Actions

Work Header

Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti

Chapter Text

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti
Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia-sia akan jadi makna
Yang terus berulang suatu saat henti
Yang pernah jatuh 'kan berdiri lagi
Yang patah tumbuh, yang hilang berganti

Banda Neira


 

Kaoru tahu, ia tidak pintar. Otaknya tidak mencerna hal-hal di luar dunianya seperti orang-orang pada umumnya.

Tapi, sebagai gantinya, instingnya tahu apa yang harus ia lakukan. Selalu.

 


Kala ojii-san menghembuskan napas terakhirnya—kala jari-jemari yang kurus tersebut mendingin dan menjadi kaku, Kaoru bisa melihat warna biru langit pada mata pria yang dicintainya itu berpindah kepadanya. Ia tidak pintar, tapi, ia tahu apa yang harus dirinya lakukan.

Setelah bibirnya mengecup ojii-san-nya untuk terakhir kalinya, Kaoru membuat kekacauan pada seantero Umebachidou; mengeluarkan semua buku dari raknya, membongkar lemari-lemari yang berjejer dan menghancurkan semua pintu-pintu yang ia temukan. Ia mencari. Mengingat-ingat. Ia yakin ojii-san menyimpannya dengan hati-hati, dan saat itulah akhirnya Kaoru menemukannya, di salah satu pojok ruang bawah tanah tempatnya berada dulu, botol-botol dengan angka-angka yang aneh berjejer rapi dan tampak begitu terawat.

Ia bisa membaca—meski tidak sepandai ojii-san. Ia paham makna angka-angka tersebut, namun otaknya tidak terlalu bisa memahami, botol mana yang seharusnya ia ambil, tapi instingnya membuatnya mengambil satu yang paling pojok, yang paling jauh, dengan angka yang paling kecil.

Splash!

Tanpa ragu-ragu seperti seorang bocah yang baru menemukan mainan favoritnya, Kaoru menuangkan isi botol tersebut ke atas tanah, lalu menjejakkan kedua kakinya di sana. Membiarkan air tersebut menenggelamkan kedua kakinya, seluruh tubuhnya, menerbangkannya. Jauh.

Ia mendarat di tempat yang sama, ruang bawah tanah tempatnya menuangkan isi botol tadi, namun tak ada genangan air yang membasahi tanah. Aroma yang terendus hidungnya juga terasa berbeda, terasa familiar namun begitu lama di masa lalu... ah.

Ujung bawah tanah itu. Di tempat kamar lama-nya berada. Kaoru ingat. Seharusnya, dia sekarang ada di sana, dirinya di masa lalu. Kaoru merasakan bulu kuduknya merinding saat ia mengingat bagaimana rasanya menghabiskan hari-harinya sendirian di dalam sana. Karena pada hari-hari itu, ojii-san menyuruhnya untuk tidak keluar, tidak kemana-mana, mengurung diri di dalam ruangan pengap bau apak tanpa bisa kemana-mana.

Kaoru menelan ludah. Dengan hati-hati, ia mendekati ruangan itu. Membuka pintunya perlahan, dan matanya dapat menangkap gerakan samar pada ujung ruangan.

Tanpa ragu, Kaoru menerjang sosok itu. Tak butuh waktu lama hingga ia merasakan cipratan air pada tubuhnya, dan sesuatu jatuh seraya menimbulkan bunyi 'tuk' pelan. Kaoru memungutnya, dan menyadari bahwa itu adalah pakaian dan topeng yang dikenakan oleh dirinya di masa lalu.

Sekon itu dia menyadari bahwa wajahnya kini tengah telanjang. Tak memakai apapun, tidak tertutupi apapun. Maka ia memungut topeng tersebut—sebuah topeng Noh yang sudah begitu lama tidak lagi ia gunakan. Kaoru mengusap benda itu penuh afeksi, lalu memakainya tanpa ragu.

Ketika Kaoru memanjat naik dari ruang bawah tanah, ia menyadari bahwa ruangan itu kosong. Di luar tampak cerah, jadi ia tahu bahwa ojii-san yang satunya sedang berada di luar. Ia juga tahu, bahwa ojii-san yang seorang lagi kini pasti ada di sini, di dalam kamar tidurnya.

Maka tanpa ragu ia membuka pintu kamar tersebut. Pemandangan yang menyambutnya membuatnya menahan nafas—di sana, tengah duduk di tengah ruangan, ojii-san tengah menulis sesuatu dengan serius, tatapannya fokus pada kertas di hadapan, tatapan yang kemudian terangkat ke arahnya.

Ojii-san membelalakkan matanya, tampak tidak senang.

"Kaoru!"

Ia buru-buru menarik Kaoru masuk ke dalam ruangan, lalu menutup pintu, seolah memastikan tidak ada yang melihatnya.

"Apa yang kau lakukan di luar sini? Sudah kukatakan, kan, kalau kau tidak boleh keluar dari sana kecuali kusuruh?"

Meski ojii-san tampak marah kepadanya, Kaoru tidak peduli. Karena ojii-san yang ada di hadapannya ini...bernapas. Wajahnya tidak pucat, matanya tidak tertutup. Kaoru mengulurkan tangannya, tidak peduli meskipun ojii-san tampak keberatan, dan menyentuhkan jari-jarinya pada pipi pria di hadapan.

"...Hangat...," ia menggumam.

Tidak dingin.

Kaoru dapat merasakan suaranya bergetar.

"Ojii-san..., hangat..."

Lantas isaknya pecah.

Ojii-san tampak bingung dengan sikap Kaoru yang tiba-tiba, dan seolah menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak lazim, tangannya kemudian terulur, menarik topeng Noh yang menutupi wajah Kaoru. Ia terkesiap melihat wajah Kaoru lalu menggumam, "Ah, jadi begitu."

Senyum tipis tertarik naik pada sudut bibirnya. Telunjuknya menyentuh pipi Kaoru, yang kini meneteskan air mata, masih terisak, seraya menghapus air mata di sana.

"Hashihime kini ada padamu."

Tatapnya tertuju pada mata Kaoru, sepasang warna biru langit yang menatap balik.

"Dan sepertinya kau jauh lebih dewasa dari Kaoru-ku—ah, apa kau melenyapkannya? Kaoru-ku yang ada di ruang bawah tanah?" Kaoru mengangguk. "Hnn. Yah, apa boleh buat. Hashihime memang bekerja seperti itu," lantas ojii-san mengendikkan bahunya.

"Duduklah. Ceritakan padaku mengenai semuanya."

Walau kemudian, senyumnya tertarik lebih naik, "Maksudku—sejauh kau bisa saja," tatapan yang tertuju kepadanya itu kosong. Kaoru tidak pintar, ia tidak tahu makna tatapan itu.

Tapi, satu hal yang ia ketahui, bahwa ojii-san yang ada di hadapannya ini, bukanlah ojii-san yang ia cari.

Berbeda. Ojii-san-nya berbeda. Ojii-san-nya tidak akan menatapnya seperti itu. Tatapan dingin, tanpa rasa afeksi. Ia tahu ojii-san yang ini, ia ingat pernah menyayangi ojii-san yang ini.

Tapi, ini bukanlah ojii-san-nya.

Maka Kaoru melepaskan sentuhan pada pipinya itu. Matanya terbelalak, penuh kebingungan.

"Bukan... ojii-san...," ia menggumam. "Ojii-san adalah ojii-san yang lama, tapi..., bukan ojii-san Kaoru."

Ia kemudian menyadari. Bahwa, meskipun secara fisik ojii-san yang ini lebih mirip dengan ojii-san-nya, ojii-san-nya adalah ojii-san yang satu lagi.

Benar. Yang satu lagi,yang kini tengah ada di luar Umebachidou. Bukan yang ini.

Tanpa aba-aba, kakinya kembali bergerak.

Kaoru tidak mempedulikan suara yang memanggilnya di belakang. Kaoru tidak juga peduli bahwa kini wajahnya kembali telanjang, tidak tertutupi lagi oleh topeng atau benda apapun. Satu-satunya yang ada di dalam benaknya hanyalah berlari. Mencari.

Mencari.

Mencari ojiisan-nya.

Kaoru menyadari betapa banyak Jinbouchou berubah beberapa puluh tahun ini saat langkah kakinya menyusuri sisi-sisi jalanan, melewati bangunan-bangunan. Pemandangan yang terpapar di hadapan begitu nostalgik, begitu familiar namun asing di saat yang sama.

Dan seolah digerakkan oleh intuisi, ia tahu kemana dirinya harus mencari orang itu. Ia tahu, hapal, tempat-tempat favorit yang kerapkali didatangi oleh ojii-san. Kafe tempat gadis berkepang bekerja. Toserba tempat ojii-san gemar membeli Calspi kesukaannya. Juga sebuah rumah besar di salah satu ujung jalan tempat ojii-san-nya sering menatap diam beberapa saat dari luar pagar. Di luar dugaan, ia masih ingat semuanya dengan baik, seolah baru terjadi kemarin.

Kaoru tidak terburu. Menikmati waktunya bernostalgia dengan Jinbouchou yang lama, sesekali berhenti seraya tersenyum kecil. Saat itulah, ketika ia tengah menatap pada jembatan, Kaoru melihat sosok itu.

Ojii-san-nya.

Napasnya tercekat. Sepasang mata warna langit mengerjap, bibirnya terbuka, ternganga. Jantungnya berdebur, pandangannya mengabur. Ia dapat merasakan air mata kembali menggenang pada sisi pelupuk.

Di sana tengah berdiri orang yang tengah begitu ia rindukan.

Orang yang ia cintai.

Masa lalunya.

Masa depannya.

Seluruh hidupnya.

Dunianya.

Semestanya.

Ia, yang telah menjadi sosok yang merupakan segala-gala-galanya bagi Kaoru. Sosok yang membuatnya tak bisa hidup tanpa kehadirannya di sisinya. Sosok yang ia pikir tak akan bisa ia temui lagi dengan berhentinya detak nadi dan napasnya, yang ia pikir tak akan bisa ia lihat lagi wajahnya atau sentuh lagi kulitnya.

Dan sosok itu tengah berdiri di hadapannya.

Dalam satu tarikan napas, kakinya bergerak mengikuti intuisi. Tangannya terulur, pemandangan di sekitarnya terasa melebur. Kala sosok itu berada di hadapannya—tengah ternganga dengan ekspresi bingung, Kaoru makin diyakinkan bahwa orang ini sungguh-sungguh adalah ojii-san-nya. Lantas ia merengkuh tubuh itu. Mendekapnya erat. Menghidu aromanya yang familiar dengan rakus seraya membenamkan wajahnya pada rambut hitam yang berantakan. Melingkarkan kedua lengannya yang kokoh pada pinggang ojii-san-nya yang ramping.

 

"H—"

"—HUWAAA!!! S-s-s-siapa kau!!? Lepas! R-raksasa!!! Sekuhara!!! Apa-apaan—LEPASKAN AKU!!!"

Jeritan histeris itu segera menyita atensi orang di sekitar mereka, yang sebagian menatap tak acuh ke arah dua pemuda yang tengah berpelukan sementara ojii-san berusaha melepaskan diri dari dekapan Kaoru. Usaha yang sia-sia mengingat perbedaan tenaga dan ukuran tubuh mereka.

"Sesak—hei, kau siapa!? Apa kita kenal? Kau pasti salah orang—aku enggak pernah kenal raksasa seperti kau!!!"

Sekon itu Kaoru menyadari, bahwa, tentu saja ojii-san-nya bingung. Pada timeline yang tengah ia jejaki ini, ojii-san belum mengenalnya, apalagi mencintainya.

Kaoru melepaskan dekapannya. Punggung tangannya yang lebar mengusap matanya, menghapus jejak-jejak air mata yang masih tersisa di sana. Tatapannya murung, terarah pada ojii-san di depannya, yang menatapnya balik masih dengan ekspresi bingung.

Mungkin karena ekspresi yang tengah dipasang oleh Kaoru, atau mungkin karena rasa penasaran akan kejadian tiba-tiba yang menimpanya ini, kemudian ekspresi ojii-san melunak, suaranya pun tak lagi meninggi.

"Mungkin kau... salah orang? Apa aku mirip dengan orang yang kau kenal?"

Kaoru hanya berdiri kaku. Tidak menjawab, tergagu. Kapasitas otaknya yang terbatas membuatnya kesulitan untuk menjelaskan situasi yang ada, apalagi membuat pemuda di hadapannya mengerti. Tapi, ia juga tahu bahwa harus ada sesuatu yang ia katakan. Bahwa dirinya datang dari masa depan, bahwa mereka adalah dua orang yang saling mencintai, dan bahwa Kaoru kemari untuk menemuinya karena ia di masa depan telah mati.

"Kaoru... datang, untuk mencari ojii-san," Gumamnya pelan. "Karena ojii-san Kaoru pergi. Dan ada di sini."

Wajah ojii-san di hadapannya berubah, perubahan yang Kaoru tidak pahami, tapi ia merasa kalau perubahan itu bukanlah sesuatu yang baik.

"N-nyahaha... begitu... kah," lantas tangannya menepuk bahu Kaoru. "Kalau begitu, semoga kau segera bertemu dengan ojii-san-mu itu. Bye!" Dan dalam secepat kilat, ojii-san lalu kabur dari sana, meninggalkan Kaoru berdiri kaku di sisi jembatan. Ketika Kaoru membalikkan badan, sosok itu sudah lenyap dari hadapannya.

Kaoru terdiam, bingung. Ia bukan mengkhawatirkan ojii-san-nya yang kabur, karena dia tahu dengan pasti di mana dirinya bisa menemukan pemuda tersebut. Yang membuatnya bingung adalah fakta kalau ia... tak tahu, apa yang harus dirinya lakukan atau katakan kepada ojii-san. Kaoru tidak pernah pandai menggunakan verbal, apalagi menjelaskan sesuatu. Bagaimana caranya ia bisa membuat ojii-san mengerti situasi yang ia alami?

 

"Sulit, eh."

Suara familiar itu membuatnya menoleh, dan di sana, di sebelahnya, ada ojii-san yang satu lagi, yang lebih dewasa, tanpa kacamata membingkai wajahnya.

"Tamamori-kun tidak tahu situasinya dan pasti kau tidak bisa menjelaskannya dengan benar. Sulit, kan, Kaoru?"

Dengan wajah sedih, Kaoru mengangguk.

"Hhh. Aku masih belum terbiasa melihat mukamu yang lebih tua," ojii-san yang dewasa menggumam jengkel. Ia mengulurkan topeng noh yang sedari tadi dipegangnya kepada Kaoru, "Pakai. Jangan menunjukkan wajahmu serampangan seperti itu."

Kaoru menurut, mengambil topeng tersebut dan memakainya kembali. Topeng yang sudah begitu lama tak ia pakai, namun kala benda itu menyentuh wajahnya, tak ada rasa ricuh atau canggung seolah-olah baru kemarin ia masih memakainya.

Samar perasaan-perasaannya yang lama kembali menyembul pada dasar hatinya. Berbagai macam perasaan yang ia rasakan pada pada ojii-san yang ini. Rasa bergantung, rasa sayang, rasa takut, rasa was-was.

Ia kini ingat alasan kenapa dirinya selalu ragu untuk menampakkan wajahnya. Kenapa ia tak bisa merasa percaya diri tanpa topeng. Alasan yang kerapkali ditanyakan oleh ojii-san yang satu lagi dan tidak bisa Kaoru jawab begitu saja karena ia tidak paham dan tidak ingat.

Kini, ia paham. Kini, ia ingat.

Karena ojii-san-nya yang lama yang menginginkannya begitu. Karena ojii-san yang memerintahkannya begitu. Karena ojii-san selalu nampak seolah-olah merasa bahwa wajah Kaoru adalah sebuah momok yang tak menyenangkan untuk dilihat, dan kerapkali memberinya topeng agar ia tak perlu menunjukkan wajahnya di hadapan ayah angkatnya itu. Karena bagi Kaoru ojii-san adalah dunianya dan segala titahnya adalah mutlak. Segala tindak-tanduknya adalah gerak. Maka, segala hal yang ditanamkan olehnya tertancap erat.

"Aku bisa membantumu, tapi sebelum itu, kau harus jelaskan dulu kepadaku. Semuanya." Nada bicaranya memerintah. Tangannya terulur kepada Kaoru, menanti tersambut,

"Ayo."

Kaoru mengerjap. Sekali lagi perasaan yang begitu familiar. Tangan yang terulur itu adalah tangan yang dulu sangat ia nanti-nantikan. Dan kendati dirinya sempat merasa takut, kini hatinya dipenuhi rasa yang tak ia bisa pahami apa. Dengan senyum tipis pada bibir, Kaoru menyambut uluran tangan itu. Ia merasa seperti tengah kembali pada belasan tahun yang lalu. Saat ojii-san-nya hanya orang ini, dan saat orang ini adalah satu-satunya tempatnya bergantung. Tanpa dirinya sadari genggaman tangannya ia pererat. Perasaan rindu yang terlambat itu membuatnya sesak.

Kaoru baru menyadari, bahwa, ia juga sangat, sangat, sangat merindukan ojii-san yang ini, sosok ayah yang telah merawatnya dan mengajarkannya berbagai hal semenjak kecil.

Maka kakinya melangkah, mengikuti ojii-san kembali ke Umebachidou.

 

Ojii-san tampak waspada, dan setelah memastikan bahwa ojii-san yang satu lagi belum kembali, ia menarik masuk Kaoru kembali ke dalam ruangan. Bukan ke dalam kamarnya lagi, namun turun ke dalam ruang bawah tanah yang gelap nan pengap.

Dengan pencahayaan yang minim, mereka nyusuri jalan bebatuan hingga sampai pada kamar Kaoru di ujung. Aroma anyir kembali terendus oleh hidungnya. Aroma yang dulu begitu biasa ia hirup, kini membuatnya sedikit mual dan tidak nyaman.

Ketika mereka tiba di dalam kamar yang penuh dengan rak-rak tinggi tersebut, ojii-san menyalakan lampu dan melepaskan pegangan tangannya. Pandangannya segera tertuju pada genangan air di atas lantai, dengan pakaian yang tergeletak begitu saja di sebelahnya.

Ekspresi yang terpasang pada wajahnya sulit Kaoru tebak. Sekilas nampak tak banyak berubah, namun samar ada rona kesedihan di sana. Ojii-san membungkukkan badannya, memungut pakaian yang teronggok di atas lantai dan mendekapnya ringan, tak mengatakan apapun.

"Jadi," akhirnya ojii-san membuka suara.

"Ceritakan padaku. Semampumu. Mengenai apa saja yang telah kau alami, dan berapa tahun telah berlalu dari masa kini sampai ke masa depan tempatmu datang."

Maka Kaoru berusaha, semampunya. Dengan pemahaman dan kosa kata yang terbatas, dengan memorinya yang tidak terlalu lengkap. Ojii-san banyak bertanya untuk memastikan, banyak menerka untuk meyakinkan. Hingga akhirnya setelah sesi panjang obrolan berlangsung, Kaoru berhasil menjelaskan kisahnya selama ini secara keseluruhan—kurang lebih.

"Jadi...," ojii-san mendesah, "Kau dan Tamamori-kun—aku di masa lalu, punya hubungan seperti itu?"

Nada bicaranya terdengar kurang senang, sementara Kaoru memiringkan kepalanya. Ia tidak paham apa maksud hubungan seperti itu.

Ojii-san nampaknya segera menyadari bahwa Kaoru tidak paham, jadi ia bertanya ulang. "Seks. Hubungan badan. Seperti itu. Paham?"

"Ah," Kaoru mengangguk mengerti. Dan sekali lagi ia mengangguk untuk membenarkan. Ojii-san menggumam gusar. "Yah..., sudahlah." Ojii-san mengusap wajahnya, "Kalau dipikir lagi, mungkin memang tidak seaneh itu. Lagipula usia kalian juga tidak terpaut terlalu jauh." Ia lalu mengangkat bahu. "Aku tidak heran juga kalau dia seperti itu."

Lantas, ojii-san terkekeh ironis.

"Dengan kata lain, berarti sekarang Hashihime sudah tidak ada lagi pada Tamamori-kun...," setelah menggumamkan itu, ia terdiam, mengusap dagu sambil berpikir sejenak, "—kurasa tak ada artinya mengulur-ngulur segalanya lebih lama lagi. Apalagi situasinya sudah seperti ini, semakin cepat kita akhiri segalanya, semakin baik." ia melirik pada Kaoru, 

"Kaoru. Dengar. Aku akan membantumu, jadi dengarkan perintahku. Paham?"

Kaoru kembali mengangguk. Bahkan, meskipun ojii-san tidak mengatakan akan membantunya, ia pasti akan selalu mendengarkan segala perintahnya.

"Jangan bergerak gegabah di luar petunjukku. Jangan keluar dari ruang bawah tanah sampai kuizinkan... jangan melakukan hal-hal aneh seperti menemui Tamamori-kun untuk sementara waktu. Kau bisa, kan?"

Kaoru terdiam sejenak. Namun sekali ia lagi mengangguk.

"Bagus. Kalau begitu tinggallah di sini sampai aku memanggilmu." Setelah mengatakan itu, ojii-san beranjak dari posisinya, masih dengan pakaian milik Kaoru-nya dalam dekapan, dan meninggalkan Kaoru di ruangan itu, sendirian.

 

Dalam sekejap kesunyian menyergap.

Kaoru duduk di atas ranjangnya, masih dengan topeng Noh lama-nya menutupi wajah. Jari-jarinya menyentuh benda tersebut, merasakan teksturnya yang dingin dan licin, sesuatu yang telah begitu lama tak dirinya lakukan. Indera penciumannya telah kembali terbiasa dengan aroma anyir di dalam ruangan ini. Tatapannya ia edarkan pada kamar lamanya yang tak pernah lagi ia tempati semenjak ojii-san-nya yang lama digantikan oleh ojii-san-nya yang baru.

Kaoru kembali lagi menyadari, bahwa seberbeda apapun keduanya, meskipun ojii-san-nya yang lama tidak memperlakukannya sebaik ojii-san-nya yang baru, Kaoru tetap tidak akan pernah bisa berhenti untuk menyayanginya.

Ia... tidak mau lagi kehilangan. Keduanya; baik ojii-san-nya yang lama maupun ojii-san-nya yang baru.

Kalau ojii-san-nya yang lama berniat untuk mengakhiri segalanya... apa itu berarti, momen kematiannya akan datang tidak lama lagi?

Bisakah ia menjegahnya?

Dirinya, yang seperti ini?

Bisakah?

 

—Bersambung