Actions

Work Header

Higanbana And Tsubaki

Chapter Text

 

 

 

 

 

 

 

 

Hidup selama ribuan tahun tanpa bisa berdiri di bawah sinar matahari adalah neraka baginya. Rasa iri dan amarah menggerogotinya setiap kali ia mendapati dirinya harus sembunyi di balik kegelapan manakala orang lain dapat menari riang tanpa takut terbakar habis menjadi debu oleh matahari. Ia hanya bisa menggeram, frustasi akan keadaannya yang menyedihkan seraya menyumpahi takdir yang mempermainkannya serta matahari yang bersinar mengejeknya.

Ia hanya ingin hidup sehat, Kami-sama! Ia lelah hidup dengan tubuh lemah yang hanya bisa berbaring di atas futon dan divonis berumur pendek! Tapi saat ia berhasil mendapatkan tubuh kuat, ia justru harus berlindung dalam kegelapan layaknya hewan malam.

Terkutuklah dokter sialan yang sudah memberi obat tak rampung padanya! Terkutuklah para Kami-sama yang tak mendengar doanya selama ini! Dan terkutuklah para manusia yang hidup tanpa beban sementara ia harus merangkak-rangkak dalam kegelapan!

Kini, dalam usahanya mencari cara agar mampu berdiri di bawah sinar matahari, ia menyalurkan rasa frustasi seiring dengan rasa laparnya terhadap daging dan darah manusia. Tak ada rasa bersalah setiap kali ia merenggut hidup manusia dan mengunyah daging mereka. Baginya, mereka yang lebih lemah pantas diperlakukan sebagai hewan ternak untuk ia konsumsi. Namun untuk beberapa manusia yang menurutnya layak, ia tak segan memberikan manusia itu sedikit darahnya dan menjadikannya sebagai budak.

Semua berjalan baik-baik saja awalnya. Ia sudah terbiasa dengan tubuh kuatnya memiliki kemampuan layaknya iblis dari neraka, memakan daging manusia untuk bertahan hidup, juga menjadikan beberapa manusia menjadi iblis sepertinya untuk melihat apakah ada di antara mereka yang bisa menaklukkan sinar matahari saat ia sudah frustasi karena tak mampu menemukan bunga lili laba-laba biru.

Namun, takdir kembali mengusik hidup yang sudah ia jalani selama ratusan tahun.

Di era Sengoku, takdir mengirimkan seorang pendekar pedang bernama Tsukiguni Yoriichi ke hadapannya. Dengan kemampuan dan teknik pedangnya yang hebat, pria beranting hanafuda itu berhasil menyudutkannya. Namun ia berhasil melarikan diri dengan mengorbankan beberapa budaknya. Seolah enggan menyerah, takdir kembali mengirimkan pendekar pedang lain beranting hanafuda dalam wujud seorang bocah remaja.

Kamado Tanjirou. Tidak hanya mengenakan anting yang sama, teknik berpedang, hawa keberadaan, dan segala yang dimilikinya sangat mirip dengan Yoriichi meski kenyataannya bocah itu bukanlah keturunan Yoriichi.

Pertarungan di era Taisho demi mendapatkan iblis yang mampu menaklukkan sinar matahari ternyata lebih dari sekedar menyudutkannya. Bocah itu serta kawan-kawannya yang bergabung dalam kelompok pemburu iblis nyaris mengalahkannya jika saja salah satu budaknya tidak mengirimnya jauh dari tempat pertempuran dengan kemampuan jurus darah iblisnya. Melihat budak itu tidak menyusul, ia menduga bahwa budak itu pasti sudah dikalahkan. Untuk kesekian kalinya, ia meraung frustasi. Ia nyaris tewas, semua budak-budak terbaiknya yang tak pernah dikalahkan selama ratusan tahun musnah dalam sekejap. Ia bahkan tak bisa mendapatkan iblis yang mampu menaklukkan sinar matahari, Nezuko, adik dari Tanjirou.

Waktu kembali bergulir, era pun berganti. Bukan hal sulit baginya memulihkan diri dan kembali menyusup dalam kehidupan manusia. Ia tak dapat menahan senyumnya saat melihat dengan matanya sendiri bagaimana para pendekar pedang mulai menipis, tergusur oleh pergantian jaman. Pendekar pedang yang masih mengincarnya bisa dihitung dengan jari. Namun, organisasi Pemburu Iblis masih berkeliaran, dengan keahlian dan kegigihan mereka yang semakin menguat. Meski logam yang menjadi bahan utama pedang nichirin, satu-satunya senjata yang mampu menebas para iblis, semakin langka dan sulit didapat, dengan kemajuan teknologi mereka tak hilang akal dalam menciptakan senjata baru untuk mengalahkan iblis yang setara dengan pedang nichirin.

Dan sekali lagi, takdir kembali mengusiknya.

Di suatu malam saat musim dingin, ia kembali merasa amarahnya berkobar saat melihat seorang gadis remaja. Pandangannya terpaku pada anting hanafuda di kedua telinganya, rambut dan mata hitam kemerahan yang menatap lugu ke serpihan salju yang turun dari langit, serta tanda memuakkan di dahinya. Ia memang sering mendengar bahwa tragedi terjadi tiga kali. Namun ia tak menyangka bahwa takdir masih begitu gigih mengirimnya penghalang dalam tujuannya menjadi makhluk abadi.

Musnahkan, batinnya dengan amarah menggelegak. Musnahkan gadis itu!

 

 

 

 

 

 

 

 

Chapter Text

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hidup sebagai anak dari seorang pemburu iblis membuat Kamado Tsubaki sering mendengar kebuasan dan kekejaman para iblis yang meneror kedamaian manusia dalam kegelapan malam. Entah itu dari mulut keluarganya atau membaca beberapa buku catatan keluarga pendahulu mereka. Seperti yang sedang dilakukannya sekarang.

Tsubaki menutup buku ketiga tentang Pernafasan Matahari lalu menengadahkan wajahnya ke langit-langit kamar sambil menghela nafas. Enam bulan sudah berlalu sejak kematian ayah dan kakaknya karena pertarungan melawan iblis yang berkeliaran di Osaka. Masih segar di pikirannya ketika ia dan saudara-saudaranya menerima mayat mereka berdua yang tidak utuh. Persis sekali dengan kondisi ibu mereka yang tewas karena menjadi mangsa iblis lima tahun lalu.

Setelah kejadian itu, utusan Ubuyashiki datang untuk memberikannya bantuan serta memintanya untuk bergabung dengan organisasi Pemburu Iblis. Namun Kiku, kakak perempuan tertuanya, menolak keras bantuan serta permintaan tersebut. Meski tidak suka melihat cara kakaknya mengusir utusan tersebut, tapi Tsubaki mengerti alasan sang kakak melakukannya.

Kakaknya tidak ingin ada lagi anggota keluarga yang mati karena iblis.

Sejujurnya, Tsubaki ingin sekali menerima permintaan Ubuyashiki untuk bergabung menjadi anggota Pemburu Iblis. Ia ingin membalaskan dendam pada para iblis yang membunuh anggota keluarganya dan berharap bisa melindungi orang lain agar tidak ada yang bernasib sama sepertinya. Terlebih lagi, ia juga anggota keluarga Kamado yang merupakan keluarga penerus jurus pernafasan matahari.

Tapi Tsubaki tidak sanggup melakukannya. Ia tidak bisa bersikap egois dengan meninggalkan sisa keluarganya begitu saja. Ia tidak ingin melihat Kiku dan adik-adik mereka yang masih kecil, Tanjirou dan Nezuko, menangis kembali.

Prioritas utamanya sekarang adalah bertahan hidup dengan damai dan bahagia bersama kakak dan kedua adiknya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Higanbana And Tsubaki

 

By Ageha Padma

 

Fandom Kimetsu no Yaiba

 

Modern AU

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tsubaki memutuskan untuk menyimpan kembali buku yang dibacanya ke tempat semula. Ia melangkah keluar kamar menuju sebuah ruangan penyimpanan di balik pintu shoji bercorak api, bunga dan kupu-kupu yang letaknya tak jauh dari kamar. Ruangan itu berisi berbagai benda warisan keluarga Kamado, mulai dari dua rak buku catatan, pedang nichirin serta pakaian penari untuk Hinokami Kagura. Di antara semua warisan turun temurun itu, Tsubaki lebih tertarik dengan pakaian penari yang terpajang rapi di dekat pedang nichirin.

Setiap awal tahun, keluarga Kamado memang selalu mempersembahkan sebuah tarian untuk Dewa Api agar mendapatkan perlindungan. Tarian itu memiliki dua belas gerakan dan harus dilakukan berulang kali mulai dari matahari terbenam hingga matahari terbit kembali. Sebuah tradisi yang tak pernah sekalipun ditinggalkan oleh mereka meski zaman telah berganti. Sejak kecil ia selalu terpesona setiap kali melihat ayahnya melakukan Hinokami Kagura. Diselimuti oleh salju yang menumpuk dan ditemani beberapa api obor yang mengelilinginya, Tsubaki selalu merasa bahwa sang dewa turun merasuki ayahnya dan memberikan sebuah senyum hangat yang menyulut api semangat hidupnya.

Tsubaki sudah berlatih sejak kematian ayah dan kakaknya. Ia pun berhasil melakukannya tanpa halangan karena ia sering ikut berlatih bersama kakaknya, baik itu latihan jurus pernafasan ataupun gerakan Hinokami Kagura. Tapi tetap saja ia merasa gugup. Dua minggu lagi ia akan mempersembahkan Hinokami Kagura sebagai penari wanita pertama dalam keluarga Kamado, menari ketika salju mulai turun jelas akan memberikan efek yang berbeda dibandingkan latihannya yang selama ini dilakukan dalam ruang dojo milik keluarganya.

"Doakan aku agar bisa melakukannya, ya. Tou-san, Nii-chan," bisik Tsubaki sambil mengecup lengan kimono yang sedari tadi dikaguminya.

Mata hitam kemerahan itu menatap pakaian di hadapannya dengan lembut. Terbesit pikirannya untuk mencoba pakaian itu dan tanpa pikir panjang ia segera mengganti pakaiannya. Kiku dan kedua adik mereka sedang pergi ke pemandian air panas dalam acara Asosiasi Tetangga selama dua hari. Jadi dia tidak perlu khawatir ada yang memergokinya. Kiku sudah memperingatkannya berkali-kali untuk tidak mengenakan pakaian itu sebelum waktunya, tapi Tsubaki tidak tahan lagi!

Ia segera mengenakan pakaian tradisional berwarna putih yang terdiri dari beberapa lapis. Pada layer terakhir, pakaian itu berwarna hitam kelam dengan corak api di setiap tepinya. Tsubaki melepas kepangan rambutnya lalu mengikat rapi di belakang dengan pita putih. Setelah selesai, ia segera berlari menuju cermin terdekat untuk melihat pantulan dirinya.

Sesaat, Tsubaki seperti melihat ayahnya sendiri. Banyak yang mengatakan bahwa wajahnya mirip sekali dengan sang ayah, hanya saja dengan versi yang lebih feminim dan lembut. Apalagi melihat dia memiliki tanda yang sama di dahinya serta anting hanafuda warisan sang ayah. Tsubaki menangkupkan pipinya dengan kedua tangan, tersenyum senang sekaligus sedih. Senang ia cukup pantas mengenakan pakaian yang sedikit longgar walau Kiku sudah mengecilkannya, mengingat ia masih seorang remaja usia enam belas tahun. Juga sedih, karena ayah dan kakaknya tidak bisa melihat tariannya nanti.

Lewat jendela kamarnya, Tsubaki melihat salju masih turun meski tidak sederas sebelumnya.

Hanya satu atau dua sesi saja, batin Tsubaki seraya mengambil shakujō, tongkat yang menjadi bagian dari perlengkapan tarinya, dari laci penyimpanan lalu bergegas ke halaman belakang.

Ia mengernyit sedikit merasakan dinginnya salju di telapak kakinya yang telanjang. Angin dingin di penghujung Desember ternyata masih bisa menembus tubuhnya yang sudah mengenakan pakaian berlapis-lapis. Saat itulah Tsubaki segera memasang kuda-kuda, melemaskan bahunya kemudian menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sambil mengingat ucapan ayahnya.

Jika kau mampu mengatur nafasmu, maka kau bisa menari selamanya.

Tsubaki segera memukul shakujō di tangannya ke tanah dengan keras, membuat lonceng-lonceng di tongkat itu bergemerincing riuh. Selanjutnya, Tsubaki mulai menggerakkan tubuhnya sesuai dengan gerakan Hinokami Kagura yang sudah ia hapal di luar kepala. Meski sudah mengingatkan diri untuk melakukan satu atau dua sesi saja, Tsubaki justru mendapati tubuhnya terus menari tanpa henti. Ia mungkin akan tetap melanjutkan tariannya hingga matahari terbit, jika saja tidak ada suara yang menginterupsinya.

"Tarian yang indah."

Tsubaki merasa seperti ada yang mencengkram jantungnya. Tubuhnya bereaksi lebih cepat dengan memasang posisi bertahan saat berbalik untuk melihat si pemilik suara. Seorang pria berdiri tak jauh darinya, mengenakan sebuah setelan jas yang dibalut dengan haori hitam bercorak bunga lili laba-laba merah, rambut hitamnya yang ikal sebahu diikat rendah melambai pelan tertiup angin musim dingin.

Saat menatap mata pria itu, mata merah plum dengan pupil menyipit bagaikan kucing, Tsubaki bisa merasakan kekejaman dan aura haus darah. Ia tahu siapa pria itu.

Kibutsuji…

"...Muzan." Hanya kata itu yang terucap olehnya. Bahkan hanya untuk satu nama saja, Tsubaki merasa seluruh nafas dan tenaganya terkuras begitu saja. Aura intimidasi yang dikeluarkan pria itu menekannya dengan kuat.

"Oh. Kau mengetahui siapa aku. Itu mempersingkat waktu."

"Apa maumu?"

"Kurasa kau tahu apa yang kuinginkan." Bibir tipis pria itu melengkung membentuk senyum tipis. "Menghancurkan seluruh pengguna nafas matahari."

Belum sempat Tsubaki membalas, Muzan sudah melesat ke arahnya. Reflek, Tsubaki menahan serangan Muzan dengan shakujō yang dipegangnya. Tapi perbedaan kekuatan jelas membuat tubuh mungilnya terlempar jauh ke dalam rumah. Tsubaki merasa seluruh tulangnya retak, seluruh punggungnya sakit luar biasa karena tubuhnya menjebol dinding rumahnya akibat serangan Muzan barusan. Iblis itu tidak melanjutkan serangan selanjutnya, hanya berdiri diam menatap ke lantai kayu rumahnya seolah ada hal menarik di sana. Itu kesempatan baginya untuk pergi menuju ruang penyimpanan dan mengambil pedang nichirin ayahnya.

Tsubaki belum pernah memegang pedang sungguhan. Selama ini ia hanya berlatih dengan pedang kayunya karena ia memang tidak terlalu berminat menjadi pasukan Pemburu Iblis, ia ikut berlatih hanya untuk menambah stamina saat mengikuti pertandingan kendo. Tapi bagaimana pun juga Tsubaki tidak ingin mati konyol, apalagi di tangan musuh bebuyutan keluarganya. Ia harus bertarung!

Sebagai iblis pertama, Muzan memiliki kemampuan untuk mengubah manusia menjadi iblis hanya dengan cakar dan darahnya. Muzan juga memiliki kemampuan regenerasi lebih kuat dibandingkan iblis-iblis lainnya. Menurut catatan yang sudah ia baca, Muzan hanya bisa dikalahkan dengan sinar matahari.

Kuharap… kuharap percobaan ini berhasil, batin Tsubaki sambil meraih pedang nichirin lalu berlari menuju ruang dojo.

Di sisi lain, Muzan tersenyum senang mengendus tetesan darah Tsubaki yang memercik di lantai kayu. Saat menahan serangannya tadi, Tsubaki kurang sigap melakukannya hingga shakujō yang menjadi tamengnya ikut melukai wajahnya. Muzan tak menyangka akan menemukan darah marechi setelah sekian lama. Darah marechi adalah tipe darah langka yang menjadi makanan favorit para iblis. Memakan seorang manusia berdarah marechi setara dengan memakan seratus manusia. Namun darah milik gadis itu lebih langka dari yang lain. Terlangka dari yang terlangka. Darah itu setara dengan lima ratus, bahkan mungkin seribu orang.

Muzan tertawa rendah penuh kesenangan. Menikmati aroma candu dari darah gadis itu.  "Akhirnya setelah hidup selama seribu tahun, aku bisa merasakan makanan lezat. Akan kunikmati gadis itu segigit demi segigit."

Muzan mengusap darah itu dengan tangan lalu menjilatnya. Ia tidak bisa menahan erangannya menikmati cairan merah pekat itu. Semanis madu, seharum bunga, dan lebih memabukkan dibanding wine manapun. Diikutinya aroma darah gadis itu ke dalam rumah. Aroma darah gadis itu tercium makin kuat ketika menemukan gadis itu di sebuah dojo. Gadis itu menyambutnya sambil mengacungkan pedangnya. Ternyata gadis itu melukai dirinya sendiri di lengan kirinya, kelihatannya gadis itu sadar seberapa unik darah yang ia miliki.

"Kuakui keberanianmu, nak. Di saat mereka selalu menyelamatkan diri ketika bahaya mendekat, kau justru menghadapinya meski hidupmu akan berakhir," ujar Muzan sambil melepas haori yang dikenakannya. Perlu upaya besar baginya demi mengalihkan pandangannya dari darah menggiurkan gadis itu yang menetes dengan percuma.

"Aku Kamado Tsubaki, putri dari Hashira Kamado Fudo dan adik dari Kamado Akemi. Dua pemburu iblis yang telah kaubunuh," balas Tsubaki dengan lantang sambil mencengkram erat-erat pedang nichirin di tangannya. "Takkan kulepaskan kesempatan untuk membalaskan dendamku padamu!"

Tsubaki melesat cepat ke arah Muzan. Bersamaan dengan itu, Muzan melepaskan jurus darah iblisnya. Cambuk berduri yang terbuat dari darah dan dagingnya keluar dari tubuh pria itu, bergerak liar ke arah Tsubaki seolah hendak menghalangi langkahnya.

"Hinokami Kagura… Enbu!" seru Tsubaki sambil mengayunkan pedangnya.

Cambuk berduri itu tertebas di setiap ayunan pedangnya. Muzan bisa merasakan panas di setiap bekas tebasannya. Semua serangannya terlalu sulit ia fokuskan karena aroma darah gadis itu memecah konsentrasinya. Meski demikian, Muzan tak bisa menahan senyumnya melihat kelihaian gadis itu. Benar-benar keturunan Kamado, pikirnya sambil memerintahkan cambuk berduri itu mengurung Tsubaki. Tunas muda yang mengancam haruslah dimusnahkan.

Menyadari niat Muzan yang hendak meremukkannya, Tsubaki segera melompat dan memutar tubuhnya di udara sambil melakukan tebasan tiga ratus enam puluh derajat.

"Hinokami Kagura. Heki-ra no ten!" serunya yang berhasil menebas kurungan berduri itu. Ketika kakinya sudah menjejak di lantai, Tsubaki memompakan udara yang dihirupnya ke seluruh tubuh, memfokuskannya pada kaki dan melepaskannya.

Dalam sekejap, Tsubaki sudah melesat ke hadapan Muzan. Sayangnya, tebasan yang dilakukannya gagal karena cambuk berduri itu keluar dan menghalangi serangannya. Sebelum Muzan bisa mengayunkan cakarnya, Tsubaki menghindar dengan putaran rotasi lalu melesat cepat hingga cakar Muzan hanya bisa menyentuh udara kosong. Saat Muzan masih terpaku, Tsubaki yang sudah berada di belakangnya kembali menebas.

Lagi-lagi serangannya terhalang, tapi kali ini pedang nichirinnya menancap di cambuk berduri yang melindungi Muzan. Tsubaki memilih untuk melepaskan pedangnya dan melompat mundur dua kali sebelum cambuk berduri Muzan menyerangnya. Namun karena posisi mendarat yang salah, Tsubaki mendapati dirinya terjatuh dengan memalukan. Dan itu memberi Muzan kesempatan untuk menusuk bahu kiri Tsubaki dengan pedangnya sendiri hingga tembus dan menancap di lantai.

Jeritan gadis itu terdengar bagaikan melodi syahdu di telinganya. Pun ketika gadis itu mulai memuntahkan darah saat Muzan menapakkan kakinya ke tubuh gadis itu, menginjaknya kuat-kuat.

"Kuakui kehebatanmu, nak. Di usia semuda ini kau memiliki kemampuan setara dengan Pemburu Iblis kelas menengah. Bagaimana jika kau menjadi iblis?"

Sebagai jawaban, Tsubaki meludahi wajah Muzan dan berteriak, "Dalam mimpimu, keparat!"

Tepat saat itu, jam di pergelangan tangan kirinya berbunyi 'bip' berkali-kali. Dengan tangan kanannya yang bebas, Tsubaki segera menekan jam itu.

"Enyahlah ke neraka!"

Seketika lampu-lampu di ruang dojo bersinar ungu. Muzan merasakan perih di kulitnya yang perlahan mulai terasa terbakar. Pria itu berteriak kesakitan saat kulitnya mengelupas dan daging tubuhnya meleleh.

"Keparat! Apa yang kau lakukan padaku?!" jerit Muzan yang memperlihatkan sebagian wajah yang sudah meleleh hingga Tsubaki bisa melihat bola mata pria itu hendak keluar dari rongga tengkoraknya.

Tsubaki tidak menjawab, membiarkan pria itu menjerit-jerit kesakitan di tengah ruangan. Ia terlalu sibuk mencabut pedang yang menancap di bahunya. Lampu-lampu itu mengandung sinar ultraviolet, Kiku yang mendesainnya untuk penjagaan jika ada iblis yang menerobos rumah mereka lagi. Siapa sangka bahwa iblis pertama yang mencoba ruangan ini adalah pimpinan para iblis itu sendiri.

Tapi tetap saja, batin Tsubaki yang terengah usai berhasil mencabut pedangnya. Radiasi sinar ultraviolet dalam lampu itu tidaklah sekuat pancaran radiasi dari matahari. Aku harus memenggal kepala Muzan.

Tsubaki melakukan pernafasan konstan untuk menghentikan pendarahan. Setelah berhasil, ia melesat sambil mengayunkan pedangnya.

"Hinokami Kagura. Enbu!"

Dalam detik yang selambat abad, secepat detak jantung, Tsubaki melihat pedang hitam yang mulai memerah itu mendekati leher Muzan. Meski cambuk berduri itu kembali menghalangi, Tsubaki tidak menghentikan gerakannya. Gadis itu meraung keras, mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mendorong pedang itu. Perlahan, sinar ungu lampu ruangan itu meredup dan mulai berkedip-kedip.

Sialan! umpat Tsubaki. Tenaga listriknya tidak cukup!

Ketika sinar ungu itu lenyap, berganti dengan sinar lampu neon sebelumnya, Muzan menggenggam pedang Tsubaki dan meninju perut gadis itu hingga terpental ke belakang. Muzan melempar pedang itu jauh-jauh hingga menancap di sudut ruangan lalu menerkam Tsubaki sebelum gadis itu sempat mengangkat tubuhnya.

"Cukup! Kau membuatku murka, bocah!" seru Muzan.

Tsubaki hanya bisa terperangah melihat bagaimana wajah Muzan yang rusak kembali utuh dengan kecepatan yang menakjubkan. Mata merah plum dengan pupil kucing itu berkilat-kilat menatapnya. Saat Tsubaki membuka mulutnya yang berlumuran darah, berniat melemparkan segala sumpah serapah dan kutukan, ia terpaku mendapati mulutnya terbungkam oleh mulut pria itu. Mata hitam kemerahan Tsubaki mengerjap sesaat, otaknya seolah mati. Dan saat ia merasakan sesuatu masuk menjelajahi isi mulutnya, Tsubaki mulai berontak.

Ciuman pertamanya dirampok paksa oleh Muzan, iblis yang diincar sejak ribuan tahun lalu. Ingin sekali rasanya Tsubaki menggigit lidah jahanam yang tak henti menggeliat dalam mulutnya, tapi Tsubaki tidak bisa melakukannya. Darah pria itu akan mengubahnya menjadi iblis dalam sekejap, Tsubaki lebih memilih mati daripada menjadi iblis. Beberapa detik kemudian, yang bagi Tsubaki terasa bagai selamanya, Muzan pun menarik diri. Ada seutas saliva yang menghubungkan bibir keduanya.

Muzan merasa gelap mata. Entah karena terlalu murka seorang remaja bisa melukainya begitu parah atau karena aroma darah gadis itu yang memabukkan. Tapi melihat wajah merah gadis itu, terengah-engah dalam usaha menghirup nafas dengan rakusnya, serta mata hitam kemerahan yang basah menatapnya, Muzan mendapati gairah menghantamnya dengan telak. Ia mengusap bibir gadis itu yang membengkak karena ulahnya.

"Kurasa aku akan menghilangkan stressku dulu sebelum memakanmu," ujar Muzan memutuskan.

Sebelum otak Tsubaki mampu memproses ucapan itu, Muzan merobek bagian depan pakaiannya yang berlapis-lapis hanya dalam sekali gerakan. Tsubaki menjerit, berusaha melindungi diri dari tangan yang menjamahnya. Namun sekali lagi, perbedaan kekuatan membuatnya kalah. Tsubaki hanya bisa menangis mendapati iblis itu menginjak-injak harga dirinya sebelum melahapnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Chapter Text

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagi para anggota Kisatsutai , Kamado Fudo bagaikan matahari. Hangat, agung, luar biasa, dan tak terkalahkan. Namun bagi Tsubaki, ayahnya lebih seperti pohon. Pohon plum lebih tepatnya jika mengingat warna mata merah ayahnya yang unik. Pria itu selalu berbuat baik pada siapa pun dan tidak menampakkan emosi apapun. Namun, Tsubaki sangat ingat senyum teduh serta suaranya yang setenang aliran sungai. Dan setiap melihatnya bergerak, sekecil apapun gerakan itu, Tsubaki merasa seperti mencium aroma dan melihat kelopak bunga plum berguguran.

Namun di balik sikapnya yang selalu dikagumi, ayahnya memiliki empati yang besar. Bahkan pada para iblis yang dilawannya. Tsubaki selalu dengar dari para Hashira lain kalau kebaikan ayahnya itu selalu membuatnya lengah. Itulah yang membuat Tsubaki tidak bisa menahan diri untuk bertanya.

“Untuk menumpas para iblis yang sudah menyakiti manusia, ayah tidak akan segan untuk mengayunkan pedang. Tapi... pada iblis yang sudah menyesali perbuatannya, ayah tidak akan menginjak-injak perasaan mereka. Pada dasarnya, iblis-iblis itu juga manusia seperti kita.”

Mereka berdua sedang sibuk membuat origami bunga untuk perayaan tahun baru yang akan datang. Ibunya dan Kiku sedang sibuk di dapur sedangkan Akemi menjaga si bungsu Nezuko bersama Tanjirou.

“Saat seseorang yang menderita dalam keputusasaan diberikan kekuatan, mereka akan menganggap bahwa melukai orang lain yang lebih lemah adalah hal yang lumrah. Hanya untuk membuktikan bahwa mereka mampu dan lebih kuat. Hingga akhirnya, mereka akan melanjutkan hidup tanpa tahu apa tujuan mereka.”

Tsubaki meletakkan origami bunga buatannya – yang lebih mirip kodok saking tidak karuan bentuknya – di meja. Alih-alih mengambil kertas lagi, ia justru merenung sebentar.

“Apa menurut ayah, dia juga akan merasakannya?”

“Hm?”

“Muzan. Menurut ayah, apa dia juga akan menyesal dengan semua yang dilakukannya?” Tsubaki meletakkan siku tangannya ke meja lalu menopang dagunya di tangan. “Dia... pasti juga pernah menjadi manusia. Dan mungkin dia menjadikan manusia sebagai iblis sepertinya karena ia kesepian. Kalau saja ada yang mau menerimanya meski sudah menjadi iblis dan memastikannya tidak memakan manusia, dia pasti tidak akan menciptakan banyak iblis. Seperti leluhur Tanjirou dan Nezuko.”

Mata merah plum pria itu mengerjap sebentar lalu mengumbar senyum teduhnya sambil mengusap rambut hitam kemerahan gadis kecil itu. Putrinya dengan segala kepolosan yang belum tersentuh dunia. Ia sungguh bersyukur gadis kecilnya itu mengatakan bahwa ia tidak pernah berminat menjadi anggota Kisatsutai sepertinya dan putra tertuanya. Gadis kecilnya itu terlalu baik.

“Entahlah. Kita tidak tahu seperti apa dirinya. Tapi jika memang ayah berhadapan dengannya, ayah tidak akan menahan diri untuk menghentikannya. Karena bagaimana pun juga, dialah yang sumber dari segala penderitaan dirasakan oleh semua korbannya. Baik para manusia yang sudah tewas di tangannya ataupun manusia yang dijadikan iblis olehnya.”

Suara gemerincing membuat mereka menoleh. Tanjirou sedang menari sambil membawa mainan bayi milik Nezuko. Akemi bertepuk tangan untuk menyemangati adik lelakinya itu sedangkan Nezuko yang duduk di pangkuan sang kakak mengayunkan tangan mungilnya yang terkepal dengan semangat seolah mengikuti tarian Tanjirou. Tsubaki dan Fudo tertawa melihatnya.

“Tanjirou, bernafaslah dengan benar.”

Tanjirou mengangguk mendengar ucapan sang ayah di sela-sela tariannya. Bocah itu menjejakkan kakinya di lantai tatami keras-keras, melakukan kuda-kuda yang masih belum benar lalu mengibaskan tongkat mainan di tangannya seperti pedang. Tsubaki pun menghampiri Tanjirou dan membimbing bocah itu pada gerakan yang benar. Mereka berdua menari bersama hingga ibu mereka memanggil untuk makan malam.

Satu lagi malam penuh kedamaian dan kebahagiaan yang membuat Tsubaki berharap agar tidak segera berakhir.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Higanbana And Tsubaki

 

 

By Ageha Padma

 

 

Fandom Kimetsu no Yaiba

 

 

Modern AU

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mendapati hasratnya terpuaskan oleh seorang gadis di bawah umur jelas lebih dari sekedar mengejutkan bagi Muzan. Terlebih gadis itu adalah keturunan dari keluarga yang selalu gencar mengejarnya. Ia tidak tahu kapan terakhir kali melampiaskan hasratnya. Pasti sudah lama sekali mengingat ia hanya fokus pada pencarian bunga lili laba-laba biru atau iblis yang tahan dengan sinar matahari.

Muzan melirik gadis yang meringkuk kedinginan di sampingnya, tepat di bahu yang ditusuknya tadi. Apa darah gadis itu yang membuatnya hilang kendali? Mungkin saja. Sejujurnya ini pertama kali ia merasa begitu mabuk hanya karena aroma darah marechi hingga sangat sulit berkonsentrasi. Namun Muzan menggelengkan kepalanya, mengelak keras. Ia adalah pria yang penuh dengan kendali diri. Mengakui bahwa ia mabuk hanya karena aroma darah sama saja dengan mengakui bahwa ia memiliki kelemahan.

Yah, aku hanya perlu menyantapnya sekarang, batin Muzan mendekati gadis itu.

Perlahan, wujud iblis Muzan terlihat. Rambut hitamnya memutih, mulut penuh taring muncul di setiap tangan dan kakinya, menggeram tak sabar hendak mengoyak daging muda gadis itu. Ia menggeliatkan kepalanya ke leher gadis itu, memuja aroma darah yang bercampur dengan aroma tubuhnya. Lidahnya perlahan terjulur, ingin merasakan tekstur dan rasa kulit yang menutupi makanan favoritnya. Dan gadis itu pun melenguh dalam ketidaksadarannya. 

Ia mencium lembut kulit yang berdenyut di leher gadis itu sebelum akhirnya mengeluarkan taringnya dan menusukkannya tepat ke tempat nadinya berada. Setiap tegukannya menghantarkan sensasi yang memikat mesra dirinya, membuatnya melayang seketika ke dalam euforia candu jiwanya. Tangannya yang sedingin es melayang menuju sisi lain leher gadis itu untuk menjaga kepalanya tetap pada posisi yang memudahkannya menikmati candunya. Geraman dari mulut-mulut bertaring di tubuhnya mereda, berganti dengan dengkuran pelan seolah terpuaskan.

Setelah selesai, ia menjilat bekas gigitan itu dan menyapukan bibirnya dengan lembut di sana. Kemudian, ia mengangkat tubuhnya, mengamati kelopak mata gadis itu mengerut, merasa terusik. Muzan menebak akan ada ketakutan dan amarah yang biasa ia dapat dari semua korbannya. Namun saat mata gadis itu terbuka dan menatap lurus ke arahnya, Muzan hanya mendapati sebuah tatapan teduh yang tak pernah ia terima dari siapapun. Pancaran kemerahan dalam mata hitamnya tak lagi terlihat bagai kobaran api yang berniat membakarnya dalam dendam kesumat. Kini lebih terlihat seperti kobaran api yang menuntunnya dalam gelapnya malam.

Saat tangan hangat gadis itu terangkat menyentuh pipi pucatnya, ia seolah melihat tatapan itu berbicara padanya.

Apa itu cukup?

Apa kau sudah merasa lebih baik?

Muzan hanya bisa mendapati dirinya tertegun. Gadis itu menatapnya seolah mengkhawatirkannya, mengasihaninya. Tidak sadarkah gadis itu bahwa ia adalah iblis yang berniat menyantapnya hingga ke tulang-tulangnya? Tidak sadarkah gadis itu wujud mengerikan yang sedang ia tunjukkan sekarang? 

Tak ada satu pun pertanyaan itu keluar dari mulutnya, bahkan ketika gadis itu kembali menutup mata dan tangannya terkulai lemas hingga terjatuh. Seolah enggan kehangatan tangan itu meninggalkan pipi dinginnya, Muzan menangkap tangan itu dan meremasnya lembut. Namun sedetik kemudian ia tersadar dan mencampakkan tangan itu dengan kasar. 

Ini bukan dirinya. Dengan sekuat tenaga, ia menyangkal sebagian dirinya yang menikmati kedekatan ini. Sedangkan sebagian dirinya yang lain, pikirannya yang rasional dari apapun juga, justru menyuruhnya untuk segera pergi meninggalkan gadis itu alih-alih memangsanya. Muzan mencari-cari rasa lapar yang sejak tadi meraung ganas dalam dirinya seakan mencari alasan untuk memangsa gadis itu, namun ia tidak merasakannya lagi. Mulut-mulut bertaring yang menjadi bagian dari wujud iblisnya bahkan menghilang kembali seolah sudah terpuaskan hanya dengan menyentuh dan meneguk darah gadis itu.

Giginya bergemeletuk marah. Dengan enggan ia berbalik dan meninggalkan gadis itu di sana. Namun, demi membuktikan bahwa ia memang iblis kejam yang tak kenal ampun, demi membuktikan bahwa ia tidak peduli pada gadis itu, ia menghancurkan rumah itu hingga luluh lantah.

"Pada pertemuan berikutnya, jika kau memang masih hidup, akan kupastikan kau tidak akan kulepaskan lagi." gumam Muzan sebelum meninggalkan tempat itu dalam sekejap.

Mengabaikan getaran aneh yang mengusik hati yang tak pernah ia akui keberadaannya.

***

"Honō no kokyū. Ichi no kata, Shiranui!"

Leher dua iblis di hadapan pemuda itu ditebas hanya dengan satu ayunan pedang. Pemuda itu memutar gagang bawah pedangnya hingga sinar laser merah api yang berbentuk bilah pedang lenyap lalu kembali melanjutkan langkahnya dengan tergesa.

Rengoku Kyoujuro, seorang anggota Kisatsutai tingkat Kinoe. Bersama ayahnya, Rengoku Shinjuro sang Flame Hashira , ia mendapat tugas untuk menjaga keluarga Kamado atas perintah Oyakata- sama . Sejak kematian Sun Hashira dan Tsuguko sekaligus putranya, Oyakata- sama telah memberikan anggota dari tingkat Hinoto hingga Kinoe untuk menjaga sisa keluarga Kamado. Namun hari ini, Oyakata- sama mengalihkan tugas itu pada ayahnya yang seorang Hashira .

"Aku merasa iblis yang sangat kuat menemukan kediaman keluarga Kamado. Karena itu, tolong lindungi mereka, Shinjurou. Kyoujuro."

Di balik gaya bicaranya yang spesial, ia tahu bahwa keluarga Ubuyashiki yang memimpin organisasi Kisatsutai juga memiliki kemampuan melihat masa depan. Dan melihat banyaknya iblis yang menghalangi jalan mereka menuju kediaman keluarga Kamado, kecemasannya makin menguat. Karena itulah, Kyoujuro memaksa ayahnya untuk melanjutkan perjalanan menuju kediaman Kamado seorang diri, sementara dirinya tetap tinggal untuk menahan para iblis keroco yang mencoba menghalangi mereka.

Menurut laporan dari anggota yang bertugas sebelumnya, yang mereka temukan terluka parah karena serangan iblis, putri tertua keluarga Kamado dan kedua adik mereka pergi ke pemandian air panas. Hanya putri kedua saja yang memilih tetap tinggal di rumah.

Berbeda dengan para Hashira lain, keluarga Kamado jarang menempati rumah singgah yang merupakan fasilitas pemberian keluarga Ubuyashiki. Begitu pula dengan keluarga Rengoku. Alasannya karena mereka ingin agar anak-anak mereka juga punya kesempatan untuk memilih jalan hidup mereka tanpa terpaku hanya pada Kisatsutai.

Setelah melewati sekumpulan pohon wisteria yang menjadi pagar pelindung bagi kediaman Kamado, mata emas pemuda itu terbelalak kaget mendapati kediaman Kamado hanya tinggal berupa reruntuhan. Tak jauh dari sana, ia melihat ayahnya sedang menggendong seorang gadis yang tidak sadarkan diri.

Kami terlambat , batin Kyoujuro merasa bersalah.

Kyoujuro segera menghampiri ayahnya yang tiba-tiba jatuh berlutut. Tubuh pria itu gemetar dan Kyoujuro yakin itu bukan karena kelelahan.

Ayahnya sedang murka. Teramat sangat.

"Segera hubungi Oyakata- sama . Tempat ini sudah tidak aman lagi untuk keluarga Kamado."

"Baik, Tou-san ." balas Kyoujuro yang segera memberi pesan lewat unit pergelangan tangannya.

Sementara itu, Shinjuro menatap gadis malang dalam gendongannya. Gadis ini tidak mengenakan apapun selain haori hitam bermotif bunga lili laba-laba merah yang menyelimutinya. Pria itu bisa melihat jelas memar serta luka sayatan dan tusukan di tubuh gadis itu. Juga bekas merah dan gigitan yang Shinjuro yakin bukan didapat dari pertarungan. Amarahnya berubah perlahan menjadi penyesalan dan rasa bersalah.

"Maaf, Fudo- san . Aku terlambat menyelamatkan putrimu." bisik Shinjuro penuh sesal.

Kyoujuro yang masih bisa mendengar bisikan itu terenyuh menatap ayahnya. Sejak bergabung dalam Kisatsutai , ayahnya serta Kamado Fudo selalu saja terlibat pertengkaran. Namun itu semua hanyalah awal dari persahabatan mereka. Mereka saling membantu dan bersaing hingga berhasil meraih gelar Hashira bersama. Bahkan mereka sama-sama menjadikan putra mereka sebagai Tsuguko alias penerus. Kyoujuro tidak begitu mengenal keluarga Kamado selain Akemi. Namun ia ingat pernah bertemu dengan gadis di gendongan ayahnya beberapa tahun lalu.

Saat ia mengintip Kamado Fudo melakukan Hinokami Kagura di awal tahun baru.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kyoujuro baru saja selesai latihan. Salju yang menumpuk tidak menjadikannya alasan untuk mangkir dari latihan. Tapi karena terlalu asyik latihan, ia sampai lupa waktu dan baru pulang begitu malam tiba.

Suara gemerincing lonceng menghentikan kakinya yang mengayuh sepeda di depan sebuah bangunan yang merupakan rumah singgah milik Sun Hashira, Kamado Fudo. Biasanya rumah itu kosong, kecuali sang Hashira menderita luka berat hingga butuh perawatan khusus. Suara lonceng itu kembali terdengar, membius bocah itu untuk melangkah masuk dan mencari asal suara itu. Di halaman belakang rumah itu, Kyoujuro mendapati seseorang menari dikelilingi obor. Wajahnya tertutup kain putih bertuliskan huruf kanji api, namun Kyoujuro tahu bahwa seseorang yang menari itu adalah Fudo.

Kyoujuro terpana melihatnya. Setiap gerakannya terlihat tegas namun juga indah. Jika dilihat baik-baik, gerakan itu persis dengan gerakan pedang Hino no kokyu milik Sun Hashira.

"Kau ada perlu dengan tou-san?"

Suara seorang gadis membuat Kyoujuro segera berbalik. Ia mendapati seseorang berdiri tak jauh darinya mengenakan hakama bermotif bunga kamelia dan topeng rubah dengan motif matahari merah di dahi sebelah kiri yang menutupi wajahnya. Kyoujuro tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.

Gadis itu... tidak menimbulkan suara sedikitpun, hawa kehadirannya bahkan nyaris tidak terasa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Chapter Text

 

 

 

 

 

 

 

Sebagai seorang Tsuguko, Kyoujuro sudah dilatih untuk bisa mendeteksi hawa keberadaan seseorang oleh ayahnya. Karena itulah, Kyoujuro bisa menilai besarnya kekuatan seseorang, baik itu manusia ataupun iblis, hanya dengan melihatnya. Kini untuk pertama kalinya, ia merasakan betapa besarnya kekuatan seseorang yang setara dengan para Hashira .

Dalam wujud seorang gadis kecil.

Kyoujuro selalu dengar dari Akemi bahwa adik perempuannya memang lebih berbakat, namun sayangnya gadis itu tidak berminat untuk bergabung dengan Kisatsutai . Jika saja gadis itu mau bergabung, pasti banyak yang memperebutkan gadis kecil itu menjadi Tsuguko mereka.

"A-ah. Gomenasai . Aku hanya numpang lewat dan… mendengar suara lonceng. Jadi…"

Gadis itu menelengkan wajahnya. "Kau… dari keluarga Rengoku, kan? Masuklah. Sebaiknya kau menginap di sini saja. Kau pasti tiba larut malam jika memaksa pulang."

Meski agak enggan karena tidak ingin merepotkan, Kyoujuro tetap menerima usulan itu. Apa yang dikatakannya memang benar, ia pasti akan sampai rumah singgah hingga larut malam. Salahnya juga, sih, yang keasyikan berlatih di tempat Himejima. 

Setelah menerima tawaran mandi dan makan malam, gadis itu menyarankannya untuk segera beristirahat. Tawaran yang cukup menggoda mengingat dirinya memang lelah, tapi Kyoujuro menundanya karena masih ingin melihat Hinokami Kagura yang dilakukan Fudo di halaman belakang.

"Ngomong-ngomong, kita belum berkenalan. Kau adik Akemi, kan?" ujar Kyoujuro setelah gadis itu menyajikan teh dan senbei padanya. "Rengoku Kyoujuro desu . Yoroshiku !"

"Kamado Tsubaki. Yoroshiku ." 

"Tsubaki? Kupikir namamu Aki- chan . Akemi selalu menyebutmu begitu setiap kali cerita."

"Ah, Akemi- nii memang sering sekali memanggilku begitu."

Mereka terdiam dan kembali memandang tarian yang dilakukan kepala keluarga Kamado. Kyoujuro ingat Akemi pernah cerita bahwa setiap awal tahun keluarga Kamado memang selalu mempersembahkan sebuah tarian pada Dewa Api agar tidak terhindar dari bencana. Sebuah tradisi yang sangat berat karena harus dilakukan sejak matahari terbenam hingga matahari terbit.

"Bukankah Akemi yang akan melakukan Hinokami Kagura?"

"Rencananya begitu. Tapi dia masih terluka karena misi kemarin dan belum boleh keluar dari Butterfly Estate. Makanya Kiku- neechan yang menemani Akemi- niichan di sana."

Kyoujuro mengangguk-angguk sebelum menyesap teh yang disajikan. Sedangkan Tsubaki meraih satu senbei di piring. Tangan kirinya yang bebas menyusup ke telinganya seolah mencari sesuatu lalu tiba-tiba saja setengah topeng itu lenyap perlahan, memperlihatkan hidung bangir yang diplester, pipi yang memar serta bibir mungil dengan luka kecil di sudutnya.

Nano-tech , batin Kyoujuro terperangah takjub, yang kemudian berganti cemas saat melihat luka di wajah itu.

"Apa kau tidak apa? Wajahmu…"

"Ah, aku habis berkelahi dengan seorang murid di dojo milik Wind Hashira ." Tsubaki mengangkat bahunya. "Adik-adikku menangis tiap melihat wajahku bonyok, jadi Kiku- neechan membuatkan topeng ini."

Jadi anak yang dikeroyok di dojo Wind Hashira yang diceritakan Himejima tadi adalah gadis ini, batin Kyoujuro antara kasihan dan takjub.

"Kudengar dari Akemi bahwa kau sangat berbakat. Kenapa kau tidak bergabung bersama ayah dan kakakmu? Banyak orang akan terselamatkan jika seseorang yang berbakat ikut bergabung dalam Kisatsutai !"

Tsubaki tertawa kecil mendengar suara penuh semangat pemuda itu. Ia tidak begitu kaget karena memang sering dengar dari kakaknya tentang sahabatnya ini.

"Aku tidak seperti yang kau pikirkan. Jika memang aku berbakat, aku pasti bisa menyelamatkan ibuku. Dan lagi…"

Gadis itu terdiam sesaat lalu menoleh ke arah sang ayah yang masih menari di bawah serpihan salju yang masih setia turun dengan perlahan.

"...aku tidak ingin melihat ayahku menangis lagi."

Kyoujuro tidak mengerti maksud ucapan Tsubaki. Namun saat melihat bibir mungil itu menyunggingkan sebuah senyum tipis, Kyoujuro bisa merasakan kesedihan di dalamnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Higanbana And Tsubaki

 

By Ageha Padma

 

Fandom Kimetsu no Yaiba

 

Modern AU

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagi keluarga yang memiliki seorang anggota Kisatsutai di dalamnya, kedatangan seorang Kakushi adalah sebuah pertanda buruk. Kiku sudah mendapatkan kunjungan Kakushi enam bulan lalu dan menerima kabar kematian ayah dan adik lelakinya. Wanita muda itu pikir ia tidak akan merasakan kekhawatiran itu lagi karena sudah tidak ada anggota Kisatsutai dalam keluarganya dan berusaha sekuat mungkin melindungi adik-adiknya dari incaran Ubuyashiki yang menginginkan keahlian keluarga Kamado dari generasi ke generasi.

Tapi kenapa….

"Apa yang terjadi pada Tsubaki?" tanya Kiku dengan suara gemetar.

"Saya tidak bisa memberikan jawaban pasti. Tapi saat ini, nona Tsubaki sedang dirawat di Butterfly Estate. Oyakata- sama meminta kami untuk menjemput Anda dan kedua adik Anda menuju markas pusat Kisatsutai ." Seolah tahu bahwa Kiku akan menolak, pria berpakaian serba hitam itu kembali melanjutkan. "Saya mohon. Ini demi keselamatan kalian bertiga."

Meski enggan, Kiku pun menyetujuinya dan membawa serta kedua adiknya. Ia pamit pada ketua perkumpulan dengan alasan keperluan mendesak lalu bergegas pergi meninggalkan penginapan.

"Kenapa kita pulang cepat, neechan ?"

"Apa sesuatu terjadi pada Tsubaki -neechan ?"

Kiku tak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah Tanjirou dan Nezuko yang menatapnya cemas. Walau tadi mereka tidak mendengar pembicaraannya dengan Kakushi yang sedang menyetir mobil di sampingnya, tapi mereka sudah pasti tahu hal buruk apa yang pasti terjadi pada Tsubaki.

"Tak perlu khawatir. Tsubaki pasti baik-baik saja. Kalian kenal bagaimana Tsubaki, kan?" ujar Kiku berusaha menenangkan. "Ini masih malam. Sebaiknya kalian kembali tidur. Perjalanan kita cukup panjang."

"Aku tidak mengantuk," keluh Nezuko sambil mengusap-usap matanya yang lelah.

Melihat itu, Tanjirou menarik adiknya mendekat dan membaringkan kepala gadis kecil itu di pangkuannya. Meski wajahnya terlihat cemberut karena tidak suka dimanja, Nezuko senang mendapatkan perlakuan itu dari kakaknya. Sambil mengusap rambut hitam Nezuko, Tanjirou menatap pemandangan penuh salju di luar jendela.

Tsubaki adalah gadis yang kuat. Tanjirou tahu itu. Sejak kematian ibu mereka, Tsubaki bertindak sebagai pelindung di rumah mereka selama ayah dan kakak lelakinya bertugas. Akemi, kakaknya, pernah cerita bahwa saat usia Tsubaki baru tujuh tahun ia hampir mengalahkan ayahnya dengan pedang kayu. Padahal itu pertama kalinya gadis itu memegang pedang. Menurut Akemi, Tsubaki terpilih mendapatkan berkat dari Hinokami , tapi gadis itu justru memilih untuk menolak menyentuh pedang lagi.

"Dia punya alasannya sendiri," ujar Akemi saat Tanjirou menanyakan alasannya.

Kematian ibu merekalah yang membuat Tsubaki kembali memegang pedang. Tanjirou tidak akan lupa kejadian lima tahun lalu. Saat ada iblis yang mendobrak masuk rumah mereka, ibu mereka segera membawa mereka ke jalan rahasia yang ditujukan ke suatu tempat. Karena ibu mereka adalah mantan Hashira , mereka yakin semua akan baik-baik saja dan ibu mereka pasti akan menjemput mereka di tempat persembunyian.

Tapi yang datang menjemput mereka justru bukanlah ibu mereka.

Iblis itu datang sambil melempar potongan tangan sang ibu yang masih memegang pedang nichirin dan kepalanya yang terpenggal seolah hendak membuktikan bahwa ia sudah berhasil mengalahkannya. Detik itu pula Tanjirou mencium kemarahan Tsubaki. Gadis itu menjerit marah sambil melesat cepat ke hadapan iblis itu lalu meraih pedang nichirin ibunya.

Walau baru sebentar belajar ilmu pedang, Tanjirou tahu bahwa semua gerakan yang dilakukan Tsubaki sangat terarah dan bukan hanya serangan asal yang membabi buta. Semua gerakan itu, caranya mengelak semua serangan, sama persis seperti gerakan ayah mereka. Ia tidak bisa mengetahui hasil pertarungan itu karena Kiku sudah menggendongnya juga Nezuko di masing-masing tangannya dan bergegas meninggalkan tempat itu. Untunglah ayah mereka dan Akemi yang baru pulang misi berhasil menyusul mereka. 

Tak ada satupun yang mau menceritakan apa yang sudah terjadi pada Tsubaki saat itu. Tapi dari bisik-bisik yang Tanjirou curi dengar, Tsubaki berhasil mengalahkan iblis yang ternyata masuk dalam peringkat iblis dua belas bulan. Meski belum menjadi anggota Kisatsutai , Tanjirou tahu benar bahwa iblis dua belas bulan adalah bawahan langsung dari Kibutsuji Muzan. Kekuatan mereka berbeda dengan para iblis lainnya.

Namun, karena jurus pernafasan yang dilakukannya masih belum benar, Tsubaki nyaris meregang nyawa karena hampir meledakkan paru-parunya jika saja ayah mereka tidak segera menyusul.

Kiku memang tidak mengatakan apapun. Namun jika kakak perempuannya itu sampai bersedia ikut dengan anggota Kisatsutai yang berkali-kali diusirnya sejak kematian ayah mereka, bukan mustahil bahwa keadaan Tsubaki kini sangat terancam. Pasti ada iblis yang berhasil menemukan tempat tinggal mereka.

Apakah Tsubaki tewas? Atau yang terburuk… menjadi iblis yang memangsa manusia? Apa salah satu dari iblis dua belas bulan berhasil menemukan rumah mereka lagi?

Tanjirou memilih untuk menyimpan semua pertanyaan itu sendiri dan menunggu hingga mereka tiba di tujuan. Perjalanan yang mereka tempuh ternyata sangat panjang. Malam sudah kembali turun saat mereka memasuki jalan yang diapit oleh sekumpulan pohon wisteria. Ah, Tanjirou ingat. Dulu, setelah kematian ibu mereka, ayah membawa mereka semua ke tempat ini. 

Di balik sekumpulan pohon wisteria yang menjadi pelindung yang menghalau masuknya para iblis, semua tanahnya adalah milik keluarga Ubuyashiki, sang pemimpin Kisatsutai . Kekayaan yang dimiliki keluarga itu memang tidak main-main. Rumor tentang kemampuannya melihat masa depan untuk mendulang kekayaan demi membiayai para anggota Kisatsutai dari generasi ke generasi sepertinya memang benar.

"Saya akan mengantar Anda sekalian ke Butterfly Estate. Setelahnya, baru saya akan mengantar ke rumah singgah," ujar Kakushi itu setelah mobil yang mereka kendarai melewati pepohonan wisteria.

"Bisa antarkan aku menemui Ubuyashiki?" desak Kiku tanpa basa basi.

"Saya khawatir tidak bisa melakukannya mengingat malam sudah cukup larut."

Tanjirou melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah jam sebelas malam. "Sebaiknya nee-chan tunggu besok saja. Tidak baik bertamu selarut ini."

Saat itu pula, ponsel sang Kakushi berbunyi. Pria itu menepikan mobilnya lalu menjawab panggilan tersebut. Setelah beberapa saat, pria itu memutus panggilan itu dan menatap Kiku. "Dari Amane -sama . Beliau bilang Oyakata -sama ingin menemui Anda. Setelah Anda menemui nona Tsubaki tentunya."

"Wah, kebetulan sekali," ujar Nezuko kagum. Tapi Kiku dan Tanjirou yang tahu tentang kemampuan keluarga Ubuyashiki terlihat waspada.

Mereka tiba di Butterfly Estate. Bangunan besar itu menyatukan arsitektur tradisional khas Jepang dan Barat. Terlihat dari susunan kayu dan brownstone yang menyatu indah tanpa terlihat aneh. Mereka disambut seorang remaja wanita yang mengenakan jepit kupu-kupu di rambutnya. Remaja itu mengantarkannya menuju ruang penanganan darurat. Dari balik dinding kaca, Kiku melihat Tsubaki terbaring dalam inkubator khusus dengan dua orang pekerja medis yang masih sibuk menanganinya.

"Sebentar lagi Yushiro- sensei akan menemui Anda untuk memberikan hasil pemeriksaan adik Anda. Mohon ditunggu."

"Terima kasih. Em…"

"Kochou Kanae desu. Yoroshiku, Kamado-san."

"Kamado Kiku. Yoroshiku, Kochou-san."

Kanae tersenyum lembut lalu segera undur diri saat ada seseorang memanggilnya di ujung koridor. Kiku pun kembali menatap ke balik dinding kaca yang memisahkannya dengan ruang perawatan. Tanjirou dan Nezuko melakukan hal yang sama, menatap khawatir saudari mereka yang tak sadarkan diri di balik dinding kaca itu. Setelah beberapa saat, salah satu dokter di sana keluar ruangan dan menghampiri Kiku.

Secara fisik, Yushiro terlihat seusia dengan Tanjirou. Tapi melihat mata lavender dengan pupil menyipit seperti kucing serta kulit pucatnya, Kiku sadar bahwa pemuda itu berusia lebih tua darinya.

"Kalian dari keluarga Kama...do?"

Yushiro, iblis yang sudah bekerja sama dengan Kisatsutai sejak era Taisho, terdiam melihat sosok dua remaja yang mengenakan mantel musim dingin di belakang Kiku. Entah kenapa, untuk sesaat ia melihat si remaja lelaki mengenakan haori kotak-kotak hijau dan hitam, sedangkan si remaja wanita mengenakan kimono merah muda bermotif daun sambil menggigit bambu.

Mirip sekali, batin Yushiro yang masih ragu dengan penglihatannya.

Panggilan Kiku menyadarkannya kembali. Mata lavender Yushiro mengerjap sesaat untuk memastikan pandangannya kembali. Ia segera mengajak ketiga Kamado bersaudara itu menuju ruangannya.

"Aku tidak akan menenangkan kalian dengan memberikan sebuah harapan kosong, jadi aku akan langsung memberikan tahu kalian kemungkinan terburuk." Yushiro mengaitkan jemarinya di atas meja kerjanya. "Gigitan yang diterimanya mengandung racun iblis. Akan ada dua kemungkinan terjadi. Dia mati atau berubah menjadi iblis."

Nafas Nezuko tercekat. Tanjirou segera memeluk adiknya, menenangkannya. Kiku memang sudah menduga hal ini akan terjadi, tapi tetap saja ia terkejut.

"Kami sudah memberikan penawar racunnya. Tapi racun itu lebih kuat dari racun iblis yang pernah kami lihat. Aku sudah menyiapkan serum untuk mengubah sedikit susunan sel dalam tubuhnya jika kemungkinan kedua terjadi. Dengan serum itu, meski dia sudah menjadi iblis, dia bisa menekan rasa laparnya dan bertahan hanya dengan sedikit darah manusia. Sepertiku."

"Apa… apa Kisatsutai akan membunuh Tsubaki- neechan jika dia menjadi iblis?"

"Kurasa selama saudari kalian tidak membantai manusia, Kisatsutai tidak akan punya alasan untuk memburunya." Yushiro menatap lekat pemuda dengan luka di dahi yang berdiri di hadapannya sedikit lebih lama dari yang seharusnya. "Tapi sejauh ini, semua iblis yang berhasil kuubah susunan selnya belum ada yang berulah. Jadi, kalian bisa tenang."

Suara ketukan pintu membuat mereka menoleh. Setelah Yushiro menjawab ketukan itu, seorang perawat membuka pintu itu dengan panik.

Sensei! Kondisi nona Kamado memburuk!”

Yushiro segera menyambar jas putihnya dan bergegas keluar ruangan dengan Kamado bersaudara menyusul di belakangnya. Namun tiga bersaudara itu tertahan di pintu masuk dan dihalangi oleh si perawat. Di dalam ruang perawatan, Yushiro melihat kondisi tubuh Tsubaki. Suhu tubuh gadis itu naik drastis, beberapa urat timbul di wajah dan sekitar lehernya, wajahnya nampak kesakitan namun Yushiro bisa melihat bahwa gadis itu berusaha mengatur nafasnya agar tetap stabil.

Meski tidak sadarkan diri, gadis ini tetap melakukan pernafasan konstan penuh untuk menahan racunnya, pikir Yushiro takjub.

“Penawarnya tidak berhasil. Apa sebaiknya kita berikan suntikan ketiga?”

“Tahan dulu.”

Yushiro melihat racun itu berhenti menyebar, tertahan di sekitar lekukan leher Tsubaki. Perlahan, sebuah tanda semerah darah muncul di permukaan kulitnya menyerupai lambang iblis. Bentuknya persis bunga higanbana, bunga lili laba-laba merah.

Gagal , batin Yushiro tidak terima. Gadis ini berubah menjadi iblis setelah berjuang seharian.

“Suntikan serumnya. Kita akan memutasi susunan selnya untuk membangunkan kesadarannya,” perintah Yushiro.

“Tapi, sensei . Susunan selnya tidak berubah menjadi iblis. Gadis ini masih manusia.”

“Apa?”

Yushiro mengamati baik-baik fisik Tsubaki. Tidak ada cakar yang timbul, kulit yang tidak sepucat dirinya, tak ada taring yang tumbuh, bahkan pupil mata gadis itu tidak menyipit seperti iblis saat Yushiro memeriksanya. Keajaiban? Tidak! Pasti ada penjelasan ilmiah untuk hal ini. Ia harus menelitinya. Mungkin ini bisa jadi kesempatan baginya menyempurnakan serum penyembuh iblis yang pernah diciptakan Tamayo- sama untuk Muzan dulu.

Sama seperti yang dilakukan oleh wanita asing itu puluhan tahun lalu.

Setelah memastikan kondisi Tsubaki cukup stabil, Yushiro memerintahkan beberapa perawat untuk memindahkan Tsubaki ke kamar rawat inap. Ia pun menjelaskan pada saudara Tsubaki bahwa mereka berhasil dan Tsubaki tidak menjadi iblis. Si remaja wanita terlihat menangis lalu memeluk Yushiro erat-erat sambil mengucapkan terima kasih berkali-kali. Yushiro tidak begitu suka dengan skinship seperti ini, tapi mengingat mereka sedang berada di tempat yang tidak memungkinkannya untuk berisik, Yushiro menahan diri untuk tidak teriak.

“Apa kami boleh menjaga nee-chan sekarang?”

“Ya, tentu. Tapi kalau bisa jangan lebih dari dua orang. Saudari kalian butuh istirahat.” Yushiro menatap sekeliling koridor, menyadari tidak ada kehadiran saudari tertua mereka. “Kemana kakak kalian?”

“Ah, Kiku- neechan sedang pergi menemui Oyakata- sama .”

“Hum. Baiklah. Aku harus memeriksa pasien lain. Aku akan minta seorang perawat mengantar kalian ke kamar saudari kalian.”

Arigatou, sensei. ” Tanjirou membungkuk hormat, begitupula Nezuko. “Ayo, Nezuko.”

“Ya, nii-chan .”

Huh, Nezuko?

Yushiro yang hendak berbalik langsung menatap mereka kaget. Kedua remaja itu sudah memunggunginya dan melangkah menjauhinya sambil bergandengan tangan. Rasa familier itu kembali menghantuinya.

“Tunggu!” seru Yushiro yang membuat dua bersaudara itu berbalik. “Boleh tahu siapa nama kalian?”

Tanjirou mengerjapkan matanya bingung, namun setelahnya ia tersenyum ramah. “Kamado Tanjirou. Dan ini adikku, Kamado Nezuko.”

“Adikmu bukan... iblis, kan?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja sebelum Yushiro sempat menahannya. Kebingungan kembali menghiasi wajah Tanjirou. Yah, Yushiro sadar pertanyaan itu jelas tidak sopan. Tapi melihat sosok dengan penampilan fisik dan nama yang sama seperti sosok yang pernah ia kenal di masa lalu, Yushiro jelas tidak bisa menahan diri untuk bertanya.

Alih-alih merasa marah atau tersinggung, Tanjirou justru menatapnya kagum.

“Oh! Apakah Anda mengenal kakek dan nenek buyut kami, sensei ? Ayah kami cerita kalau ada iblis baik hati yang membantu kakek kami mencari cara agar bisa mengembalikan nenek menjadi manusia lagi! Apakah itu Anda?”

Sampai perangainya pun sama, batin Yushiro agak risih melihat kedua remaja itu kini menatapnya dengan mata berbinar-binar. Persis anak kecil yang menanti kakek mereka membacakan dongeng. Beruntung bagi Yushiro, seorang perawat memanggilnya untuk memeriksa seorang pasien. Itu membuat Yushiro bisa melarikan diri dari mereka berdua.

“Nezuko yang ini bukan iblis. Dia manusia, kok. Dan aku akan berusaha keras melindunginya agar dia tidak menjadi iblis juga,” ujar Tanjirou sebelum mereka memisahkan diri ke arah yang berlawanan.

Sesampainya di kamar inap, Tanjirou dan Nezuko menjaga Tsubaki yang masih belum sadarkan diri. Tanjirou menyuruh Nezuko untuk tidur di kursi sofa, tapi adiknya itu malah menolak.

“Apa nii-chan akan bergabung dengan Kisatsutai ?”

“Kenapa tiba-tiba kau bertanya begitu?”

“Aku bisa melihat di wajah nii-chan. Pasti itu yang nii-chan pikirkan sejak Kiku- neechan pergi.”

Terlihat sejelas itukah? Tanjirou menghela nafas. Sepertinya memang sulit sekali menyembunyikan apa yang ia pikirkan di depan orang lain. Berbohong jelas bukan keahliannya.

“Ya. Aku berniat demikian.” Mata hitam kemerahan Tanjirou menatap sedih ke arah Tsubaki. “Sejak dulu kita diincar oleh para iblis karena Hi no kokyu yang berhasil keluarga kita pelajari. Kita berdua selalu jadi pihak yang dilindungi hanya karena kita anggota keluarga paling muda. Aku ingin bisa melindungi diriku sendiri, lalu menjadi cukup kuat untuk bisa bertarung bersama Tsubaki- neechan , dan akhirnya menjadi lebih kuat untuk melindungi mereka yang lebih lemah.”

“Bagaimana pun juga, setelah kematian Akemi- niichan dan tou-san , sekarang akulah satu-satunya sosok lelaki di keluarga Kamado. Akulah yang seharusnya melindungi kalian semua.”

Nezuko menatap kakak lekakinya dengan lekat. Sekalipun tidak terlahir sebagai putra sulung, Tanjirou tidak pernah diperlakukan manja. Ayah dan ibu mereka yang tegas namun baik hati selalu mengajarkan anak-anaknya menjadi lebih dewasa dan mandiri. Pekerjaan mereka yang selalu melawan iblis dengan maut yang siap menghampiri mungkin menjadi alasan kuat agar anak-anak mereka mampu menyiapkan diri pada kemungkinan terburuk.

Seperti sekarang ini.

“Kalau begitu, aku juga akan ikut bergabung.”

Tanjirou tersentak kaget. “Tapi, Nezuko...”

“Apa? Jangan bilang nii-chan mau menghalangiku.” Nezuko menatap Tanjirou tegas. “Perasaanku juga sama, nii-chan . Aku tidak mungkin hanya duduk diam saat tahu kalau aku juga punya kesempatan untuk melakukan sesuatu. Kita bersaudara, aku pun merasakan hal yang sama. Aku tidak mungkin membebankan semua itu pada kakak-kakakku. Aku pun seorang Kamado!”

Tanjirou melihat semburat merah muda dalam mata merah gelap Nezuko menyala-nyala penuh tekad. Ia pun mengusap-usap kepala Nezuko dengan lembut.

“Yosh! Mari kita berjuang bersama!”

Di sisi lain, Kiku yang sudah berada di ruang tamu kediaman Ubuyashiki menyesap teh yang sudah dihidangkan. Mata merah gelapnya menatap taman yang diselimuti salju. Ia melihat pohon wisteria di luar sana bergerak pelan tertiup angin musim dingin. Walau bukan musimnya, pohon wisteria di tempat ini selalu mekar. Bahkan masih terlihat cantik meski terlapisi salju.

“Maaf membuatmu menunggu lama.”

Kiku menoleh dan mendapati seorang pemuda melangkah menghampirinya. Pemuda itu memiliki rambut hitam halus yang dipotong pendek dengan rapi. Tubuhnya dibalut kimono hitam yang dilapisi haori putih dengan motif kabut berwarna ungu halus dari bagian pinggang ke bawah. Secara fisik, sosok di hadapannya lebih muda darinya, mungkin usianya belum genap dua puluh tahun. Tapi tatapan yang diberikan oleh mata ungu lavendernya penuh dengan ketenangan dan kebijaksanaan.

Sebagai seorang pemimpin sekaligus ayah bagi para anggota Kisatsutai, aura yang dipancarkan oleh Ubuyashiki Kagaya sungguh menentramkan hati. Bahkan kemarahan Kiku yang sudah menggelegak sejak menginjakkan kaki ke rumah ini saja langsung lenyap tak berbekas hanya karena mendengar suaranya.

“Tidak apa. Saya yakin Anda sedang sibuk dengan tugas Anda.” Kiku meletakkan gelas tehnya. “Jika aku boleh menebak, apa tujuan Anda mengundang saya kemari adalah untuk merekrut adik-adik saya seperti yang sudah-sudah?”

Kagaya tersenyum tenang mendengar nada tajam yang dilontarkan Kiku. Ia sudah mendengar betapa kerasnya Kiku menolak semua utusan yang ia kirim ke kediaman keluarga Kamado.  

“Ya. Itu salah satu tujuanku. Aku...”

Kiku mengangkat tangannya. “Jika jadi diri Anda, saya akan memilih kata-kata saya dengan lebih bijak dan jujur. Saya tahu bahwa tujuan Anda bukan hanya tentang Hi no Kokyu yang berhasil dipelajari keluarga kami. Lebih dari itu, kan? Atau tepatnya... Anda menginginkan Tsubaki.”

Meski hanya sepersekian detik, Kiku berhasil menangkap reaksi terkejut di mata lavender Kagaya. Ia mungkin bukan pendekar pedang seperti keluarganya yang lain, tapi dalam hal insting, dugaan Kiku tidak pernah meleset. Karena Kagaya masih belum juga memberi respon, Kiku kembali melanjutkan.

“Apa yang sudah Anda sembunyikan, Oyakata- sama ? Apakah Anda menyembunyikan hal ini juga pada orang tua dan adik lelaki saya? Anggota Kisatsutai yang Anda klaim sebagai anak-anak asuh Anda?”

Senyum teduh itu tak pernah luntur dari bibir tipis Kagaya. Namun Kiku lebih fokus pada mata pemuda itu. Mata adalah jendela hati, kejujuran dan kebohongan bisa terlihat jelas di sana. Dan saat mata lavender itu menatapnya, penyesalan dan kesedihan terpancar jelas tanpa kebohongan.

“Maafkan aku. Aku tak bermaksud untuk menyembunyikannya.”

Kiku tak mampu membalas ucapan itu. Ekspresi wajahnya serta cara pemuda itu bicara benar-benar penuh rasa sesal yang tidak dibuat-buat. Persis seperti cara ayahnya bicara. Tapi Kiku berusaha mengeraskan hatinya. Ia tidak bisa menyerahkan sisa keluarganya begitu saja menantang maut. Buddha dan Dewa tidak akan melindungi mereka secara langsung, karena itulah Kiku akan berusaha melindungi adik-adiknya sekuat tenaga.

Menjauhkan mereka dari marabahaya.

“Kalau begitu, jelaskan semuanya. Setelah itu, baru saya akan memutuskan untuk memaafkan Anda atau tidak. Jika tidak, jangan pernah berharap sedikitpun saya akan menyerahkan adik-adik saya dengan mudah seperti onggokan daging yang siap Anda lemparkan pada para iblis itu.”

Kagaya bisa melihat dengan jelas semua emosi Kiku dalam mata merah gelap itu. Amarah yang terbalut dalam keputusasaan dan ketidakberdayaan. Kagaya mengenal tatapan itu, tatapannya sendiri yang ia lihat lewat pantulan cermin setelah ia mendapati dirinya ambruk hanya karena mengayunkan pedang lima kali.

“Baiklah.”