

Tidak. Bukan mereka. Hanya Sehun saja. Dia tidak ada.

I love you.” Sehun membisikkan kalimat yang sudah-sudah. 

Dan seperti yang sudah-sudah pula, tanggapan Lu Han tidak berubah. Ungkapan itu dibiarkan menggantung dalam diam. Mendesah pelan, Sehun pun tersenyum. Ini sesuatu yang lazim. Dia telah terbiasa didiamkan. 

Durasi lagu kurang dari tiga menit. Saat alunannya menghilang, mereka tetap bertahan seperti itu. Tidak sedikit pun mengendurkan pelukan. 

Pikir Sehun, begini juga cukup. 

Lu Han tidak pergi dari sisinya, itu cukup. 

 

***

 

Jeritan dan gedebuk lantam. Selain sinar matahari, dua hal asing itu menggugahnya. Kelopak mata terbuka seketika. Sehun bangkit cepat-cepat. Nyawanya langsung terkumpul detik itu juga. Dilihatnya debu-debu keemasan bertaburan di seprai. Sehun juga mendapati gundukan selimut di lantai. Gundukan itu tampak bergerak-gerak, seperti bergetar.  

Mata Sehun membeliak. Dia bergegas turun, buru-buru menutup tirai, kemudian menghampiri selimut yang menggembung. 

“Tidak!” Lu Han menyentak ketika Sehun mencoba menarik ujungnya.  

“Sudah kututup. Sudah kututup.” Sehun memberi tahu. Dia sendiri sebenarnya tengah panik. “Lu Han, tidak apa-apa. Tirainya sekarang tertutup. Tidak ada matahari.”

Selimut itu coba ditariknya lagi. Tidak ada perlawanan kali ini. Pelan-pelan, seluruh bagiannya disibak. Hati Sehun mencelus. Pelipis dan pipi kiri Lu Han terlihat melepuh. Kemejanya melorot jatuh, sisi leher dan pundaknya pun tidak luput. 

“Lu Han … ini, a-aku harus bagaimana supaya ….” Suara Sehun sedikit bertremor. Malah dia yang merasa takut. 

Takut Lu Han tidak baik-baik saja, dan takut dia tidak bisa melakukan apa-apa untuknya.

“Nanti bakal pulih sendiri.” Sisa rasa terkejut—dan mungkin juga sakit—masih menjejak dari suaranya yang terdengar setengah mencicit.      

“Apa yang terjadi? Kenapa kamu masih di sini?”

Wajar apabila Sehun bertanya. Tidak sekali pun dia pernah melihat Lu Han masih ada bersamanya saat terbangun. Pagi ini sungguh anomali yang mengejutkan. 

“Salahmu,” ucap Lu Han mendayu dengan tatapan sendu. “Salahmu menaruh harapan tidak realistis kepadaku. Kamu tahu kalau selamanya aku tidak akan bisa.” 

Sehun tercengang. Mulutnya sampai menganga tanpa sadar.

“Sebentar, aku tidak mengerti. Ini, tentang apa?”

“Semuanya. Tentang pergi ke ladang bunga matahari, tentang memetik lemon, bermain pasir di pantai, naik skuter siang terik. Pokoknya semua yang kamu idamkan.”

Kelopak mata Sehun berkedip. Dia berpikir sejurus sampai akhirnya memahami perihal yang dimaksud.

“Oh, ya, ampun, Lu Han,” Sehun langsung memeluknya, “kamu melihat koleksi ilustrasiku?” 

Sang vampir tidak bicara. Dibiarkannya tubuh terbenam dalam dekapan.

“Dengar, gambar-gambar itu tidak mewakili keinginanku.” Usapan-usapan lembut menyelusur di belakang kepala. “Itu ... murni tentangmu dalam tumpahan warna yang kusuka.”

Dalam hati, Lu Han menebak warnanya. 

“Kuning.”

Tebakannya tepat.

“Mengenai latar serta objek-objek lainnya, semua hanyalah ornamen, kupilih acak saja untuk menyesuaikan tona. Benar-benar cuma kebetulan.”   

Sehun bisa saja memulas kuning pada lampu-lampu jalan dan lentera di malam hari, atau pijar lilin pada momentum makan malam romantis, atau kobaran api unggun saat berkemah di bawah langit berbintang. Dia hanya belum sempat menggambarnya.

Dirasakannya tubuh yang dipeluk itu berserah, benar-benar tidak bergerak. Dekapan merenggang. Sehun menyentuh rahang dan menengadahkan wajah Lu Han. Lepuh di kulitnya tampak mulai berangsur lenyap. Dia merasa sedikit lega.  

“Kuning tidak selalu harus matahari. Bulan pun bisa jadi representasi,” ujarnya, “tapi, kuning yang paling kusuka ... tentu saja kamu.” 

Sehun menyugar rambut Lu Han, lalu membelai kepalanya. Dia mendekat, membuat Lu Han yang mengira keningnya akan dikecup, memejamkan mata. Ternyata bibir itu mendarat di pelupuknya dengan lembut.

“Sudah jelas, kan? Jadi, kamu tidak perlu memaksakan tinggal sampai pagi dan mencoba berhadapan dengan matahari demi bisa bersamaku.” 

Lu Han menepam dada Sehun dan sedikit mengambil jarak. 

“Siapa juga yang begitu? Kamu terlalu percaya diri. Aku cuma—”

“Baiklah, baiklah, aku mengerti.” Sehun memeluk lagi untuk membungkamnya. “Memang aku terlalu percaya diri.” Dia terkekeh. Vibrasi tawanya menyiratkan senang. “Apa pun alasannya, tidak boleh.” 

Ya, Sehun tidak inginkan itu, sebab dia mulai memahami, bahasa kasih yang dinanti-nanti, selamanya tidak akan pernah berbentuk kata-kata. 

Dia mengerti, inilah cara ternekat Lu Han untuk mengatakan ‘I love you too’.

Itu sudah (lebih dari) cukup.

 

***


Hold me in your arms, baby
Squeeze me oh-so-tight
Show me that you love me too

Whisper in my ear, baby
Words I want to hear
Tell me, tell me that you love me too 

 

[***]