Actions

Work Header

Great, but ever Greater

Work Text:

 

 

They say high school kids know nothing of what eros is. But really, does anyone know what love actually means though?

 

 


 

 

“Halo?”

 

“Ya?”

 

“Jimin lo dimana? Anak-anak pada mau ngumpul di warjok tar jam limaan. Katanya mereka mau nyerang anak dua belas malem ini.” Suara di seberang telepon itu menjawab dengan tergesa.

 

“...Taehyung?” 

 

“Ikut.”

 


 

 

Satu tahun. Hubungan mereka sudah berjalan setahun lamanya. Namun tidak banyak yang berubah dari diri seorang Taehyung. Lelaki itu tetap saja dikenal menjadi pentolan sekolah yang selalu berperang terdepan ketika tawuran terjadi.

 

Tensi antara SMA mereka dengan sekolah yang menjadi rival mereka, SMAN 12, yang kian menegang pun tidak membantu hari-hari Taehyung untuk terhindar dari segala jenis perkelahian. 

 

“Aku gak suka kamu ikut-ikutan berantem kayak gitu; berapa kali harus aku bilang. Bahaya, tau.” sirat wajah Jimin menunjukkan sejuta kekesalannya terhadap kegiatan ekstrakurikuler Taehyung yang diembannya semenjak ia kelas sepuluh.

 

Saat ini, mereka sedang berdiri di dekat warjok, Warung Mas Joko, tongkrongan Taehyung bersama pergaulannya, atau yang dikenal oleh seantero sekolah sebagai kumpulan anak-anak nakal di sekolah mereka.

 

“Iyaa,” Taehyung tidak berani menatap sepasang mata elang yang perlahan membunuhnya dari dalam. 

 

“Kamu tuh udah kelas dua belas. Bisa gak sih berhenti berantem? Fokus aja mau masuk kuliah. Katanya mau masuk negri? Sampe kapan kamu mau kayak gini terus? Ga capek apa biarin bunda bolak balik sekolah dipanggil guru cuman gara-gara ngurusin kamu berantem mulu?” omelan panjang Jimin hanya direspon dengan garukan leher dan gerakan kaki, tatapannya mengadah ke bawah, memperhatikan jalan yang kini terlihat seratus kali lebih menarik.

 

“Aku gamau tau kamu gaboleh ikut. Kalo kamu ikut, kita putus.”

 

Pemuda yang sedari tadi diam itu terhenyak. Mengangkat kepalanya, kini menatap mata lelaki di hadapannya, mencari keseriusan dalam kata yang baru saja dilafalkannya.

 

Jimin berdiri beberapa inci lebih pendek dari pada Taehyung, membuatnya harus mengangkat kepala beberapa derajat keatas menatap mata Taehyung, mencoba menekankan segala kesungguhan dalam kalimatnya.

 

“Apasih, jangan ngomong gitu,” hanya itu respon Taehyung.

 

“Aku serius, Kim Taehyung. Please banget, jangan pergi.” kini nadanya memelas, perlahan meraih lengan Taehyung.

 

“Terakhir, ya. Terakhir banget.” Ia masih mencari celah untuk membujuk Jimin. “Yang kemaren juga kamu bilang terakhir. Setiap tawuran kamu bilang terakhir. Look where we are now. Gimana kalo terakhirnya bener-bener terakhir banget? Kalo kamu mati di sana gimana?” nada bicara Jimin naik satu oktaf, kalimatnya menusuk jahat.

 

“Engga kok, ga bakalan. Ada alasan aku bertahan sampe sekarang. Masa kamu meragukan kemampuan berantem aku?” Masih keras kepala ingin pergi, Taehyung tidak kehabisan akal mencoba membujuk Jimin untuk memberikan izin. “Engga mau tau. Ga boleh. Ga boleh pergi.”

 

Taehyung menyerah, kini tidak ada guna lagi membujuknya apabila Jimin sudah membulatkan tekadnya untuk tidak membolehkan dirinya pergi.

 

“Yaudah, iya, aku ga pergi.” 

 

“Bener?”

 

“Iya bener.”

 

“Janji?” uluran kelingking mungil Jimin terarah ke hadapan Taehyung. “Iya janji.” disambutnya kelingking itu dengan kelingking miliknya, dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri berani berbohong kepada sosok yang disebut sebagai pacarnya.

 

I’m so sorry, I have to.

 

Hanya kalimat itu yang terukir dalam benak Taehyung sebelum menarik Jimin dalam pelukannya dan meninggalkan kecup kecil di dahi lelaki itu.

 


 

 

Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.

 

Badan Jimin berkeringat dingin, kakinya membawanya untuk mengelilingi kamarnya tanpa arah. Mondar mandir seperti dikejar sesuatu, entah apa.

 

Keluar dari kamarnya, menuju dapur untuk mencari segelas air. Teguk demi teguk yang tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap gelisah yang menggurat dadanya.

 

Kembali ke kamarnya, merebahkan diri di atas kasur empuk kesayangannya, menatap plafon putih tanpa emosi yang menjadi pemandangannya. Ia membiarkan malam menelan kesadarannya, yang hilang bersama hati yang gundah.

 

If this is what i think it is, i’m going to make him regret ever promising something he can’t keep.

 


 

 

Tidak ada tanda-tanda keberadaan Taehyung di sekolah. Cemas yang menggerogoti hati Jimin semalaman dikonfirmasi oleh absensinya di sekolah. 

 

Beberapa kawan Taehyung yang muncul ke sekolah dengan wajah lebam dicegat oleh Jimin untuk menanyakan keberadaan Taehyung dalam perang semalam.

 

“Ga ada, kok, ga ikut.” begitu jawaban-jawaban yang diterima Jimin. Namun, Jimin tahu persis mereka telah diwanti-wanti oleh Taehyung untuk tidak memberitahu Jimin mengenai keberadaan Taehyung dalam tawuran kemarin malam. Tidak ada gunanya bertanya kepada mereka.

 

Jam istirahat pertama dimanfaatkannya untuk menelpon sosok yang dikhawatirkannya seharian.

 

“Halo?” suara serak seperti baru bangun menyapa telinga Jimin.

 

“Kamu dimana? Kenapa ga masuk? Kamu pergi ya kemarin malam? Kenapa pergi? Udah janji sama aku ga bakalan pergi kan?” bertubi-tubi pertanyaan menghantam Taehyung serentak.

 

“Iya selamat pagi juga,” suaranya masih serak, mencoba mengumpulkan nyawa.

 

“Jawab aku, Kim Taehyung” Galak sekali.

 

“Kata siapa? Engga, kok. Aku main game semalam. Ini ketiduran doang, baru kebangun.” Tidak puas dengan jawabannya, kecurigaan Jimin masih tetap kokoh. “Dateng sekolah kalo gitu.” 

 

Murid seperti Taehyung, yang senang seenaknya datang dan pulang sekolah tidak sesuai jam yang ditentukan regulasi sekolah, sering melakukannya: telat bangun, datang sekolah pada jam istirahat atau sesudahnya.

 

“Mager ah aku mau bolos aja. Kayaknya ga enak badan.” jawaban Taehyung disusul dengan batuk-batuk kecil, palsu. Jimin tau ia sedang bersandiwara. Terlalu dekat Jimin mengenalnya untuk paham ketika Ia sedang berdusta.

 

Memutuskan untuk bermain dalam permainan Taehyung, Jimin hanya memberikan desahan perlahan, kemudian memberikan jawaban “Yaudah nanti aku kesana. Mau dibawain apa?”

 

“Gausa, gausa, gapapa. Aku cuman batuk doang. Gapapa sumpah.See? Kentara sekali sedang menyembunyikan sesuatu. “Yaudah kalo gitu kamu ke sekolah.” Tantang Jimin.

 

Taehyung hanya terdiam, mengerti jika dia telah tertangkap basah. Ada jeda dalam pembicaraan mereka yang diisi oleh kecanggungan. Berat sekali udaranya. Taehyung paham ia tidak bisa mengelak lagi, Jimin tahu ia pergi ikut tawuran semalam.

 

Maafin aku,” hanya itu yang keluar dari mulut Taehyung, sebelum akhirnya Jimin menutup telpon, enggan melanjutkan pembicaraan.

 


 

 

Bunyi bel menggema di lorong-lorong sekolah. Menggaet tasnya, Jimin berjalan menuju gerbang sekolah yang kini telah terbuka lebar, membiarkan murid-murid pulang.

 

Langkahnya terhenti melihat mobil familiar yang terparkir di parkiran sekolah. Bunda.

 

“Jimin!!” sebelum sempat menemukan pemilik mobil itu, Jimin mendengar suara yang begitu dikenalnya memanggilnya, Bundanya Taehyung. Mencari arah suara berasal, Jimin menemukan ibunda tercinta Taehyung melambai ke arahnya beberapa meter dari pintu gerbang di belakangnya.

 

Jimin mengenal erat sosok seorang bunda Taehyung. Cantik. Penuh kasih, bahkan ketika Taehyung mengenalkan Jimin kepada bunda bukan sebagai teman melainkan sebagai pacar, Bundanya tertawa kecil memberikan komentar “Ih, akhirnya mau ya Jimin sama kamu, seneng deh bunda punya menantu cakep, sopan, pinter lagi.”

 

Berjalan menuju sosok kesayangan Taehyung itu, Jimin tersenyum manis ke arahnya. Mengambil tangan Bunda, memberikan salim hormat menyapanya, sebelum kemudian bertanya, “Dipanggil lagi ya bun? Taehyung berantem lagi?” 

 

“Jimin udah tau ya? Bunda dipesan Taehyung buat ga kasih tau kamu, nak. Tapi kayaknya kamu udah tau.” iba tersirat di mata ibundanya, mata yang sama yang diwariskan kepada Taehyung. Cara raut wajahnya menatap Jimin pun persis seperti anaknya. Gen indah yang diturunkan terlihat begitu jelas dalam cara mereka mengekspresikan perasaan.

 

“Jimin nanti ikut bunda pulang, boleh gak?” pertanyaan retorikal yang ditanyakan itu pasti memiliki jawaban ya. Ini bukan pertama kalinya ia pergi ke rumah Taehyung untuk menjenguknya pasca tawuran. “Boleh. Bunda mau ketemu wali kelas Taehyung dulu, tapi.”

 

“Iya bun, Jimin juga mau ke Indiemart depan sebentar beli betadine sama kapas juga. Nanti Jimin tunggu gerbang sini lagi aja.”

 

Bundanya hanya mengiyakan dan tersenyum ke arah pujaan hati anaknya, dalam hati bersyukur akan malaikat pengertian seperti Jimin ditempatkan di sisi buah hatinya.

 

Perjalanan ke rumah Taehyung diisi oleh cengkrama singkat Jimin dan Bunda. Berkali-kali permohonan maaf keluar dari mulut Jimin, menekankan dirinya telah mengingatkan Taehyung untuk berhenti berkelahi yang tidak digubrisnya.

 

Hal itu yang kemudian dijawab bunda dengan senyuman, memberi tahu Jimin bagaimana ia memahami anaknya. Hingga bertanya kepada Jimin mengapa masih saja mau dengan anaknya yang hobi adu jotos itu, yang dijawab Jimin dengan garukan kepala dan “Hehe, soalnya ganteng anak bunda.”

 

Ada-ada saja cinta anak muda, begitu kata Bunda.

 


 

 

Bunyi mobil menderu di garasi menandakan Ibundanya telah kembali dari sekolah. Taehyung yang sedari tadi berbaring, kini sigap duduk, kemudian menapakkan kakinya berjalan menuju ruang tamu, sebelum berteriak 

 

“Bundaaaa, tadi ketemu Jim—“

 

Kalimatnya terhenti melihat Bundanya tidak sendirian, ada orang lain yang turun dari mobil Bundanya, menenteng kantong plastik sedang dan tas sekolahnya. 

 

—in gak..” sisa kalimatnya tertelan dalam nada yang lebih kecil setelah mengunci pandang dengan lelaki di hadapannya.

 

Pertanyaan yang disambut tawa kecil sang ibunda. Mata Taehyung berkedip. Seperti pencuri yang tertangkap basah di tengah aksinya. Matanya mengikuti pergerakan Jimin, yang berjalan masuk ke dalam rumah setelah melepas sepatunya, kemudian melangkah perlahan ke arahnya, berhenti persis di hadapannya.

 

Tangan kanan yang tidak memegang belanjaan itu terangkat hingga ke dagu Taehyung, melakukan observasi atas kerusakan yang terjadi di wajahnya. Sang pemilik wajah hanya terpaku malu, merasa terekspos akan setiap kesalahannya.

 

“Bunda masuk ya, nak. Panggil aja kalo butuh apa-apa. Bunda di dapur mau masak.” Memotong momen sesaat milik mereka, sang Bunda tersenyum kemudian mengarah masuk ke dalam rumah sebelum dicegat Jimin, “Bunda, Jimin ikut. Mau ambil es.” 

 

Berpaling dari wajah Taehyung, mengekor kemana Bunda berjalan. Refleks Taehyung menahan tangan Jimin, hendak mengatakan sesuatu sebelum dipotong Jimin dengan perintah singkat 

 

“Tunggu di kamar.”

 

Nadanya dingin. Kesal. Taehyung bisa merasakan sendi-sendinya tegang. Kata-kata yang hendak dikeluarkannya kembali ditelan bulat-bulat. Diurungkan segala niat untuk tetap bercakap. Melihat Jimin berjalan, hingga hilang dari tatapannya ke arah pintu dapur.

 

Dalam gundah dan sesal yang memakannya, Taehyung masuk kembali ke kamarnya, duduk di pinggir tempat tidur. Beberapa menit setelahnya, Jimin masuk membawa kotak P3K, dan ember berisi balok-balok es batu.

 

Hening di antara mereka begitu mencekam. Taehyung memang pentolan sekolah, panglima tubir, jago berantem. Tapi lemah sudah ia di hadapan seorang Jimin yang marah.

 

Dalam diam, Jimin mendekatinya, menaruh sedikit betadine ke gumpalan kapas, kemudian mengangkat kembali dagu Taehyung. Meneliti kanvas berupa wajah yang hampir bonyok di hadapannya, menghitung luka yang menghiasinya.

 

Lebam dan gurat di pipi kanan, dan sedikit luka di ujung bibir kiri. Tidak terlalu parah.

 

Jemarinya bergerak lembut mengobati bekas luka di ujung kiri bibir Taehyung. Dampak sentuhan itu membuat Taehyung meringis perlahan. Badannya terkejut mundur beberapa inci. 

 

Pergerakan Taehyung dihentikan Jimin menggunakan tangan sebelahnya lagi. Tangannya mencengkeram bagian belakang leher Taehyung. Posisi mereka begitu intim, Taehyung yang duduk, menatap Jimin yang sedang berdiri sibuk mengobatinya.

 

Hanya bunyi jam dinding yang terdengar, sekali dua kali ringisan Taehyung. Jimin begitu hemat dalam penggunaan kosa katanya. Perintah-perintah seperti “Pegang,” “Tahan,” atau sekedar decakan desis karena Taehyung yang tak berhenti meringis.

 

Setelah mengompres lebamnya dengan es, Jimin beralih ke kedua tangan Taehyung. Ia duduk di sampingnya di tempat tidur, meraih tangan kanan yang terluka milik Taehyung. Tangan Jimin yang satu menggenggamnya, yang satu lagi menaruh obat atas luka di buku jarinya.

 

Maaf,” sesal menggerogot jiwa Taehyung, yang hanya dibalas dengan diam oleh Jimin.

 

Taehyung membenci keadaan ini. Akan lebih baik apabila ia mendengar omelan panjang Jimin, atau amarah Jimin, bahkan untuk tonjok-tonjokan juga lebih baik daripada hening.

 

“Maaf.” mengulang kembali permintaannya, mencoba memastikan sesal itu sampai hingga ke Jimin. Lelaki itu hanya menghela napas panjang, menyelesaikan pekerjaannya, membereskan peralatan obat-obatan yang digunakan.

 

Siklus yang sama, berkali-kali. Janji bahwa ini yang terakhir, tidak ditepati, dan mereka selalu berakhir di kamar ini, dengan keadaan yang sama: Jimin mengobati Taehyung.

 

Jimin berdiri hendak beranjak untuk keluar sebelum dicegat Taehyung. Tangannya memegang lengan Jimin.

 

“Aku mau nonton. Temenin, yuk?” suatu bentuk tawaran perdamaian kepada Jimin. Ia tau ia tidak bisa mengelak. Jimin menatap Taehyung sesaat sebelum mengangguk mengiyakan.

 

 


 

Dua film.

 

Sudah dua film selesai namun tidak satu katapun keluar dari mulut Jimin. Saat ini mereka berdua sedang menonton di kamar Taehyung, di atas tempat tidurnya, di hadapan tv kamar Taehyung. Jimin telah mengganti seragamnya dengan hoodie milik Taehyung yang berukuran satu size diatas ukurannya, dan sweatpants yang juga milik Taehyung. Ia duduk bersandar di tempat tidur dan kepala Taehyung terbaring di pahanya.

 

Sesekali ada elusan lembut di kepala Taehyung, namun itu tidak cukup. Jimin masih marah kepadanya, dan Taehyung tau itu.

 

Jimin,” panggilnya ditengah film ketiga mereka, yang dijawab dengan “Hm.” singkat dari Jimin.

 

“Maafin aku, jangan?”

 

“Hm.”

 

Sayang,

 

“Iya. Dimaafin.”

 

Terlalu mudah, tidak mungkin. “Udah gitu aja? Kamu ga mau marahin aku lagi? Mukul aku gitu karna ga denger-dengeran kamu?” 

 

“Hm.” kembali ke jawaban monoton yang pertama.

 

“Jimin, maaf,” Taehyung kembali mengucapkan kata itu.

 

Sepersekian waktu ada hening menggantung dalam obrol mereka. Hanya suara aktor di tv yang tidak lagi ditonton mereka, diam yang terlalu kuat menyiksa dinding-dinding kamar tidur Taehyung.

 

Sayang,” ucap Taehyung sekali lagi. 

 

“Taehyung. Aku mau putus.” cepat sekali kepala Taehyung mengadah ke atas, mencari mata Jimin, mencoba mencerna kalimat barusan.

 

“Aku capek. Selalu gini. Aku bilang berenti, kamu bilang yang terakhir—engga—kamu janji yang terakhir. Tapi ujung-ujungnya i always end up here in your room, patching up your bruises. Aku bilang ke kamu hari ini kalo kamu berantem lagi aku mau putus, dan iya aku serius. Aku mau putus.

 

Terperanjak bangun dari tidurnya, Taehyung menatap sepasang mata Jimin, memastikan semua yang dia katakan adalah nyata, benar adanya, bukan ilusi semata.

 

“Engga gitu. Jangan gitu. Aku ga akan berantem lagi kok iya. Ga akan tawuran lagi. Jangan marah lagi ya? Jimin?”

 

Ngga Taehyung. Aku udah bilang ke kamu untuk engga pergi, tapi dengan kamu kesana aku tau pasti sekarang prioritas kamu apa. Berapa kali aku harus bilang ke kamu, berantem kayak gini ga akan bawa kamu ke mana-mana. Kamu punya masa depan. You gotta live to fight another day. Oke iya aku akuin kamu bisa berantem. Aku juga bisa berantem walaupun ga sejago kamu. Aku juga bisa tawuran. Main adu jotos, aku ga takut, Taehyung. Aku juga cowo. Tapi aku memilih untuk engga. Kenapa? karna aku tau masa depan aku terlalu berharga untuk aku taruh sebagai resiko. Kamu ga mikirin apa nanti kalo kamu dibacok lagi gimana?” kata-kata panjang lebar Jimin keluar seiring jutaan emosi yang ternyata bersembunyi di balik kerahnya. Ditambah Jimin yang mengungkit perihal masa lalu Taehyung, yang pernah menjadi korban ditusuk senjata tajam.

 

Taehyung mati kutu, tidak mampu menjawab, hingga Jimin menambahkan “Aku capek, tau gak. Ngasih tau kamu. Taruhan berapa, bunda juga. Kamu ga mau dengerin orang tua kamu, kamu ga mau dengerin aku, padahal kamu tau kita cuman mau yang terbaik buat kamu. Lelah banget, sumpah. I’m done playing nurse with you. Aku udah gakuat, jadi mending kita putus aja. Sesuai janji aku kemarin, putus.”

 

“Jimin—”

 

Look at me, you big boy. Get your shit together, man. Gue gabisa selalu ingetin lo kayak gini. Lo harus nyadar sendiri. Lo udah gede. Dikit lagi mau kuliah. Pikirin masa depan lo. Gue juga mau masa depan lo cerah. Kalo emang putus sama lo akan memberikan efek jera, gapapa. Yes if it means losing you, i’d do that too, for you.” Kedua telapak Jimin memegang pipi Taehyung menatapnya, ada tekad dan cinta yang tersirat di sepasang mata hazel yang menatap Taehyung itu. 

 

“Pikirin baik-baik kata-kata gue. Niat gue. Kalo gue sama lo jodoh nanti kita pasti bakalan balik bareng lagi. Kalo engga, ya berarti we both just don’t deserve each other. Untuk sekarang, bahagia terus, Kim Taehyung. Gue sayang lo banget. Tapi gue gabisa sayang lo sendirian, lo juga harus sayang diri lo, sayang masa depan lo.” Jempol mungil Jimin mengelus pipi Taehyung, kemudian turun melepasnya. Ada hangat yang hilang dari bekas tanda tangan itu berlabuh.

 

Jimin berdiri, turun dari tempat tidur, kemudian mengarah ke meja untuk mengambil tasnya. Taehyung hanya bisa membeku, mencoba meraih realita. Sebelum melangkah keluar, Jimin meraih tubuh Taehyung dan memeluknya erat, mencium pucuk kepalanya.

 

“Good night.” ucapnya kecil. “Pamit ya, pulang. Jangan sedih lama-lama, nanti jelek.” ada kekeh kecil dalam nadanya.

 

“Mau pulang sekarang?” hanya itu yang bisa keluar dari mulut Taehyung, ia pun tak paham mengapa menanyakan itu, mungkin, mungkin ada ingsut mungil dalam dadanya yang tidak ingin membiarkan Jimin pergi.

 

“Iya, udah malem banget. Besok masuk sekolah kan? See you at school.” Jimin melepas pelukannya. 

 

Wait. Gue anter ya?”

 

“Gapapa. Udah gede, gue bisa pulang sendiri.” Tersenyum lelaki itu, sebelum berjalan keluar meninggalkan Taehyung dalam kesendiriannya. 

 

Pintu tertutup. Samar bunyi film yang sedari tadi tidak dihentikan. Kosong. Begitu saja, hilang? Semudah itu? Lelucon macam apa ini. Seseorang tolong yakinkan Taehyung ini bukan main-main. 

 

Penglihatannya membuyar, pintu yang menelan sosok Jimin tadi berubah abstrak, dunia meleleh kasar. Setetes air mata jatuh. Bangsat, Jimin, bangsat. Mengapa perih ini lebih sakit daripada ditonjok ketika tawuran?

 

Sementara lelaki yang dimaki Taehyung itu bersandar di dinding samping pintu kamar Taehyung setelah menutupnya. Tidak percaya baru saja melakukan itu. Tas yang dipegang jatuh ke lantai. Berdiri dengan punggung ditopang tembok, hingga lutut tak mampu menahan badannya, jongkok, duduk, kemudian membenam kepalanya tunduk.

 

Maaf.

 

Kali ini, sebaliknya, kata itu terucap di bibirnya.

 


 

 

Seantero sekolah tau mereka sedang tidak baik-baik saja. Tepat dua minggu semenjak mereka putus, dan atmosfir di dekat pergaulan mereka begitu tebal, tidak sedap.

 

Banyak spekulasi yang terjadi. Ada yang mengatakan hanya break singkat, ada yang bilang hanya bersitegang kecil seperti pasangan pada umumnya, adapun yang yakin mereka putus.

 

Taehyung yang hanya bungkam apabila ditanya ada apa, dan Jimin yang hanya tersenyum disusul jawaban singkat 

 

Gapapa, mau fokus belajar, udah mau UN.”

 

Lucu, ya? Iya, memang bullshit.

 

Jarang sekali mereka bertemu atau berpapasan. Padahal biasanya mereka selalu dihujat teman-temannya karena begitu domestik, bucin, menggelikan. Jimin menghindari Taehyung. Taehyung tidak mau bertemu Jimin untuk konsolidasi. Keduanya masih terjerumus dalam ego bengkak yang bertunas dalam diri masing-masing.

 

Rasa yang sempat berbunga dalam diri Taehyung berubah menjadi amarah tidak terselesaikan.

 

Well, Taehyung memang marah sekali kepada Jimin. Untuk berkelahi, itu haknya. Dia sudah melakukan hal ini bahkan jauh sebelum mengenal Jimin, menyukai Jimin, pacaran dengan Jimin. Berkelahi, tawuran; begitu lengket, itu hidupnya, erat menempel dalam dagingnya. 

 

Berkelahi adalah pilihannya, dan tidak suka ia, ketika Jimin melarangnya. Persetan dengan putus, persetan dengan sayang. Sampah.

 

Sayang seharusnya menerima apa adanya.

 


 

 

“Jimin, tolongin Ibu ya beliin soto Mang Awan di kantin.” Permintaan guru Biologi Jimin menciptakan beban di bahunya.

 

Kantin sekolah ramai saat jam istirahat, gerombolan Taehyung biasanya suka menempati meja pojok di kantin, sebagian besar tidak makan. Hanya duduk, bersenda gurau, dan salah satu teman Taehyung—Seokjin, suka membawa gitar dan membuat kegaduhan di kantin dengan nyanyian-nyanyian berisik mereka.

 

Semenjak putus, Jimin menghindari untuk jajan di kantin. Titip teman, atau tidak jajan, dan main di kelas.

 

Kakinya melangkah berat menuju kantin, memegang uang yang dititipkan gurunya untuk seporsi soto itu. Ia cemas akan apa yang akan dihadapinya di kantin nanti. Bagaimana teman-teman Taehyung akan bereaksi.

 

Baru ia memasuki pintu kantin beberapa langkah, batinnya sadar dimana kebisingan berasal. Meja pojok tempat Taehyung dan kawan-kawannya duduk.

 

Ada Seokjin duduk dengan gitar, Taehyung duduk di tengah mereka di atas meja, sampingnya Jeon Jungkook, yang juga duduk di atas meja, tidak sopan, tapi tidak ada yang berani menegur. Min Yoongi, dalam segala diam dan aura misteriusnya, juga beberapa wajah familiar yang Jimin lupa namanya.

 

Tiba di depan kantin Mang Awan, suara-suara yang tadi berisik berubah jadi bisik-bisik.

 

“Sst, woy, Taehyung.” Jimin tidak perlu memalingkan kepala ke arah mereka untuk tau mereka sedang membuat gestur dengan kepalanya, memberikan kode kepada Taehyung bahwa Jimin ada di situ. Jimin hanya bisa berharap untuk segera pergi dari sana.

 

Tiba-tiba nyanyian Seokjin dan bunyi gitar nyaring terdengar menggelegar ganggu seluruh kantin,

 

“Oh mantan kekasihku,“

 

Satu suara berubah menjadi paduan suara seluruh grup itu. Beberapa diselingi tawa kecil, menggoda Taehyung. Kini seluruh kantin memperhatikan grup mereka, dan tentu saja, Jimin.

 

“Jangan kau lupakan aku,”

 

Jimin ingin cepat-cepat pergi, ingin ini cepat berakhir. Jimin tidak suka suasana ini. Jimin tau Taehyung juga tidak menyukainya, ia bisa mendengar Taehyung mencoba menghentikan permainan gitar temannya, namun kedua lengannya ditahan yang lain.

 

“Bila suatu saat nanti,“

 

“Eh woy udah dong,” suara Taehyung, betapa Jimin merindukannya. Namun permintaan Taehyung tidak digubris, hanya susulan gelak tawa dari teman-temannya.

 

“Kau merindukanku,

 

datang, 

 

datang padaku.”

 

Suara gitar berakhir diikuti sedikit tawa, kemudian bel masuk. Jimin gelisah memperhatikan Mang Awan, berharap segera menyelesaikan pesanan. 

 

Guru piket mulai berjalan mengusir siswa-siswi untuk segera masuk kelas. Perlahan isi kantin mulai bubar. Jimin bersyukur atas bel yang berbunyi, menyelamatkan ia dan rasa malunya.

 

Pesanan selesai, terburu-buru mengambil nampan dan membalikkan badan, kepala Jimin menunduk menjaga kuah soto agar tidak tumpah, alih-alih menjaga kuah untuk tidak tumpah, Jimin malah menabrak kencang sesuatu yang keras.

 

Prang.

 

Nampan yang dipegang Jimin terjatuh, piring yang tadinya berisi soto kuah di dalamnya, kini terpecah belah berserakan di lantai. Baju Jimin basah oleh kuah soto. Panas. Jimin mengangkat kepalanya melihat tubuh yang baru saja ditabraknya.

 

Tentu saja, sang mantan. Aneh sekali mengakui hal itu, terasa lebih nyata sekarang, fakta bahwa mereka telah putus.

 

Mata mereka bertemu, tatap intens perang batin sedang mereka lalui. Ada warna yang menuliskan emosi rindu di mata Taehyung. Namun cepat-cepat terganti oleh sesuatu yang berbeda, tidak familiar di mata Jimin, sebuah emosi baru, marah, menyalahkan.

 

Taehyung mendengus dan tersenyum miring, mengangkat kedua tangannya disusul bahu yang naik kemudian dengan nada sombong tanpa sesal berucap “Ups, sori. Sengaja.”

 

Taehyung tidak mengerti apa yang membuatnya mengatakan hal itu. Teman-temannya bersiul keras, beberapa bahkan saling tos, suara-suara latar belakang seperti “Ooooo,” dalam beberapa nada berbeda pun bermunculan.

 

So this is how you’re gonna play it. Fine, two can play this game. Suara di kepala Jimin menggaung.

 

Jimin maju beberapa langkah, menarik kerah Taehyung. “Jangan cari masalah, lo. Gue ga takut.”

 

Jarak wajah keduanya begitu dekat. Nafas Taehyung memburu, Jimin juga tak kalah cepatnya. Lomba tatap mata semakin intens.

 

Sorakan dari belakang “Berantem! Berantem! Berantem!” menambah panas suasana. Namun sebelum sesuatu terjadi, suara guru piket membuyarkan suasana.

 

“Udah-udah gausah berantem, balik kelas kalian. Jimin kamu ganti baju. Taehyung ayo kembali ke kelas. Jam istirahat udah selesai. Bubar semuanya bubar.”

 

Tanpa ada kata maaf kerumunan itu berserakan. Sorakan penonton kecewa dimana-mana, berharap ada perkelahian yang bisa ditonton hari ini, walau naas hanya harap belaka.

 

“Udah bro, gausah ladenin. Yuk kelas dulu.” badan Jimin ditarik, ia bisa mendengar bisikan si ketua OSIS, Kim Namjoon—yang keberadaannya bahkan tidak disadari Jimin dari tadi—menariknya perlahan ke belakang. Mencoba mendamaikan suasana.

 

Jimin yang pertama memutuskan kontak mata, sebelum mundur, melepas kasar pegangan Namjoon, kemudian berjongkok memungut pecahan piring di lantai. Tidak ada habisnya ia berbuat baik.

 

Bahkan di keadaan genting seperti ini, ia masih menemukan cara untuk mengutak-atik hati Taehyung dengan caranya membersihkan piring itu.

 

Teman-teman Taehyung perlahan bubar, menuju kelas mereka masing-masing diikuti Namjoon di belakang mereka, memastikan mereka masuk kelas dan tidak bolos. Mang Awan yang menyaksikan momen tadi pun tersadar akan Jimin yang masih berusaha membereskan pecahan piring.

 

“Udah, mas Jimin, gapapa. Nanti saya bikinin lagi, punya Ibu Nur kan? Udah ga usah bersihin mas nanti ada klining serpis kesini kok.” kata Mang Awan dalam logat kentalnya, dengan prononsiasi yang lokal atas kata cleaning service.

 

Taehyung yang masih ada di situ, mengeluarkan dua lembar lima puluh ribuan dari dompetnya, kemudian memberikan uang itu kepada Mang Awan “Maaf Mang, ga sengaja tadi ketabrak. Ini ya buat piring sama sotonya.”

 

“Eh, nak Taehyung, gausah gapapa,” Jimin yang masih berjongkok di lantai pun juga protes. “Gausa. Ngapain. Ga butuh. Balik kelas sana lo. Gue yang disuruh Bu Nur, gue yang galiat jalan. Gue yang nabrak lo. Gue aja yang ganti. Mang Awan, nanti saya aja Mang yang ganti.”

 

“Gapapa Mang, ambil aja ini.” Taehyung melepas uang itu di meja kantin Mang Awan, kemudian balik badan hendak menuju kelas.

 

Jimin kesal, ingin mencoba menghentikan Taehyung “Tae—ah, fuck.” teriakan Jimin berhenti di tengah jalan, mengumpat, jarinya terluka karena pecahan piring.

 

“Tuhkan mas Jimin, berdarah sekarang, udah mas, nanti Mang Awan minta tolong klining serpis bersihin aja. Lukanya dibersihin dulu mas Jimin.” 

 

Langkah Taehyung terhenti mendengar Jimin terluka. Dibutuhkan seluruh raganya untuk tidak berbalik badan mengecek keadaan Jimin. 

 

Lo ga peduli, lo ga peduli, lo ga boleh peduli.

 

Menarik napas, Taehyung melanjutkan jalannya keluar dari kantin. Jimin akhirnya berdiri kemudian berbicara sebentar kepada Mang Awan, 

 

“Mang bikinin lagi sotonya nanti saya ambil balik lagi.” serunya sebelum berlari mengejar Taehyung keluar, menuju koridor depan kelas-kelas.

 

Taehyung!” seruan Jimin tidak digubris pemilik nama itu. 

 

“Kim Taehyung!!” Nama lengkap yang dipanggil dan digunakan Jimin hanya ketika ia kesal, marah atau serius itu hampir saja membuat Taehyung berhenti, out of habit.

 

“Woy,” Kini Jimin berdiri di hadapan Taehyung, napasnya naik turun. “Gue manggil lo, denger ga sih?”

 

Apa,” 

 

Jimin mengeluarkan dompet dari sakunya, mengeluarkan selembar seratus ribuan, kemudian menyodorkannya ke arah Taehyung. “Gaperlu duit lo. Makasih.”

 

Uluran uang Jimin hanya ditatap Taehyung lama. Satu detik. Dua. Tiga. Empat. Lima. Tangan Jimin bergerak kembali, melambaikan uang di tangannya. “Ngapain diliatin? Ini ambil. Duit lo yang tadi. Cepetan. Gue harus balik ngambil makanan Bu Nur.”

 

“Tangan lo.” jeda sejenak diisi anggukan Taehyung ke arah tangan Jimin. “Berdarah.” dan ya benar, warna darah menodai sedikit lembaran uang itu. Luka segar di jemari Jimin yang belum dibersihkan penyebabnya.

 

“oh iya—shit—“ sebelum Jimin sempat melakukan apapun, Taehyung memanggil seorang adik kelas yang sedang berjalan di koridor. 

 

“Sst. Lo, sini.”

 

“Saya kak?” Adik kelas itu menoleh.

 

“Iya. Lo. Minta tolong, dong.” nada Taehyung sangat bossy, walau kalimatnya hendak meminta bantuan.

 

“Tolong apa, kak?”

 

“Lo ke kantin Mang Awan bilang aja mau ngambil sotonya Bu Nur, trus lo anterin ke ruang guru ke Bu Nur. Udah dibayar makanannya. Bawain aja tolong boleh gak.”

 

“Oh, iya kak,”

 

“Bilang ke Bu Nur yang disuruh lagi di UKS, jadi nitip elu dulu. Makasih ya.” 

 

Sebelum menerima jawaban dari si adik kelas, maupun protes Jimin, Taehyung menarik tangan Jimin yang terulur, membawanya berjalan menuju Unit Kesehatan Sekolah.

 

Jimin terbirit dalam genggamannya, mencoba melepaskan tangan dari pengangan Taehyung yang mengikat. “Lepasin.

 

“Nanti. Obatin dulu.”

 

Jimin menyerah dan berhenti berjuang mencoba melepaskan lengannya. Mereka berjalan diam, Taehyung memegang tangan Jimin. Beriringan menuju UKS.

 

Ruang UKS tidak terkunci, namun tidak ada orang di dalamnya. Mereka tidak menemukan adanya dokter. Melihat saat ini baru selesai jam istirahat, kemungkinan sang dokter pun masih belum kembali dari waktu makan siangnya. 

 

Taehyung hanya menarik Jimin, membawanya duduk di tempat tidur. Ia lalu berjalan menuju rak terbuka yang berisi minyak kayu putih, betadine, dan beberapa obat harmless lainnya, mencomot sedikit kapas dan mengambil betadine.

 

Betapa terbaliknya keadaan sekarang. Biasanya yang selalu bertindak sebagai suster adalah Jimin bagi Taehyung. Tidak hari ini. Yang sibuk membersihkan luka Jimin adalah Taehyung, untuk hari ini.

 

“Tiati makanya lain kali.” Taehyung memulai pembicaraan sambil membersihkan luka di jari Jimin.

 

“Lo doa biar ada lain kali?”

 

“Ya engga juga sih, tapi siapa yang tau.”

 

Jimin menarik tangannya dari Taehyung, “Udah gapapa sekarang. lukanya kecil doang gaperlu, sumpah. Lebay lo.”

 

“Bentar, jangan gerak.” Taehyung mengeluarkan dompetnya, menarik keluar plester dengan motif Star Wars, membukanya, kemudian merekatkan ke jari Jimin. Jimin hanya memperhatikan dalam bisu.

 

“Tunggu sini, jangan kemana-mana.” Taehyung keluar dari ruangan, meninggalkan Jimin sendirian, namun kembali beberapa menit setelahnya.

 

“Buka baju lo.” kali ini perintah Taehyung menciptakan tanda tanya di kepala Jimin. Keadaan sepi ruangan yang tidak diisi siapapun makin memanaskan suasana.

 

Hah?” Jimin bertanya, seluruh darah di tubuh Jimin seperti mengalir ke kepalanya, pipinya memanas, jantungnya berdegup keras. 

 

“Jangan mikir aneh-aneh. Baju lo kotor kena soto tadi.” kalimat itu disusul dengan lemparan kaos dari Taehyung, yang ditangkap Jimin sigap.

 

Oh.

 

Malu. Jimin merasa ingin menenggelamkan dirinya ke Palung Mariana, mengambil identitas baru dan hidup di ujung Amerika, atau bahkan pindah ke planet manapun yang bisa mengangkutnya. Begitu malu ia dibuat lelaki tinggi dengan wajah manis ini.

 

Perlahan ia membuka kancing kemeja seragamnya, kemudian mengganti dengan kaos yang baru saja diberikan Taehyung. Wangi khas sitrus maskulin memenuhi indra penciumannya, sebuah bau yang selalu dirindukannya.

 

“Udah, nih.” ujarnya setelah selesai mengganti baju.

 

Jimin tidak tahu harus berkata apa, hanya mereka berdua, dalam ruangan sedang ini. Suhu udara terasa naik perlahan. “Makasih,” Jimin memilih kata itu.

 

Taehyung hanya mengangkat kening, mulutnya turun mencekung sedikit kebawah, mengangkat bahunya, kemudian menghembuskan nafas yang sepertinya ditahan-tahannya beberapa menit lalu.

 

“Yo. No worries. Gue masuk kelas duluan ya, jamnya pak Tono, galak.” Taehyung keluar dari ruangan itu dengan kedua tangannya di dalam kantong, berjalan cool penuh percaya diri, seperti tidak terjadi apa-apa.

 

Jimin yang masih belum berdiri, menatap jari manisnya yang terluka, kemudian tersenyum kecil melihat plester hitam bertema Star Wars itu bertengger di jarinya, mencium aroma wangi Taehyung dalam kaos yang kini menutupi kulitnya.

 

Kangen.

 


 

 

Momen singkat mereka di UKS menciptakan euforia pesta kembang api di perut Jimin. Kaos yang dipakai Jimin milik Taehyung pun dicuci dengan ekstra pelembut bahkan parfum kesayangannya disemprotkan, sebelum niat dikembalikan.

 

Teringat ia akan beberapa jaket, hoodie, dan celana Taehyung yang masih tersimpan di lemarinya. Taehyung dulu senang memberikan bajunya untuk dipakai Jimin, yang diterimanya dengan senang hati. Akan tetapi, sekarang Jimin sudah tidak punya hak untuk menyimpannya lagi. 

 

Gidik bahagia siang tadi kini turun digantikan kecewa dan berat hati. Jimin tau, ia harus mengembalikan pakaian itu kepada pemiliknya. Cepat-cepat ia mengeluarkan handphone untuk mengetik pesan singkat kepada Taehyung.

 

Gue mau balikin barang lo, anter ke rumah apa gimana?

 

warjok aja sini, gaada orang di rumah.

 

Oke, sejam lagi gue kesana.

 

ok

 

Jimin perlahan mengeluarkan pakaian-pakaian milik Taehyung dari lemarinya, mengambil tas kertas berukuran besar dan menumpukkannya di dalam. Lumayan banyak ternyata, hingga saat ini Jimin kurang menyadari jumlah barang Taehyung yang disimpannya.

 

Ia mengganti pakaian dengan kaos putih simpel dan ripped jeans hitam, sebelum bercermin, memastikan penampilannya baik.

 

Diantar ojek online menuju Warung Joko, sebelum tiba di sana, Jimin mencoba menelepon Taehyung. Dering bunyi bahwa telpon masuk kepada penerima berbunyi, namun tidak diangkat.

 

Mungkin ga kedengeran.

 

Beberapa meter mendekati Warung Joko, Jimin bisa melihat ada kegaduhan di jalan depannya, tepat di depan jalan warung Joko. Bising ribut teriakan orang-orang menggema dimana-mana.

 

Motor yang dinaiki Jimin menurunkan kecepatan, supir ojek itu menghampiri pejalan kaki terdekat, menanyakan mengenai keributan di depan jalan.

 

“Mas, muter balik aja mas, ada anak SMA lagi tawuran.” panik terlingkar dalam suara orang itu.

 

Satu yang ada di pikiran Jimin. Taehyung.

 

Inisiatif Jimin menepuk pundak supir ojek, “Mas gapapa saya turun sini aja. Temen saya disitu.”

 

“Lah, yakin nak? Jangan kesitu, bahaya nak.” Bapak yang tadi mereka tanyakan menambahkan.

 

“Gapapa pak,” Disusul Jimin yang turun kemudian melepas helmnya, menyodorkan helm kepada pemilik ojek, kemudian mengeluarkan lembaran dua puluh ribuan. “Kembaliannya buat mas aja.”

 

Hanya itu yang dikatakannya sebelum berjalan ke arah perang sedang terjadi. Kacau balau pemandangan di hadapannya. Kini Jimin bisa melihat jelas keadaan. Ada yang berkelahi menggunakan tangan kosong, hujan batu dimana-mana, beberapa membakar ban, perang yang menciptakan kegaduhan besar di sore itu.

 

Celingak-celinguk berusaha mencari wajah familiar, Jungkook, Yoongi, Seokjin, siapapun; Taehyung. Jimin mencari jarak aman, namun memasuki area pertempuran.

 

Matanya menemukan sosok Yoongi yang sementara menghabisi anak sekolah lawan. Posisi lawan yang terbaring, Yoongi berlutut mengunci badan lawan, tangan yang satu lagi melayangkan tinju demi tinju di wajah lawannya.

 

Yoongi!!

 

Suara Jimin keras memanggil mengeluarkan Yoongi dari fokusnya sesaat, membuat sang lawan melihat celah dan membalikkan posisi. Kini posisi Yoongi terancam diserang bertubi-tubi.

 

Melihat itu, Jimin refleks membanting tas yang ditentengnya, lari ke arah Yoongi, lalu Jimin menarik kasar orang itu untuk menghadapinya kemudian melayangkan pukulan keras ke ulu hatinya. Sekali, kemudian disusul tendangan kaki Jimin keras membantingnya.

 

Sang lawan mundur terbatuk, sempoyongan seperti sementara mabuk. Ia berjalan kembali menuju teman-temannya berusaha mencari pertolongan. 

 

Woy, anjing!

 

Kawan dari lawan yang baru saja dipukul Jimin menyaksikan hal itu, memberi isyarat kepada teman yang satu lagi untuk menyelesaikan Yoongi, kemudian terjadilah tempur antara mereka. 

 

Jimin melawan satu, Yoongi melawan yang satu lagi. Perkelahian sengit, beberapa kali lawannya berhasil mendaratkan tinju di wajah Jimin yang menorehkan luka, namun Jimin bisa mengimbangi bahkan melebihi kemampuan lawannya, ia yang baru tiba memiliki stamina full untuk berkelahi, sementara lawannya memiliki stamina yang sudah mengikis, pukulan demi pukulan yang dilayangkan Jimin membuat lawan sempoyongan, pusing karena kelelahan.

 

“Ngapain lo disini? Balik sebelum Taehyung ngeliat lo.” teriak Yoongi disela perkelahian. Hebat memang mereka mengobrol ketika sedang berkelahi.

 

“Gue—“pukulan mendarat di tubuh lawan”—nyari dia,” kini tangan Jimin ditahan oleh lawan mencoba mengehentikan tinju selanjutnya.

 

Tiba-tiba bala bantuan datang membantu Jimin dan Yoongi, mengeroyok kedua lawan mereka, yang tumbang cepat karena sudah terlanjur kelelahan.

 

Jimin membiarkan anak sekolahnya membereskan dan melanjutkan perkelahian, ia melanjutkan misi pencariannya menemukan Taehyung.

 

Ia mengerti Taehyung sangat hebat dalam berkelahi. Tapi begitu Jimin ditempatkan di arena, merasakan sendiri bahaya di dalamnya, cemas yang menggerogotinya semakin mengeras.

 

Taehyung, lo dimana? Taehyung. Taehyung. Taehyung.

 

Hanya itu di pikiran Jimin menerobos medan area. Masih sibuk mencoba mencari sosok Taehyung, suara dari belakang Jimin, salah satu anak sekolah Jimin berteriak keras dengan suara serak

 

“Mundur, woy, mundur!”

 

Perlahan beberapa anak sekolah Jimin terlihat mulai menghentikan perkelahian masing-masing dan balik badan. Jimin kini sedang melawan arus yang bergerak mundur. Masih mencoba mencari Taehyung.

 

Seketika tangan Jimin ditarik kasar oleh sosok Jungkook yang mengenalnya, “Ngapain lo disini? Balik. Sekarang. Mereka pada bawa senjata.”

 

Tae—

 

“Taehyung jago berantem. Dia pasti aman.” tergesa-gesa Jungkook memotong Jimin masih memegang keras tangannya.

 

Jimin masih ingin merespon Jungkook, membantahnya bahwa ia tak ingin beranjak sebelum memastikan Taehyung aman, hingga terdengar erangan kencang dari sudut telinga Jimin. Suara itu begitu familiar, suara yang berasal dari pemuda yang dari tadi dicari-cari Jimin.

 

Taehyung sedang dikeroyok lima orang, kelima orang itu berbadan setinggi Taehyung, dengan kasar memojokkan Taehyung. Lelaki itu kini hampir terbaring di aspal, tendangan demi tendangan diterimanya, diikuti tinju dan hantaman ke hampir seluruh bagian tubuhnya.

 

Menyaksikan itu, Jimin melepaskan tangan Jungkook kasar, meninggalkan ia berdiri di situ, berlari cepat menuju Taehyung.

 

Taehyung sudah dipukuli habis-habisan, wajahnya baret sana-sini, memegang perutnya, merintih setelah ditendang berulang-ulang.

 

“Anjing, bangsat. Lima lawan satu, goblok lo semua.” makian lazim keluar dari mulut Jimin, ada amarah dalam setiap katanya.

 

Jimin menarik kasar salah satu dari mereka yang memukulnya, melayangkan tinju refleks tepat ke wajah.  Kini keempat temannya meninggalkan Taehyung yang merintih, beralih untuk memukuli Jimin.

 

Jimin,

 

Taehyung yang sudah lunglai lemas berusaha menahan kaki salah satu dari mereka, yang kemudian dengan mudah terlepas setelah ditendang kasar pemiliknya. Jimin yang masih berusaha keras menghadang, sebuah aksi pertahanan diri. Tidak ada celah untuk menerjang.

 

Dalam perkelahian intens itu, Jimin yang kelelahan masih berusaha menghadapi lawan-lawannya yang berbadan besar. Ia melayangkan pukulan demi pukulan dengan sekuat tenaga yang tersisa di badannya. Sibuk menghadapi dua orang, Jimin tidak sadar akan hal-hal lainnya yang terjadi di sekitarnya.

 

Tiba-tiba ada hantaman keras dari belakang kepalanya, begitu keras menghentikannya dari kegiatan adu pukulnya. Kepalanya pusing, ia mundur beberapa langkah, menyaksikan seseorang lari terbirit-birit melewatinya membawa sebuah baseball bat. Benda yang sepertinya baru saja menghantam kepalanya.

 

Sempoyongan pusing, Jimin terduduk di aspal mencoba meraih realita. Menggeleng pelan kepalanya yang sakit. Ada suara tajam di telinganya yang menyerap habis suara di luar. Pandangan Jimin mulai tidak fokus, samar ia merdengar suara Jungkook yang membawa bantuan, beberapa kawan mereka mendekat, membantu menyerang dan menghadang lawan-lawan mereka.

 

Taehyung yang sudah menemukan kesadaran sedikit pun bangkit, masih berusaha melanjutkan pertarungan. Membabi buta menyerang, marah kepada mereka yang menghabisi Jimin. 

 

Berani lo mukulin Jimin. Berani lo, anjing.

 

Pandangannya merah, hanya Jimin yang terluka di pikirannya. Mengutuki lawan, diikuti dengan sejuta umpatan. Makian demi makian, tinju demi tinju, tendang demi tendang.

 

Mata Jimin samar menyaksikan Taehyung menjadi-jadi. Ia tahu Taehyung sedang tidak berpikir jernih.

 

Ekor penglihatannya melihat tangan lawan meraih sesuatu. Benda itu keluar sarung yang tersimpan di kantong lawan, memantulkan cahaya mentari sore itu.

 

Fuck.

 

Jimin sekuat tenaga mencoba berdiri, memegang Taehyung di kedua bahunya, menariknya mundur, kemudian mendorong Taehyung kencang ke arah tanah, sekeras energi yang tersisa di badannya, sebelum merasakan benda asing itu masuk menancap tubuhnya mendalam, kemudian ditarik keluar lagi darinya, menyebabkan darah mengucur deras, kaos putih yang dipakainya perlahan mencetak warna darahnya, bersimbah merah.

 

Taehyung yang duduk terjatuh menyaksikan kejadian dramatis di depannya membeku kejam. Sang pelaku terbirit lari meninggalkan lokasi. Teman-temannya mengikuti, melihat sudah ada yang terluka parah.

 

Tubuh Jimin terbanting duduk, diikuti seluruh raganya memukul keras aspal. Perutnya kaku, mati rasa. Telinganya menciptakan suara nging tajam menutup suara yang lain. Kedua pandangannya yang miring melihat Taehyung mencoba mengejar pelaku berteriak seperti orang kesurupan, sebelum kedua lengannya ditahan Jungkook dan Yoongi.

 

Suara-suara di sekitar Jimin samar, ia bisa merasakan orang-orang mencoba memanggil namanya. Matanya berat sekali, begitu mengantuk. Badan mungilnya terasa diangkat pelan.

 

“..in?” samar suara itu terdengar di telinga Jimin.

 

“Hai, hey hey, hey. Liat gue, Jimin liat gue.” suara hangat itu begitu dekat di telinga Jimin.

 

“Jimin bisa denger suara aku? Jangan tidur,”

 

Kemampuan melihatnya buram, namun ia bisa melihat wajah Taehyung yang penuh kekhawatiran, penuh baret luka dan lebam, namun ada panik dalam melodi suaranya.

 

“Jimin liat gue, Jimin. Keep your eyes on me.

 

“Taeh— an..tuk,”

 

Hanya potongan-potongan kecil kata yang keluar dari mulut Jimin. Terlalu mengantuk, matanya semakin berat, namun telinganya mendengar isakan kecil dari kalimat Taehyung.

 

“Park Jimin, tahan bentar ya. Help is coming, help is coming.

 

Jimin berusaha membuka matanya menatap mata Taehyung yang kini banjir air mata. Taehyung...menangis?

 

It’s okay baby I‘ve got you it’s okay.

 

Hanya itu yang didengarnya sebelum ia tak mampu menahan kantuknya.

 


 

 

“Eh Jimin, ikutlah, yuk. Temenin gue lah.” Hoseok masih setengah memelas, mencoba membujuk Jimin untuk ikut dengannya.

 

“Ngapain anjir, kenal aja kaga.” 

 

“Ya makanya kenalan.”

 

Sore itu, selesai rutinitas latihan dance mereka, Hoseok sedang berusaha mencoba membujuk Jimin untuk menemaninya mengunjungi saudara yang sedang dirawat di rumah sakit, akibat ditusuk saat sedang tawuran. Kabarnya, ia baru saja bangun setelah tidak sadarkan diri beberapa hari, itulah mengapa Hoseok meminta Jimin menemaninya.

 

“Ya lagian lo berdua satu sekolah tapi ga ngomong.” tambah Hoseok.

 

“Ya gimana, beda, man. Sorry to say tapi gue mainnya sama anak baik-baik, lo tau sodara lo modelannya kek mana. Liat aja tuh masuk rumah sakit ditikam orang.” maksud tersirat Jimin adalah reputasi saudara Hoseok yang merupakan panglima petarung ketika tawuran.

 

“Ya, iya juga sih. Yaudah, minimal saling kenalan. Secara resmi gitu kan,”

 

“Bukannya dia lagi ga sadar? Lagi tidur kan? Gimana caranya kenalan anjir,”

 

“Udah bangun, tadi pagi. Yuklah, abis itu gue jajanin deh.”

 

Mendengar kata jajan, Jimin tersenyum manis “Kintan yak.”

 

“Buset dah sekalian aja panggil gue bapak.”

 

“Yes daddy,”

 

“Goblok lo, tai.” Hoseok tertawa sambil mengangkat tangan hendak memukul Jimin, sebelum Jimin tertawa menghindarinya.

 

“Ye, kasar amat mas. Santai dong.” goda Jimin.

 

“Jadi pergi gak nih?”

 

“Kintan gak nih?”

 

“Sushi aja gimana?”

 

“Okay deal.”

 

Begitulah bagaimana mereka bisa berakhir di gerbang depan Rumah Sakit besar ini.

 

Hoseok yang susah payah membujuk Jimin untuk menemaninya, bahkan memberikan traktiran gratis untuk Jimin—yang ia sesali karena cukup merogoh kantongnya, ditambah porsi makan lelaki yang sedang dalam masa puber itu pun tidak sedikit—kini sedang sibuk menelepon tantenya untuk menanyakan nomor kamar.

 

“... oke tante, iya, aku udah nyampe. 

 

Ngga kok, sama temen.

 

Bukan, bukan pacar aku kok.”

 

Hoseok tertawa kecil sebelum melirik Jimin kemudian menjawab suara di seberang dengan “Ngga, jelek tante, makanya ga aku pacarin.”

 

Jimin melempar tatapan tajam mengancam kepada Hoseok “Okee tante see you,”

 

Menutup telponnya, pinggang Hoseok disambut cubitan kecil dari Jimin yang dijawabnya dengan tawa kemudian mereka berjalan masuk menuju lorong Rumah Sakit menuju sepupunya

 


 

 

Dinding putih yang sama, namun kini posisinya tertukar. Bukan Taehyung yang terbaring di tempat tidur, tetapi Jimin.

 

Seorang Park Jimin.

 

Laki-laki yang bisa berantem, namun tidak menyukai perkelahian. Senyuman mata menggaris favorit Taehyung yang begitu dicintainya kini luntur digantikan hampa. Hanya ekspresi datar, dan hening yang menyiksa. Hening kecuali bunyi monitor jantung yang kini terpasang di dadanya.

 

Putus dengan Jimin sakit adanya, tapi ini? Mengetahui kapan ia akan bangun kembali, penantian akan menemukan kembali mata hazel kesayangannya terasa begitu panjang.

 

Hari-hari berjalan dalam tempo yang begitu lambat. Laun yang menelan bulat kosong yang membara dalam dadanya, mengutak-atik pikirannya yang kacau hanya membuat segala sesuatu memburuk.

 

Sesal.

 

Terlalu sempit untuk memberikan arti literasi sebuah kata yang begitu kuat, menyengat, menghantui hati pemiliknya. Menghujani hari-harinya yang sepi, memeluknya ketika mendengar lagu favorit Jimin yang keluar setiap kalo ia mendengar musik on shuffle

 

Mungkin mereka sudah putus, tapi Taehyung tidak pernah berhenti menyayanginya. Mungkin Taehyung suka tawuran, tapi ia membenci saat Jimin harus terluka karena tawuran. Mungkin, mungkin saja nanti Jimin tidak ingin melihat wajahnya lagi, karena telah menyebabkannya terbaring kaku di tempat ini, tetapi Taehyung bisa mengerti, Taehyung harus paham apabila suatu saat nanti ia harus melanjutkan kehidupan tanpa Jimin di dalamnya, namun yang pasti ia tahu, ia tidak akan berhenti mencintai Jimin.

 

Jutaan rasa yang mengalir di seluruh nadinya mengingat alasan awal mereka bisa putus. Taehyung mengutuk diri sendiri karena hari dimana Jimin di—celaka, tawuran yang terjadi merupakan pembalasan setelah serangan pertama kepada anak-anak sekolah Taehyung, serangan yang membuat mereka putus.

 

Taehyung dan teman-temannya kena skorsing dari sekolah. Posisi mereka yang sudah tahun terakhir membuat sekolah tidak bisa mengeluarkan mereka.

 

Hari-hari skorsing Taehyung dihabiskannya di rumah sakit. Mengobrol dengan Jimin yang masih tertidur, bercerita tentang gosip Lane Today, atau sekedar memberi tahu fakta-fakta acak yang bisa ditemukannya di internet.

 

Sudah seminggu semenjak operasi dan kejadian itu namun Jimin belum kunjung bangun. Dokter memberikan prediksi dua minggu sebelum ia bisa sadarkan diri. Taehyung harus kembali ke sekolah hari senin nanti, sebuah rutinitas yang dibencinya.

 

Taehyung, jangan malas-malas sekolah. Masa kamu ga mau ketemu aku di sekolah.

 

Begitu dulu kata Jimin ketika Taehyung berkata kepadanya bahwa ia ingin bolos. Kata-kata yang menjadi motivasi Taehyung untuk menurunkan kadar absennya di kelas.

 

“Sekarang ga ada kamu lagi di sekolah, aku ga mau ke sekolah. Tapi aku tau kamu pasti ngomel-ngomel kalo kamu disini sekarang, jadi besok aku sekolah deh, nanti cepet bangun ya biar bisa ketemu kamu di sekolah lagi.”

 

Kemudian muncul sebuah rutinitas dimana Taehyung datang sekolah tepat waktu, dengan seragam rapih, tidak membolos kelas, mengerjakan tugasnya dengan baik, bahkan aktif bertanya di kelas. Guru-guru yang dulu tidak suka dengan Taehyung kini menemukan bibit intelegensi dalam diri Taehyung. Teman-teman gerombolannya pun dimotivasi untuk mulai rajin belajar, bahkan mengajar mereka apabila ada yang tidak dipahami. Tentu saja, ia banjir pujian.

 

Sudah menjadi topik hangat satu sekolah ketika mengetahui Jimin terluka saat tawuran melawan SMA rival. Melihat perubahan Taehyung setelah seminggu tidak sekolah akibat skorsing kemudian kembali ke sekolah menjadi siswa yang baik pun tak luput menjadi buah bibir. 

 

Taehyung tentu bisa merasakan ketika mereka membicarakannya. Di lorong-lorong jalan depan kelas, di kantor guru, di kantin. Beberapa bahkan berbisik sambil menatapnya. Terlalu jelas.

 

Namun tidak dipedulikannya semua itu. Yang ada di pikirannya hanyalah Jimin. 

 

Jimin. Jimin. Park Jimin.

 

Pulang sekolah Taehyung selalu kembali ke kamar Rumah Sakit dimana Jimin dirawat, terkadang sendirian menjaganya, atau bersama ibunda Jimin. Ayah Jimin sibuk bekerja hingga hanya datang saat malam hari. Hari-hari tertentu dimana Ibunda Jimin tidak bisa meninggalkan pekerjaannya pun biasanya digantikan Taehyung.

 

Taehyung selalu pulang larut malam, kemudian kembali pagi sebelum berangkat sekolah. Beberapa teman-teman Jimin datang menjenguk, Namjoon—si ketua osis, Sungwoon, Taemin, saudara Taehyung dan teman Jimin di sanggar tarinya—Hoseok juga datang, bahkan teman-teman berandalan Taehyung: Yoongi, Seokjin, Jungkook dan beberapa lainnya menyempatkan diri untuk menjenguk.

 

Hari itu setelah hari yang panjang di sekolah, Taehyung kembali duduk di kamar rumah sakit itu. Melewati sore, hingga malam. Ibunda dan Ayah Jimin harus mengurus pekerjaan yang tidak bisa ditinggal hingga ia meminta Taehyung untuk menginap. 

 

Pikirannya melayang kemana-mana. Melihat wujud Jimin yang semakin kurus, pipinya yang dulu chubby memerah kini sedikit terlihat menirus.

 

Ia meraih tangan Jimin yang terkulai lemas, kemudian menciumnya begitu lembut.

 

Maafin aku.

 

Hanya itu yang terucap dari bibirnya. Tidak tahu tujuan pasti dirinya meminta maaf. Lebih tepatnya tidak tahu pasti untuk kesalahan yang mana ia harus meminta maaf duluan.

 

Kecup pelan kembali menempel ke tangan Jimin, bibirnya berhenti di situ beberapa detik, matanya tertutup, berusaha memberikan cium setulus mungkin kepada pemilik tangan itu.

 

Begitu tulus, penuh perasaan, hingga air mata menetes. Ia cepat-cepat mundur dan berusaha menghapusnya, namun semakin dihapus, deras mengucur membasahi pipinya semakin mengejar.

 

Hingga ia pasrah berhenti mencoba menghapus air matanya, membiarkan bendungan emosi yang menimbun untuk keluar melalui isaknya. Ia menarik nafas namun tarikan itu berubah menjadi bunyi tidak sedap, bunyi isak yang menusuk.

 

Tangis Taehyung semakin menjadi. Kini bukan silent tears, namun tangisan berisik yang menjadi satu-satunya bunyi selain bunyi monitor jantung di ruangan itu.

 

Ia berusaha menenangkan dirinya, berusaha mengingat kembali bagaimana caranya untuk bernafas, sebelum mengambil acak buku catatan sekolahnya dari tas, mengambil pulpen, menuju ke bagian tengah buku itu kemudian mulai menulis.

 


 

 

“Eh, tante!!” Sebelum tiba di ruangan kamar, Hoseok dan Jimin menemukan Ibunda Taehyung di lorong rumah sakit, sedang berjalan sendirian.

 

Mereka menghampiri ibunda Taehyung, kemudian memberikan salim hormat “Eh, Hoseok, sayang. Siapa nih?”

 

Yang ditanyakan hanya tersenyum manis, kemudian menambahkan “Halo tante, saya Jimin. Park Jimin. Temannya Hoseok di sanggar nari.”

 

“Dia satu sekolah juga sama anak tante, cuman mereka ga deket kayaknya.”

 

“Oh gitu, eh tapi kata kamu jelek, ini jelek dari mananya. Cakep malah.” pujian yang membuat Jimin sedikit malu.

 

”Halo, Jimin. Kamu manis sekali ya. Kenalin, saya mamanya Taehyung. Tapi kamu panggil aja Bunda, gausah tante.” kata wanita cantik itu.

 

Mamanya Taehyung. Taehyung. Nama itu kembali diulang Jimin di hatinya.

 

“Eh?” sontak Jimin bertanya, pipinya berubah krinsom semburat merah.

 

Hoseok tertawa kecil. “Ih, tante, apaan, jangan digoda, kasian anak orang merah tuh.”

 

“Gapapa lah ya, hitung-hitung mau curi start, mengaminkan jadi calon menantu.”

 

Lorong rumah sakit itu dipenuhi tawa Hoseok dan Bunda, meninggalkan Jimin dalam segala kecanggungannya yang hanya menggaruk-garuk bagian belakang lehernya.

 

“Bunda yakin kamu pasti mau anak bunda, ganteng soalnya.”

 

Jimin berpikir bagaimana menyelamatkan dirinya dari malu mendalam ini. Pernyataan Bunda hanya dibiarkannya menggantung di udara dengan senyuman manisnya.

 

“Kalian belum masuk kan? Yuk, bareng Bunda aja. Tadi Bunda pergi ke lobby sebentar ngurusin berkas. Di kamar ada temen-temennya Taehyung tapi. Jadi agak rame.”

 

Oke gapapa tante. Yuk.”

 

Taehyung. Jimin mempelajari nama itu. Ada desir hangat ketika Jimin mendengar nama lelaki pentolan sekolah itu. Ia telah mengetahui namanya karena di sekolah ia begitu terkenal dengan kelakuan sesuka hatinya dan kejadian barusan yang menimpanya namun mendengar namanya seperti ini, penuh kasih dari ibundanya, membawa rasa tertentu bangkit dalam dadanya. Penasaran akan orang seperti apa Taehyung sebenarnya? Tentu.

 

Hoseok dan Bunda berjalan beriringan diikuti Jimin di belakang. Di penghujung lorong, dari sebuah kamar, terdengar samar suara-suara berisik tawa canda yang ramai.

 

Bunda membuka pintu perlahan, menyebabkan berisik itu menurun disusul dengan “Eh tante, hai. Udah balik?” “Udah selesai ngurus berkasnya tan?” dari sejumlah remaja-remaja lelaki.

 

Jimin memasuki ruangan itu pelan, harap cemas akan bertemu teman-teman Taehyung, beberapa ia kenal—well, tahu—karena siapa sih yang tidak kenal dengan anak-anak nakal sekolah mereka?

 

Memasuki kamar itu, Ia melihat ada lima orang di dalamnya, lima terhitung dengan yang sedang terbaring sakit. Jimin tahu nama mereka, walau tidak begitu kenal dekat dengan mereka. Si rambut coconut, Jeon Jungkook. Tukang nyanyi bawa gitar, Kim Seokjin, kemudian si pendiam misterius, Min Yoongi.

 

Di ruangan itu sedang terjadi kenalan singkat antara Hoseok dan beberapa teman Taehyung. Terlihat Taehyung mengenalkan Hoseok sebagai saudaranya kepada teman-temannya.

 

Mata Jimin menemukan Namjoon yang sedang berdiri tersenyum di dekat pintu. Namjoon, Kim Namjoon merupakan salah satu temannya yang tidak bergaul erat dengan anak-anak seperti Taehyung dan teman-temannya, membuat ia kaget melihat keberadaan Namjoon di situ. Refleks ia mendekati Namjoon kemudian berbisik di sampingnya.

 

“Heh, ngapain lo disini?”

 

Namjoon yang sedari tadi sibuk tertawa akan lelucon yang dibuat teman-teman Taehyung hanya membalas dengan pertanyaan “Eh? Jimin? Kenapa lo disini?”

 

“Gue nanya duluan kali.”

 

“Gue kan ketua kelas dia, tadi dateng sama wali kelas buat jenguk tapi wali kelasnya pulang duluan. Lo sendiri ngapain?” tanyanya balik.

 

Sebelum sempat menjawab pertanyaan Namjoon, obrolan bisik mereka dipotong oleh Bunda Taehyung “Eh Jimin, kok sembunyi, sini kenalin, nak, anak Bunda, namanya Taehyung.”

 

Taehyung yang sedang bersenda gurau dengan kawan-kawannya, kemudian diam mencari sosok yang dipanggil bunda. Badan kecil yang bersembunyi di balik badan Namjoon itu menampakkan dirinya.

 

“Eh iya tante, hai semuanya.”

 

Canda tawa seketika terhenti di ruangan itu. Bising yang digantikan suara monitor jantung Taehyung. Dimulai dari bunyi denyut perlahan, sebelum akhirnya naik setelah mengunci pandang dengan lelaki mungil yang sedang menyapanya. Denyut jantungnya menggila. Pipinya merah. Taehyung sedang gugup. Deg-degan.

 

Kejadian itu disambut gelak tawa oleh segerombolan anak-anak di ruang itu.

 

“Apaan kan udah dibilang ga usah panggil tante, Bunda aja.”

 

Pernyataan bunda disambut sorak-sorai oleh teman-teman Taehyung, tawa keras Hoseok dan Namjoon. Namjoon yang berada di samping Jimin menyikut perlahan lengan Jimin sebelum menggodanya “Ciyee,”

 

Tawa mereka mereda sebelum Hoseok menambahkan “Eh, kenalin. Ini Jimin. Park Jimin. Dia satu sanggar nari sama gue, satu sekolah lu pada juga. Eh woi Jimin kenalan sini sama sodara gue.”

 

Jimin berjalan perlahan mendekati tempat tidur menyodorkan tangan kanannya untuk memberi salaman, sebelum disambut malu oleh tangan kanan Taehyung. “Hai, gue Taehyung. Kim Taehyung.”

 

Kulit mereka bersentuhan. Tangan mereka saling menggenggam. Taehyung mengangkat arah tatapannya, dan menemukan mata hazel membulat, begitu indah. Ada kebaikan tersirat disana. bisu terpana ia melihat kecantikan di hadapannya.

 

Bunyi monitor itu kembali menjadi berisik, tanda detak jantung Taehyung semakin menggila. Ruangan itu dipenuhi dengan godaan-godaan dan cie yang berisik.

 

Dalam genggaman tangan keduanya saling tatap membisu, tenggelam dalam kecanggungan dan rasa malu. Jimin dibuatnya malu sekali.

 

Taehyung berharap dirinya ditelan bumi saja. Ia bisa merasakan panas menggerogoti tubuhnya, menjalar hingga menciptakan rona di kedua pipinya. Jika saat ini ia bisa menghilang, ia ingin sekali melakukannya.

 

Hal yang sama menghantui Jimin. Lelaki yang biasanya ia lihat di sekolah begitu semrawut acak-acakan. Suka membuat onar, kini terbaring sakit di hadapannya, mengenakan piyama rumah sakit, but looking like the most beautiful person Jimin has even seen.

 

“Oh iya, gue Jimin. Park Jimin.”

 


 

 

Ada perasaan kaku dalam diri Jimin, telinganya mengeluarkan suara nging panjang. Badannya berasa remuk dan lemas. Pandangannya hitam, tapi ia merasa seperti ia sedang terbangun.

 

Susah payah membuka matanya, ia berhasil dan menemukan cahaya putih yang begitu silau menghalangi pandangannya.

 

Mencoba mengingat kejadian terakhir sebelum ia kehilangan kesadaran, kepalanya semakin sakit, menusuk pening dengan kasar.

 

Ada perasaan sakit di perutnya. Pusing yang melanda kepalanya. Tenggorokannya membara. Namun Ia mengumpulkan sisa kesadarannya dan melakukan pengamatan akan keadaan sekitar. Begitu kaku, badannya seperti tidak bisa mengingat bagaimana caranya untuk bekerja normal.

 

Ia mengenal tempat itu. Dinding putih, bunyi monitor jantung, pintu yang familiar di matanya. Ia sedang di rumah sakit. Berusaha untuk duduk, Ia mengumpulkan seluruh tenaga dalam batinnya untuk bangkit. Sebuah usaha yang sia-sia.

 

Pandangannya berhenti di tubuh yang sepertinya sedang tertidur di samping tempat tidurnya. Bentuk kepala yang sangat ia hafalkan.

 

Hendak ia membangunkannya, namun berhenti sebelum menemukan kertas dan pulpen di samping kepala orang itu. Paragraf demi paragraf yang ditulis dalam bahasa inggris. Dengan jerit payah tangan bergemetar ia meraih kertas itu, menemukan tulisan tangan penulisnya yang rapih tercatat.

 

Jimin.

 

I don’t even know why i’m writing this letter to you. You’re here right beside me and i’ve been talking to you nonstop for the past few weeks but your silent body has yet to give any response.

 

I’m sorry.

 

I’ve been saying that sentence every night but it doesn’t make me feel any better. To apologize, it doesn’t feel like its enough. But i don’t know any way else to say how sorry i am or how guilty i feel for putting you here.

 

I....miss you. It sucks because i’m not supposed to be missing you in the first place. We’ve broken up but here I am still stuck in your side hoping for you to wake up. I don’t even have the right to miss you because you’re here because of me in the first place. 

 

I’m sorry, i promise i’d never put you in this place again.

 

Promise. I seem to never understand what the power that word holds.

 

Funny, how back then I promised you I wouldn’t go, but i did, I’ve broken mine, but you kept yours.

 

You broke up with me.

 

That night, I cursed myself for being a liar, I hated myself and I convinced myself that a liar like me doesn’t deserve someone as kind as you. I promised myself that I can’t be with you. I promised myself I had to make you hate me.

 

But on a particular hot day at the school’s canteen, when I saw you, I lost it and all the emotions crumbling in me, ate me alive right there and then.

 

And i broke my promise the second time. I melted upon the view of your face and drip along the lines of my bottling emotions.

 

It doesn’t even help that my friends keeps playing some early cheesy 00s song about exes, and that sucks. Big time.

 

I didn’t know what came into me to bother and bully you like that. I wanted to hurt you, to make you hate me, so you can forget about me, continue your life, you have a very bright future waiting for you with open arms and it’s okay if i’m not a part of it.

 

That day, I know I scored a good one when you got angry at me. Honestly, I kinda wished you punched me there. But you didn’t. 

 

Instead you pick up the pieces of the broken plate, melting my heart once and for all. 

 

I tried not to care, cue word tried, because by the time i heard you were hurt i couldn’t stop myself to see you bleed a cut. A small cut.

 

Ironic though, seeing where we are right now. A room with white walls so void, with a sound of the heart monitor, an indication that you’re still alive.

 

Helpless, almost lifeless; you’re here lying on this bed, with a major head trauma, and a motherfucking stab wound, bleeding your life out, because of me. 

 

It wouldn’t make any sense if i say it hurts because you’re the one who’s unconsciously laying in front of me, but Jimin, It hurts. Everything hurts.

 

I have to wake up to school not knowing when you will wake up so I try my best to be a good student. I know this will make you happy. 

 

You know, I’m a better student now, and I found out being a good student isn’t so bad after all. I do my assignments, I don’t skip class, I come early to school, and I even received several compliments from the teachers.

 

But everytime I get compliments, my little heart thanked you for it because you’re partly—no, mainly, the reason I’m doing great at school. It’s like those melodic charming voice of yours sings into my heart saying I did great and you’re proud of me.

 

But at the same time I’m still swimming in the guilt of how did i let you lie down on this bed. It’s too much to be feeling all this emotions all at once. I can’t imagine how are you probably feeling right now.

 

Baby, I am so sorry.

 

I know being this pathetically apologetic is just an excuse of how an excruciating pain in the ass am. I can confirm that, because being that—a pain in the ass, seems to be one thing I’ll ever be to you.

 

Ada tetes bekas air yang mengering sebelum dilanjutkan oleh bait selanjutnya.

 

I’m looking at your face right now, but I still miss you. Like hell, Jimin. I miss you.

 

You’re everywhere.

 

You’re there in my sleepless nights. You’re there in my morning classes, or even on breaks (like literally because yes people still do talk about us). You’re there in my dreams, when i wake up, when i’m on my way here, everywhere.

 

I’m not going to lie, but this past few days has been very unpleasant without you. When I got 100 on my maths class for a mock test, I ran back to you and I wanted to show you how good of a person I have become, how I have lived my life like you wanted me to, in hopes you will wake up.

 

But you haven’t,

 

And tonight,

 

Tonight it crumbles inside of me, the feeling of almost wanting to give up. The guilt that I kept hidden under has finally come to its peak and I break.

 

I break because as much as I know how much I don’t deserve you, I still couldn’t let you go. I’m drowned in the scary feeling of having to lose you. I can’t. I just can’t.

 

I know this is very selfish of me to be saying these things but I can’t lose you. 

 

I’m also terrified of what the future could hold for us, we’re so young and reckless, and we’ve got a lifetime ahead of us, what if my forever isn’t spent without you? How am i suppose live with that? I’m so scared of graduating high school because we both know that’s where things will get real.

 

I don’t know. There’s lots of things going on and I just haven’t been thinking straight.

 

For now though, you have to wake up, continue your life. Be happy. It’s okay if you don’t want me in your life I will understand but please hold on and live. 

 

Well maybe a life without you would suck but, I will cope, and I know I said I can’t lose you, But the sentence is valid with the only exception of you finding a happier love than me. I can lose you, If you find a happier life out there, without me.

 

But as imperfect as i could be, i will always try my best to love you in my own way. Your happiness will stay as my number one priority.

 

I love you Park Jimin.

 

Well indeed once upon a time you stole my heart;

  and by the angels yes, I am truly in love with you.

 

If you ask me how the hell did i ended up loving you more than i should, i don’t have the answer. But if you ask me why do i end up loving you more than i should, i may have the answer, or not.

 

You see me, you see an unusual eighteen year old boy with weapons—not pens—to fight in his hands. I’m bad. But you loved me still.

 

You’ve seen my flaws and rough ends, fixed my broken edges but still would love me for who i’m used to be, who i am now, and even would love me more for who i will be tomorrow.

 

My flaws were great but for the love of God, Park Jimin, your love were ever greater.

 

You know, Jimin, I’m perfectly aware that I’m terrible at making promises and keeping it. But give me a chance, one last time, to offer my pinky—no, my palms, for a handshake, maybe not as a promise, but as a deal, and that is to make you happy.

 

Incase i haven’t said this enough,

 

I love you. so fucking much.

 

Begitu surat itu berakhir. Tidak ada tertanda, dengan kasih, tanda tangan, atau apapun jejak penulisnya. Namun tidak perlu tanda tangan, Jimin terlalu mengenal sang penulis, terlalu dekat, bahkan.

 

Awan-awan emosi bergejolak dalam batin Jimin, Ia meneteskan air mata, membiarkan segala asa rasa meremas erat hati rapuhnya. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Tangan lemahnyanya meraih kepala yang sedang tertidur itu kemudian mengelusnya perlahan.

 

I love you too, even more than you could ever imagine, Kim Taehyung.

 

Pemilik kepala itu terbangun merasakan hangat elusan di kepalanya. Kepalanya sedikit pusing karena terlalu banyak menangis semalam. Matanya mengerjap, sebelum menemukan sepasang mata sembab, dan tangan yang mengelusnya dari tadi, menatapnya penuh emosi.

 

Tersadar, Ia bangkit berdiri, kemudian menahan tangan Jimin yang sedari tadi mengelusnya. Panik, bingung, kaget, bahagia, campur aduk batin Taehyung.

 

Seketika ia berlari ke arah pintu untuk meneriakkan panggilan kepada dokter atau suster yang lewat. Kemudian terbirit lari kembali ke samping tempat tidur Jimin.

 

“Jimin? Bisa denger aku? Udah bangun? Dari kapan? Udah minum?” tangannya meraba kedua pipi Jimin, Belum mendapat jawaban ia meraih air minum di samping tempat tidur Jimin kemudian membiarkannya menelan beberapa teguk.

 

“Sakit? Kamu sakit dimana? Aku udah panggilin dokter, bentar ya tunggu dulu.”

 

Jimin hendak mengatakan sesuatu, namun terpotong oleh kehadiran dokter untuk melakukan beberapa tes. Taehyung hanya berdiri di sudut ruangan menatap dengan cemas semua proses yang terjadi, kemudian keluar ruangan untuk menelepon keluarga Jimin.

 

Seorang suster keluar beberapa waktu kemudian menemui Taehyung, menyampaikan pesan bahwa sang dokter ingin bertemu dengan orang tua jimin yang disambut dengan jawaban bahwa mereka sedang di jalan.

 

Beberapa menit kemudian, bunyi langkah orang berlari memasuki lorong Rumah Sakit menarik perhatian Taehyung. Ada kedua orang tua Jimin di sana. 

 

“Nak Taehyung, Jimin?

 

“Iya udah bangun baru aja tadi tante. Om sama tante dicariin dokter.”

 

“Oh iya nak, yuk, masuk.”

 

Taehyung menggeleng pelan beralasan harus pulang bersiap ke sekolah. Membalikkan badannya dari pintu kamar Rumah Sakit yang ditempati Jimin, ia memilih untuk pulang, enggan bertemu Jimin.

 


 

 

Taehyung tidak muncul di sekolah hari itu. Sepulang sekolah ia diajak teman-temannya untuk pergi mengunjungi Jimin namun ditolaknya secara halus. Malam itu ia terjaga, terbaring sadar di tempat tidur kamarnya, memikirkan segalanya. Segalanya dalam arti sosok spesifik yang tidak ingin ditemuinya.

 

Ia sendiri pun tidak mengerti apa yang membuatnya tidak ingin bertemu Jimin. Ada perasaan takut yang begitu mengganggunya. Takut ditolak? Takut Jimin membencinya? Entahlah.

 

Bunyi ketukan pintu menyadarkannya dari lamunan.

 

“Iya, masuk.” ujar Taehyung dari dalam kamar. Tubuh ibunda yang dicintainya menampakkan diri dari balik pintu. Melihat kedatangan Bunda, Taehyung mengubah posisinya untuk duduk.

 

“Kenapa, bunda?” yang ditanya tersenyum, kemudian duduk di samping tempat tidur Taehyung.

 

Tidak suka bertele-tele, sang Bunda langsung bertanya “”Kamu tau kan, kamu selalu bisa cerita ke Bunda?”

Ada hening dalam ruangan itu, kepala Taehyung menunduk, kontemplasi diri Taehyung untuk memilih apakah ia bisa menceritakan segalanya kepada sang Bunda atau tidak. Beberapa menit, sebelum ia memutuskan untuk bercerita

 

“Jimin udah bangun, Bun.” kalimatnya terhenti sebelum ia melanjutkan “Tapi Taehyung lari. Taehyung takut ketemu Jimin. Jimin ada di sana karena Taehyung, Taehyung yang nakal, Taehyung yang bandel yang ga pernah mau denger-dengeran sama Jimin, sama Bunda juga.” ia berhenti untuk menarik napas.

 

“Jimin mutusin Taehyung berapa minggu lalu, Bun. Jimin mutusin Taehyung karna kemaren pergi nyerang anak dua belas sama temen-temen. Jimin udah ngelarang Taehyung tapi Taehyung tetep pergi. Taehyung udah janji ke Jimin buat ga pergi juga, tapi Taehyung tetep pergi.” Sang Ibunda diam, mengelus kepala Taehyung.

 

Tau gak, bun. Hari itu Jimin mau nyamperin Taehyung di tongkrongan mau balikin baju Taehyung, tapi di saat bersamaan ternyata anak dua belas nyerang kita, disitu. Harusnya Taehyung yang dipukul, harusnya Taehyung yang dibacok lagi.” kini ia sudah menangis.

 

Bunda Taehyung mendekati anaknya, kemudian memeluknya erat. Memberikan elus sayang di punggungnya, kemudian mencium keningnya. Ada suara kecil keluar dari mulut Taehyung di dalam pelukan Bundanya 

 

“Taehyung sayang Jimin, Bun.”

 

Menarik pelukannya, ibunda Taehyung menatap mata sembab anaknya sebelum memulai kalimatnya “Sayangnya bunda, kamu tau kan, Bunda juga ga pernah suka kalo kamu suka nakal di sekolah, berkelahi sana-sini, kamu selalu bunda hukum bersihin satu rumah, nyuci mobil sama bersihin taman sama dipotong jajan selama seminggu, setiap kali bunda dipanggil sekolah.”

 

“Tapi seperti halnya hukuman bunda, semua perbuatan kita selalu ada konsekuensi. Yang sedang kamu alami sekarang adalah konsekuensi pilihan kalian berdua. Konsekuensi memang kadang enak kalo kamu melakukan sesuatu yang bener, kadang engga enak kalo kamu melakukan sesuatu yang salah,”

 

“Untuk sekarang, yang bisa Bunda bilang adalah belajar dari kesalahan-kesalahan kamu. Besok kamu bangun pagi, kamu coba untuk hidup hari esok sebaik mungkin. Engga ada orang yang engga pernah melakukan kesalahan di dunia ini. Bunda juga, punya banyak penyesalan. Tapi yang Bunda lakukan hanya belajar dari kesalahan dan hidup untuk hari esok.”

 

Setiap kekata Bunda menusuk dan mengelus hati Taehyung penuh perasaan. Ia begitu mencintai Bundanya dengan segenap hatinya. Tidak tahu harus berkata apa, Taehyung hanya menjawab

 

“Taehyung sayang bunda.”

 

Ulasan senyum manis bertengger di pipi Bundanya, sebelum menarik Taehyung dalam pelukan singkat sekali lagi “Bunda juga sayang Taehyung.”

 

“Satu lagi, Bunda mau kasih tau,” Ada elusan pelan di pipi Taehyung. “Bunda tau kamu sekarang sedang berusaha untuk hidup lebih baik, Bunda dapet telpon dari wali kelas katanya kamu berubah di sekolah lebih rajin dan pinter. Jujur, bunda seneng, bunda bangga karna potensi yang Bunda lihat dari dulu dalam diri kamu sekarang dilihat orang-orang.”

 

“Tapi, satu hal nak. Bunda mau ingetin kalo kamu ga harus melakukan apa-apa untuk mendapatkan tempat di hati Bunda. Karna emang tanpa kamu bikin engga apa-apa juga tempat itu udah khusus ada untuk kamu. Bukan berarti Bunda engga bersyukur karna kamu udah berubah menjadi lebih baik tapi Bunda cuman ingin kamu mengerti Bunda tetep sayang sama kamu apapun yang terjadi.”

 

“Bunda yakin Jimin juga. Kalo memang benar Jimin sayang sama kamu, tanpa kamu melakukan apa pun kamu pasti punya tempat di hati dia.”

 

Pembicaraan itu diakhiri dengan pelukan erat, sekali lagi, dalam segala hangat dan cinta antara Ibu dan anak itu.

 


 

 

Keesokan harinya sepulang sekolah, Taehyung memutuskan untuk bertemu Jimin, menjenguknya ke Rumah Sakit yang sudah sangat familiar setelah satu minggu lebih menghabiskan waktu disana. Taehyung tau ia memiliki waktu sendirian dengan Jimin setelah menelpon orang tua Jimin yang sedang di kantor dan tidak bisa menjaganya.

 

Kakinya melangkah menuju tempat yang dituju,kembali ke ruangan kamar yang sama,  berhenti di depan kamar, menarik napas kemudian mengetuk pintu perlahan

 

Hanya Jimin di tempat tidurnya, hidup dan bernafas, masih Jimin yang sama yang tak berhenti dicintainya.

 

Lelaki itu juga sedang tersenyum ke arahnya. Begitu hangat. Badannya sedikit kurus dari biasanya, wajahnya pucat ada bekas luka-luka kecil mengering di beberapa sudutnya, namun ia tersenyum sangat manis di hadapan Taehyung. Taehyung berhenti setelah beberapa langkah masuk.

 

Come here,” katanya dengan suara yang lebih dalam dan serak dari biasanya. Rindu sekali Taehyung dengan suara itu. Taehyung berjalan menuju samping tempat tidur Jimin, menunggu apa yang akan ia katakan. “Deketan dikit.”

 

Taehyung mendekat, kemudian badannya mematung. Jimin yang sedang duduk tadi kini menariknya dalam sebuah pelukan hangat, pelukannya begitu lemas, namun memercik api dalam diri Taehyung yang menciptakan sejuta hangat baginya.

 

Taehyung membisu sesaat, sebelum akhirnya menangis. Lagi. Membiarkan rasa apapun yang masih berdetak dalam dirinya untuk keluar dalam tangisnya. Sejujurnya ia tidak mengerti mengapa ia menangis, hanya saja ia merasa terlalu penuh,seperti ada sesuatu yang harus ia dikeluarkan.

 

I’m sorry. Maaf. Maafin aku” masih kata itu.

 

It’s okay. Here. I’m here. Aku sayang kamu.”

 

“Maafin aku,”

 

I love you. It’s okay i love you” elusan di punggung Taehyung meninggalkan jejak manis dalam setiap sentuhan. Ia melepaskan pelukan ingin menatap Jimin kembali, melihat langsung ke matanya.

 

“Aku udah baca surat kamu.”

 

Ah, hampir lupa Taehyung akan hal itu. Surat yang ditulisnya itu sejujurnya tidak akan ia berikan kepada Jimin, “Eh, a-aku.. aku.. kamu.. gak harusnya baca.”

 

“Hm?” Jimin tersenyum tipis, menunggu lanjutan kalimat Taehyung namun ia tahu jika lidah Taehyung terkunci, tidak tahu lagi apa yang harus dikatakannya.

 

“Kamu udah ngomong terlalu banyak. Sekarang giliran aku ya,” Jimin meraih kedua tangan Taehyung dan menggenggamnya.

 

Pertama, aku yang harus minta maaf karna aku juga egois karna mutusin kamu kayak gitu. Waktu itu, aku udah punya tekad yang terlalu kuat buat ngasih kamu pelajaran sampe aku memberanikan diri untuk bilang kata putus ke kamu,” Jimin memulai.

 

Kedua, jangan pernah bilang kamu gak pantas buat aku, karna aku yang akan memutuskan kamu pantas buat aku ato engga, and let me tell you this, Kim Taehyung. Kamu lebih dari pantas buat aku. You make me the happiest. You always do. Masa SMA aku banyak diwarnai dengan kisah kita dan aku ga akan menukarnya untuk apapun.”

 

“Aku tau kamu takut akan masa depan juga. Kita memang masih muda, masih ada banyak yang menunggu kita di luar sana.

 

Dan aku terlalu pengecut dan takut untuk janjiin kamu sebuah selamanya. Cuman waktu yang punya jawabannya.”

 

Tangan kanan Jimin dilepas perlahan mencoba menghapus air mata dari pipi Taehyung.

 

Ketiga, aku selalu bangga sama kamu. Aku selalu sayang sama kamu. Aku memang juga selalu ngelarang kamu berantem, tapi itu karna aku khawatir kalo terjadi apa-apa di luar sana sama kamu. Aku percaya kamu punya masa depan. 

 

Tapi in all that, aku selalu sayang sama kamu, Kim Taehyung.

 

Taehyung yang nakal, Taehyung yang suka berantem, Taehyung yang suka bolos, atau Taehyung yang pintar, Taehyung yang disukai guru, Taehyung yang rapih ke sekolah, sama juga dengan Taehyung yang manja, Taehyung yang ga tau artinya membuat janji dan menepatinya, Taehyung yang selalu bikin aku ketawa, Taehyung yang bucin, Taehyung yang kalo senyum bikin aku suka pangling, all of you Kim Taehyung, all of you, with what is left of my heart, i love you, and i would even love you some more too, tomorrow.

 

Taehyung melepas sandalnya dan naik ke tempat tidur Jimin, kemudian memeluk Jimin erat di tempat tidur yang seharusnya hanya bisa menampung satu orang itu. Ia memeluk Jimin begitu kuat, seolah Jimin akan lari darinya kapan saja, sesuatu yang tidak bisa ia biarkan.

 

Sesegukan ia dipelukannya, kini Jimin pun ikut menangis. Dalam peluk yang erat kini mereka tenggelam dalam seluruh rana, bahagia, hingga rindu yang mereka rasa.

 

Taehyung perlahan menghapus air matanya, mengunci pandangan dengan Jimin, sebelum menatap bibir Jimin. Lama. Penuh harap. “Boleh?” tanyanya.

 

Ada senyuman geli terukir di bibir Jimin. Pipinya memerah, tangan yang ditusuk infus itu meraih kedua pipi lelaki di hadapannya, bunyi monitor jantung naik temponya menandakan keadaan jantung Jimin yang sedang tidak karuan, sebelum kepalanya mendekat, semakin dekat hingga tidak ada jarak lagi antara bibir mereka, mendaratkan sebuah kecupan ringan, begitu ringan hingga Taehyung hampir tidak bisa merasakannya.

 

Jimin mundur beberapa inci sebelum berkata, “Iya, boleh,” 

 

Jawaban Jimin disambut senyuman lebar Taehyung, dalam sekejap kejadian sepersekian detik yang lalu terulang. Namun kini bukan ciuman inosen, lebih panas. Mulut mereka berpadu menyatu, ada kelitikan geli di perut masing-masing. Bibir dan bibir, mulut dengan mulut. Hingga lidah dengan lidah yang membangkitkan segala nafsu dalam dada.

 

God, i love you.” ujar Taehyung setelah menarik diri dari kecupan hangat itu. Nafas mereka menderu, jidat mereka bertemu.

 

You do?” ada senyum kecil di ujung bibir Jimin.

 

Definitely, even more than i loved you yesterday,

 

“Hm”

 

But less than i would love you tomorrow.

 


 

 

END.

 

come hit me up on twitter.