Actions

Work Header

Boy-friend

Work Text:

"Maaark!"

teriak Haechan nyaring di koridor gadung kampusnya yang tak jauh beberapa meter dari seseorang yang dipanggil oleh wanita itu.

Ia berjalan dengan langkah kaki cepat menyebabkan payudara sintalnya ikut bergoyang terhentak menghampiri lelaki yang lebih tinggi dari Haechan.

"Kenapa?" Tanya Mark malas melihat cengiran menyebalkan Haechan.

"Bareng hehehe.."

Mark menghela napasnya, tidak tau kah ia jika kini keduanya jadi pusat perhatian mahasiswa lain karena teriakan Haechan tadi sangat memekakan telinga.

"Hari ini gak ada kelas lagi kan?"

Haechan menggandeng lengan kekar pria itu mengajaknya ke parkiran, dan Mark hanya menggeleng.

"Gue kesel banget! masa pak dosen ngasih nilai B cuma gara gara tugas gue telat ngumpulin nya, padahal dia sendiri sering telat masuk juga gak gue usir dari kelas!" decak gadis itu kesal menghentakkan kakinya sebelum menaiki mobil teman nya.

"Lagian lo sih udah gue ingetin kerjain tugas, kerjain tugas, tetep aja ngeyel. Kalo gue yang jadi dosen lo udah gue kasih nilai D kali."

Ucap Mark melirik Haechan yang sudah mencondongkan tubuhnya di depan AC mobil membuka tiga kancing teratas kemejanya dengan mata terpejam menikmati udara yang menerpa kulit leher dan dadanya.

Sudah hal wajar ia melihat gadis itu secara terang terangan dengan tak tahu malunya berlaku demikian, seolah Mark bukanlah lelaki jantan yang akan horny kepada dirinya.

Selama 10 tahun persahabatan mereka sudah paham betul dengan kebiasaan masing-masing.

"Kalo lo yang jadi dosen gue, udah gue bakar nih kampus, .....Ahh adem banget anjir!"

Haechan masih memegangin kerah kemejanya merasakan semilir angin yang tak terlalu dingin karena baru nyala mesin.

"Lo ngapain sih begitu? tetek lo tuh kemana mana. Ini masih di kampus, lo gak malu diliat orang?" ucap Mark mendorong bahu Haechan sampai punggung sempit gadis itu menempel pada sandaran kursi jok dibelakangnya.

Haechan mendelik kesal pada Mark yang masih fokus menjalankan mobilnya keluar parkiran.

"Lebay, orang gak ada siapa siapa juga." Haechan kembali mengancingi kemejanya kemudian menggunakan seatbelt.

Tak menjawab lagi Mark hanya menjulurkan satu tangan untuk menaikkan tingkatan suhu AC di teriknya udara siang hari ini.

Haechan menyambungkan spotify di ponsel pada perangkat speaker bluetooth kemudian menyetel playlist lagu hits miliknya.

"Btw, nanti malem Jeno ngajakin nongkrong di tempat biasa."

Mark membuka obrolan, melihat Haechan yang tengah sibuk bermain ponsel yang dibalas anggukan dari gadis itu.

"Gue ajak kak Johnny boleh gak?"

"Johnny?" Mark mengerutkan alisnya.

S iapa lagi yang ia ajakin pdkt kali ini?

"Iyaa, kak Johnny itu lho yang ketua organisasi pecinta alam yang waktu itu gue kenalin sama lo di kantin."

Mark mengingat ingat dirinya, karna bukan sekali dua kali Haechan mengenalkan teman pdktan nya pada Mark, amat sangat sering. Tetapi walaupun begitu, Haechan masih tetap bisa menjaga diri dari para lelaki hidung belang yang hanya menginginkan tubuh semoknya, karna sudah pasti mereka langsung menjauh saat gadis itu sudah memperkenalkan Mark Lee pada mereka.

"Gatau, lupa."

"Ishhh!" Tangan Haechan terulur memukul lengan Mark pelan.

"Aduh! Udah deh mending lo fokus sama kuliah dulu gausah pacar pacaran, nilai lo tuh udah ancur semua ngurusin cowok-cowok gak penting lo itu." Ucap Mark menginjak pedal rem saat di lampu merah.

"Lo tuh ya! Ga suportif banget jadi temen, gue kan juga mau punya pacar. Capek tau jadi jomblo mulu." Haechan memasang ekspresi sok sedih sembari memajukan bibirnya.

"Capek tau jadi jomblo mulu nyenyenye." Olok Mark mengikuti gaya bicara Haechan.

"Jomblo, jomblo, tiap abis deket sama yang lain juga lo besok nya juga udah ada yang baru lagi. Gue yakin kali ini juga gak ada sebulan udah ganti lagi. Cih."

"Kali ini serius! Bahkan kak Johnny ngajakin gue naik gunung sama temen-temen nya akhir bulan ini barusan, anaknya juga gak pernah macem macem sama gue."

Mark hanya menghela napas panjangnya tak mengerti dengan wanita kelebihan hormon yang duduk disebelahnya itu.

"Gak pernah macem-macem? Palingan lo juga nanti dijadiin 'penghangat' doang sama dia pas di gunung, halah basi."

"Heh, jaga ya omongan lo, pokoknya bakalan tetep gue ajak."

"Terserah lo deh."

Haechan menyengir lalu mengecup pipi Mark saking senangnya, menggoyangkan tubuh sahabat satu satunya itu dengan brutal yang hanya ditanggapi Mark dengan memutarkan bola matanya lelah dengan kelakuan Haechan.

"Anterin gue ke mall dulu, mau beli beha baru, udah sesek banget masa beha beha gue, padahal baru beli tahun lalu."

"Tetek lo kegedean!"

Mark hanya menurut dan berbelok ke arah yang ingin mereka tuju. Setelah keduanya berbelanjaㅡ ralat, maksudnya Haechan dan Mark yang hanya membuntutinya, mereka pulang ke kos an Haechan.

Gadis itu tak menghiraukan celotehan Mark sepanjang jalan menuju unit kos sampai keduanya merebahkan tubuh di ranjang kamar milik Haechan.

"Hahhh.. akhirnya." Desah Mark yang merasa sangat kelelahan.

"Mark."

"Hmm."

"Lo pernah have sex gak?"

"Ngapain lo nanyain gituan?"

"Gapapa, gue lagi bayangin aja kalo gue ngewe sama kak Johnny gimana ya.." ujar Haechan tersipu malu.

"Dih, sange lo ya?" Mark membelalakan matanya pada Haechan yang sedang menunjukan ekspresi cringesetidaknya menurut Mark dengan wajah memerah dan mengulum senyum di bibirnya.

"Iya nih! ayo ngewe Mark uuuhhhh pasti punya lo gak lebih gede dari kak Johnny kan?" Jawab Haechan mulai menggerayangi dada lelaki itu dan kaki yang menindih paha Mark bermaksud mengisenginya dengan wajah yang ia pasang sebinal mungkin.

"Dah gila! Awas, mules gue." Mark menghempaskan tangan dan kaki Haechan lalu bangkit dan berlalu menuju toilet mendengarkan gadis itu tertawa terbahak melihat ekspresi panik sahabatnya.

Sialan, Lee Haechan!

🧸

 

"Eh sumpah lo tau gak sih si Mina, kemaren gue liat dia lagi jalan sama Pak Jaehyun tau! Gandengan gitu masuk ke Hotel."

 

"Hah masa sih? Bukan nya pak Jaehyun udah punya bini ya?"

 

Keempat kepalaㅡlebih tepatnya dua, sebab dua kepala lain nya hanya mendengar dan tidak menghiraukan manusia yang tengah berbincang di salah satu cafe itu seperti tak terganggu dengan pertunjukan live music yang disediakan.

 

"Ihh iya! makanya gue juga heran, gue kira Mina suka sama Mark soalnya waktu itu kan dia deketin Mark mulu." Lanjut Jaemin dengan mulut lemes nya yang memulai gibahan mereka sedari tadi. Ia tak memperdulikan jika salah satu orang yang sedang digosipkan juga berada di satu meja bersamanya.

 

"Hahahaha ya iya lah mending sama pak Jaehyun udah kaya, berpengalaman, enak dijadiin sugar daddy daripada sama Mark."

 

Haechan melirik geli Mark yang tengah menyesap gulungan tembakau di mulutnya, tak mengidahkan kedua gadis itu dan fokus menikmati lagu.

 

"Eh eh Chan, itu kak Johnny dateng!" Jaemin menunjuk seorang pria jangkung yang mendekati tempat duduk mereka, buru buru Haechan merapikan penampilan nya lalu tersenyum sumringah kepada Johnny.

 

"Hai, bro!"

 

Sapa Johnny menepuk punggung Mark dan Jeno, duduk disamping Haechan lalu mengecup pipi gadis itu yang bersemu merah.

 

"Hai sayang."

 

"Wah wah wah! Udah go public nih ceritanya." Ledek Jeno sambil tertawa garing yang dihadiahkan cubitan oleh kekasihnya, Jaemin. Sedang Mark hanya diam saja membalas dengan senyum masamnya.

 

Setelah Johnny memesan, mereka larut dalam obrolan tak penting sampai jam menunjukan hampir tengah malam.

 

"Oh iya Chan, jadi kan ikut naik gunung nanti?"


Entah mengapa Mark langsung tidak suka setelah Johnny berkata demikian, menatapnya sengit seolah nada bicara pria itu begitu menginginkan Haechan ikut serta bersamanya, yang dimana gadis itu akan menjadi diluar jangkauan Mark dan ia membenci itu.

"Haechan mau naik gunung?" Tanya Jaemin sambil menyesap iced americano nya yang tinggal es batu saja.

 

"Iyㅡ"

 

"Emang orang yang punya asma bisa naik gunung?"

 

Sebelum menyelesaikan kalimatnya Mark langsung menyela ucapan Haechan yang langsung ditatap tak suka gadis itu.

 

"Kamu ada asma?"

 

"Enggak! Mark bohong,"

 

"Lah kan emang lo ada asma gimana sih?" Mark menatap tajam sampai mengerutkan dahinya.

 

"Kalo lo tau gue ada asma ngapain lo ngerokok di depan gue?!"

 

"Gapapa, lagian dari tadi aku baik-baik aja tuh walaupun ada asap rokok." Lanjut Haechan menengadahkan kepalnya menghirup udara banyak banyak yang sudah bercampur asap rokok dan berakhir batuk batuk pelan.

 

Johnny tertawa geli melihat tingkah laku nya, sedangkan Jeno dan Jaemin kembali bermesraan keduanya tak ingin ikut campur melihat gelagat Mark yang sudah mulai posesif terhadap Haechan.

 

"Yaudah gak apa kalo gak bisa ikut, lagian kita bisa liburan kemana aja selain gunung kok." Johnny mengusak rambut poni Haechan pelan.


Cih, segala cara agar bisa menikmati Haechan tanpa ada yang 'ganggu' huh?

"Udah yuk pulang, udah malem." Mark yang sejak awal risih dengan keberadaan Johnny, kini bangkit dan mematikan rokoknya lalu menatap Haechan memberi kode untuk segera bangkit dari duduknya.

 

"Kamu pulang sama aku ya?"

 

"Haechan bareng gue." Mark menghampiri gadis itu lalu menarik pergelangan tangan nya.

 

"Gamau, gue mau sama kak Johnny."

 

"Haechan." Mark memanggilnya dengan suara berat dan tatapan nya tak kalah sengit dengan Haechan.

 

"Lepasin!"

 

"Mark, Haechan, kak Johnny! Aku sama Jeno duluan yaa, udah di telpon bunda."

 

Jaemin tiba-tiba pamit karena ia sudah merasakan atmosfer tak enak antara keduanya, cepat cepat menggandeng Jeno menjauhi mereka.

 

"Gue mau ngambil barang gue yang ketinggalan di tempat lo."

 

Tentu saja Mark berbohong dengan alasan tersebut agar Haechan pulang bersamanya.

 

🧸

 

"Lo tuh apaan sih, malu maluin aja!" Haechan menatap Mark nyalang saat mereka baru memasuki kamarnya.

 

"Apa?" 

 

"Lo ngapain sih bilang kaya gitu di depan kak Johnny?! Ntar dia ngira lo tuh sering ke kosan gue!" Haechan berkacak pinggang, napasnya sudah memburu sedari tadi menahan amarahnya yang terpendam.

 

Setelah perdebatan di cafe tadi akhirnya Haechan pulang bersama Mark dengan wajah menahan malu, takut takut kalau Johnny berpikir yang tidak tidak tentang dirinya.

 

"Lah kan emang bener? Trus apa salahnya? Bahkan gue biasa nginep disini juga, liat lo andukan abis mandi atau cuma pake daleman doang. Kenapa sewot deh?"

 

Haechan mengacak rambutnya frustasi, menghentakan kakinya yang masih memakai sepatu.

 

"Makanya lo bilang gitu jadinya kak Johnny mikir gue cewek murahan yang bisa seenaknya bawa cowok ke kosan!"

 

Haechan mendengar gelak tawa yang tak lain dan tak bukan dari Mark, dirinya makin kesal lali membanting tas dan tubuhnya ke ranjang.

 

"Sebelum gue ngomong gitu, lo lebih murahan lagi kalo mau pulang sama dia trus pasti diajakin tidur bareng. Chan, please.. don't be naive. Jangan sampe lo cuma dimanfaatin doang, gue tau sifat cowok tuh kaya gimana."

 

Ujar Mark sembari melepaskan sepatu dan jaket  Haechan.

 

"Kaya apa yang lo lakuin sekarang?"

 

"Yang bener aja, gue gak pernah nyentuh lo sama sekali."

 

"Barusan nyentuh gue tuh!"

 

"Maksud gue bukan nyentuh yang gitu bego, ck. Cuci muka dulu baru tidur, gue mau pulang." Mark bersiap menjauh dari Haechan sebelum gadis itu menahan tangan nya dan menatap Mark sayu.

 

"Nginep aja, gerbang udah di kunci jam segini."

 

Lelaki itu melihat jam tangan nya, benar juga, biasanya mereka nongkrong tidak sampai pulang jam segini dan untuk pertama kalinya mereka sampai larut.

 

Setelah pertengkaran mereka yang tidak penting itu, Mark segera membersihkan diri dan mengganti pakaian yang memang ada beberapa yang ia tinggalkan ketika menginap disana.

 

Tak lama Haechan juga sudah membersihkan dirinya dan bersiap dengan gaun tidur perpotongan rendah yang baru saja ia beli tadi, tentu saja membuatnya terlihat sangat seksi apa lagi dengan payudara bulat nan padatnya yang banyak menyembul seperti ingin segara dibebaskan dari sana, ia duduk di depan cermin untuk membersihkan wajahnya.

 

Mark sedari tadi hanya fokus bermain game di ponsel dan tak menghiraukan Haechan yang memanggil dirinya.

 

"Mark! Mark!"


"Apa sih, berisik!" Merasa terganggu Mark tak menengok sedikitpun.

"Besok temenin gue cari bahan buat tugas gue abis balik kuliah."

"Hm."

"Besok lo selesai jam berapa?"

Tak ada jawaban lagi, Haechan melirik Mark dari kaca yang sedang mengernyit dengan bibir meracau pada ponselnya. Ia menghampiri pria itu lalu duduk di ujung ranjang mengambil benda kotak yang ada di genggaman Mark.

"Besok lo balik jam berapa?" Ulang Haechan.

"Ah anjing! Udah mau menang! Bentar duluu.." ujar Mark tertahan mendapatkan Haechan yang dengan pakaian terbukanya, shit! Napasnya tercekat, dan dengan gerakan gugup ia mengambil ponselnya dari tangan gadis itu, dirinya benar benar panas, gairahnya terbakar sangat panas, jantungnya berdegub dengan berisik.

Calm down dude, calm down.

"Baju tidur rombeng lo mana? Ganti, gak cocok lo pake gituan, keliatan gendut."

Bohong. Ia dusta akan perkataan nya. Nyatanya Haechan benar benar terlihat cantik dan sexy dengan baju tidur barunya itu, ditambah rambutnya yang ia cepol asal asalan menambah kadar kecantikannya bertambah dan juga wajah polos bersinarnya efek skincare, rasanya Mark akan kehilangan kendali saat itu juga.

"Brengsek lo, pulang sana!"

Ia melempar ponsel Mark ke wajah pria itu dengan kesal, menidurkan dirinya di samping Mark memunggungi pria itu dan membenamkan dirinya dengan selimut.

Jam menunjukan jam satu dini hari, tapi Mark masih belum tidur dan kembali melanjutkan permainan nya tanpa berniat menyusul Haechan yang mungkin saja sudah terlelap. Tentu saja ia tidak bisa tidur jika sedari tadi ia sedang menahan gejolak yang ada di dalam dirinya, memikirkan bagaimana payudara sintal Haechan bisa begitu menggairahkan.

"Mark..."

"Tidur."

"Pengen.."

"Pengen apa?"

"Itu.."

"Apa? Laper?"

"Ngewe."

Entah godaan setan dari mana Haechan berkata demikian, tetapi dirinya benar benar ingin merasakan bagaimana rasanya 'disentuh' oleh lawan jenisnya, tak terkecuali Mark yang terkadang  ia tak sengaja melihat sahabatnya itu ereksi saat pagi hari, and he's really big, honestly.

Mark hampir tersedak air liurnya dan dengan cepat mengendalikan dirinya, sepertinya kadar kewarasan Haechan memang sudah dibatas akut, bisa bisanya topik siang tadi kembali ia angkat dengan nada yang serius, membuat Mark sia sia menahan gairahnya sejak tadi jika memang Haechan bermaksud sengaja menggodanya.

Gak, gak mungkin gue ngewein temen gue sendiri.

"Mark.." kini Haechan sudah menghadap dirinya dengan dua buah payudara besar yang menantang menggelantung indah di depan mata laparnya. Mark menelan ludahnya kasar, menatap wajah Haechan yang memerah dan sayu, dirinya benar benar sudah tak tahan lagi!

"Lo yang minta, Haechan."

Setelah itu ia menekan tengkuk Haechan menyatukan bibir basah keduanya ke dalam ciuman dalam yang memabukan. Menyesap, mengulum dan menggigit bibir penuh sahabatnya itu, tangan nya tak tinggal diam menangkup payudara kencang Haechan dan meremasnya sensual.

"Umhhhh..." Desahan tertahan Haechan saat merasakan gelenyar aneh pada dirinya, tubuhnya seperti terbakar akan sentuhan pria jantan itu.

Mark melepaskan ciumannya dan kini beralih pada leher jenjang gadis itu, mengecup dan menjilatinya dengan perlahan, menarik pinggang Haechan agar terduduk dipangkuan nya. Haechan merasakan kejantanan pria itu begitu besar dan keras dibalik bokser yang dipakai Mark, lalu dengan gerakan perlahan dirinya menggesekan pantat sintal miliknya pada penis pria itu.

"Arghhh Lee Haechan."

Geram Mark dengan suara tertahan merasakan penisnya semakin berada dipuncak gairah. Menurunkan tali gaun tidur Haechan membuat payudara sintal itu langsung menyembul bebas dengan puting menegang yang langsung ia lahap dengan rakus sedangkan tangan satunya ia gunakan untuk memilin puting satunya.

"Ahhh Mark.. pelan pelan ughhh." Enak! Haechan membusungkan dadanya dan menekan kepala Mark agar semakin dalam mengulum putingnya, ia merasa pusing karna begitu menikmati mulut hangat pria itu.

"Mark... Memek gue udah becek, ughhh gak tahan. Ayo cepet masukin kontol lo."

"Ahhh Markhh.. please..." Racau Haechan semakin menekan pinggulnya pada penis Mark saat pria itu menghisap kuat puting susunya.

"Calm down, babe. Udah desprate banget hm?"

Mark membalikan posisi tubuh keduanya, menidurkan Haechan lalu melebarkan kaki wanita itu, ia mendapati dalaman Haechan yang sudah basah kemudian melepaskan nya dan melesakkan kepalanya diantara kaki Haechan.

Dengan perlahan Mark menjilat vagina basah itu menggunakan lidahnya, membuat Haechan semakin merasa gatal ingin disentuh lebih. Ia tak pernah merasakan ini sebelumnya, dan Mark benar benar membuatnya kehilangan kewarasan.

"Fuck! MarkㅡAhhhh! Enak! Lagi, terus!" Racau Haechan saat lelaki itu menghisap klitorisnya, memainkan lidahnya dengan pro memuaskan wanita-nya.

Vagina Haechan semakin basah ditambah liur dari sahabatnya itu manjadikan bibir vaginanya sangat licin, meremat rambut dan menekan kepala Mark agar pria itu terus 'memakan' nya lebih.

Mark melesakkan lidahnya ke dalam lubang sempit Haechan, mengacak ngacak wanita itu di dalam sana, membuat tubuhnya bergenlinjang pelan merasakan kenikmatan.

Sungguh! Kalau tau Haechan senikmat ini dari dulu Mark mengajaknya duluan untuk bercinta apa lagi dengan mulut kotor wanita itu rasanya ingin ia segera 'menghancurkan' Haechan.

Haechan terus meracau dengan umpatan umpatan yang menurut Mark sangat seksi sampai Haechan mengeluarkan cairan nya yang langsung ia bersihkan.

"Hahhh Markhh.. cepetan, i wanna feel you inside me."

Mark menegakkan tubuhnya, menatap Haechan dengan penampilan acak acakan dan napas memburu, oh, jangan lupakan gaun tidur yang masih melekat di tubuhnya yang sudah tak berdaya.

"Demi Tuhan lo indah banget, Haechan. Gue gak akan rela dan gak akan mau bagi lo buat siapapun."

Mark dengan cepat menanggalkan pakaian nya, memperlihatkan tubuh berotot dan kencang miliknya yang membuat Haechan tersipu malu.

"Chan, tolong bilang stop, bilang lo gak mau." Mark meyakinkan sekali lagi sebelum mereka akan bertindak lebih jauh.

"Do it."

Pria itu mengarahkan batang penisnya ke bibir vagina Haechan dan langsung melesakkan dirinya dalam sekali hentakan, menahan erangan Haechan dengan sebuah ciuman. Mark amat terkejut  merasakan ada penghalang jalur masuknya yang kini sudah ia tembus.

This is her first time.

Mark merasakan asin dalam ciuman nya, dilihatnya Haechan menitikkan air mata yang kemudian dihapus olehnya.

"Chan..? Lo...?"

Masih dalam keterkejutan nya Mark bersuara dengan tidak yakin.

"Pelan pelan brengsek! Sakit tau gak!"

"Maaf... Gue kira.. lo udah gak perawan."

"Emang lo kira gue cewek apaan, nyebelin!"

"Maaf, gue bakalan tanggung jawab."Ucapnya menyesal ang kemudian mendekap Haechan erat, membiarkan dirinya terbiasa akan milik Mark dibawah sana.

"Yaudah cepet gerakin, emang lo mau kaya gini terus sampe pagi?"

"Hehehe... Sabar dong bu bos. Udah gak sakit?" Tanyanya yang dijawab gelengan oleh gadis itu, Mark mencium pipi Haechan lembut lalu menggerakan pinggulnya maju mundur menggenjot lubang surgawi Haechan.

"Ouhhhh... M-Mark, e-enak.." desah Haechan tak bisa berkata-kata memeluk punggung kokoh Mark, payudaranya terhentak mengikuti genjotan Mark dibawah sana, keduanya bernapas dengan memburu merasakan udara panas yang menerpa kulit wajah masing-masing, bertatapan begitu intens seakan mendamba satu sama lain.

"Mark ouhhhh, yang cepet please.. mau dientotin lo kenceng, mau dikasarin, mau diancurin."

"Shit, dari mana lo belajar ngomong jorok gitu?" Sesuai permintaan Haechan, ia menumbuk vagina nya dengan cepat, tepat dan dalam.

"Ahhhh yeshh! Disitu! Mark aaaaangghh enak banget kontol lo." Mark terus menumbuk titik nikmat Haechan, merasakan lubang itu menyempit dan memijat penisnya.

Haechan dan mulut kotornya memang berbahaya.

"Fuck! Lee Haechan. Can you shut the fuck up? Bener bener kaya lonte yang haus kontol, arghhhh!" Geraman rendah keluar dari bibirnya ketika Haechan mengetatkan lubangnya menjepit penis berurat Mark.

"Aduhㅡ! Memek gue penuh banget sama kontol lo, suka dipake sama lo."

Haechan terus memprovokasi Mark agar semakin kasar padanya.

Mark menunduk meraup puting mengacung Haechan dan menyedotnya kuat layaknya bayi, pinggulnya tak berhenti menghentak vaginanya kasar tanpa ampun. Tangan kekarnya tak tinggal diam, ia mengoyak lembut klitoris Haechan membuat wanita itu merengek keenakan sampai menangis.

"Bangsat, lo jago banget! Udah berapa cewek yang lo enakin gini, Mark?"

Mark hanya tersenyum miring mendengar celotehan Haechan, faktanya hanya Haechan lah satu satunya wanita yang Mark perlakukan seperti ini. Dia hanya mengingat-ingat gerakan dalam film porno yang kadang ia tonton dan mempraktekan nya sekarang kepada Haechan, and its work.

"Mark LeeㅡAhhhh! M-mau pipishh uhhhh!"

Mark semakin gencar mengentot lubang vagina nya, mengucek klitoris Haechan sedikit cepat dan memainkan lidahnya dengan lihai diatas payudara wanita itu.

"Oughhh Mark terus, mau dipejuin, mau dijadiin lonte pembuangan peju lo ahhh."

Tak lama kemudian Haechan mencapai pelepasan nya dan Mark menggeram merasakan otot vagina Haechan mengencang menjepit kuat penisnya yang semakin besar di bawah sana mengejar pelepasan nya sendiri.

"Aaaaarghhh Lee Haechan!"

Semburan sperma memenuhi vagina Haechan, merasakan hangat keduanya bersatu sampai lelehan cairan kental putih dan merah itu mengotori sprei.

Tanpa melepas persatuan keduanya, Mark mendekap Haechan menempelkan dirinya pada dada bidang pria itu.

"Ughh, gamau peluk peluk, mau lagi, ya?"

"Hei, sejak kapan lo jadi binal gini?"

"Mark~" ujar Haechan dengan suara manja dan tatapan memohon nya.

"Yaudah, abis itu tidur."

Haechan tersenyum sumringah yang membuat Mark ikut terkekeh meihatnya, hatinya menghangat lalu mengikuti permintaan wanita itu.

"Aaahhhh terushhh! Sodok yang dalem, sampe mentok! Ughh gatel!"

"Sempit banget, sayang arghhh!"

Haechan semakin menunggingkan tubuhnya ikut menggenjot penis Mark mengejar kenikmatan nya. Jangan lupakan tangan nya yang juga ikut berkontribusi pada payudara sintal wanita itu.

" 'm cumming!" Ini sudah keempat kalinya Mark ejakulasi di dalam gadis itu, seakan tak pernah puas Haechan terus meminta lagi dan lagi. Yang tadinya hanya sekali ternyata hanya bualan semata. Dan tak lama dirinya ikut mengeluarkan cairan nya entah yang keberapa kali.

Tubuh Mark ambruk, napasnya tersengal. Dirinya sudah tak kuat lagi meladeni nafsu birahi Haechan, ini sudah pagi buta dan matanya sudah sangat berat.

"Udah tidur, capek. Ngantuk." Mark menarik Haechan agar tidur diatas dadanya, menarik selimut dengan mata yang sudah terpejam.

"Lagi.. mau lagi.."

"Gak. Tidur."

"Yaudah lo tidur, gue yang gerak diatas lo."

 

🧸

 

Pagi harinya setelah Mark bangun kini ia membantu mengerjakan tugas Haechan, sedangkan sang empunya tanggung jawab masih terlelap damai dalam tidurnya. Dirinya mengerti jika Haechan masih merasa kesakitan dan enggan untuk beraktifitas.

 

Jadi ia membiarkan 'teman' nya itu untuk membolos kelas hari ini bersama dirinya.

 

"Good morning, sunshine.."

 

Mark mengecup bibir Haechan lembut dan tersenyum saat wanita itu terbangun.

 

"Ih apa sih lo najis banget." Mark menyentil dahi Haechan lalu mencubit bibirnya.

 

"Language!"

 

Haechan langsung mendelik kesal pada Mark yang sedang memangku laptopnya dengan kaca mata dan bertelanjang dada menyenderkan tubuhnya pada kepala ranjang. Jika dilihat lihat mereka layaknya sepasang pengantin baru yang telah melewati malam panas yang luar biasa.

 

"Mark.. kita masih temenan kan?" Tanya Haechan dengan suara parau.

 

"Engga. Gue gak mau jadi temen lo lagi." Jawab Mark dingin tanpa berpikir dahulu.

 

Hati Haechan mencelos mendengarnya, sebelum sempat ia protes Mark melanjutkan.

 

"ㅡMau jadi pacar lo aja biar lo gak nyari nyari cowok lain lagi."

 

Haechan mengulum senyum bahagianya.

 

Faktanya, tidak ada pertemanan murni antara lelaki dan perempuan tanpa ada perasaan di dalamnya.

 

End.