Actions

Work Header

About to Bloom

Chapter Text

Kuncup kisah bunga cinta mereka muncul dari pemaksaan,

"Menikah," ulangnya dengan wajah hampa. Satu kata itu serasa asing, dan lidahnya serasa berat ketika satu kata itu meluncur keluar dari bibir merah alaminya. "Saya harus menikah." Bukan pertanyaan. Itu adalah pernyataan impulsif ketika realisasi akhirnya menghancurkan sebutir harapannya yang tersisa.

"Cale, ini demi dirimu." Cale secara samar mengeluarkan dengkusan getir ketika mendengar itu, bertepatan dengan tangan kanan Kepala Keluarga Henituse terkepal kuat seolah menahan keinginan untuk menoleh ke arah Cale.

Mendengar sesuatu samar yang bisa dikatakan dengkusan, Kepala Keluarga Henituse menggelengkan kepala, meralat pernyataan. "Tidak, maafkan ayah. Ini demi diriku sendiri. Kamu satu-satunya yang tersisa dari ibumu, aku tidak bisa kehilangan dirimu, Nak."

Dengan tanpa ekspresi, Cale sedikit memiringkan kepala sembari mengawasi gestur Kepala Keluarga Henituse yang cukup ceroboh. Dalam pemahaman diam-diam, Cale pun akhirnya menanggapi dengan kalimat blak-blakkan. "Sama saja, Ayah. Kalau saya memakai marga suami saya, ayah akan kehilangan saya. Sebagaimana kakek kehilangan ibu saat ibu memilih menikah dengan ayah."

Napas yang mengandung rasa sakit terembus seketika, itu sebelum Kepala Keluarga Henituse memejamkan mata sambil memijat pangkal hidung ketika mendengar perkataan Cale yang blak-blakkan. Apa pun yang Kepala Keluarga Henituse pikirkan ketika memejamkan mata, alih-alih terpengaruh oleh makna ganda dalam perkataan Cale, Kepala Keluarga Henituse malah mengeluarkan perkataan dengan ketegasan yang akan membuat dunia bertepuk tangan.

"Nak, lebih baik aku kehilanganmu dengan syarat kamu masih hidup daripada aku kehilanganmu karena kamu mati seperti ibumu."

"Mati seperti ibumu." Benak Cale tanpa meminta izin tiba-tiba mengulang perkataan Kepala Keluarga Henituse seperti kaset rusak. Tanpa sadar, api kecil menyala dalam benak Cale.

Namun, berusaha tak gentar dan berjuang tidak menyerah dalam api kecil, Cale mengangkat sedikit dagunya untuk mencoba terlihat lebih tegas daripada Kepala Keluarga Henituse. "Menikah atau tidak, saya akan tetap selalu terancam mati karena alasan simpleks, Ayah. Darah ayah hanya mengalir di dalam tubuh saya." Dari samping, terlihat rahang Kepala Keluarga Henituse tegang dan mengencang, tetapi Cale tak acuh melanjutkan, "Visual saya dan ibu juga bagai pinang dibelah dua. Ayah sendiri tahu apa arti visual saya."

Tangan Kepala Keluarga Henituse yang terkepal tiba-tiba gemetaran, Cale pun jadi mempertanyakan siapa yang harus gemetaran di tengah-tengah situasi seperti ini.

"Justru karena itu kamu tidak bisa lagi berada di bawah perlindungan marga Henituse. Kamu memerlukan marga yang lebih 'emas' daripada milik ayahmu, Nak." Senyum Kepala Keluarga Henituse getir dan nyaris menyakitkan bagi siapa pun yang memiliki hati lemah. "... Ayahmu ini bahkan tidak bisa melindungimu ibumu, jadi bagaimana bisa aku melindungimu." Kepala Keluarga Henituse tanpa sadar bergumam dengan sangat pelan.

Cale mendengar gumaman terakhir, tetapi topeng tanpa ekspresi Cale tetap berubah, sebab dia lekas menyadari Kepala Keluarga Henituse akhirnya benar-benar memilih lepas tangan akan dirinya, dan menempatkan tanggung jawab atas Cale sepenuhnya pada tangan orang lain dengan alasan tidak bisa.

Dalam satu detak jantung, Cale hendak bertanya, "Apa ayah sangat menyepelekan nama Henituse?" tetapi pertanyaannya tersangkut di tenggorakan. Dari itu pun Cale tahu, mempertanyakan hal itu sama sekali tidak berguna.

Mau tak mau, mata Cale bersinar sedingin bunga es yang senada dengan suaranya ketika membalas, "Ayah sadar kan, sebulan lalu saya baru saja berusia tiga belas tahun. Tiga belas tahun, Ayah." Kepalan tangan Kepala Keluarga Henituse gemetaran lebih dari sebelumnya. "Bahkan saya belum mempertanyakan bagaimana cara ayah akan meloloskan undang-undang pernikahan di bawah umur pada zaman modern seperti ini."

Masih belum menatap Cale, Kepala Keluarga Henituse memberikan jawaban dengan nada yang tidak lagi terdengar tegas, seolah tekadnya goyah oleh sesuatu. "Sebelum Bassen berusia tujuh belas tahun, kamu sudah harus lepas dari keluarga ini, Nak. Lebih cepat lebih baik." Suara Kepala Keluarga Henituse turut gemetar, Cale jadi tidak ingin mempertanyakan korelasi antara pernikahan dininya dengan Bassen. "Sekarang masalah undang-undang bukan perkara krusial, Cale, kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu."

Uap kemarahan dingin mengembus di udara, Cale tidak mengatakan apa-apa lagi, tetapi bunga es di matanya tak kunjung mencair.

Walau tanpa sadar mengeluarkan semburan emosi seperti kemarahan dingin ketika mendengar balasan Kepala Keluarga Henituse, Cale telah sadar ada alasan lain di balik keputusan mengerikan yang dilemparkan ke wajahnya, begitu juga situasi yang tidak dijabarkan oleh Kepala Keluarga Henituse, sebab Kepala Keluarga Henituse yang Cale ketahui, tidak mungkin melakukan tindakan seekstrem itu jika tidak ada alasan yang sama ekstremnya. Cale menunggu tenang, sampai alasan sebenarnya terkuak.

Hening berkuasa selama seratus delapan belas detak jantung.

"Cale." Kepala Keluarga Henituse akhirnya lebih dahulu mengalah. Kepala Keluarga Henituse menatap Cale dengan tatapan lurus yang dipenuhi putus asa. Dengan putus asa juga Kepala Keluarga Henituse akhirnya membuang bom alasan di hadapan Cale. "Semua famili dekat sampai relasi kita telah mengajukan prospek pernikahan antara kamu dengan Bassen."

Suhu ruang kerja sedikit menghangat, kemarahan dingin yang telah menumpuk pun mereda, dan hanya perasaan campur aduk yang tersisa ketika Cale tiba-tiba meragukan pendengarannya berfungsi dengan benar. Itu adalah salah satu dari tiga yang dia prediksi, tetapi itu juga hal terakhir yang ingin Cale dengar. Walau mual seketika menggelegak di perut Cale, raut wajah dinginnya tidak berubah sedikit pun.

Mengamati tidak ada satu pun celah di topeng dingin Cale, Kepala Keluarga Henituse melanjutkan topik sambil tidak bisa menahan kekhawatiran akan emosi Cale yang tidak sesuai dengan usia. "Mereka beralasan, meski kita memiliki aktiva melebihi tujuh turunan, nama Henituse telah jatuh ke dalam situasi genting sebab dua perkara. Maka dari itu, posisi Bassen sebagai suksesor Henituse akan lebih kokoh di mata dunia jika Bassen menikahimu yang merupakan satu-satunya putri kandungku." Sedikit nada kekalahan samar-samar berbaur dengan nada putus asa.

Sudah lama Cale mengutuk dunia, kali ini tidak berbeda, bahkan mungkin akan menjadi-jadi. "Peduli pada mata dunia tidak ada habisnya, Ayah, dunia bisa hancur untuk semua yang saya pedulikan." Ada nada dendam samar di dalam suara Cale yang pastinya tidak disadari oleh Kepala Keluarga Henituse, bisa dilihat dari raut wajah Kepala Keluarga Henituse. "Bassen jenius, sudah terlihat sejak di usia begitu muda. Bassen akan menemukan jalannya sendiri di dunia kotor ini tanpa campur tangan oknum-oknum berengsek itu, lalu bukankah ayah akan selalu berada di belakang Bassen? Begitu juga keluarga Molran dan tiga keluarga lain."

Kepala Keluarga Henituse meringis, tanpa sadar memalingkan wajah, tetapi segera menatap Cale kembali dengan ekspresi seolah merasa tercekik.

Cale masih berusaha menyingkirkan perasaan menggelegak di perutnya, sebab membayangkan itu membuatnya jijik, lebih jijik lagi adiknya yang lebih belia darinya menjadi korban konspirasi. "Saya tegaskan, Ayah. Bassen adalah adik saya, selamanya dia akan selalu menjadi adik saya."

Kepala Keluarga Henituse mengirim tatapan minta maaf pada Cale. "Bukan sedarah. Tidak ada darah yang mengikatmu dengan Bassen, Nak. Argumen mereka secara objektif benar bahwa anak yang sama sekali tidak memiliki darah Kepala Keluarga akan menjadi sasaran empuk di antara pemangsa dunia, terlebih jika fakta keluarga Henituse bukanlah miliarder biasa terungkap ke dunia." Kepala Keluarga Henituse mengetukkan jari-jari kiri di meja, berpikir. "Tak cukup dengan status darah Bassen yang masih dipertanyakan, sekarang berita kasus penculikanmu dengan visual aslimu yang terekspos masih meledak di dunia maya. Pihak kita kesulitan memanipulasi media karena rupanya demagogi yang telah mereka lakukan lebih dalam dari aku duga, lantaran ini juga ada banyak hiu ganas dan burung pemakan bangkai yang mengincarmu dan Bassen, Nak."

Dengan tanpa ekspresi dan dengan tenang, Cale mencoba mendengarkan penjelasan Kepala Keluarga Henituse. Semakin banyak kata menggelikan yang Kepala Keluarga Henituse ungkapkan, semakin Cale ingin menampar belakang kepala oknum-oknum tertentu, sampai pada titik Cale mempertanyakan dirinya sendiri, apa Cale benar-benar ingin membiarkan mereka membuat dia dan keluarganya menari di telapak tangan mereka.

"Masalahnya lebih kotor dan licik dari dugaanku." Ketukan jari Kepala Keluarga Henituse berhenti, terdiam sejenak, lalu menatap Cale dengan ekspresi cukup serius, walau masih ada bayang-bayang putus asa dan permintaan maaf. "Sepertinya kita terlambat dua langkah. Jangankan orang-orang di luar sana, Nak. Di dalam cabang keluarga kita semua juga berlari liar, hingga pada titik prospek pernikahan itu disetujui oleh semua famili dekat, relasi, dan pengikut kita. Jika prospek itu ditolak tanpa ada rencana lain yang tegas, pertikaian terang-terangan dalam keluarga akan pecah, bahkan empat keluarga tertentu tidak akan cukup menghalau, dan itu adalah hal terakhir yang kita butuhkan, Nak."

Kilatan yang tidak terdenifisikan muncul di mata Cale. "Benar ternyata. Penculikan sialan itu pemicu terakhir famili tertentu berlari liar. Demagogi sialan itu pasti tidak hanya berasal dari mereka karena tidak mungkin mereka bisa bergerak jika ayah telah mengawasi mereka dengan ketat." Cale mengabaikan kernyitan yang muncul di dahi Kepala Keluarga Henituse ketika kata-kata tercela keluar dari bibirnya, lebih memilih melanjutkan, "Jika hanya ayah seorang, ayah akan melawan dunia dan mereka demi saya seperti yang ayah dulu lakukan sewaktu saya kecil dan sewaktu Bassen diangkat menjadi suksesor, tapi sekarang seluruh tangan dan kaki ayah dengan gegabahnya telah terbelenggu. Itu juga pencetus ayah memutuskan secara sepihak dan egois tentang omong kosong gila itu."

Kernyitan Kepala Keluarga Henituse menghilang, digantikan oleh bibir yang terlihat gemetar, seolah memaksakan diri menahan senyum kesengsaraan.

Tidak membiarkan emosi Kepala Keluarga Henituse memengaruhinya, sejenak tatapan tak acuh Cale sama tak acuhnya dengan nadanya ketika dia melanjutkan perkataannya lagi.

"Ayah tidak pernah menyebutkan saya akan menikahi siapa, tapi ayah daritadi sudah jelas memberitahu saya, marga saya akan digantikan oleh marga yang akan membuat dunia terguncang dan akan bisa mengekang mereka." Mata Cale lurus dan punggungnya tegak, walau dia berusaha mati-matian memadamkan api kemarahan kecil di dalam tubuhnya. "Namun, Ayah. Antara objektif dan subjektif, ayah memang memilih objektif di hadapan oknum-oknum berengsek itu dan ayah memang memilih keputusan objektif perkara itu, tapi ayah kan selalu subjektif mengenai saya."

Mata Kepala Keluarga Henituse sekilas mengeras, tetapi segera berubah menjadi putus asa. Cale memilih untuk berpura-pura tidak melihat kilatan di mata Kepala Keluarga Henituse. "Jangan menatap saya seperti itu, Ayah. Benar, kan, ayah ingin keluarga itu mengekang mereka tanpa darah terlibat dan tanpa orang luar tahu konflik yang bergejolak di dalam keluarga Henituse, tetapi secara bersamaan ayah ingin keluarga itu menempatkan kebahagiaan saya di atas segalanya."

"Yang tidak mungkin bisa terwujud secara bersamaan." Dalam pikiran Cale, dia sempat berkomentar dengan acuh tak acuh.

Cale terus mengungkapkan beberapa deduksinya dengan nada dan sikap seolah-olah bukan dia yang terjebak dalam pusat konspirasi.

"Saya tahu dari seseorang, ayah telah mengatakan pada mereka bahwa ayah akan menyetujui tawaran prospek mereka berdasarkan ledakan yang terjadi di dunia maya dan berdasarkan ketidakmampuan Henituse membungkam media, tapi sebenarnya Ayah telah diam-diam merencanakan sesuatu untuk mengelabui mereka. Ayah akan segera menikahkan saya dengan seorang pemuda dari keluarga tertentu sebelum konferensi atau kongres final diadakan."

Kepala Keluarga Henituse tersentak kaget, meski jemarinya masih terkepal di permukaan meja. Kemudian, Kepala Keluarga Henituse memasang wajah seperti rusa yang tertangkap, dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menatap Cale dengan ekspresi yang menyiratkan kesedihan mendalam yang dibalut oleh penyesalan ketika mendengar semua perkataan Cale. Seolah-olah merasa menyesal, sebab Cale yang selalu Kepala Keluarga Henituse anggap sebagai gadis kecil dan rapuh telah tumbuh sebanyak itu tanpa sepengetahuan dan bimbingannya.

Cale menahan dengkusan yang nyaris keluar dari bibirnya ketika mengetahui isi pikiran Kepala Keluarga Henituse yang terlihat jelas di wajah Kepala Keluarga Henituse. Sekelebat bertanya-tanya, bagaimana Kepala Keluarga Henituse selama ini berhasil bertahan di dunia keji jika emosi dan pikiran Kepala Keluarga Henituse bagai buku terbuka.

Tidak menanggapi adalah cara Kepala Keluarga Henituse membenarkan semua deduksi dan kesimpulan Cale. Kepala Keluarga Henituse hanya mengatakan tiga hal pada Cale dalam tiga tarikan napas setelah melihat Cale tetap diam sambil memasang ekspresi dingin yang seolah-olah tidak pernah melempar berbagai bom.

Sembari menatap Cale hati-hati, Kepala Keluarga Henituse bertutur dengan nada seolah memohon pengertian. "Papan permainan politik di dunia akan berantakan, Nak. Timbangan kekuasaan juga akan berat sebelah, bahkan dua benua akan tersapu dalam kekacauan ketika keluarga Henituse akhirnya memilih faksi. Kamu dan calon pasanganmu akan menjadi salah satu pusat dari semua itu, Nak." Kepala Keluarga Henituse untuk pertama kalinya berkata serius, tanpa ada bayang-bayang putus asa atau permintaan maaf.

Jemari kanan Kepala Keluarga Henituse yang mulanya terkepal, bergerak untuk mengusap salah satu pigura kecil yang berdiri di sisi kanan meja. "Apa kamu sanggup?" Pertanyaan tak terucap menggantung di udara.

Cale menarik salah satu sudut bibir ke atas, sedikit merusak topeng dinginnya. Dia tidak tahu harus merasakan apa ketika menyadari implikasi perkataan Kepala Keluarga Henituse. Walau Cale tergoda membiarkan bibirnya mengeluarkan jawaban, "Tidak, saya hanya ingin menjadi pemalas yang hidup bergelimang harta dalam keadaan damai, Ayah." tetapi Cale akan memaksa dirinya untuk melakukan pernikahan di bawah umur itu dan terjun lebih dalam ke ranah politik, sebab kalau pun Cale tidak ingin, dia sudah telanjur memahami nyaris keseluruhan situasi.

Di sisi lain, Cale sebenarnya tidak ingin memikirkannya, dia benar-benar tidak ingin memikirkannya, tetapi dia tahu Kepala Keluarga Henituse menyayangi Cale melebihi yang ingin dia ketahui, bahkan pengetahuan seperti alasan memaksa menyembunyikannya dari dunia dengan cara mengirimnya pergi untuk tinggal di benua lain. Walau rencana menyembunyikan Cale hancur hanya karena satu penculikan.

Roda pikiran Cale selama semenit berputar, sampai pada puncak kulminasi di mana Cale menyesali pada hari dia diculik dan nyaris mati, sehingga menyebabkan kekacauan sebesar ini dalam sisa hidupnya. Namun, semenyesal apa pun Cale, jika Cale bisa kembali ke masa lalu, dia akan tetap memilih pilihan yang sama, jadi Cale menyingkirkan sisa-sisa penyesalan dalam dirinya.

Pura-pura tidak mengetahui implikasi mengerikan di balik perkataan Kepala Keluarga Henituse, Cale sengaja melempar pertanyaan lain dengan mata bersinar sedih dan polos, seolah kepribadian dingin dan dewasanya tidak pernah ada, yang entah mengapa tampak berhasil menipu Kepala Keluarga Henituse, bisa dilihat dari bibir Kepala Keluarga Henituse yang mulanya bergetar segera terangkat untuk membentuk senyum, terlihat bersyukur mengenai sesuatu.

Menyingkirkan pemikiran mengenai senyum aneh Kepala Keluarga Henituse, Cale bertanya dengan nada yang sama seperti sorot matanya.

"Keluarga mana yang akan ayah berikan kesetiaan Henituse yang langka sampai-sampai dunia akan tersapu ke dalam badai kekacauan?"

Pertanyaan yang Cale berikan pada Kepala Keluarga Henituse hanyalah sekadar basa-basi, sebab Cale sudah tahu hanya ada lima kandidat, dari lima kandidat pun hanya akan ada dua yang sempurna untuk bersanding dengan anak kandung Kepala Keluarga Henituse, dan dari dua kandidat pun hanya ada satu yang Cale yakini akan Kepala Keluarga Henituse pilih. Namun, Kepala Keluarga Henituse tidak tahu itu. Cale pun tidak ingin menunjukkan dia memiliki pengetahuan lebih dari apa yang Cale ungkapkan hari ini.

"Crossman. Keluarga utama Crossman," ungkap Kepala Keluarga Henituse setelah beberapa saat mengamati Cale. Ekspresi Kepala Keluarga Henituse sedikit menyedihkan seolah-olah baru menyadari anak gadisnya masih belia yang mungkin tidak sepenuhnya memahami politik, dan nada suaranya diwarnai oleh kecemasan, sepertinya merasakan awan gelap di balik ekspresi acuh tak acuh Cale.

Mengetahui, dan mendengar secara langsung terasa berbeda. Beban berat tak kasat mata jatuh di pundak Cale.

Di mata Cale, sekarang kehidupan pemalas dan kehidupan damai saling menggenggam tangan, lalu melambai tangan pamit untuk pergi dari hidupnya. Erangan menyedihkan tanpa sadar lolos dari bibir Cale.

"Cale?" Kepala Keluarga Henituse memanggil khawatir. Namun, Cale tidak peduli, sebab meskipun Kepala Keluarga Henituse merasa khawatir, menyesal, sedih, putus asa, atau pun emosi lain, Kepala Keluarga Henituse tidak akan pernah mengubah keputusan.

Abai, Cale sejenak mengalihkan pandangan ke arah pigura yang terpajang di atas vas bunga middlemist red. Tanpa sadar, Cale menatap dengan penuh kerinduan pada birai merah keemasan yang selalu setia menjaga potret seorang wanita dewasa berpostur elegan.

Rambut wanita dewasa dalam potret sangat panjang dan bergelombang dengan warna seperti darah yang ditata sedemikian rupa dan hiasan bunga middlemist red dalam bentuk mahkota bertengger di atas kepalanya, kilatan kenakalan di balik kecerdasan terpancar dari sepasang mata bulat cokelat fajar yang dibingkai oleh bulu mata panjang dan lentik, sembari bibir ranum wanita itu terangkat untuk melukis senyum lembut yang terlihat bijaksana.

Dengan tatapan masih terpaku pada pigura, Cale tanpa sadar membelitkan rambutnya yang saat ini masih berwarna abu-abu terang ke jari, kebiasaannya ketika tingkat keseriusannya mencapai puncak. Segala rencana, skema, alasan, dan jalan keluar tersusun di benaknya secepat kilat. Setelah menghitung untung dan rugi, baik dan buruk, menghilang atau bertahan, Cale mengambil keputusan. Cale lekas menatap Kepala Keluarga Henituse kembali, sebelum tekadnya yang lemah tersapu oleh angin yang diam-diam menyelinap ke dalam ruangan.

"Ayah, ingat tidak? Sebelum ayah menitipkan saya ke papa, ayah meminta saya untuk memikirkan hati-hati keinginan saya ketika dewasa." Seulas senyum tidak terdefinisikan muncul di wajah Cale. "Saya akan menjawabnya sekarang. Saya ingin menjadi pemalas yang menjalani kehidupan damai, tapi semua omong kosong itu berniat menghancurkan keinginan saya."

Secepat mata berkedip, Kepala Keluarga Henituse melirik rambut dan mata Cale, lalu wajah Kepala Keluarga Henituse sepintas terlihat bingung yang bercampur dengan emosi lain, setelahnya basah oleh rasa bersalah.

Cale sedang tidak ingin melihat badai emosi di wajah Kepala Keluarga Henituse, dia pun memandangi lagi potret wanita dewasa yang jelita. Dalam lubuk hati terdalam, dia kurang bisa menahan pertanyaan yang mengambang tidak menentu, pertanyaan jika wanita yang dijaga dalam birai emas masih berada di sisinya, jawaban apa yang akan wanita itu inginkan dari Cale.

Mata Cale yang saat ini masih berwarna ungu bergerak menelusuri kenakalan yang tersembunyi di balik kecerdasan, lalu menuju ke kelembutan yang terlihat bijaksana.

Mendadak, benak Cale serasa terbakar. "... Seperti mereka yang menghancurkan mimpi saya, saya juga merasa perlu menghancurkan mimpi mereka. Bukankah jantung mereka harus berdetak bersama kata kausalitas?" Cale tidak tahu apa yang diinginkan wanita itu, tetapi pada situasi saat ini, Cale tahu tanggapan apa yang benar dan apa yang salah. Seulas senyum sendu sekilas melintas di wajahnya sebelum Cale mengalihkan tatapannya pada Kepala Keluarga Henituse yang membatu.

Kepala Keluarga Henituse tiba-tiba berkedip kosong, dan seolah kabut telah menghilang dari matanya, Kepala Keluarga Henituse menatap Cale dengan tatapan seolah untuk pertama kalinya Kepala Keluarga Henituse benar-benar melihat Cale.

Cale tersenyum melihat itu, tetapi mata Cale kembali dingin, dan jejak kesedihan maupun kepolosan menghilang dari wajahnya. Melihat ketidaksadaran Kepala Keluarga Henituse mengenai putri kandungnya sendiri, Cale teringat ungkapan darah lebih kental daripada air, tetapi kenyataan yang tidak bisa dibantahkan berbeda dari ungkapan, setidaknya bagi Cale ada ungkapan yang lebih sesuai yaitu air lebih kental daripada darah.

Pikiran Cale mengembara sejenak, lalu dalam sepuluh detik, Cale telah memutuskan bahwa Kepala Keluarga Henituse harus mengetahui sebagian jati diri Cale yang sebenarnya jika Kepala Keluarga Henituse ingin Cale, yang baru berusia tigas belas tahun, terjun ke medan politik.

Tak beberapa lama, pikiran Cale melayang kembali ke pertanyaan yang masih tergantung di udara. Walau setengah tidak ingin, Cale mencoba menggali informasi yang tersimpan dalam kepalanya untuk mengingat histori keluarga Crossman dan prominen putra tertua keluarga Crossman. Setelahnya, Cale memberikan jawabannya dengan penekanan yang penuh beban.

"Kaisar dan Permaisuri, kedua posisi itu mengerikan, Ayah."

Ada banyak hal yang tidak terduga dalam kehidupan. Ada angin yang berembus liar seolah tidak masalah jika badai akan menyusul di belakang. Ada pula masa musim semi mendahului musim dingin. Dan untuk Cale sekarang, mungkin ada yang lebih menarik daripada menjadi pemalas yang menjalani kehidupan damai....

"... Namun, di atas papan permainan politik sialan itu, saya dan calon suami saya hanya bisa bergerak menuju ke posisi-posisi itu, kan, Ayah?"

dan tidak akan mekar bila kepalsuan serta kesalahpahaman tidak terselesaikan.

Aroma manis bunga chocolate cosmos menggelitik indra penciumannya yang tajam pada detik kakinya melangkah keluar dari ruang senat. Tanpa sadar menerima getaran memabukkan di sekujur tubuhnya, dan dia pun tak bisa menghentikan jantungnya yang tiba-tiba berpacu. Mata birunya yang berkelip-kelip seperti bintang pagi secara instingtif bergerak ke arah sedikit barat, dua puluh langkah dari tempatnya berdiri.

Indera penglihatannya menangkap pemandangan seorang gadis jelita berbusana dominan putih yang begitu sempurna bersanding dengan rambut sewarna darah sedang dikerubungi berbagai macam penyembah, setidaknya satu kata terakhir di penglihatannya seperti itu.

Otot berkedut di rahangnya melihat nafsu jelas di mata beberapa pemuda ketika memandangi sang gadis, tetapi segera ekspresi kerasnya berubah ketika dia merasakan seseorang di belakang punggungnya berusaha mengintip.

"Senior Alver, gadis itu istri senior, kan?"

Suara polos yang terkesan naif itu menyebabkan senyum lembut khas muncul di wajah Alver, tetapi biar pun sedetik, matanya yang seperti bintang pagi tidak pernah meninggalkan sang gadis.

Kelembutan senyum Alver terlihat seperti dipenuhi kasih sayang tepat pada saat mata cokelat fajar sang gadis menemukan Alver yang tengah berdiri diam di depan ruang rapat senat.

Seseorang yang masih berdiri di belakang punggungnya berbicara lagi dengan suara ceria yang polos, terdengar salah paham ketika melihat ekspresi kebahagiaan di wajah sang gadis setelah menemukan Alver. "Senior sangat mencintai istri senior, ya? Istri senior juga kelihatannya sangat mencintai senior. Kasih sayang kalian begitu indah sampai-sampai saya terinspirasi untuk berusaha membuat adik saya sebahagia istri senior."

Sudah setengah tahun Alver mengenal seseorang itu, berdasarkan pengetahuannya selama setengah tahun itu, Alver bisa membayangkan seseorang itu tengah mengatupkan kedua tangan di depan dada, dan kekaguman murni muncul di wajah polos seseorang itu.

Alver ingin menoleh ke arah seseorang itu untuk melemparkan perkataan. "Omong kosong apa yang kamu ocehkan?" tetapi segera mengubur keinginannya ketika mengingat citra yang harus dia jaga.

"Kasih sayang kami tidak bisa dibandingkan dengan limpahan kasih sayang yang sering kamu dan adikmu bagikan. Yang ada kami yang merasa terinspirasi oleh cinta tulus persaudaraan kalian sampai-sampai di lubuk hati terdalam, kami ingin pernikahan kami seteguh dan sekuat tali persaudaraan kalian." Tanpa menatap seseorang itu, lidah fasih Alver begitu saja aktif sambil menatap lekat bibir sang gadis yang bergerak untuk membentuk kalimat. "Selamatkan aku, Bajingan."

Alver menahan diri untuk memijat pelipisnya setelah membaca kata kasar 'bajingan'. Belum apa-apa dia sudah merasa sakit kepala, walau Alver sudah menghadapi orang gila sesungguhnya ketika rapat senat.

"Senior Alver benar-benar baik! Senior bisa melihat semua itu disaat orang lain tidak bisa! Seperti istri senior yang terkenal bagai dewi karena sifat baik hatinya, senior memang bijaksana juga seperti raja! Anda dan istri Anda memang merupakan pasangan terberkati." Tanpa menoleh ke belakang pun, Alver tahu mata seseorang itu berkilau karena air mata kekaguman.

Dalam hati Alver mendengkus. "Aku merasa terberkati kalau kamu menghentikan omong kosong yang kamu ucapkan dengan nada polos itu."

Namun, alih-alih menanggapi seseorang itu, Alver terlebih dahulu memilih balas menggerakkan bibirnya untuk gadis itu, membentuk kalimat. "Bertahanlah sedikit lagi, Sayang." Sesudahnya, Alver berbalik, senyum secerah matahari terpasang di wajah rupawannya, sebab membayangkan gadis itu berusaha menahan ekspresi kesal setelah membaca kata 'sayang' darinya.

"Malahan junior Jack yang memiliki kebesaran hati dan juga bijaksana seperti dewa. Junior Jack kan berusaha menyembuhkan siapa pun yang membutuhkan pertolongan tanpa melihat status, prestise, atau pun harta, bahkan para dosen sampai para petinggi juga merasa terberkahi karena kehadiran junior Jack di Universitas Alce kami." Pipi Jack secara polos memerah mendengar pujiannya. Melihat itu, Alver sering merasa tengah menipu anak kecil dengan iming-iming permen setiap kali menghadapi Jack.

Tidak ingin lagi berlama-lama menghadapi kepolosan Jack yang membuat sakit kepala melebihi tindakan gadis berambut merah darah, Alver menepuk bahu Jack sekilas. "Adikmu pasti sudah menunggumu, dan istriku juga sedang menungguku dengan hati penuh kerinduan. Aku pamit duluan, sampai ketemu di rapat lusa. Jangan lupa hati-hati di jalan."

Tanpa menunggu balasan Jack, dan tanpa mengetahui dia telah membuat Jack semakin salah paham mengenai sesuatu, kaki Alver mengayun dengan langkah berwibawa menuju pemilik rambut sewarna darah yang telah menantinya dengan masih memasang ekspresi gembira.

Kerumunan terbelah, menciptakan jalan untuknya yang dikenal sebagai Pionir Sekolah Alce. Beberapa pemuda yang sempat memancarkan nafsu sekonyong-konyong menundukkan kepala hormat setelah melihatnya, lalu berlari tunggang langgang menjauh dengan berbagai alasan yang tak masuk akal.

Emosi geli sekejap terpercik di mata cokelat fajar gadis itu, tetapi emosi itu segera hilang digantikan dengan kilatan kerinduan yang terlihat palsu di mata Alver. Alver pun memilih mengurus pemuda-pemuda yang melarikan diri di lain waktu, dan untuk sekarang, Alver melukiskan senyum penuh kasih sayang sebagai balasan yang pasti terlihat palsu di mata gadis itu.

"Cale, istriku tersayang, satu-satunya dewi milik sekolah kami yang kejelitaannya bahkan membuat dunia terpukau. Apa kamu tidak lelah menungguku? Hatiku akan terasa diremas oleh jemari indahmu jika aku melihatmu pingsan lagi seperti dua minggu yang lalu." Alver membungkuk sedikit sambil mengulurkan tangan kanannya untuk mengambil salah satu jemari lentik Cale, mengecup buku-buku jari Cale dengan gestur penuh kasih. Tatapannya tidak meninggalkan mata cokelat fajar Cale yang samar-samar melotot.

Mereka selama semenit terjebak saling melempar tatapan yang bagi orang lain merupakan tindakan melepas rindu. Alver samar-samar menyadari para gadis di sekitar mereka berpisah menjadi dua kubu, ada yang menahan jeritan kagum dan terpesona karena tampilan kasih sayang mereka, ada juga yang melemparkan tatapan dan bisikan cemburu serta dengki, bahkan situasi para pemuda tidak jauh berbeda.

Bibir ranum Cale membentuk senyuman yang meneteskan madu, seperti biasa hanya ketika Alver ada. Alver melihat Cale diam-diam dan halus melepaskan jemari dari bibirnya ketika Cale juga menyadari orang-orang di sekitar mereka terpesona oleh senyum langka Cale.

Walau jantung Alver tidak berniat tenang, Alver mengingatkan dirinya sendiri bahwa senyum semanis madu Cale di baliknya masih ada kepalsuan, dia tidak boleh terbuai atau pun terperangkap dalam kepalsuan.

Menyentakkan dirinya supaya tidak tenggelam dalam kemanisan palsu, Alver bergerak jentelmen, dengan lugas mengambil tas tangan dari jemari kiri Cale, sembari mengirim senyum memesona yang dipenuhi afeksi pada Cale ketika Cale menatapnya dengan alis terangkat.

Alis Cale kembali normal, mata Cale juga seketika berbinar yang seolah-olah Cale secara tulus gembira melihatnya. "Alver, suamiku tersayang, satu-satunya raja milik sekolah kami yang kebijaksanaannya bersinar melebihi pusat tata surya. Mana mungkin dewimu ini lelah menunggumu yang sudah berusaha keras demi sekolah kita?" tandas Cale dengan senyum manis, membuat orang-orang di sekitar tanpa sadar mengangguk semangat, seolah mendukung pernyataan Cale. "Jangankan dirimu, aku sendiri juga khawatir, hatiku gelisah dan merana memikirkan kamu akan memaksakan dirimu seperti sebulan yang lalu." Kilatan dendam sempat Alver tangkap, membuat Alver mengejek secara internal, memperkirakan betapa banyak usaha Cale untuk bertingkah manis.

Omong kosong manis yang keluar dari bibir ranum itu entah mengapa menghipnosis mahasiswa maupun mahasiswi di sekitar mereka sehingga mereka tidak memperhatikan raut wajah Alver sekilas mengernyit.

Alver menahan perasaan merinding di tubuhnya, jika Alver tidak tahu lebih baik dia juga akan mengira gadis itu tulus, tetapi Alver bisa merasakan perasaan jijik di balik senyuman madu itu karena harus memuntahkan omong kosong yang menggelikan.

Menyembunyikan hasil pengamatan sekilasnya jauh di sudut pikiran, Alver memasang senyum menawan, matanya pun turut membentuk senyuman, disusul suaranya menjadi rendah. Walau tidak berniat menggoda, tetapi suara rendahnya terdengar menggoda yang membuat sebagian besar gadis sesak napas.

"Ah, sayang, aku tidak menyangka ternyata kita saling memendam kekhawatiran yang mendalam. Aku jadi merasa bersalah telah membuat hatimu merasakan dua perasaan negatif itu." Alver memasang raut wajah bersalah yang mampu menipu dunia, tetapi tidak mampu menipu Cale. "Namun, tetap saja saat ini aku khawatir kamu kelaparan dan merasa penat karena menungguku. Bagaimana kalau kita pergi ke café favoritmu, Sayang?" Alver mengeluarkan perkataan yang dibalut oleh kecemasan, sepasang mata birunya yang memesona juga bersinar sebab kekhawatiran yang tulus. "Meskipun cita rasa café itu tidak bisa menandingi cita rasa masakanmu, setidaknya kamu bisa mengurangi kekhawatiran rajamu ini," tambahnya dengan nada semakin rendah, yang Alver maksudkan supaya terdengar sedih, tetapi malah terdengar semakin menggoda.

Terdengar helaan napas hasrat serempak keluar dari bibir sebagian gadis, tetapi Alver abai, hanya ada satu orang yang selama setengah tahun ini yang diam-diam ingin dia dengar mengeluarkan helaan napas hasrat seperti itu, walau dia harus sabar menunggu sebab gadis yang dia dambakan masih di bawah umur.

Alver melihat Cale dengan hati-hati mengangkat tangan kanan untuk menyembunyikan bibir ranumnya, yang Alver bisa pastikan bibir ranum itu terancam membentuk cemberut. Mata lembut Cale juga mengirimkan tatapan bertanya-tanya berapa lama lagi harus melakukan dialog-dialog menggelikan.

Mahasiswa dan mahasiswi yang mendukung sepenuhnya pasangan Raja dan Dewi universitas seketika khawatir melihat Cale menyembunyikan bibir, mereka mengira Cale menyembunyikan senyum sedih dan menahan perasaan cemburu. Mereka serta merta melotot ke arah para gadis yang berani-beraninya membuat gadis secantik dewi dan sebaik malaikat itu merasa sedih.

Secara bersamaan, Alver menahan senyum geli, imajinasi orang-orang memang luar biasa, sebab itu juga kesalahpahaman luar biasa bisa menyebar secepat api melalap kain yang mengubur segala komentar negatif pernikahan dini, dan tanpa sadar orang-orang itu telah membuat diri mereka sendiri menjadi kesatria putih Cale, menjaga Cale dikala Alver tidak bisa.

Alver tahu, Cale tidak menyadari alasan di balik suasana yang mendadak berubah tajam, Cale hanya sedang memikirkan bagaimana cara menyelesaikan semua ini secepat mungkin. Tidak juga menyadari gadis-gadis yang sempat merasa berhasrat, menyesali perasaan itu. Terkadang Alver merasa lucu, gadis itu bisa sangat peka jika berhubungan politik, tetapi hal seperti ini, kepekaan gadis itu seolah terkunci di suatu tempat.

Alver segera menghentikan dirinya mengamati sekeliling mereka, sekarang fokus Alver sepenuhnya pada Cale yang secara fisik bak bidadari, tetapi sebenarnya di baliknya tersembunyi malaikat jatuh.

Terlihat tak peduli dengan suasana sekitar, tangan kanan yang menyembunyikan bibir Cale telah turun, kini memperlihatkan bibir ranum Cale yang terangkat lebih ke atas. "Aku juga minta maaf karena sudah membuatmu merasakan perasaan khawatir, tapi kita tidak perlu ke café itu karena aku sudah menyiapkan bekal untukmu, Sayang." Cale berhenti sejenak, lalu menatap Alver dengan gestur malu-malu, terlihat asli, tetapi nyatanya palsu. "Kepenatanku hanya hilang saat kamu menghabiskan bekal yang khusus aku buat untukmu."

Tak tahan dengan gestur malu-malu Cale walau tahu itu palsu, Alver mencondongkan tubuh ke depan, mencium dahi Cale dengan ekspresi penuh kasih sayang, lalu bibirnya pindah untuk menyapu rambut merah darah Cale dengan ekspresi yang masih sama. "Aku tidak tahu kamu menyiapkan masakanmu yang luar biasa lezat itu hari ini, Sayang," kata Alver dengan nada menyesal, berpura-pura tidak melihat kilatan tajam dari mata Cale, yang bisa Alver pastikan Cale protes mengenai sentuhan fisik yang Alver lakukan. "Tidak usah khawatir sayang, aku pasti akan menghabiskan makanan lezatmu itu."

Kilatan tajam di mata Cale menghilang, digantikan oleh kilatan kegembiraan yang sungguh mengagumkan terlihat asli. Dalam hati Alver kagum, Cale ahli membuat yang palsu menjadi asli. "Aku sebenarnya sengaja ingin mengejutkanmu, jadi wajar kan kamu tidak tahu. Kalau ada yang harus disalahkan itu pasti aku yang ingin memberikan kejutan untukmu." Bibir ranum Cale tiba-tiba terkulum seolah gugup menantikan reaksinya, dan Alver pun yang melihat bibir ranum terkulum itu entah mengapa nyaris tersentak ketika suatu ingatan melintas di benaknya, di mana bibirnya yang mengulum bibir ranum Cale.

"Aku yang salah sayang. Padahal biasanya hidungku tajam, tapi hari ini aku tidak bisa mencium aroma lezat masakan dari tubuhmu, sepertinya kekhawatiranku memblokir penciumanku." Dusta keluar begitu saja dari bibir Alver sebelum dia sempat memikirkannya. Terganggu oleh ingatan yang melintas di benaknya tanpa permisi, sekaligus Alver tidak mungkin mengatakan aroma bunga chocolate cosmos milik Cale menguasai indera penciumannya, bahkan sekarang karena kedekatan mereka, pekat aroma Cale membuat jantung Alver bertalu-talu.

Tanpa jeda, seolah-olah sebagai bentuk permintaan maafnya karena tidak tahu Cale memasak untuk dirinya, Alver menautkan jari-jarinya ke jemari kanan Cale, lalu mengangkat jemari itu menuju bibirnya untuk mengecup sekilas buku-buku jari itu lagi, setelahnya menggenggamnya erat, serta diam-diam menggeser tubuh Cale untuk lebih dekat dengannya sambil berharap pengekangan di dalam diri Alver tidak melonggar atau pun hancur. "Membayangkan menikmati waktu kosong bersamamu sambil makan masakan buatan jemari indahmu membuatku lapar. Apa di tas tanganmu ini tersimpan bekalmu, Sayang?"

Cale bergumam dengan gestur malu-malu lagi, kali ini terlihat tanpa sengaja memanjakan mata penonton, membuat Alver selama sedetik ingin menaruh karung di kepala Cale. "Aku tidak membawanya sekarang. Sebenarnya ingatanku agak melemah hari ini, aku sempat lupa sudah membawa bekal ke sini karena terlalu gembira bisa bertemu denganmu lagi, Sayang."

Alver dalam hati mencemooh perkataan Cale. Selama kebersamaan mereka, Alver tahu tidak ada satu pun makhluk bernapas di dunia ini yang memiliki ingatan sebagus Cale.

Alver bergerak untuk mencium puncak kepala Cale dengan lembut, lalu mengulas senyum cerah, bersikap seperti suami yang senang karena Cale merindukannya begitu dalam. "Aku juga gembira sayang, melihatmu sekarang aku sampai lupa kesusahan yang aku derita. Jadi, di mana kamu simpan bekalnya? Mau aku ambilkan atau kita sama-sama saja ke sana?"

Terasa tubuh Cale bergidik, mungkin kegelian akan semua ini tidak bisa lagi Cale tanggung. Cale melirik tubuh mereka yang terlalu dekat, Alver pun sejenak merasa waswas Cale memutar otak untuk menjauh secara halus, tetapi ternyata Cale memilih tidak mengacuhkan. Malahan, Cale menyandarkan kepala ke bahunya dengan desahan lembut. "Bekalnya aku simpan di loker milik kita, Sayang. Tidak, mana mungkin aku membiarkanmu mengambil bekal itu sendirian saat aku bisa ikut denganmu, hatiku akan menderita saat itu terjadi."

Tubuh Alver menegang sedetik sebelum dia memaksakan tubuhnya untuk rileks, wajahnya melembut pada titik ekspresinya meneriakkan 'cinta sejati'. Getaran kesemutan yang belakangan ini akrab menari-nari di tulang punggung Alver ketika merasakan desahan lembut yang keluar dari bibir ranum Cale sebelum tanpa sadar senyum tulus untuk pertama kalinya hari ini menghias wajah rupawannya saat memandangi ekspresi yang Cale buat ketika bersandar di bahunya.

Senyum halus yang tersungging di wajah Cale, menandakan akhirnya bisa istirahat sejenak. Bulu mata panjang yang lentik berkibar ketika kelopak mata Cale perlahan tertutup, memercayainya untuk membiarkan Cale melepaskan lelah walau di sekitar mereka masih berdiri orang-orang. Alver pun tidak bisa menahan diri, dia mengambil kesempatan untuk mengecup kelopak-kelopak yang menyembunyikan warna cokelat fajar sambil diam-diam menikmati aroma manis Cale.

Tak menyadari atau tak peduli reaksi orang-orang sekitar, mereka terjebak dalam posisi itu selama beberapa saat. Namun, bagai petir di siang bolong, lima menit kemudian, Alver dan Cale terempas kembali ke kenyataan. Cale secara halus menjauhkan kepalanya dari bahu Alver sambil memasang ekspresi malu-malu yang sepenuhnya palsu. Sementara itu, Alver mengerahkan segala yang ada di dalam dirinya untuk menginjak keinginan untuk membuat kepala Cale bersandar lagi di bahunya.

Telinga mereka memerah tanpa mereka sadari.

Tanpa sadar tidak membiarkan Alver dan Cale memproses apa yang telah terjadi, satu persatu mahasiswa dan mahasiswi yang memiliki jadwal segera pergi setelah tiba-tiba mengucapkan terima kasih kepada Alver atas kerja keras Alver demi sekolah, mereka juga berterima kasih pada Cale karena telah mengurangi beban Presiden Universitas mereka. Sisanya menyebar sebab merasa menjadi pengganggu, ada yang duduk di gazebo sambil berpura-pura mengagumi tumbuhan plastik, ada yang duduk di sekitar kolam sambil berpura-pura bersuka ria dengan kura-kura di sana, dan ada juga yang hanya berdiri canggung sebab tidak tahu harus ke mana.

Di tengah-tengah itu, Alver berusaha mengusir segala pikiran tidak pantas. Dia lagi-lagi mengingatkan dirinya sendiri, walau Cale adalah istri sahnya, bagaimanapun Cale masih di bawah umur.

Alver pun memaksakan diri berdeham lembut. "Baiklah sayang, ayo kita ambil, aku tidak sabar mencicipi makanan lezatmu yang selalu membuatku terbang menuju langit ke tujuh." Kemudian dia mengulas senyum cerah yang membuat siapa pun tertipu, kecuali Cale.

Kontrol diri dan kemampuan sosialisasi Alver lebih baik daripada Cale. Ketika Cale hanya diam dengan sikap manis palsu, Alver bergerak dan berkomunikasi dengan orang-orang yang hendak pamit. Alver juga memberi saran pada orang-orang yang masih berdiri tidak menentu, lalu mengucapkan selamat tinggal pada orang-orang yang masih ada di sekitar. Setelahnya, menggandeng Cale yang tidak menolak untuk pergi dari sana, menuju ke loker tempat bekal mereka berada.

Ketika mereka memasuki koridor yang bagai primadona dari semua sudut kampus, koridor yang tidak ada lagi mahasiswa, mahasiswi, bahkan dosen yang berani berlalu lalang, secara otomatis mereka saling menjauh, jalinan jemari mereka yang saling menggenggam erat pun terpisah.

Wajah mereka terhapus dari segala emosi kasih sayang atau romantis. Alver memasang wajah tabah, begitu juga Cale memasang wajah acuh tak acuh. Telinga memerah mereka telah menghilang ketika mereka saling melempar lirikan sekilas.

Alver tidak akan mengakui kekecewaan yang berkedip-kedip di benaknya. Dia sejak dulu tahu perasaan tidak penting hanya akan menjadi penghalang untuk masa depannya, dan suatu hari nanti akan menjadi kelemahan fatalnya, tetapi akhir-akhir ini Alver bisa mengakui pada dirinya sendiri, dia rela memiliki kelemahan fatal jika itu berarti bisa hidup bersama Cale dengan tanpa kepalsuan.

Mengempaskan kekecewaan memuakkan di dalam dirinya, Alver pun memulai pembicaraan setelah tanpa sadar menatap lekat Cale dan melihat gurat kelelahan samar di wajah Cale. "Cale, kamu mau aku gendong? Kamu kelihatan capek, lho. Apa gerombolan bajingan Adin itu menyusahkanmu lagi?"

Cale menoleh padanya, menatapnya dengan tatapan tidak percaya, lalu senyum palsu Cale kembali muncul. "Sungguh suatu kehormatan bagi saya bahwa Pionir Sekolah Alce sekaligus calon pusat Kekaisaran Rowoon bersedia menggendong manusia rendahan seperti sa—"

Alver menyela perkataan yang membuat bulu kuduknya berdiri, merasa kesal Cale memakai pronomina persona formal. "Sudah cukup. Kalau kamu tidak mau, bilang saja."

"Mana mungkin saya tidak mau digendong oleh seorang Alver Crossman? Yang tubuhnya saja lebih berharga daripada harta mana pun di dunia ini. Saya sudah siap terbang menuju langit ketujuh karena terharu Anda menawarkan saya gendongan."

Cale terkekeh kecil seolah melihat sesuatu yang lucu di wajahnya. Alver pun terpukau mendengar kekehan yang jarang keluar dari bibir ranum Cale, tetapi mendengar perkataan Cale yang masih saja memakai pronomina personal formal, Alver secara terang-terangan memasang ekspresi kesal.

"Oh, Cale yang merupakan sang dewi ini tidak mau?" Alver pura-pura tidak melihat ekspresi Cale ketika penyebutan 'dewi' keluar lagi dari bibirnya. Dia pun turut menggunakan pronomina persona formal, sebab Alver ingin Cale tahu bahwa Alver tidak menyukai pronomina persona itu dari Cale. "Sayang sekali, padahal saya ingin diberikan lagi kesempatan untuk menggendong seorang gadis jelita yang dipuja sebagai dewi oleh dunia. Hati saya jadi sedih mengetahui kesempatan saya untuk melakukan itu tidak ada lagi." Walau perkataannya terdengar palsu, perasaan Alver benar adanya, tetapi Alver belum ada niat untuk jujur pada Cale.

Kilatan emosi kesal muncul di mata cokelat fajar Cale sebelum emosi misterius menggantikan itu. Cale membiarkan bibir ranum miliknya melukiskan senyum yang akan dianggap polos oleh siapa pun yang memiliki mata naif.

Seolah belakang kepalanya terpukul ketika melihat senyum itu, Alver lekas samar-samar merasakan keanehan tingkah laku Cale. Dia baru menyadari Cale berakting lebih ekspresif hari ini, malahan terlalu ekspresif, baik secara publik maupun pribadi. Sebelum Alver memikirkan masalah apalagi yang akan atau telah Cale sebabkan, Cale mengambil tas dari tangan Alver, lalu Cale dengan santai melingkarkan kedua lengannya di leher Alver. Alver secara insting menggerakkan tangan kanannya untuk meraup tungkai Cale dari bawah, sedangkan tangan kirinya menahan punggung Cale.

Embusan napas Cale di lehernya membuat Alver menahan tubuhnya untuk tidak bergidik. "Sudah jelas kan, aku mana mungkin menolak gendonganmu, dasar suamiku yang bodoh. Lumayan bisa dapat tumpangan gratis. Kakiku sudah sakit, tahu." Pronomina persona informal kembali Cale gunakan, menerima keinginan tak terucap Alver. Cale memosisikan diri lebih nyaman. "Ngomong-omong Alver, aku hamil." Tak acuh, Cale melempar bom.

Alver sudah menyangka alasan omong kosong bodoh apa Cale menerima tawaran gendongannya, tetapi Alver tidak menyangka bom yang akan keluar dari bibir ranum itu.

Bibir Alver membuka, menganga seperti ikan. Sepasang mata bintang paginya melotot tidak percaya. Alver mengeluarkan suara bodoh yang tidak cocok untuk seorang putra tertua keluarga Crossman sekaligus anggota keluarga Kekaisaran. "Hah?!" Suara Alver meninggi, kehilangan tata krama yang biasa Alver junjung.

Tidak memedulikan tata krama, Alver segera menyejajarkan matanya untuk menatap mata Cale, tetapi dia malah melihat Cale mengisap pelan tempat di mana terletak denyut leher Alver. Otak Alver untuk pertama kalinya dalam hidup membeku, tak tahu harus memproses mengenai berita yang Cale ungkapkan atau tindakan tidak biasa Cale. Alver barangkali terlalu lama membeku, sehingga Alver kembali mendengar suara Cale.

"Tidak ada yang bilang padaku kalau kamu sesubur itu, aku juga tidak menyangka aku sama suburnya. Hanya semalam, dan kata Jung Soo-hyung kita sudah 'gol'." Cale menjelaskan dengan nada cepat sampai-sampai Alver nyaris tidak menangkap semua perkataan Cale. Kemudian bagai tipuan cahaya, Alver melihat Cale sekilas mengintip wajahnya dan sececah ketidakpastian muncul di wajah Cale, seolah gelisah menanti ekspresi apa yang akan Alver kenakan.

Sembari menatap wajah Cale yang kembali normal, seolah tidak pernah sedetik pun gelisah, di dalam hati Alver untuk ketiga kalinya dalam hidup ingin memprotes pada alam semesta. Kenapa alam semesta membiarkan mereka memiliki buah hati yang kemungkinan tidak akan terlahir karena cinta? Kenapa alam semesta membiarkan anak itu terbentuk di tengah perang politik yang masih saja berlanjut? Kenapa mereka memiliki buah hati ketika usia mereka bahkan belum menginjak kepala dua?

Tindakan romantis mereka sama sekali tidak berdasarkan cinta, malahan beberapa kali Alver mencurigai Cale hanya memiliki afeksi persaudaraan untuknya. Perang politik bahkan belum mencapai puncak, dengan kehamilan Cale itu akan memperkeruh suasana perang, dan bidak di papan permainan politik akan bertambah, begitu juga pion-pion lawan yang sempat bersembunyi di balik bayangan cepat atau lambat akan keluar dengan tindakan agresif untuk menyerang mereka.

Tanpa sadar Alver menghela napas berat, sebab dia merasa sudah saatnya mengukuhkan posisinya sebagai Putra Mahkota serta mempercepat rencananya untuk meningkatkan dominasinya di mata dunia supaya Cale dan calon buah hati mereka tidak tersentuh walau seujung rambut. Secara bersamaan, insting Alver memperingatkan Alver untuk mengabaikan masalah umur dan segera mengambil langkah maju duluan untuk membangun hubungan romantis asli dengan Cale sebelumnya segalanya menjadi terlambat.

Terlihat wajah Cale menggelap tepat setelah napas berat keluar dari bibir Alver. "Saya tidak meminta pertanggungjawaban Anda, Bintang Utama Kekaisaran Rowoon. Saya hanya memberitahu Anda karena itu adalah hak Anda, jika Anda merasa terbebani, silakan anggap saja saya tidak pernah mengungkapkan apa-apa." Formalitas kata yang serius dan kedataran nada suara Cale menampar Alver untuk kembali ke kenyataan.

Punggung tangan Alver tergelitik dengan cara menyengat ketika dia melihat ekspresi gelap yang mengejutkan dari Cale. Pendidikan mengenai kehamilan dini tiba-tiba mengalir di kepalanya, begitu juga penjelasan perkara emosi gadis muda yang hamil naik turun bagai salah satu permainan wahana, bahkan penjelasan mengenai betapa riskannya apabila gadis muda yang sedang hamil mengalami stress berenang di kepalanya.

Merasa ngeri, Alver tidak bisa menahan pemikirannya. "Jangan menyesal mengandung anak kita, Cale." Pikiran itu otomatis muncul di tengah kepanikan yang tiba-tiba melanda Alver.

Berusaha mengubur kepanikan yang melonjak tajam, Alver segera mencari akal untuk mengendalikan situasi. Tangan kiri Alver yang masih menahan punggung Cale bergerak pelan untuk mengelus dengan ketulusan dari lubuk hati terdalam sembari mengecup puncak kepala Cale, berniat menenangkan emosi gelap apa pun yang berusaha gadis itu pendam. Bibir Alver bergerak turun, mengecup dahi Cale, lantas berlama-lama di sudut bibir ranum Cale yang masih membentuk garis lurus, lalu Alver berbisik lembut dengan nada hangat yang sangat jarang Alver keluarkan.

"Kamu adalah istriku satu-satunya, dan janin yang ada di dalam kandunganmu adalah anak kita." Debaran jantung sebab alasan berbeda berdentum-dentum di telinganya.

Pahami makna pernikahan Alver. Sebuah suara tiba-tiba bergaung pelan dalam pikirannya, tidak lebih dari bisikan. Terpukau mendengar suara familier imajiner yang mirip dengan ibu yang dia cintai, Alver berusaha membujuk mata Cale untuk menatap lurus matanya.

Matahari mulai mengundurkan diri dan memandikan sekitar mereka dengan nuansa senja, tetapi dalam mata Alver seolah ada fajar menyingsing.

"Cale Crossman, istriku. Aku mencintaimu, aku sungguh-sungguh mencintaimu. Jadi, jangan pernah berpikir aku akan melepas kalian. Aku pasti akan melindungi kalian. Pasti."

PROLOG | ARC 1 END