Actions

Work Header

Raksasa Hijau

Work Text:

RAKSASA HIJAU

 

Rimba Kala Manthana dan Jimbe adalah
kepunyaan Tim NusantaRanger

Rate T, friendship/supranatural, semi AU:
hutannya beda

Sebagian besar tulisan ini pernah dimuat
sebagai cerita bulanan di grup Kastil Fantasi
web Goodreads tanpa memasukkan unsur
NusantaRanger-nya

-o0o-

Suara gemuruh itu menenggelamkan semua
suara-suara lain: suara jangkrik mengerik,
suara serangga lain, cericitan kelelawar,
burung hantu ber-uhu-uhu, lolongan anjing
hutan. Dan suara-suara jeritan—antara
kaget, takut, dan putus asa—manusia.
Tapi tak lama.
Begitu suara gemuruh itu berhenti, keadaan
normal kembali. Cericitan kelelawar, kerikan
jangkrik, uhu-uhu burung hantu, lolongan
anjing hutan.
Seperti biasa.
"Sudah sampaaaaaai," seru seorang bocah
sekitar sepuluh tahunan, melompat turun dari
angkutan desa.
"Hati-hati turunnya," seniornya memperingatkan.
Satu-demi satu bocah sepuluh tahunan keluar
dari angkutan desa bersama ransel mereka.
Tujuh anak—tiga anak perempuan dan empat
anak laki-laki—plus dua seniornya, kak Arya dan
kak Ami. Di pinggir jalan berkelok di kaki gunung
itu terpampang papan nama besar: 'Bumi
Perkemahan' berlatar barisan pohon pinus.
Semakin jauh dari jalanan, barisan pohon pinus
digantikan oleh hutan biasa, bermacam
pepohonan yang lebat.
Dipimpin kak Ami, anak-anak berbaris masuk ke
bumi perkemahan.
"Kenapa di sini pohon-pohonnya masih kecil?"
salah satu bocah spontan bertanya.
"Dan yang di sana, justru cuma tinggal tunggul-
tunggulnya saja, kak?" bocah satunya lagi
bertanya.
"Pohon-pohon yang sudah besar, ditebang. Lalu
tanahnya ditanami lagi. Makanya ada sebagian
tanah yang masih penuh tunggul, belum
dibersihkan. Ada juga sebagian tanah yang
sudah mulai ditumbuhi lagi," sahut kak Ami.
"Pohonnya ditebang untuk apa?" bocah lain lagi
bertanya.
"Untuk apa coba?" tanya kak Arya.
Anak-anak terdiam.
"Pabriknya barusan kita lewati—" pancing kak
Ami.
"Untuk bikin kertas?"
"Pinter kamu, Hari!"
"Berarti enggak apa-apa dong kita buang-buang
kertas, kan sebenarnya pabriknya menanam
pohon lagi?" Hari mengejar.
Kak Arya tersenyum. "Akan lebih baik jika kita
menghemat kertas. Lagipula, hutan pinus buatan
manusia kan berbeda dengan hutan biasa. Coba
kenapa?"
"—hutan pinus cuma satu macem pohonnya—"
"—hutan pinus enggak ada harimaunya—"
"—hutan pinus enggak gelap seperti hutan biasa
—"
Anak-anak berebutan menjawab. Kak Arya dan
kak Ami tertawa.
"Oke, nanti kita terangkan di depan api unggun.
Sekarang, kak Arya mau lapor dulu ke Jagawana,
dan kak Ami akan membagi tugas untuk mencari
ranting, mengambil air, dan kemudian kita akan
sama-sama mendirikan tenda."
Mereka sudah sampai di lokasi. Tidak begitu
jauh dari sebuah rumah yang terbuat dari kayu
gelondongan. Sepertinya rumah itu pusat
kehidupan di hutan itu: ada beberapa bapak-
bapak berseragam Jagawana, ada orang-orang
yang sepertinya penebang kayu dengan gergaji
atau gergaji mesin di tangan berikut gulungan
tali disampirkan di bahu, berseliweran.
Kak Arya meletakkan ransel dan gulungan tenda
yang sedari tadi dibawanya. Kak Ami
mengisyaratkan agar anak-anak mengumpulkan
ranselnya di sana, lalu membagi tugas.
Memasuki rumah kayu, sepertinya kak Arya
sudah terbiasa di sana, saling bertukar sapa.
Salah satu Jagawana mengeluarkan sehelai
formulir dan kak Arya langsung mengisinya.
"Bawa anak-anak lagi, Arya?" tanya Jagawana
yang tadi.
"Iya, pak Amir."
"Senang kalau semakin banyak anak mencintai
hutan," gumam pak Amir, "jangan sampai mereka
tidak mengenal hutan hanya karena tinggal di
kota—"
"Betul sekali, pak Amir," kak Arya menyetujui.
Setelah menyelesaikan administrasi, kak Arya
kembali ke kumpulan bocah-bocah, dan mulai
bekerja bersama-sama: memasang tenda,
menyusun kayu untuk api unggun dan
menyalakannya saat sudah masuk malam,
memasak makan malam. Seru sekali!
Di depan api unggun mereka makan, lalu main
game, bernyanyi-nyanyi, kak Arya atau kak Ami
bercerita tentang hutan, bernyanyi-nyanyi lagi,
main game lagi, hingga tak terasa sudah jam
sepuluh malam.
"Sudah larut, sekarang kita tidur dulu semuanya!"
"Yaaa, kan masih seru—"
"Besok kan kita mau menuju air terjun! Ayo,
siapa yang mau pipis dulu?" kak Ami berdiri,
membuat anak-anak yang lain berdiri juga, ikut
menuju toilet.
Tak lama kemudian, tenda-tenda itu sudah sepi.
Rumah kayu itu juga sepi.
Hanya ada suara jangkrik mengerik, kelepak
kelelawar berpindah dari satu dahan ke dahan
yang lain, burung hantu ber-uhu-uhu.
Tapi hanya untuk beberapa saat, karena
kesunyian terpecah dengan suara halus pintu
tenda terbuka.
"Sssh, hati-hati," bisik sosok yang keluar
pertama dari tenda.
"Jangan cepat-cepat, Har!" sahut sosok satunya
lagi, juga berbisik. "Kau yakin kak Arya sudah
tidur?"
Hari mengangguk.
Keduanya tak berbicara lagi, keluar dan
mengendap-endap. Berjalan menuju ke arah
hutan—hutan betulan, bukan hutan pinus nan
teratur. Bayangan mereka masih terlihat, masih
berada dalam lingkup cahaya lampu dari sudut
rumah kayu.
Beberapa menit kemudian mereka sudah nyaris
sampai ke hutan, semakin gelap karena lepas
dari jangkauan lampu.
"Senternya, Fan!"
Hari dan Irfan mengeluarkan senter masing-
masing.
"Kita tidak akan jauh-jauh kan, Har?"
"Enggak lah. Cuma liat-liat aja. Kata kak Arya
ada jalan setapak, kita ikuti saja, enggak akan
tersesat."
Perlahan mereka memasuki hutan itu. Betul saja,
ada jalan setapak di situ, yang sangat menolong
karena pepohonan semakin ke dalam semakin
rapat, entah pohon dengan pohon, atau pohon
dengan semak.
"Ih!" nyaris Irfan menjerit. Ada sesuatu
menyentuh hidungnya.
"Fiuh. Kelelawar terbang rendah. Kukira apa—"
Hari terkekeh pelan.
Mereka maju lagi perlahan, menyusuri jalan
setapak. Kadang tersandung akar menjalar,
kadang terantuk cabang melintang. Hari berjalan
antusias, matanya melihat ke sana ke mari. Irfan
maju dengan takut-takut.
"Katanya—hutan ini angker, Har," Irfan berbisik.
Hari terkekeh pelan. "Tadi kan kak Arya sudah
bilang, orang dulu itu sering bilang hutan angker,
biar enggak ada yang masuk, biar enggak ada
yang menebang pohonnya. Makanya hewan-
hewan terlindungi, mata air juga tetap terjaga."
BRUK!
Tiba-tiba Hari menghentikan langkahnya,
sementara Irfan yang tidak siap, menubruk
rekannya.
"Apaan, Har?" bisik Irfan.
Hari menoleh kiri-kanan. Melihat di sebelah kiri
ada semak, dengan celah sedikit untuk
bersembunyi.
"Ssst," sahutnya memberi isyarat pada Irfan
agar mengikuti. Hari mematikan senternya, dan
masuk ke celah-celah semak. Tanpa suara Irfan
mematikan juga senternya, dan mengikuti Hari,
menyelinap ke semak-semak.
Baru saja Irfan akan bertanya ada apa, lamat-
lamat terlihat cahaya beberapa senter dari jalan
setapak. Tak jelas, ada juga suara obrolan lirih.
"Kau jenius, Din," sahut orang yang berjalan di
depan, "dengan menebang pohon dekat lokasi
penebangan pinus, nanti saat pengangkutan
kayu, tidak akan ada yang curiga. Tambah satu
truk, dan semua akan mengira truk itu truk
pabrik. Keluar dari sini aman jadinya, hahaha!"
"Heran, kenapa tidak ada yang punya ide itu dari
dulu ya? Kita bisa tambah kaya pelan-pelan
karenanya. Pohon-pohon di sini besar-besar!"
orang satunya lagi menimpali.
"Kata orang-orang di sini, hutan ini angker.
Makanya enggak ada yang berani menebang.
Tapi, seperti kalian lihat sendiri, tak ada apa-apa
di hutan ini. Tak ada harimau atau binatang apa
gitu, cuma binatang-binatang kecil saja," sahut
orang yang dipanggil Din itu.
Orang-orang itu melewati semak-semak tempat
Hari dan Irfan bersembunyi dengan terus
bercakap-cakap. Percaya diri: akan menebang
pohon-pohon terbesar dengan aman dan dengan
demikian akan membuat dompet bertambah
tebal.
Sudah agak jauh, Hari keluar dari semak, diikuti
Irfan. Kaki Irfan sudah otomatis saja akan
membawa mereka kembali, ketika ia melihat,
Hari justru akan melangkah mengikuti
rombongan tadi.
"Hari! Kau mau ke mana?" bisik Irfan, "lebih baik
kita segera kembali—"
Tapi Hari sudah melangkah.
Segan-segan, Irfan mengikuti.
"Kalau kita ketahuan bagaimana? Lebih baik kita
kembali dan bilang ke kak Arya, biar dia yang
lapor pada Jagawana—"
Hari tak menjawab, meneruskan melangkah.
Mereka tidak menggunakan senter, hanya
mengikuti cahaya senter rombongan di depan
yang terlihat samar-samar.
"Kau tidak lihat? Mereka bawa golok besar,
gergaji, gergaji mesin, kalau kita tertangkap—"
GEBRUUM!
Suara gemuruh diikuti guncangan seperti gempa
bumi memaksa Hari terhenti. Jalan mereka saja
sudah sempoyongan, seperti ada yang melempar
ke samping.
GEBRUUM!
Guncangan itu lagi, dan kali ini Hari dan Irfan
jatuh terguling, bagai dalam mangkuk yang
digoyangkan.
Irfan sudah akan membuka mulut ketika Hari
berbalik dan meletakkan jari di bibir,
menyuruhnya diam. Perlahan Irfan merayap
mendekati. Mereka berdua dalam posisi tiarap.
Terlindung semak-semak, pemandangan yang
ada sungguh tak akan terlupakan!
Orang-orang yang tadi melewati mereka, sedang
mengelilingi sebatang pohon yang sangat besar.
Seorang mengukur keliling pohon itu, yang lain
mulai memasang tali-tali penahan untuk
pengaman, yang lain lagi sedang menyiapkan
gergaji mesin, sementara sisanya menyorotkan
senter besar untuk cahaya.
Tapi ada yang lain yang tak akan bisa dipercaya
Irfan dan Hari!
Suara itu terdengar bergemuruh, disusul
goncangan yang keras. Tanah di sekitar pohon
raksasa itu membelah. Akar-akar pohon itu
bergerak, keluar dari timbunan tanah.
Orang-orang di sekitar pohon itu terhenti.
Terdiam. Terpaku. Membeku.
GEBRUUMM! GEBRUUM!
Suara gemuruh itu terdengar terus saat akar-
akar yang keluar dari tanah itu terangkat tinggi-
tinggi, menuju tepat pada orang-orang yang
mengelilingi pohon raksasa itu. Persis seperti
telapak kaki raksasa, beberapa orang 'diinjak'
diikuti suara berderak.
'Telapak kaki' itu bergerak mundur tanpa
mengangkat, menyeret beberapa orang ke bawah
tanah, kembali ke tempat akar itu tadi berada.
Masih ada beberapa orang lain, 'telapak-telapak
kaki' dari arah yang lain juga berlaku serupa,
'menginjak' lalu menyeret mereka. Bagai
mengubur mereka ke bawah pohon.
Satu dari mereka sempat lari, tapi akar gantung
pohon itu dengan mudah meraihnya,
melemparnya kembali ke dekat pohon raksasa
itu, dan kembali 'telapak kaki' menyeretnya.
Suara gemuruh itu menenggelamkan semua
suara-suara lain: suara jangkrik mengerik, suara
serangga lain, cericitan kelelawar, burung hantu
ber-uhu-uhu, lolongan anjing hutan. Dan suara-
suara jeritan—antara kaget, takut, dan putus asa
—manusia.
Tapi tak lama.
Begitu suara gemuruh itu berhenti, keadaan
normal kembali. Cericitan kelelawar, kerikan
jangkrik, uhu-uhu burung hantu, lolongan anjing
hutan.
Seperti biasa.
Irfan dan Hari hanya bisa melongo dalam waktu
beberapa menit. Tak bisa berbuat apa-apa. Tak
bisa berbicara sepatah katapun.
Apalagi kemudian pohon raksasa itu
merundukkan batangnya yang sungguh sangat
besar, ke arah mereka berdua bersembunyi.
Irfan dan Hari hanya bisa pasrah. Menutup mata
masing-masing.
HRMM!
Keduanya membuka mata terkejut.
Hari bersumpah bahwa dalam kegelapan itu,
bahwa di antara dahan-dahan berdaun yang
membungkuk padanya dan pada Irfan, ia melihat
sepasang mata bulat besar sedang memandang
mereka berdua. Batang pohon raksasa itu punya
mata!
Dan sebelah matanya mengedip jenaka pada
mereka berdua.
Dengan suara gemerisik batang pohon itu
menegakkan diri kembali. Tak ada yang
bergerak. Persis seperti keadaan hutan tadi lagi.
Suara serangga. Suara burung malam. Kelepak
kelelawar.
Bahkan gergaji dan entah apa lagi yang dibawa
orang-orang tadi itupun sudah 'dibereskan' ke
bawah tanah, ke bawah akar-akar raksasa.
Dengan sisa-sisa keberanian yang mungkin
masih ada, Hari menarik Irfan berdiri, berbalik
lalu berlari ke arah mereka datang tadi.
Syukurlah Irfan kemudian malah terpikir untuk
menyalakan senter hingga mereka bisa tiba
dengan selamat keluar dari hutan besar, tiba di
hutan pinus.
Terengah-engah kemudian mereka berusaha
mengembalikan napas agar teratur, baru
perlahan mereka menyelinap kembali ke tenda.
Agak lama baru mereka bisa dipeluk dewi mimpi.
"Banguuuuuun! Ayo banguuuun!" suara kak Arya
membukakan mata mereka. "Hawa dingin
memang membuat tidur lebih pulas ya," kak Arya
terkekeh. "Ayo bangun, cuci muka dan sikat gigi,
yang mau pipis, pipis dulu! Lalu bantu kak Ami
menyiapkan sarapan, setelah itu kita sama-sama
pergi ke air terjun—"
Anak-anak bangun dan mengucek mata. Mencari
sikat gigi di ransel masing-masing, lalu bergiliran
ke kamar mandi.
"Irfan," Hari berbisik, "aku tadi malam bermimpi,
kita bertemu dengan pohon raksasa—"
Irfan mengerutkan kening, "—dalam mimpiku tadi
malam juga kita bertemu dengan pohon raksasa
—"
"—dan penebang-penebang pohon liar?"
Irfan mengangguk, "—dan mereka dilenyapkan
oleh pohon raksasa itu ke dalam tanah?"
Giliran Hari mengangguk.
Keduanya bertatapan. "Mimpi kita sama?"
"Ayo Irfan, Hari, ke kamar mandi dulu—" suara
kak Arya dari luar tenda terdengar menyuruh
agar lekas bergerak. Kedua anak tadi berdiri,
bermaksud akan keluar dari tenda. Hari menatap
pakaian Irfan, begitu pula sebaliknya.
Mereka tidak bermimpi.
Pakaian mereka kotor, bak yang habis tiarap di
tanah. Ujung jaket Irfan malah ada yang berlapis
lumut, seperti habis tersandar di pohon.
Mereka tidak bermimpi.
Tanpa suara, mereka keluar, cuci muka dan
gosok gigi, lalu membantu kak Ami menyiapkan
sarapan. Tak berbicara juga mereka
menghabiskan sarapan, lalu bersiap-siap untuk
berjalan ke air terjun.
Melewati rumah kayu, sudah banyak orang-orang
di sana, sepertinya penebang-penebang kayu.
Sepertinya ada masalah di sana, karenanya kak
Arya menyapa, sekedar basa-basi.
"Selamat pagi, bapak-bapak! Ada apa?"
"Hei, nak Arya!" pak Amir menjawab sapaan kak
Arya, "biasalah, kekurangan orang. Satu tim
penebang biasanya sepuluh orang, ini salah
satunya tidak datang. Biasanya sih tidak
masalah, ada banyak yang bisa menggantikan,
tapi ada yang lihat si Udin ini kemarin pulang
bawa gergaji mesin. Jadi gergajinya kurang satu
—"
Kak Arya mengangguk. "Semoga cepat
ditemukan ya, pak!"
"Kalian akan ke air terjun?"
Anak-anak menjawab 'Ya Paaak' serempak
dengan antusias, disambut dengan kekeh pak
Amir.
"Hati-hati di sana ya, selamat bersenang-
senang!"
"Baik Paaaak!"
Air terjun itu terletak di sisi sebelah utara hutan
besar. Mereka berlari-larian di air, tertawa-tawa,
bernyanyi-nyanyi di sana.
Entah mengapa, tiap kali melihat batang-batang
pohon besar ini, Hari dan Irfan seperti melihat
sepasang mata, sepasang tiap pohon, mata yang
ramah, mata yang jenaka, dan mengedip pada
mereka, sambil tersenyum.
Malam kembali tiba ketika seorang pemuda
menelusuri jalan setapak yang sama dengan
yang ditelusuri bocah-bocah kemarin. Bedanya,
pemuda ini bahkan tak memerlukan senter.
Seperti sudah hapal lokasi. Mungkin berjalan
sambil mata ditutup juga ia bisa di sini.
Ia berhenti di depan pohon yang sama dengan
yang kemarin. Pohon yang dilihat Hari dan Irfan
'menelan orang-orang'. Pohon yang punya mata.
Yang mengedipkan matanya pada Hari dan Irfan.
Pemuda itu membetulkan gagang kacamatanya
yang melorot sedikit, lalu berdeham. Tangan
kanannya bertumpu pada batang pohon.
"Jimbe-"
Pohon besar itu seperti terbangun dari tidur:
dahan-dahannya bergerak, 'mata'-nya
membuka, dan begitu ia melihat siapa yang
datang, pohon itu tersenyum lebar.
" Rimba."
Tak ada yang bisa mendengar suaranya, kecuali
Rimba.
"Kudengar ada orang yang hilang lagi-"
Pohon itu tersenyum lebih lebar.
"Aku-khawatir, Jimbe!"
Akar-akar gantungnya bergoyang. "Khawatir
akan apa? Lagipula, orang-orang yang
kumusnahkan itu orang-orang jahat.
Berbahaya bagi kelangsungan hidup hutan."
"Aku tahu itu. Aku tak suka itu, aku tak suka
pembunuhan. Tapi, kita kesampingkan saja dulu.
Bukan itu yang aku khawatirkan."
Rimba menelan ludah.
"Aku khawatir akan dirimu, Jimbe!"
" Aku bisa menjaga diri, Rimba!"
"Lima atau sepuluh orang mungkin bisa kau
hadapi. Tapi bagaimana kalau lebih? Akan tiba
masa di mana kau harus menghadapi lebih
banyak orang dengan peralatan lebih lengkap-"
Keduanya terdiam.
" Jika saatnya tiba," pohon itu memecah
kediaman mereka berdua-sendiri sih, karena
hanya Rimba yang berkata-kata jelas, "aku akan
berjuang sampai titik penghabisan, Rimba,
seperti yang biasa kita lakukan."
"Dan aku akan kehilangan sahabat lagi seperti
dulu? Jimbe, aku sudah kehilanganmu,
kehilangan wujud manusiamu. Akankah aku
kehilangan wujud ruh-mu?"
Pohon itu tersenyum lebar.
" Wujud ruh-ku tak bisa dimusnahkan, Rimba!
Pohon tempatku bersemayam bisa
dihancurkan, tapi ruh-ku tidak. Aku bisa
mencari pohon lain lagi, atau bahkan
menggunakan wujud hewan, apapun-"
Rimba menghela napas panjang.
"Bagaimanapun, berhati-hatilah-"
" Tentu. Oya, kemarin aku bertemu dua bocah
pemberani. Kukira mereka bisa jadi penerus
pecinta hutan, pecinta lingkungan..."
Malam semakin larut, semakin kelam. Tapi
persahabatan kekal selamanya.

 

FIN