Actions

Work Header

Kimetsu University - Ousama Game?

Work Text:

Sudah hampir 1 tahun semenjak Zenitsu memasuki Kimetsu University, dan sekarang dia sudah memasuki semester 2. Setelah lulus dari SMA, dia memutuskan untuk melanjutkan studinya di bidang Musik, terutama karena kakeknya sangat mendukung ketika mengetahui bahwa Zenitsu mahir dalam memainkan segala jenis musik.

Sore itu, kelas berlangsung seperti biasa, mata kuliah hari itu berlangsung hingga sekitar jam 7 malam, dan setelahnya Zenitsu sudah berjanji untuk bertemu dengan Inosuke dan Tanjiro di kantin kampusnya.

Tanjiro mengambil jurusan parawisata, lebih tepatnya ia memutuskan untuk melanjutkan dalam bidang masak, karena orangtuanya juga membuka toko roti yang terkenal, sepertinya ia ingin meneruskan pekerjaan orangtuanya dengan menambah variasi menu dari pelajaran yang ia dapat selama kuliah, sedangkan Inosuke, dia memasuki kuliah di bidang Arkeologi. Inosuke yang dulunya dibesarkan oleh babi hutan sebelum diangkat anak oleh Hisa-san, memiliki jiwa untuk menjelajahi tentang dunia lebih lanjut.

Zenitsu yang telah beres dari kelasnya kini melangkah menuju kantin, dimana ia bisa melihat sosok Tanjiro dan Inosuke sedang mengobrol. Inosuke sih masih asik memakan sisa bento miliknya.

"Ah, Zenitsu! Disini!" Tanjiro melambaikan tangannya kearah Zenitsu ketika ia melihat sahabatnya ini.

Zenitsu mulai manyun. "Kenapa kalian tidak ada kelas malam sepertiku sih? Mana sempat aku pergi bersama anak-anak perempuan kalau begini ceritanya!" rengeknya.

"HA? Memangnya perlu jalan sama cewe?" Inosuke yang saat itu masih lahap dengan makanan miliknya mulai protes.

"PERLU LAHHH!!! AKU PENGEN CURHAT, PENGEN JALAN BARENG SAMBIL GANDENGAN TANGAN, PENGEN MALMING DAN NGERASAIN DEG-DEG KAN GITU PAS LAGI DIEM BERDUAAN." dan Zenitsu mulai geram.

Tanjiro hanya tertawa hambar. "Tenang, Zenitsu, tenang." Namun usahanya malah sirnah ketika Zenitsu mengguncang-guncangkan tubuh Tanjiro. "Tanjiro sih enak udah sama Rengoku-senpai! OH!!! GIMANA KALAU KITA ADAIN GOUKON???"

"Memangnya jaman sekarang masih ada yang mau kencan buta gitu?" celetuk Inosuke. "Tanjiro udah ada yang punya, aku sih ga minat, makanan lebih penting. Oh ya ngomong-ngomong aku dapet undangan dari Shinobu-senpai, katanya mau ada pesta di bar Butterfly Estate, mau ikut ga?"

Zenitsu seketika langsung menengok kearah Inosuke dengan muka berapi-api. "KENAPA GA BILANG DARI TADI!!! UDAH LANGSUNG CABUT YUK!"

Dan itulah alasan mereka berada didalam bar Butterfly Estate saat ini. Memang sih Zenitsu tidak terbiasa untuk pergi ke tempat seperti ini, apalagi Inosuke yang malah kagum dengan lighting dan sound-sound effect yang diciptakan di bar tersebut. sebenarnya tidak ada larangan bagi mereka untuk memasuki bar ini, toh mereka juga sudah cukup umur semua untuk bisa memasuki bar-nya. Tapi bagi mereka tetap saja tempat ini cukup asing. Tanjiro bertemu dengan Rengoku didepan bar setelah Tanjiro menelepon Rengoku. Rengoku adalah senior mereka, tingkat 6 di bidang Literature.

Ketika semuanya naik ke lantai 2, dimana katanya Shinobu telah menyewa tempat untuk mereka, ketika menaiki tangga, Zenitsu sudah bisa mendengar suara beberapa orang disana, ia memperhatikan sekelilingnya, dan hampir semua adalah anak semester 6. Sabito yang memasuki hukum, dan sebelahnya adalah kekasihnya, Giyuu, sama-sama tingkat 6 dan memasuki Arsitek.

Disebelah mereka ada Sanemi, kalau tidak salah dia anak MIPA yang sangat terkenal dengan kesangarannya. Disebelahnya ada Tokito, anak IT yang sangat jenius ketika melakukan coding namun dalam kesehariannya ia banyak melamun. Di ujung lainnya ada pasangan lainnya, Iguro dan Mitsuri, mereka adalah senpai mereka saat di SMA dan sudah berpacaran semenjak kelas 2. Iguro memasuki kedokteran hewan sedangkan Mitsuri memasuki seni, tepatnya kearah fashion. Dan ketika ia melihat sosok Shinobu yang duduk ditengah-tengah mereka, saat itulah kaki Zenitsu terhenti ketika ia melihat sosok yang dikenalnya sedang duduk di sebelah Shinobu sambil berbincang-bincang santai dengannya.

"UZUI-SENPAI!?" Zenitsu tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Antara senang, kaget dan juga kesal bercampur aduk. Uzui Tengen adalah cinta pertamanya, namun Zenitsu memutuskan untuk menyembunyikan perasaannya hingga mereka lulus. Zenitsu bahkan masih ingat dengan jelas selama masa sekolah mereka, dimana Uzui sering sekali menjahilinya.

Namun semenjak ia lulus, mereka tidak pernah bertemu lagi. Ditambah lagi semenjak masa sekolah dulu Uzui selalu bersama dengan pacar-pacarnya, Hinatsuru, Makio dan Suma. Entahlah apa mereka masih bersama saat ini atau tidak.

Sang pemilik nama menengok kearah Zenitsu, terdiam sesaat sebelum tersenyum lebar. "Ehhh?? Shinobu-chan, kok aku tidak tahu kamu mengundang mereka? Hahahaa, kalian sudah tua ya sekarang sudah kuliah lagi!"

"SENPAI SENDIRI JUGA SUDAH TUA!" Zenitsu geram, bisa-bisanya hal pertama yang Uzui katakan justru memacu mereka untuk kembali bertengkar, sama seperti dulu.

"Nah, nah~ karena semua sudah disini yuk mulai saja pestanya ~" Shinobu tersenyum manis sambil memanggil pelayan untuk menyuguhkan mereka makanan dan minuman. "Oh ya kalian sudah cukup umur semua kan, jadi minum sake tidak masalah ya~ Ayo, sini ikut bergabung, Rengoku-san, Tanjiro, Zenitsu, dan Inosuke. Tadinya aku mau ajak Kanao tapi dia ada tugas kelompok, dan Genya, aku rasa Sanemi-kun tidak mengijinkanku untuk mengundangnya ~ " senyum Shinobu tidak lepas dari wajahnya, meskipun seniornya satu ini tersenyum lembut, tapi jangan pernah tertipu dengan kedok luarnya, Shinobu bila diibaratkan bagai tipe yang diam-diam menghanyutkan.

"Ck... Langkahi dulu mayatku sebelum menyeret Genya kemari!" celetuk Sanemi sambil meminum seteguk sake begitu saja.

"Iya, iya~ dasar brocon." ucap Shinobu dengan enteng tanpa peduli Sanemi mulai ngamuk dan mengatai Shinobu macam-macam.

"Oh, aku tidak tau Uzui ternyata kenal dengan Zenitsu!" kali ini Rengoku memulai membuka pembicaraan.

"Ah, Kyoujuro tidak masuk SMA Kimetsu soalnya ya. Rata-rata kita disini kouhai-senpai. Kecuali Himejima-san, meskipun ia tidak bisa bergabung karena ada part-time sih, dan bocah tengik satu ini kouhai favoritku." Uzui mulai mengacak-ngacak rambut Zenitsu, membuat Zenitsu makin salting. Entah karena dikatakan junior kesayangannya atau karena Uzui baru saja mengacak rambutnya, hal yang paling ia rindukan dari sifat milik Uzui.

"Ngomong-ngomong, Shinobu-senpai, ini sebenarnya dalam rangka acara apa sih kita diundang kesini?" Sebenarnya Inosuke tidak peduli sih selama ia bisa makan banyak disana, dan mereka sudah bilang bakal pulang agak malam juga.

 

"Acara apa? Tentu saja reuni ~" Shinobu tersenyum penuh arti. "Nah, karena kita semua sudah disini, bagaimana kalau kita main game?"

"Memangnya permainan apa yang mau kau sarankan ditempat seperti ini?" Kali ini Iguro mulai berbicara.

"Hush, Iguro-kun, jangan begitu... Maaf, maaf, Shinobu-chan!" balas Mitsuri kemudian.

"Tidak apa, ada kok~ permainan yang bisa kita mainkan disini, dan itu adalah King's game!" Ah. Ternyata ini adalah maksud dibalik niatan Shinobu mengajak mereka kemari. Jadi mereka akan memainkan Ousama game?

“Kyaaaaaa~~~ Ousama game? Aku baru pertama kali ini memainkannya!” Mitsuri cepat-cepat membenamkan mukanya pada kedua tangannya. “Ah maaf, maaf.. aku terlalu bersemangat.”

"Aku mau pulang." Sanemi langsung bangkit berdiri, sebelum tangan Tokito tiba-tiba menghentikannya dengan menarik baju Sanemi.

"Sanemi-senpai, apa itu King's game?" tanyanya penasaran. Tokito yang biasanya hanya mengangguk atau bergumam saja mulai menunjukkan ekspresinya, dan Sanemi justru jadi berpikir 2x untuk meninggalkan tempat ini.

"Bermain sebentar tidak masalah 'kan? Ayolah, Sanemi. Kasian Tokito, lagian memangnya kau tega meninggalkan dia sendiri?" Sabito mulai berbicara, sebelah tangannya sudah berada di sisian pundak milik Giyuu dan menyeret Giyuu untuk duduk lebih rapat padanya. Muka Giyuu sedikit merona setelahnya. Sabito yang sedari tadi sibuk ngobrol dengan kekasih sekaligus teman masa kecilnya itu terhenti ketika Shinobu menyebutkan King's Game, dan langsung menunjukkan PDA-nya didepan semuanya. Dasar, mentang-mentang anak hukum tapi ga usah se-bold itu juga.

"Jadi, King's game atau yang sering kita kenal dengan Ousama-game adalah permainan sebagai Raja. Dalam permainan ini, satu pemain akan dipilih sebagai Raja secara acak, biasanya menggunakan mediasi sebuah kotak dan beberapa sumpit atau stick bertulis nomor-nomor dan juga 1 bertuliskan Ousama, kemudian seseorang yang terpilih sebagai Raja akan memikirkan tantangan untuk setiap nomor yang dipilih secara acak. Sang Raja akan memberi perintah mutlak yang harus dilakukan, dan bila kalian tidak mau melakukannya, akan ada sebuah batsu-game atau hukuman!”

Tanjiro mengerjabkan matanya, ia tahu Rengoku mengambil mata kuliah dibidang Literatur, tapi ia tidak menyangka bahwa kekasihnya ini ternyata mengatahui permainan macam ini.

"Boleh juga, ayo bermain! Akan kuberikan perintah-perintah elegan selama aku berada disini!" Uzui yang paling antusias menanggapi permainan tersebut.

“YESSS!! INI KESEMPATANKU UNTUK NGERJAIN UZUI-SENPAI!” Zenitsu mulai tertawa penuh arti, siap-siap menyediakan kamera miliknya bila Uzui melakukan hal konyol sesuai dengan perintah sang Raja, ia bisa membuat blackmail untuk seniornya ini.

Ousama-game!! Ousama-game!!” Inosuke tidak terlalu mengerti tapi kalau dia menjadi raja itu artinya orang yang dia suruh akan melakukan apa saja sesuai keinginannya, ‘kan? Semangat Inosuke lalu berkobar, tidak sabar untuk menjadi Raja.

"Baiklah, kalau begitu kita mulai undi saja ya~" Shinobu tersenyum puas, sambil menyerahkan sekotak tempat kayu dengan banyak stick didalamnya. “Ingat, tidak boleh menunjukan nomor kalian pada siapapun ya, meskipun itu pasangan kalian juga~”

Ronde 1

“Siapa yang menjadi Raja?”

“Ah~ aku.” Shinobu tersenyum dengan manis. “Baiklah, karena kebetulan aku bawa pocky, jadi #1 main Pocky game dengan #12”

Shinobu mengeluarkan Pocky rasa strawberry dari tas miliknya, kemudian melihat dua sosok yang mendekatinya, Sabito dan Giyuu. Kebetulan macam apa ini?

Tentu saja keduanya tampa ragu langsung berhadapan satu sama lain, Sabito mengigit pocky tersebut dimulutnya dan melihat kearah Giyuu. Giyuu kemudian maju untuk memakannya, begitu pula Sabito.

Muka Mitsuri langsung memerah dan siap menahan teriakan miliknya ketika Sabito semakin dekat dan...bringas? kearah Giyuu, sedangkan Shinobu sudah mempersiapkan video di kamera miliknya, siap-siap untuk mengirimnya kepada kakak perempuannya, Kanae.

“OI!! OI!! TERLALU DEKAT, TERLALU DEKAT—“ Sanemi ingin protes tapi Sabito malah makin menjadi dan malah ikut melahap mulut Giyuu, dan mereka malah berakhir dengan berciuman mesra didepan semuanya.

“TERLALU BANYAK PDA!!”

Ronde 2

“Siapa yang menjadi Raja?”

“Oh, aku lagi.” Suara Shinobu kembali berkumandang, dan semua menelan ludahnya, jebakan macam apa ini yang digunakan Shinobu hingga dia terpilih 2x berturut-turut. “Baiklah, #5 Kabedon #11!”

Zenitsu melihat kearah nomor miliknya, #5 dan melihat sosok yang muncul sebagai #11 tidak lain adalah Uzui Tengen.

Uzui terkikik ketika melihat wajah Zenitsu yang sudah tidak beraturan. “Aku tidak yakin bocah satu ini bisa kabedon aku deh, Shinobu-chan.”

Namun Zenitsu yang terpancing emosinya langsung memberanikan diri maju dan menyudutkan Uzui, lalu mendorong Uzui hingga terjatuh dekat tembok, sebelum ia mengunci tubuh Uzui dengan kedua tangannya ditembok.

“Bisa ‘kan!?” Zenitsu sendiri mukanya sudah merah padam seperti tomat.

Uzui masih dengan mata terbuka lebar kemudian tersenyum sebelum berbisik pada Zenitsu. “dengan muka merah seperti itu?” dan Uzui bangkit berdiri, tertawa sebelum ia kembali ke tempat duduk mereka.

Zenitsu sendiri masih terpaku disana, mengatur nafas dan debaran jantung miliknya. Ia sendiri tidak tahu mengapa ia memiliki keberanian seperti itu, yang jelas jantungnya seakan ingin meledak saat ini.

Ronde 3

“Siapa yang menjadi Raja?”

Tolong jangan Shinobu lagi.

Beruntunglah kali ini yang menjadi raja adalah Giyuu. “#8 menggendong #9 dengan bridal style dan kelilingi bar ini 2x.”

Seketika semua hening. Tidak ada yang menyangka Giyuu bisa sesadis ini? Mungkin dendam pribadi...

#8 dan #9 tidak lain adalah Sanemi dan Tokito.

“Aku cukup digendong saja kan? Tidak usah ngapa-ngapain?” Tanya Tokito.

“Sudah diam sana!” Muka Sanemi sudah seperti ingin meledak, tapi akhirnya ia menurut dan segera menggendong Tokito ala bridal style dan mengelilingi bar tersebut.

“Ehh~ tumben Sanemi setuju begitu.” Uzui bersiul penuh arti, sementara Shinobu masih asik merekam aksi teman lainnya ini.

Ronde 4

“Siapa yang menjadi Raja?”

“Aku.” Iguro menujukkan stick miliknya. “#6 dan #10 aku tantang kalian baca komik horror pendek ini.”

Zenitsu lagi. Tapi kali ini partnernya adalah Rengoku. Tanjiro langsung merasa iba pada Zenitsu, sahabatnya ini justru paling anti dengan hal-hal berbau horror dan kini harus melihat hal seperti itu. Namun karena Zenitsu tidak mau terkena batsu-game akhirnya ia setuju. Berbeda dengan Rengoku yang berwajah ceria, jelas sekali Rengoku menyukai hal berbau horror.

“TANJIROOOO!!!” Zenitsu langsung merengek dan memeluk Tanjiro karena ketakutan setelah selesai melihat komik horror tersebut. Ditambah lagi ia tidak bisa melempar ponsel Iguro karena Zenitsu tahu bahwa Iguro tidak akan segan untuk menyerahkan Kaburamaru—yaitu hewan peliharaan Iguro yang selalu setia menempel pada pundaknya—bila Zenitsu berani merusak ponselnya. Sedangkan Rengoku malah minta rekomendasi cerita lainnya pada Iguro yang langsung disambut dengan tanggapan positif oleh Iguro.

Inosuke mulai geram. “KAPAN AKU JADI RAJA!?”

Ronde 5

“Siapa yang menjadi Raja?”

Uzui tertawa bahagia. “Tidak ada Raja lain setampan diriku~” dan ia langsung mengucapkan perintahnya. “#2 dan #6, kalian tukar celana dalam.”

Iguro tersedak mendengar perintah itu, meskipun itu bukan nomornya tapi kalau nomor itu mengarah pada nomor Mitsuri, ia tidak akan segan untuk menghentikannya. Namun Iguro bernafas lega setelah tahu kalau nomor itu bukan juga nomor milik Mitsuri, melainkan...

Giyuu dan Sanemi.

“SIALAN GA SUDI AKU!” Sanemi mulai marah-marah.

“Siapa juga yang mau tukeran celana dalam dengan Sanemi.” Giyuu masih dengan muka datarnya.

“Kalau begitu, Batsu-game~” Uzui tersenyum puas. “Mitsuri, kamu bawa peralatan make-up mu ‘kan? Aku pinjam dong!”

“Eh, Uzui-senpai, jangan bilang...” Mitsuri membuka matanya lebar sebelum menutup mulutnya, mencoba menahan dirinya untuk tidak tertawa. Sedangkan Shinobu jelas-jelas tertawa paling keras disana.

“Gak boleh protes lho, kan kalian berdua yang bilang tidak mau~ Sini aku dandani kalian dengan sangat flamboyan!” Uzui mulai menyuruh Sanemi dan Giyuu berbaris. Sanemi meronta namun segera ditahan oleh Sabito dengan senyum penuh artinya.

Dan, sebuah sejarah baru telah diciptakan oleh seorang Uzui Tengen. Muka Sanemi dan Giyuu kini telah terpoles sangat cantik dengan bedak putih dan blush-on yang terlalu tebal, belum ditambah terlalu banyak warna-warni dimuka mereka malah membuat keduanya menyerupai badut. Giyuu sih tidak peduli dan masih dengan wajah datarnya, yang justru malah memancing tawa yang tidak bisa tertahankan. Seluruh peserta mencoba menahan tawa mereka, apalagi Sanemi yang jelas-jelas bermuka sangar malah didandani seperti itu.

Terkutuklah Uzui Tengen, Sanemi bersumpah ia akan membalas dendam suatu saat nanti.

Ronde 6

“Siapa yang menjadi Raja?”

“Ah, ini tandanya aku jadi Raja ‘kan?” tanya Tokito sambil menunjukkan stick miliknya. “Hmmm...” Tokito berpikir sejenak. “#5 duduk di paha #12.”

Nomor Iguro dan Mitsuri. Iguro bernafas lega, bila ada seseorang yang berani duduk dipaha Mitsuri saat itu juga rasanya ia akan membawa orang itu dan menjadikannya makanan hewan karnivor peliharaannya.

Iguro berdiam sesaat, meskipun mereka sudah lama berpacaran tapi tidak pernah sekalipun Iguro melakukan afeksi sedekat itu dengan Mitsuri.

“Ayo sini, Iguro-kun! Jangan sungkan!” Mitsuri menepuk-nepuk paha miliknya, sedangkan Iguro menutup mukanya dengan kedua tangannya sebelum akhirnya duduk juga.

Uzui dan Sabito bertukar pandang, lalu tersenyum nakal, mereka bisa menggoda Iguro nanti.

Ronde 7

“Siapa yang menjadi Raja?”

“Aku.” Sanemi yang masih lengkap dengan make-up nya menunjukkan stick miliknya. Semuanya mencoba menahan tawa mereka, kecuali Giyuu dan Tokito yang sama-sama bermuka datar. Sanemi tersenyum picik, mencoba untuk menjerumuskan orang lain agar sama-sama dipermalukannya sama seperti dirinya saat ini. “#9 dan #11 lakukan french kiss.” Sanemi sudah tersenyum puas, tentu saja tidak akan ada yang mau melakukan hal itu, kecuali...

Nomor yang terpilih adalah Tanjiro dan Rengoku.

Seketika itu harapan Sanemi untuk balas dendam pun pupus sudah.

“Umnn... Rengoku-senpai.” Tanjiro menundukkan kepalanya. Masalahnya mereka harus berciuman didepan publik dan juga frech kiss? Yang ada Tanjiro tidak akan bisa tidur malam ini.

Tangan Rengoku lalu memegang pipi milik Tanjiro. “Kalau Tanjiro tidak mau, kita bisa melakukan batsu-game kok!”

Namun akhirnya Tanjiro menggelengkan kepalanya, meminta Rengoku untuk menciumnya.

Para peserta lainnya seketika hening, jelas-jelas itu sudah jadi dunia milik mereka berdua, dan saat Rengoku mencium Tanjiro, teriakan fangirl Mitsuri tidak bisa tertahan lagi, sedangkan Shinobu masih sibuk mengabadikan aksi temannya ini.

Ronde 8

“Siapa yang menjadi Raja?”

Sabito tersenyum sambil mengeluarkan sebungkus Marshmallow dari tas miliknya. Jelas sekali mereka memiliki firasat buruk dengan apa yang ingin dilakukan oleh Sabito.

“#3 dan #8, Pertama #8 ambil Marshmallow dari piring ini, kemudian berjalan menuju #3, dan #3 harus berjalan kesini lagi dan mengembalikan Marshmallownya~ kalau Marshmallownya jatuh, ulang lagi dari awal, oke? Dan kalian oper menggunakan mulut kalian.” Sabito tersenyum puas, Mereka semua yakin Sabito bisa berteman baik dengan Shinobu suatu hari nanti.

“KENAPA AKU!?” Zenitsu merengek, lalu menunjuk kearah Uzui. “DAN LAGI KENAPA HARUS UZUI-SENPAI LAGI!!?”

Uh-Oh. Nomor 8 adalah Zenitsu, yang notabene dia harus membawa Marshmallow dan mengopernya dari mulut  ke mulut pada Uzui? Rasanya ia ingin meledak saat itu juga. Namun melihat yang menjadi Raja adalah Sabito, Zenitsu berani sumpah ia tidak ingin bertindak macam-macam karena ia tahu batsu-game dari Sabito bisa lebih mengerikan dari siapapun diruangan ini.

Zenitsu melirik marshmallow itu beberapa kali dan melihat Uzui yang masih dengan santai duduk di seberangnya. Mau tidak mau Zenitsu segera mengambil Marshmallow itu. Ia berjalan menuju tempat Uzui kemudian menunggu Uzui untuk mengambilnya. Uzui kemudian mendekatkan mukanya pada Zenitsu, muka Zenitsu sudah memerah dan jantungnya berdebar sangat kencang saat itu. Apakah ini yang disebut dengan Cinta Lama Bersemi Kembali?

Zenitsu dapat melihat dengan jelas Uzui perlahan menutup matanya, mulutnya bergerak lambat mengambil Marshmallow dimulut Zenitsu. Dan ketika Marshmallow itu sudah dimulut Uzui, ia tersenyum pada Zenitsu, masih tetap diam diposisi mereka hingga beberapa detik lamanya kemudian berjalan menuju piring yang dimaksud Sabito.

Ah, malam ini sungguh tidak baik bagi kesehatan Mitsuri.

Permainan itu berlangsung dengan meriah malam itu, pada ronde selanjutnya, Mitsuri menjadi Raja dan menyuruh nomor yang terpilih untuk bernyanyi, dan kedua orang yang beruntung saat itu adalah Tanjiro dan Inosuke. Zenitsu langsung menutup telinganya, ia tahu bagaimana saat kedua sahabatnya itu bernyanyi, suara dan nada yang dinyanyikan mereka sama sekali tidak sinkron, bahkan Uzui menghentikan keduanya untuk bernyanyi karena polusi suara yang diciptakan keduanya.

Saat giliran Zenitsu menjadi Raja, ia meminta nomor yang dipilihnya untuk bermuka konyol, berharap agar ia bisa menebak nomor Uzui dan merekam aksi seniornya itu, namun naasnya yang terpilih adalah duo muka datar Giyuu dan Tokito. Lebih tepatnya sepertinya tantangan bagi mereka adalah mencoba berekspresi dari muka datar mereka.

Inosuke sudah protes karena ia tidak pernah buruntung untuk menjadi Raja, padahal ia sudah ingin memerintah seseorang sedari awal permainan. Ronde selanjutnya, Tanjiro menjadi Raja, dan ia memberi tantangan kedua normor yang ia pilih untuk memakan wasabi. Dan naasnya yang terpilih adalah Mitsuri dan Sabito. Tanjiro sudah ketakutan ketika melihat tatapan tajam milik Iguro padanya, sedangkan Sabito sendiri malah mengobrol dengan Mitsuri sambil memakan Wasabi seperti memakan permen saja. Sepertinya ada yang tidak beres dengan lidah keduanya...

Ronde berikutnya, kali ini Rengoku menjadi Raja, ia teringat ia masih menyimpan Jelly Belly Bean Boozled miliknya di tas, kemudian mengeluarkannya, meminta nomor yang dipanggilnya untuk memutar wheel dari permen tersebut. Peserta yang dimaksud tidak lain adalah Shinobu dan Uzui. Akhirnya Shinobu terkena juga setelah sekian ronde.

“Uzui-san saja yang memutar rodanya.” Shinobu masih dengan senyum manis miliknya.

“Serahkan padaku!” Uzui tanpa ragu lalu memutar roda kecil dibungkus permen dan arah panah menunjukkan “Barf or Peach.”

Semua terdiam seketika, ada 2 permen disana, salah satunya akan memakan rasa buah peach dan satunya akan memakan rasa muntahan? Ewww memikirkannya saja semua sudah merasakan mual.

“Jadi, bagaimana kita menentukannya?” Tanya Shinobu.

“Suit?” usul Uzui kemudian. Keduanya lalu melakukan suit. Yang menang adalah Uzui sehingga ia berhak memilih duluan. Keduanya kini memegang permen mereka masing-masing. Zenitsu sudah tertawa girang, menyiapkan ponsel miliknya untuk merekam momen ini.

Namun ketika keduanya memakan permen tersebut, keduanya sama-sama berekspresi sama. Beberapa detik mereka menunggu reaksi keduanya namun tampaknya keduanya baik-baik saja. Bahkan keduanya mengunyah dengan santai permen tersebut sebelum menelannya. Hingga akhirnya pun, tidak ada seorangpun yang bisa menebak siapa yang sebenarnya mendapatkan permen barf tersebut.

“Baiklah ini ronde terakhir ya! Sudah malam banget lho, siapa yang kuliah pagi harus cepat tidur setelah ini!” Rengoku mulai mengusulkan untuk pulang ketika melihat jam sudah menujukkan hampir tengah malam.

Akhirnya mereka pun memutuskan untuk menjadikan ronde ini sebagai ronde terakhir pada malam itu. Shinobu menyerahkan kotaknya pada Inosuke karena ia protes ia tidak kebagian menjadi Raja dari awal ia bermain padahal semuanya sudah pernah menjadi Raja minimal sekali.

Last Round

“Siapa yang menjadi Raja?”

“Sepertinya aku yang akan menutup permainan kali ini ya.” Sabito menunjukkan senyumnya kembali. Inosuke sudah ngamuk ketika melihat stick yang didapatnya bukan sebagai Raja hingga akhir.

Sabito terdiam sejenak memperhatikan sekitarnya, senang ketika melihat wajah-wajah dari peserta yang menunggu derita selanjutnya yang akan diluncurkan oleh Sabito.

“#4 ambil ponsel milik #11 dan tulis status prank disalah satu media sosialnya~”

Zenitsu kembali terdiam, nomor yang didapatnya adalah nomor 4, lagi-lagi ia harus berpartisipasi lagi didalam game ini? Zenitsu sudah diambang kesabaran, bila pasangannya adalah Uzui lagi, dia tidak akan segan menulis hal-hal jelek di status seniornya itu, tetapi berita buruknya sosok yang menjadi partnernya tidak lain adalah Giyuu.

Jiwa Zenitsu seakan ingin melayang, Giyuu itu kan pacarnya Sabito, dan bila Zenitsu berani macam-macam dia tahu Sabito tidak akan memberi ampun padanya, tetapi bila ia menolaknya itu sama saja dengan menerima hukuman dari Sabito. Dilakukan neraka, tidak dilakukan juga neraka. Akhirnya setelah bertengkar dengan jiwa batinnya, Zenitsu memilih untuk mencoba batsu-game saja.

“Baiklah, kalau begitu minum sakenya sampai habis ya, setengah botol lagi.” Sabito kemudian menyerahkan botol sake, tidak memikirkan hukuman yang macam-macam. “Nah, karena permainannya sudah beres, aku pulang duluan ya sama Giyuu! Pastikan Zenitsu menghabiskan sakenya lho!” Lalu tanpa aba-aba lebih lanjut, Sabito langsung menarik lengan milik Giyuu, berjalan sambil berbisik pada Giyuu. Tanpa mendengar pembicaraan mereka pun, semua tahu apa yang akan mereka lakukan ketika muka Giyuu merona seketika, dan mungkin itu juga alasan Sabito hilang minat menjahili juniornya ini.

Dasar anak muda.

Setelah akhirnya Zenitsu menyelesaikan botol sakenya, hampir semua peserta sudah bergantian pulang, bahkan Tanjiro yang tadinya berniat untuk menunggu Zenitsu terpaksa pulang karena Nezuko mengamuk di panggilan ponselnya karena kakaknya belum pulang padahal sudah semalam ini.

“Uzui-san, tolong dong ini Zenitsu-nya dibawa~” Shinobu yang paling akhir hendak pergi melihat kearah Uzui dan pasangan Iguro Mitsuri yang masih tengah mengobrolkan tugas seni, lebih tepatnya Iguro yabg menunggu Mitsuri sih, meskipun Fakultas Uzui dan Mitsuri sama-sama Seni, tetapi mereka memiliki jurusan yang berbeda, Uzui memasuki Seni Lukis sedangkan Mitsuri mengambil Fashion, tetapi mereka memiliki beberapa mata kuliah yang sama, sehingga Mitsuri terkadang meminta nasihat dari seniornya ini.

Uzui yang selesai berbicara dengan Mitsuri dan Iguro lalu mendekat kearah Zenitsu yang tengah mabuk dan terkapar dilantai sambil memeluk botol sake.

“Zenitsu..." Uzui mencoba membangunkan Zenitsu, namun karena yang dibangunkan tidak kunjung sadarkan diri, akhirnya ia mulai jengkel. "Oi, brat bangun!” Uzui menyundul-nyundulkan kakinya, menyentuh badan Zenitsu untuk membangunkannya, namun Zenitsu masih mengingau dalam mimpinya. “Yang benar saja, ini anak tidak kuat dengan alkohol? Oi, Shinobu-chan, tau alamat rumahnya tidak?”

“Tidak tahu, Uzui-san. Tapi tadi ada telp di ponselnya, dan ketika aku angkat, aku bilang saja dia menginap dirumah temannya hari ini. Uzui-san tolong ya! Aku ngantuk mau pulang duluan, dah!” Shinobu lalu pergi dari bar tersebut dengan entengnya, meninggalkan Uzui dan Zenitsu begitu saja.

Uzui menghela nafas, melihat Zenitsu tampaknya tidak akan bangun juga, akhirnya ia mengangkat Zenitsu dan menggendong pemuda itu dipunggungnya.

“Hic... Uzui-senpai kenapa..hic... ada di bar sih...” Zenitsu mulai komat-kamit selama perjalanan.

“WOI SHITTY BRAT BISA DIAM GAK SIH, BERISIK!” Uzui mulai putus rasa sabarnya, rasanya sepanjang perjalanan Zenitsu terus berkoceh tanpa henti.

“Padahal.. aku kan...hic... ingin melupakan...Uzui-senpai... aku..dulu..hic..suka..hic...senpai...” Dan Uzui kemudian terdiam sesaat untuk menatap wajah Zenitsu yang masih setengah sadar karena mabuk, sebelum akhirnya ia melanjutkan kembali perjalanan menuju apartemen miliknya.

.

.

.

Pagi harinya, Zenitsu terbangun dengan rasa pusing luar biasa dikepalanya. Sepertinya akibat minum minuman berakohol sebelumnya, tetapi hal yang membuat ia bingung adalah ketika ia terbangun ditempat asing. Zenitsu mengerjabkan matanya beberapa kali dan membalikkan badanya, dan ia kaget bukan main ketika melihat sosok Uzui sedang tertidur disebelahnya.

“GYAAAAAAAA!!!” Zenitsu spontan berteriak, membuat Uzui yang tampaknya baru beberapa jam tertidur langsung bangun ketika mendengar suara Zenitsu.

“Apaan sih pagi-pagi sudah berisik!” Uzui protes. “Masih pagi, tidur lagi sana!” balasnya dengan kesal.

“K-K-KENAPA AKU DISINI!?” Dan Zenitsu makin histeris ketika ia melihat dia tidur dengan tidak memakai atasan. “BAJUKU KEMANA! UZUI-SENPAI MESUM!!” Rengeknya kemudian.

“Heh! Bocah sialan! Kau kemarin malam muntah dibadanku dan akhirnya aku harus menyuci bajumu malam-malam! Mana sudi aku tidur dengan bajumu yang seperti itu makannya aku buka saja!”

Zenitsu tidak tahu harus bersikap bagaimana, disatu sisi ia bahagia luar biasa karena cinta pertamanya berada dekat dengannya saat ini, tetapi disatu sisi ia juga merasa sangat malu karena sikap dia semalam. Bagaimana bila ia mengoceh hal-hal yang tidak seharusnya ia ucapkan?

“A..Aku pulang! Terimakasih Uzui-senpai telah membantuku semalam!!” Zenitsu kemudian turun dari kasur, menghiraukan Uzui yang masih setengah mengomel karena ia masih setengah sadar dari tidurnya. Ia tidak tahu denah apartemen Uzui tapi setidaknya ia tahu dimana lokasi tempat laundry berada, cepat-cepat ia mengambil bajunya yang sudah kering, memakainya sebelum beranjak dari apartemen milik Uzui.

Ditengah jalan, Zenitsu lalu merutuki dirinya sendiri, padahal ini kesempatan baginya untuk kembali berteman dengan Uzui dan ia menyia-nyiakannya. Tetapi apa boleh buat, jantungnya tidak sanggup ketika memproses hal yang baru saja terjadi barusan.

Tidak lama, ponsel milik Zenitsu berbunyi. Sebuah pesan tertera disana, dan Zenitsu melebarkan matanya.

From : mightyflamboyant3

To : thunderzeni55

Subject : contact

Oi, little brat, aku simpan nomor kontakmu, ingat jangan lupa bayar hutang budimu ya! Aku ngantuk mau tidur lagi, dan jangan hapus kontakku, awas saja kalau kau hapus, akan kuterror nanti!

Zenitsu tidak bisa menahan senyum miliknya, ia langsung menutup ponsel miliknya tanpa membalas pesan tersebut, ia lalu mendekatkan ponselnya pada mulutnya sendiri, menutup sebuah goresan senyum di wajahnya.

“Bagaimana ini? Bisa-bisa aku jatuh cinta lagi pada Uzui-senpai.” Ucapnya dengan muka yang memerah.