Actions

Work Header

Black Pearl

Chapter Text

 


 

 

668 M

Chen memasukkan segala kebutuhannya dalam tas dengan berdebar-debar. Di benaknya, terus terulang kalimat ‘ini misi pertamaku sebagai prajurit’, ‘aku tak boleh gagal’, dan kata-kata serupa. Memang, Chen prajurit muda yang baru lulus dari sebuah akademi di Korea, tetapi karena perang sudah lama berakhir dan kekaisaran sepi dari pemberontakan, sedikit sekali prajurit muda yang diterjunkan ke lapangan untuk menjalankan misi sebenarnya. Beberapa dari mereka yang bosan menganggur mencari misi sendiri sebagai prajurit sewaan; biasanya para bangsawan mau membayar mereka untuk melindungi diri. Chen salah seorang dari golongan prajurit ini.

“Cepatlah, Chen! Xiu Min sudah menunggumu!”

Belakangan, suara melengking sang ibu menjengkelkan Chen, tetapi tidak sekarang. Segera Chen menyandang kantung kulit besarnya dan berlari keluar kamar, menemui kakak kelasnya yang berwajah bulat.

“Lambat sekali. Pantas kau tidak diterjunkan untuk meredam pemberontakan Luoyang.” Ibu Chen masih mengomel, mungkin iri pada Xiu Min yang lebih lama menjalankan tugas pengamanan negara di pusat Kekaisaran (pastinya, Xiu Min dibayar untuk itu, sedangkan Chen tidak).

Chen diam sejenak, lalu berlutut di hadapan ibunya sebagai penghormatan. “Aku akan berjuang menuntaskan misi ini dengan baik, Bu. Doakan aku.”

Sebagai anak, meskipun sering disiram ucapan pedas sang ibu, Chen tetap sabar. Itulah yang menyebabkan doa si ‘wanita tua’ terus mengalir. Ia menepuk puncak kepala Chen lembut.

“Ya. Semoga sukses. Jangan ragu untuk bertindak jika itu untuk kebenaran, walaupun ini misi pertamamu.”

Kalau ada yang diingat Chen dari ibunya, itu adalah nasihat dan bukan semburan api.


 

Matahari belum terbit saat Chen dan Xiu Min berjalan menuju pelabuhan. Dalam keadaan gelap begitu, Xiu Min masih mampu menangkap perubahan ekspresi Chen: tersenyum, murung, tersenyum lagi, dan murung lagi.

“Kau tegang? Perasaanmu pasti bercampur aduk.” kekeh pemuda yang lebih tua. Chen jadi malu. “Mohon maklum. Aku tidak gila, kok, hanya terlalu senang.”

“Dan terbebani?”

“Hm...” Chen tidak segera menjawab. Benar ia takut gagal, tetapi kalau di misi pertama saja ia menampakkan perasaan itu, bagaimana ia menjadi seperti Xiu Min yang tiap harinya menjalankan tugas-tugas besar?

“Abaikan pertanyaan tadi,” Xiu Min menyampirkan tangannya di bahu Chen, “Kau punya pertanyaan soal misi kita?”

“Ya,” sahut Chen, “Kenapa kau ikut dalam misi pengawalan kecil begini, sementara kau prajurit berpengalaman yang pernah menjadi calon pemimpin pengawal Kaisar?”

Kontan Xiu Min tergelak. “Pertanyaan macam apa itu?”

“Pasti ada sesuatu di balik misi ini yang menarikmu.” Chen mendesak.

“Tentu, tetapi kau pasti tidak percaya kalau ‘sesuatu’ yang istimewa itu kau.”

“Sial. Rayuan laki-laki tidak mempan buatku.”

“Serius. Di antara sekian banyak alasan aku ikut misi ini, kau salah satunya.”

Kalau benar begitu, Chen merasa terhormat sekali. Ia tersenyum kikuk dan Xiu Min geli melihatnya. “Aku ini mentor sejatimu.”

Giliran Chen yang tertawa. “Kau sangat menyukaiku, ya?”

“Jelas. Siapa yang tidak suka pada adik kelas yang tekun dan disiplin sepertimu? Yah, biarpun kau kadang mengesalkan karena tidak berani tampil. Itu juga yang membuatmu tidak mendapatkan misi kenegaraan setelah lulus, tetapi aku yakin, Kekaisaran punya rencana lain untukmu.”

Rencana lain untuk prajurit? Firasat Chen buruk sekali tentang ini.

“Maksudmu, akan ada perang lagi?”

“Tampaknya begitu,” Suara Xiu Min merendah, hampir tak terdengar, “Ada kejadian besar di Istana. Seorang pelayan ditangkap karena telah meracuni Kaisar dan Permaisuri di sebuah jamuan. Permaisuri tewas dan Kaisar sakit parah; sementara ini, Perdana Menteri Zheng yang memegang pemerintahan.”

Chen terkejut setengah mati. Ia ikut-ikutan merendahkan suara. “Tapi berita itu tidak sampai di Korea.”

“Kalau berita itu terdengar di Korea, rakyat Korea akan meminta kemerdekaan mereka yang dulu dari Kekaisaran Cina. Daerah lain yang dikuasai Kekaisaran bukan mustahil meminta lepas juga. Integritas kekaisaran akan goyah.”

Chen manggut-manggut. Ia sendiri tidak keberatan tanah airnya, Kerajaan Korea, ‘dimakan’ oleh Cina selama Kekaisaran tidak menyakiti orang-orangnya. Chen tidak ingin menyaksikan kehancuran yang sama dengan ketika Korea dan Cina berperang.

“Sebentar,” Tiba-tiba, Chen menyadari satu hal ganjil, “Kenapa masalah satu pelayan saja berpotensi menimbulkan perang?”

Xiu Min berbisik di telinga juniornya.

“Pelayan itu utusan Mongolia.”

Ah.

Menurut sejarah yang Chen pelajari di akademi, Mongolia dan Cina pernah terlibat perebutan wilayah, tetapi tidak secara signifikan berpengaruh pada keduanya. Siapa yang sangka, beberapa tahun setelah perjanjian damai, Mongolia berbalik menyerang?

“Nah, nah, sepertinya aku bicara terlalu banyak,” Xiu Min menepuk-nepuk punggung Chen, nadanya lebih santai, “Lupakan itu, toh belum ada dampaknya. Kau fokus saja dengan misimu.”

Chen mengangguk kosong. Ia masih kepikiran soal hipotesis penyerangan oleh Mongolia ini. Perang lagi? Aih. Jika terjadi perang antar negara, dibayar berapapun Chen tidak akan bertempur dengan kerelaan penuh.

“Orang dewasa selalu serakah, bukan? Perang, perang saja yang ada di pikiran mereka.”

Saat terjadi pertempuran di  Paekche—wilayah paling selatan Kerajaan Korea yang juga tempat tinggal Chen—sepuluh tahun lalu, Chen kecil menolong seorang anak lelaki. Anak itulah yang pertama kali menanamkan kebencian Chen pada perang. Chen tak akan lupa keberanian dan kekuatan si anak yang mengagumkan dan mengundang rasa iba. Bahkan karena melindungi anak itu pulalah, Chen memiliki kekuatan mengendalikan petir.

Kerinduan menyelinap tanpa izin dalam hati Chen.

Di mana anak itu sekarang?

Lamunan Chen buyar tatkala Xiu Min menyikutnya pelan di punggung. “Itu orang-orang Shandong yang menyewa kita.”

Sekali lagi, Chen terkejut. “Shandong berada di seberang, bukan? Mengapa jauh-jauh ke Paekche untuk menyewa pengawal?”

“Karena mereka tahu ada prajurit hebat di sini. Lihat, mereka menatapmu bangga, Chen.”

Sebenarnya, Chen tidak menemukan ‘kebanggaan’ pada empat pasang mata di depannya. Seorang dari mereka, yang berkulit gelap dengan alis hampir bertaut, menatapnya tajam. Seorang lagi, yang bertubuh mungil dan berlesung pipit, mengamatinya penasaran. Seorang lain, yang paling besar dan tegap, melihatnya dari sudut mata. Hanya satu, yang duduk di tengah-tengah mereka, yang langsung tersenyum menyambut begitu Chen tiba.

Chen rasa ia mengenali binar mata orang ini.

Xiu Min membungkuk hormat pada pemuda Shandong yang pertama bangkit, diikuti Chen. Empat orang di depan mereka membalas sama sopan.

“Pastilah Anda Tuan Chen yang diceritakan Tuan Xiu Min.” Pemuda Shandong yang pertama bangkit membuka pembicaraan. Chen mengiyakan dengan gugup (pikirnya, ‘apa yang dikatakan Senior Xiu Min sampai mereka mau memakaiku?’), tetapi kegugupan itu luntur ketika si pemuda Shandong mengulurkan tangan. “Nama saya Han,” ucapnya tanpa canggung, “Saya utusan Saudagar Li dari Shandong, begitu pula tiga rekan saya.”

Han berbalik pada tiga rekannya, memberi isyarat untuk memperkenalkan diri.

“Saya Yi Fan, pimpinan utusan Saudagar Li.” Pemuda paling jangkung berucap. Raut seriusnya tidak berubah barang sedikit, membuat Chen agak gentar.

“Saya Zi Tao.” Berikutnya, pemuda yang berkulit gelap menyebutkan nama. Ia tidak lagi mencurigai Chen sebesar saat Chen baru datang.

“Saya Yi Xing. Senang berkenalan dengan Anda, Tuan Chen.” Pemuda berlesung pipit paling akhir memperkenalkan diri. Nadanya riang, melenyapkan perasaan takut Chen yang ditimbulkan dua orang sebelumnya.

Han bertanya pada Chen apakah Xiu Min menjelaskan tentang misi kali ini. “Ya,” Chen mengingat sandi yang Xiu Min berikan supaya misinya tidak bocor, “Dia terpenjara dalam tiram, berselimut air mata dan lautan, menunggu untuk kita jemput.”

Manik coklat Han menatap jauh ke dalam obsidian Chen, seolah mata Chen adalah pintu menuju jiwanya. Beberapa saat kemudian, senyum Han merekah. “Sandi diterima. Tuan Chen benar-benar bukan penyusup.”

Yi Fan mengangguk. “Kita bisa berangkat sekarang.”