Actions

Work Header

A Kiss Before Show Time

Work Text:

Sampai hari ini, Junkyu masih tak menyangka jika dia bagian dari sebuah grup mega bintang seperti TREASURE. Semua berjalan begitu cepat hingga tak terasa dia telah debut selama 3 tahun.

Waktu boleh berjalan cepat, dunia boleh pergi dan tak pernah berbalik, tetapi anxiety yang Junkyu miliki setiap kali naik ke panggung untuk tampil di depan penggemar yang memenuhi venue konser nyatanya tetap berada di tempat yang sama. Saat di stage acara musik mingguan untuk mempromosikan lagu baru ataupun sekedar fansign bersama penggemar, dia sangat relax. Namun, ketika mengadakan tour konser di berbagai tempat yang ada di setiap titik belahan dunia, rasa cemas berlebihannya muncul.

Dan ini sungguh menyebalkan baginya karena sebagai idol yang harusnya sudah berpengalaman dengan hal seperti ini, malah memiliki kekurangan.

Junkyu telah mengupayakan segalanya dan mendapatkan perawatan intensif setiap kali memiliki jadwal kosong dengan tenaga ahli untuk mengatasi hal ini, tetapi tetap saja anxiety-nya akan muncul secara tak terduga bila dia merasakan gugup dengan suatu hal. Meski tak separah di awal debutnya dulu ketika pertama kali wawancara, tetapi namanya orang cemas berlebihan mengenai suatu hal tetap saja temanya cemas.

Jantungnya bertalu-talu sangat keras, keringat dingin muncul di sela-sela jemarinya, dan pikirannya menjelajah ke mana-mana yang mana berujung pada hal yang tak jauh dari :
'Apakah layak aku naik panggung?'
'Apakah pantas kalau aku menghibur penggemar?'
'Apakah nanti aku tak melakukan kesalahan?'
'Apakah nanti aku mendapatkan kebencian jika melakukan kesalahan?'
'Bagaimana jika jumlah penggemar grup berkurang karenaku?'
'Apakah aku pantas menjadi inspirasi banyak orang? Apakah aku pantas jadi idol?'
'Apakah orang-orang yakin tak kecewa padaku? bahkan yang lebih ekstrim dulu dia pernah berpikir, 'apakah aku pantas untuk hidup?'

Pengandaian dan rasa cemas yang sejujurnya sangat sia-sia bila dia bertanya kepada khalayak, karena semua menganggap lelaki itu sempurna. Dan, Junkyu sebisa mungkin takkan menunjukkan kepada semua orang dan berperilaku profesional.

"Junkyu hyung, are you okay?"

Kecuali pada seseorang yang baru saja bertanya padanya. Junkyu akan menunjukkan kelemahannya tanpa takut akan dipandang sebelah mata.

"Anxiety-ku kambuh, Mashi."

Mashiho datang menggunakan setelan hitam dan kemeja putih di dalamnya lalu berdiri di depan kursi yang diduduki Junkyu. "Kamu habis mandi atau ini semua keringat?" Ia menoel bagian wajah Junkyu yang dipenuhi keringat dengan tisu di meja rias.

Ruangan untuk TREASURE di konser kali ini dibagi menjadi tiga berdasarkan urutan line. Hyung line, middle line, dan maknae line. Namun namanya juga member TREASURE, setelah semua makeup beres lalu tes mic selesai, saat diberi waktu satu jam untuk beristirahat sejenak sebelum memulai konser, malah pergi dan menghilang semua dari ruangan masing-masing—Mashiho sudah mengecek semua ruangan dan hanya tersisa Junkyu di ruang hyung line— meski nanti mereka akan berkumpul kembali di backstage sesuai waktu ditentukan.

"Inhale, exhale. Inhale, exhale." Mashiho menggenggam tangan Junkyu yang sedikit bergetar. "Fokus, hyung. Semua yang kamu pikirkan sekarang masih belum tentu terjadi, jadi sekarang fokus sama yang akan kamu hadapi dalam satu jam ke depan."

Mashiho menurunkan badannya hingga wajahnya berhadapan dengan wajah Junkyu. "Kamu bisa, kamu hebat. Kamu pasti keren di panggung, jangan pernah merasa insecure karena kamu bisa lebih dari itu." Lalu menepuk pipi yang lebih tua dengan perlahan. "Mau kopi nggak?"

"Boleh."

Mashiho mencoba mencairkan suasana dan membuat Junkyu melupakan sedikit kecemasannya dengan mengalihkan perhatian lelaki itu dengan cara mengajaknya berbicara banyak hal. "Aku tadi ke ruangan makeup maknae line soalnya di ruangan middle line orangnya pada ngilang semua, eh di maknae line sama aja," kata Mashiho sambil membuka bungkus kopi yang disediakan di pojok ruangan. "Terus pas ke ruanganmu, ternyata malah sama dan cuma hyung aja yang betah di ruangan. Kenapa nggak ikutan hyung-hyung lain pergi kelayapan?"

"Love," Junkyu berdeham lalu melanjutkan, "Kamu tahu banget kalau aku malas gerak dan harus menghemat energi buat nanti." Junkyu mendekati sang kekasih lalu menatapnya yang sedang menuangkan air panas dari heather.

Mashiho tertawa kecil. "Sekali-kali gerak gitu."

"Nggak, aku lebih suka sama kamu di sini."

"Nggak bosen? Sebulanan kita ketemu tiap hari setiap kali mau ada tour kayak gini." Mashiho memberikan secangkir kopi susu pada lelaki yang lebih tua beberapa bulan darinya tersebut.

"Mau bosen gimana? Aturan kita lima tahun pacaran, dan jujur aja jarang ketemu kalau nggak lagi ada schedule terus kamu tanya aku bosen? Ya, enggak."

Meski sudah berpacaran lama dan berada dalam satu grup yang sama, waktu pacaran Junkyu dan Mashiho sebenarnya lebih sedikit daripada pasangan kencan pada umumnya. Pertama, dorm mereka yang tak satu gedung. Jadi tak bisa bolak-balik bertemu.

Kedua, jika ada hari libur dari perusahaan, Junkyu akan memilih berhibernasi di kamar dan Mashiho akan dimonopoli oleh kawan satu dorm-nya untuk melakukan banyak kegiatan bersama. Bila ingin mengadakan quality time bersama, hanya bisa dilaksanakan sehari layaknya pasangan yang berkencan di hari weekend. Pernah sih selama liburan mereka menghabiskan waktu bersama secara full, tetapi selalu gagal karena diinterupsi oleh banyak faktor.

Ketiga, mereka biasanya lebih banyak berkencan setelah mencuri waktu di tengah-tengah schedule yang padat. Seperti bergandengan tangan saat berada di mobil ketika akan berangkat atau pulang dari kerja, ataupun mojok di studio Junkyu di kantor untuk beberapa jam. Namun, secara keseluruhan mereka memang memiliki sedikit waktu untuk bersama.

"Mashi, aku sangat gugup. Aku harus apa sekarang?"

Si manis mendekat dan berdiri di hadapan si besar yang tak terlihat fokus. "Berdoa mungkin?"

"Love, serius!"

Mashiho terkekeh lalu mengusap bahu Junkyu perlahan. "Iya-iya, serius. Kamu mau aku gimana?"

"Peluk? Katanya pelukan bisa bikin orang nyaman."

"Oke, peluk." Mashiho merentangkan tangannya lalu masuk ke dalam tubuh besar Junkyu yang kaku. Diusapnya perlahan punggung lelaki yang lebih tua itu agar merasa rileks dan tak terlalu tegang. Diucapkannya kata-kata penyemangat dan menenangkan, Mashiho lantunkan banyak sekali kalimat-kalimat betapa sempurnanya lelaki itu untuk mengurangi kegugupan Junkyu.

"Junkyu hyung, kalau kamu merasa dirimu tak berguna tak apa. Tetapi ingat, berapa banyak jiwa yang bisa kamu selamatkan hanya dengan suara dan gerakanmu di atas panggung?"

Agak lama, Mashiho merasakan tubuh Junkyu sudah santai, tak setegang tadi. Dirinya mendongak dan melihat lelaki itu yang sudah menatapnya dengan lekat. "Gimana?"

"Makasih banyak." Junkyu mencium dahi Mashiho lamat-lamat, mencurahkan segala rasa yang dia punya untuk lelaki yang lebih muda darinya beberapa bulan tersebut. Tanpa kata-kata, tanpa kiasan berarti dari mulutnya betapa dia sangat bersyukur memiliki individu di hadapannya, Junkyu menopangkan kepalanya di atas kepala Mashiho, lalu memeluknya erat dalam keheningan.

"Mashi." Junkyu menundukkan kepala lalu meletakkan tangannya di samping wajah Mashiho. "Reward?"

Mashiho terkekeh. Biasanya kalau dalam keadaan normal, dia akan mencibir dan berkata kalau ini hanya akal-akal Junkyu tiap kali bisa mencapai sesuatu ketika mereka sedang bersama —contoh : saat Junkyu menang dalam bermain game, Junkyu menyelesaikan instrumen, atau ketika lelaki itu berhasil merapikan kamarnya, dia akan meminta ciuman dari Mashiho sebagai reward— tetapi karena sekarang lelaki itu terlihat berhasil meredakan anxiety-nya —berharap saja nanti saat naik panggung lelaki itu hanya gugup biasa— maka Mashiho menganggukkan kepala. Sebuah pencapaian luar biasa, 40 menit Junkyu mampu mengatasi rasa cemasnya.

Sapuan lembut bibir Junkyu membuat Mashiho terkesiap. Kecapan demi kecapan suara memenuhi ruangan. Junkyu menunduk dan melumat hibir Mashiho dengan ciuman yang memabukkan hingga tangannya turun ke leher yang lebih muda. Yang lebih muda memejamkan mata, menikmati bibir yang hangat dan kencang dikombinasikan dengan sapuan lidah yang luar biasa memporak-porandakan pikirannya.

Pagutan keduanya terlepas, nafas memburu yang terengah-engah karena perlu meraup udara banyak-banyak dirasakan keduanya. Mashiho melihat mata Junkyu yang terlihat dalam dan ada percikan gairah di dalamnya. Alarm di kepalanya berbunyi, jika ini diteruskan bisa-bisa mereka harus kembali re-touch makeup yang sudah terpasang di wajah. Namun sebelum Mashiho berbicara untuk memperingatkan, pinggangnya ditarik oleh Junkyu dan bibir keduanya kembali membuat pagutan.

 

TBC