Actions

Work Header

Cerpen Revstar

Chapter Text

Junna dengan bangga memeriksa hasil ujian dia, mencatat setiap nilai yang dia dapat ke dalam buku catatan dia. Nilai bahasa Inggris dia, tentu saja, sempurna. Nilai matematika dia naik terus, sama dengan nilai fisika. Tapi ada beberapa ujian dia yang nilainya stagnan, seperti sejarah, kimia, dan prakarya. 

Secara keseluruhan, nilai Junna sudah bagus. Semoga aja nilai dia pas UAS makin bagus lagi.

Sambil dia mencatat nilainya, salah satu teman sekelas Junna melirik ke arah meja Junna dan melihat nilai dia. "Wah Junjun! Nilai lu kayak wapres aja."

Junna menghela napas, mengarahkan pandangan dia ke Karen Aijou. "Maksudnya?"

"Ma'ruf A-!"

"Oke, siap..." Desahan kesal Junna malah bikin Karen nyengir. Junna akhirnya tersenyum pula, sebelum mata dia mengarah ke kertas ujian Karen. "Kalau lu nilainya berapa?"

"Eh, bentar jangan liat-" Karen berusaha menutup nilai dia dengan mendekap kertasnya ke diri dia sendiri, tapi terlalu telat.

"Gila... itu nilai ujian atau jumlah murid di kelas ini?" 

"Hehe..."

Junna menggeleng kepalanya. Beneran ini anak... "Lu remed apa aja?"

"Matematik, bahasa Indo, bahasa Inggris, fisika, kimia, seni rupa..."

"Yaudah, mau gua ajarin?" 

"Mau dong~"

Beneran udah kebiasaan Karen. Junna juga gak ngerti kenapa dia mau ajarin Karen mulu. "Nanti malem mau?"

"Eh, nanti malem ada episode anime baru..."

"Ohhhh, jadi anime lebih penting dari nilai lu?" Dengan seketika, raut muka Karen berubah.

"E-enggak, Junjun maaf! Okeoke, nanti malem ya?"

Sambil kedua siswa ini menjadwalkan belajar bareng, ada orang ketiga yang memandang mereka dari luar kelas.


"Junjun, kamu ngajarin Karen lagi malam ini?" Nana menanyakan kepada gadis berambut ungu itu. Nana sedang berbaring di tempat tidur dia, sementara Junna sedang mengerjakan sesuatu di meja belajar dia. Bahkan apabila Nana tidak mendengarkan pembicaraan mereka di ruang kelas tadi, dia bisa menebak--nilai UTS mereka baru saja keluar, dan Junna biasanya belajar mandiri jam 7 malam. Kalau Junna mulai bekerja dari sore, maka pasti karena Karen.

"Iya," Junna terdengar agak kesal, tetapi dia tetap menulis sesuatu. "Dia minta kayak biasa. Masalahnya dia bisa kalau diajarin sama aku, tapi kalau di kelas nilai dia jelek. Aku enggak ngerti kenapa..."

Suara Junna pudar, hingga yang tersisa hanyalah suara coretan pensil Junna. Satu menit terlewat seperti begitu saja, hingga Nana akhirnya berbicara, "mungkin Karen suka sama kamu? Makanya bisa fokus kalau kamu yang ngajarin. Dia juga panggil kamu Junjun."

"Jangan konyol, Nana." Junna terkesan tidak menghiraukan komentar Nana, tetapi muka dia yang memerah menunjukkan bahwa perkataan Nana ada efeknya juga.

Nana tidak bisa menahan rasa ingin tahu dia. Ia menanyakan pertanyaan yang ada di pikiran dia sejak Revue mereka. "...Junna suka Karen juga tidak?"

"...Hah?!" Dengan seketika, Junna memutar kepalanya ke Nana, terkejut. "J-jangan bercanda, Nana!"

Nana tertawa karena reaksi Junna, tetapi dia tidak ingin Junna untuk menghindar dari pertanyaan dia. Dia ingin Junna menjawab pertanyaannya. "Emang salah? Junna kalau ngomong ke Karen lebih kasual... kalau sama orang lain Junna pakai 'aku' sama 'dia', tapi kalau sama Karen Junna pakai 'gua' sama 'lu.' Sama Junna rela bantuin Karen belajar terus, jadi kesannya Junna juga suka sama Karen."

"Aku... enggak perhatiin sampai segitunya," Junna menggerutu, fokus dia kembali ke kertas di meja belajarnya. Perbincangan mereka digantikan kembali dengan coretan pensil, dan Nana tidak menekan kembali. Dia tidak ingin membuat Junna tidak nyaman. 

Akan tetapi, ternyata Junna yang kembali berbicara. "Aku belum pernah ngerasain hal kayak suka gitu... jadi aku juga enggak tahu perasaan itu bisa dibilang suka atau enggak."

Nana menahan nafas dia, mata dia mengarah ke profil samping Junna yang terlihat fokus. "Menurut Junna perasaan Junna kayak gimana?"

Junna menghela nafas, meletakkan dagu dia pada punggung tangannya. "Mungkin benar... aku suka sama Karen."

Itu adalah kebenaran yang Nana coba cari dari tadi. Itu yang dia ingin tahu...

...jadi mengapakah hati dia terasa begitu pedih?

"...bagus lah," Nana katakan, tersenyum. "Kalau Junna pasti bisa."

Junna tersenyum kembali pada Nana. "Terima kasih."

"...aku tidur dulu ya, bangunin aku kalau mau makan."

"Oke." 

Mengambil guling bercorak katak dia, Nana memeluknya dan berputar agar menghadap dinding. Agar Junna tidak harus melihat air mata dia yang membasahi bantalnya.

Dia telah berjanji untuk melindungi semua orang. Untuk membuat mereka semua bahagia.

Tapi apakah dia bisa ikhlas melakukan itu, apabila hati dia sendiri rasanya telah dirobek?