Actions

Work Header

Higanbana And Tsubaki

Chapter Text

 

 

 

 

 

 

 

 

Hidup selama ribuan tahun tanpa bisa berdiri di bawah sinar matahari adalah neraka baginya. Rasa iri dan amarah menggerogotinya setiap kali ia mendapati dirinya harus sembunyi di balik kegelapan manakala orang lain dapat menari riang tanpa takut terbakar habis menjadi debu oleh matahari. Ia hanya bisa menggeram, frustasi akan keadaannya yang menyedihkan seraya menyumpahi takdir yang mempermainkannya serta matahari yang bersinar mengejeknya.

Ia hanya ingin hidup sehat, Kami-sama! Ia lelah hidup dengan tubuh lemah yang hanya bisa berbaring di atas futon dan divonis berumur pendek! Tapi saat ia berhasil mendapatkan tubuh kuat, ia justru harus berlindung dalam kegelapan layaknya hewan malam.

Terkutuklah dokter sialan yang sudah memberi obat tak rampung padanya! Terkutuklah para Kami-sama yang tak mendengar doanya selama ini! Dan terkutuklah para manusia yang hidup tanpa beban sementara ia harus merangkak-rangkak dalam kegelapan!

Kini, dalam usahanya mencari cara agar mampu berdiri di bawah sinar matahari, ia menyalurkan rasa frustasi seiring dengan rasa laparnya terhadap daging dan darah manusia. Tak ada rasa bersalah setiap kali ia merenggut hidup manusia dan mengunyah daging mereka. Baginya, mereka yang lebih lemah pantas diperlakukan sebagai hewan ternak untuk ia konsumsi. Namun untuk beberapa manusia yang menurutnya layak, ia tak segan memberikan manusia itu sedikit darahnya dan menjadikannya sebagai budak.

Semua berjalan baik-baik saja awalnya. Ia sudah terbiasa dengan tubuh kuatnya memiliki kemampuan layaknya iblis dari neraka, memakan daging manusia untuk bertahan hidup, juga menjadikan beberapa manusia menjadi iblis sepertinya untuk melihat apakah ada di antara mereka yang bisa menaklukkan sinar matahari saat ia sudah frustasi karena tak mampu menemukan bunga lili laba-laba biru.

Namun, takdir kembali mengusik hidup yang sudah ia jalani selama ratusan tahun.

Di era Sengoku, takdir mengirimkan seorang pendekar pedang bernama Tsukiguni Yoriichi ke hadapannya. Dengan kemampuan dan teknik pedangnya yang hebat, pria beranting hanafuda itu berhasil menyudutkannya. Namun ia berhasil melarikan diri dengan mengorbankan beberapa budaknya. Seolah enggan menyerah, takdir kembali mengirimkan pendekar pedang lain beranting hanafuda dalam wujud seorang bocah remaja.

Kamado Tanjirou. Tidak hanya mengenakan anting yang sama, teknik berpedang, hawa keberadaan, dan segala yang dimilikinya sangat mirip dengan Yoriichi meski kenyataannya bocah itu bukanlah keturunan Yoriichi.

Pertarungan di era Taisho demi mendapatkan iblis yang mampu menaklukkan sinar matahari ternyata lebih dari sekedar menyudutkannya. Bocah itu serta kawan-kawannya yang bergabung dalam kelompok pemburu iblis nyaris mengalahkannya jika saja salah satu budaknya tidak mengirimnya jauh dari tempat pertempuran dengan kemampuan jurus darah iblisnya. Melihat budak itu tidak menyusul, ia menduga bahwa budak itu pasti sudah dikalahkan. Untuk kesekian kalinya, ia meraung frustasi. Ia nyaris tewas, semua budak-budak terbaiknya yang tak pernah dikalahkan selama ratusan tahun musnah dalam sekejap. Ia bahkan tak bisa mendapatkan iblis yang mampu menaklukkan sinar matahari, Nezuko, adik dari Tanjirou.

Waktu kembali bergulir, era pun berganti. Bukan hal sulit baginya memulihkan diri dan kembali menyusup dalam kehidupan manusia. Ia tak dapat menahan senyumnya saat melihat dengan matanya sendiri bagaimana para pendekar pedang mulai menipis, tergusur oleh pergantian jaman. Pendekar pedang yang masih mengincarnya bisa dihitung dengan jari. Namun, organisasi Pemburu Iblis masih berkeliaran, dengan keahlian dan kegigihan mereka yang semakin menguat. Meski logam yang menjadi bahan utama pedang nichirin, satu-satunya senjata yang mampu menebas para iblis, semakin langka dan sulit didapat, dengan kemajuan teknologi mereka tak hilang akal dalam menciptakan senjata baru untuk mengalahkan iblis yang setara dengan pedang nichirin.

Dan sekali lagi, takdir kembali mengusiknya.

Di suatu malam saat musim dingin, ia kembali merasa amarahnya berkobar saat melihat seorang gadis remaja. Pandangannya terpaku pada anting hanafuda di kedua telinganya, rambut dan mata hitam kemerahan yang menatap lugu ke serpihan salju yang turun dari langit, serta tanda memuakkan di dahinya. Ia memang sering mendengar bahwa tragedi terjadi tiga kali. Namun ia tak menyangka bahwa takdir masih begitu gigih mengirimnya penghalang dalam tujuannya menjadi makhluk abadi.

Musnahkan, batinnya dengan amarah menggelegak. Musnahkan gadis itu!