Actions

Work Header

Study Group

Work Text:

Study Group

study group


link di bawah berisi playlist untuk menemani kalian membaca fic ini^^

—study group playlist 🎵🎶


Satu:
“Jangan benci-benci banget lah sama dia ntar naksir lho.” 

 

“Gue nggak mau.”

Kalimat itu sudah dirapalkan Win entah untuk yang ke berapa kalinya. Kalau Mix nggak salah hitung sih sekitar tujuh kali selama tiga puluh menit terakhir sejak mereka mendudukkan pantat di kursi paling pojok kantin Fakultas Pertanian. Tangan pemuda itu mengaduk-aduk kuah soto yang baru aja dituang tiga sendok penuh sambal. Dari baunya pun sudah kecium betapa pedasnya.

Di hadapannya, Mix cuma bisa bergidik ngeri melihat warna hijau kuah soto temannya. Baunya sangat menyengat. Pedas pekat. Ini alamat bolak-balik WC seminggu kalau dia makan soto racikan Win.

“Pokoknya gue nggak mau Siw! Nggak kebayang gue harus bolak-balik ke Nagreg bareng tu anak.”

Sendok dilepas dengan dramatis di tengah mangkuk, wajah kelewat sedih dibuat-buat. Menggemaskan. Semua itu nggak luput dari pandangan Mix yang kini terkejut di tempat kemudian geleng-geleng kepala.

“Iya iya lo nggak mau. Lo udah ngomong delapan kali ya sama ini.” Jengah juga lama-lama Mix meladeninya. “Terus lo mau kayak mana kalau nggak mau? Tetep nggak bisa apa-apa kan?”

Ekspresi sedih bercampur kesal yang sejak tadi ditampilkan Win berubah jadi makin buruk. Setengah dirinya mengakui kalau ucapan Mix benar, tapi sebagian lain menolak dan teguh untuk terus berupaya.

Rasanya berat dan sial banget hidup Win belakangan ini. Tiga hari yang lalu tugasnya ketinggalan di apartemen, kemarin mobilnya mogok saat harus kuliah pagi sehingga berakhir ia harus naik ojek online dan sekarang harus sekelompok bareng seseorang yang paling ia hindari. Ehm... itu memperhalus bahasa kalau dia benci aja kata Mix sih. Tapi, Win bersikeras mengatakan bahwa ia cuma menghindari, nggak benci. Ingat ya?

Win nggak tahu dia habis berbuat dosa apa sampai bisa mendapat kesialan semacam ini. Satu kelompok dengan— ah mari jangan sebut namanya, nanti Win bisa badmood—selama satu semester. Alias empat bulan penuh. Mimpi apa sih dia? Kayaknya hidup dia nggak diberkati. 

Apa yang lebih buruk daripada ini coba? Win sudah mati-matian berusaha untuk nggak berhubungan dengan orang itu apa pun yang terjadi. Tapi, kenapa kayaknya semesta—cielah bahasanya sok oke banget, kok ngajak dia bercanda sih? 

Rasanya tuh lucu. Win pikir sudah berlari sangat jauh supaya nggak bersinggungan sama sekali, eh tiba-tiba dia malah harus nyamperin sumber kekesalannya itu. Mau nggak mau, suka nggak suka. Lucu sekali, tapi nggak bikin ketawa malah bikin sakit kepala.

“Gue mau nemuin Bu Namtan aja deh, mau gue lobi lagi,” putus Win sambil menyeruput kuah sotonya khidmat. Toleransi lidah Win terhadap rasa pedas memang cukup tinggi. Apalagi kalau sedang emosi gini, paling pas melampiaskannya dengan makan pedas.

“Lo yakin?” Telapak Mix menyeka bulir-bulir keringat yang mengalir di pelipis. Bakso yang dimakannya mendadak jadi pedas di lidah kalau sambil melihat Win makan.

“Gimana lagi Siw cara biar gue bisa tukar partner? Ini nilai gue yang dipertaruhkan di sini. Gue nggak akan bisa kerja sama orang yang gue nggak sreg.” Es teh berwarna cokelat bening yang barangkali perbandingan airnya lebih banyak ketimbang tehnya sendiri diteguk perlahan oleh Win. “Gue sama siapa pun mau asal jangan sama dia. Sendiri pun gue sanggup.” 

“Ya itu sih mau lo, sendiri malah lebih baik lo mah. Tapi, setau gue Bu Namtan bukan dosen yang bisa dinego lho Win. Udah dapat bisikan-bisikan dari kating soal gimana beliau nih gue. Kalau beliau udah nentuin itu ya udah nggak bisa diganggu gugat lagi.” Bakso isi urat yang sengaja disisihkan Mix untuk dimakan paling terakhir dan dipotong kecil-kecil, terasa super enak ketika menyambangi lidahnya.

“Gue udah dengar sih soal cerita itu, tapi nyoba nggak ada salahnya, kan? Gue mau usaha dulu supaya bisa change. Lo pikir aja dong masa gue satu semester sekelompok sama orang itu, haduh nggak kebayang.” Tandas Win cepat.

Meja mereka memang nggak begitu mencolok. Pun mereka bicaranya nggak berisik-berisik amat. Meski menggebu-gebu mereka masih tahu malu. Jadi, dijamin nggak akan ada yang menguping. Lagi pula kantin sedang sangat ramai, sibuk dengan makanan masing-masing. Tumben sekali. 

“Jangan benci-benci banget lah sama dia ntar naksir lho.” Mix mengingatkan. 

“Nggak benci ya.” Koreksi Win galak.

“Iya, jangan terlalu menghindari maksud gue.”

“Mit amit deh. Nggak mungkin!”

Mata Mix melebar, bibirnya tertarik menyebabkan sebuah senyum terulas penuh makna. Fokus menatap ke arah pintu masuk di belakang Win. “Eh panjang umur tuh, tau kali ya kalau diomongin kita?”

Dari kalimat dan bahasa tubuh Mix yang kini tengah menaik turunkan alisnya, serta beberapa anak di samping meja mereka yang berbisik-bisik, Win tahu kalau orang yang menjadi bahan perbincangan mereka kini sedang berjalan masuk ke dalam kantin.

Bukan suatu hal yang mengherankan kalau orang itu dan beberapa temannya seringkali mendapatkan perhatian dari sebagian besar penghuni Fakultas Pertanian. Mereka cukup dikenal. Selain karena penampilan, keaktifan mereka di UKM juga menjadi penyebab mereka populer seantero fakultas.

Atau yeah, bisa jadi karena hal lainnya. Win nggak tahu dan nggak peduli. Pemuda itu sama sekali nggak tertarik menjadi salah satu orang yang membuang waktu percuma untuk memberi perhatian pada mereka. Jadi, ketika perasaannya mulai nggak enak, Win sudah berancang-ancang untuk menarik Mix pergi dari sana sebelum mereka sempat menyelesaikan makan siang.

“Hai.” Sapaan itu berasal dari belakang punggung Win, belum sempat ia berdiri, kursi di sampingnya sudah diisi orang nggak diharapkan.

Tahu-tahu meja mereka ketambahan tiga orang lagi. Karena nggak ada sahutan berarti dari bibir Win, Mix berinisiatif untuk menjawab sapaan itu dan berbasa-basi.

“Makan apa, Win?” Pertanyaan retorik itu berasal dari samping, sangat pelan seolah hanya ingin Win yang mendengarnya. Ketiga orang yang duduk di depan mereka berdua memperhatikan. Bahkan seluruh penghuni kantin diam-diam melirik ke arah mereka. 

Bukan sebuah rahasia lagi ketika semua orang menyoroti interaksi mereka berdua. Mereka adalah rival. Setidaknya begitu yang Win dan anak-anak lain percaya. Jadi, ketika mereka berada di satu meja yang sama itu menjadi sebuah tontonan yang sangat menarik. Win jadi ingat di kelas tadi mereka juga menjadi topik hangat selepas Bu Namtan mengumumkan partner kelompok mata kuliah Manajemen Agribisnis. Dia harus cepat-cepat menyelesaikan masalah ini, omong-omong.

“Lo bisa liat sendiri, kan?” jawabnya ketus.

Bisik-bisik mulai terdengar. Bisa ditebak kalau isinya nggak jauh-jauh dari; Mereka sedang membicarakan apa? Gantengan siapa? 

Suara cekikikan terdengar dari Mike dan Guns—dua orang yang duduk bersama Mix, teman dari si orang itu. Sangat menghibur melihat temannya dijuteki Win.

“Galak banget, gue kan cuma nanya, Win.”

Mata Win mendelik. 

“Jangan galak-galak lah, nanti kita kan jadi partner satu semester.”

Serta merta tubuh Win berbalik penuh ke arah samping, menatap lawan bicaranya dengan mata melotot tajam. 

“In your dream, Bright. Gue akan berusaha supaya ini nggak kejadian.”

Kedua bola matanya hampir menggelinding ketika mengatakan itu.

Iya. Si orang itu bernama Bright. Orang yang paling Win hindari—bukan benci ya, orang yang membuatnya emosi memikirkan nasib nilai semester enamnya, orang yang menjadi rivalnya. 

Wow, easy, Win.” Bright memberi gestur angkat tangan. 

Win kemudian menarik Mix dari sana sebelum mereka terjebak pada situasi nggak mengenakkan dan memperpanjang obrolan nggak jelas memancing kesabaran. 

“Buru-buru amat. Kita bertiga baru duduk lho, belum pesen makan.”

“Gue takut meleleh diliatin fans lo.” Bright seketika sadar dan melihat sekeliling. Berpasang-pasang mata mencuri lirik ke arah mereka. Bright mengembuskan napas.

“Tapi makan lo belum selesai. Selesain aja dulu. Mau ke mana sih?”

“Bukan urusan lo.”

“Galaknya" Bright terkekeh. "Sampai ketemu besok ya, partner.”

Win menggeram mendengar panggilan itu. Ia bergegas pergi dari sana diikuti Mix di belakangnya.

“Nggak bisa Win.” Bu Namtan melipat tangan di atas meja kerjanya dan menatap Win yang menunduk. Nada bicaranya tenang tapi penuh penekanan. Seolah tiap-tiap kata itu mampu menampar pipinya tanpa sadar. 

“Mohon maaf, Bu, tapi menurut saya kalau saya dan Bright berada di satu kelompok yang sama itu terasa nggak adil untuk teman-teman yang lain, Bu.” Takut-takut Win bicara lagi, kepalanya mendongak sedikit. Suaranya bergetar dan gugup. Nggak main-main jiwa intimidasi Bu Namtan. 

“Pasti karena ada yang ngomong nggak enak soal pembagian kelompok ini, ya?” Bu Namtan menatap Win seraya membenarkan kacamatanya yang turun.

Win mengangguk. 

“Kalau ada yang protes ke kamu soal pembagian kelompok ini suruh menghadap langsung ke saya. Saya nggak suka didebat untuk urusan seperti ini. Apa yang sudah saya tentukan artinya sudah final.”

Seperti yang sudah dibilang, keputusan itu final. Sama seperti ekspresi dan kalimat Bu Namtan yang seolah nggak menerima sanggahan. Win tahu dia nggak diperbolehkan bicara lagi, dia nggak mau ambil risiko dibenci dosen junjungannya.

“Baik, Bu. Terima kasih ya, Bu. Maaf mengganggu waktunya.”

Baru saja Win pamit undur diri, panggilan Bu Namtan menghentikannya. 

“Iya gimana, Bu?”

“Saya bentuk kelompok ini bukan tanpa alasan. Saya mau teman-temanmu juga berusaha dan bisa berkembang, nggak cuma pandai memanfaatkan seseorang.”

Pertemuan itu ditutup dengan senyum singkat dari dosennya yang terasa penuh makna bagi Win. 

Dimanfaatkan, ya? Apa dosennya bahkan mengetahui hal itu? Miris sekali.

Yang harus digaris bawahi adalah Win tahu dia sudah kalah. Nggak ada yang bisa dia lakukan selain menerima fakta bahwa ia harus berhubungan dengan Bright selama satu semester penuh.

Win tahu hidupnya nggak akan tenang lagi.

 

Dua:
“Tapi kasian deh, IPK-nya semester kemarin turun.” 

 

Bright dan Win merupakan teman satu kampus, satu fakultas, satu jurusan, satu angkatan dan satu kelas. Agroteknologi 2019. Sayangnya mereka nggak akrab sama sekali. Tahu-tahu jadi rival. Itu sebetulnya karena ulah orang-orang di sekitar mereka yang suka membandingkan popularitas dan kepintaran mereka.

Sama-sama ganteng. Sama-sama pintar. Sama-sama terkenal. Sama-sama aktif organisasi. Sama-sama anak emas fakultas. Namun ketenaran salah satunya sudah mencapai lintas fakultas.

Siapa yang nggak mengenal Win di Jurusannya? Rasanya teman-teman angkatan, adik tingkat dan kakak tingkat tahu siapa itu Win. Kepopulerannya bahkan sudah menembus ruangan para dosen. Gimana nggak? Win adalah salah satu mahasiswa pencuci mata yang dengan sekali lihat pun kita tahu kalau dia pintar. 

Dia ramah, terbukti dari bagaimana murahnya ia membagi senyum kepada tiap orang. Aktif menjadi salah satu anggota UKM Paduan Suara Mahasiswa (PSM) dan beberapa kali ikut perlombaan. Yang paling menonjol adalah ia rajin, sangat rajin. Win mengerti bagaimana cara mengatur waktunya yang hanya dua puluh empat jam dengan baik. Meski terkadang sibuk tapi dia nggak pernah bolos kelas, bahkan ketika sakit pun tetap bela-belain untuk masuk.

Win selalu duduk di barisan paling depan. Sasaran empuk para dosen kalau lempar pertanyaan ke mahasiswa. Tugas dikerjakan di hari yang sama ketika diberikan, baginya disiplin waktu adalah kunci supaya ia bisa ikut banyak kegiatan. Kuis, UTS, UAS selalu dapat nilai di atas KKM. Win kesayangan semua dosen yang mengajarnya, karena dia penurut dan aktif di kelas. Selalu bertanya tiap kali diberi kesempatan.

Kalau sekelompok bareng Win, rasanya kayak surga. Tugas kelompok terjamin aman dan dapat nilai tinggi. Mereka tinggal koreksi atau nge print makalahnya aja, nggak perlu capek mikir. Soalnya Win nggak menuntut teman kelompoknya untuk mengerjakan tugas itu bareng. Kalau mau bantuin ya boleh, kalau nggak ya nggak masalah. Toh dia juga lebih suka mengerjakannya sendiri, katanya sih lebih puas. Padahal itu karena dia nggak percaya sama kerjaan orang. Si Perfeksionis.

Cita-cita Win tuh lulus dengan IPK tertinggi di angkatan dan dapat gelar cumlaude. Nggak neko-neko, kan? Pokoknya Win tipikal mahasiswa idaman; dosen dan teman-temannya. Well, meski nggak semua dari mereka menyukainya. Karena,  mahasiswa ambisius adalah mahasiswa merepotkan, menurut mereka. Win dianggap seperti ancaman oleh beberapa pihak.

Lain Win lain pula Bright. Kalau Win sangat terkenal di jurusan, kepopuleran Bright sudah mencapai tingkat fakultas bahkan universitas. Bright adalah wajahnya Agroteknologi. Keindahan parasnya sudah bolak-balik memenuhi laman media sosial kampus dengan predikat; Ganteng Agroteknologi, Ganteng Pertanian, Ganteng UGMM. 

Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Win. Santai adalah nama tengah pemuda yang aktif di UKM Futsal ini. Seorang mahasiswa biasa yang kerjaannya kuliah-UKM-nongkrong-pulang repeat, begitu setiap hari.

Di kelas dia cenderung biasa-biasa saja. Duduk kalau bisa sih di deretan paling belakang yang sering kena sasaran marah dan sindiran para dosen. Sesekali ikut temannya bolos kalau hari itu kuliahnya cuma satu mata kuliah dengan jumlah SKS sedikit dan di jam-jam mager, jam dua siang misalnya.

Tugas dikerjakan kalau sudah deadline. Kadang malah nggak tahu kalau ada tugas. Adakalanya dia lebih sibuk UKM dan beberapa kali izin nggak masuk kelas kalau mendekati pertandingan. Merokok, ngegame, nongkrong warkop, nakal. Yah kayak remaja normal yang mengikuti arus kehidupan gitu sih.

Nggak akan ada yang menyangka dia pintar kalau bukan karena nilai kuis, UTS dan UAS-nya selalu mendekati sempurna. Nggak akan ada yang mengira kalau dia bisa menyelesaikan tugas-tugasnya dua jam sebelum dikumpulkan, tanpa mencontek. Nggak ada. Nggak ada seorang pun yang memperhatikan itu dari Bright selain ke wajah dan penampilannya yang paling menonjol.

Sampai akhir semester dua pengumuman nilai sudah keluar dan lengkap, nilai Bright menyaingi nilai Si yang katanya Mahasiswa Paling pintar—Win Metawin, dengan IPK 4,00. Sempurna. Semua orang tentu terkejut. Nggak terkecuali Bright sendiri, ia merasa bahwa kuliahnya selama ini sudah sesantai mungkin. Kenapa hasilnya malah bagus? 

Sejak saat itu secara tanpa sadar orang-orang mulai membandingkan mereka. Apalagi kalau sudah musim nilai keluar. Orang-orang lebih antusias untuk lihat IPK siapa yang lebih tinggi antara Bright dengan Win. Empat semester berturut-turut IPK mereka berdua selalu bersaing, sayangnya di semester lima IPK Win turun dan berada di bawah Bright. Sedihnya bukan main.

Orang-orang mulai menganggap remeh Win. Berkata kalau Win nggak ada apa-apanya dibandingkan Bright. Mereka bilang manusia ambisius sepertinya nggak akan selalu menang melawan mahasiswa biasa-biasa saja. Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga, katanya. Mereka bilang ambisius gak menjamin kamu sempurna. Mereka benar, tapi atas dasar apa mereka harus menghujat Win sebegitunya? 

Tanpa sadar Win marah kepada Bright atas alasan itu. Atas ucapan miring orang-orang tentangnya, pola pikirnya. Win marah. Ia berakhir menghindari Bright seiring makin banyak cibiran orang-orang padanya.

Tapi ya nggak pernah ditunjukan secara blak-blakan. Win masih cukup waras untuk nggak tiba-tiba nonjok Bright di belakang gedung kampus. Dia cuma nggak mau berurusan sama Bright, sama sekali. Hanya ingin fokus untuk mengejar nilai-nilainya.

Kekanakan kalau ia membenci Bright karena hal yang bukan salahnya. Menghentikan ucapan jahat orang-orang memang bukan salah Bright. Alasan lain yang menyebabkan ia membenci Bright dan mengamini ucapan orang-orang kalau ia dan Bright bermusuhan adalah karena sikap pemuda itu sendiri.

Win pernah menemukan fakta Bright ikut tertawa di belakangnya. Tertawa ketika beberapa orang membicarakan betapa naif dan sombongnya Win.

“Lo liat nggak sih Win caper lagi ke Bu Jennie?” Seorang perempuan bertanya kepada teman-temannya. Mereka duduk bergerombol di gazebo Fakultas Pertanian. Tepat berada di pinggir lapangan yang biasa digunakan untuk acara-acara besar Pertanian. Suasana cukup ramai karena sudah memasuki jam-jam istirahat.

Seorang lainnya menimpali. ”Iya kesel banget gue kalau dia udah sok-sokan jawab pertanyaan terus nanya lagi nanya lagi. Waktu kuliah udah 3 SKS jadi ngaret gara-gara dia. Padahal gue ada rapat Hima abis itu, jadi telat kan.”

Win bukan tukang nguping, tapi apa yang harus ia lakukan ketika mendengar namanya disebut-sebut dengan nada sinis? Langkahnya yang ingin menemui Mix di gedung student center jadi berbelok dan berhenti di dinding utara gedung A.

Wajah mereka nggak begitu jelas karena tertutup atap gazebo. Pun mereka membelakanginya, tapi kalimat kebencian itu sangat telak masuk ke telinganya.

”Eh tapi enak tau kelompokan sama dia, tinggal ungkang-ungkang kaki dapat nilai bagus.” Seorang lelaki terdengar ikut menimpali. 

“Iya anaknya selow sih, cuma kalau udah ngambis tuh hadeh ngeselin anjir. Inget tuh gue pas Pak Tay lupa kalau udah ngasih tugas ke kita, eh tau-tau dia ke depan kelas buat ngumpul. Lah kita sekelas jadinya kena tugas tambahan karena nggak ada yang ngerjain selain dia. Siapa coba yang nggak kesel?”

Nggak satu pun dari kalimat-kalimat itu Win lewatkan. Ia mendengarnya dengan seksama. 

“Tapi kasian deh, IPK-nya semester kemarin turun.” Celetukan itu disambut tawa memuakkan yang ramai.

“Tuh guys, segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik. Termasuk terlalu rajin dan ambis. Mending kayak Bright nih nyantai-nyantai taunya IPK-nya lebih gede dari Win. Ya nggak, bro?”

Win terhenyak di tempat. Ingin rasanya ia keluar dari persembunyian dan memaki mereka karena sudah tertawa di atas kesedihannya. Mereka seolah mengejek apa yang selama ini selalu ia upayakan sungguh-sungguh. 

Tapi ia nggak punya cukup nyali mendengar tawa sumbang itu. Mereka semua bahagia. Mengejek kegagalan dan kebodohan Win yang mereka sebarkan, seolah ikut menyetujui. Bright nggak ada bedanya dengan mereka, ikut tertawa di sana. Tanpa sadar tindakannya mengimplikasi kalau pemuda itu meremehkan kerja keras yang Win lakukan, menghakimi tanpa tahu apa pun dan itu menyakitkan.

Dan Win nggak mau berurusan dengan orang munafik seperti itu. Sejak saat itu Win semakin menghindarinya.

Di lain kesempatan Win akan meratapi nasib. Cita-citanya untuk wisuda dengan IPK tertinggi seangkatan makin sulit terjadi dan rasa-rasanya dia bisa menyesali itu setiap tarikan napas lelah.

Kenapa ia harus kalah dari Bright?

 

Tiga:
“Enak kan kalau ngejalaninnya berdua gini? Jadi lebih ringan.”

 

Kelas pagi selalu terasa ricuh dan sibuk. Oh jangan lupakan rasa kantuk. Memulai kelas di jam delapan pagi dengan dosen yang memiliki toleransi telat nol menit serta judesnya minta ampun, membuat para mahasiswa kelas pagi ini berebut jalan dari lahan parkir sampai kelas. Jangan sampai mereka datang setelah dosen mereka duduk manis di dalam kelas. Dosen mereka seringkali nggak bisa ditebak kapan masuk kelasnya, suka-suka beliau saja begitu. Kalau beliau sudah di kelas sejak jam tujuh ya sudah, wasalam.

Ini masih pukul tujuh dua puluh, kelas sudah mulai terlihat ramai saat satu persatu datang dan memenuhi kursi kelas secara acak. Win berjalan santai menuju kursi-kursi deretan depan ketika merasakan seseorang ikut berjalan di sampingnya. 

Ssup, partner. Nanti istirahat kita obrolin soal tugas, ya.”

Win menengok dan menemukan Bright dengan senyum menyebalkan dan alis turun naik terarah padanya. Seketika air mukanya berubah menjadi jutek.

“Pas pulang aja jangan pas istirahat.” Win berbisik supaya nggak ada yang bisa mendengar percakapan mereka. 

Sebuah anggukan diberikan Bright, ekspresinya nggak terbaca. 

“Oke.”

Setelahnya Win berlalu pergi ke kursi barisan paling depan, di samping Mix.

Pagi itu, sebelum kelas Arsitektur Pertamanan yang diampu Bu Giggie dimulai, ada senyum yang diam-diam merekah terselip indah.

Bunga-bunga bungur berwarna ungu berjatuhan. Terbang secara acak karena angin, lalu mendarat di atas rumput.  Kelopak ungu itu menumpuk, menutupi warna hijau. Kombinasi hijau keunguan yang sedap dipandang mata. Sangat cantik.

Suasana taman belakang gedung B Fakultas Pertanian UGMM memang selalu terasa sejuk dan menenangkan. Selain karena pemandangan di sini betul-betul asri, juga karena sepi. Nggak banyak mahasiswa yang menyambangi bahkan melewati taman ini, kalaupun ada mungkin sebab mereka nggak kebagian toilet gedung depan.

Itu sebabnya Win meminta Bright mengobrol di sini. Kecil kemungkinan orang lain akan menangkap mereka bicara berdua. Bagus sekali. Sesuai keinginannya.

Omong-omong, mereka baru saja selesai perkuliahan pukul tiga sore. Win harusnya sudah di jalan pulang bersama Mix menuju apartemen mereka. Kalau saja ia nggak harus mendiskusikan perihal tugas kelompok dengan Sang Rival. 

“Kenapa kita ngobrolnya harus di jam pulang kampus dan di sini?” Bright membuka suara setelah beberapa saat mereka duduk di kursi taman.

“Ya nggak papa. Gue cuma nggak mau aja ada orang lain yang liat kita bareng.”

Hening menyelinap sebentar di antara mereka. Bright mulai memikirkan sesuatu. Selama ini mereka belum pernah bertegur sapa meskipun sudah hampir tiga tahun satu kelas. Awalnya Bright mengira karena nggak ada kesempatan mereka untuk ngobrol berdua saja. Tapi jawaban Win kemarin dan barusan seolah menyadarkannya.

Win sangat anti jika orang-orang melihat mereka bersama.

“Yaudah  langsung ngomongin tugas aja, gue nggak bisa lama-lama. Kita cuma ada waktu sepuluh menit.”

Win nggak pernah betah berlama-lama ngobrol dengannya.

“Nanti yang ke Nagreg gue sendirian aja. Lo tinggal terima beres hasilnya.” 

Bright menoleh cepat, rada nggak percaya dengan apa yang didengar. Memang sih berita simpang siur yang ia dapat bilang, kalau satu kelompok dengan Win rasanya menyenangkan. Katanya, nggak perlu melakukan apa pun eh dapat nilai. Entah kenapa bukan senang Bright malah merasa kesal.

“Gue nggak suka lo ngatur untuk kerja kelompok kita kayak gini. Yang namanya kelompok ya ngerjainnya harus barengan, bersama-sama. Kalau lo mau sendiri mah nggak usah kerja kelompok.”

“Daripada lo ribet, males kan lo bolak-balik Nagreg? Jauh lokasinya.”

Win nggak bisa diajak kerja sama.

“Males-males gini gue orangnya bertanggung jawab. Apa pun itu tugasnya ya harus dibagi.”

“Lo kok ribet sih? Gue kasih enak kok nggak mau? Padahal lo bisa nyantai-nyantai dan nilai lo aman.”

Win keras kepala.

“Kerja kelompok kan tujuannya supaya bisa membagi beban sama rata. Supaya hasilnya bisa maksimal hasil dua kepala. Terserah lo mau protes dan komen seperti apa tapi gue maunya kerja kelompok kita satu semester ini ya hasil gue dan lo. Lo nggak boleh ngerjain sendiri.”

Tapi Bright bisa menjadi sama kerasnya.

“Gue nggak suka manfaatin orang.”

Bahkan melebihinya.

Pertemuan sore itu nggak berakhir baik pun buruk. Mereka mencapai kesepakatan meski harus dengan otot-ototan. Kalau diperdebatkan lagi Win yakin akan panjang ceritanya. Jadi, mereka sepakat untuk bekerja bersama. Belum apa-apa ia merasa jalan yang ia ambil selama ini mulai dibelok-belokkan oleh orang asing seperti Bright.

Win terlihat resah selepas melihat jam di pergelangan tangannya. Ingin buru-buru pulang karena merasa nggak ada lagi yang perlu mereka bicarakan. Nggak ada alasan untuk mereka bertahan berdua di sana.

“Lo kayaknya nggak betah banget lama-lama bareng gue. Lo nggak suka sama gue?” Keluar juga apa yang sejak tadi bercokol dalam kepala. Bright menatap lawan bicaranya yang tampak tegang tapi tetap bungkam.

Win diam. Alih-alih menjawab pemuda itu langsung berdiri dan hendak berjalan pergi.

“Gue balik.”

Bright menatap punggung itu yang perlahan terlihat mengecil di pandangannya. Apa sih sebetulnya masalah mereka?

Dimanfaatkan. Kata itu terus terngiang-ngiang dalam kepala Win selama perjalanan pulang. Bahkan ketika sudah sampai apartemen dan melakukan berbagai kegiatan. Win nggak bisa mengusirnya.

Ia jadi teringat ucapan Bu Namtan beberapa waktu lalu. Kemudian satu pemikiran terlintas dalam benaknya.

Bright, nggak suka memanfaatkan. Apa itu alasan Bu Namtan memasangkan mereka sebagai teman kelompok?

***

“Emang gue segitu ngeselinnya, ya?”

Bright bertanya sewaktu berkumpul bersama teman-temannya di kosan Guns. Mereka sedang mabar sambil ngopi dan ngemil kacang goreng.

“Ngeselin banget, ke mana aja lo baru sadar?” Itu Mike yang menjawab. Matanya masih fokus menatap layar persegi panjang di tangannya dan mencoba membunuh musuh.

Satu pukulan mampir di belakang kepala Mike. Disusul suara aduh, sakit bangsat! kemudian.

“Menurut kalian kenapa Win segitu nggak mau lama-lama sama gue?” Tanpa memperdulikan permainannya yang barangkali mengalami kekalahan sebentar lagi, Bright masih bertanya.

“Lo sok ganteng.”

“Lo suka ngutang.”

“Lo bau ketek.”

Entah mengapa Bright merasa bodoh karena sudah bertanya pada mereka yang jelas-jelas nggak akan pernah menjawab dengan waras.

“Pakai nanya, ya lo berdua kan rival.” Kali ini Guns yang menjawab dan berhasil menarik atensi Bright. Mereka sudah kalah sepenuhnya dari permainan tadi. Guns dan Mike mengeluh dan bersungut-sungut karena Bright nggak serius dalam permainan kali ini.

Tapi Bright mana peduli. Saat ini ia hanya ingin rasa penasarannya terpenuhi.

“Makanya kalau abis kelas biasain dengerin gosip dulu bentar, jangan langsung cabut ke lapangan atau warkop.” Kata Mike.

“Males, sumpek lama-lama di fakultas tuh. Abis kuliah bawaannya mau cabut aja gue.” Bright menjelaskan.

“Kayaknya semua orang tau soal ini, soal lo dan Win adalah rival. Kan kalian suka dibandingin hampir dalam segala aspek terutama akademik dan wajah. Win pasti kebawa-bawa dan merasa kayak gitu juga.”

Bright memikirkan perkataan Guns berhari-hari. Dia memang cuek. Terlampau cuek. Cenderung memperhatikan apa yang ia inginkan saja. Sudah lima semester bahkan hal seperti ini saja dia nggak sadar. Pantas Win terlihat menghindarinya terus, meski nggak secara terang-terangan. Ternyata mereka ini rival toh?

Karena rasa penasaran, karena ingin membuktikan, tanpa sadar Bright mulai memperhatikan Win. Dalam segala hal yang dapat ditangkap mata, termasuk kebiasaan-kebiasaannya. Secara seksama.

Bright nggak mengerti kenapa, tapi semakin Win menghindarinya semakin ia ingin lebih dekat dengan pemuda itu. Semakin Win menolaknya semakin Bright ingin mengganggu pemuda itu. Bright nggak merasa tersinggung atau kesal dengan bentakan dan protesan itu. Ia melihatnya sangat lucu.

Dari hasil pengamatannya beberapa hari ini, ia dapat mencatat sedikit tentang yang katanya rivalnya itu. Win adalah orang yang nggak suka keramaian, terbukti dari pemuda itu yang selalu menghindari kumpul-kumpul setelah selesai kelas. Temannya di kelas hanya Mix, selebihnya Bright nggak kenal tapi sepertinya anak-anak dari fakultas lain. Dia nggak suka haha hihi alias kadang kelewat serius. Nggak banyak omong karena orangnya selalu to the point. Dia betul-betul nggak suka kalau ada campur tangan orang lain di pekerjaannya, yeah di kelompok mata kuliah lain lagi-lagi Win bekerja sendiri.

Bright mulai bisa paham apa yang ada di kepala Win pelan-pelan. Sebagai anak Pertanian dia adalah observer yang cakap.

Hari itu, ketika mata kuliah Gulma dan Pengendaliannya sedang berlangsung, Bright mendapat pujian dari Bu Godji karena mampu menjawab pertanyaannya dengan baik. Bright mengimplementasikan teori yang ada dengan praktiknya, meski pada kenyataan yang sebenarnya adalah Bright bukan orang yang suka membaca buku. Dia nggak teoritis.

Sementara Win yang jawabannya baru saja ditolak, kini tertunduk. Padahal ia yakin sudah menjawab sesuai buku yang ia baca. Jemarinya bergetar meski nggak akan ada yang memperhatikan selain Mix yang di ujung kursi menatapnya khawatir. Win pura-pura tuli ketika ia mendengar bisik-bisik nggak enak dari berbagai sisi. Meski pelan, Win masih mampu mendengarnya.

“Kalian jangan terlalu terpaut dengan buku, ya. Harus lihat juga keadaan aktualnya seperti apa.”

Bu Godji menutup kelas hari itu dengan sebuah petuah yang Win yakin sekali itu ditujukan untuk menyindir dirinya. Ia merasa sesak dan segera keluar dari kelas.

“Win, mau ke mana?”

Itu Mix yang segera berlari mengejar Win.

Sepeninggal pemuda itu, beberapa orang mulai ikut meninggalkan kelas dan beberapa membentuk kerumunan. Mike dan Guns sudah bangkit, mengajak Bright untuk pergi ke kantin. Mereka berencana untuk makan di kantin FISIPOL hari ini karena bosan dengan makanan di kantin Pertanian. Bright menyuruh mereka duluan karena masih harus menghubungi anggota UKM Futsal. Hari ini akan diadakan rapat. Mereka akan membahas soal pertandingan bulan depan.

Kegiatan Bright tertunda ketika tanpa sengaja mendengar percakapan segerombolan orang yang membawa-bawa nama Win.

“Yaelah si Win mah pinter modal buku doang, kalah sama Bright.” Celetuk salah seorang.

“Gue kalo jadi Win udah malu banget pasti. Udah semangat angkat tangan pas Bu Godji nanya, eh cuma dikasih gelengan terus Bu Godji malah nanya ada yang bisa jawab lagi atau nggak.”

“Mukanya merah banget tau tadi.”

“Orang kalo pinter modal buku-buku doang tapi praktik nol kayak dia, ntar kalo ditaro di luar pasti bingung.”

“Mix kok betah temenan sama dia, ini kalau bukan karena dia ramah dan pintar pasti udah disindir di depan sama anak kelas.”

“Kan temenan sama Mix dari SMA, lo liat aja dia nggak punya temen lain selain Mix di sini.”

“Kasian ya Bright harus sekelompok sama dia di Manajemen Agribisnis satu semester.”

“Iya asli. Gue aja males banget sekelompok sama Win, walaupun gue nggak perlu kerjain tapi nilai tugas gue bakalan lebih kecil dari dia karena dosen tau dia doang yang kerja. Dia pasti dapet A gue dapet B.”

“Menurut gue ya, nanti di dunia kerja orang kayak Win bakal lebih gagal dari Bright. Mungkin juga lebih gagal dari kita meskipun IPK  kita di bawah Win. Soalnya kan dunia kerja tuh nggak sama kayak teori yang kita baca.”

Telinga Bright panas mendengar ucapan-ucapan miring itu, terlebih membawa-bawa namanya. Rasanya Bright ingin langsung menonjok salah satu dari mereka yang sudah bicara yang nggak-nggak tentang Win, kalau saja mereka bukan perempuan. Entah mengapa mendengarnya dia sangat marah.

“Orang tuanya pasti malu punya anak kayak gitu, ya?”

Cukup sudah. Habis kesabarannya.

Pemuda itu berjalan ke arah kursi mereka dan membuat obrolan itu terhenti seketika. Mereka yang sadar bahwa Bright mendekati mereka langsung menyapa dan kecentilan. Mendadak jadi sok ramah dan bertanya-tanya ada keperluan apa Bright mendatangi mereka.

“Sorry.” Kata Bright.

“Eh iya, gimana, Bright?” Salah satu di antara mereka yang rambutnya pirang bergelombang bertanya lembut.

“Kalian siapa?” Nada yang digunakan Bright cukup sinis. Mereka tampak kebingungan.

“Kalian siapa sok bisa baca pikiran orang? Kalian nggak bisa ngomongin Win ini itu tanpa kenal dia anaknya gimana. Seenggaknya, Win lebih pintar dari kalian. Kalau iri, coba belajar lebih giat lagi.” Kata Bright.

“Dan sejak kapan gue pernah curhat ke kalian kalau gue keberatan satu kelompok sama Win selama satu semester? Atau orang tuanya malu sama dia? Kalian siapa gue tanya?”

Telak. Mereka semua diam.

Bright hendak pergi dari sana, namun berhenti sebentar dan berbalik.

“Oh satu lagi. Kalian bukan Tuhan. Jadi, jangan sok prediksi masa depan orang lain, pikirin nasib masa depan kalian sendiri. Memangnya udah pasti bagus?”

Dengan itu Bright berlalu. Meninggalkan mereka yang tergagu di tempat. Nggak ada yang berani menjawab karena aura di sekitar mereka terasa begitu mencekam. Bright sangat mengintimidasi.

Sementara itu, Win menyaksikan semuanya di ujung pintu kelas. Sejak kalimat nggak mengenakkan itu ditujukan untuknya sampai ketika Bright—Sang Rival, seseorang yang dihindarinya mati-matian itu membelanya.

Tadinya ia kembali karena ingin mengambil bukunya yang tertinggal di kursi. Akhirnya ia buru-buru kabur sebelum Bright menyadari keberadaannya.

Win merasa tersentuh, hatinya ringan tanpa alasan pasti.

***

“Enak kan kalau ngejalaninnya berdua gini? Jadi lebih ringan.”

Bright bertanya ketika mereka sedang dalam perjalanan pulang dari Nagreg, mereka baru saja mengunjungi Taman Buah Naga. Keduanya kini berada di mobil Bright, pemuda itu yang menyetir. Hasil sebuah perdebatan panjang. Win sendiri nggak mau diantar sampai apartemennya. Dia meminta diturunkan di halte yang agak jauh dari kawasan apartemennya. Pemuda itu nggak ingin Bright tahu di mana ia tinggal. Nggak ada alasan khusus, hanya belum ingin saja.

Selama mengerjakan tugas bersama, Bright mulai memberi sedikit pengertian ke Win kalau; kerja kelompok begini lebih enak, berdua lebih mudah, dibantu teman tuh nggak apa-apa.

Win lama-lama mulai luluh. Apalagi sewaktu dia ingat Bright diam-diam pernah membelanya dari orang-orang yang menjelekkan dia dan membanggakan Bright. Win merasa dia harus berterima kasih soal itu sebab ia belum mengatakannya secara benar.

“Bright,” Win memanggil ketika mereka sudah sampai di halte yang dimaksud.

“Ya?”

“Makasih.” Ia bicara sebelum benar-benar turun dari mobil.

“Untuk?”

Untuk hal yang udah lo lakuin buat gue.

“Pokoknya makasih aja.”

Kemudian ia buru-buru turun. Wajahnya kikuk dan panik. Meninggalkan Bright dengan seulas senyum dan gumaman kecil; lucunya.

Sejak saat itu Win mulai mau diajak kerja sama dan belajar kelompok mereka mulai bisa jalan dengan baik dan benar.

 

Empat:
“....kecanduan lo.”

 

Hari-hari berlalu, tugas mereka sudah hampir rampung. Meski masih harus beberapa kali lagi mengunjungi Taman Buah Naga untuk mempelajari budidayanya. Tentu saja mereka juga menghabiskan waktu untuk bertukar pesan; mau nggak mau. Demi kelancaran kerja kelompok mereka. Lalu suatu waktu Win menerima sebuah pesan pada hari dan jam yang nggak biasa. Ini akhir pekan omong-omong.

Bright ⛔

Ini punya lo?

[insert picture]

Selepas membaca pesan itu dengan wajah setengah mengantuk Win berteriak sangat kencang di kamarnya. Dua bubble chat dengan lampiran gambar yang dikirim Bright seolah membuat nyawanya berkumpul dengan instan. 

Gawat. 

Gawat. 

Ini super gawat!   

Di lain sisi, Bright tersenyum licik setelah mengirimkan pesan itu kepada Win. Tangannya dengan cekatan merapikan barang yang dibukanya ke dalam sebuah kardus. Menenteng kardus itu dengan hati-hati sebelum ia masukkan ke dalam lemarinya. 

Ia bersiul-siul riang sambil mengambil handuk dan memasuki kamar mandi.

Sebetulnya Bright baru saja kembali setelah jogging pada Hari Minggu yang begitu cerah. Lalu ketika melewati satpam ia dihadang karena ada paket untuknya. Awalnya dia agak sangsi sebab baru kemarin ibunya mengirimi makanan, tapi kok ini kirim lagi? Maklum, sejak memutuskan untuk tinggal sendirian di apartemen, ibunya sangat rajin mengirimkan berbagai jenis makanan kering. Barangkali satu minggu sekali. Alasannya takut Bright melewatkan makan karena malas masak. Tapi, setelah melihat itu betul adalah alamatnya, Bright membawa paket itu bersamanya.

Begitu sampai, tanpa pikir panjang, kardus itu dibuka. Cukup penasaran ibunya mengirimkan makanan apa lagi kali ini. Betapa terkejutnya ketika yang ia dapati adalah benda bulat panjang berwarna merah muda lucu dengan bentuk dan ukuran seperti alat kelamin laki-laki. Sebuah dildo. 

Pemuda dua puluh tahun itu ternganga nggak percaya dengan apa yang kini di pegangnya. Seingatnya dia masih suka menusuk dan seingatnya dia lebih suka yang asli ketimbang mainan. Lantas setelah itu ia buru-buru mengecek alamat dan nama pemesan yang sempat ia lewatkan di kardus. 

Bright berkali-kali lebih terkejut setelah melihat data pemesan. Mendapatkan dildo seperti ini sudah pasti membuatnya kaget. Ditambah fakta kalau pemesannya adalah Metawin Opas-iamkajorn dengan nomor telepon Win yang dikenalnya. Win yang itu. Alias teman satu kelompoknya. Alias anak terpintar seangkatannya. Alias yang katanya rivalnya

Kayak… Kok bisa?

Why?

What?

Where?

When?

Who?

How?

Win tahu alamatnya dari mana? Kenapa kok bisa salah kirim ke sini? Dan… dan yang paling penting kok dia bisa beli alat begini? 

Bright nggak nyangka. Sumpah. Lebih nggak nyangka lagi sampai ke seks pun Win lebih suka sendiri? Well,  maksudnya tuh kalau beli alat seks gitu artinya dia mau main sendiri, kan?

Selesai mandi Bright mendengar ponselnya berdering. Sepertinya ini bukan panggilan pertama. Ketika melihat identitas penelepon senyum Bright kembali terkembang. Itu Win.

“Hal—”

“BRIGHT!!!” Sebuah teriakan cempreng di ujung panggilan menyambutnya, disusul suara deru napas yang nggak teratur.

“Berisik, nggak usah teriak-teriak segala. Lo abis ngapain deh kok kayak capek banget?” Ponsel dijauhkan dari telinga. Wah berapa desibel ini suara Win kira-kira?

“Bright please jangan aneh-aneh.” Kepanikan dapat tertangkap jelas dari suara itu.

“Ya emang gue ngapain lho, Win?” Bright menahan senyumnya supaya nggak terlalu lebar karena khawatir bibirnya akan robek.

“Bright jangan disebarin please, please, ya.” Suara rengekan itu begitu lucu ketika sampai di telinga Bright.

“Lho emang gue mau nyebarin apa? Gue kan cuma nanya itu punya lo bukan?” Di sela senyum jahilnya terulas hangat yang turut serta. 

“Lo di mana? Di apartemen, kan? Gue samperin ya ke apart lo? Alamat lo di apartemen lama gue, kan?” Terdengar suara gedebak gedebuk yang Bright nggak tahu pasti itu apa. Dapat terbayang barangkali Win kini sedang berguling-guling di tempat tidur.

“Mau ngapain? Gue nggak minta disamperin, Win.” Bright masih betah bermain-main.

“Gue mau ngambil itu… Aduh!” Barangkali pemuda bergigi kelinci itu sekarang jatuh ke lantai.

“Ambil apa?” Bright cekikan, ia pura-pura nggak mendengar suara bruk yang cukup kuat itu. Sayup-sayup ia mendengar Win mengumpati lantai dan berkata kasian pantat. 

“Dildo.” Win mencicit. 

“Oh… Jadi itu beneran punya lo?” Duh Bright mana tahan.

“Udah lo jangan banyak tanya deh, gue ambil, ya?” Win segemas ini kok bisa-bisanya dia baru tahu? Ke mana saja dia selama ini?

“Gue nggak mau ngasih tapi, kan kirimnya ke alamat gue.”

“Ih Bright! Bri—”

Pip! 

Bright menutup panggilan tanpa membiarkan Win menyelesaikan kalimatnya. Ini sangat seru. Bright bisa membayangkan betapa kesal dan menggemaskannya wajah Win saat ini. Baru membayangkan saja dia sudah bisa tertawa puas.

Sepuluh menit setelahnya bel apartemennya berbunyi. Bright terkikik geli ketika melihat wajah cemberut Win pada layar interkom.

“Lama banget sih bukainnya?!” Win bersungut. Langsung masuk ke dalam tanpa menunggu dipersilakan si empunya apartemen. Well, memang dulunya ini apartemen dia sih. 

“Gue lagi ganti baju, lagian lo cepet banget sampenya. Pakai portkey apa gimana?” Bright menyusul Win yang sudah duduk di sofa. Tangan pemuda itu bersedekap.

“Nggak lucu!” Katanya ketus. Mata sipit itu memicing.

“Emang gue nggak ngelucu.” Jawab Bright nggak kalah ketus. “Lo kenapa cepet banget gue tanya?” Lanjutnya kemudian.

“Apartemen gue di tower C, deket Mix.” Win menjelaskan cepat. Sepertinya dia begitu buru-buru.

“Oh gitu, jadi selama ini kita satu apartemen dan gue baru tau.” Bright mengangguk-angguk. Wah bisa-bisanya informasi seperti ini baru dia ketahui.

“Ihhh udah deh mana barang gue buruan.” Wajah Win kentara panik meski sudah ditutupi dengan wajah sok garang.

“Di dalem sempak lo tuh apa?” Bright menaik turunkan alisnya seraya menatap ke arah Win. Menatap bagian bawahnya.

Win melirik celananya, mengikuti arah pandang Bright. Wajahnya berubah merah. Percampuran kesal dan amarah. 

“Bright gue serius!” Pecah sudah, kesal juga lama-lama dipermainkan. Bright rupanya sangat menyebalkan. Ugh, lagian kenapa dia bisa bodoh sekali?

“Galak betul, mau minum apa?” Bright terkekeh santai. Sama sekali nggak menghiraukan amarah yang meletup-letup dari lawan bicaranya.

“Nggak usah basa-basi tujuan gue cuma mau ngambil barang gue.” Tangan Win bertumpu di atas meja, wajah mencondong ke depan supaya bisa lebih dekat bicara dengan Bright di seberangnya.

“Nggak akan gue pakai, tenang aja.” Jawab Bright santai. Ikut memajukan kepala.

“Tapi kan itu punya gue.” Win masih nggak mau kalah.

“Karena nyampenya ke apart gue jadi keputusan itu ada di gue mau gue balikin apa nggak. Untuk saat ini nggak dulu.” Sudut bibir Bright berkedut dan membentuk seringai.

“Bright… ” Mata Win berkaca-kaca. Tubuhnya mundur perlahan.

“Gue nggak akan bocorin ke siapa-siapa, beneran deh.” Melihat Win yang kini terlihat ketakutan dan terancam Bright jadi nggak tega.

Win menatapnya dengan tatapan anak anjing menggemaskan. Tatapan memelas. 

“Gue janji.” Siapa Bright bisa kuat menerima tatapan itu? Dia kan lemah.

“Masa semudah itu?” Win nggak serta merta percaya, meski ada nada gembira terselip di kalimat tanyanya.

“Lo mau gue persulit apa gimana?” Bright bertanya jengah. Apa sih sebetulnya mau Win? Tadi mohon-mohon giliran dibaiki kok ragu.

“Bukan, maksud gue lo pasti ada maunya nggak sih? Masa begitu doang?” Tatap itu penuh curiga. Pandangan Win menelisik dengan kedua alis terangkat naik.

Trust issue lo gede banget ke orang lain gue liat-liat.” Bright menoyor kepala Win.

“Emang, cepet bilang lo mau apa dari gue?” Tanya Win.

“Hm… apa ya?” Telapak kanan mengusap dagu, Bright melakukan pose sok berpikir.

“Oke lo gue antar jemput sebulan ini, abis itu balikin barangnya ke gue.” Win memberikan sebuah penawaran yang menurutnya cukup menggiurkan kok.

“Hm…” Bright masih pura-pura berpikir, mendalami peran dalam hal membuat Win hipertensi.

Plus gue masakin sarapan tiap pagi deh.” Penawaran lainnya diberikan. Awas saja kalau sampai nggak mau. 

“Hm menarik.”

Sumpah ya wajah menyebalkan itu rasanya ingin Win tinju.

“Ayo dong mau.” Rengeknya setengah memaksa.

“Oke tapi gue yang antar jemput.” Kata Bright tiba-tiba.

“Hah?”

“Dan sarapannya di apartemen lo.” Lanjutnya lagi.

“Apa-apaan?”

“Ya udah kalau nggak mau.” Ekspresi Bright seolah mengatakan take it or leave it, gue nggak rugi yang ada lo yang rugi.

Gelagapan Win menyetujui itu, daripada nggak sama sekali, kan?

“Ya udah iya iya. Deal, ya?”

Deal.” Bright tersenyum puas. Win nggak bisa membaca apa yang ada di dalam kepala Bright saat ini. Bright dan rencana liciknya. Ck ck.

Begitulah perjanjian itu dibuat dengan kesadaran kedua belah pihak. Awalnya, Win keberatan. Tapi dengan adanya ide ini dia ikut diuntungkan juga. Sebab dapat mengawasi Bright dengan mudah. Otomatis ia akan ikut ke mana pemuda itu pergi, bukan? Mereka akan pulang pergi bersama.

Bukannya apa-apa, sulit sekali mempercayai hal krusial seperti ini pada orang seperti Bright. Mengingat bagaimana hubungan mereka selama ini. Takut jika lengah sedikit citranya hancur lebur. Siapa yang tahu Bright barangkali akan berkhianat, kan?

Sejak saat itu, tanpa disadari oleh keduanya, mereka mulai merajut kedekatan. Win akan menempeli Bright ke mana pun pemuda itu pergi, seperti kutu dan rambut. Di kelas, di kantin, di Hima, bahkan menemani Bright latihan futsal kalau ia sedang tidak ada latihan PSM. Sebenarnya Win melakukan itu semua karena ingin memastikan kalau Bright bukan ancaman, Bright nggak punya kesempatan untuk membeberkan masalah dildo tempo hari. Tapi hal itu tak ayal malah membuat mereka seperti mengumbar keakraban dan membuat heboh banyak orang.

Siapa yang nggak heboh ketika duo rival yang sering terlihat saling menghindarisebetulnya hanya Win sih yang menghindari, dan terlihat anti satu sama lain sejak Maba, kini sedang mengobrol santai bahkan tertawa lepas. Rasanya mustahil dan luar biasa, padahal mereka nggak sedang membelah lautan atau menyemburkan api.

Win, tampak sudah nggak memusingkan perihal Bright adalah rivalnya. Pun soal ucapan buruk orang lain tentangnya. Well, di dunia ini semuanya seimbang. Kalau ada yang suka pasti ada juga yang membenci. Win nggak bisa memaksa mereka untuk menyukainya pun menutup mulut-mulut nyinyir itu. Nggak ada waktu, bukan urusannya. Lebih baik dia fokus pada hidup dan pencapaiannya sendiri. Toh belum tentu mereka lebih baik dari dirinya. Yang paling penting dan harus digarisbawahi adalah orang yang sering dijadikan bahan perbandingan mereka malah membelanya. 

So, actually, Win is the winner, right?

Win menyadari kalau sikapnya yang kemarin sangat nggak terpuji. Sebuah kesalahan. Kadang, ketika kita terlalu takut akan sesuatu, itu semua sebab pemikiran kita sendiri. Dibanding omongan orang, pikiran Win lah yang punya andil paling jahat bagi dirinya sendiri. Jadi, rasanya nggak pantas kalau ia menjadikan Bright sebagai seseorang yang patut dipersalahkan.

Makin ke sini tugas kelompok keduanya jadi semakin mudah dikerjakan. Oleh mereka berdua, bukan cuma atas kehendak Win saja. Tanpa ada rasa nggak nyaman yang dulu melingkupi. Bukannya yang sebelumnya nggak mudah sih, tapi kali ini ada chemistry yang terbangun di antara mereka berdua.

Kebiasaan baru mereka belakangan ini adalah setiap pagi Win akan membuat dua porsi sarapan untuk mereka berdua, sebagaimana kesepakatan yang sudah disetujui. Pemuda bergigi kelinci itu sudah hafal pukul berapa Bright akan datang ke apartemennya, 07:45. Menu apa yang; disukai, nggak disukai, atau membuat Bright alergi. Win nggak canggung lagi untuk menceritakan kekesalannya pada Bright atau hal kecil yang sebetulnya nggak penting-penting amat. Tapi, Bright senang saja tuh mendengarkannya. Sebab Win punya gestur lucu ketika bercerita, dia akan memperagakan semuanya dengan gerak tubuh. Menyenangkan sekali melihatnya.

Yang paling Bright suka dari semuanya adalah wangi Win. Pemuda itu punya wangi khas bayi. Bukan, bukan maksudnya itu karena tingkah lakunya. Win betul-betul memiliki wangi seperti keponakannya. Terlalu sering berdekatan membuatnya dengan mudah mencium wangi itu. Wangi sereh dan eucalyptus. Minyak telon. Lucu sekali karena pemuda dua puluh tahun itu bisa wangi minyak telon.

 

Metaw

[insert picture]

Buruan jemput. Sarapan di jalan aja, ya, takut kesiangan. Soalnya kan mau nemuin Pak Podd dulu

Ini gue bikinin sandwich biar enak dibawanya

You

Okay, bentar lagi gue otw

Gue dibikinin apa aja sama lo pasti makan kok

Metaw

Okii

You

Win, sepatu futsal gue dimana ya?

Kemaren tuh pas kita pulang gue masih pakai sepatu futsal itu kan?

Metaw

Yang mana? Warna putih?

You

Iya yang putih kan yang gue pakai?

Metaw

Kemarin lo pakai warna hijau

Warna putih kan lo pinjemin ke Luke, lo bilang dia lupa bawa sepatu futsal

You

Oh iya hehe

Gue jalan beneran nih

Metaw

Hmm

Jangan lupa hari ini beli makanan Ame

You

Eh iya hampir lupa

Pulangnya aja ntar ya

Metaw

Apa sih yang nggak lo lupain di dunia ini? 

Iya ntar gue ingetin lagi biar nggak lupa

You

Lo

Metaw

Terlihat seperti template buaya

You

Idih gitu :(

Btw, thank you, my daily reminder

Eh bukan

Thank you , sayang

Metaw

Tinju dulu sini mukanya

You

Hahaha galak

 

“Wangi.”

Bright mengendus-endus udara di sekitarnya. Tangan fokus pada kemudi, sementara matanya memandang ke arah jalanan. Kini laju mobil berhenti sebab lampu lalu lintas sedang menunjukkan warna merah.

Win yang sedang bercerita soal Mix yang mulai cemburu pada kedekatan mereka berdua pun terdiam. Mencari wangi apa yang dimaksud Bright, sebab ia nggak mencium apa pun selain pengharum mobil Bright yang berbau bunga, itu juga sudah mau habis.

“Nggak wangi banget perasaan.” Komentarnya. 

“Wangi.” Kata Bright lagi. “Lo wangi bayi. Enak banget.” Wajahnya dimajukan ke arah tubuh Win di sampingnya, mencari sumber wangi itu.

“Oh, minyak telon, ya?”

Bright tersenyum dan mengangguk. 

“Iya gue tuh suka pakai itu. Tiap hari, tiap habis mandi. Kebiasaan dari kecil soalnya. Setiap anak pasti pas kecil dipakain minyak telon terus kan, ya? Cuma gue mah keterusan sampe gede. Rasanya dingin sama aneh aja kalau habis mandi nggak pakai minyak telon tuh. Kalau nggak enak badan aja, gue selalu pakai minyak telon, makanya di tas selalu ada.” Win menjelaskan.

Sejak tadi tangannya bergerak-gerak ke atas, ke bawah, kanan, kiri. Semua itu nggak luput dari perhatian Bright yang menyimak dalam diam dan memperhatikan dalam-dalam. Pemuda itu mengangguk paham. 

Lucu. 

Win paling lucu.

Lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, mobil yang mereka tumpangi melaju bersama kendaraan lainnya. Bright mulai bertanya soal;  apa Win nggak malu kalau orang tahu dia masih pakai minyak telon di umur segini? Apa Win tahu kalau wanginya enak sekali? Apa sebelumnya nggak pernah ada yang komentar soal wanginya selain dia? Sampai ke—

“Kok bisa lo bau bayi gini tapi beli dildo?”

Skak mat!

Win terdiam di tempatnya dengan hangat merambati pipi. Warna merah padam menghias di sana. Kedua tangan Win menangkup wajahnya dan suara rengekan terdengar meski teredam.

“Jangan tanya-tanya, gue malu. Gue nggak ingat habis PO itu dan ternyata pakai alamat lama. Huhuhu, malu banget….”

Bright nggak tertawa, melainkan menggigit pipi bagian dalamnya seraya tersenyum kecil. Tangan kirinya yang bebas mengacak lembut surai Win.

Mereka kini sudah sampai di parkiran kampus, namun keduanya belum ada yang beranjak turun dari mobil. Bright meminta Win untuk duduk menghadapnya.

Hey, I'm sorry. Maaf kalau lo merasa terganggu gue tanyain kayak gitu, ya?” Bright menggenggam kedua telapak Win. “Bercanda aja kok gue. Tanpa lo jawab pun gue ngerti. It's a normal thing. Sex toys are for everyone, you could buy everything you want. I don't blame you, kay?” Bright menjelaskan isi hatinya supaya nggak ada kesalahpahaman di antara mereka. 

Win diam saja, nggak merespons apa pun selain menatap Bright dengan mata bening berkilau dan pipi kemerah-merahan. Ah masih malu rupanya. Dengan posisi sedekat ini wangi yang hangat ketika masuk penghidu itu merebak dan membuat Bright pening dalam artian baik.

“Win, boleh gue cium wangi lo?”

Kedua mata Win mengerjap bingung. Telapak tangan kasar Bright di sisi lehernya kemudian menyadarkannya akan sesuatu. Win menatap balik sepasang legam yang mematainya sebelum mengangguk kecil. 

“Boleh.” Jawabnya pelan.

Dengan itu Bright merengkuhnya mendekat, mengecup manis kedua pipi Win yang kini bertambah merah. Lalu mulai mengendusi leher jenjang itu dan menciumnya lembut.

Harum. Harum Win seperti pelukan seorang ibu. Seperti kembali pada hangat masa lalu. Bright yakin dia sanggup menciumi wangi ini seharian. Nggak ingin melepasnya; membaginya. Minyak telon yang bercampur dengan bau asli tubuh Win menghasilkan perpaduan yang berbeda. Begitu adiktif. 

Win hampir saja melenguh kala ciuman Bright pada lehernya makin rakus. Beruntung pemuda itu berhenti. Kepalanya mendongak menatap Win, yang kabur membaca arti tatap itu.

“Gue kayaknya kecanduan.” Suara Bright terdengar rendah dan dalam. “Kecanduan wangi lo.” Lanjutnya.

Win masih menatapnya. Lalu Bright mendekat, berbisik tepat di depan bibir Win. “Lebih tepatnya…” udara hangat menerpa kedua bilah bibir Win yang hampir terbuka. “....kecanduan lo.”

Then without a cue,  Bright kiss  Win's fat lips with his own.

 

Lima:
So, let's do study group again, Win. What do you think?

 

Suara tawa dan teriakan kegelian memenuhi ruang tamu apartemen Bright. Botol minum dan makanan ringan berserakan, di sisi lain sebuah laptop teronggok mengenaskan dengan cahaya berpendar dan menampilkan tulisan daftar pustaka. Suara ngeongan Ame ikut meramaikan kegiatan Bright yang sejak tadi mengungkung Win di bawahnya. Kucing itu menatap tanpa minat ke arah dua orang yang bertumpuk seperti roti lapis itu, seolah bilang; “Seriously, guys? Right in front of my salad?” Sambil memakan Royal Canin miliknya dengan khidmat.

“Brihh, stop, geli ih!” Win kembali berteriak ketika daging lembek dengan liur panas milik Bright menyentuh kulit lehernya.

Ame kembali mengeong, berpamitan karena sudah nggak tahan mendengar suara-suara aneh yang ditimbulkan dua pembantunya. Padahal acara makannya belum selesai.

Bukannya berhenti, Bright malah makin melancarkan aksinya dengan memberi kecupan yang berbunyi nyaring. Menyeruput bau Win dengan rakus. Telinganya ditulikan meski teriakan bercampur pukulan-pukulan menghantam punggungnya.

Jadi, begini ceritanya. Hari ini mereka berdua sedang menyelesaikan laporan akhir dari tugas kelompok mata kuliah Manajemen Agribisnis yang sejak awal semester keduanya kerjakan, di apartemen Bright. Artinya, empat bulan penuh sudah mereka lewati untuk menyusun tugas tersebut. Mereka sepakat memberi judul: Laporan Observasi Usaha Tani: Taman Buah Naga Nagreg Hill untuk tugas akhir itu. 

Keduanya berkutat dengan laptop sejak pagi. Mengetik hasil pengamatan mereka soal budidaya buah naga di daerah Nagreg Hill yang mereka kunjungi. Berdiskusi dengan serius empat jam penuh. Sedikit lagi laporan itu akan selesai.

Bright meregangkan tubuhnya selepas menyelesaikan kalimat terakhir pada daftar pustaka.

“Beres!” Teriak Bright, sengaja agar Win yang sedang berada di dapur bisa mendengarnya.

Sebuah gumaman adalah balasan dari Win. Pemuda itu sedang sibuk minum bergelas-gelas air untuk meredakan cegukan yang datang tiba-tiba.

“Nanti kembung, jangan banyak-banyak minumnya.” Bright mengingatkan seraya berjalan mendekati Win. Namun ucapan itu tidak dihiraukan oleh Si Keras Kepala. Pemuda itu terus meneguk gelas keempatnya sampai habis. Selain cegukan, ia juga merasa dehidrasi, katanya. Otaknya terlalu diforsir untuk berpikir, jadi membutuhkan banyak cairan.

Bright diam saja, nggak ingin mendebat lebih lanjut. Jemarinya dengan lembut menyeka air yang tersisa di bawah bibir Win. Kalau ditilik lebih lanjut, hubungan mereka ini sudah nggak masuk dalam definisi teman biasa. Tapi, selalu mengelak jika dibilang pasangan. Well, cuma mereka berdua yang mengerti jenis hubungan apa yang mereka jalani.

Melihat Bright yang diam saja setelah membantunya tadi, Win kemudian tersadar. “Pintarnya. Hik!” Ujarnya lembut disertai cegukan. Kepala Bright ditepuk sayang dan diusak. Si Empunya tersenyum senang dapat pujian begitu. Yeah, bisa dibilang itu adalah sebuah reward untuk Bright atas kerja kerasnya.

Semakin lama waktu yang dihabiskan mereka, semakin paham pula akan sifat satu sama lain. Bright suka dipuji. Itu kink-nya.

“Butuh tambahan energi nih, energi gue udah hampir habis.”

Oh Win hafal betul apa maksud kalimat itu. Apalagi dengan nada manja Bright yang tiba-tiba muncul. Mantan rivalnya ini sekarang jadi super clingy. Capek sedikit bilangnya butuh energi. Alias cium-cium leher yang wangi minyak telon.

Karena masih cegukan, Win nggak serta merta langsung menjawab. Malas deh, ini pasti lama kalau minta tambahan energi. Maka, ketika akhirnya Win menyuarakan penolakan Bright nggak terima.

Berakhir mereka melakukan aksi saling kejar-kejaran seperti bocah sepuluh tahun. Membuat seisi ruang tamu kacau balau. Bantal sofa berjatuhan ke lantai, vas bunga hampir pecah, bahkan makanan ringan ikut tumpah.

Acara lari-larian nggak jelas itu berakhir ketika Bright berhasil mengungkung Win di antara tubuhnya dan karpet bulu berwarna abu. Win nggak bisa melakukan apa pun selain pasrah, ia akhirnya membiarkan Bright berbuat sesukanya. 

B-Brighthh ugh…" Satu desah Metawin lolos begitu saja. Cegukannya sudah hilang di tengah-tengah kegiatan Bright yang menggelitikinya tadi.

Hal itu, berhasil menghentikan Bright yang sudah mengikutsertakan gigi dalam aksinya. Pemuda itu mengangkat wajahnya dan terpaku di tempat ketika melihat hasil karyanya pada Win. It's an art. 

Penampilan Win jauh dari kata baik-baik saja. Rambut berantakan, pipi bersemu merah, bibir bengkak, leher terdapat bercak keunguan dengan dada naik turun mengais napas, dan jangan lupakan mata sayu yang mengundang. Terlihat sangat… menggairahkan

Bright merasa sesuatu bergejolak di bawah perutnya. Ada panas yang membara di bawah kulit membakar perlahan. Matanya nggak bisa berbohong. Tatapan itu lapar seolah Win adalah daging segar yang siap dimangsa serigala sepertinya.

Win merasakan sesuatu yang keras menekan perutnya. Ouch. 

“Bright, you are hard.”

Mata Bright mengikuti arah pandang Win dan menemukan tenda dari balik celananya. Bright tersenyum miring lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Win, mengulum di sana sebelum berbisik seduktif.

I'm this hard because of you."

Win menelan ludah. 

So, let's do study group again, Win. What do you think?

Tiupan-tiupan udara hangat dari Bright mengangkat waras Win perlahan-lahan.

“Kayaknya… paket lo waktu itu udah harus dipakai.”

Bibirnya digigit menahan lenguhan lain, namun matanya yang perlahan tertutup menjelaskan kalau ia menyambut ajakan itu suka cita.

“Kita kerja kelompok pakai itu, ya?”

Kerja kelompok yang Bright maksud, Win tahu arahnya ke mana. Dia ikut berbisik dengan susah payah, nggak ingin munafik karena sama inginnya. Nafsunya sudah terbakar sejak Bright memberi cupangan di leher. 

Let's do study group.” Suaranya serak. Berat dan terdengar sangat sensual.

Dengan itu Bright bergerak seperti orang kesetanan. Mengangkat tubuh Win agar berdiri, lalu kembali membungkam bibir bengkak itu dengan miliknya. Ciuman itu morat-marit dan rakus. Saling menyedot seolah mereka memiliki sumber madu pada bibir satu sama lain. Keduanya terus berciuman sambil berjalan, Bright mengarahkan mereka ke dalam kamarnya.

Bunyi debam pintu terdengar nyaring. Entah apa yang rusak tadi. Handle pintu atau kah lubang kunci, Bright sudah nggak peduli. Yang dia pedulikan saat ini adalah tubuh Win yang sudah telentang di atas ranjang besar miliknya. Memerah. Pasrah.

Win bergidik ketika Bright merangkak menaiki tubuhnya. Pemuda itu menggesekkan miliknya yang masih terbalut fabrik ke paha dalamnya. Win menggigit bibir. Merasakan benda keras itu menampar pahanya. Desisan mereka bersahutan. Friksi itu kian memabukkan. Tubuh mereka layaknya bara yang jika digabungkan akan menyala dan membakar satu sama lain.

Tahu-tahu pakaian yang Win kenakan tanggal seluruhnya. Tangan Bright begitu lihai, ia bekerja sangat cepat padahal Win yakin ia baru saja berkedip. Bibirnya digigit saat sepasang oniks tajam milik Bright memindai tubuh telanjangnya. Menilai dari ujung kaki hingga kepala. 

Entah mengapa tatapan Bright membuat perutnya mulas. Mengintimidasi dan penuh dominasi. Win menyukainya. Menyukai tatapan penuh nafsu seolah memuja. Ia semakin ingin. Tanpa sadar desah lain terdengar.

“Cuma diliatin aja lo ngedesah? Segitu pengennya lo, Metawin?” Bright terkekeh dan tersenyum miring. 

Win nggak merespons, tapi wajahnya memerah.

“Tunggu di sini sebentar.” Bright menyuruh Win menunggu di ranjang sementara ia mengambil sesuatu dari dalam lemarinya.

Bright kembali dengan sebotol pelumas dan sebuah kotak kardus. Win mematai seluruh pergerakan Bright, menebak apa isi dalam kardus itu sebelum tersadar akan sesuatu. Ketika Bright membuka kardus itu dan mengeluarkan isinya, Win merasa sangat malu. Itu barangnya. 

Barang lo. Keliatannya bagus kalau lo cobain sekarang. Right?”

Benda berbentuk alat kelamin laki-laki dengan warna merah muda itu digoyang-goyangkan di depan wajah Win. Bright dengan auranya yang berbeda di atas ranjang. Gelap. Diktator. Win hanya bisa mengangguk mengiyakan. Ia merasa sangat lemah tapi sangat menyukainya.

 

***

Nnghh… Shh… Bri Bri, please please.”

Bright menatap penuh minat pada tubuh Win yang terlonjak-lonjak di atas ranjang. Menunggangi dildo merah muda yang terlihat cantik keluar masuk lubang Si Manis. Wajahnya senada warna dildo yang membuatnya mendesah. Dihiasi peluh dengan ekspresi yang erotis. 

Lenguh dan desah memenuhi kamar. Win terlihat putus asa dan Bright menyukainya. Menyukai bagaimana pemuda itu merengek meminta pertolongannya. Menyukai bagaimana ia mendesahkan namanya. Sengaja dibuat nyaring untuk mengundangnya. Meminta belas kasih agar gelora nafsu terpenuhi.

“Enak?” Bright bertanya, tangannya bersedekap. Ia duduk di pinggir ranjang. Tanpa niat untuk mendekati Win yang kepayahan di tengah ranjang. Bibirnya dijilat dengan senyum miring tercetak jelas.

“Enak.” Win menjawab susah payah di sela desisan kenikmatan. Melenguh kembali ketika Bright menatapnya intens. 

“A fake cock makes you this desperate, Win?”

Gerakan Win makin cepat. Naik turun mencari nikmat. Nggak bohong, alat kelamin palsu ini memang membuatnya nikmat. Tapi ini nggak cukup, Win ingin sesuatu di balik celana Bright. Sesuatu yang Win terka dalam kepala seberapa tebal dan panjangnya. 

“Tapi kurang… M-mau yang lebih, Bri.”

Lidah Win terjulur keluar. Brengsek. He's so fucking sexy. Bright menelan ludah kasar. Jakunnya naik turun. Ia sebenarnya ingin menyesap lidah itu dan mengajaknya bergulat dengan miliknya. 

“Lo mau yang lebih?” Tapi ia masih mau bermain-main dengan Win.

Pertanyaan itu dijawab Win dengan anggukan semangat.

“Mau Bright! Mau!”

“Lo nggak pernah cukup dengan satu barang di dalam lubang lo? You are such a cockslut.”

Mendengar kalimat merendahkan Bright malah semakin membakar gairah Win. Kewarasannya sudah habis nggak bersisa. Tubuhnya memantul kuat, menekan lebih dalam agar dildo itu bisa masuk lebih jauh.

Hanya ada dua kalimat dalam kepalanya. Ingin lebih. Ingin Bright. Ingin lebih. Ingin Bright. 

Bright beringsut dari duduknya, bergerak mendekat ke tengah ranjang. Kini ia duduk di antara kedua paha Win yang terbuka lebar. Mempertontonkan kejantanan Si Manis yang tegang dengan lelehan precum menghiasi.

Dada Win bergemuruh. Gerak naik turunnya makin cepat ketika Bright makin dekat. Dadanya membusung. Melemparkan dirinya sendiri pada lubang hitam seperti Bright. 

Bright membuka pakaiannya serampangan, membebaskan bagian yang sejak tadi menjerit meminta dikeluarkan. Sudah sesak. Melihat benda itu dikocok di depan matanya, sementara ia masih menunggangi dildo merah muda, membuat nafsu Win naik secara instan. 

Bright memposisikan tubuhnya duduk bersandar di kepala ranjang. Kemudian menyuruh Win menghadap ke arahnya tanpa melepaskan tautan lubang dengan dildo. Mata kecil Si Manis berkilat, menatap daging berurat dengan tebal dan panjang nggak main-main. Bibirnya dijilati. Ini seperti bayangannya.

You like it?”

Lagi-lagi Win hanya bisa mengangguk. Kepalanya kosong, nggak mampu memproduksi kalimat apa pun. 

Suck it, then.”

Dengan itu Win serta merta membawa benda itu ke depan bibirnya. Menjilati guratan-guratan menonjol seolah mempelajari. Lalu Win membawanya masuk. Membiarkan Bright merasakan hangat lubang mulutnya. Win menjilat, menggigit main-main pada lubang kencing dan mengulumnya seperti seorang berpengalaman. Mengenyampingkan fakta bahwa ini adalah seks pertamanya tanpa bantuan alat-alat seks.

Bright menggeram. Win yang sedang mengulumnya dengan pantat masih tersumpal dildo adalah dua hal luar biasa yang ia dapat hari ini. Barangkali, ia akan mendapatkan yang lebih lagi. Ketika dirasa ia membesar di dalam mulut Win, Bright tahu dia akan meledak sebentar lagi. Bright melepaskan jambakannya pada rambut Win ketika akhirnya dia pecah. Sangat banyak, mulut kecil Win nggak mampu menampungnya sehingga cairan putih itu meleleh melewati dagu. 

Swallow it. Jangan bersisa.”

Bright menyuruh Win menelan sari-sari itu sampai habis. Begitu penurut, Win menelan seluruhnya. Menjilati yang bercecer di sekitar mulut bahkan yang tersisa pada milik Bright. Ia terengah-engah dan setelah melihat wajah keenakan Bright yang begitu erotis, gelombang panas menerpa di bawah perut. Win kembali bergerak di atas dildo, matanya berputar dan ia mendesah kuat.

Win mengalami pelepasan pertamanya setelah sejak bermenit-menit lalu mendaki di atas dildo. Ia keluar banyak. Mengotori tubuhnya juga kaki Bright. 

Baru saja Win mengais napas, masih merasakan euforia pelepasannya. Bright tiba-tiba membanting tubuhnya ke atas ranjang. Merangkak di atasnya. Mengapitnya di antara dua lengan kokoh nan tegang. Deru napas mereka beradu.

Tangan Bright mencari letak botol pelumas yang sebelumnya digunakan untuk melumuri dildo milik Win. Dengan hati-hati Bright kembali menuangkan cairan itu dan membaluri miliknya yang sebetulnya sudah cukup lembap oleh liur Win. Bright mengocok perlahan. Benda itu kembali tegang hanya dengan melihat dada Win yang naik turun dan pahanya yang mengangkang lebar.

Nafsu keduanya membumbung tinggi. Win lelah tapi begitu antusias ingin merasakan Bright di dalamnya. Mengoyak lubangnya yang kini berkedut gatal sepeninggalan dildo yang sudah teronggok terlupakan. Menghentak dalam dan membuat suaranya habis karena berteriak. Win ingin Bright. Sekarang. 

“Jangan kelamaan. Masukin Bright! Masukin aja. Lubang gue udah siap buat lo.” Win terdengar nggak sabaran. Mengangkat pantatnya, mempertontonkan lubang yang kini ditusuk dengan jari telunjuk. 

“Such a needy baby. Sebentar, sayang.”

Win tersipu mendengar kalimat terakhir.

Bright pun nggak ingin memperlama segalanya. Ia menyuruh Win mengeluarkan jarinya. Mengganti dengan miliknya yang berukuran berkali-kali lipat daripada satu jari telunjuk. Bright mulai memasuki Win inci demi inci. Win mendesis, begitu pula Bright.

Meski lubang Win sudah dipersiapkan sedemikian rupa. Dengan dildo dan sebelumnya juga Bright membantu menggunakan empat jari, tetap saja nggak akan sama dengan barang asli milik Bright. Tubuhnya terasa seperti dibelah. 

Mendengar ringisan Win yang makin menjadi, Bright berinisiatif untuk mendistraksinya dengan menciumnya penuh gairah. Kemudian memberi cupangan-cupangan baru pada bagian atas Win yang terjangkau lidah dan giginya.

Ketika Bright menekan kuat dan masuk utuh, teriakan Win terbungkam oleh bibirnya. Satu bulir air mata lolos. Bright menjilatnya dan membisikkan kalimat-kalimat penenang. Mengatakan bahwa Win hebat, Win menerimanya dengan sangat baik serta ungkapan sayang lain. 

Selepas memberi waktu agar Win terbiasa dengan ukurannya, Bright mulai bergerak perlahan. Sesuai permintaan Win. Ringisan dan desisan itu berubah seiring dengan makin konstan gerak menumbuknya. Ketika Win mulai melenguh, Bright menambah kecepatannya dan membuat Win menjerit keenakan.

Bright menggerayangi tubuh Win lagi. Memanjakan dada dengan puting mencuat yang sejak tadi memanggil karena belum terjamah. Lidah Bright berputar di area areola. Sengaja menggoda Win yang kini menjambaki rambutnya dan membusungkan dada. Meminta lebih.

Ketika Win merengek antara nikmat dan kesal karena ia mempermainkannya, Bright mulai menghisap puting kiri Win. Sementara yang kanan dipilin oleh jemarinya. Win menangis sejadi-jadinya. Ini nikmat. Sangat nikmat.

Gerakan mereka makin lama makin cepat. Mendaki puncak kenikmatan itu bersama-sama. Penuh antusiasme. Win mengimbangi gerak Bright ke arah yang berlawanan. Membenturkan pantatnya ke milik Bright yang tertanam dalam. 

Gosh! Bright! Di sana! Yah! Ahh...”

Oh! Bright menemukannya setelah mencari sejak awal pergumulan mereka. Titik manis Win. Serta merta kaki Win memeluk pinggang Bright. Secara nggak langsung memberikan pemuda itu akses untuk menumbuk lebih leluasa dan lebih dalam. Posisi itu memudahkan Bright untuk menumbuk titik manis Win berkali-kali.

"You're so—nghh—big inside me, THAT big, Bri. I feel so full."  Win berkata di bawah napasnya yang berat, kalimatnya berantakan sama dengan isi kepalanya yang sudah kacau karena Bright. Ia menangis. Nggak sanggup menerima semua rangsangan yang Bright berikan pada seluruh titik sensitifnya secara bersamaan. Tubuhnya terlonjak-lonjak menghantam kepala ranjang. Suaranya serak karena digunakan meneriakan nama Bright tanpa henti. Suara geram dan desah keduanya bersahutan dengan derit ranjang. 

Mendegar pujian itu Bright menggeram dan semakin menggila.

“Ahh! A-anghh… B-Bright, gue mau—ahh!

Win mendesah keras ketika Bright semakin mempercepat gerakannya. Mulutnya terus meneriakkan nama Bright dengan begitu lantang, sebab ritme goyangan Bright yang semakin cepat dan berantakan di lubang analnya. Menumbuk titik sensitifnya lebih kencang, hingga mengantarkan Win pada puncak kenikmatan. Mulut Win menganga tanpa suara, bersamaan cairan putih kental menyembur lagi dari kejantanannya. Mengotori perut hingga dada.

Baru saja Win turun dari pelepasannya, bahkan belum sempat menarik napas, Bright sudah bergerak kembali. Menghajar lubangnya tanpa tahu jeda. Gesekan yang begitu cepat—antara kulit kejantanan dan dinding anal, serta suara desah Bright di telinganya membuat Win kembali terangsang.

Win mampu merasakan Bright memenuhinya. Kepalanya mendeskripsikan bagaimana tiap inci gesekan itu memberi kenikmatan fana tiada tara. Terasa utuh, jauh. Kejantanan Win kembali menegang saat memikirkan betapa Bright begitu kuat dan gagah. Besar dan tebal. Itu terasa linu dan menyakitkan karena ia masih terlalu sensitif, efek baru saja pelepasan.

Getting hard again, Win? Seriously?” Di sela-sela desahan dan napasnya yang memberat, Bright masih sempat mengejek Win yang kini menggila di bawahnya.

Please, Bright…” Ada perasaan mendesak pada bagian bawah Win. Win nggak bisa membedakan itu apa. Apakah perasaan ingin keluar atau kemihnya yang ditahan sejak tadi.

Please what, baby?

Just give me your cum, you brat! Don't tease me, it's too much! Ahh!”

Mendengar ancaman berkedok permohonan Win, membuat Bright terkekeh dan tersenyum miring. Gerakannya semakin tak beraturan, ia menarik seluruh batang penisnya keluar dan memasukkannya lagi dalam sekali hentak. Kuat. Dalam.

Win meremas sprei di sampingnya dengan kencang, bibirnya yang sudah memerah dan bengkak terbuka menganga. Suara ah ah ah dan tamparan antaran kulit memenuhi ruangan yang terasa panas meski sudah memasang suhu terendah pada AC kamarnya. 

“Ahh!!”

Bright menghentakkan pinggulnya dengan kencang, memuntahkan seluruh cairannya ke dalam lubang Win yang mengetat. Merasakan lubangnya diisi penuh, Win yang sudah terlalu sensitif pun ikut mencapai pelepasan ketiganya hari ini.

Bright menikmati pemandangannya dari atas tubuh Win. Kulit putihnya yang dipenuhi bercak merah, cairan milik mereka yang mulai mengering, mata yang berputar ke atas dan mulut menganga di bawahnya. Begitu indah. Sempurna. Bright ingin merekam ini dalam ingatan. Bahwa hal luar biasa lain yang ia dapat hari ini adalah wajah Win ketika sedang keenakan.

“Nggh…”

Bright sedang menekan pinggulnya lebih dalam, mengantarkan sari itu terbenam jauh ketika merasakan Win pecah lagi. Kali ini disertai cairan hangat berwarna kuning yang keluar deras dari milik Win. Rengekan terdengar dari yang lebih muda. Kini ia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.

Win sadar betul itu bukan hanya cairan semen. Itu adalah air kencingnya juga. Menahannya sejak di tengah permainan, Win nggak menyangka kalau ia akan kencing di sela-sela pelepasannya. Sangat memalukan.

“Bright, I'm so sorry. Ini menjijikan. Maaf gue pipis—”

No! It's okay, I just think it's hot.” Bright menyela. “Very hot.” Masih menggerakkan pinggulnya dan tiap hentak menghasilkan air kencing keluar lebih banyak dari milik Win. 

“You look beautiful! So damn sexy.” Bright tidak bohong kalau itu terlihat sangat panas dan seksi. Bright pikir ini adalah bagian terbaik dari kegiatan mereka. Melihat Win merengek dan terkencing-kencing ketika ia memberinya kenikmatan. Win is such a masterpiece. Hanya ia yang bisa membuat Win seperti ini. Hanya Bright Vachirawit, mampu membuat Win menjadi nggak berdaya.

Sebuah ciuman panas Bright berikan ketika Win selesai mengeluarkan seluruh air kencingnya. Bright merasa perlu memberi reward padanya.

***

That was the greatest sex that I've ever had!” Bright berujar di sela-sela kegiatan mereka memperebutkan pasokan oksigen.

Me too.” Senyuman Win terasa begitu indah. Entah Bright yang masih dalam euforia yang tinggi atau memang senyum Win selalu seindah ini.

Bright balas tersenyum, lalu menepuk puncak kepala Win dengan sayang. Pemuda itu kemudian beranjak dari kasur setelah memakai asal celana yang berserakan di lantai.

“Gue mau bersihin lo dulu, bentar ya gue ambilin handuk basah.”

Setelah berkata demikian Bright menghilang ke balik pintu kamar mandi. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan baskom berisi air dan handuk kecil. Bright membersihkan tubuh Win dari sisa-sisa pergumulan mereka. Begitu lembut dan hati-hati.

“Maaf ya gue beneran pipis di kasur lo. Jadi bau spreinya terus kotor.” Win berujar nggak enak hati. Badannya terasa remuk sehingga bergerak sedikit rasanya ngilu sekali. Nggak main-main tenaga Bright, ternyata.

“Nggak perlu minta maaf, Win. Tinggal dicuci kan bersih. Lagi pula, itu super hot. Lo ngasih pengalaman baru ke gue.”

Win tersipu.

Thanks ya, Win, buat pengalamannya.” Bright mengusap halus pipi sebelah kanan Win, menatap sepasang kelereng itu dengan tatap teduh penuh puja.

“Makasih juga, Bri. That was my first time, honestly. Sebelumnya gue cuma berani pakai alat seks kayak gitu, makanya gue suka beli.” Win nyengir memperlihatkan gigi kelinci menyembul berani.

Cute.”

Bright terkekeh sebelum mengecup bibir Win. Ketika mendapat protes Bright bergegas menjauh. Merapikan kembali peralatannya tadi dan berlalu untuk menaruhnya. Lalu ia kembali dengan sprei baru. Bright bekerja cepat, mengangkat Win untuk tidur di sofa sementara ia mengganti sprei berbau menyengat itu dengan yang dibawanya.

Such a gentleman.

“Gue mau jawab pertanyaan lo waktu itu.” Win bersuara, tangan Bright sedang menepuk-nepuk lembut puncak kepalanya. Mereka sudah beralaskan sprei baru saat ini, bersiap untuk tidur. Tapi sepertinya Win belum ingin.

“Yang mana?”

“Ada lah yang dulu, waktu lo nanya soal gue yang nggak suka sama lo. Gue punya alasan lain selain karena kita yang suka dibandingin.”

Kay, shoot.”

“Gue nggak suka lo dari ospek fakultas dan makin nggak suka waktu lo ngetawain gue.”

“Hah? Gue baru tau lo aja pas masuk kelas yang sama. Terus kapan gue ngetawain lo?” Bright heran.

“Kita tuh sekelompok, pas ospek. Gue nggak peduli sih lo inget atau nggak, gue juga lupa sama yang lain tapi karena lo ngeselin makanya gue inget. Selama ospek lo paling songong. Diem aja, nggak ngerti sok keren apa gimana. Waktu itu gue nggak sengaja numpahin air minum ke celana lo, terus pas gue minta maaf lo cuma ngeliatin gue dengan tatapan yang paling gue benci. Tatapan ngerendahin. Dari situ gue mulai nggak respect sama lo. Taunya kita sekelas dan dirivalin. Yaudah deh.” Jelas Win.

Bright diam, mengingat-ingat.

"Terus lo ngetawain gue waktu lo ngumpul di gazebo A. Disitu lo sama temen-temen lo nyinyirin soal IPK gue turun, jadi di bawah lo. Kata mereka, mending kayak lo, nyantai-nyantai IPK-nya lebih gede dari gue. Terus lo ikut ketawa-tawa. Gue sakit hati banget." Wajah Win murung.

Gelagapan, Bright memohon maaf atas segala kesalahan yang pernah ia perbuat kepada Win secara nggak sengaja. “Gue baru inget pas ospek fakultas tuh gue sariawan parah banget, Win. Makanya nggak bisa ngomong dan bawaannya kayak orang kesurupan.”

Win terbengong di tempatnya.

“Hah?”

Serta merta tawa Bright pecah. Ternyata selama ini penyebab mereka jadi musuh bebuyutan adalah karena sariawan sialan. Tersadar, Win ikut tertawa. Geli atas kesalahpahaman kecil yang akibatnya bisa serumit itu.

"Tapi soal yang gue ngetawain lo, gue nggak inget sama sekali. Gue keseringan suka basa-basi sama orang jadi nggak paham dia ngomong apa ikut ketawa aja. Maaf."

Melihat kilatan yang meredup di mata jernih Bright, Win tahu pemuda itu menyesal. Ia mengangguk dan bilang nggak apa-apa, itu udah lewat.

Akhirnya mereka memutuskan untuk mengobrol sambil menjemput kantuk. Berbagi hal-hal yang belum diketahui satu sama lain. Sifat, kebiasaan serta cita-cita. Kata orang, semakin larut malam, biasanya kualitas obrolan semakin tinggi. Apa yang dibicarakan tulus dari dalam hati, pikiran dan keresahan. Win menemukan lagi sisi lain Bright yang sangat dewasa. Pikiran pemuda itu sangat simple tapi menohok.

“Makanya ketika ditanya; apa sih alasan gue ambis? Apa yang dikejar? Ya jawaban gue adalah validasi orang tua gue. Anggap aja gue lagi caper sama mereka yang sibuk sama kerjaan masing-masing. Makanya gue suka kecewa sendiri kalau nilai turun gitu, ya ngerasa gagal aja sih.” Win menjelaskan sambil sesekali matanya menerawang.

“Kadang gue tuh mikir, gue ambis gini perasaan nggak ngerugiin siapa pun deh. Kok orang-orang suka nyinyir? Kenapa harus ribut dengan cara gue berpikir dan berambisi sama hidup gue sendiri?” Tanya Win menggebu-gebu. 

Win menarik napas sebentar. “Katanya gue suka cepuin tugas ke dosen. Sekarang gini lho, itu kan udah jelas tugas dikasih dosen untuk dikerjakan. Kewajiban kita sebagai mahasiswa ya mengerjakan tugas. Lah kenapa malah jadi marah sama yang ngerjain?”

“Terus soal gue yang suka jawabin pertanyaan dosen. Ya karena gue tau jawabannya, makanya gue jawab. Nanti giliran nggak ada yang bisa jawab dosennya marah kan ke kita karena dikira nggak merhatiin.” Win mendengus. 

“Gue juga dibilang individualis karena tugas kelompok maunya ngerjain sendiri, perfeksionis lah, apa lah. Padahal itu awalnya karena tiap kelompokan nggak ada yang respons gue. Yaudah, jadinya gue aja ngerjain sendirian setiap kelompokan.” Win mengakhiri penjelasannya dengan bibir mengerucut.

Bright sedari tadi sudah tidur miring bertumpu pada tangan kiri, ia menatapi Win lembut dengan sorot bangga. Mengecup bibir mengerucut itu, berhadiah satu pukulan.

“Ngedenger lo cerita panjang lebar selalu seru dan lucu.” Bright terkekeh. “Lo keren, Win. Nggak perlu lah ngejelasin ke banyak orang soal bagaimana pola pikir lo. Toh mereka sebetulnya nggak sebegitu peduli sama kita, cuma seneng aja ngomongin orang. Yang dari sananya udah nggak suka ya biarin aja, kalau ada yang suka ya syukur.” Lanjutnya.

“Tapi lo juga nggak boleh apa-apa sendiri. Hidup kita tuh berdampingan. Meskipun banyak hal yang bisa kita lakuin sendiri, kita tetap butuh orang lain." Tutur Bright begitu lembut, membuat Win mau nggak mau mendengarkannya seperti anak baik.

"Ada kalanya lo harus memberikan konsiderasi atas perbuatan lo, apa efeknya ke orang lain? Bekerja sama tuh nggak papa, sendiri juga nggak papa. Tapi ada waktu-waktunya. Jangan pernah lupa kalau kita cuma manusia biasa. Ada batasan yang kita nggak bisa tapi orang lain bisa." Mata Win mengerjap lucu, memandang Bright yang terlihat begitu dewasa dari bagaimana ia bicara. Nggak ada kesan menjengkelkan yang biasa ia temukan.

"Banyak kok kegiatan yang lebih enak dikerjain bersama-sama, ngeseks kayak kita tadi misalnya. Enak dikerjain berdua kan daripada lo sendirian pakai dildo?"

Ralat. Dia masih dan akan tetap menyebalkan pada tiap kesempatan. Satu cubitan Win berikan, bersambut dengan ringisan sakit dan tawa geli Bright. Pemuda itu meminta maaf karena sempat-sempatnya bercanda di tengah-tengah suasana serius mereka.

"Jadi, Win, mulai terbuka ke orang lain tuh nggak papa. Minta bantuan juga nggak papa. Oke?” Bright menjelaskan. Telapaknya mengelus pipi Win.

Mata Win otomatis terpejam. Ada sesuatu yang hangat mulai merambat ke dalam dadanya. Meresapi ucapan Bright. Meresapi perasaan yang membuat perutnya bergejolak aneh tapi menyenangkan. 

Ketika membuka mata yang Win dapati adalah kecupan di bibir. Win menahan kepala belakang Bright dan memimpin kecupan itu menjadi ciuman panjang tanpa nafsu. Melibatkan lidah dan perasaan. 

Ketika tautan terlepas Win tenggelam pada kedalaman sepasang jelaga Bright yang sepertinya nggak berujung.

“I love you.” Kalimat itu terasa intim. Bright tersenyum. Teduh dan bersahaja.

“I love you too.” Metawin balas senyum itu dengan rasa bahagia membuncah. 

***

Suasana kafe tempat mereka berkumpul saat ini nggak begitu ramai. Makanan mereka hampir tandas. Bright dan Win yang duduk berhadapan kini tengah mendengar keluhan teman-teman mereka soal kebiasaan baru yang meresahkan. Mereka sekarang nggak malu menebar kemesraan di depan khalayak ramai.

Keduanya duduk berhadapan. Menulikan telinga saat Mix mulai ceramah soal lebih baik mereka menjadi rival saja kalau tahu akhirnya akan menjadi bucin padahal hubungannya nggak jelas apa. Mereka sudah nggak bisa membagi waktu untuk berkumpul dengan teman-teman mereka. Mike dan Guns yang duduk di seberang Win hanya bantu mengangguk, meramaikan. Karena apa yang Mix sampaikan sudah mewakili mereka semua.

Sementara itu Bright terlihat menahan sesuatu. Bulir keringat sebesar biji jagung turun dari dahinya. Wajahnya seperti orang kesakitan. Nggak ada yang menyadari itu kecuali Win. Yeah, karena Win yang kini sedang menekan gundukan di balik celana Bright dengan kakinya. Si Manis tersenyum miring saat Bright memohon ampun.

Karena sudah nggak tahan Bright serta merta berdiri, membuat seisi meja terkejut. Termasuk Win.

Guys, sorry, tapi gue sama Win harus pergi sekarang. Maaf motong ceramah kalian, besok boleh disambung lagi.” Bright buru-buru membereskan barang-barangnya dan menarik tangan Win. 

Win tertawa puas. 

“Mau ke mana lo buru-buru gitu?” Tanya Mike penasaran, yang lain ikut menatap curiga. 

“Mau belajar kelompok.” Matanya berkedip ke arah Win. Sementara Win menggigit bibir. 

“Emang ada tugas apaan lagi?” Kali ini Guns yang menimpali.

“Ada kok, tugas tambahan untuk kalangan tertentu aja.” Seringai Bright dibalas senyum penuh makna Win.

Setelah bilang begitu keduanya pergi dari sana. Betul melakukan belajar kelompok yang itu. Sampai seterusnya, belajar kelompok adalah kode yang hanya dipahami mereka berdua.

Terserah apa pendapat orang lain soal hubungan mereka. Mereka yang memahami inginnya seperti apa. Yang jelas, keduanya sudah jujur soal perasaan satu sama lain. Jadi apakah itu pacaran atau bukan? Yang pasti, mereka partner belajar kelompok. 

 

—fin.