Actions

Work Header

Moonlight Catasthrope

Chapter Text

Sebuah bunyi 'poof!' terdengar dari dalam kantor Tsugikuni Michikatsu. Ia mendongak, menatap Douma, manusia serigala yang sebelumnya tidak ada di situ, kemudian mengabaikannya, membiarkan Kaigaku yang duduk di seberang mejanya tetap terpana melihat kemunculan pemuda berambut tak beraturan itu.

"Aku tidak tahu manusia serigala bisa melakukan apparate," komentar Michikatsu sambil mengecek lembaran perkamen di atas mejanya. Douma tertawa ringan.

"Aku merasa tersanjung, Kakushibo-dono memujiku sejauh itu," balasnya sambil menyeringai tipis. Michikatsu mendongak tak senang.

"Jangan memanggilku dengan nama itu di sini," gertaknya. Douma mengangkat alis dan mulutnya membentuk 'oh' tanpa suara, kemudian tercekikik sambil melambaikan tangannya ke arah Kaigaku.

"Bukankah bocah ini juga akan bergabung, Kakushibo-dono? Ah- maaf, maksudku Michikatsu-dono. Bukankah tidak masalah menyebutmu itu di depannya?"

"Bagaimana dengan tugasmu?" sela Michikatsu mengabaikan pertanyaan Douma. Manusia serigala itu menggumam perlahan dan mengusap darah dari sudut mulutnya. "Bagaimana, yah...?"

***

Genya tersedak, bahkan udara yang ia hirup terasa menyakiti dadanya. Darah masih mengalir deras dari luka di dada kanannya. Tak ada suara yang bisa ia keluarkan selain bunyi serak seperti hewan yang tercekik.

Matanya tidak fokus, tapi ia masih bisa melihat sosok kabur berambut putih menghampirinya, meneriakkan sesuatu yang tak bisa ia tangkap pada sosok lain.

***

"... Berhasil, sih. Cuma ya, yang kena bukan yang sulung. Aku ingin mengejarnya, tapi rupanya ia datang ke hutan dengan teman-temannya, aku tidak mau mengambil resiko ditangkap begitu," kata Douma, mengamati noda darah di ujung jarinya dan menjilatnya.

Michikatsu mendongak mendengar laporan Douma dengan kernyitan dalam di wajahnya. "Apa- jadi siapa yang kau gigit?"

Douma menelengkan kepalanya sambil menutup mata, seakan memori itu sudah lama ia lupakan.

Ia menjentikkan jari dan tersenyum. "Adiknya."

***

"Sanemi! Sanemi- jauh-jauh, Sanemi! Kyoujuro, panggil Tamayo-san! Sanemi! Berhenti!" Sabito berusaha menjauhkan Sanemi yang kalap dari tubuh Genya yang ditahan oleh Giyuu. Sabito mengerti cukup banyak tentang manusia serigala, dan ia sama sekali tak ingin ada di antara mereka yang menyentuh genangan darah Genya sekarang. "Kyoujuro! Cepat!" teriaknya, mengiringi langkah kaki Rengoku yang semakin menjauh.

"Lepaskan! Lepaskan, Gryffindor brengsek! Genya-!" Sabito menggeram tanpa membalas protes Sanemi dan berakhir harus memitingnya ke tanah.

"Tenang dulu, Sanemi! Kyoujuro sedang memanggil Tamayo-sa- Aduh!"

"Aku tidak peduli! Lepaskan!"

Giyuu memandangi kedua remaja itu dengan cemas, namun tak ingin menginterupsi tanpa melepaskan Genya. Anak itu sempat memberontak ketika lengannya ditahan Giyuu, tapi akhirnya melemahkan diri dan hanya berbaring di sana sembari mengerang pelan menahan sakit.

Giyuu tidak bisa membantu lebih lagi daripada itu. Satu-satunya yang bisa mereka lakukan saat itu hanyalah menunggu Rengoku kembali dengan bantuan.

***

"Kenapa tidak kau bunuh saja anak itu? Kecerobohanmu bisa membuat kita semua ketahuan," tanya Michikatsu, tapi nadanya tak terdengar sepanik kata-katanya.

"Kan sudah kubilaaang, kakaknya langsung menyerbuku begitu aku menggigit adiknya ... dan dua anak Gryffindor itu laju sekali larinya -- aku tidak mau tertangkap," balas Douma acuh tak acuh.

Michikatsu menghela napas panjang. "Ya sudah, pergilah. Kalau anak yang kau gigit dibawa ke bangsal rumah sakit, aku dan Ubuyashiki akan dipanggil ke sana dan kau tidak boleh terlihat di dalam kantorku," perintahnya.

"Aye aye, ketua," balas Douma dengan menirukan gerakan hormat sebelum membuka jendela, melompat, dan menghilang di tengah dinginnya malam. Dengan satu lambaian tangannya, Michikatsu menutup jendela itu, membuat kantor kembali sunyi dengan tiadanya suara tiupan angin malam.

Ia berbalik dan menatap anak Slytherin di depannya dengan mata tak berekspresi, seakan kejadian beberapa menit yang lalu tak pernah terjadi. "Jadi, Kaigaku, aku ingin tahu alasanmu bergabung kemari. Dan jujur saja, aku tak pernah punya minat terhadapmu, jadi pastikan alasanmu memuaskan."

***

Begitu Genya menghilang, dibawa oleh Yushiro dan Tamayo ke bangsal rumah sakit meninggalkan yang lainnya masih di hutan, Sabito akhirnya melepaskan kekangannya pada leher Sanemi, setengah menduga anak Slytherin itu akan melompat dan menghajarnya. Tapi Sanemi hanya terduduk di sana, matanya nenatap nanar ke tempat di mana Genya barusan terbaring.

"Sabito...? Apa dia kita bawa pulang ke sekolah?" tanya Giyuu, perlahan mendekati pacarnya dan menggenggam tangan murid Gryffindor itu. Sabito terdiam, menatap Sanemi, yang tampaknya tidak sadar bahwa air matanya sudah mengalir membasahi wajahnya.

Sabito merapatkan bibir dan memberi isyarat pada Giyuu untuk menunggu sebelum berjongkok di hadapan Sanemi dan perlahan meletakkan tangannya di atas lutut remaja itu. "Sanemi? Dengar aku, Genya akan baik-baik saja. Dia akan baik-baik saja, ditangani Yushiro dan Tamayo-san."

"Kalian akan baik-baik saja, kalian berdua," tambah Giyuu pelan, dan itulah yang berhasil membuat Sanemi sadar akan sekelilingnya dan tanpa peduli bahwa teman-temannya ada di sana melihatnya, ia menangis sejadi-jadinya.

Meskipun ia menangis, meskipun ia sekali lagi gagal menjadi kakak yang benar, meskipun ia yakin ia sedang terlihat lemah di depan temannya, Sanemi memohon sejadi-jadinya pada entah siapapun yang akan mendengar: Selamatkan Genya, dan berilah ia kesempatan satu kali lagi.