Actions

Work Header

Sampai Jadi Debu

Work Text:

Tamamori telah melihat Minakami mati sepuluh kali.

Namun, dalam mimpi-mimpi buruknya setiap malam, ia melihat Minakami mati ratusan kali.

Kadang ia bermimpi bahwa Hashihime tidak nyata. Tidak ada. Bahwa Minakami akan mati begitu saja tanpa dirinya tahu kenapa. Dalam mimpi-mimpi buruknya, kadang Minakami tenggelam. Kadang ia jatuh pada jurang dalam. Kadang ia tiba-tiba limbung tanpa bernapas lagi. Kadang kepalanya ada, kadang tidak ada. Kadang ia menghilang dan tidak bisa ditemukan.

Kadang ia menggantung dirinya sendiri. Kadang ia menikam dirinya dengan benda apapun yang bisa ia temukan. Kadang ia mengucapkan selamat tinggal dan kadang tidak. Kadang—

—kadang Tamamori bahkan tidak lagi yakin, mana yang mimpi dan mana yang tidak.

Tiap kali dirinya terbangun, Tamamori harus meyakinkan dirinya bahwa ini-lah yang nyata. Bahwa ini bukanlah mimpi, bahwa Minakami yang tampak terlelap di sebelahnya sungguhan masih hidup dan bernapas.

Kadangkala pula ia bertanya-tanya apa mungkin bahwa semua ini sungguhan nyata? Bahwa dirinya bukanlah hanya ada di dalam mimpi sebuah embrio yang sedang berada di dalam kandungan ibunya, seperti dalam novel Dogra Magra?

Tiap pikiran-pikiran itu muncul dalam benak Tamamori, seolah bisa merasakan, Minakami akan terbangun, dan dengan wajah mengantuk, senyum lembut itu terlengkung pada sudut bibirnya seperti biasa seraya tangannya meraih pinggang ramping Tamamori, dan bertanya lirih,

"Mimpi lagi?"

Tamamori hanya akan mengangguk, mempersempit jaraknya dengan Minakami seraya membenamkan wajahnya pada leher teman masa kecilnya itu. Dengan suara lelah, ia hanya akan menggumam,

"Kalau sampai kau mati lagi, kali ini,"

"—aku akan ikut mati menyusulmu. Jadi—awas saja."

Masih dengan wajah yang mengantuk, Minakami akan tersenyum, lalu mengangguk dan membisik balik,

"Satu-satunya alasan aku akan mati lagi hanya kalau kau tidak ada di dunia ini, Tamamori."

Kalimat itu singkat, tapi, setidaknya mampu membuat Tamamori sedikit lebih tenang. Lalu perlahan tapi pasti, matanya akan kembali tertutup, terlelap, napasnya akan naik turun teratur dengan kecemasan yang telah hilang pada wajahnya.

Lantas, dalam sisa mimpinya pada malam itu, Minakami tidak akan mati lagi.

Meski malam-malam seperti ini akan terus berulang, mungkin berkali-kali, berkali-kali, berkali-kali. Tamamori tidak perlu lagi merasa cemas. Karena dia tahu, Minakami akan selalu ada di sisinya untuk menghapus kecemasannya itu. Dan akan terus berlangsung seperti itu.

END.