Actions

Work Header

the other half of my orange

Chapter Text

“Ya gimana aku enggak deg-degan, kamu cium aku begitu tiba-tiba... kamu tahu aku lagi pundung, ya?”

Itu kata-katanya, merespons “aku bisa juga ya bikin kamu deg-degan” yang kukatakan pada suatu malam berpurnama sempurna.

Kalau lo berpikir setelah gue bisa mencium Wooseok dua kali (bukan di bibir) menggagalkan upaya move on gue, lantas bikin hubungan kami berubah banyak, samalah GR dan salahnya kayak gue. Malam itu momentum memorable cuma buat gue seorang.

Hubungan kami masih begini-begini saja walau kadang, ada satu-dua hal yang gue lakukan bikin dia mendadak jaga jarak. Jantungnya berdetak. Pucat di pipinya luntur oleh rona merah.

          Gue pikir itu karena dia akhirnya sadar kehadiran gue di sekitar dia, tapi setelah gue perhatikan baik-baik... kayaknya, sebenarnya akhir-akhir ini dia malah enggak nyaman dekat gue. Canggung, yang malah gue artikan salah tingkah.

Jadilah gue juga keder. Daripada kehilangan Wooseok, mending mundur bubar jalan. Mengatur lagi kedekatan kami seperti waktu itu. Saling jitak dan tendang. Perang saling membetot dan melilit otot. Traktir satu sama lain. Ledek-ledekan. Jadi gue bisa bebas memeluk dia atau kami saling bersandar. Seperti kakak-adik atau sahabat yang kekentalan kadar bromance.

Mungkin yang berubah adalah dia jadi lebih sering menginap di tempat gue. Dia sudah enggak mau tidur melasak, mengiler, dan dempet-dempetan sama gue lagi. Kadang dia terkapar di sofa, gue suka enggak tega. Jadi gue pindah dia ke kasur, gue menggelar kavling pakai matras atau kasur tipis di bawahnya.

Besok paginya, dia sudah jatuh menyungsep ke atas gue. Bikin orang bangun  jantungan. Tapi malaikat banget sih muka tidurnya itu, batal marah lah orang jadinya. Dan lagi, cuma saat ini dia mau memeluk (menjadikan gue guling sebenarnya) tanpa menatap khawatir ke gue, seolah sudah melakukan kesalahan besar.

Gue pura-pura menjorokkan dia ke kolong tempat tidur. Membiarkan Wooseok menendang betis gue, yang balik gue sepak kakinya. Meloyor kamar mandi. Sengaja pasang shower keras-keras sampai airnya seret.

Serius, ini apartemen sudah enggak kondusif lagi dengan aliran air selalu macet. Bayangkan kalau lagi di kamar mandi, habis lepas semuanya, enggak bisa disentor karena paceklik air.

Kalau bayar sewa apartemen lagi, sayang. Lagi pula, dekat apartemen gue ada konstruksi proyek pembangunan LRT dan gedung baru sekaligus. Baru-baru ini mereka mengebor tanah untuk pasang pasak rangka gedung, gue baru pulang dari pub sama Wooseok lagi. Berakhir gue tumbang pingsan dengan telinga berdarah-darah.

Ya salah gue, sih. Macan Gangnam buas banget malam itu. Speaker pub tempat kami biasa nongkrong diganti baru, bass stereo ditambah gitar elektring yang digenjreng keras-keras dan anehnya orang-orang pada enggak bindeng.

Mungkin sebab X faktor lain? Ada bintang tamu. Hwasa dan Solar meliuk-liuk di pole-dance. Pengunjung histeris macamnya kaum papa enggak pernah kebagian sumbangan baksos.

Wooseok sudah mengajak balik, tapi karena enggak enak sama teman-teman, gue tetap bertahan. Dia menang, toh. Padahal gue ngotot bilang enggak apa-apa. Mungkin gue kesal lebih daripada yang bisa ditahan, karena dia lagi-lagi melamun memandangi Seobin dalam mode PK.

Gue pasti mesti jadi munafik, bakal menghibur, mendukung, bahkan mengusahakan dia buat jadian dengan Seobin, semisalkan dia curhat ke gue dan minta bantuan buat PDKT sama Seobin. Tapi Wooseok enggak pernah ngomong soal Seobin, enggak minta tolong didekatkan sama lucky bastard itu, enggak juga dia minta ditemani atau apalah supaya bisa move on.

So we’re back to the square one.

Gue akhirnya bergabung dengan Seungwoo, merayap ke dekat panggung. Bass-nya kayak suara ngeden paus. Kencang kelewatan. Gue menceracaukan rap terakhir isinya patah hati, loncat-loncat ke rap tentang kancil dan buaya, tertawa keras frustratif mengingat Wooseok komentar kenapa lirik rap-ku hanya patah hati. Akhirnya, gue improvisasi lirik ngaco, beralih tentang reaksi anarki gue tiap ada petir atau ledakan kembang api.

Paduan bunyi bising itu bikin gue error. Terancam tuna-rungu permanen. Tapi sialannya (sayangnya), meski tsunami suara itu menghantam dan mestinya menggerus hal-hal lain, mau gue ini clairaudience atau enggak, orang biasa manapun yang jatuh cinta pasti peka kalau dengar suara orang yang dia sayang.

Begitulah ketika Wooseok memanggil khawatir dan meraih gue, menyeret gue yang berceracau ribut segala hal yang terdengar malam itu. Dia yang paling mengerti dan merahasiakan kalau gue sudah sampai batas maksimum.  

Membawa gue pulang, entah dia bicara apa menanggapi ocehan gue yang lebih parah dari orang teler. Mengangon gue yang menguik lebih resek dari domba menuntut dikasih rumput, sementara dia penggembala manis penyabar yang menggiring gue  dari terminal bus sampai kompleks apartemen.

Menurut kesaksiannya, saat itu kami lewat jalan biasa. Tiba-tiba tanah bergetar. Dikira gempa. Ternyata wilayah konstruksi dengan edan kerja malam-malam, peduli setan demonstrasi tetangga dan tangis anak-anak bayi. Mereka digaji untuk kejar tenggat waktu demi professional fee.

Suara bor dan tanah bergelegak jadinya yang tidak diduga itulah yang bikin gue kejang-kejang. Mimisan,  telinga berdarah-darah konstan. Gue kolaps di pelukan Wooseok yang panik setengah mati, takut gue mati kehabisan darah.

Dia membawa gue ke IG rumah sakit terdekat. Saking stressnya, dia tidak mengabari keluarga atau teman-teman kami. Menunggui manusia akal pendek ini diobati dokter jaga. Tertekan berat saat menjawab apa yang terjadi pada gue, tapi Wooseok bersumpah hanya bilang telinga pasien satu ini cuma sedikit lebih sensitif dari kebanyakan orang.

Dia enggak yakin dokter percaya soal clairaudience, dan kalaupun iya, yang ada kemampuan psikometri dari kelebihan otak bagian indra pendengaran, mungkin gue bakal dijadikan tikus percobaan. Bisa saja para dokter dan ilmuwan dapat memetakan bagian kemampuan otak ini yang sampai sekarang, sains belum mampu menjelaskan karena masih terbatasnya ilmu tentang otak secara benar-benar menyeluruh.

Sialnya begitu gue siuman, gue malah refleks menarik lengan yang jadi bantal tidur Wooseok. Masih ingat kekesalan semalam. Sikap yang sangat gue sesali, karena dia merutuk begitu terjeduk ke pembatas tempat tidur. Gue masih enggak ada beda sama hangover, horror begitu melihat kausnya masih berlumuran darah gue.

Hal yang paling menyesakkan, pas dia terbata-bata bertanya apa aku baik-baik saja. Terdiam begitu lama. Gue pun tergeragap mohon maaf. Dia mengangguk pelan, menelungkupkan kepala di lengan gue lagi.

Gue sama dia berakhir diam-diaman, tapi bukan yang terasa nyaman.

Setelah memastikan gue baik-baik saja dan diperbolehkan pulang oleh dokter, tidak perlu opname, diagnosisnya hanyalah anemia karena kelewatan kelelahan (ini benar juga, sih, karena gue memang baru pulang lagi dari Jepang langsung mengokekan datang ke klub), Wooseok jadi lebih galak dari singa betina melindungi anak.

Ia memaksa gue untuk tinggal di apartemennya. Merawat gue, memastikan asupan nutrisi dan gizi seimbang, paranoid bolak-balik mengecek hidung  lebih-lebih telinga. Berhubung dia di antara pagi dan malam tidak bisa bersama gue, karena sudah boleh bekerja lagi di rumah sakit sebagai teknisi peralatan biomedis.

Dia juga segalak induk kucing yang anaknya diutak-atik orang, tiap mengeplak tangan gue yang mau mengambil obat tetes telinga darinya. Menyuruh gue berbaring di pangkuannya, meneteskan obat telinga itu dua hari sekali. Tiap pagi dan malam tanpa absen.

Wooseok menahan gue supaya berbaring, bergeming, selama bermenit-menit di pangkuannya. Dokter menyarankan demikian, agar obat meleleh masuk ke dalam. Padahal bunyi tetes obat telinga itu bikin jantung gue berderap stress. Suaranya intens, kayak telinga kemasukan air kalau orang berenang.

Ternyata ada yang lebih bikin gue meleleh daripada bayangan pulang ke rumah, mendapati Wooseok nyanyi-nyanyi sambil joget loncat-loncat di atas ranjang. Kayak begini, walaupun gue mesti menderita dengan aliran obat tetes merasuk ke dalam gendang telinga, tapi gue enggak bisa marah dan teriak lama-lama.

Ya gimana bisa ngambek, kan kalau disuruh berguling, mau enggak mau Wooseok mendekapkan wajah gue ke perutnya. Mesti diam lama pula.

Sesekali gue mengintip reaksinya. Tenang-tenang saja. Seperti adik kecil mengurus kakaknya yang petakilan dan sedang sakit. Meski serasa ada perampok menggeratak hati, tapi terpaksa gue tahan. Demi mendengar dentang jantungnya yang tenang, hela napas panjang, dan gemersik jemari Athena itu menyisir rambut gue.

Pernah sekali gue bangkit. Wajah kami persis berhadapan. Dia berpaling duluan dengan debaran di dada yang pasti terasa sakit, tampak memucat dan mendorong gue menjauh. Menyerukan untuk delivery dakbal, ayam goreng, dan cola. Persetan makan malam bergizi tinggi.

Heran kan. Cinta sudah begini masih saja dipertahankan. Gue cuma enggak bisa membayangkan dia enggak ada di hidup gue. Mungkin karena persepsi gue tentang kesepian sesempit ketiadaan Wooseok sebagai titik sentral. Ini perlu didesentralisasi, karena... gue juga enggak bisa membayangkan, ada masa depan di mana Wooseok bisa menatap gue berbeda. Sebagai lelaki yang dia cinta. Meski sekali saja.

Gue memantapkan keputusan.

/ * /

Gue enggak bisa bergantung sama Wooseok selamanya. Tapi, tetap stay di apartemen selama proyek konstruksi RLT dan gedung berlangsung 6 bulan sampai setahun, bisa bikin gue error dan kolaps tiap waktu. Selain potensi budeg selamanya, gue bisa mati di tempat.

Sebentar lagi kepala tiga. Karir gue stabil, dan akan gue usahakan terus menanjak. Calon teman hidup memang belum ada, baguslah. Biar gue melepas Wooseok yang sudah nyaris 2 dekade di hati ini perlahan-lahan. Gue enggak mau seseorang yang nanti akhirnya bisa saling mencintai sama gue, malah jadi pelampiasan. Lagian, tabungan sudah cukup, untuk apa lagi ditunda-tunda?

Jadilah gue termangu memandangi brosur perumahan, selepas berkoak-koak demi 3 episode animasi di studio. Bertandang ke salah satu kantor real estate bernama Yoppeongi, masih hijau dalam bisnis properti. Namun, ada banyak diskon, promosi, serta cicilan menjanjikan.

          Gue harus pintar-pintar pilih rumah, sudah dengan perabot atau belum. Enggak bisa sembarangan mengambur-hamburkan dana. Tidak usah besar-besar tapi fasilitas mesti lengkap. Spasius ruangan bisa diakali kalau konsultasi dengan interior designer. Bagaimanapun, pasti ada banyak perabot dan properti rumah tangga yang mesti gue beli.

“Jinhyuk-ssi?”

Panggilan dengan logat asing itu bikin gue kayak bocah kencur kepergok nonton blue-film. Gue menghela napas keras melihat siapa yang menyapa. Lega. Rekan kerja di satu agensi voice-actor yang sama.

“Miyawaki-san. Kukira siapa.” Gue membalas bungkukan sopannya. “Kok bisa ada di sini?”

“Eeeh... kan aku sudah cerita?” Sakura menelengkan kepala. “Aku diminta agensi mengajar di Baldeopgang Art Institute untuk seni akting tarik suara.”

Gue mengangkat alis tinggi-tinggi. “Enggak. Setahuku, kita dapat tawaran kerja jadi main-couple protagonist untuk long-time run manhwa yang dianimasikan.  Release per seasons.”

Oh iya, yang judulnya The Other Half of My Orange.” Sakura manggut-manggut.

“Iya.” Gue terkekeh geli. “Kau mau beli rumah bukan karena kerjaan kita, ya?”

“Bukan, lah.” Sakura tertular tawa gue. “Itu aku enggak apa-apa bolak-balik Jepang-Korea, atau home-stay di rumah sahabatku dulu. Ini karena tawaran mengajar. Percobaan enam bulan, kalau oke, taken kontrak 2 tahun.”

“Aaah. Gajinya pasti oke banget, sampai kau mau beli rumah.” Gue menyeringai, menggodanya.

Sakura tersipu. Cuma tertawa malu karena tebakan gue pasti benar. Namun, dia buru-buru menambahkan. “Kebetulan, dua adik sepupuku, Hitomi Honda dan Yabuki Nako, juga mau kuliah di Seoul selama empat tahun. Beasiswa pertukaran pelajar. Sekalian saja home-stay denganku.”

“Wah, keren banget! Selamat!” Gue bertepuk tangan.

“Terima kasih.” Dia tampak bangga. “Jinhyuk-ssi bagaimana?”

Gue menarik napas dalam. “Oh... aku memang sudah dari lama menabung. Rencananya buat rumahku kalau sudah berkeluarga, tapi dari sekarang saja. Biar nanti kalau sudah ada keluarga, mereka tinggal menempati.”

Sakura tersenyum. Sopan menanggapi, “Kau baik hati.”

“Tugas lelaki.” Gue mengangkat bahu. Menatapi brosur di tangan Sakura. “Sama nih kayak aku. Kali kita bisa tetanggaan.”

Sakura tertawa kecil. Berterima kasih ketika aku persilakan untuk lihat-lihat di konter leaflet dan pamflet. “Aku cari—“

“—dekat agensi dan studio,” sela gue.

“Sekalian tempat mengajar. Harus ada di tengah-tengahnya. Kalau lihat lokasi, area ini paling cocok.” Senyuman Sakura melebar. Memilah-milah dan menekuni pamflet. “Maaf, aku tidak begitu bisa membaca hangul. Boleh minta tolong diterjemahkan?”

“Traktir makan siang sebagai bayaran, ya?” tawar gue. Nyengir lebar. Lumayan buat penghematan. Lagi pula, sebagai A-rank Seiyuu, penghasilan dia dua kali lipat di atasku.

“Oke. Terima kasih.” Sakura mengangguk. Fokus mendengarkan gue untuk memilih kriteria rumah yang ia butuhkan.

Gue membantu Sakura berbincang dengan agen real estate. Kami sama-sama tertawa garing ketika dikira pasangan akan menikah dan butuh rumah. Mengabaikan dia, Sakura dan gue bergantian menyampaikan kebutuhan masing-masing untuk rumah yang kami inginkan.

Ada banyak hal yang perlu dinegosiasi. Agen menjanjikan akan menghubungi kami paling lambat Jumat, dan kami bisa melihat-lihat antara hari Sabtu atau Minggu. Agen mengemukakan akan menawarkan tiga rumah dengan kisaran harga berbeda.

Menyetujui janji itu, yang berarti jadi total 6 rumah perlu kami lihat akhir mingu nanti, gue dan Sakura juga bikin janji untuk bertemu lagi jadi kami berangkat bersama.

Usai dari kantor real estate, kami keluar untuk makan malam. Sakura senyum maklum saja pas aku menyebut second class burger restaurant favoritku—dan Wooseok juga berhubung restoran ini dekat rumah sakit tempat dia bekerja. Wanita itu tidak bawa kendaraan, jadi ya menumpang dengan gue.

Kami tidak banyak bercakap. Dia sibuk chatting entah dengan siapa. Hanya berbasa-basi sekilas. Mentok percakapan soal pekerjaan, cuaca, dan rumah. Sesekali mengomentari keramaian jalanan.

Beruntung sesampainya di restoran, kami pas dapat tempat duduk. Dekat jendela pula. Gue pesan paket burger lengkap dengan kentang goreng, salad, dan cola. Plus air mineral dua. Barulah duduk manis bersamanya. Menerawang keluar jendela, menatapi hiruk-pikuk metropolitan di malam hari.

Gue sih memandang rumah sakit. Seolah gedung menjulang itu merepresentasikan seseorang yang tengah gue pikirkan. Mungkin itu juga yang tengah Sakura lamunkan saat ini.

Kami baru bicara ketika makan malam. Gue tertawa. Senang melihatnya terkagum-kagum dengan  Blackpaper Mushroom Cheeseburger yang kupesankan, sekaligus mengakak keras ketika dia mengumpat peduli bodi jadi ala babi soal dietnya.

Sampai mendadak gue tegang mendengar suara familiar. Detak jantung monotonis dan vokal melodis, yang selalu mengacaukan debar di dada gue. App Love Alarm radiusnya saja kalah jauh dibandingkan psikometri sialan ini.

Gue resah bak pria telah menikah kepergok jalan dengan perempuan yang bakal diduga petrikor. Padahal Sakura kan teman kerja biasa. Ah, salah. Tepatnya, gue mengharapkan dia cemburu buta. 

Hah, terus aja lo berkhayal, Jinhyuk.

Karena setibanya dia di restoran yang sama dengan rekan-rekan kerjanya setelah pulang kerja, Wooseok memang terlihat kaget, tapi menyapaku ala kadarnya. Berlalu untuk sibuk dengan teman-teman, meski ia tidak begitu banyak berbicara.

“Itu temanmu?” tanya Sakura.

“Osanajimi, in your mother language.” Gue tersenyum lebar. “Tapi dekat banget.”

“Aku punya sahabat sangat dekat juga. Dia guru dance di Korea. Lee Chaeyeon,” tanggapnya antusias

Gue menangkap nada yang berbeda ketika Sakura menyebutkan nama temannya.

Enggak sulit buat gue tahu, itu debar jantung berdetak lebih cepat, nada suaranya menceritakan Chaeyeon, setara dengan Wooseok untuk gue. Jadi gue balik mengisahkan soal Wooseok sama serunya. Menertawakan yang kami berdua sama-sama lakukan jika sudah bersama sahabat.

“Kapan-kapan, tolong kenalkan. Sekalian adik sepupumu juga.” Tidak ada salahnya melebarkan sayap pergaulan. Gue mengira-ngira saja, lingkungan pergaulan Sakura itu Saint Marry semua. Mudah-mudahan bukan second-an atas nama Yeon Seobin.

“Kalau kita jadi bertetangga, otomatis saling kenal, kok.” Sakura mengangguk. Ia bangkit lebih dulu. “Kita bayar ke kasir, yuk.”

“Jadi traktir?” goda gue.

Sakura terkekeh. “Iya, lah.”

Gue bersorak kekanak-kanak. Biasanya selalu ditumbal teman-teman lucknut atau junior-junior untuk mentraktir, ini malah gadis yang traktir. Sampai Ban Gi Moon mendadak botak, gue enggak bakal ambil pusing. Penghematan nomor satu. Gue bangkit terlalu bersemangat, enggak sadar tangan menggeplak gelas cola sampai tumpah.

Sakura yang melihat panik dan hendak menarik gelas cola tapi terlambat. “Awas bajumu—ouch!”

Tangan yang menapak di meja terkena tumpahan cola itu tergelincir. Sakura terjungkal ke depan. Gue refleks menahan bahunya. Kepala dia keburu mendarat di dada gue, sementara enggak sengaja bibir gue kena dahinya.

Kemeja dan celana gue sampai ke sepatu dan kaus kaki, resmi kena siraman sisa cola. Dingin merembes ke dalaman. Gue dan Sakura sama-sama mengumpat dalam bahasa ibu masing-masing.

“Aku nyeruduk kamu, ya?” Sakura mengusap-usap jidatnya. “Maaf banget, aduh.”

“Lumayan sakit ini mulut kejedut jidatmu.” Gue menerima tisu yang dia sodorkan, membiarkannya membantuku mengelap di bagian perutku.

Detik berikutnya, kami malah terkekeh-kekeh. Sakura menungguku selesai mengeringkan kemeja sebisanya, meminjamkan sapu tangan pula. Berkata bahwa itu dicuci dulu baru nanti dikembalikan akhir minggu padanya, yang gue iyakan juga.

Berhubung restoran tambah ramai, usai meminta maaf pada pelayan, gue menahan malu dan menariknya ke kasir untuk membayar. Barulah mengantarkannya ke terminal bus terdekat, berhubung Sakura menolak diantar pulang. Tidak enak hati mengetahui kondisiku yang pasti tidak nyaman dengan pakaian lengket nan lembap akibat cola.

Gue kembali ke parkiran mobil. Berjengit begitu tahu Wooseok sudah bersandar sambil bersidekap di depan situ. Enggak ada suara apa-apa, tahu-tahu di situ. Alamat gue tidak bakal diizinkan lagi pulang ke apartemen sendiri.

“Kok enggak antar ceweknya pulang?” tanya Wooseok. Nadanya jengkel. Kelamaan menunggu memang tidak enak, sih. Padahal kan dia bisa saja pulang duluan kalau mau.

“Dianya enggak enak hati aku basah begini.” Gue membuka kunci mobil, masuk duluan dan mulai memanaskan mesin. “Lagi pula, kalau kuantar, kamu nanti gimana?”

“Pulang naik bus.” Gue menyengir getir mendengar betapa datar suara Wooseok. Biasa menebeng, pasti berebut bus di jam pulang malam itu berat. Ini kan bukan drama Korea, yang bus seolah-olah tampak sepi di malam hari.

Keheningan ini ganjil. Gue menahan diri untuk enggak bolak-balik melirik Wooseok dalam seragam keren artistik desainer peralatan biomedisnya. Abu tua, flecktarn model ala tentara penyerbu dalam penyaraman. Kalau gue content creator video, sudah pasti pilihan gue adalah unboxing Kim Wooseok dari seragam kerjanya. Anyway, Video itu akan jadi arsip pribadi, enggak bakal gue unggah ke media online manapun.

Gue merasa indra pendengaran mendadak dikerubungi lalat sepersekian inci dari daun telinga, karena Wooseok tiba-tiba bergerak. Membuka ransel. Mengeluarkan kaus berkerah lengan panjang dusty blue pada gue.

“Mungkin di kamu full press body, tapi pakai saja. Kalau celana, ya sudahlah, ya,” katanya. Rada judes. Entah dia niat benar membantu atau tidak. Gue lihat dia mengambil sapu tangannya sendiri, membasahi dengan air minum dari tumbler, menyerahkan ke gue. “Dilap dulu, biar enggak terlalu lengket.”

Jutaan kali kami bersama, sudah tidak ada kecanggungan lagi, paling tidak untuk langsung menanggalkan kaus. Toh ini di mobil gue sendiri dan posisinya masih di basement parkiran. Meraih kaus yang dia berikan. Membiarkan dia menyerahkan sapu tangannya yang sudah dibasahi air, dan gue lap sebersih-bersihnya bagian badan.

Gue mengembalikan saputangan. Meringis ketika ia menjejalkan saputangan ke dasar ransel, seakan punya dendam sekesumat Maleficent. Wooseok tampak bakal menjadikan benda itu handkerchief sleeping beauty.

Usai memakai pakaian pinjamnya, yang di badan gue jadi Fit to the T shirt, gue melirik dia yang melempar ransel malang ke jok belakang. Apa kerjaan mendesain entah peralatan nuklir itu berat? Koleganya menyebalkan minta dicucuk hidungnya kayak kerbau? Gaji akan ditangguhkan? Atau ... oh! Karena ada yang gue lupa, atau dia kesal karena tidak gue traktir?

“Wooseok, mau aku beli sesuatu dulu? Dakbal?” tawar gue manis.

“Enggak usah.” Dia memasang sabuk pengaman. Buang pandang ke samping. “Pulang saja.”

Gue menghela napas panjang, melakukan persis seperti yang ia minta.

/ * /

Dia baru sadar ketika gue malah melambai. Mendelik sebal. “Kok enggak ikut turun?”

“Aku mau balik ke apartemen.” Siapa nyaman kalau kamu dalam mode macan begitu, Sayang.

Wooseok menautkan alis sampai menonjol di dahinya. “Jauh lagi ke sananya. Nanti kamu flu pakai celana dan sepatu basah begitu.”

“Ya kali begini aja sakit. Sudah pernah yang jauh lebih parah ini,” kilah gue.

Wooseok melakukan tindakan yang jadi kelemahan gue: menggigit bibir. “Tiap kali kamu ngomong begitu, biasanya entar kamu kolaps. Bukannya kamu mesti sehat buat proyek animasi baru? Tumben-tumbenan jadi protagonist, ‘kan?”

“Aku enggak ingat suka ngomong begitu.” Gue mendengus sedikit.

“Keburu error sih kamunya.” Wooseok melunak. Dia memutari mobil, menuju ke sisi pintuku lalu membukanya. “Ayo pulang, Jinhyuk. Lagian kamu masih perlu pakai obat tetes telinga, antibiotik perlu dihabiskan juga.”

Gue keluar dari mobil dan menguncinya. Membiarkan dia menarik lenganku untuk masuk ke apartemen.  “Aku cuma ambil obat-obat aja.”

“Nanti enggak benar pakai obat sendiri.” Wooseok gesit menutup lalu mengunci pintu. Menggamit tangan gue, mendorong ke arah kamar kamar mandi. Beranjak ke almari, mengambil pakaian tidur dan peralatan mandi gue yang memang diinventaris di situ.

“Wooseok...”

... aku enggak bisa begini terus sama kamu. Ya tapi gue masih saja secemen itu. Gue menarik napas dalam-dalam. Memandangnya yang kini menyalakan dispenser dan lampu-lampu. Mengambil cangkir, membuat air hangat dan menyiapkan obat supaya gue enggak flu atau radang tenggorokan kambuh.

Water heater-nya sudah aku nyalakan.” Wooseok memandangku. Nadanya berubah ragu. “Kamu tunggu apa lagi?”

Gue menenggelamkan semua perasaan yang bahkan tak pernah bisa terbisikkan ini, dengan menyelam pada keheningan kamar mandi.

/*/

“Tsk.”

“Heh, ini sudah aku minum ya antibiotiknya.” Aku mencibir.

“Tsk.” Wooseok menatap sengit padaku. Sebal menyambar handuk dari tanganku, kemudian menarikku agar berbaring di pangkuannya. Ia menghanduki kepalaku perlahan-lahan. “Cari perkara aja sih kamu tuh.”

“Kamu pikir aku selemah apa, sih?” Kuputar bola mata. Menahan senyuman dan kehangatan yang merebak, bahkan benak rasionalku saja takluk, ketika ia mengusap lembut rambutku.

“Dih, dijaga supaya sehat, malah enggak mau,” cibirnya. Berbanding terbalik dari tangan yang lincah dan telaten menghanduki kepala ini.

“Itu bukan tanggung jawab kamu.” Sensasi sesak ini saking akutnya mungkin bisa menurunkan kadar IQ. Baru ketika tatapan kami bertemu, kutahan pergerakan tangannya.

Lagi-lagi detak bagian vital kehidupannya melambat sekilat, mempercepat sampai telingaku tak meloloskan bunyi napasnya yang tersekat. Jemarinya berhenti di bahuku. Bola matanya berputar liar, terdengar olehku dalam skala milimikro Hz.

Jeda yang lama cukup buatku tahu, dia memikirkan jawabannya dengan baik. Ia setengah mendekap kepalaku, menatap diriku dengan jari merambat di atas dadaku.

“Semisalkan aku yang dalam kondisi kayak kamu,” kata Wooseok, menatapku layaknya anak yatim piatu di panti asuhan minta diadopsi, “kamu pasti juga bakal kayak aku begini. Lebih keras kepala, malahan.”

Benar. Kita saling kenal, selama dan seserasi sepasang tangan mengenali garis telapak satu sama lain ketika bertemu dalam genggaman. Kurang lebih sedramatis dan sehiperbolis itu.

Sekali lagi, kubiarkan Wooseok mendekapku untuk meneteskan obat telinga. Lima belas menit kami menonton televisi. Pikiranku berjalan-jalan menjemput pelbagai kemungkinan berinti sari fantasi semisalkan bisa lebih dari semua ini, hingga Wooseok menyuruhku berputar dan menghadapnya selagi ia meneteskan tiga kali cairan yang mengebor masuk lorong keong telingaku.

Kudengarkan suara perutnya. Terima kasih pada indra telinga yang superior, sedekat ini, membuatku tahu organ yang bekerja. Gerak peristaltik organ pencernaan. Aku bisa membedakan mana bunyi kemerut sakit perut, mayoritas berisi gas (kembung), atau kelaparan akut.

Aku menahan diri untuk tidak melingkarkan lengan di pinggang titisan Ares berpadu Aphrodite ini. Ia tidak lagi terbiasa dengan kedekatan kami, selama aku yang menginisiasi. Dosa apa aku sebenarnya padanya, hanya Wooseok yang mengerti.

Tanpa kuminta, Wooseok mulai bersenandung. Cara sederhana nan efektif menetralisir suara-suara yang membuatku kejang.  Dia pula yang paling paham, aku tengah diam menahan siksaan gema mencekam. Salahkan bulir tetesan  obat merangsek masuk kian dalam membasuh dinding-dinding lorong telingaku.

Aku mulai melindur. Kalang kabut gara-gara dunia terdengar diserbu prajurit tawon yang memekakkan telinga. “Wooseok, berhenti. Aku enggak minta kamu nyanyi.”

Mungkin aku sudah kelewat capek sama perasaan ini. Rasa letih itu merangsang kepalaku berdenyut. Badan menjerit untuk shut-down, memulihkan energi. Bisa jadi faktor lainnya adalah lullaby quality vokal merdu Wooseok, atau aku yang bosan mempertanyakan kapan bosan mendengar dentang melodis dari kemonotonan detak jantungnya.

“Aku sudah bilang, kamu enggak usah nyanyi lagi buat aku.”

“...kenapa, Jinhyuk?”

“Bikin aku susah lupa. Sudah, Woosek... ‘udah ....”

Kuraih jemarinya yang memijat lembut ubun-ubun kepalaku. Setengah sadar mengecup buku jari, entah yang mana. Kukarang takhayul dalam benak, ada cincin yang telah kuselipkan ke jari manis, menerima ciuman bertubi-tubi dariku.

Ada bunyi letupan sebising kalau dokter pakai stetoskop meraba irama degup jantung sang pasien. Ini orangnya pasti jantungan. Dunia memberat dalam prasangka dan irama yang yang membuatku lupa segalanya ketika memejamkan mata.

/ * /

 

Pertanyaan itu menjeda sesaat kesibukan gue memakai sepatu. Wooseok berdiri di belakang gue. Kacamata bulat bening Harry Potter bertengger di pucuk hidung bangir. Jemari cantik yang masih tidak ada cincin dari gue itu,  bawa-bawa kalkulator MIPA, mistar khusus trigonometri, bahkan wajahnya menampakkan pemikiran sekeruh mencoba memahami sample sel leukosit  HIV-AIDS diekstrasi untuk melemahkan pembludakan leukosit karena Leukimia.

Wooseok yang bikin gue membatu. “Sabtu begini kamu kerja?”

“Ada janji sama teman,” jawab gue.

“Enggak biasanya.” Wooseok bersidekap sambil bersandar di dinding apartemen. “Pulang kapan?” 

Gue memperkirakan dari enam rumah yang mesti diperiksa hari ini bersama agen perumahan, bakal berakhir jam berapa, sampai akhirnya tersadar bahwa ada yang janggal.

“Ini aku sekalian pulang, kok.” Ini dia. Gue kan mesti balik ke apartemen sendiri dan memetakan mesti packing mulai dari mana.

Wooseok memberengut lebih dari biasanya kalau terima job untuk mendesain selusin blood checker, tensimeter, CT-scan, MRI, dan stetoskop rangkap 3. “Ke apartemen kamu? Masih bising banget kan.”

“Ya mau gimana lagi. Perlu dibersihkan, dibereskan, cuci sama seterika baju juga.” Gue mengecek arloji. Harus berangkat sekarang, menghindari macet akhir minggu di beberapa ruas jalan yang mesti kulewati ke tempat janjian. “Aku berangkat ya.”

Gue dikejutkan gerakan tangan yang meraih bagian belakang kerah kaus, menoleh ke belakang. Wooseok tengah merapihkannya, mencetus ketus meski sorot matanya kayak bilang bisa-apa-kamu-tanpa-aku, “Pakai baju tuh yang rapi.”

Thanks.” Gue cuma nyengir. Berharap Wooseok enggak akan pernah bisa menafsirkan perasaan orang melalui sorot mata.

Sebelum sempat gue tutup pintu dan sepenuhnya keluar dari apartemen, Wooseok menyahut pelan, “Malam ini, sekali lagi kamu mesti pulang ke sini. Tanggung, obatnya tinggal sedikit lagi. Pakai sendiri, soalnya nanti aku mesti pergi.”

Setelah melambai dan berkata jangan lupa tutup pintu, Wooseok melenggang ke dapur. Sosoknya lenyap karena gue menutup pintu dan berlalu.

Ya. Aku bisa ke sini. Sekali lagi.