Actions

Work Header

Ruki

Work Text:

Saat itu sore sudah menjelang tiba, Seonho baru saja pulang dari aktivitas teaternya. Dia lebih memilih berjalan pulang agar begitu dia tiba di rumah, dia akan merasa lebih lelah dan lebih cepat tertidur. Angin berhembus cukup tenang dibanding kemarin. Seonho sedikit khawatir hari itu akan hujan lebat seperti hari sebelumnya. Bukan berarti dia tidak menyukai hujan, tidak sama sekali. Dia hanya ingin berjalan kaki saja untuk melepas penat yang belakangan ini dirasakannya setelah bekerja berturut-turut. Seonho pun membuat permintaan khusus untuk manajernya agar dia dibiarkan pulang sendiri.

Jalan yang dilewatinya hari itu bukanlah jalan raya yang besar. Seonho memutuskan mengambil gang kecil agar bisa melihat lingkungan di sekitar gedung teater. Lumayan, Seonho bisa melihat pemandangan yang ramah di mata. Pohon-pohon sakura memang sudah tidak selebat di awal musim semi karena sudah dirontokkan oleh hujan. Tapi setidaknya, Seonho bisa mengamati taman mungil diisi anak-anak yang bermain atau tersenyum pada sepasang kakek nenek yang tengah duduk bersantai. Baginya, pemandangan sederhana seperti itu lebih menenangkan hatinya daripada apapun.

Juga pemilik toko buku kecil itu.

Kedua ujung bibirnya tertarik lebih lebar membayangkan sosok wanita jelita yang sengaja ditemuinya beberapa kali ini. Jujur saja, Seonho belum tahu nama pemilik toko buku kecil bernama Moons. Dia hanya terkesima setiap kali dia berkunjung. Wanita itu akan duduk di dekat lemari buku, benar-benar mendalami isi buku yang dibacanya. Tidak sadar jika dirinya terus menerus dipandang oleh Seonho. Sesekali mungkin wanita mungil tersebut akan berjalan ke lorong buku dan bertanya pada pengunjung tentang buku apa yang tengah mereka cari.Sayangnya, Seonho akan kabur tepat sebelum si pemilik toko itu datang padanya.

Kali ini, jika dia benar-benar sanggup, Seonho akan mencoba berbicara dengan si pemilik toko. Bertanya nama mungkin akan menjadi langkah yang cukup besar baginya.

Meong

Seonho menoleh pada suara anak kucing saat dia hampir tiba di toko buku. Hatinya terasa seperti diremas kuat mendengar suara lemah itu. Dia tidak bisa abai dan menuruti instingnya yang mungkin menuntunnya pada keberadaan si anak kucing. Berjalan semakin jauh dari tempat yang semula akan dikunjunginya, suara anak kucing itu terdengar makin jelas. Tapi, suara itu berbarengan dengan suara lembut yang lain. Bahkan terdengar seolah pemilik suara itu tengah terisak.

Ketika Seonho tiba di gang yang terletak tepat di sebelah toko Moons, dia menghentikan langkah, tercengang atas apa yang dilihatnya. Wanita pemilik toko tersebut tengah terduduk dengan wajah yang cukup memerah. Seonho sedikit mendekat dan memfokuskan pandangannya pada wanita itu juga anak kucing di hadapannya. Setelah beberapa detik mengamati, barulah Seonho sadar bahwa wanita pemilik toko Moons tengah terisak sambil membelai kepala kecil si anak kucing.

"Apa yang kaulakukan di sini?" tanya Seonho sedikit ragu.

Wanita itu menoleh. Kedua matanya terlihat sembab, menandakan dirinya sudah menangis dalam waktu yang lama. Ada sedikit rasa bersalah yang dia rasakan saat melihat sepasang mata wanita tersebut, Seonho melangkah mundur seperti anak anjing yang melakukan kesalahan.

"Apa kau bisa merawat kucing?" Wanita tersebut berbicara sedikit terisak.

"Y-ya? Merawat kucing?" ulang Seonho sedikit tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

Wanita setinggi bahu Seonho itu berjalan dengan cepat. Dia mendongak untuk menatap langsung padanya. Mau tidak mau, Seonho berjengit terkejut dan segera menjaga jaraknya. "Aku ingin membawa anak kucing itu ke rumah tapi nenekku alergi bulu. Bisakah kau menjaganya untuk sementara? Aku akan membantumu," pinta wanita tersebut tanpa berbasa-basi.

"Tentu saja."

Suara Seonho terlepas begitu saja tanpa dia sempat pikirkan. Semua karena dirinya yang salah tingkah dan membuat Seonho menjawab sekenanya. Dia bahkan tidak tahu apakah ibunya akan mengijinkannya merawat seekor anak kucing.

Tapi jawaban itu juga yang membuatnya membeku di tempat. Jantungnya seolah meronta keluar dari rongga dadanya. Wanita itu menggenggam kedua tangannya dengan erat. Senyuman di wajahnya terlihat sangat terang. Kedua mata indah wanita itu terlihat berkaca-kaca. Dengan kata lain, wanita pemilik toko Moons itu benar-benar menyukai jawabannya.

"Terima kasih, terima kasih banyak! Anak kucing itu pasti akan senang karena dia tidak akan merasa kedinginan lagi. Dia sangat beruntung bisa bertemu denganmu." Wanita itu masih menggenggam kedua tangan Seonho sampai dia menghentikan euforianya. "Kau pengunjung tetap di toko Moons, bukan? Karena itu aku berani bertanya padamu. Oh, benar. Bagaimana bisa aku tidak mengenalkan diriku sendiri? Namaku Moon Geunyoung. Namamu?"

Seonho mengerjap dengan informasi yang datang secara beruntutan. Dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya terhadap perkataan wanita bernama Geunyoung itu. Jadi, selama ini hanya Seonho yang mengira bahwa dirinya saja yang memperhatikan. Itu berarti gerak-geriknya terbaca jelas hingga detik ini oleh Geunyoung? Ya ampun, bagaimana caranya agar Seonho bisa menutupi rasa malu saat ini?

Ah, sudahlah. Seonho menggelengkan kepalanya mengusir rasa canggung yang merambat dalam dirinya. Bukankah dia harusnya bersyukur karena dia tidak perlu maju mundur untuk mendekati Geunyoung?  

"Namaku Kim Seonho," ujarnya sambil tersenyum.

Dia melepas kedua tangan Geunyoung dan membuat wanita itu tersenyum canggung. Walau sebenarnya Seonho juga ingin memegang tangan kecil nan lembut itu lebih lama tapi ada hal yang lebih penting untuk diurus. Seonho membungkuk untuk mengambil kardus berisi seekor anak kucing berwarna oranye. Dia harus memperlakukan anak kucing itu dengan baik.

"Geunyoung-ssi." Seonho menggigit bibirnya, menahan senyumannya yang hendak muncul di wajahnya. Nama wanita itu terucap dari bibirnya dengan mudah, seolah nama tersebut selalu dia sebutkan. "Bisakah kau menamainya? Aku tidak pandai memberi nama."

Alis tebal Geunyoung bertaut pada satu titik. Seonho mengamati raut wajah wanita berambut panjang ini yang tampak berpikir keras. "Ruki?" cicit Geunyoung ragu-ragu.

Seonho terkekeh geli mendengar nama tersebut. "Ruki? Apa artinya?"

Senyum Geunyoung merekah indah. "Aku ambil dari lucky dan agar namanya terdengar lebih manis, kuubah menjadi Ruki. Bukankah dia beruntung hari ini? Sekaligus mendoakannya agar terus beruntung," jawab Geunyoung sambil mengelus leher anak kucing itu berkali-kali. "Uri Ruki yang manis, kau suka dengan namamu, bukan?"

Beruntung, ya? Seonho tersenyum begitu lebar hingga lesung pipinya terlihat begitu jelas. Tatapan matanya tidak terlepas dari Geunyoung yang begitu manis. Tentu saja dia tidak akan bisa menolak permintaan wanita ini jika Geunyoung terus menerus bersikap hangat. Anak kucing yang baru ditemuinya dalam sehari saja bisa menurut padanya. Apalagi Seonho yang sudah bertemu dengannya puluhan kali? Geunyoung sudah mendapatkan hati Seonho sejak awal. Dan Seonho sangat beruntung karena terpikat oleh wanita berhati hangat ini.

"Ya, aku juga suka nama Ruki."

 

END