Actions

Work Header

Spellfire

Work Text:

 

 

 

Di antara semua hari, Oh Sehun menganggap Minggu teramat sakral. Hari bermalas-malasan. Hari saat dia tidak sudi diganggu. Cuma pada hari itu dia bisa tidur sepuasnya. Bangun dan keluar kamar pukul berapa pun yang dimau. Terlebih-lebih akhir pekan ini, saat badannya masih terasa rontok setelah hari sebelumnya mengikuti kompetisi Mutiara Bahar. 

Dia hanya mampu mengamankan tempat ketiga dalam kompetisi menyelam dan perburuan amulet sihir itu. Bisa dibilang, bukan hanya fisik yang ingin istirahat, melainkan juga mental yang masih dihinggapi perasaan mengkal. Seharusnya, seluruh penghuni akademi tahu jika hari ini adalah harta berharganya. Segala yang dibutuhkannya. 

Namun, tampaknya ada satu orang yang bebal. 

Orang ini menembakkan pesan kembang api ke langit melalui kusuma bara yang ditanam diam-diam di bawah jendela kamarnya. Letusannya memekakkan telinga, membuat jantung siapa pun nyaris melompat (ya, siapa pun, tidak hanya Sehun).  

Oh Sehun melempar bantal yang tidak mangkus dipakai menyumbat telinga. Dia bangkit tergesa-gesa. Tanpa peduli dengan rambut legamnya yang bertempiar, Sehun membentangkan daun jendela.

 

S, kamu juara di hatiku.

 

Pesan tersebut akan terasa manis apabila disampaikan pada momentum yang tepat. Masalahnya, sekarang masih pukul setengah delapan pagi. Pijar-pijar api tulisan itu berwarna merah manyala, sehingga meski langit terang, pesannya jelas terbaca oleh semua. 

Catat, oleh semua yang terganggu tidurnya.

“Hei!” Dia berseru ke arah tiga orang junior yang terlihat sedang jalan-jalan pagi didampingi seekor simargl. “Kalian tahu atau lihat siapa pelakunya?” 

Selepas pesan kembang api itu mengudara, ada seseorang yang wara-wiri di bawah jendela kamar Sehun. Dia terlihat panik, berusaha melenyapkan kusuma bara dengan berbagai cara. Mulai dari mencabut paksa kelopak dan mahkota, menginjak-injaknya, sampai mengiris tangkainya menggunakan belati embun. 

Mereka yang ditanya Sehun mengangguk dan menyebut satu nama.

“Senior Lu Han.”

 

*** 

 

Seharian, Lu Han benar-benar lenyap seperti buronan. Bahkan tidak kelihatan saat jam-jam makan, siang maupun malam. 

“Benar kalian tidak tahu?” Sehun menginterogasi Kim Jongdae dan Byun Baekhyun di ruang baca Asrama Hepta. “Kalian, kan, sahabatnya. Ke mana-mana selalu bareng.”

“Sekarang, apa kamu melihatnya bersama kami?” Baekhyun balik bertanya. 

Sehun diam, masih dengan raut masam. 

“Itu artinya tidak selalu, kan?”

Sesuatu berkeresak dan terlihat menyembul dari kursi Baekhyun ketika dia menggeser bokong. Pandangan tajam Sehun menyesar ke sana. 

“Apa yang kamu sembunyikan di balik punggung?”

“Oh, ini ….“ Dia menarik bungkusan kertas warna cokelat. “Roti isi.”

“Untuk siapa?” 

“Untuk siapa?” Baekhyun membeo, bibirnya sedikit bergetar. “Untukku tentu saja.”

Ekspresi Sehun bertahan skeptis sampai Baekhyun mengeluarkan roti itu dan menggigitnya. Sehun terus mengamati, seolah memastikan roti betulan dikunyah dan ditelan. 

“Kenapa? Tidak pernah lihat orang makan roti sehabis makan nasi?” 

“Kamu—” 

“Hei, kalaupun tidak bertemu hari ini, masih bisa bertemu besok.” Jongdae segera menyelipkan diri di antara adu tensi mereka. “Senin ada ujian transmutasi materi anorganik. Lu Han tidak mungkin bolos.” 

Kim Jongdae yang kalem dan solutif betul-betul penyelamat. Setelah diberitahu seperti itu, Sehun pun menamatkan interogasi dan beranjak pergi. Dua pemuda menahan napas cukup lama, kemudian mengembusnya penuh lega ketika siluet Sehun telah hilang total.

“Dia sudah pergi,” kata Baekhyun. 

Mereka berdiri dan berbalik, memperhatikan sudut rak buku pendek. Mantra antidot mimikri lapat-lapat terdengar. Satu wujud berubah perlahan-lahan, dari susunan buku bertumpuk menjadi pemuda pirang yang tengah meringkuk. 

“Matilah aku. Kenapa dia persisten sekali?”

“Kamu tidak bisa kabur dari dia selamanya. Cobalah minta maaf saja, ajak dia bicara, dan ceritakan yang sebenarnya. Siapa tahu dia akan mengerti.”

“Jongdae, kamu pikir aku tidak mau? Andai dia tidak menunjukkan gelagat seperti siap membunuhku, pasti sudah kulakukan dari tadi pagi.” Lu Han mendesah, tanda tak ada lagi sisa gairah. Tatapannya berubah sendu. “Sejujurnya, aku siap ditolak, tapi tidak siap dibenci.” 

Kedua sahabatnya bertukar pandang, ikut-ikutan mendesah, secara tidak langsung berbagi rasa nestapa. 

“Sudahlah, untuk saat ini jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik kamu makan dulu.” Baekhyun berjongkok, menyerahkan roti yang dibungkusnya sembunyi-sembunyi di kafetaria. “Maaf, ya, sudah tergigit. Rotimu terpaksa kumakan supaya Sehun tidak curiga. Intuisinya betul-betul mengerikan.”   

“Terima kasih, kalian sudah repot-repot.”  

Lu Han menyambut pemberian. Meskipun mengunyah tanpa semangat, perut kosongnya tidak bisa ditipu. Dia lapar. Sembunyi seharian membuatnya kekurangan nutrisi. Sewaktu siang, para sahabatnya cuma bisa mengamankan kentang goreng untuknya. Malam ini, roti isi sosis dan mayones. 

“Kamu jadi mau tidur di kamarku?” tanya Baekhyun.

“Tidak. Kamarmu cuma beda selantai dengan kamar Sehun dan tepat ada di atasnya. Kalau intuisi Sehun memang setajam yang kamu bilang, mungkin dia bisa menangkap tanda-tanda kehadiran dan pergerakan taklazim. Aku ke kamar Jongdae saja.”  

“Mau bareng, sekarang?” tawar Jongdae. 

“Nanti saja. Takutnya Sehun masih curiga dan diam-diam mengintaimu. Aku akan menyusul kalau sudah agak sepi.”

“Oke. Kamu yakin, tidak apa-apa kami tinggal?”

Lu Han mengangguk. “Jangan khawatir.”

 

***

 

Langkah-langkahnya pelan, sedikit berjingkat. Lima menit sebelum tenggat jam malam, koridor terlihat sudah lengang dan sepi. Lu Han mengetuk pintu kamar Jongdae dengan hati-hati. 

“Jongdae, ini aku,” bisiknya amat lirih.

Tidak ada sahutan. Lu Han mengetuk lagi sampai terdengar bunyi derit engsel yang dinantinya. Pintu pun dibuka setengah oleh Jongdae. Sinar mata sahabatnya tampak redup dan kuyu.

“Maaf, kamu sudah tidur, ya? Apa aku membangunkanmu?”

“Lu Han ….”

Jongdae menggantungkan lisan, tidak menyuarakan apa-apa, tetapi bibirnya bergerak berusaha menyampaikan sesuatu. Lu Han membaca gerakan itu dan menangkap pesan, “maaf.”

Seketika pintu melangah lebar, menguak postur menjulang Oh Sehun di baliknya.

“Selamat malam, Lu Han.”

Raga Lu Han membatu bagai dipelototi Medusa.

“Um, selamat—” Lu Han tidak merampungkan salam dan mengambil langkah seribu.

“Hei, tunggu! Jangan kabur!”  

Sehun mengejarnya. Dengan dua kaki jenjang, dia mampu memotong jarak besar dan mengekori Lu Han. 

“Maaf! Yang tadi pagi itu tidak sengaja!” Pemuda yang pirang berseru keras sembari berusaha tidak memelankan laju. 

Asrama mendadak gempar. Derap kaki-kaki berkejaran dan teriakan menyita perhatian. Semua siswa keluar dari kamar. Mereka tolah-toleh saling bertanya ada apa. Satu jawaban dari saksi mata pun segera diteruskan berantai ke telinga-telinga lain. Katanya, “Oh Sehun akhirnya berhasil menemukan Lu Han.”

Mantra lilit belenggu menggema di koridor. Temali tak kasatmata membelit kedua lengan dan pinggang, menghentikan langkah Lu Han lebih jauh. Tubuhnya ditarik hingga berakhir dalam dekapan Sehun. 

Di sinilah akhir kisah pelariannya. Dia tertangkap setelah empat belas jam buron.   

Lu Han gugup saat dipenjara oleh tatapannya. “Sehun, bisakah kita ... bicarakan semuanya baik-baik?” 

“Kita bisa bicara baik-baik sejak awal kalau kamu tidak hilang seharian.” 

Pemuda pirang itu terkesiap begitu merasakan levitasi. Kaki tidak lagi memijak lantai. Sehun memanggul tubuh kurusnya di bahu.

“Apa ini perlu?! Aku bisa jalan sendiri.” 

“Ya, ya, tentu saja. Selain bisa jalan, kamu juga bisa lari lagi.”

Penghuni asrama yang berdiri di depan pintu kamar masing-masing, rerata melongo menyaksikan adegan itu.

“Kalian jangan cuma menonton. Panggil Ketua, cepat!” 

Begitu disentak, beberapa orang benar-benar berlari mencari bantuan yang diharapkan.

Lu Han diangkut bak gelondong kayu. Matanya melebar saat melihat nomor pintu familier. Tujuannya ternyata adalah kamar Sehun. 

“Tunggu. Untuk apa aku dibawa ke sini? Kalau mau bicara, kenapa tidak di ruang publik saja?”

Pertanyaannya tidak dipedulikan, tidak berbuah penjelasan. Dia tetap dibawa masuk, kemudian dijatuhkan ke permukaan ranjang. Kedua lengan Sehun menjaga sisi-sisi tubuhnya. Kedekatan ini membikin dada Lu Han sesak, jantungnya secara serampangan berdetak.

“Oh Sehun!” Seruan lantang diikuti gedoran lantam. “Aku mendapat laporan pelanggaran. Buka pintunya!”

Perintah itu tidak datang dari siapa-siapa selain Ketua Asrama, Kim Junmyun. Sehun memejam dan mengepalkan tangan gara-gara diinterupsi. Konfrontasi ditunda. Lu Han ditinggal sementara. Dia pun mendekati pintu dan membukanya. 

Situasi di luar lumayan mencengangkan. Wajah jutek Junmyun dengan hidung kembang kempis bukan satu-satunya yang dia jumpai. Banyak siswa telah berkerumun di depan kamar. Termasuk Jongdae dan Baekhyun dengan ekspresi harap-harap cemas.  

“Ini sudah lewat jam malam. Dimohon untuk tidak membuat keributan.” 

Junmyun mendongak, berusaha mengintip ke dalam kamar melalui bahu lebar Sehun. Dilihatnya seorang pemuda pirang sedang mengendap-endap turun dari ranjang.  

“Lu Han mau kamu apakan?” 

“Tenang, Ketua. Kupastikan tidak akan ada pertikaian serius. Aku dan Lu Han cuma mau rekonsiliasi.”

“Rekonsiliasi? Rekonsiliasi macam apa yang melibatkan kegaduhan dan pemaksaan?” 

Sehun mendengkus. Debat dengan Junmyun tidak akan tuntas-tuntas kalau terus dilayani. Sementara, dia punya urusan lebih penting. 

“Begini saja, jika Lu Han keluar dari kamar ini dalam kondisi babak belur, Ketua boleh melaporkanku. Aku siap menerima detensi terberat sekalipun. Apa itu cukup meyakinkan?”

“Oh Sehun, kamu jangan asal—” 

“Ya, kurasa cukup.” Sehun menutup dan mengunci pintu, kemudian merapalkan mantra peredam suara.

Saat berbalik, si pirang kedapatan komat-kamit hendak membuka jendela. 

“Jendela itu sudah kugembok dengan mantra sandi rahasia. Coba saja kalau bisa.” 

Lu Han membeku. Suara Sehun bagaikan mantra penghenti segala laku. 

Saat merasa telah menyentuh tepian buntu dan tak bisa ke mana-mana, dia pun pasrah, memutuskan berserah. Arah badannya diputar pelan-pelan. Meski sebetulnya masih agak segan, dia memberanikan diri berbaku tatap.  

“Sehun, maaf. Seperti yang kubilang sebelumnya, aku tidak sengaja.” Raut dan nada suaranya serasi berpadu, sama-sama memelas. “Pesan itu, sebenarnya salah kirim.”

“Salah kirim, katamu?” Sebelah alis Sehun menanjak. 

Bak banteng buas menyeruduk, dia menghampiri Lu Han dengan wajah ditekuk. Lu Han bergeser ke pojok, berusaha tetap mencipta jarak. Usahanya sia-sia. Tubuhnya terjebak. Belakang bertemu dinding, depannya dada busung Sehun, sedangkan kanan-kiri ialah rentangan lengannya.  

“Maksudmu, pesan itu bukan untukku?”

Mood Sehun tampak jauh lebih buruk dari sebelum ini. Jujur saja, Lu Han tidak tahu tambahan salahnya apa. 

“Tolong, beri aku sedikit ruang.” Dia memohon seraya memalingkan muka. “Aku tidak leluasa bicara kalau kamu sedekat ini.”

Permohonannya dikabulkan selepas jeda yang mencekik. Sehun mundur selangkah tanpa mengendurkan siaga. Secara intuitif, dia dapat mencium keinginan Lu Han untuk kabur masih sangat besar.

“Mantranya tidak sempurna,” kata Lu Han, memulai penjelasan. “Bunga itu semestinya kujadwalkan meledak pukul setengah delapan malam, tapi aku lupa saat mengucap mantra tidak spesifik menyebutkan ante atau post meridiem. Jadilah dia otomatis meledak sendiri pada waktu yang lebih awal.”  

Sepertinya Jongdae benar. Jika dijelaskan baik-baik, ada kemungkinan Sehun bakal mengerti dan memaklumi situasi. Terlihat dari perubahan air mukanya. Garis-garis ekspresi yang tadinya tegang, tampak mengendur lambat laun.

“Sungguh, aku bukannya berniat mengganggu istirahatmu. Kembang api itu benar-benar kecelakaan. Eh, maksudku, kelalaian … ya, aku lalai. Bagaimanapun itu tetap salahku.” 

“Cuma keliru waktu?” 

Lu Han mengangguk.

“Pesannya tetap untukku, kan?” 

Lagi, Lu Han mengangguk. Kali ini agak ragu-ragu, karena dia seperti menangkap eksitasi dari intonasinya. Mungkin Lu Han salah dengar dan sembarang tafsir.

“Kamu tahu kenapa aku kesal dan gigih memburumu?”

“Pastinya karena ingin membuat perhitungan dan memberiku pelajaran.” 

“Salah.” 

Sehun mencuri satu kecupan di bibir setelah menebas habis jarak. Singkat, cepat, serupa sambaran kilat. Membuat sasarannya jatuh koma dalam sekejap.   

“Karena kamu raib setelah heboh membuat pengakuan, dan tidak menyediakan kesempatan untukku membalasnya. Main tembak lalu pergi. Pikir coba bagaimana perasaanku yang terkatung-katung seharian.”

Lu Han masih terbengong-bengong, tampak linglung. Kelewat kaget membikinnya lamban mengidentifikasi makna di balik tindakan Sehun yang tadi.

“Sebentar, itu … artinya?” 

Sehun memberikan senyum pertamanya di hari itu. “Perlu kutunjukkan lagi sampai kamu mengerti?” 

Diam dianggap persetujuan. Sehun tidak mengecup kali ini, tetapi menciumnya. Ciuman itu bukan milik satu pihak, melainkan dua yang silih berbalas. Dilakukan dengan penuh kelembutan serta intimasi.

Bagi Lu Han, manifesto afeksi yang semestinya romantis ini malah terasa menguras energi. Dia berusaha tetap bersandar tegap pada dinding. Namun, kepalanya mulai berkunang-kunang. Tubuhnya pun oleng. Sehun segera menamatkan ciuman dan sigap merangkupnya. 

“Hei, kamu kenapa?” Lu Han diamankan dalam kuncian sepasang lengan. 

“Badanku rasanya lemas. Aku kurang makan.” 

Sehun mendesah, prihatin. “Suruh siapa sembunyi?” 

Dia mendudukkan Lu Han di ranjang, kemudian mendekati meja belajar dan meraih kantong kertas yang terletak di atasnya. 

“Ini.” Kantong itu diserahkan kepada Lu Han. 

Ketika dibuka, dia mendapati kotak bekal berisi kimbap dan sebotol air minum. Kimbap yang tersusun rapi itu kelihatan padat. Ketebalan nasi dan isiannya seimbang. Di mata Lu Han yang kelaparan, warna paduan telur, daging, dan tiga jenis sayuran jadi terlihat jauh lebih cantik. Pokoknya terasa lebih menggiurkan.   

“Rasa lapar tidak bisa cuma diganjal sepotong roti kisut.” Sehun ternyata tahu soal itu. “Apalagi yang sudah tergigit sebagian,” imbuhnya. 

Lu Han melengung sejenak, kemudian terkekeh pelan. Pantas saja Baekhyun hanya kebagian roti sisa, sebab Sehun sudah lebih dulu berinisiatif mengamankan kimbap sebanyak ini untuknya. 

Perut Lu Han tidak tahan kosong lama-lama. Dia pun makan dengan lahap. Seharian tidak bertemu nasi, baginya hampir sama dengan menuju sekarat.

“Kalau boleh bertanya,” Lu Han bicara sehabis mengunyah tiga kimbap, “sejak kapan?”

Sehun paham maksudnya. “Dua tahun lalu, sebelas Januari.” 

“Eh? Sudah selama itu?” Tawa Lu Han tiba-tiba membuncah. Rentetan gelegaknya diredam dengan telapak tangan. “Ini sulit dipercaya. Oh Sehun ternyata diam-diam menyukaiku lebih lama daripada aku menyukainya.” 

Bola mata Sehun bergulir di balik pelupuk sebelum akhirnya dia ikut terkekeh bersama.

“Beberapa menit yang lalu kamu masih menciut di depanku. Sekarang sudah bisa sesumbar berbangga diri.” 

“Omong-omong, sebelas Januari itu, saat apa, ya? Kenapa kamu bisa ingat begitu detail?”

“Pentas olahraga musim dingin. Kamu mewakili cabor seluncur indah. Aksi teatrikal permainan iluminasimu dengan rusa kutub amat memukau dan sulit kulupakan. Bermula dari sekadar mengagumi, lama-lama aku naksir betulan.” 

Kimbap keempat masuk mulut. Lu Han mengunyah sembari mesam-mesem. Kelihatan menikmati sekali mendengar pengakuan yang disingkap. 

“Sialnya, bukan cuma aku yang punya perasaan seperti itu. Kamu mendadak jadi murid populer, hampir tidak pernah terlihat sendirian. Mau mendekati pun, aku ragu-ragu karena sainganku banyak.” 

“Padahal aku sendiri tidak puas dengan penampilanku saat itu. Masuk lima besar pun tidak.”

Botol minum disodorkan Sehun saat melihat Lu Han tampak butuh dorongan untuk menjatuhkan kimbap dari tenggorokan. 

“Biarpun begitu,” Sehun diam sejurus, “kamu juara di hatiku.”

Refleks, Lu Han berhenti meneguk.

"Astaga, yang barusan tadi …." Dia bergidik. Rautnya tampak menunjukkan risi, seperti habis mendengar sesuatu yang menggelikan. 

“Kenapa? Itu kata-katamu sendiri, kan?” 

“Justru itu. Aku tidak menyangka kalau pesanku bakal terdengar se-cheesy ini apabila diucapkan.” Lu Han memijat-mijat kening, tidak habis pikir dengan pilihan kalimatnya yang sekarang dia anggap picisan. “Ya, ampun. Kamu pasti malu berat, ya, tadi pagi.”

“Malu? Tidak. Kalau marah, iya. Tapi itu sebelum aku tahu siapa pengirimnya. Bersyukurlah, namamu punya privilese." 

Senyum Lu Han merekah lagi. Entah sudah yang keberapa kali dalam menit-menit terakhir ini. Ketika mengira buah sial dari aksi bodohnya akan terus melipat ganda, ternyata dia malah mendapatkan yang bertolak pada jelang penutup hari. Hasilnya ialah putaran seratus delapan puluh derajat dari kekhawatiran akan ditolak dan dibenci.

Mata mereka saling memaku dan bertahan dalam keheningan. Sehun mendekat, tubuhnya condong pelan-pelan, hendak mengeklaim sesuatu sekali lagi. Lu Han otomatis memundurkan badan.

“Aku habis makan kimbap,” ucapnya dengan telunjuk menuding bibir.

Sehun tidak peduli dan tetap maju. “Aku suka kimbap.” 

“Ini,” tahu-tahu Lu Han menyumpitkan kimbap ke hadapan muka, “makanlah satu kalau begitu.”

Sial. Mau ciuman saja diadang-adang. Lu Han malah cengengesan. Jika dia memang niat bercanda, waktunya sungguh tidak tepat. Momentum jadi rusak dan bikin mood Sehun menguap. 

“Tidak lucu.” Dia terdengar mengambek.

Sehun berpaling hanya untuk bertemu telapak tangan hangat yang menjaga sisi wajahnya. Segera, bibir Lu Han menyambang, menanamkan cumbuan yang dia mau. Lekat, dan semakin lekat saat keduanya berpelukan. 

Ciuman pemungkas mereka pada malam itu bersalut aroma rumput laut.

 

***

 

Ketika Sehun membuka pintu kamar, para spektator masih setia berkerumun. Mereka benar-benar telaten sekali menunggu perkembangan drama perburuan hari ini. Lu Han keluar dalam kondisi utuh seperti yang dijanjikannya kepada Junmyun. Malah, kalau diperhatikan saksama, sepertinya jauh lebih baik, terlihat dari wajahnya yang berseri.

“Kamu baik-baik saja?” Ketua Asrama langsung menginterogasi.

“Ya.”

“Dia tidak melakukan apa-apa kepadamu?” 

“Tidak.”

“Yakin kamu tidak sedang berada di bawah pengaruh mantra kendali? Sehun tidak memberimu yang aneh-aneh, kan?”

Junmyun menyentuh kening Lu Han, lalu pipinya kanan dan kiri, lalu dagunya hingga tengadah, lalu ….

“Hei.” Sehun mencekal tangan Junmyun, menghentikan tindakan lebih jauh. “Jangan pegang-pegang sembarangan. Lu Han sudah ada yang punya.”

Pekikan 'hah?!' datang dari beberapa orang, termasuk dua sahabat Lu Han. Sesaat tadi, koridor seakan menjelma panggung pentas paduan suara. 

Sebenarnya, Sehun memang sengaja pamer. Semakin banyak saksi mata, semakin cepat kabar ini sampai ke telinga para saingannya.

Dirasa belum cukup, dia melakukan lagi satu tindakan provokatif. Puncak kepala Lu Han ditepuknya dua kali. 

“Selamat malam, Lu Han. Semoga bisa tidur nyenyak.” 

Aksi predatoris Sehun sebelum ini, yang bagaikan mengejar mangsa herbivor di sabana, seketika berubah menjadi aksi tebar afeksi yang mencekam. 

Mencekam bagi siapa pun yang lama menjomlo. 

“Selamat malam, Sehun. Kamu juga. Terima kasih untuk kimbapnya.”

Kedua orang itu saling bertukar senyum dan salam mesra tanpa risi menjadi bahan tontonan. Definisi sebenar-benarnya dari ‘dunia milik berdua dan yang lain cuma tumbuh-tumbuhan’.  

Setelah salam pamit, Lu Han pun beranjak menjauh, dibuntuti Jongdae dan Baekhyun yang kemudian merapatinya, berusaha menagih cerita. Terdengar lapat-lapat suara Lu Han berkata, “besok, ya … besok.”

Sosok Lu Han sudah tidak terlihat di koridor lantai itu. Sebelum menutup pintu, Sehun menjeling kanan-kiri. Entah mengapa kerumunan belum berpencar. Kim Junmyun pun masih bertahan dengan tatapan penuh selidik. 

“Kenapa masih di sini? Bubar sana.” Sehun balas menatap Junmyun. “Ketua, lakukan tugasmu dengan benar. Peringatkan mereka tentang jam malam.”

Mulut Junmyun siap terbuka, tetapi dikalahkan kecepatan pintu kamar yang sudah keburu tertutup lagi. Untuknya, ini yang kedua kali. Sehun menyeringai usil. Dia tahu, Ketua Asrama pasti sedang sewot tak berkesudahan di balik pintu. 

Badan bongsornya terjun ke kasur. Presensi seseorang masih terasa di sana. Dipandangnya jam aurora yang menyala-nyala multiwarna, menunjukkan sisa hari. Rencananya bermalas-malasan pada hari Minggu memang ambyar, tetapi sebagai gantinya, dia sekarang punya pacar.

Minggu sebentar lagi pergi. Besok Senin, dan akan menjadi hari Senin pertamanya dengan status relasi baru.

 

[***]