Actions

Work Header

Renyang

Work Text:

Kali pertama seruan gagak menembus rungu Giyuu—membawa serta nama Shinobu di antara pekik menggetarkannya—sang pemuda berusaha membunuh dorongan untuk berhenti berlari barang untuk bernapas sebentar.

Napas terakhir. Barangkali terakhir kali ingatan segar soal aroma bunga wisteria dapat tercium jelas oleh hidungnya, sebelum memori itu pudar lalu menghilang jadi angan-angan.

Namun Giyuu tak gentar. Ia sudah bersumpah, ketika terbangun di hari terakhir ujian masuk Kisatsutai lantas tak mendapati sosok kawannya di mana pun, Giyuu berjanji tak akan ragu melangkah ke arah yang ia rasa benar. ‘Kochou sudah berjuang keras,’ batin sang pemuda, ‘ia belum kalah, ia pasti telah memikirkan semuanya matang-matang.’

Sepasang tungkai Giyuu masih bergerak konstan, begitu cepat, tak melambat sedikit pun, berderak menapak tatami yang bisa berubah bentuk menjadi shouji berlapis kertas kapan saja. Di sisi kiri-kanannya pemandangan berubah begitu acak—terkadang kuning, terkadang cokelat, terkadang abu-abu, terkadang putih bersih.

Dan bila mata Giyuu tak membohonginya, ia baru saja melihat rona keunguan di sana.

Ini tak boleh dibiarkan, Giyuu nyaris kehilangan keseimbangan langkah kakinya. Pemuda tersebut memutuskan untuk memercayai Shinobu dengan segenap hatinya—Shinobu bukan wanita lemah, ia akan marah pada Giyuu bila sang pemuda menunjukkan setitik kekhawatiran.  Sementara di belakangnya, Tanjirou menangis. Mudah ditebak hanya dari napas tercekat dan aura kesedihan yang menguar dari tubuh bocah itu.

“Khawatirkan dirimu sendiri, Tomioka-san, Kamado-kun.”

Giyuu bahkan bisa mendengar suaranya. Kendati lidahnya kelu, tak bisa digerakkan, sulit untuk mengulang kalimat pendek itu untuk didengar Tanjirou. Sambil bernapas berat, mengembalikan konsentrasi, Giyuu masih terus berlari. Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja.

Semua akan baik-baik saja—

—tapi aku juga mengkhawatirkanmu.

Ada aroma bunga wisteria. Ada kupu-kupu yang berterbangan. Ada senyum manis dan manik keunguan serupa bongkah amethyst. Ada suara lembut yang tersimpan dalam memori Giyuu, suara itu mengucapkan selamat tinggal selagi tungkainya tak pernah berhenti melangkah.