Actions

Work Header

The Forbidden Fruit is Always the Sweetest

Work Text:

 

 

 

Pohon kesemek di kediaman Lu sedang berbuah. Kuning, cerah, tampak ranum, segar, dan manis meski hanya sekadar dibayangkan. Batangnya yang rimbun sebagian keluar dari pagar tembok. Warga yang kebetulan melewati rumah mewah itu selalu gagal tidak menoleh dan mendongak lantaran tergoda untuk memetiknya. 

Tentu saja mereka tidak berani. Meminta baik-baik pun rasanya sungkan. Pasalnya, sang empu rumah ialah priayi sekaligus politikus yang disegani. Tuan Lu jarang berada di rumah, tetapi penjaga kediamannya terkenal siaga luar biasa dan bisa dikatakan membenci semua orang kecuali penghuni. 

Seekor anjing jantan jenis Rottweiler bernama Mantou. 

Mantou akan menyalaki siapa saja yang berani membayangkan dapat memiliki sebutir kesemek dari rumah itu, seolah-olah ia mampu membaui nafsu orang-orang hanya dari mengendusi udara. Seorang nyonya yang sedang hamil muda pun pernah jadi korban gonggongannya gara-gara kala itu sedang mengidam makan kesemek.  

Pada suatu sore, seminggu menjelang akhir musim panas, kediaman Lu tumben-tumbennya terasa hening. Tidak ada salakan atau geraman sangar di balik pagar tembok. Ada selentingan yang bilang kalau Mantou sedang dibawa ke veterinarian untuk cek kesehatan berkala. Kabar tersebut sampai ke telinga Wu bersaudara yang saat itu baru pulang bermain sepak bola. Wu Hai, kelas lima dan Wu Lei, yang lebih muda, baru kelas tiga.

Gege …” 

“Enggak.” Yang bungsu belum mengutarakan apa-apa, tetapi Wu Hai sudah tahu maksudnya ketika melihat gelagat sang adik. Dia tidak berhenti mengamati kesemek yang menggelantung.

“Mumpung Mantou sedang enggak ada.” 

“Tetap saja, nyolong itu dosa.” 

Wu Lei cemberut. “Satu sajaaa,” rengeknya. “Buah di pohon itu sangat banyak. Hilang sebutir pun kuyakin enggak akan ada yang tahu.” 

Benar juga, sih. Walaupun buah kesemek keluarga Lu begitu berlimpah, hampir tidak ada tanda-tanda akan dipanen atau dipetik oleh pemiliknya. Rasanya mubazir sekali kalau buah sebanyak itu dibiarkan saja hingga membusuk di pohon.    

Wu Hai mendesah. “Ya, sudah, tunggu di sini, jangan pindah ke mana-mana. Akan kujatuhkan satu.”

Adiknya mengangguk-angguk, girang. Wu Hai lantas memanjat pagar dengan lincah. Nilainya dalam pelajaran olahraga, terutama gimnastik, termasuk unggul. Sebelumnya tidak pernah terpikir keahlian ini malah akan dipakai untuk mencuri. Wu Lei berjaga di bawah, memonitor sekitar kalau-kalau ada orang lewat, sementara kakaknya menyelinap ke area hunian Lu. 

Wu Hai sudah hendak memetik butir pertama yang terlihat dan terjangkau tangan ketika butir lain yang lebih besar, lebih terang, lebih menggiurkan, tampak di batang seberang pagar. Buah itu seakan memanggil-manggil minta dipetik dan diklaim. Melihat ukurannya yang jumbo, Wu Hai pikir sebutir buah itu bisa dibagi dua. Dia sudah berkorban memanjat, wajar jika dia juga inginkan imbal jasa.

Akhirnya, Wu Hai melompat ke batang itu dan mengamankan kesemek jumbo di lipatan ujung bawah kostum bolanya. Tiba-tiba saja bumi seolah berguncang. Tanah bergetar, menggemakan derap-derap yang terdengar mengerikan. 

 

GUK! 

 

Wu Hai tersentak, kaget bukan main. Mantou ternyata sudah kembali! 

Anak itu panik. Berniat pindah ke batang yang menyentuh tembok, dilihatnya Mantou melompat-lompat amat tinggi. Turun sedikit saja, kaki Wu Hai bisa-bisa dipeluk geligi tajam Mantou yang bersalut liur. Anjing itu tak henti-henti menyalak. Suasana kian mencekam. Jantung Wu Hai serasa hampir lepas detak. 

“Lei Lei, tol—” 

Adiknya sudah lenyap. Terlihat lari terbirit-birit di kejauhan. 

“Sialan, adik durhakaaa!” 

Wu Hai berteriak, antara marah dan ketakutan sembari mendekap batang pohon erat-erat. 

 

***

 

Potongan es dikulum cepat-cepat sebelum dicairkan suhu terik. Wu Shixun menggigit-gigit batang es meski isinya sudah lumer total dalam mulut. Berjibaku mendapatkan es potong rasa buah naga yang hanya dijual pada jam tertentu, ternyata jauh lebih membangkitkan jiwa kompetitif daripada duduk berjam-jam di tempat les persiapan gaokao.

Kalau bukan sebab dipaksa orang tuanya, dia juga tidak mau hampir setiap hari selama musim panas menghabiskan waktu bersama murid-murid serius yang masa depannya sudah terencana. Mereka yang tekun-tekun itu membikin insecure saja.

“Tahun ini kamu kelas tiga. Masa belum kepikiran sedikit pun mau masuk mana, jurusan apa?”

Ketika ditanya ayahnya, Wu Shixun diam saja. Dia pun masih bingung dengan alur hidupnya, apakah ingin meneruskan kuliah, ambil kursus keahlian, atau berbisnis. 

Gege!

Seruan itu menyentaknya. Mata Wu Shixun menyipit, melawan sinar matahari sore yang mengaburkan sosok cilik yang tengah berlari mendekat. Dari menyipit, kemudian dia membelalak. Wu Lei, adik bungsunya menemukan dirinya sedang mangkir, menongkrong di depan kedai es, dan bukannya mengikuti les. Ini gawat. Mulut si bungsu kerap terlalu lemas di depan ayah. Bisa-bisa dia dilaporkan.

“Tolong! Hai-Ge, di sana …” 

Wu Shixun yang sudah siap memanggul ransel dan bersiap kabur, seketika membatalkan niat. Wu Lei tergopoh-gopoh, panik, tampak ketakutan. Dia menarik-narik kaus kakaknya sampai nyaris melar. 

“Aduh, jangan tarik-tarik,” keluhnya. “Ada apa, sih?”

Saat Wu Lei selesai bercerita, tubuh Wu Shixun serasa mencair, tak ubahnya es buah naga yang  lumer sekejap. Mendadak dia ketiban tanggung jawab atas kelakuan bobrok adiknya.

Karma dari membolos ternyata datangnya sekilat ini.

 

***

 

Di depan gerbang kayu kukuh itu, Wu Shixun mereguk ludah. Telunjuknya gemetar ketika menekan bel. 

“Siapa?” 

Dia dibuat terkejut hanya oleh suara dari interkom, saking tegangnya. Wu Lei yang bersembunyi di balik punggungnya juga bereaksi sama. 

“Uhm, nama saya Wu Shixun.”

“Tolong sebutkan keperluannya.”

Sang pemuda diliputi kecemasan. “Anu … tadi, adik saya … aduh, bagaimana menjelaskannya, ya?” 

“Oh? Kakaknya Wu Hai?” 

Nama adiknya disebut. Sungguh respons yang di luar duga. 

Setelah menjawab ‘ya’, tidak hanya gerbang dan pintu yang terbuka. Mulut Mantou pun ikut menyambut mereka. Meskipun tidak menyalak (untung saja), tampilan fisiknya tetap membikin keder. Badannya besar, berbulu gelap, taringnya mencuat bak ujung belati. Sampai terlintas di pikiran absurd Wu Shixun kalau anjing ini jangan-jangan lahir di neraka.  

Oleh seorang pelayan perempuan, Wu bersaudara dituntun memasuki rumah besar dan luas itu sampai ke beranda belakang. Tidak jauh dari posisi pohon kesemek tumbuh, terdapat serambi kayu. Wu Hai ada di sana, duduk bersama seorang pemuda menarik berambut kastanya. Sembari makan kesemek, sesekali mereka tertawa. 

Tunggu sebentar. Makan kesemek? Tertawa? Kenapa kondisi Wu Hai tidak sememprihatinkan yang diceritakan Wu Lei? Dia tampak baik-baik saja. Aman, sentosa, dan bahagia. 

Wu Hai menyadari kehadirannya dan melambai. Begitu dia mendekat, pemuda yang tadi dilihatnya tampak semakin berkilau (tentu ini hanya imajinasi hiperbolisnya), sampai-sampai dia lupa untuk membungkuk dan memperkenalkan diri. 

“Wu Shixun?”

Dia terkesiap. “Eh. I-iya.”

Pemuda itu, siapa? Wu Shixun merasa belum pernah melihatnya beredar di lingkungan ini.

“Kamu pasti ke sini mau menjemput adikmu.” 

Oh, benar, Barulah dia tersadar. Tangan Wu Hai diraih. Bersama dengan Wu Lei, keduanya disuruh meminta maaf. Kepala mereka dipaksa tunduk dalam. Pokoknya harus terlihat semenyesal mungkin. 

“Cepat minta maaf.” Wu Shixun berbisik, memberi titah. 

“Tadi aku sudah,” protes Wu Hai. 

Sang kakak melotot sadis. “Bodo amat. Yang tadi enggak berlaku karena aku belum lihat.”

Berdiri di antara kedua adiknya, Wu Shixun pun turut membungkuk. “Mohon maafkan Xiao Hai dan Lei Lei. Uhm, kalau bisa ... tolong jangan laporkan juga hal ini kepada orang tua kami. Saya pastikan mereka menyesali perbuatannya dan enggak akan mengulangi. Ya, kan?”

Dia menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada respons. Apalagi Wu Lei, mulutnya malah menganga melihat kesemek yang sudah dipotong-potong tersaji di serambi.

“Ya, kaaan?” Suaranya kali ini penuh tekanan, disertai jawilan di kedua lengan mereka.

“Iyaa, kami menyesal.” Wu Hai dan Wu Lei membalas berbarengan. 

Pemuda itu tertawa. Wu Shixun merasa sekelilingnya mendadak semakin cerah. Lebih cerah dari warna kesemek ranum siap lahap. 

“Enggak masalah,” katanya dengan santai. Sepotong kesemek dia ambil, kemudian ditawarkan ke hadapan mereka. “Masih mau?”

Wu Hai dan Wu Lei langsung raib dari sisi sang kakak secepat uang saku bulanannya. Tanpa sungkan duduk di serambi dan melahap kesemek dengan raut riang. Wu Shixun menepuk kening. Sumpah, bocah-bocah itu bikin malu saja. 

“Kamu juga, ke sini.” 

Eh?  

Wu Shixun tidak perlu tolah-toleh untuk memastikan ada orang lain atau tidak. Panggilan itu jelas-jelas tertuju kepadanya.

Hampiri. Jangan. Hampiri. Jangan. Tentu saja dia memilih yang menguntungkan. Rezeki langka yang entah kapan lagi bisa didapat, sayang sekali apabila ditolak.

Ludah memang paling enak ditelan sendiri. 

 

***

 

Namanya Lu Han, pemuda rambut kastanya yang ternyata adalah anak tunggal di keluarga Lu. Dia lebih tua dua tahun dari Wu Shixun. Dari obrolan kasual mereka, Wu Shixun jadi mengerti mengapa sosoknya terasa asing. Pendidikan menengah pertama dan atas ditempuhnya di sekolah asrama, setelah itu dia berkuliah di luar kota. Biasanya Lu Han pulang ke rumah keluarga pada libur Imlek. Namun, pada tahun ini dia berhalangan dan mengganti kunjungannya di libur musim panas. 

“Kalau kalian pengin kesemek, lain kali tinggal bilang saja.”

“Tapi Mantou galak banget,” sahut si bungsu. “Kita cuma lewat doang, sudah digonggongi.” 

“Masa, sih?” Lu Han menggigit kesemek sembari menyugar bagian depan rambutnya yang jatuh ke kening. Dia terlihat seperti bintang iklan sampo di mata Wu Shixun.

“Mungkin dia masih adaptasi. Mantou memang enggak dirawat di rumah ini dari kecil. Dia diambil dari penampungan dalam kondisi sudah besar.” 

Pantas saja. Fitur fisiknya yang serbagarang dan sangar itu sungguh tidak cocok dengan citra kalem dan berkelas keluarga Lu. Semestinya petugas penampungan merekomendasikan Labrador atau Golden Retriever untuk menjaga rumah ini. 

“Orang aneh mana yang menamai Rottweiler dengan Mantou?” celetuk Wu Shixun. Niatnya hanya bergumam sendiri.

“Aku yang menamainya.” 

Wu Shixun nyaris tersedak potongan kesemek. Dikiranya nama itu memang sudah tersemat sejak sebelum dia diadopsi. 

“Mantou adalah nama anjing pertama yang kupunya sewaktu masih kecil. Jenisnya French Bulldog dengan warna dominan putih. Aku sayang sekali sama dia, sampai ke mana-mana selalu pengin kubawa, termasuk ke sekolah.” Lu Han mengambil interval dengan tawa pelan. “Tapi ... dia mati sebelum aku pindah ke asrama. Jadi, meskipun tahu enggak cocok, aku tetap pengin pakai nama Mantou untuk anjing yang sekarang, karena buatku nama itu penuh kenangan.”  

Di balik pemilihan nama ternyata ada alasan sentimental. Wu Shixun cuma bisa menunduk. Berpikir jika Lu Han pasti mencap perangainya buruk.

“Ma-maaf, sudah asal ngomong.” Manisnya kesemek mendadak menguap. Yang tersisa di lidah hanya hambar.

“Santai saja.” Lu Han tertawa lagi seraya menepuk-nepuk punggungnya. “Kamu bukan orang pertama, kok, yang bilang nama itu enggak cocok.”

Mereka lanjut mengobrol lama hingga rona langit sore dan kesemek hampir setona. Lu Han menyuruh pelayan keluarga membungkuskan beberapa kesemek untuk mereka bawa pulang. Si sulung sudah ingin menolak, tetapi adik-adiknya selalu gerak lebih cepat. Wu Hai mendekap plastik itu, dan Wu Lei menyerukan terima kasih. 

“Kalau besok kalian senggang, boleh, lo, main ke sini lagi.”

“Yang benar?” Wu Hai bertanya penuh harap. 

Sesungguhnya, kakaknya juga. Untunglah sudah terwakilkan. 

Lu Han mengangguk. “Pokoknya aku masih di sini sampai tanggal tiga puluh.” 

Mereka pun pamit. Lu Han mengantar tamunya sampai gerbang supaya Mantou tidak menyalaki mereka. 

“Sekali lagi, terima kasih.” Wu Shixun mengangkat bungkusan plastik pemberian. “Kesemek ini pasti kami balas. Gege suka apa?”

“Ah, enggak usah repot-repot.” Dia menepuk pemuda itu lagi, kali ini di lengannya. 

Aduh. Jangan sering-sering. Bisa susah kalau sampai bikin menagih. Mereka tidak tinggal sekota. 

Oh? Wu Shixun tiba-tiba teringat dan terpikirkan akan sesuatu.

“Maaf, kalau boleh tahu, Lu-Ge kuliah di mana, ambil studi apa?” 

Hening sesaat. Lu Han tidak segera menyahut.

“Kenapa? Mau jadi juniorku?”

 

Jleb!  

 

Pertanyaan itu ibarat lemparan pisau tepat mengenai kesemek, kemudian kesemeknya terbelah dan terlihat seluruh isinya.

Astaga. Apakah intensinya setransparan itu?

Akibat keburu grogi, Wu Shixun malah berakhir cengengesan. Kedua adiknya sampai ikut-ikutan malu. 

Lu Han terkekeh, lalu menjawab, “Universitas H, Kedokteran Hewan.

 

***

 

Sepulang dari kediaman Lu, Wu Shixun memelesat ke kamar. Dia berselancar lama di situs web Universitas H. Napasnya kemudian terbuang dalam desah panjang. Seperti yang sudah diduga, Fakultas Kedokteran terlalu prestisius untuk dompet keluarganya. Lewat jalur beasiswa pun, dia pesimistis. Sadar diri jika nilai-nilainya selama ini tidak menyentuh garis unggul. Prestasi tidak ada yang teramat fantastis. 

Wu Shixun mengucapkan selamat tinggal kepada jurusan, tetapi tidak kepada kampusnya. Dia belum mau menyerah dengan mencari-cari program studi lain yang sekiranya menarik minat (sekaligus yang tidak terlalu jauh dari sasaran jodohnya). 

Sebentar. Apa ini?

Kursor bergerak searah jalan tetikus. Ada program vokasi yang prospek kariernya bersinggungan dengan profesi dokter hewan. Letak gedungnya pun masih satu komplek dengan Fakultas Kedokteran Hewan. Senyum terkembang. Putusan Wu Shixun langsung bulat, yang ini saja.

“Pa!” Dia setengah berlari menuruni tangga. “Aku mau ambil program Paramedik Veteriner.”

Ayahnya sedang membaca surat kabar sore sambil makan kesemek yang anaknya bawa. Dari balik bentangan koran, kepala sang ayah mengintip.

“Jurusan apa itu?”

“Keperawatan dan kesehatan tapi khusus hewan.”

“Serius? Kamu, kan, gampang jijik. Tiap disuruh bersihkan kandang hamster enggak pernah mau. Sudah gitu, lihat cecak jatuh saja histeris.”

“Pa, belum apa-apa, jangan diremehkan gitu, dong.” Wu Shixun jelas protes. “Bisa, kok, bisa. Mulai sekarang aku bakal rajin dan belajar buat enggak takut.”

Keputusan putra sulungnya baru didengarnya hari ini. Wajar jika tekad menggebu yang muncul ujug-ujug itu dipertanyakan.

Sang ayah menatapnya lama sebelum melipat koran, kemudian bersedekap.

“Ya, sudah. Buktikan kalau kamu serius. Di kamar mandi ada bangkai cecak kejepit pintu, coba bersihkan.”

Wu Shixun bengong dan terdiam.

“Ba-baik.” 

Dia melangkah lesu menuju kamar mandi. Senyum ramah Lu Han sekonyong-konyong mengelebat. Pemuda itu pun seakan mendapat suntikan semangat. Kepalanya ditegakkan dan dia bersugesti keras, hitung-hitung belajar anatomi.

Tak apalah, demi mengejar (calon) masa depan. 

 

[***]