Actions

Work Header

strawberry kiss

Chapter Text

Chapter 01

Izaya lelah.

Dia sudah bekerja seharian di depan laptop miliknya.

Namie sudah pulang tepat pukul 5 saat jam kerja berakhir dan meninggalkan tugas yang belum selesai menumpuk di atas meja.

Izaya mendesah pelan. Perutnya terasa lapar dan dia jadi menginginkan sushi kesukaannya.

Jadi, Izaya segera mandi, berganti pakaian dan kali ini mengenakan kaos berkerah v warna merah serta jaket hitam dengan garis dari bahan bulu berwarna merah. Ia juga mengenakan celana panjang warna hitam.

Izaya mengenakan sepatu boot sebatas betis miliknya.

Setelah mematikan lampu apartment dan memastikan pintu terkunci dengan baik, ia menelusuri koridor menuju lift. Dia tinggal di lantai paling atas lantai 9.

Izaya mengeluarkan ponsel android miliknya. Ia mengecek ruang chat dollars yang berbunyi tanpa henti jika saja tak ia bikin ke mode diam. Izaya menelusuri kabar terbaru sambil melangkah menuju stasiun kereta terdekat. Tangan kirinya berada dalam saku jaketnya tengah memainkan pisau lipat miliknya.

Izaya menggunakan kartu kereta isi ulang. Ja di setelah scan kartunya, ia langsung bergegas masuk ke dalam kereta yang sebentar lagi akan berangkat. Setelah menyelip masuk, ia berdiri di dekat pintu, ponsel ia masukkan kembali ke dalam saku. Izaya membantu seorang ibu yang menggandeng seorang anak balita dan seorang bayi untuk mendapatkan tempat duduk. Ibu itu mengucapkan terima kasih dan Izaya hanya tersenyum, lalu mengalihkan perhatian pada para penumpang di dekatnya.

Ya, Izaya harus selalu waspada setiap saat karena pekerjaannya sebagai informant. Jika legal, mending. Jangkauan pekerjaannya cukup luas bahkan sampai kalangan Yakuza dan gang. Jadi wajar kan.

Setelah berada dalam kereta selama kurang lebih 35 menit, stasiun Ikebukuro tiba. Izaya segera keluar dan saat hendak meninggalkan stasiun, derap langkah anak kecil berlari membuatnya berhenti.

"Oniichan! Tunggu!"

Izaya menoleh dan melihat anak laki-laki 5 tahun milik ibu yang ia bantu saat di stasiun. Ibu yang tengah menggendong adik si bocah tengah melangkah cepat untuk menyusul dari belakang.

"Ah, ada apa?",tanya Izaya berjongkok di depan anak kecil itu.

Anak kecil itu mengulurkan tangan dan saat tangannya terbuka, Izaya bisa melihat sebuah permen strawberry. "Ini untuk Oniichan."

Izaya tidak suka manis. Tapi, ia tak ingin melukai hati anak kecil di depannya. "Terima kasih, dik."

Anak kecil itu terlihat gembira. Ia melambaikan tangan pada Izaya dan berlari ke dekat ibunya. Izaya membalas anggukan salam dari ibu anak itu dan meninggalkan stasiun. Dengan permen di dalam saku jaketnya.

-------

Jalanan Ikebukuro padat seperti biasa. Izaya berjalan leluasa di dalam lautan manusia. Ia tersenyum mendengar percakapan orang-orang di sekelilingnya. Ada orang-orang dari kalangan politik yang sedang duduk di salah satu kafe tepi jalan menikmati kopi dengan rekannya, ada juga sekumpulan gadis remaja tengah bergosip dengan soft drink merek sama namun rasa berbeda di depan sebuah toko buku, atau seorang anak remaja laki-laki yang kelihatan normal tengah bicara sama teman perempuannya yang berpakaian seperti gadis kutu buku. Izaya bisa tahu kalau mereka masing-masing memiliki rahasia yang di sembunyikan dari teman-teman di dekat mereka.

Izaya sendiri juga memiliki rahasia. Rahasia yang jika terbongkar bisa mengakhiri arti hidupnya selama ini. Tentu saja, dia berusaha menyimpan rahasia itu bahkan sampai memaksa dirinya sendiri untuk takkan pernah tahu.

"Mari, mari mampir ke rusia sushi. Aman di konsumsi jika untuk sekali."

Izaya menoleh ke asal suara, ia tak merasa sudah tiba di dekat restoran rusia sushi.

"Ah, Izaya! Ayo mampir, makan sushi biar hatimu senang pikiran pun tenang!",bujuk Simon menghampirinya.

"Iya, aku memang lagi lapar."

"Bagus. Masuklah ke dalam dan selamat menikmati!",ujar Simon dengan wajah ceria.

Izaya masuk ke dalam restoran. Ia memesan sushi untuknya dan menuju meja paling belakang yang biasa ia tempati.

Langkahnya berhenti saat melihat si rambut pirang. Sebelum Shizuo melihat dirinya, Izaya bisa menangkap wajah pangeran dari dunia lain yang terlihat senang sedang makan. Namun, saat pandangan mereka bertemu, sumpit restoran menemukan nasib naas. Patah jadi dua. Wajah sang pangeran menjadi segarang iblis dari neraka.

"Kutu loncat, kubilang jangan ke ikebukuro!"

"Shizu-chan, aku tidak berulah kali ini. Jadi, jangan bersikap barbar sok pahlawan untuk mengusirku. Tck ck, memang susah kalau bicara denganmu."

Izaya merunduk ke bawah menghindari meja yang terbang ke arahnya. 'Hah, cuma mau makan saja begini susah.'

Di belakang Izaya, meja itu sudah aman berada dalam tangkapan Simon yang buru-buru masuk ketika ingat pengunjung lain di restorannya adalah cinta sejati Izaya aka musuh bebuyutannya.

"Jangan berantem, Shizuo, Izaya. Itu tidak baik. Ayo duduk sama-sama, makan dan mengobrol layaknya orang dewasa",ujar Simon seraya menarik Izaya untuk duduk di meja samping yang tidak di obrak abrik Shizuo. Simon tak lupa menarik Shizuo duduk di meja yang sama berhadapan dengan Izaya. Selagi keduanya berantem lewat tatapan mata, Simon meletakkan kembali meja yang Shizuo lempar pada tempat semula.

Muka senang Izaya berubah jadi cemberut. Shizuo juga terlihat kesal bukan main, tangannya terkepal erat menahan amarahnya.

Simon datang dengan makanan pesanan Izaya, dan tak lupa cake strawberry untuk Shizuo agar tak marah.

Saat makanan kesukaan ada di depan mata, amarah Shizuo mulai menyurut dan mata Izaya kembali terlihat berbinar.

"Tuna~",ujar Izaya mencomot satu sushi miliknya. Ia mencelupkannya ke dalam mayones dan mendekatkannya ke bibirnya. Begitu rasa nikmat sushi favoritnya terasa di lidahnya, ia mengerang nikmat.

Shizuo yang udah sering di paksa makan bareng Izaya saat zaman SMA sudah mengira tingkah Izaya setelah dewasa akan berubah, namun tidak. Kalau sudah berhadapan dengan sushi ootoro miliknya Izaya tetap suka lupa diri dan lingkungan sekitar.

Kali ini juga sama. Shizuo berusaha menghilangkan suara Izaya di dekatnya, namun anak itu makin menjadi. Ia sungguh menyesal telah mengangkat kepala dengan niat membungkam anak itu hidup-hidup.

Sela bibir Izaya berlemotan mayones dan matanya tengah terpejam menikmati sensasi rasa sushi ootoro yang agak pahit itu. Wajah Shizuo terasa panas merasa Izaya terlihat enak di makan dengan ekapresi itu. Tanpa sadar, Shizuo mencengkram kerah jaket Izaya dan mencium bibirnya. Maksudnya menghentikan suara setan milik Izaya yang seperti kucing kebelet kawin itu.

Mata Izaya langsung terbuka, menatap Shizuo dengan pandangan seolah anak anjing yang baru kena jitak majikannya. Shizuo segera menjauhkan wajahnya, mata Izaya tampak terluka, ia mengelap bibirnya dengan lengan jaketnya secara brutal.

Saat Shizuo sedang coba memilih kata untuk menjelaskan, Izaya lantas menyambar cake strawberry di meja, lalu melemparkannya ke wajah Shizuo.

Shizuo masih cukup terguncang melihat Izaya lantas berdiri, sesuatu jatuh dari dalam saku jaket Izaya ke bawah meja. Namun, karena Izaya sedang kacau bukan main, Izaya pergi dengan derap langkah raksasa meninggalkan restoran usai meninggalkan harga makanannya di atas meja kasir.

Shizuo menemukan permen strawberry saat mencari benda apa yang jatuh dari Izaya.

"Ah, apa ia kesal karena gak bisa makan kue strawberry juga?",gumam Shizuo. Dia udah lupa pada kekesalannya pada Izaya. Karena ternyata bibir Izaya terasa lebih manis dari kue yang ada di wajahnya.

Shizuo menggunakan saputangannya dan mengelap wajahnya. Ia segera membayar makanannya pada Dennis, lalu keluar hendak mengejar Izaya. Namun, sang informant yang tengah kebakaran itu sudah pergi entah kemana.

Chapter Text

Chapter 02

Semenjak Shizuo melihat Izaya terakhir kali di Rusia sushi, Izaya tidak pernah terlihat lagi di Ikebukuro. Hal itu membuat hati Shizuo tak tenang. Dia berpikir bahwa Izaya sedang menyediakan sejumlah masalah untuk Ikebukuro. Setahu Shizuo, Izaya sangat suka datang ke Ikebukuro walaupun sudah ia larang sekalipun.

2 Minggu sudah berlalu sejak Shizuo melihat Izaya. Shizuo meminta izin pada Tom untuk pulang lebih awal dan pergi menuju Shinjuku.

Saat tiba di Shinjuku, Shizuo langsung menuju gedung apartment tempat tinggal Izaya. Tapi, Shizuo lupa kalau dia tidak tahu alamat Izaya.

Shizuo menelepon Shinra.

"Hello?"

"Hello, Shinra. Aku ingin tahu alamat tempat tinggal Izaya."

"Shizuo, kamu mau apa?"

"Aku hanya ingin bertemu dia."

"Aku tidak percaya itu."

"Shinra, aku serius. Terakhir bertemu, dia marah besar di Rusia sushi. 2 minggu lalu tepatnya."

"Kamu membuat Izaya marah? Aneh, setahuku dia tidak pernah marah."

"Kamu tidak percaya padaku?"

"Kalau boleh jujur, aku tidak percaya padamu Shizuo. Aku sudah capek harus mengobati luka kalian berdua."

"Aku tidak akan menghajarnya di apartmentnya."

"Kamu juga tak boleh menghajarnya di luar apartment kalau dia tidak terbukti salah, Shizuo."

"Shinra, jangan membuang waktuku. Apa perlu aku mengambil ponselmu sendiri?"

"Aku tidak bisa menjual informasi tentangnya, Shizuo. Aku teman dia satu-satunya".

Panggilan telepon langsung di putuskan oleh Shinra.

Shizuo menggerutu sebal. Dia sudah berbalik hendak pergi ke tempat Shinra, namun seorang anak kecil berusia sekitar 9 tahun menubruknya dan jatuh dalam posisi duduk di tanah.

Shizuo memandang ke bawah dan menyelipkan tangan di bawah kedua ketiak anak kecil itu, lalu menarik anak laki-laki itu berdiri.

"Maaf, apa kamu terluka?",tanya Shizuo dengan nada khawatir.

Anak itu menepuk debu dari baju dan celananya. Ia memeriksa telapak tangannya yang agak perih dan ternyata ada luka lecet di sana. "Cuma luka kecil, di jilat juga sembuh",ujar anak kecil itu menjilat lukanya.

"Kamu terluka. Ayo ikut denganku ke apotik nak. Biar ku belikan plaster luka",ujar Shizuo.

"Tidak usah, aku punya plaster luka di rumah!",celetuk anak itu. Setelah berkata seperti itu, anak itu berlari ke dalam gedung apartment.

Shizuo khawatir dan memutuskan untuk menyusul anak itu. Saat keduanya di dalam lift, anak itu mencueki Shizuo.

Ketika lantai 9 tiba, anak itu berjalan santai menuju bangunan paling ujung. Dia membuka pintu itu dengan kunci.

Sebelum Shizuo sempat memanggil, anak itu masuk dan menutup pintu tepat di hadapan wajah Shizuo. Shizuo sedikit terlonjak kaget karena suara keras pintu itu.

Shizuo menunggu sesaat, kemudian membunyikan bel pintu. Tak lama, pintu di buka dari dalam dan ada wanita berambut panjang warna hitam dengan wajah sebal di hadapannya.

Saat mengenali sosok Shizuo, Namie berbalik ke dalam tanpa menutup pintu. Ia kembali gak lama dengan tas tangannya, lalu menoleh pada Shizuo,"Heiwajima-san, kamu bisa gantiin aku jadi babysitter bocah sialan itu."

Shizuo belum di beli kesempatan menjawab atau bertanya, Namie sudah keluar begitu saja dan menghilang ke dalam lift.

Dalam benak Shizuo, ia jadi kasihan pada anak kecil tadi. Wanita tadi mungkin ibu anak kecil itu. Shizuo masuk ke dalam apartment itu dan melihat anak kecil itu duduk di depan komputer.

"Nak, ibumu keluar. Aku akan menjagamu sampai ia kembali",ujar Shizuo.

Anak itu memutar kursinya dan matanya terbelalak melihat sosok Shizuo. "Kamu ngapain ke sini?"

"Aku hanya khawatir dengan luka di tanganmu",jawab Shizuo. "Apa sudah di obati?"

"Hah?",anak kecil itu mengangkat sebelah alisnya. "Kalau sudah, kamu akan pergi?"

"Aku akan pergi setelah ibumu kembali."

Anak kecil itu tertawa. Entah kenapa tawa anak itu seolah mengejek, Shizuo merasa kesal. Tapi, ia tidak bisa bertindak keras pada anak-anak. Shizuo suka main dengan anak kecil.

"Ibuku takkan kembali",ujar anak kecil itu. "Jadi, pergilah sebelum kamu merusak apartmentku."

Shizuo berjalan ke dekat anak itu. Anak itu turun dari kursi dan mundur ke belakang. Tangan anak itu mendekat ke arah laci meja.

"Aku hanya ingin mengobati lukamu",ujar Shizuo.

Anak itu memperhatikan Shizuo dengan tatapan curiga, namun mendesah. "Kotak p3k ada di sini",ujar anak itu menarik laci dan mengeluarkan sebuah kotak p3k.

Shizuo mengambil kotak p3k, ia menggandeng anak itu berjalan mengikutinya ke arah sofa. Shizuo meminta anak itu duduk di sofa, ia sendiri berlutut di samping anak itu dan mulai membersihkan luka dengan alcohol.

"Aduh",erang anak itu, sedikit menarik tangannya.

"Maaf",gumam Shizuo menunduk dan meniup luka di tangan anak itu.

Anak itu menatap Shizuo dengan pandangan ingin tahu. Saat Shizuo mengangkat kepala secara tiba-tiba, kepala batunya itu kena kening anak itu.

Anak itu mengerang sakit, mengusap-usap keningnya.

"Ah, maaf!",ujar Shizuo.

Anak itu menatap galak ke arah Shizuo. Shizuo menunduk merasa bersalah. Ia menempelkan plester luka di telapak tangan anak itu.

"Siapa namamu Nak?",tanya Shizuo.

Anak itu menatap Shizuo, kemudian berkata,"Orihara Izaya."

Shizuo mengira dirinya salah dengar. Kemudian bertanya lagi,"Kamu kenal Orihara Izaya?"

Anak itu menubruk Shizuo hingga jatuh terbaring di lantai dari atas sofa. Ia menarik kerah baju Shizuo dan menggeram marah. "Beraninya kamu tak mengenaliku setelah membuatku jadi begini, dasar monster!"

"Apa maksudmu Nak?",tanya Shizuo bingung.

Anak itu marah sampai tak bisa menahan air mata yang menetes turun ke pipi. "Kamu membuatku tak bisa keluar dengan leluasa. Gara-gara kamu menciumku, aku jadi kecil seperti anak-anak!"

"Eh?",gumam Shizuo memiringkan kepala. Heran. Apa anak ini sedang ngelantur?

Setelah merasakan sensasi menyakitkan benda tajam menembus bahunya di sertai cairan lengket agak panas yang mulai menodai baju bartendernya, Shizuo baru memperhatikan anak itu baik-baik.

Anak itu mirip sekali dengan Orihara Izaya.

Anak ini bahkan imut dan manis.

"Kutu loncat itu takkan seimut dan manis begini, mungkin Celty benar, alien datang menguasai bumi. Kamu alien kan?"

Dengan itu, di tambah wajah bego Shizuo, anak yang tengah marah itu langsung tertawa. "Aku tak menyangka kamu sebodoh itu, Shizu-chan. Aku bukan alien!"

"Tidak, kamu pasti alien",ujar Shizuo mengangkat anak itu dan mendudukkannya di sofa.

"Alien tidak mungkin tahu kalau Shizu-chan pernah menangis saat ada cicak yang jatuh ke kepalamu saat pelajaran biologi bukan?",ujar anak itu tersenyum. Walau matanya tidak. Jelas murka.

Wajah Shizuo memerah. "Ka- kamu Izaya? Sini ku buktikan!"

"Hah, kamu mau ap---"

Pertanyaan anak itu terpotong oleh Shizuo yang tiba-tiba mencium bibirnya.

Anak itu mendorong Shizuo dan wajahnya murka. Dia mengelap bibirnya dengan lengan jaketnya dan berlari ke arah meja komputer. Dalam sekejap anak itu sudah meraih pisau lipat dari dalam laci dan menggenggamnya erat.

"Mesum sialan!",teriak anak itu marah dan berlari hendak menusuk Shizuo dengan pisau lagi. Tapi, ia malah berhenti tiba-tiba memegangi jantungnya yang sakit tiba-tiba.
"Arghh",erangnya. Pisau terlepas dari tangan dan anak itu tersungkur ke lantai.

Shizuo mencabut pisau di bahunya dan melemparkan pisau itu ke lantai. Shizuo segera menghampiri anak yang tengah kesakitan itu.

Tanpa pikir panjang, Shizuo menggendong anak itu dengan maksud membawanya ke Shinra. Tapi, baru sampai di dalam lift, beban Shizuo terasa berbeda.

Saat lift tiba di lantai dasar, Shizuo mendapati sosok Izaya dewasa yang pingsan dalam pelukannya.

Di depan lift, Namie mengangkat alis melihat Shizuo dan Izaya. Wanita itu tersenyum paham, "Aku tidak tahu kalau anda punya perasaan istimewa buat seorang Orihara Izaya, Heiwajima-san."

"Aku tidak tahu, tadinya ini anak kecil---"

"Aku tidak peduli. Kamu mau membawanya ke dokter bukan, aku mau lanjut dengan waktu kerjaku",ujar Namie masuk ke lift dan mendorong Shizuo keluar.

Shizuo panik. Dengan Izaya yang di pelukannya, kelihatan pucat, pingsan karena tadi kesakitan setelah ia cium. "Argghh pertama-tama Shinra. Shinra dulu",ujarnya segera menghentikan taxi. Tidak mungkin naik kereta lagi. "Kawagoe high tolong!".

Chapter Text

Chapter 03

Shinra's Apartment

Shizuo membunyikan bel apartment Shinra. Tidak lama kemudian, Shinra membukakan pintu. Shizuo bisa melihat Celty yang berpakaian santai tengah menonton televisi di ruang tamu.

"Shinra, aku bisa jelaskan---"

Shinra terlihat tidak senang melihat sosok Izaya yang pingsan dalam pelukan Shizuo. Tanpa menggubris Shizuo, Shinra mengambil alih tubuh Izaya. Dia menggendong Izaya ke dalam ruang praktek untuk di periksa.

Celty menghampiri Shizuo. Dia mengetik di PDA. // Shizuo, apa yang terjadi dengan Izaya? //

"Celty, aku juga bingung. Saat aku ke sana, aku mengikuti seorang anak kecil yang jatuh karena menabrakku yang tiba-tiba berbalik arah. Aku mengikuti hingga depan apartmentnya dan ada wanita yang kukira ibu anak itu. Wanita itu menyuruhku menjaga anak itu. Saat aku mengobati luka anak itu, aku bertanya pada anak itu tentang namanya dan dia bilang Orihara Izaya. Lalu, aku gak percaya, jadi aku coba dengan menciumnya. Anak itu terlihat panik dan coba menyerangku dengan pisau. Mungkin ia hanya menyembunyikan perasaan malu, tapi tiba-tiba ia kesakitan dan jatuh ke lantai. Saat aku membawanya kemari, dalam lift ia berubah entah kapan jadi Izaya. Aku baru sadar saat tiba di bawah. Jadi, sekarang ku bawa dia kemari. Celty, kau mendengarku?"

Shizuo capek-capek menjelaskan dan Celty sudah membeku pada bagian Shizuo mencium anak kecil.

Dengan bahu bergetar, mungkin marah, Celty mengetik di PDA dengan tangan gemetar bukan takut, tapi kesal, lalu menunjukkan layarnya pada Shizuo. // Shizuo, kamu mencium anak kecillllll???? Aku tidak menyangka kamu seperti itu. Aku kecewa denganmu.. !!//

Shizuo mengangkat kedua tangannya. Dia harus menenangkan temannya sebelum dirinya mati di cekik bayangan gelap Celty yang mulai bergerak.

"Tunggu, Celty. Anak itu bilang dia Izaya, aku hanya ingin membuktikan apa benar. Soalnya bibir Izaya lebih manis dari strawberry",ujar Shizuo mengalihkan perhatian ke arah lain.

PDA Celty lantas jatuh ke lantai. Dia mundur kemudian lari ke arah Shinra yang baru keluar usai memeriksa Izaya. Celty sembunyi di belakang Shinra dan menunjuk Shizuo lalu membuat bahasa isyarat dengan bahasa tubuh yang hanya bisa di pahami Shinra.

Shinra mengamati Celty menjelaskan, lalu tertawa sambil menarik Celty ke pelukannya. "Haha Celty, itu tidak mungkin. Shizuo bukan alien."

Shizuo mendekat dan meski Shinra bersikap dingin melihatnya, Shizuo tetap berkata,"Aku bukan alien, tapi Izaya mungkin."

"Maksudmu apa, Shizuo? Jangan selalu menuduh Izaya tanpa bukti."

"Shinra, dengar. Sebelum pingsan, Izaya adalah anak kecil yang baru ku temui hari ini. Wanita yang kukira ibunya memintaku menjaga anak kecil itu. Namun, tiba-tiba jantungku sakit dan dia ambruk. Lalu poof berubah jadi Izaya."

"Kamu mabuk?"

"Aku serius."

Shinra melihat ekspresinya sebentar, kemudian menghela nafas. "Baiklah, aku akan coba mempercayaimu. Tapi, apa kamu tahu apa yang membuat Izaya kesakitan? Kamu tidak melukainya kan?"

Shizuo menggeleng. "Walaupun dia menusukku dengan pisau, aku tetap tak bisa menghajarnya. Soalnya wujudnya anak kecil."

"Pisau?",gumam Shinra dan baru memperhatikan darah di baju Shizuo. "Buka bajumu."

Shizuo mengangguk. Celty segera kembali menonton tv.

Shinra memeriksa luka di bahu Shizuo. "Hmm. Baiklah aku percaya. Luka ini terlalu ringan jika Izaya yang kita kenal lakukan. Tapi, kalau ada anak kecil yang pegang pisau, bisa jadi memang dia."

Shizuo mengangguk.

"Ikut aku ke ruang praktek. Aku akan mengobatimu dan kamu tidak boleh kemana-mana sebelum Izaya sadar."

Shizuo baru teringat saat Shinra selesai mengobatinya. Ia melirik ke arah Izaya,"Shinra, bagaimana keadaan Izaya?"

Shinra mengangkat bahu. "Dari hasil periksa, dia tidak apa-apa. Hanya saja, bisa kamu cerita apa yang terjadi? Ceritakan semuanya, ok?"

Shizuo menjelaskan tentang kejadian dari bertemu anak laki-laki kecil hingga saat ia sadar anak kecil dalam pelukannya berubah jadi Izaya.

"Kamu cium dia?"

Shizuo mengangguk. "Pertama kali di rusia sushi. Reaksi anak itu sama persis dengan Izaya."

"Shizuo, kalian itu selalu berantem. Wajar kalau Izaya marah besar padamu."

"Lho, bukannya dia hanya malu?"

"Duh, Shizuo. Apa reaksimu kalau posisi kalian di ganti?"

Shizuo coba membayangkan, namun ia tampak santai. " Aku akan biarkan dia menciumku. Soalnya ciuman dengannya rasanya jauh lebih enak dari cake strawberry kesukaanku."

Shinra tercengang. "Kamu bilang apa?"

"Aku suka mencium Izaya."

"Shizuo, kamu suka padanya?"

Shizuo menggeleng. "Suka. Kalau dia bentuk kecil, manis imut--- aku bukan pedophille Shinra! Aku juga tidak keberatan sama dia versi di sana."

"Maksudmu gimana?"

"Aku tetap saja benci dia. Benci dan keinginan menciumnya adalah hal berbeda. Shinra?"

Shinra mengabaikan Shizuo, ia menghampiri Izaya yang mulai bergerak dan sesaat kemudian membuka matanya.

"Izaya",panggil Shinra.

Izaya terlihat gugup karena baru bangun. "S-Shinra, kenapa kamu di apartmentku?"

"Ini apartmentku. Shizuo membawamu kemari",ujar Shinra. "Aku butuh konfirmasi darimu. Apa benar ucapannya soal kamu dari anak kecil berubah jadi besar?"

Izaya melemparkan tatapan ke arah Shizuo yang jalan mendekat. Lalu ke Shinra, "Shinra, Shizu-chan benar. Tapi, tolong jangan bilang pada siapa-siapa. Aku yakin Celty pasti sudah dengar juga."

"Ya, ada yang bisa kau jelaskan Izaya?",tanya Shinra.

Izaya menunjuk Shizuo dengan pandangan menyalahkan. "Awal dari semua ini gara-gara Shizu-chan. Dia mengambil ciuman pertamaku."

Wajah Shizuo memerah mendengar itu. "Aku tidak tahu itu. Sebagian besar juga salahmu yang memancingku melakukan itu."

"Siapa yang memancingmu?",protes Izaya. "Aku hanya menikmati makanan kesukaanku."

"Izaya kamu makan sushi di hadapan Shizuo?"

"Aku ingin makan sushi dan aku tidak membuatnya marah. Dia selalu marah setiap melihatku dan Simon memaksa kami duduk semeja!"

"Dia masih makan seperti masa SMA",ujar Shizuo.

Shinra mengerti. Dia bahkan Kadota juga pernah melihat Izaya makan sushi. Dan itu terakhir kalinya, mereka mengajak Izaya makan bareng di rusia sushi. Bahkan pesta akhir tahun, Izaya tak di undang.

Jika ada kelebihan Izaya, saat makan sushi pemuda itu benar-benar menanggalkan topeng wajahnya. Dia tidak peduli keadaan sekitar dan makan layaknya anak kecil, menikmati makanan kesukaannya.

"Baik. Aku tak bisa menyalahkan kalian berdua. Lalu, Izaya kamu yakin masalahmu cuma Shizuo?"

"Strawberry." gumam Izaya pelan.

"Strawberry?",tanya Shizuo dan Shinra.

"Aku allergi Strawberry. Shizu-chan menciumku padahal dia sedang makan kue strawberry."

"Allergy?",tanya Shinra. "Kamu berubah jadi anak kecil karena itu?"

Izaya mengangguk. "Sebelum ini, saat berubah jadi anak kecil karena strawberry, ciuman dari adik perempuanku masih bisa mengembalikanku ke wujud semula. Tapi, karena si kasar mengambil ciuman pertamaku, cara itu tidak berlaku lagi."

"Jangan-jangan maksudmu, mulai sekarang ciuman dari Shizuo yang bisa mengembalikanmu ke wujud semula kalau kamu jadi anak kecil?"

Izaya membuang muka. Sebal bukan main. Shizuo malah tampak berseri. Dia bisa mencium Izaya lagi. Shinra memang ingin kedua temannya akur, tapi ia tak pernah membayangka akan seperti ini. Untungnya, Shizuo hanya peduli ciuman, Izaya hanya peduli untuk tidak berwujud anak-anak.

"Nah, Shizuo. Kamu walau sekesal apapun pada Izaya, janji padaku untuk menjaganya saat ia dalam wujud anak kecil. Ingat kamu harus mengembalikan wujudnya ke semula."

Shizuo mengangguk dengan wajah tersenyum senang. Izaya menggigit bibir bawah dengan sebal. Dia menatap apa saja yang ada di ruangan selain Shizuo.

"Izaya, kamu harus menghubungi Shizuo saat tubuhmu mengecil. Kalau dia macam-macam, aku akan memberinya pelajaran",ujar Shinra."Sebagai balasan dengan pertolongan Shizuo, kamu tidak boleh mengirim orang untuk menyerangnya maupun menjebak dia dalam masalah. Mengerti?"

Izaya menatap ke arah Shizuo, kemudian menjawab."Ya."

"Bagus. Ada pertanyaan?",tanya Shinra menatap keduanya.

"Apa aku hanya boleh mencium Izaya hanya saat dia jadi kecil?" tanya Shizuo.

Shinra menahan diri untuk tidak tertawa membayangkan Shizuo di sangka pedophille nanti. "Izaya, dia suka saat menciummu. Bagaimana kalau kamu biarkan dia menciummu sesekali?"

Wajah Izaya memerah seketika. "Berhenti bicara cium-cium dasar mesum. Aku tidak mau di cium dia, nanti aku bisa berubah jadi anak kecil."

"Coba praktekkan",ujar Shinra. "Hadiah karena dia membawamu kemari."

Izaya menggeleng, namun Shizuo mendekat ke sisi tempat tidurnya. "Izaya, kamu ingin tahu apa ciumanku bisa membuatmu mengecil atau mesti ada strawberry juga?"

Izaya menunjuk Shinra. "Aku tak mau di perhatikan, Shinra."

"Baik, aku berbalik badan."

Shizuo menyentuh dagu Izaya. Izaya memejamkan mata tidak ingin melihat dan ibu jari Shizuo mengusap bibir Izaya bagian bawah sejenak. Dia tersenyum dan kemudian menunduk memonopoli bibir manis itu.

Izaya sudah berniat mendorongnya, namun tangan Shizuo yang lain memegangi belakang kepala Izaya. Dia mengecup bibir Izaya dan mencoba menikmati rasa manis yang unik itu. Lidahnya menyusup ke dalam, Izaya mati-matian berusaha mendorongnya.

Saat Shinra berdeham, barulah Shizuo menarik diri. Izaya tampak gemetar berusaha menarik nafas. Bibirnya tampak merah karena Shizuo.

"Shizuo, kamu tahu, Izaya akan kesal kalau kamu melakukan itu tanpa izin darinya?",tanya Shinra.

Shizuo mengusap kepala Izaya dan tersenyum puas,"Iza-chan tidak akan kesal bukan? Dia tidak masalah membuatku kesal selama ini."

"Pergi mati sana, mesum!", ujar Izaya menyeka bibirnya dan meninggalkan ruang praktek Shinra. Ia melewati Celty, lalu meninggalkan apartment Shinra. Izaya akan memastikan Shizuo akan menyesal. Dia memang tak bisa mengirimkan orang untuk mencelakai Shizuo atau menjebak Shizuo dalam masalah. Tapi, Shinra tidak melarang Izaya untuk menyerang Shizuo bukan?

Chapter Text

Chapter 04

Izaya terlihat oleh Shizuo beberapa hari kemudian. Izaya baru saja turun dari mobil seorang pria yakuza dengan stelan putih.

"Kamu lihat apa, Shizuo?",tanya Tom. Ia melihat ke arah yang Shizuo lihat. Benar saja, ada Izaya tengah berbicara dengan orang di dalam mobil.

Saat mobil itu pergi, Shizuo menghampiri Izaya. Tidak dengan tempat sampah sama sekali.

"Shizuo?",panggil Tom.

"Hey kutu",panggil Shizuo. "Kamu punya rencana busuk apa berada di Ikebukuro, hah?"

Izaya menatapnya dengan pandangan jengkel.

"Kamu tahu kalau aku punya nama bukan atau otakmu terlalu dungu, Shizu-chan?",ujar Izaya. Tangannya sudah menyelip masuk ke dalam saku jaketnya. Hari ini dia memaket jaket putih dengan tepian dari bahan bulu warna pink muda. Celana panjang putih bahkan sepatu boot putih. Headset warna kombinasi pink dan putih tergantung di lehernya.

"Hari ini penampilanmu berbeda, Izaya-kun",ujar Shizuo setelah memperhatikannya dari atas ke bawah. "Seperti perempuan saja."

Izaya memijat pelipisnya, kepalanya terasa berdenyut. Akhir-akhir ini, ia merasa asing pada Shizuo versi baru ini. Dia memutuskan untuk berbalik dan berjalan pergi, namun Shizuo berkata,"Hey, Izaya-kun. Kamu masih ada urusan setelah ini?"

"Aku mau bersantai di rumah",jawab Izaya dan memutuskan untuk berjalan pergi.

"Kalau begitu, aku akan ke sana setelah waktu kerjaku berakhir",ujar Shizuo.

"Tidak, Shizu-chan. Aku tidak mengundangmu!"

"Aku akan membawakan sushi?",gumam Shizuo.

Izaya mengibaskan tangan. "Tidak tertarik."

Shizuo memandang Izaya yang lanjut meneruskan perjalanan.

***

Sore harinya, Shizuo mendapat telepon dari Shinra.

"Hello?"

"Shizuo. Dimana kamu?"

"Ada apa, Shinra? Aku baru pulang kerja."

"Tolong ke tempatku segera",ujar Shinra kedengaran panik.

"Baik."

---

15 menit kemudian, Shizuo tiba di tempat Shinra.

"Shinra, ada apa?",tanya Shizuo.

Di dalam apartment Shinra tampak anak laki-laki kecil yang sudah pernah Shizuo lihat. Anak itu mengenakan jas lab putih milik Shinra dan tengah berbaring di sofa sambil menonton tv. Di bilang nonton itu tidak cocok, anak itu aka mini Izaya hanya ganti-ganti channel secara beruntun.

Shinra menunjuk Izaya. "Celty tidak tahu kalau dia allergy strawberry dan memberinya biskuit saat ia datang kemari 2 jam lalu. Biskuit itu di buat dengan rasa strawberry. Rencana Celty, nanti kalau sukses mau memberikannya padamu."

"Celty dimana sekarang?",tanya Shizuo.

"Celty sedang menuju Shinjuku untuk mengambil baju ukuran kecil milik Izaya. Tapi, Shiki-san memberi Celty tugas. Masalah sekarang adalah Ayahku akan datang. Aku tidak mau membuatnya tertarik pada kondisi Izaya. Jadi, mulai sore ini, sampai Izaya kembali ke wujud semula tolong bawa dia bersamamu."

"Aku bisa mengembalikan dia ke wujud semula kan?",ujar Shizuo.

"Jangan. Kondisinya sedang tidak fit. Setiap perubahan akan membuatnya kesakitan. Setidaknya biar dia istirahat sehari dulu",ujar Shinra. "Dia agak demam Shizuo. Sepertinya efek terlalu memaksakan diri dalam pekerjaannya."

"Tadi siang dia kelihatan baik-baik saja",ujar Shizuo. "Ya sudah, aku sudah janji."

"Izaya!",panggil Shinra.

Izaya menoleh, pipinya tampak memiliki rona merah. "Shin-chan",gumamnya.

"Hoh, Shinchan rupanya",ulang Shizuo menyikut lengan Shinra. Candaan tak berdosa yang membuat Shinra terhuyung ke belakang karena tenaga Shizuo yang berlebihan. "Ah, maaf."

Shinra mengomel pelan. Ia mengusap kepala mini Izaya dan berkata,"Izaya, kamu menginap di rumah Shizuo ya. Dia akan mengembalikan wujudmu besok."

"Shinra, kamu tak perlu memperlakukannya begitu. Tubuhnya kecil, tapi dia masih Izaya."
Shizuo menggandeng Izaya dan membawanya meninggalkan apartment Shinra.

"Huh, Shizuo tidak tahu kalau saat wujud anak-anak, Izaya bertingkah layaknya anak-anak? Ya biarlah. Ku kira dia sudah tahu."

------

Shizuo berjalan dengan mini Izaya di jalan. Dia menatap ke bawah, "Izaya, kamu sudah makan?"

Izaya mengangkat kepala menatap Shizuo. "Kamu bilang mau memberiku ootoro."

"Kalau begitu mau ke rusia sushi?",tanya Shizuo.

Izaya mengangguk. Kepalanya terasa pusing. Dia berhenti dan tangan kanan memegangi kepalanya.

"Izaya?"

Izaya menarik tangannya lepas dari Shizuo dan memutuskan untuk duduk di tanah. "Aku capek."

"Jangan duduk di jalan",tegur Shizuo. Ia memutuskan untuk berjongkok. "Naik ke punggungku. Aku akan menggendongmu."

"Tidak mau. Nanti tulangku remuk."

Shizuo tertawa. "Aku akan berhati-hati, Izaya."

Dengan pandangan ragu, Izaya berdiri dan mengalungkan kedua tangan di leher Shizuo. Dia mendaratkan dirinya di punggung Shizuo.
"Sudah",gumam Izaya.

Shizuo lanjut berjalan menuju Rusia sushi. Dia tidak peduli akan pandangan aneh orang-orang yang mengenalinya.

"Aku tidak tahu kalau Shinra bisa bersikap baik denganmu",ujar Shizuo.

"Shinra itu temanku. Kalau kamu ingat, Shizu-chan. Temanku cuma 1, musuhku cuma Shizu-chan dan adikku cuma 2. Itu fakta!"

"Aku masih musuhmu?",tanya Shizuo.

"Iya. Aku sangat benci padamu."

"Kamu tidak capek?",tanya Shizuo.

Izaya tersenyum. "Benci Shizu-chan itu menyenangkan. Cuma Shizu-chan yang tidak akan menjauhiku dari dulu."

"Dasar",ujar Shizuo.

---

Rusia sushi

"Yo, Shizuo!"

"Hello, Simon."

"Siapa anak kecil di punggungmu?"

"Ah, ini Psyche-chan, anak temannya teman Ayahku",ujar Shizuo.

"Ooh. Ayo masuk ke dalam. Mau makan apa?"

"Aku yang seperti biasa dan buat Psyche-chan sushi ootoro porsi kecil",ujar Shizuo menunjuk Izaya.

"Ootoro~",gumam Izaya agak senang, walau Shizuo bisa merasa suhu tubuhnya semakin panas.

Sesampai di dalam restoran, Ia mendudukkan Izaya di sebelahnya. "Pssh, Izaya-kun, bagaimana keadaanmu?",tanya Shizuo menyentuh kening Izaya dengan punggung telapak tangan kanannya.

"Sedikit pusing",gumam Izaya, ia menaruh kedua tangannya di atas meja dan membaringkan kepala di atas tangannya.

"Aku suruh bungkus saja ya. Biar kamu bisa istirahat di rumah?",tanya Shizuo.

"Aku tidak apa, Shizu-chan",jawab Izaya memejamkan mata sambil menunggu pesanan.

***

Saat Izaya membuka mata karena mendengar namanya di panggil berulang kali, ia mendapati tempat yang berbeda. Ia tidak berada di rusia sushi tapi di atas tempat tidur.
Shizuo duduk di sisi tempat tidur dan sedang memegang sebuah mangkuk dengan asap yang masih mengepul.

"Shizu-chan?"

"Yup. Aku akan jelaskan nanti, kamu harus makan dulu dan minum obat."

"Obat?"

Shizuo mengangguk. Dia menyendok sesendok bubur dan meniupnya agar dingin.

"Shizu-chan, itu apa?"

"Bubur daging. Ayo buka mulutmu!",ujar Shizuo mendekatkan sendok ke mulut Izaya.

Izaya memakan setiap bubur yang Shizuo suapkan. Dia tidak protes. Kemudian meminum obat yang Shizuo berikan dengan segelas air putih.

"Sekarang kamu boleh tidur lagi."

Shizuo menghilang ke dapur bersama mangkuk dan gelas kosong. Tidak lama, ia kembali dan menyelimuti Izaya dengan selimut.

"Shizu-chan, ini dimana?",tanya Izaya menatap langit-langit kamar yang asing.

"Ini apartmentku. Tidurlah",ujar Shizuo mengusap rambut Izaya perlahan.

Izaya memejamkan mata. Tidak lama ia akhirnya tidur.

---------

 

Saat Izaya bangun untuk kedua kalinya, langit di luar jendela yang terbuka sudah berwarna oranye kemerahan. Sepertinya sudah sore.

Izaya sudah merasa agak baikan. Ia turun dari tempat tidur dan melangkah keluar dari kamar.

Izaya mendengar bunyi dari arah dapur dan saat ia melihat ke sana, tampak Shizuo tengah memasak makan malam.

"Shizu-chan, kamu sedang apa?",tanya Izaya seraya mengucek matanya.

Shizuo menoleh dan tertawa melihat rambut acak-acakan Izaya. Dia terlihat lucu dengan t-shirt kebesaran yang tengah ia pakai. Wujud Izaya masih anak kecil.

"Apa yang lucu?",tanya Izaya bingung. Dia melangkah ke arah Shizuo dan melewatinya. Memilih duduk di salah satu kursi yang ada di dekat meja makan.

Shizuo membuka kulkas dan menuangkan segelas susu segar ke dalam gelas, lalu memberikannya pada Izaya.

Izaya langsung meletakkan gelas itu di atas meja dan menjauhkannya. "Tidak. Aku benci manis."

"Kamu sangat kurus Izaya. Kalau mau cepat tumbuh besar harus minum susu. Lagipula susu segar tak terlalu manis. Coba saja",ujar Shizuo. "Aku akan memberikan sushi ootoro yang tak sempat kamu makan kemarin."

Izaya menatap gelas susu itu seolah racun mematikan. Ia mencicipi rasanya perlahan dan mulai menghabiskannya. "Sudah",ujar Izaya. Shizuo tersenyum dan mengambil gelasnya.
"Aneh, kenapa akhir-akhir ini kamu tidak marah-marah, Shizu-chan?"

"Kamu ingin aku marah dan melemparmu keluar dari jendela?",tanya Shizuo.

"Tidak. Aku hanya mau segera kembali normal dan menyelesaikan pekerjaanku di rumah",ujar Izaya menopang dagu dengan tangannya.

"Pekerjaan bisa menunggu. Kamu hanya akan kembali kalau sudah sehat, ini pesanan Shinra.",ujar Shizuo.

Selama Shizuo memasak, Izaya menghilang ke kamar mandi. Saat Shizuo siap masak dan membersihkan dapur, Izaya masih di dalam kamar mandi.

Shizuo mengetuk pintu kamar mandi. "Izaya, kenapa lama sekali?"

Tidak ada jawaban.

"Izaya?",panggil Shizuo khawatir. Ia membuka pintu kamar mandi dengan kunci cadangan dan menemukan Izaya ketiduran di bath tub. "Dasar."

-------

"Aaarrrrrgghhhh",teriak Izaya menyambar bantal dan melempari Shizuo. "Bodoh, aku tidak menyuruhmu memandikan dan mengganti pakaianku!"

Ini sudah hari kedua Izaya di rumah Shizuo. "Salahmu sendiri ketiduran. Sudah bagus aku sudah membantumu dan khawatir kalau kamu tenggelam di bath tub!"

"Aarrrgghhh, aku tidak mau tahu. Pertama kamu curi ciumanku sekarang kamu lihat tubuhku. Aku mau mati saja!",seru Izaya menarik selimut menyelimuti dirinya.

"Izaya, kamu itu anak kecil sekarang. Lagipula aku laki-laki dan musuhmu. Apa anehnya coba?",jawab Shizuo. "Ayo berhenti ngambek, aku mau kerja. Kamu mau ikut atau sendirian di rumah?"

"Aku mau pulang ke rumah!",gerutu Izaya dari balik selimut.

"Kalau kamu pulang dalam keadaan begini, kamu paling juga di culik dan di jual ke kapal gelap. Kamu harusnya paling tahu hal begitu bukan?",ujar Shizuo. Ia tengah mengenakan seragam bartendernya.

Izaya membuka selimutnya sedikit. "Aku tidak mau ikut jalan dengan orang berpakaian bartender di siang bolong!"

"Aku akan pakai yang lain kalau begitu dan kamu juga bisa ganti pakaianmu. Celty membawakannya sore kemarin",ujar Shizuo.

Izaya turun dari tempat tidur. Selimut masih menaungi kepalanya. Ia membiarkan ujung selimut menyapu lantai. Izaya menyelip ke dekat almari Shizuo.

"Shizu-chan kimono biru itu punyamu?",tanya Izaya.

"Yup."

"Aku mau Shizu-chan pakai itu."

"Izaya, aku tidak mau pakai pakaian itu buat kerja."

Izaya memeluk lengan Shizuo. "Ku mohon, sekali saja. Baju lainmu bartender semua. Membosankan."

"Tch!",Shizuo menanggalkan kemejanya. kemeja putihnya mendarat di kepala Izaya. Izaya menyambar kemeja itu dan melemparnya ke lantai, namun langsung melihat tubuh Shizuo yang bertelanjang dada.

"Aaahhh!",seru Izaya.

Shizuo terlonjak kaget dan membentaknya,"Apa-apaan kamu?!"

Izaya menarik lengan Shizuo. "Shizu-chan coba menunduk sedikit."

"Apa?",tanya Shizuo sedikit menunduk. Tangan Izaya menjangkau bekas luka pisau di dadanya.

"Shizu-chan, apa ini...luka yang ku buat?",tanya Izaya bersenandung kecil.

"Ya. Mau kupatahkan tanganmu biar punya bekas yang sama?",tanya Shizuo menangkap tangan Izaya.

Izaya menggeleng. "Tentu tidak mau. Shizu-chan cepat pakai kimononya!"

Saat Shizuo siap mengenakan kimono putih kombinasi biru, Izaya tersenyum puas. "Wow, Shizu-chan tidak kelihatan seperti monster. Kesannya tenang."

"Huh? Kamu suka?",tanya Shizuo mengangkat sebelah alisnya.

"Suka!",jawab Izaya memeluknya.

"Bagus. Jadi cepat pakai bajumu dan kita akan segera keluar."

Izaya mengangkat kepala. Ia tertawa kecil, "Shizu-chan yang pakaikan?"

Shizuo mendengus sebal. Ia menjitak pelan kepala Izaya dan menggendongnya ke atas tempat tidur.

Shizuo mengambil baju Izaya yang ada dalam koper dan memakaikannya pada Izaya. Dia sengaja memilih jaket putih bersih yang ada tudungnya dengan hiasan bulu warna pink muda bagian ujung lengan, bawah jaket dan lingkaran tudungnya. Sepatu boot pink, celana panjang warna putih.

"Nah selesai. Psyche-chan!", ujar Shizuo mengangkat tubuh Izaya dan menggendongnya.

"Aku bisa jalan sendiri!",ujar Izaya. Ia memeluk erat pundak Shizuo.

"Aku buru-buru, kamu sangat lambat tahu!",ujar Shizuo.

"Menurutmu apa ada yang bisa mengenali Shizu-chan?"

"Aku tidak peduli",ujar Shizuo mempererat gendongannya sambil lari turun tangga.

"Lebih cepat larinya!",seru Izaya dengan nada gembira.

Shizuo tersenyum tipis dan mempercepat larinya, suara tawa Izaya menyertainya.

Saat tiba di dekat tempat pertemuannya dan Tom, Shizuo menurunkan Izaya yang masih memiliki ekspresi gembira dan dirinya sendiri merasa sangat lelah.

"Huh, Shizuo?",ujar Tom setelah memperhatikan baik-baik pria dengan kimono yang baru berhenti di dekatnya bersama anak kecil yang super manis.

"Hello Tom, kenalin ini Psyche-chan!"

"Hello, boss-san",sapa Izaya tersenyum manis.

"Shizuo, dimana kamu temu anak manis ini?",tanya Tom.

Shizuo tertawa melihat Tom memeluk Izaya. Kalau saja boss nya tahu ekspresi manis anak kecil itu di balik punggungnya yang mengeluarkan aura mematikan. Mungkin pendapatnya akan berubah.

Chapter Text

Chapter 05

Shizuo tidak bisa bersikap barbar dengan sosok kecil Izaya yang berada dalam pengawasannya. Izaya tidak suka terluka di saat dirinya tidak bisa membela diri. Jadi, Izaya mengikuti Shizuo dengan tangan kiri memegangi lengan kimononya.

Tom sedang bicara baik-baik untuk menagih hutang. Namun, dari pengamatan Izaya hal itu tidak berhasil. Shizuo berjalan ke dekat pengutang itu dan berkata,"Cepat bayar. Jangan banyak alasan!"

"3 hari lagi. Aku belum punya uang",ujar bapak berperut buncit itu sambil melangkah mundur.
Kemudian berlari ke arah yang sama dimana Izaya sedang mengamati tak begitu jauh di belakang Shizuo.

"Psyche-chan awas!",seru Tom.

Izaya segera melompat menyingkir. Tapi, bapak tersebut malah menyambar bagian belakang tudung baju Izaya dan menyeret Izaya ke hadapannya. Tangan bapak itu berada di dekat leher Izaya.

Izaya ingin tertawa melihat bapak itu menjadikannya sebagai sandera hanya karena dia anak kecil. Pisau lipat masih di dalam saku jaketnya. Namun saat Izaya sudah siap dengan pisaunya sesuatu terbang ke arahnya. Dalam sekejap, bapak itu mengipasi tangannya dan coba berbalik lari. Izaya cepat-cepat menunduk ketika mesin minuman terbang ke arahnya. Tentu saja sasaran kali ini adalah bapak itu.

Mesin minuman itu jatuh tepat di hadapan jalur yang akan di ambil bapak tersebut. Bapak itu jatuh terduduk gemetaran. Saat Shizuo menyambar kerah bajunya hendak menghajarnya, bapak itu segera minta maaf dengan panik dan mengeluarkan amplop cokelat berisi uang pada Shizuo dengan tangan gemetaran.

Shizuo menyambar amplop itu dan menghitung isi uangnya. Setelah pas, ia baru berbalik membiarkan bapak itu. Namun bapak itu cari mati dengan coba mengambil sebongkah batu bata untuk menyerang Shizuo dari belakang.

"Shizu-chan belakang!",seru Izaya.

Shizuo memutar tubuhnya dengan insting dan melayangkan tendangannya ke belakang. Tubuh bapak itu terbang mendarat ke tembok dan pingsan dalam pose konyol.

Izaya tertawa memegangi perutnya. Saat Shizuo mendekat, ia melompat ke pelukannya. "Ah, Shizu-chan keren!",serunya bangga.

Tom menerima amplop yang Shizuo lemparkan padanya. "Bagus, Shizuo. Dengan ini kita bisa istirahat makan siang."

---

Kafe pinggir jalan dekat sunshine 60

Shizuo memesan cake strawberry dan vanilla milkshake untuk dirinya. Ia memesankan cappucino dengan cream dan Pizza untuk Izaya. Tom memesan kopi dan burger untuk dirinya sendiri.

"Psyche-chan ini perempuan?",tanya Tom.

Izaya yang tengah meminum cappucino miliknya langsung tersedak. Shizuo tertawa ringan seraya mengibaskan tangan. "Psyche-chan ini anak laki-laki."

"Ah, kamu memanggilnya Psyche-chan kukira... Maaf Psyche-kun",ujar Tom tersenyum, walau jelas dari ekspresinya Izaya yakin dia tak merasa bersalah sama sekali.

Izaya hanya pura-pura tersenyum. Ia mengambil cake Shizuo dengan maksud merebut makanan kesukaannya. Tapi, Shizuo lebih cepat. "Psyche chan ini strawberry."

Izaya langsung menjauhkan piring itu. Shizuo berdecak menahan senyum. Saat Shizuo pergi mencuci tangan dan Tom membayar makanan, Izaya melihat kedua adik kembarnya lewat di dekat kafe.

Izaya lantas turun dari kursi dan lari ke luar. 'Mairu, Kururi!'

----

"Mairu, Kururi",panggil Izaya. Adik kembarnya menyebrang jalan. Izaya bergegas menyusul, namun dia terseret orang-orang yang bergegas menyebrang juga.

Saat Izaya terhuyung hampir jatuh, seseorang menahan pundaknya agar dia tidak jatuh.

"Terima kasih",ujar Izaya dan mendapati sosok Kida. Kida yang tak mengenali Izaya menuntunnya ke seberang jalan.

"Nah, kalau sini aman. Dimana orang tuamu?",tanya Kida ramah.

Izaya menoleh ke kanan kiri dan tidak menemukan sosok kedua adik perempuannya.

Anri dan Mikado menghampiri Kida yang bersama Izaya.

"Masaomi-kun, siapa itu?"

"Manis",gumam Anri.

Izaya tidak suka dekat-dekat dengan Anri. Tapi, dia juga tidak ingin rahasianya terbongkar.

"Namamu siapa?",tanya Mikado.

"H-Heiwajima Psyche!",jawab Izaya cepat setelah ingat nama yang Shizuo berikan padanya yang versi kecil.

"Psyche-kun kenal dengan Heiwajima-san?",tanya Anri.

Izaya mengangguk.

"Kami akan bantu kamu menemukannya. Jangan takut ya. Ini untukmu",ujar Anri mengeluarkan sebuah pocky strawberry dari dalam tas dan memberikannya pada Izaya.

"Um... Terima kasih, Nee-chan",ujar Izaya tersenyum senang. "Psyche akan menjaga ini baik-baik."

Ketiga remaja itu tersenyum.

Izaya mengomel dalam hati harus pura-pura jadi anak kecil gara-gara tubuhnya. Dia di bawah berkeliling ke tempat game center oleh Kida dengan alasan mencari Shizuo, lalu Mikado mengajaknya ke taman bermain dengan alasan itu tempat Shizuo bersantai padahal Mikado mencari kesempatan berdua dengan Anri sementara Kida main dengan Izaya. Anri yang senang bermain di taman bermain menghadiahkan Izaya sebuah balon merah.

Langit sudah sore, Izaya sudah lelah. Dia tidak boleh berkeliaran sendiri dan terpaksa ikut dengan 3 remaja itu. Jadi anak kecil memang tidak enak. Seandainya, ada Shizuo di dekatnya... Izaya tidak sadar dia menunduk sedih sambil memandangi balonnya yang meliuk di langit senja.

Sebuah derap langkah seseorang berlari berhenti di dekat ketiga remaja itu dan Izaya.

"Psyche-chan!"

Izaya langsung menoleh ke asal suara. Entah karena lega saat melihat Shizuo atau capek, air mata langsung mengenangi pelupuk matanya. "S-Shizu-chan………",ujarnya dan mulai terisak.

Shizuo yang sudah mencari Izaya kemana-mana setengah hari ini segera memeluknya. "Kemana saja, aku mencarimu kemana-mana."

"Heiwajima-san, kami menemukannya dekat sunshine 60. Untunglah akhirnya bisa menemukanmu",ujar Mikado.

"Apa kalian menemaninya?",tanya Shizuo masih dengan Izaya yang tengah menangis di pelukannya.

"Ya, tapi kami tidak berhasil menemukan anda",ujar Kida.

"Terima kasih. Asalkan dia baik-baik saja sudah cukup",ujar Shizuo.

"Sama-sama. Kami juga senang membawanya jalan-jalan",ujar Anri. "Dia sangat manis."

"Ya",jawab Shizuo menyetujui. "Kalau begitu aku akan bawa dia pulang."

"Uh, sebelum itu.. kami benar-benar tak tahu kalau anda punya anak semanis ini",ujar Mikado canggung.

"Ibunya pasti sangat cantik ya?",ujar Anri.

Shizuo hanya tersenyum dan menjawab,"Ya. Sangat cantik. Kalau begitu sampai nanti."

Shizuo menggendong Izaya kembali ke apartmentnya. "Sudah, jangan menangis lagi."

Izaya mengangguk pelan saat mereka tiba di apartment. Balon masih di tangan dan pocky strawberry masih dalam kantong jaketnya.

----------

Malamnya, Shizuo dan Izaya duduk menonton tv bersama.

"Shizu-chan, aku sudah sehat. Aku mau kembali ke wujud semula",ujar Izaya tiba-tiba.

"Kamu tampak lelah saat pulang tadi, sebaiknya istirahat dulu",ujar Shizuo.

Izaya menggeleng. Ia mendekat ke arah Shizuo dan menduduki pangku Shizuo dengan posisi wajah menghadap Shizuo. Shizuo membiarkan Izaya dan diam melihat apa Izaya berani menciumnya.

"B-boleh ku c-cium?",tanya Izaya dengan wajah memerah setelah kedua tangannya berada di pundak Shizuo. Satu tangan pindah ke pipi kiri Shizuo.

Shizuo kelepasan tertawa melihat anak kecil di depannya. "Haha kamu tidak perlu gemetaran, aku takkan gigit, Psyche-chan",ujar Shizuo melingkarkan tangannya di punggung Izaya agar tidak jatuh.

Wajah Izaya makin merah. Akhirnya ia hanya menguburkan wajahnya di dada Shizuo. Shizuo menepuk punggungnya pelan dan berbisik,"Besok. Besok aku akan mengembalikanmu ke wujud semula. Aku janji ok?"

Jawaban Izaya tak terdengar. Izaya menetap di posisi semula tidak berani mengangkat kepalanya. Dia sebal karena kalah berani dari Shizuo. Dia menghibur diri dengan menyiapkan rencana untuk mengerjai Shizuo sebagai balasan. Ia bahkan tak sadar saat dirinya tertidur.

---

 

Pagi harinya, Izaya menemukan dirinya meringkuk di dekat tubuh Shizuo. Dia berharap Shizuo tidak bangun dan coba bergeser. Namun, ternyata ia berada dalam pelukan Shizuo.

"Umm.. S-Shizu-chan!"

"Nghhh...",gumam Shizuo.

"Bangun Shizu-chan!"

Shizuo membuka matanya perlahan dan saat melihat Izaya, ia tersenyum sejenak,"Pagi."

"Pagi",balas Izaya. "Ah, bukan. Bangun. Kamu sudah janji akan mengembalikan wujudku..."

"15 menit lagi",ujar Shizuo memejamkan mata.

Setelah 15 menit, akhirnya Shizuo benar-benar bangun.

"Shizu-chan..."

Shizuo mengacak rambut Izaya dan menggendongnya. "Mandi dulu, sabar sedikit Psyche-chan."

Setelah menyeret Izaya berendam di bathtub bersamanya selama 20 menit, ia berkata,"Baiklah, aku sudah tidak ngantuk lagi."

Saat Shizuo mengangkat dagunya untuk mencium Izaya dalam bath tub, Izaya terbelalak kaget. Ia menggeleng, "Tidak di sini."

"Sama saja",ujar Shizuo dengan nada acuh tak acuh. Shizuo menarik Izaya ke dekat dirinya dan menciumnya. Mata Izaya terbelalak kaget. Shizuo menciumnya dan tersenyum. "Nah, sudah bukan?"

Gejala sama terjadi, dada Izaya terasa sakit. Shizuo menarik Izaya untuk duduk di pangkuannya dan bersandar pada dadanya.

"Izaya, apa sakit sekali?",tanya Shizuo memandang anak kecil di dekatnya.

Izaya mengangguk. Shizuo mengecup kepalanya. Ia meremas tangan Izaya. "Tidak apa, aku akan memastikan kamu baik-baik saja",ujar Shizuo.

"S-sakit",erang Izaya memegangi dadanya sendiri.

Shizuo menunduk dan mencium bibir Izaya. Izaya terlihat hendak menjauh, namun setelah beberapa saat, akhirnya ia coba mengalihkan pikirannya dari rasa sakit dan membalas ciuman Shizuo. Namun hanya beberapa detik, sebelum ia menggigit bibir Shizuo dan jatuh pingsan saat rasa sakitnya membuat dadanya semakin panas.

"Duh",erang Shizuo. Bibirnya berdarah. Ia memandang Izaya dan menggendongnya keluar dari bath tub. Setelah mengeringkan tubuh Izaya dan membungkusnya dengan handuk, Shizuo segera memakai seragam bartender untuk dirinya sendiri.

Saat selesai mengenakan seragam, ia mendapati Izaya sudah kembali ke wujud semula. Shizuo menggendong Izaya ke tempat tidurnya dan membantunya mengenakan kembali pakaiannya. Jika tidak, Izaya pasti panik saat bangun.

Shizuo meletakkan sarapan di samping tempat tidur, lalu berangkat kerja. Rasanya ada yang kurang tanpa Psyche-chan bersamanya.

Saat Shizuo kembali ke apartmentnya setelah kerja, Ia menemukan Izaya belum bangun. Sarapannya belum tersentuh sama sekali.

"Izaya?",panggil Shizuo cemas. Ia menyibak selimut Izaya dan mengguncang pundaknya agar bangun.

Shizuo sudah sibuk mencari handphone dalam sakunya dan menelepon Shinra.

"Hello"

"Shinra. Tolong kemari. Izaya tidak bisa ku bangunkan!"

"Tenang, Shizuo. Coba lagi!"

"Sudah."

"Baik, aku akan segera ke sana!"

Shinra mengakhiri panggilan.

Shizuo bergerak mondar-mandir dan saat bel berbunyi, ia segera membuka pintu.

"Shinra tolong--"

"Yo, Shizuo-san. Kami mau cari Yuuhei-kun!"

"Mairu, Kururi... Dia tidak ada di sini. Pulang ya",ujar Shizuo menarik kedua tudung jaket adik perempuan Izaya dan meletakkan mereka di luar, lalu menutup pintu. Ia mengabaikan gedoran pintu dan terus coba membangunkan Izaya.

15 menit kemudian saat bel berbunyi, Shizuo membuka dan menghela nafas saat melihat Shinra.

Shinra di ikuti Celty masuk ke dalam. Shinra memeriksa Izaya segera dan mengerutkan alis.

"Aku tidak tahu Shizuo. Kita hanya bisa menunggunya bangun. Kondisi tubuhnya baik-baik saja."

"Tapi dia tidak mau bangun. Apa setiap kali berubah kembali waktu tidurnya akan semakin panjang seperti ini?"

"Bisa jadi",ujar Shinra.

Celty mengetik di PDA // Bagaimana kalau coba tanya pada Ayahmu, Shinra? //

Shinra menggeleng. "Pertama-tama, orang tua Izaya yang perlu kita temui."

"Orang tua Izaya?"

"Ya. Tapi, kita perlu bantuan Shiki."

----

Izaya baru bangun saat Shinra telah pulang. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 7 malam.

Izaya menemukan Shizuo yang berjaga di samping tempat tidur masih dengan pakaian kerjanya. "Shizu-chan."

Shizuo langsung mencengkram kedua bahu Izaya. "Izaya, akhirnya kamu bangun. Kamu baik-baik saja?"

"Uh yeah. Aku harus kembali ke apartmentku",ujar Izaya.

"Ini sudah malam. Besok saja ku antar pulang",ujar Shizuo. "Kamu tidur seharian ini dan bahkan Shinra tak bisa membuatmu bangun."

Izaya tampak berpikir. "Shizu-chan, aku mimpi panjang dan aneh."

"Apa?",tanya Shizuo.

"Aku melihat kita berkelahi. Kita berdua untuk pertama kalinya benar-benar coba membunuh satu sama lain."

Shizuo menyibak poni Izaya dan menggeleng. "Jangan khawatir, itu cuma mimpi Izaya."

"Tapi, Shizu-chan... Mimpiku selalu jadi kenyataan."

Shizuo menggandeng tangan Izaya. "Aku akan menjagamu. Kita tidak akan saling membunuh Izaya."

"Aku menjebakmu membunuh, aku membuat trio Raira terjebak konflik, aku menjebakmu dengan gas bahkan coba membakarmu. Kemudian aku di lemparkan olehmu dengan besi hingga jatuh ke bangunan lain dan kemudian aku mati di bunuh olehmu."

"Wow... Aku masih hidup dengan segala taktikmu dan berhasil membunuhmu? Ku mengganggu trio raira yang kemarin menemanimu?"

Izaya mengangguk. Dia tampak ketakutan. "Aku tidak bisa melakukan hal sebaliknya dari mimpiku, aku akan selalu mengikutinya tanpa sadar. Bertemu denganmu di sma juga sudah ku ketahui sejak masih kelas 3 sd."

"Kalau soal kamu menjadi anak kecil, sudah ada di mimpimu?",tanya Shizuo.

Izaya menggeleng.

Shizuo tersenyum. "Kamu tahu kapan itu akan terjadi?"

"Usiaku 25."

Shizuo tampak murung. "Itu tidak lama bukan?"

Izaya mengangguk. "Kalau aku bisa melewati hari ulang tahun ke-25 dengan selamat, aku bisa di bunuh olehmu pada event dalam mimpiku."

Chapter Text

Chapter 06

Akhir-akhir ini Izaya tidak pernah menampakkan diri di Ikebukuro. Hal itu sudah jadi pembicaraan panas di Dollars Chatroom.
Gosip lainnya adalah kabar kalau Shizuo memiliki anak laki-laki yang sangat manis. Tentu saja, para anggota geng warna, dragon zombie dan musuh Shizuo mulai mencari tahu dimana Shizuo menyembunyikan anak laki-lakinya.

2 minggu setelah Izaya kembali ke Shinjuku, Shizuo mengunjungi galeri lukisan milik grup Awakusu. Di sana ia bertemu dengan Akabayashi dan meminta izin untuk bertemu Shiki.

Para bodyguard mengawasi Shizuo dengan ketat. Akayabashi dengan santai mengantar Shizuo ke ruangan Shiki. Setelah tiba, mereka masuk.

"Shiki-san, aku butuh bantuanmu!",ujar Shizuo.

Shiki duduk berhadapan dengan Shizuo hanya di batasi meja.

Akabayashi duduk di sebelah Shizuo dan fokus membaca gosip di chatroom dollars.

"Apa yang kamu mau dan inginkan dariku?",tanya Shiki.

"Aku ingin bertemu orang tua Izaya",ujar Shizuo.

"Apa tujuanmu?",tanya Shiki.

"Aku ingin menolong Izaya."

Shiki tertawa. "Heiwajima-kun, reputasi permusuhanmu dan Izaya sudah bukan rahasia umum. Aku tidak bisa membantumu. Bagaimana pun dia informant yang berharga bagi Awakusu."

"Baiklah. Aku akan cari tahu dengan cara lain",ujar Shizuo berdiri.

"Heiwajima-kun, apa alasanmu ada hubungannya dengan rumor yang beredar?",tanya Akabayashi membuka suara. "Kabarnya kamu memiliki anak laki-laki yang sangat manis."

Shizuo terdiam.

"Wah, kabar yang menarik. Lebih manis anak laki-lakimu ataukah Izaya yang sudah kami jaga dari kecil?",tanya Shiki. "Aku akan memikirkan permintaanmu jika kamu mengenalkanku pada anak laki-lakimu."

"Shiki-san, anda yang membesarkan Izaya dari kecil. Kalau begitu, apa kamu orang tuanya?"

"Aku hanya menjaganya. Apa masalahmu?"

"Bisakah aku bicara berdua saja dengan anda?",pinta Shizuo agak ragu.

"Akabayashi tidak akan bicara sembarangan." ujar Shiki.

"Kamu tahu soal allergy strawberry Izaya, Shiki-san?"

Shiki menatap Shizuo dengan tatapan tak percaya. "Kamu tahu?"

"Ya. Baru 2 kali aku melihat efeknya. Tapi, jangka waktu tidurnya semakin lama dari yang pertama. Shinra dan aku ingin mencari solusi dari ini. Kami tidak ingin dia masuk ke fase koma."

"Heiwajima-kun, kamu tahu rahasianya. Bahkan 2 kali melihat efeknya, apakah kamu menciumnya atau Shinra?",tanya Shiki.

Shizuo tampak gugup. Dia tidak begitu berani memandang Shiki. "Aku menciumnya."

Akabayashi bersiul dan Shiki tampak frustasi dengan tangan mencengkram rambutnya beberapa lama.

Shizuo tidak tahu harus bagaimana menanggapi.

"Heiwajima-kun, boleh aku membunuhmu?",tanya Shiki dengan nada serius. Matanya tampak di warnai amarah. Tangannya terkepal erat menahan diri.

"Maaf, Shiki-san. Aku belum boleh di bunuh sebelum memastikan Izaya lepas dari penyakit anehnya ini",ujar Shizuo."Setelah itu, aku akan datang menerima hukumanmu."

Akabayashi bertepuk tangan. "Pernyataan yang berani. Aku akan pastikan melihat hingga akhir."

"Ku pegang kata-katamu, Heiwajima-kun. Kalau kamu mau menolong Izaya, carikan dia seseorang yang bisa mencintai dan di cintai olehnya." ujar Shiki.

"Shiki-san, aku tidak mengerti",ujar Shizuo.

"Kalau kamu bisa menemukannya, penyakit Izaya akan sembuh. Lebih cepat lebih baik sebelum waktu tidurnya bertambah makin jauh."

"Baik, aku akan menemui Izaya di luar waktu kerjaku----"

"Ambil cuti satu bulan. Sebut saja namaku. Boss kamu pasti mengizinkannya." ujar Shiki. "Kamu akan ku gaji 10 kali lipat dari gaji pekerjaanmu sebagai bodyguard Tanaka. Kamu akan bekerja untukku. Tugasmu menjaga Izaya dan mencarikan seseorang yang memenuhi syarat yang kusebut tadi. Mengerti?"

Shizuo mengangguk.

"Uangmu akan ku transfer..."

"Tidak. Aku tidak butuh uang untuk menjaga Izaya",ujar Shizuo.

"Percaya padaku, Heiwajima-kun. Kamu akan perlu dan jangan sungkan meminta padaku lagi jika kurang",ujar Shiki. "Ku percayakan Izaya padamu dan jangan kecewakan aku."

"Aku akan berusaha",ujar Shizuo.

---

 

2 Hari kemudian, Shizuo menampakkan diri di Shinjuku. Saat Izaya melihatnya sebagai tamu di depan pintu, ia langsung berkata,"Aku lagi tidak butuh bantuanmu, Shizu-chan!". Lalu, pintu di tutup oleh Izaya.

"Oh. Tidak begini lagi!",ujar Shizuo membunyikan bel berulang kali. Sampai akhirnya Izaya membukakan pintu. Wajahnya tampak bersungut-sungut.

"Kamu mau apa, Shizu-chan? Aku lagi tidak ingin berurusan denganmu",ujar Izaya berdiri bersandar di pintu.

"Aku hanya ingin datang melihatmu, apa tidak boleh?",tanya Shizuo.

"Ya. Kamu itu musuhku!",ujar Izaya. Ekspresinya jelas tidak senang.

"Kalau Psyche-chan?"

"Dia sudah mati!",ujar Izaya coba menutup pintu.

"Tunggu!",seru Shizuo menahan bagian bawah pintu dengan kakinya.

"Singkirkan kakimu!",perintah Izaya.

"Tidak. Aku tidak mau di usir setelah datang jauh-jauh dari Ikebukuro!",tolak Shizuo.

Aksi memperebutkan pintu berakhir saat Namie tiba di belakang Shizuo. "Kalian kalau mau pacaran seperti anak tk di tempat lain saja. Aku mau masuk, minggir!"

Namie menyeret Shizuo minggir dan menatap galak ke arah Izaya. Tangannya mengisyaratkan arah luar pintu. "Selesaikan urusan kalian dan jangan menggangguku!",ujar Namie.

Pintu di banting tutup secara keras dan Izaya mendapati dirinya berdiri di luar pintu apartmentnya.

"Ah, sial!",gerutu Izaya.

Shizuo menatap Izaya yang hanya mengenakan t-shirt hitam, celana pendek biru gelap sebatas lutut dan tanpa sepatu.

"Apa itu pacarmu?",tanya Shizuo memandang kaki Izaya.

"Sekretarisku!",ujar Izaya memilih duduk di lantai. Ia memeluk lututnya dan wajahnya menunduk di atas kedua lengannya.

"Apa kamu mau jalan-jalan?",tanya Shizuo berjongkok di depannya. Tangannya mengacak rambut hitam Izaya. Izaya menepis tangannya namun Shizuo mengulanginya.

"Berhenti!",ujar Izaya gusar. Dia menatap Shizuo dengan wajah masam.

"Kamu suka buku?",tanya Shizuo setelah beberapa saat.

"Aku bisa kemana dengan pakaian rumah seperti ini? Lagipula, aku tak mau jalan dengan bartender palsu sepertimu."

"Kalau begitu mau melakukan cosplay?",tanya Shizuo memandang mata merah Izaya. Warna merah yang cantik seperti batu ruby.

"Huh?",gumam Izaya.

"Kamu suka melihatku dengan kimono biru kan. Jadi, aku berpikir untuk membelikan kimono yang sama untukmu. Tapi, warna yang datang malah pink. Ku rasa bagus juga sih. Mau?"

"Seleramu jelek."

"Jangan berwajah murung. Itu tidak cocok denganmu. Aku akan bawa kamu jalan-jalan di Ikebukuro kalau kamu mau pakai. Jadi gimana?",tanya Shizuo dengan mata penuh harap.

"Kamu akan menuruti semua keinginanku saat jalan-jalan?",tanya Izaya.

"Ya, selama tidak mencelakai orang di sekitar",ujar Shizuo.

Izaya lantas berdiri. "Aku mau sepatumu!"

Shizuo menggeleng. "Ukuran kita berbeda jauh. Aku tidak keberatan menggendongmu."

"Aku tidak mau terlihat oleh orang-orang bersamamu!",tolak Izaya melipat tangan di depan dada. Dia tampak tengah merajuk.

"Dengan pakaianmu yang begini tanpa jaket bulu yang kamu pakai, takkan ada yang akan mengira itu kamu!",ujar Shizuo, lalu menyelipkan tangan kiri di balik punggung dan tangan kanan di kedua kaki Izaya. Lalu menggendongnya.

"Uwaa!",pekik Izaya kaget. Ia menatap tajam Shizuo dengan kesal.

"Pegangan kalau gak mau jatuh",ujar Shizuo tanpa rasa bersalah. Izaya menyembunyikan wajah di dada Shizuo dan merangkul leher Shizuo.

"Awas kalau kamu mengajakku bicara atau menyebut namaku." ancam Izaya.

"Ya."

***

"Huh?"

"Gimana?"

"Aku suka!"

"Bagus"

Izaya memutar di depan cermin. Kimono pink kombinasi putih miliknya berkibar layaknya bunga kecil yang indah.

Shizuo sudah selesai mengenakan kimono yang hampir sama hanya saja warnanya kombinasi biru dan putih.

Izaya tersenyum. "Shizu-chan, jadi apa nama untukku?"

"Sakuraya?",tanya Shizuo.

"Hmm~ Kalau gitu aku akan memanggil Shizu-chan versi ini sebagai Tsugaru."

"Ok. Asal kamu senang, Sakuraya",ujar Shizuo.

"Jadi, Tsugaru mau mengajakku kemana?"

"Makan?"

------

 

"Sakuraya, kamu yakin ini tempat makan kesukaanmu?",tanya Shizuo.

Izaya mengangguk. Tangannya menunjuk sebuah restoran ramen yang cukup terkenal akhir-akhir ini.

"Kamu tidak takut kimonomu kotor?",tanya Shizuo.

Izaya tersenyum. "Tsugaru jadi bodyguard dan pelayanku hari ini." Setelah berkata begitu, Izaya menggandeng tangan Shizuo dan menariknya masuk ke dalam.

Saat mereka masuk, tentu saja mereka jadi pusat perhatian. Tidak banyak yang bisa mengenali keduanya. Namun, penampilan dan wajah mereka yang cukup istimewa menjadi berita panas di chatroom dollars.

--------

Apartment Shinra

// Shinra, lihat Shizuo di toko ramen bersama pemuda misterius! //

"Celty, bukankah itu Izaya?"

// Tidak mungkin. Dia sangat cantik! //

"Kamu sudah lihat versi kecilnya kan?"

// Ah, benar. //

----------

Raira high school

"Huh? Masaomi kamu lihat apa?",tanya Mikado.

"Heiwajima-san dan wanita cantik. Lihat!",ujar Kida memperlihatkan layar ponselnya pada Mikado. Anri lekas membuka ponselnya dan ikut melihat.

"Mungkinkah ini ibunya Psyche-chan?",ujar Anri.

"Wow, Heiwajima-san menyeka bibirnya dengan sapu tangan!",ujar Kida.

"Tidak ku sangka Heiwajima-san bisa begini lembut",ujar Mikado.

"Heiwajima-san memang baik. Beda dengan Orihara Izaya!",ujar Anri. Memikirkan Izaya saja membuatnya kesal. "Semoga saja informant itu tidak mengganggu wanita Heiwajima-san."

--------

 

Apartment Shinjuku

Namie bersenandung kecil. Tangannya menggeser layar ponsel. Tidak lupa menyimpan serentetan foto 2 pria dengan kimono yang di posting oleh user berbeda dan mengirimnya ke ponsel Shiki.

-------

Di suatu bar---

Shiki duduk di salah satu kursi dekat meja bar, sementara para yakuza yang jadi anak buahnya tengah membereskan pengunjung yang datang mengacau di bar.

Shiki mengamati foto yang baru masuk ke ponselnya dan mengerutkan alisnya. 'Apa yang anak muda itu lakukan? Aku tidak mempekerjakannya untuk sedekat itu dengan Izayaku!'

--------

 

Izaya terlihat puas setelah kenyang. Dia memeluk lengan Shizuo dan menyanderkan kepala di pundaknya. Keduanya masih duduk di dekat meja. Mangkuk kosong sudah di bereskan pelayan warung. Di atas meja hanya ada 2 gelas teh hijau. Satu pahit dan satu manis.

"Tsu-chan apa kamu tidak bekerja hari ini?",tanya Izaya. Jari tangannya tengah meneliti ujung lengan kimono pink miliknya.

"Aku mengambil cuti. Jadi, aku boleh bersantai sejenak. Habis ini, kamu mau ke toko buku kan?",tanya Shizuo.

"Ya, aku ingin buku baru untuk mengisi waktu luang",ujar Izaya. "Dad-- Shiki-san mengurangi tugas untukku. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba begini. Apa pekerjaanku ada yang tak memuaskannya ya?"

"Mungkin dia ingin kamu menikmati waktu untuk dirimu sendiri. Kamu bisa mencari orang yang kamu suka dan main dengan mereka bukan?",usul Shizuo.

"Aku bisa main dengan Tsu-chan. Lagipula aku tidak tertarik untuk membiarkan orang asing masuk dalam kehidupanku.",ujar Izaya.

"Kamu tidak bisa sendirian, Sakuraya. Kondisimu untuk pulih adalah menemukan sosok yang bisa kamu cintai membalas cintamu",ujar Shizuo.

"Kamu tahu darimana?",tanya Izaya langsung menoleh pada Shizuo.

"S-Shinra",ujar Shizuo berbohong.

"Tch, Shinra pasti bicara pada Shiki-san. Jadi, apa Tsu-chan ingin mendaftar jadi calon?",tanya Izaya. Ia melingkarkan tangan di leher Shizuo dan berbisik di telinganya,"Tapi, sayang aku tidak tertarik sama monster."

Chapter Text

Chapter 07

Shizuo dan Izaya berkeliling di toko buku. Setumpuk buku berada di tangan Shizuo. Izaya masih mempertimbangkan buku di tangannya, namun setelah beberapa saat, ia mengembalikannya kembali dalam rak.

"Sakuraya, kenapa gak jadi?",tanya Shizuo.

"Buku ini ada seri lanjutannya dan aku tidak yakin punya waktu untuk datang membeli. Jadi, tidak usah",jawab Izaya. Dia mengambil beberapa buku dari tangan Shizuo.

Keduanya berjalan menuju kasir. Izaya hendak membayar dan berhenti saat sadar, ia tidak membawa dompet dengannya. "Ah, aku akan beli lain kali saja",ujar Izaya berbalik.

Shizuo melihat wajah Izaya yang tampak kecewa, hanya sekilas. Sebab Izaya langsung memasang senyum miliknya yang khas.

Shizuo memperhatikan Izaya mengembalikan semua buku pada tempatnya. "Kamu gak apa-apa?",tanya Shizuo.

Izaya mengangguk. "Ayo keluar. Ku rasa sudah sebaiknya pulang."

Shizuo menyusul Izaya. Keduanya keluar dari toko buku dan berpapasan dengan Kadota. Erika, Walker dan Togusa juga bersanma.

Izaya segera berbalik arah dan sembunyi di balik punggung Shizuo. Dia tak ingin terlihat bersama musuh bebuyutannya.

"Shizuo?",panggil Kadota. "Aku tak menyangka bertemu denganmu di tempat begini."

"Iya. Kami hanya melihat-lihat",ujar Shizuo. Ia bisa merasakan tangan Izaya yang memegangi kimono nya di balik punggung.

"Eh, apa ini istri Shizu-shizu yang ada sedang menjadi gosip panas?",tanya Erika penuh rasa ingin tahu dan coba mengintip wajah Izaya. Izaya mati-matian menghindar tanpa melepas pegangannya dari kimono Shizuo.

"Karisawa-chan, tolong hentikan. Kekasihku baru pertama kali ke Ikebukuro",ujar Shizuo berbohong. Hati Izaya jadi panas dan mencerca pria itu dalam hati.

"Fufu~ Jadi benar kabar tentang anak Shizu-shizu?"

"Uh.."

"Cukup Erika. Jangan ganggu Shizuo."

"Dotachin tidak seru ah!"

"Jadi benar rumor yang beredar. Aku tak menyangka kamu sudah menikah dan punya anak, Shizuo",ujar Kadota menepuk bahunya.

"Haha",sahut Shizuo sudah tak sabar segera pergi.

"Kamu tidak mau mengenalkan istrimu padaku?",tanya Kadota.

Shizuo semakin gugup. Namun, dia menangkap lengan Izaya, menyeretnya ke depan dimana Izaya cepat-cepat menunduk sedalam mungkin. Poninya jatuh menutupi matanya.

"Hey, perkenalkan dirimu. Ini temanku dari angkatan yang sama di sma",ujar Shizuo menyenggol lengan Izaya.

"Ayo, kami sudah lihat fotomu di chatroom dollars",ujar Walker. "Jangan malu-malu."

Izaya menggerutu dalam hati. Lalu mengangkat kepalanya. Ia mengangkat satu lengannya ke atas, membiarkan lengan lebar kimononya menutupi sebagian wajahnya.

"Hello, namaku Heiwajima Sakuraya. Salam kenal",ujar Izaya dan menyingkirkan tangannya, tersenyum anggun.

Kadota memperhatikan wajah Izaya. Di luar dugaan, ia bisa mengenali Izaya. Namun tentu dia tidak mengucapkan isi pikirannya. Dia hanya mengulurkan tangan, tersenyum tanpa sadar pipinya sedikit merona melihat Izaya dengan penampilan baru ini. Izaya menyalami tangannya. Kadota masih terpesona oleh Izaya sampai saat Togusa batuk-batuk kecil untuk membuyarkan pikirannya.

Kadota mendapati Izaya memandangnya dengan ekspresi sedikit panik. Shizuo hanya diam memperhatikan dengan penasaran. Tapi, bagi Kadota dia salah mengartikan sebagai ancaman tanpa suara dari Shizuo. Kadota buru-buru melepaskan tangan Izaya.

Izaya masih berkenalan dengan yang lain, kemudian mundur ke sisi Shizuo. Tangannya memeluk lengan kiri Shizuo. Kepalanya kembali menunduk dalam.

"Nah, Kadota. Aku mau bawa dia berkeliling. Sampai nanti",ujar Shizuo.

"Ya",sahut Kadota masih mencuri pandang ke arah Izaya. Kali ini, Shizuo bisa melihat jelas. Dia mendekatkan bibirnya ke dekat telinga Izaya saat mereka jalan menjauh dan berbisik, "Izaya-kun, sepertinya Kadota tertarik denganmu."

Sementara Kadota yang melihat dari belakang mengira Shizuo mencium pipi Izaya dan berpikir ' Apa Izaya benar-benar istri Shizuo? '
"Ah, Erika. Menurut gosip, Shizuo punya anak. Kamu tahu anaknya sekitar umur berapa?"

"Sekitar 7 atau 9 tahun. Aku dengar ini langsung dari Anri-chan yang bertemu langsung dengan anak mereka." Jawab Erika.

"Apa laki-laki bisa melahirkan?",tanya Kadota tanpa pikir panjang.

Erika dan Walker tertawa. "Tentu saja tidak",ujar keduanya serentak.

'Jangan-jangan Izaya perempuan? ' pikir Kadota. Dia jadi teringat soal Izaya yang tak pernah mandi bersama mereka saat tur kelulusan sma. Dimana semua menginap di penginapan. Pipinya jadi merona merah membayangkan sosok Izaya versi perempuan. 'Mungkinkah Izaya hanya menunjukkan penampilan aslinya di depan Shizuo?'

Pada kenyataannya, dulu saat semua di penginapan, siswa yang tak gabung saat berada di onsen ada 2. Yakni Izaya dan Shizuo yang sedang mendapat hukuman oleh guru karena merusak fasilitas penginapan ketika berkelahi berdua.

---

 

"Aah kenapa kembali ke apartment mu?",tanya Izaya duduk di sofa begitu tiba.

Shizuo bersenandung melodi entah apa dengan suasana hati senang. "Aku akan membuatkan makan malam buatmu. Menginaplah di sini!"

"Hah? Aku tidak mau!",tolak Izaya.

"Dengar Izaya. Aku sudah menemukan kandidat untukmu!",ujar Shizuo, menanggalkan Kimono birunya dan mengenakan T-shirt putih dan celana panjang. Dia melemparkan sebuah t-shirt warna biru ke arah sofa untuk Izaya.

"Kandidat apaan?",tanya Izaya berdiri di sisi sofa dan mulai menanggalkan kimononya.

"Pangeranmu?",ujar Shizuo tersenyum memikirkan ekspresi Kadota. "Kamu akan sembuh kalau ini berhasil."

Izaya menyelipkann T-shirt. Lalu memakai kembali celana pendeknya. "Maksudmu?"

Shizuo berjalan ke arah sofa. Dia duduk di sebelah Izaya dan mengalungkan tangan kanan di pundaknya. "Kalau kamu jatuh cinta pada sosok yang mencintaimu, kamu akan sembuh dari allergymu, Izaya."

"Aku mencintai semua manusia, Shizu-chan."

"Bukan cinta aneh seperti itu. Intinya Kadota sepertinya tertarik padamu. Kalau dugaan ku benar dan dia jatuh cinta padamu, kamu hanya perlu mencintainya dan semua masalahmu selesai."

"Wah gampang sekali ya. Kamu mau jadi cupid untukku?",tanya Izaya dengan rahang terkatup rapat. Ia menoleh ke arah Shizuo dengan tangan terkepal erat.

"Memangnya kenapa? Bukankah itu lebih aman bagimu?",tanya Shizuo santai.

Izaya mendengus kesal. Dia mengangkat tangannya dan memukul pipi Shizuo yang tak menghindar.

"Owh!"

Asal suaranya bukan dari Shizuo tapi Izaya. Shizuo hanya merasa seperti di gigit nyamuk, tapi Izaya memegangi kepalan tangan kanannya sambil merintih kesakitan. Shizuo tertawa dan menarik Izaya yang berdiri barusan kembali duduk di atas pangkuannya.

"Aku tak sangka kamu bodoh sekali. Sini ku lihat tanganmu. Ada yang patah atau tidak?",tanya Shizuo meraih tangan kanan Izaya. Tangan kirinya memeluk pinggang Izaya agar pemuda itu tidak bisa pergi. "Oh, lihat. Jadi memar",tambah Shizuo.

"Sial. Semua ini gara-gara kamu",ujar Izaya.

"Ya, ya. Salahku",ujar Shizuo menyetujui agar Izaya bungkam saja. Shizuo meniup-niup kepalan tangan Izaya dan mengusapnya pelan. "Coba gerakkan jarimu."

Izaya menurut. Saat ia coba gerakkan, jari tangannya agak berdenyut sakit, tapi masih bisa bergerak.

"Syukurlah masih aman",ujar Shizuo lega. "Izaya."

"Apa?!",tanya Izaya masih merajuk. Dia menoleh dan telat menyadari posisi wajahnya yang terlalu dekat dengan Shizuo. Mata coklat madu dan merah ruby bertemu sangat dekat.

"Kau tahu, Izaya. Jika seluruh uangku bisa membeli kristal terindah, aku pasti akan memilih warna seperti matamu",ujar Shizuo pelan. Dia memutuskan jarak di antara mereka dan meraup bibir merah Izaya dengan miliknya.

"Shhii--mmm"

Izaya coba mendorong Shizuo menjauh dengan menaruh tangannya di dada Shizuo, tapi tidak bisa. Shizuo menjelajahi isi mulutnya dengan lidah, sensasi aneh membuat wajah Izaya terasa panas.

Setelah di serang ciuman panas beberapa saat, Izaya merasa lega saat Shizuo memutus kontak. "Izaya, aku tidak rela kalau memikirkan Kadota bisa mendapatkan ciumanmu setiap saat kalau kalian benaran saling mencintai."

"Apaan sih ? Jangan putuskan siapa yang akan ku cintai semaumu, monster!",teriak Izaya marah. Dia berkelit ingin lepas dari pegangan Shizuo.

"Kalau menjadi monster bisa berada bersamamu begini dan menolongmu dari bahaya, sebagai monster aku tidak mengapa, Izaya."

"Apa maksudmu?",tanya Izaya menatap Shizuo yang tampak terluka saat mengatakan kalimat terakhir.

"Kamu bilang kamu tak bisa mencintai monster sepertiku. Tapi, untuk menolongmu dari penyakitmu, aku harus bisa menemukan orang yang mencintaimu dengan tulus. Aku ingin kamu jatuh cinta padanya dan selamat. Apakah permintaanku sangat banyak?",tanya Shizuo mengusap bibir Izaya dengan ibu jarinya.

"Kamu mau menolongku?",tanya Izaya. Tangannya menangkap pergelangan tangan Shizuo yang di dekat bibirnya. "Kamu musuhku. Kita saling membenci!"

"Izaya, aku tidak membencimu. Aku hanya benci pekerjaan dan hobimu mencelakai orang tak bersalah."

Izaya menggeleng. "Tapi, aku membencimu, Shizu-chan. Kamu selalu menghambat pekerjaan dan ikut campur dengan kehidupanku. Bahkan kamu membuatku harus bergantung padamu seperti akhir-akhir ini. Aku sangat membencimu!".

Shizuo mengangguk. "Baiklah. Aku paham. Beri aku waktu 1 bulan. Selama sebulan ini, aku akan mencarikan orang itu untukmu dan kamu boleh membenciku sepuasnya. Tapi, aku akan terus di sisimu dan memastikan hanya orang yang sayang padamu bisa datang mendekatimu."

Izaya tertawa. "Shizu-chan, manusia yang ku cintai punya kehidupan masing-masing. Aku tak butuh balasan cinta mereka. Lagipula, 1 jam saja aku tak tahan dekat dengan monster!"

"Dan kau seharian ini bersama monter tersebut",ujar Shizuo.

Izaya membuang muka. "Aku hanya mau membuatmu kesal dengan keberadaanku!",ujar Izaya.

Shizuo melepaskan pegangannya dari pinggang Izaya. Izaya segera menjauh dan melihat Shizuo berjalan ke dapur.

Shizuo diam selama ia membuat makan malam. Izaya berjalan di dalam apartment dan melihat pocky di atas meja. Karena bosan, Izaya meraih pocky itu dan membukanya.

'Strawberry... Kalau ku makan aku akan jadi kecil... Mungkin si kasar itu bisa tidak sediam itu.... Dia suka anak kecil kan?...' pikir Izaya menatap pocky strawberry dengan ragu. Dia tidak nyaman harus menginap dengan Shizuo yang diam seperti itu. 'Mungkin aku sedikit kelewatan' pikir Izaya. Lalu memasukkan pocky itu ke mulutnya.

Chapter Text

Chapter 08

Saat ini, Shizuo kesulitan untuk menemukan kalimat yang bisa menjelaskan situasi perasaannya saat melihat sosok Orihara Izaya yang tiba-tiba jatuh dari kursi saat makan malam tengah berlangsung. Shizuo yang bergegas ke sana untuk memeriksa keadaan Izaya, Izaya yang ia buat bersandar di tubuhnya itu tiba-tiba tampak kesakitan. Lalu, kemudian tubuhnya menyusut menjadi anak 9 tahun. Nafas Izaya tak beraturan. Namun dengan grogi, ia meraih dan memeluk lengan Shizuo.

"Ahaha... ( Bernafas dengan susah payah ) ... Psyche-chan sudah kembali ( Menahan sakit di dadanya dengan menggigit bibir bawahnya ) Apa ... Shizu-chan kangen?"

Raut wajah Shizuo menjadi semakin sedih. Ia memeluk tubuh kecil Izaya erat dan berkata,"Apa yang terjadi, Izaya. Kenapa kamu bisa tiba-tiba mengecil lagi?"

Izaya mengangkat wajah memandang Shizuo. "Aku... salah... Aku tidak ingin melihat Shizu-chan sedih. Shizu-chan yang tidak marah, jauh lebih menakutkan dari apapun",ujar Izaya. Dia mengalihkan perhatian dari Shizuo dan menyandar dalam pelukannya. Bibirnya gemetar, kemudian ia mulai menangis.

Shizuo membalikkan Izaya menghadapnya. "Izaya, aku tidak bermaksud membuatmu takut. Maaf",ujar Shizuo. Ia mengusap air mata Izaya dengan tangannya.

Izaya menggeleng. "Jangan minta maaf. Aku tidak akan mengubah pendapatku. Aku masih benci, tapi Shizu-chan adalah satu-satunya monster milikku",ujar Izaya, lalu tersenyum dengan air mata yang masih jatuh ke pipinya.
"Dan hanya Shizu-chan, monster yang tidak pernah mencueki diriku di saat aku sendirian dari masa pertama bertemu hingga sekarang.
Shizu-chan monster yang penting, dan aku takut kehilangan Shizu-chan."

"Ssshh, sakit tahu. Jangan mengataiku monster terus. Aku juga manusia",ujar Shizuo menaruh jarinya di bibir Izaya.

Izaya terlihat berpikir dan dengan gaya seolah sangat menyesal, dia berkata setelah menyingkirkan jari Shizuo. "Susah. Aku tidak bisa membayangkan manusia yang bisa mengangkat mesin minuman."

Shizuo tercengang. Ikut memikirkan perkataan Izaya, lalu menhela nafas pelan. Ia tertawa getir dan menepuk pelan pipi Izaya. "Baiklah, aku menyerah. Jika menjadi monster bisa membuatmu tidak hilang dari hidupku, aku tidak apa-apa."

Izaya mendapat ide. Dia lalu berkata,"Kalau Shizu-chan merasa terluka ku tunjuk sebagai monster, biar Psyche-chan menyembuhkannya dengan ini."

Izaya memejamkan mata dan mengecup pipi Shizuo. Lalu, ia melangkah pelan ke belakang masih dengan mata terpejam, berbalik badan, buka mata dan lari menuju pintu keluar.

Kabur. Kabur.

Shizuo tertawa melihat tingkah Izaya. Ia segera berseru,"Psyche-chan, ingat bajumu. Jangan lari keluar dengan pakaian kebesaran!"

Izaya berhenti tepat ketika tangannya sudah siap membuka pintu. Ia memandang bajunya yang benar sesuai perkataan Shizuo.

"Aaaahhh!!! Sial!!"

------

Malam itu, sebelum tidur, Izaya mandi bersama Shizu-chan. Shizu-chan benar-benar memanjakan dirinya. Izaya di biarkan mandi busa di dalam bath tub dan Shizu-chan memakaikan shampoo untuknya.

Izaya menikmati sentuhan Shizu-chan yang sedang mamakaikan shampoo untuknya. Tangannya mengumpulkan busa dan meniupnya. Raut matanya berseri tampak gembira. Mulutnya bercerita dari filosofi manusia yang ia cintai, kegilaan Shinra saat keduanya berada di klub biologi zaman Smp, Kadota yang selalu meladeni permintaan egoisnya di masa SMA, sampai soal pacar perempuan pertama yang ia miliki. Izaya mengaku dia hanya main-main masa itu, namun wanita itu sampai sekarang masih ada dan menjadi guru karate adik kembarnya.

Izaya juga bercerita tentang asal mula ia bekerja dengan yakuza. Dimana shiki-san sudah sering mengawasinya sejak usianya masih 6 tahun. Dimana Izaya menghabiskan waktu dengan belajar mandiri karena di tinggal kedua orang tuanya sendirian dalam waktu lama. Orang tuanya hanya pulang 3 kali dalam setahun hanya untuk mengecek dirinya.

Shizuo menjadi pendengar yang baik. Dia cukup heran karena Izaya menceritakan semua itu padanya. Tapi, memutuskan tidak ingin menyela.

Saat Shizuo pada akhirnya masuk ke dalam bath tub untuk meladeni Izaya yang ingin bersantai lebih lama, Izaya memintanya untuk bernyanyi. Menurut Izaya, di saat ia sedang sedih, lagu bisa menghiburnya. Walau agak gugup pada awalnya, Shizuo akhirnya mau menyanyi dengan syarat Izaya ikut menyanyikan lagu yang sama.

Saat keduanya baru keluar dari kamar mandi, dimana Shizuo sedang membantu Izaya mengenakan piyama tidur, pintu di ketuk dari luar.

Shizuo meninggalkan Izaya mengenakan celana piyama sendirian dan pergi membuka pintu. Dia tidak menyangka akan di kunjungi oleh Kasuka.

Kasuka menatap handuk yang masih melilit di pinggang Shizuo. "Niisan baru siap mandi?",tanya Kasuka. Ia berjalan masuk sementara Shizuo mengunci pintu.

"Ya. Duduklah",ujar Shizuo. Dia pergi ke kamar untuk mengenakan pakaian dan tidak melihat Izaya yang berjalan keluar.

Izaya bertemu pandang dengan Kasuka. Kasuka memandang Izaya. Wajahnya datar, namun ia bertanya,"Kamu siapa?"

Izaya lantas berbalik arah dan lari ke dalam kamar. Menubruk Shizuo yang sedang menyisir rambut.

"Psyche-chan..."

Izaya belum sempat mengatakan apa-apa, saat Kasuka masuk. "Niisan, siapa itu?"

"Psyche",ujar Shizuo.

"Jadi dia anak yang orang-orang bicarakan. Dia anak Niisan?",tanya Kasuka.

Shizuo panik. Mengangguk pelan.

"Ibunya mana?",tanya Kasuka.

"Ada urusan",ujar Shizuo cepat. Ia mengelus kepala Izaya. "Psyche-san, beri salam buat pamanmu!"

"H-hello",sapa Izaya mengulurkan tangan tampak gugup.

Kasuka mengamati Izaya. Lalu, bukannya menyalami, malah memeluk Izaya. "Hai, Psyche-kun."

Izaya memandang Shizuo untuk minta bantuan. Shizuo malah menghilang ke dapur untuk membuatkan minuman bagi adik tersayang.

Izaya terpaksa menemani Kasuka duduk di lantai ruang tamu. Kasuka mengajak Izaya nonton film yang ia perankan. Film terbaru yang belum di tayangkan di bioskop. Jujur, Izaya tak mengerti film superhero seperti itu. Dia hanya pura-pura menikmati. Jika saja adik kembarnya tahu dirinya berdua dengan aktor kesukaan mereka, Izaya pasti akan capek dengar serentetan protes dari keduanya.

"Psyche-chan, kamu mirip sekali dengan Izaya-san."

"Izaya-san itu siapa paman?",tanya Izaya pura-pura kelihatan bingung.

"Kamu tidak tahu Izaya-san? Dia informant Shinjuku yang sangat terkenal. Dia sering kelahi dengan Niisan",ujar Kasuka.

"Kelahi? Daddy kelahi?",ulang Izaya menggaruk kepala. "Mom bilang kelahi itu tak baik."

"Psyche-chan, sudah malam. Kamu tidak boleh tidur larut, nih minum susu dan tidur",ujar Shizuo datang bergabung. Ia memberikan segelas susu vanila pada Izaya. Izaya yang menjadi muram walau sekilas tak luput dari matanya.

Izaya mengangkat gelas itu dan meminum habis. "Sudah, Daddy."

"Haha, kamu minumnya berlepotan. Sini!",panggil Shizuo memberi isyarat agar Izaya mendekat.

Izaya berjalan mendekat dan Shizuo mengelap bekas susu di pipinya. "Nah, sudah bersih."

Izaya tersenyum manis, matanya menatap dingin Shizuo dan ia menjatuhkan diri duduk di pangkuan Shizuo. "Daddy, ayo tidur. Psyche-chan takut tidur sendiri."

Melihat itu, Kasuka tampak tertarik. "Niisan, hari ini aku mau menginap. Psyche-chan tidur sama paman ya!"

Tanpa menunggu persetujuan, Kasuka menggandeng Izaya menuju kamar tamu.

"Daddy",panggil Izaya menoleh.

Shizuo hanya melambaikan tangan dan tersenyum senang.

Izaya tampak marah, namun saat Kasuka memperhatikannya, ia kembali pura-pura polos.

****

Pukul 2 malam, Izaya mendapati dirinya tidur di lantai. Ini sudah ke 3 kalinya, Kasuka menendangnya jatuh ke bawah. Bukan sengaja, namun Kasuka tidurnya memang kemana-mana.

Izaya mengomel tidak senang dalam hati. Punggungnya sakit. Ia membuka pintu pelan-pelan dan keluar hendak menuju kamar Shizuo. Tapi, ia mendengar suara ketukan pintu dari luar. Tanpa melihat jam, Izaya pergi membuka kan pintu.

Izaya terkejut melihat 3 pria gak di kenal. Setengah wajah mereka tertutup kain hitam. Menyadari bahaya, Izaya berbalik dan lari ke dalam.

"Jangan lari!"

"Kejar anak nakal itu!"

"Baik boss!"

Izaya salah mengambil arah. Ia menuju dapur dan terpojok.

"Hahaaha sekarang kamu gak bisa lari lagi anak manis!"

"Pergi. Daddy akan menghajar kalian kalau berani macam-macam!"

"Sayang sekali, kami tidak lihat ada orang dewasa yang bangun!"

Salah satu pria menangkap pinggang Izaya. Lalu menaruhnya di atas bahu dan bergegas menuju pintu.

Izaya berteriak panik. Tangannya berusaha meraih apa saja yang terdekat. Namun sia-sia karena gak ada yang bisa ia pegang sama sekali.

Izaya di bawah ke bawah. Di depan apartment sudah ada mobil yang menunggu. Izaya di dorong masuk ke dalam mobil. Satu pria masuk ke mobil depan. 2 pria duduk di belakang memegangi Izaya yang tengah meronta.

Izaya menatap sedih apartment Shizu-chan yang tertinggal makin jauh. 'Kalau Shizu-chan bangun dan tahu aku hilang, apa dia akan sedih? Ah, aku terlalu berharap. Mana mungkin.'

Chapter Text

Chapter 09

Pagi harinya....

"Niisan!"

"Ada apa Kasuka?",tanya Shizuo saat ia membuka pintu kamar tidurnya.

"Psyche-chan hilang. Pintu rumah juga terbuka."

"Mungkin dia ke kamar kecil?",gumam Shizuo.

"Tidak. Aku sudah mencarinya."

Shizuo meraih ponselnya dan coba menelepon nomor Izaya. Ponselnya memang bunyi, namun dari arah kamarnya.

Shizuo lekas berganti pakaian dan cuci muka. "Kasuka, aku akan mencari. Tolong kabari aku kalau dia kembali!"

Usai berkata, Shizuo segera meninggalkan apartmentnya dengan tergesa.

---

Di dalam sebuah pabrik tua, Izaya duduk di lantai dengan kedua tangan terikat di belakang punggung dan sebelah kakinya di ikat dengan rantai yang tersambung pada bola besi yang berat. Sebuah kain hitam menutupi matanya dan mulutnya di tempel dengan lakban.

Salah satu dari 3 pria yang menculikya duduk di dekat sana menjaganya. Tidak lama 2 pria lainnya datang bersama seorang pria yang di kawal 6 bodyguard.

"Dimana anak laki-laki manis itu?"

"Di sini Boss. Apa dia memenuhi kriteria anda?"

Pria kaya itu berjalan mendekat ke arah Izaya. Dia menunduk sedikit dan menyelipkan tangannya di antara rambut hitam Izaya. "Hey, kamu Psyche bukan?"

Izaya berusaha menurut agar tidak di lukai. Ia mengangguk.

Pria itu melepas penutup mata Izaya dan membuka lakban yang menutupi mulut Izaya. Tentu saja, saat melihat wajah Psyche yang jadi rumor panas di depan mata, pria yang Izaya tebak berumur sekitar 40 an itu langsung terpesona.

"Umurmu berapa, Psyche-chan?"

"s-sembilan tahun",jawab Izaya takut-takut. Tubuhnya gemetar.

Pria itu tersenyum. "Psyche, ku dengar kamu anak Heiwajima, benar?"

"I-iya..",jawab Izaya mengangguk berulang kali.

"Dengar, kamu akan ku beli hari ini. Jadi buang namamu dan patuhi aku."

"T-tapi, Psyche kangen sama Daddy...",ujar Izaya terisak.

"Anak laki-laki tidak boleh cengeng. Ayahmu membiarkan mu di culik, dia tidak pantas memiliki anak semanis ini. Jadi aku akan menggantikannya dan saat kamu setuju menggunakan nama Hachimenroppi, aku akan membebaskanmu dan membawamu bersamaku."

"Paman, apa Psyche boleh menolak?",tanya Izaya memperhatikan mata pria itu, air mata masih mengalir. Panik bisa terdengar dari suaranya.

Pria itu menggeleng. "Kalau kamu menolak, paman tidak bisa membantumu bebas. Pria di tempat ini itu penjual budak. Tapi, paman berbaik hati datang membelimu untuk di jadikan anak. Bukankah ini jauh lebih baik?"

Izaya semakin sedih dan menangis. Namun, ia mengangguk. "Paman.. tidak akan memarahiku?"

"Ya. Asalkan kamu jadi anak baik dan terus di dekat Paman",ujar Pria itu.

Izaya mengangguk. "Baiklah, paman."

"Panggil aku dengan sebutan Ayah",ujar pria itu tersenyum."Hachimenroppi, my dear boy!"

"Ayah",ujar Izaya.

Pria itu tampak puas. "Lepaskan Roppi!"

Dalam beberapa saat, Izaya sudah bebas bergerak. Pria yang baru saja membeli Izaya, menaruh kedua tangan di pundaknya dan berkata,"Roppi-kun, Ayah akan bawa kamu ke tempat yang menarik."

Izaya mengangguk. Tangannya yang masih kemerahan oleh bekas ikatan tali ia gunakan untuk menyeka air matanya yang membasahi pipi, lalu memaksakan dirinya tersenyum.

Pria kaya itu menanggalkan jaket luar stelan jas merah maron miliknya dan memakaikannya di atas piyama Izaya. "Sayang, kamu pasti kedinginan. Maaf, Ayah terlalu lama datang."

Izaya mengangguk. "Terima kasih, Roppi senang menjadi anak Ayah. Roppi tidak akan mengecewakan Ayah."

"Haha bagus!",ujar pria itu dan menggendong Izaya duduk di atas lengannya. Kedua tangan Izaya memeluk pundaknya.

Pria itu membawa Izaya ke dalam mobil mewah yang sudah menunggu. Para bodyguard mengikuti dengan 2 mobil lainnya.

Di dalam mobil, Izaya di beri segelas susu hangat dan roti untuk sarapan. "Makan yang banyak biar sehat ya",ujar sang Ayah baru.

Selagi makan, Izaya bertanya,"Ayah, Roppi belum tahu namamu."

Pria itu menepuk keningnya. "Ah, benar. namaku Midorikawa Keysuu dan kamu Midorikawa Hachimenroppi."

"Hmm... Ayah, sekarang kita mau kemana?",tanya Izaya.

"Osaka. Ayah ingin memperkenalkan dirimu pada seluruh anggota yakuza setempat",ujar Keysuu. "Jadi jika ada yang mengganggumu, mereka akan berhadapan dengan Ayah."

"Osaka..."

***

 

"Heiwajima-kun..."

Shizuo yang tengah mencari Izaya seharian tanpa hasil di datangi mobil hitam. Saat mobil itu berhenti, Shiki menurunkan kaca jendela dan berkata,"Heiwajima-kun, dimana informantku?"

Shizuo memandangnya. Ia menggeleng dan menunduk. "Maaf, Shiki-san. Aku masih sedang mencarinya."

'Cari di Ikebukuro?",tanya Shiki mengamati Shizuo. Lelaki itu tampak berantakan, tidak seperti saat biasa Shiki melihatnya.

"Aku mencari di Shinjuku juga",jawab Shizuo pelan.

"Kamu takkan menemukannya, Heiwajima-san."

"Apa maksudmu?",tanya Shizuo. Firasat buruk mulai merasuki pikirannya.

"Ku pikir kamu bergabung dengan geng Dollars. Kamu tak tahu rumor terbaru mengenai kabar anakmu?",tanya Shiki."Psyche-chan terlihat terakhir di bawa ke pabrik tak terpakai di wilayah Ikebukuro dan sudah di pindahkan pada pagi sebelum jam 8."

"T-tidak mungkin. Apa Shiki-san tahu kabar setelah itu?",tanya Shizuo penuh harap.

"Ya. Orang-orangku menyergap para penculik Psyche. Tapi, Psyche sudah di jual kepada ketua geng berpengaruh dari luar kota. Bahkan, Awakusu tak bisa berkutik karena ketua geng itu tak melakukan hal yang melanggar perjanjian."

"Jual beli orang itu tidak salah?",tanya Shizuo.

"Psyche beruntung di beli olehnya. Dan kita sial karena orang itu membeli Psyche, Heiwajima-kun."

"Apa maksud anda?",tanya Shizuo tak mengerti. Dia hanya ingin Izaya kembali.

"Kelemahan Izaya adalah sosok orang tua. Dari hasil interogasi kami pada si penculik, Midorikawa Keysuu mengangkat Psyche-chan sebagai anak angkat."

"Shiki-san... Setahuku... Izaya-kun memiliki adik kembar yang lebih di sayangnya walau dia tidak mengakui hal itu. Shinra teman satu-satunya dan aku musuhnya di sini... tentu saja kita bisa mengambilnya kembali. Dia juga memiliki anda..."

"Benarkah? Jadi, apa yang akan kamu lakukan untuk membenarkan pernyataanmu?",tanya Shiki.

"Aku akan mengambilnya kembali. Kalau dia jadi besar seperti semula, Awakusu sekalipun tidak akan punya masalah dengan Midoriapalah itu."

"Benar. Tapi, untuk menyusup masuk rumah yakuza tak segampang menghancurkan jalanan dan mengangkat mesin minuman, Heiwajima-kun."

"Aku mengerti. Apa Shiki-san bisa memberiku ide untuk menyusup? Anda bagian dari yakuza bukan?",tanya Shizuo.

Shiki tersenyum. "Ya. Ternyata otakmu tak sekecil yang di bilang Izaya. Aku bisa membantumu tapi aku tidak mau menanggung keselamatanmu dan menjatuhkan nama Awakusu."

"Apa yang bisa anda lakukan untukku?",tanya Shizuo.

***

Chapter Text

Chapter 10

Tubuh Izaya masih dalam wujud anak kecil berusia 9 tahun. Dia sedang berada di rumah keluarga Midorikawa Keysuu yang ada di Osaka. Selama di tempat ini, Izaya akan di panggil sebagai Midorikawa Hachimenroppi alias Roppi. Jadi, Roppi adalah nama kedua wujud kecil Izaya.

Roppi baru saja tiba bersama Keysuu di rumah. Di bilang rumah itu terlalu meremehkan. Rumah itu sangat besar, halamannya luas dan bahkan memiliki kebun di belakang rumah. Para pekerja terlihat sibuk dengan tugas masing-masing. Keysuu sudah bilang pada Roppi saat dalam perjalanan bahwa para pekerja di sini sudah seperti anggota keluarga sendiri. Roppi bebas berjalan-jalan selama tidak keluar dari kota Osaka.

Para bodyguard tidak berdiri di depan gerbang masuk rumah seperti perkiraan Roppi. Mereka memakai pakaian biasa saat memasuki halaman rumah keluarga Midorikawa. Kata Keysuu, para bodyguard memiliki kamar tidur masing-masing di lantai dasar dan ada yang tinggal di lantai 3, lantai 5 dan lantai 7. Jadi, Roppi yang mendapat kamar di lantai 4 tak perlu khawatir akan penyusup.

Saat Roppi masuk ke dalam kamarnya yang ternyata cukup luas lengkap dengan jendela, kamar mandi yang ada bathtub merangkap kamar kecil, sebuah ruangan kecil berisi deretan rak buku, sebuah meja belajar dan kursi, di dalam kamar tidak ada televisi seperti kamar Izaya, tapi ada serentetan foto yang di tempel di seisi kamar. Foto seorang anak laki-laki 13 tahun berambut pirang, kacamata dan selalu terlihat dengan syal melingkari lehernya tak peduli baju apapun yang ia pakai. Mata anak pirang itu berwarna merah. Foto anak laki-laki itu ada dari masa saat bayi hingga umur 13 tahun. Bahkan sebagian besar di antaranya ada foto sosok anak laki-laki lain yang mirip dengan Izaya. Namun foto anak laki-laki berambut hitam dan bermata merah hanya menemani sosok si rambut pirang dari saat usia 3 sampai 9 tahun.

Roppi menyadari ekspresi anak berambut pirang itu berubah semakin tertutup dan kehilangan senyumnya di mulai dari foto saat 9 hingga 13 tahun. Tanpa anak laki-laki berambut hitam di dekatnya.

Roppi pergi mandi dan berganti pakaian. Ada sejumlah pakaian untuknya dalam almari baju.
Roppi memilih t-shirt hitam, celana panjang warna biru gelap dan cukup senang menemukan jaket bertudung dengan hiasan bulu berwarna merah pada bagian bawah lengan, ujung jaket dan sekitar tudungnya. Ujung jaketnya ini sepanjang batas lutut dan untuk badan kecil Roppi sedikit kebesaran. Namun ia tetap memakainya.

Roppi masih sedang memperhatikan dirinya di cermin saat pintu kamarnya di ketuk dari luar. Roppi segera membuka pintu untuk melihat siapa yang datang. "Ayah?",panggilnya begitu melihat Keysuu.

Keysuu melihat penampilan Roppi. "Kamu sudah mandi dan menemukan baju untukmu. Bagus. Tapi, jaketmu apa tidak membuatmu panas dan sedikit kebesaran?",tanya Keysuu.

Roppi menggeleng dan mendekatakan lengan jaketnya yang terlalu panjang ke dekat wajahnya dan merasakan sentuhan bulu-bulu pada pipinya. Ia berkata,"Ini cukup nyaman. Roppi suka jaket ini, Ayah."

"Baguslah. Nah, Ayah mau perkenalkan teman sekamarmu",ujar Keysuu.

"Eh, teman sekamar? Dimana dia?",tanya Roppi coba mengintip ke balik punggung Keysuu.

Keysuu mengusap kepala Roppi, tersenyum dia berjalan mendahului Roppi. "Dia ada di balkon dan selalu menghabiskan waktu luang di sana. Kamu temui dia."

"Baik, Ayah. Serahkan saja padaku!",ujar Roppi semangat. Dia berjalan menuju balkon di ujung lorong lantai 4.

Setelah tiba di balkon, Roppi melihat anak pirang yang ia lihat di foto kamarnya. Anak pirang itu memakai pakaian lengan panjang warna putih dan celana jeans biru. Syal merah melingkar di lehernya. Kacamatanya di letakkan di samping tempat duduknya. Bukunya di atas meja. Anak laki-laki itu sedang tidur.

Roppi mendekat mengambil kacamata anak laki-laki itu, lalu memakaikan ke dirinya sendiri. "Huh, ini kacamata biasa",gumamnya. Sebuah ide terbersit di pikirannya. Roppi ingin mengejutkan anak laki-laki yang lebih besar darinya itu.

Tanpa membuat suara, Roppi memegang belakang kursi yang di duduki anak berambut pirang lalu dalam hitungan ketiga dalam hati, ia menjatuhkan kursi itu ke belakang.

GEDUBRAKK!!!

Roppi mundur menjauh dan si pirang mengaduh kesakitan. Si pirang terjerembab ke lantai dan menggunakan kedua tangan untuk membantunya duduk. Dia memandang sekeliling dan menoleh ke arah Roppi yang sedang tertawa tidak jauh darinya.

"Hello, namaku Midorikawa Hachimenroppi, aku akan jadi teman sekamarmu dan datang berbaik hati untuk berkenalan denganmu, Pangeran tidur!"

Mata si pirang terbuka lebar. Kemudian matanya berkaca-kaca, perasaan Roppi tidak enak. Benar saja, si pirang kemudian menangis.

"Wah, maaf. Apa jatuhnya sesakit itu?",tanya Roppi mendekat dan membantu anak itu berdiri.

Si pirang mengangguk. "S-sa-sakit..",gumamnya.

"Puk puk puk anak manis, sini ku usap. Mana yang benjol, ayo bilang",ujar Roppi mengacak-acak rambut pirang itu tanpa merasa bersalah.

"Duh, aduh. J-ja-jan-jangan s-sssen-sentuh"

"Hey! Kenapa bicaramu aneh?",tanya Roppi.

"R-Roppi-chan, j-jangan ber-di-di-rii di a-aatttasss me-mejjja. N-nnnan-tii kkamuu j-jaattuuh",ujar si pirang cemas bingung mau menyeka air mata atau memegangi pinggang Roppi agar tidak jatuh.

Roppi tertawa. "Aku akan turun kalau kamu sebut siapa namamu, gimana?"

"A---Amaterasu Tsukishima."

Roppi berkelit melepas diri dari pegangan Tsukishima. Dia melompat turun ke lantai dan menanggalkan kacamatanya. "Nih kacamatamu dan namamu aneh sekali."

Tsukishima memasang kembali kacamatanya. Dia terlihat sangat imut. "Ke-kkenapaa aaanehh?",tanya Tsukishima penasaran.

Roppi menaruh tangan pada pagar pembatas balkon, lalu menarik dirinya untuk naik berdiri di atas sana. Dia berjalan bolak-balik mengabaikan Tsukishima yang ikut naik, walau kakinya gemetaran coba untuk berjalan ke dekatnya.

Roppi tiba-tiba berbalik mengejutkan Tsukishima yang sudah hampir tiba di belakangnya. Kaki Tsukishima terpeleset dan ia hampir jatuh. Bukannya menolong Tsukishima yang berpegangan erat pada pinggiran luar pagar balkon, Roppi yang memijak bagian atas pagar balkon memandang ke bawah.

"Tsukishima-kun, apa kamu pernah membayangkan rasanya jatuh dari ketinggian?",tanya Roppi.

"T-ti-ttidaaakk taattahu",jawab Tsukishima menggeleng. Satu tangannya lepas. Ia menjerit kaget. Sisa tangan kanan yang masih berpegangan.

"Coba kamu pandang ke bawah. Menurutmu ada berapa persen kemungkinan luka yang akan kamu dapatkan?",tanya Roppi mulai menuruni pinggiran pagar pembatas. Satu tangan memegang pada bagian atas dan satunya lagi ia pegang tangan kanan Tsukishima.

Belum sempat merasa lega, Tsukishima harus dikejutkan oleh tawa iseng Roppi. "Tsukishimaaa-kunnnn, kalau ku lepas peganganku, apa yang akan terjadi pada kita berdua?"

"Ja-jjjatuh!",jawab Tsukishima. Wajahnya sudah pucat pasi.

"Tepat!",jawab Roppi bertepuk tangan.

"Aaaaah!",jerit Tsukishima saat merasakan tubuhnya jatuh bebas ke bawah. Namun sebelum menyentuh permukaan, Roppi menangkap kepalanya, tertawa girang dan menggunakan tubuhnya sebagai tameng.

Detik berikutnya bunyi gemericik air terdengar.
Suara batuk-batuk terdengar, Roppi tertawa di sela batuknya, Tsukishima sudah hampir pingsan di buatnya.

"Hey, apa yang kalian lakukan?",seru Keyshuu yang yang berjalan tergesa mendekati kolam renang.

Roppi memegangi Tsukishima agar tidak tenggelam. Tubuh keduanya gemetaran. "Aku hanya mau memberi Tsukishima-kun sedikit salam kenalan, Ayah",jawab Roppi.

"Dengan membuatnya melompat dari balkon lantai 4?",tanya Keysuu dengan pandangan tidak setuju.

"Oh tidak, Ayah. Dia terpeleset hampir jatuh. Aku memilih ikut terjun bersama biar makin seru",ujar Roppi tanpa rasa bersalah.

Keysuu mendekat, ia membantu keduanya naik ke tepian. Tsukishima memeluk Roppi begitu dia sudah merasakan dirinya aman. "R-Roppi-chann, kkkaaammuuu ti-ddak bbolllehh be--giiini llaaagii",ujar Tsukishima.

"Apa Tsukishima-kun marah sama aku?",tanya Roppi menyingkirkan tangan Tsukishima.

"B-buu-bukannn beegiitu",ujar Tsukishima panik."Kkkkha--wwa-tir."

Roppi mengangguk dan dengan serius berkata,"Baiklah." Lalu, saat Tsukishima tampak lega, ia menambahkan dengan nada bermain,"Kalau aku tidak lupa, Tsu-shi-ma-kun~"

Keysuu melihat Roppi berlari pergi dan menepuk bahu Tsukishima yang masih tampak tercengang. "Nah, Tsuki-kun, apa kamu senang dapat teman baru?"

"P-paman Keysuuu, Roppi k-kembali hi-hidup?",tanya Tsukishima.

Keysuu menggeleng, wajahnya tampak sedih. "Dia anak angkat paman. Wajahnya sangat mirip Roppi bukan, seperti kembaran saja."

Tsukishima mengangguk. "P-pa-man bben-aarr, R-roppi-chan tttidak mmmuungkin s-sseccceriaa itu. T-tttapi tterriimakkkasih p-paman. Rr-aasanyyaa ssspeerti Rooppi kkkembali bbersamaa kkkita llagi."

------

Sementara itu, Roppi tengah bersembunyi di balik selimutnya. Pakaiannya yang basah sudah ia biarkan berserakan di lantai. Tubuhnya gemetaran karena dingin.

'Memang bodoh bermain dengan air. Shizu-chan, apa yang tengah ia lakukan saat ini ya?'

Memikirkan Shizuo membuat Roppi sedih. Dia belum sempat mengucapkan perpisahan padanya. Lebih tepatnya, Roppi tak menyangka akan secepat itu. Dalam wujud kecil begini, Roppi hanyalah anak kecil biasa. Tenaganya bahkan tak kuat untuk menarik Tsukishima. Jika saja bagian bawah bukan kolam, ia sudah sukses membunuh dirinya dan anak remaja yang tak bersalah itu.

"S-Shizu-cchhan, aku benci sekali padamu",setelah berkata begitu, mata Roppi terasa berat dan ia pun tidur dengan lelap memeluk erat selimutnya.

Di saat yang sama, Shizuo tengah memandang keluar jendela bus yang tengah membawanya menuju Osaka. Rambutnya cokelat gelap dan ia mengenakan stelan jas warna hitam tanpa dasi. Mengabaikan pandangan penumpang bus lain yang mengaguminya, pikiran Shizuo hanya tertuju pada Izaya.

'Si kutu sialan, kenapa dia tidak teriak? Seharusnya dia tak selemah itu bukan? Pakai acara di culik lagi. Bikin orang merasa bersalah saja.'

'Ah... apa jangan-jangan Shinra yang terlalu menuruti kemauan Izaya saat dalam kondisi mengecil ada hubungannya? Apa mungkin Izaya versi kecil bertingkah layaknya anak kecil?'

'Gak mungkin. Toh versi besar, kelakuannya juga kekanakan. Menyebalkan juga.'

Shizuo mendesah pelan. 'Tapi, kalau harus membayangkan dia dalam bahaya ketakutan di tempat asing, rasanya kasihan juga.'

'Lagipula, kalau ada yang boleh membuatnya takut, sedih dan menangis, aku lebih pantas. Toh, dia musuhku bukan?'

'Aaahh, kutu sialan, gak ada juga masih bikin rusuh pikiran orang. Dasar hama. Kalau ketemu akan ku seret pulang terus... Aarghhh!'

Bammm!!

"Ah sial",umpat Shizuo buru-buru turun dari bus, mengabaikan makian pemilik bus. Bus yang gak sengaja Shizuo hantam hingga berhenti di tempat dengan setengah bagian bus rusak total. Untungnya gak ada korban jiwa, namun beberapa penumpang terluka.

Shizuo lari secepat mungkin sebelum hari gelap. Dia harus menyusup ke kediaman Midorikawa sebagai pelayan pribadi. "Ah, koperku ketinggalan!"

Namun Shizuo memutuskan untuk mengabaikannya.

Dia hanya meluapkan kekesalannya pada Izaya. Izaya. Pokoknya semua gara-gara Izaya. Biar saja biaya ganti rugi bus nanti di tanggung Izaya.

Chapter Text

Chapter 11

3 Hari tersesat, Shizuo baru tiba di depan gerbang sebuah rumah besar. Dalam benaknya adalah tempat yang di penuhi para pria kekar dengan stelan jas serba hitam dan kacamata. Tapi, dia tak menduga akan sambutan ramah.

Tidak. Tidak mirip saat ia mendatangi markas Awakusu.

Jujur, ini sangat beda.

Apa-apaan pemandangan taman hijau di halaman rumah besar ini?

Rumah setinggi 7 tingkat, ada kolam renangnya.

Pelayan rumah yang cukup banyak.

Dimana bodyguardnya coba?

Lalu yang paling penting siapa bapak-bapak yang tengah menyapu halaman pagi-pagi begini?

"Oh, hello anak muda."

Bapak kisaran 40 tahunan itu menyapa. Menampilkan senyum ramah.

"Hello, tuan. Saya melamar kerja di tempat ini. Pelayan pribadi."

"Ooohhhh... Tuan besar ada memberitahu saya tentangmu. Salam kenal, namaku Amaterasu Tsukishima."

"Amaterasu-san, apa saya bisa bertemu dengan tuan besar?",tanya Shizuo.

"Tentu saja."

"Biarkan saya membantu anda",ujar Shizuo mengambil sapu lain dan bantu menyapu halaman luas itu.

"Anak muda, kenapa datang melamar kerja sampai sejauh ini?",tanya Keysuu yang tengah menggunakan nama keponakannya itu.

"Aku mendengar reputasi Midorikawa-san yang baik. Selama ini aku sudah bekerja di banyak tempat, namun tidak cocok",ujar Shizuo.

"Oh, apa boss anda tidak baik?",tanya Keysuu. Tangannya tak berhenti menyapu.

"Mereka baik. Aku saja yang tak bisa kendalikan emosiku."

"Aku melihatmu cukup baik. Siapa namamu anak muda?"

"Shitsuo. Carasuma Shitsuo."

"Oh, Shitsuo-kun. Apa kamu tahu pekerjaan di sini tak sesederhana profesinya?"

Shitsuo menggeleng. "Kamu akan melindungi anak tuan besar yang bernama Midorikawa Hachimenroppi. Dia sangat senang bermain, pastikan dia tidak mendapat bahaya."

"Ah, tentu saja",ujar Shitsuo. Nama palsu Heiwajima Shizuo. Tentu saja.

Setelah halaman selesai di sapu, Keysuu menyuruh Shitsuo menunggu di ruang tamu lantai 1. Dia bilang akan memanggilkan tuan besar Keysuu, sekalian mempertemukannya dengan Roppi.

----

15 menit kemudian...

Shitsuo menyadari ada yang berlari masuk ke dalam. Dia menoleh dan mendapati sosok anak kecil yang jelas tak asing baginya berlari ke ruang tamu, melompat dan bersalto menghindari kejaran seorang remaja pirang sekitar 9 tahun yang tengah mengejarnya.

"Ahahaha, Tsukishima-oniisaaannn, lambat sekali larinya!"

"R-roppi-chan!",panggil Tsukishima dengan nafas putus-putus. Ia menggunakan syal menggelap keringat di pelipisnya.

Shitsuo bertemu pandang dengan anak laki-laki bernama Roppi. Sorot mata anak itu menyorotkan percik api yang tampak begitu bersemangat. Mata anak itu melihatnya sekilas, kemudian tertuju kembali pada si remaja pirang.

"Oh, Roppi-chan. Jaga kelakuanmu",tegur Keysuu sudah berganti pakaian dan turun. "Sekali lagi kamu kabur dari jendela dengan selimut, selimutmu akan Ayah bakar."

"Uh jangan. Roppi tidak akan ulangi",ujar Roppi naik ke salah satu sofa dan duduk. Tsukishima mendekat dan melingkarkan kedua tangan di bahu Roppi. "Ah, Tsukishima-oniisan curang!"

Mata Tsukishima menunjukkan tawa, walau tidak ada suara yang keluar dan mulutnya jika tersenyum tak terlihat karena terhalang kepala Roppi.

Tsukishima duduk di samping Roppi dan Keysuu duduk di sebelah Tsukishima.

"Umm.. anda...?",gumam Shitsuo memandang Keysuu.

Keysuu mengangguk. "Benar. Nama asliku Midorikawa Keysuu, Shitsuo-kun. Remaja pirang ini Amaterasu Tsukishima, keponakanku. Lalu, di sampingnya Midorikawa Hachimenroppi, putraku yang akan kamu lindungi.

"Ayah, aku cukup di jaga oleh Tsukishima-oniisan!",seru Roppi.

"Uh...",gumam Tsukishima."A-akku t-tiiddakk biisaa mengaammmaankanmu."

Roppi melipat kedua tangan di depan dada dan tampak cemberut. "Tapi, aku benci manusia selain Ayah dan Tsukishima-oniisan!"

"Apa maksudmu anak nakal? Manusia-manusia salah apa denganmu? Lagian kamu bukan alien!",ujar Keysuu.

"Hmphh. Aku ini Raja iblis. Aku akan hapus semua umat manusia!",ujar Roppi lalu tertawa senang dan memukuli Tsukishima untuk memamerkan kekuatannya.

"Owh, owh!" aduh Tsukishima berusaha menghalangi wajahnya agar aman dari pukulan Roppi.

Jujur Shitsuo sakit kepala. Ragu. 'Benarkah anak kecil itu Izaya-kun?'

"Shitsuo-kun?",panggil Keysuu.

"Ya, Midorikawa-san?"

"Selama di sini, kamu boleh menggunakan fasilitas apa saja dan jaga Roppi-chan. Hati-hati, dia sangat penuh siasat nakal, gunakan segala cara untuk menanganinya asal tak melukainya",ujar Keysuu.

"Baik."

"Kamarmu di lantai 4. Lantai yang sama dengan kamar mereka berdua",ujar Keysuu menunjuk Roppi dan Tsukishima.

"Maaf?"

"Ya. Keduanya sudah menempati kamar yang sama sejak Roppi-chan berumur 6 tahun",ujar Keysuu.

"Yup, Roppi akan jadi pengantin Tsukishima-oniisan",ujar Roppi tersenyum.

Tsukishima menundukkan kepala. Shitsuo bisa melihat telinga remaja itu memerah dan tak luput dari matanya senyum puas Roppi yang menyadari reaksi Tsukishima. Jelas sekali, Roppi sengaja menggoda kakak sepupu laki-lakinya.

Namun, Keysuu membenarkan perkataan Roppi dengan berkata,"Ya, tenang saja Roppi-chan. Saat umurmu 13, Tsuki-kun akan menjadikanmu pendampingnya."

"Asyik! Roppi akan pakai gaun pengantin",ujar Roppi bertepuk tangan dengan gembira. "Lalu, saat malam pertama---"

Tsukishima sudah dengan cepat menutup mulut Roppi dengan tangannya. Roppi tertawa walau tanpa bisa mengeluarkan suara.

"S-sstt-top, Ro-ppi-cchan!",pinta Tsukishima merasa sangat malu. Atau senang?

"Beginilah anakku, Shitsuo-kun. Jangan terpancing oleh perkataannya dan jangan lepas mengawasinya. Dia sudah coba menyelinap keluar dari kamarnya dan mengganggu para anggota keluarga lain di rumah ini setiap malam!"

"Apa?",tanya Shitsuo. Pertanyaannya tertuju pada Keysuu, namun matanya tertuju pada Roppi yang tengah mengganggu Tsukishima.

"Dia bahkan terjun dari lantai 4 bersama Tsukishima!",ujar Keysuu.

"Tapi kan seru, ya kan Tsukki?",tanya Roppi dengan pandangan penuh harap.

Tsukishima menggeleng, membuat Roppi semakin masam wajahnya. Namun, saat Tsukishima membisikkan sesuatu di telinganya, mata Roppi kembali berbinar-binar dan ia memeluk lengan Tsukishima.

***

Pukul 7 malam, para penghuni rumah Midorikawa sudah pada masuk ke kamar masing-masing untuk tidur.

Shitsuo sudah yakin dia memastikan kedua anak laki-laki tersebut sudah tidur. Tapi, saat ia hendak tidur di kamarnya sendiri, ada ketukan pintu dari luar.

Shitsuo membuka pintu dan melihat Roppi. Roppi menaruh jari di bibirnya sendiri dan menyuruhnya agar tidak menimbulkan suara. Shitsuo menyingkir dan Roppi masuk. Segera menutup pintu dan menguncinya.

"Roppi-kun, kamu mau apa malam-malam kemari?",tanya Shitsuo.

"S-Shitsuo-san, aku tidak bisa tidur."

"Mau kubuatkan susu?",tanya Shitsuo.

Roppi menggeleng. Dia merebahkan diri di atas tempat tidur Shitsuo. Kemudian memandang ke atas, "Shitsuo-san bisa bernyanyi?"

"Bisa."

"Apa kamu mau bernyanyi untukku?",tanya Roppi setengah berharap.

"Kenapa kamu ingin aku bernyanyi?"

"Nyanyian bisa membuatku nyaman",jawab Roppi.

"Maaf, aku tidak bisa. Aku hanya menyanyi untuk anakku",ujar Shitsuo.

"Anak? Shitsuo-san punya anak?",tanya Roppi tampak terkejut.

"Yup. Juga istri yang sangat manis",jawab Shitsuo. Bohong dengan wajah yakin 100 persen.

'Dia mirip Shizu-chan. Ku kira benaran, tapi ternyata mustahil dia akan datang kemari. Shizu-chan kan bodoh dan kasar',pikir Roppi.

"Roppi-chan, kamu mau ku bacakan dongeng?",tanya Shitsuo.

Roppi berdiri. Senyumnya hilang. "Tidak usah. Aku mau kembali ke kamar saja. Lagipula Tsukki pasti bisa kubangunkan."

Blam!

Shitsuo menghela nafas. 'Dia marah karena aku tak mau menyanyi?'

'Izaya-kun, dimana sih dia di kurung?',pikir Shitsuo khawatir.

***

Chapter Text

Chapter 12

"Hey!"

Roppi terlonjak kaget. Dia sudah yakin semuanya telah tidur, namun Shitsuo rupanya tidak.

"Kamu belum tidur?",tanya Roppi menyembunyikan tangannya yang memegang tali ke belakang punggungnya.

"Itu pertanyaanku. Bukankah anak kecil harusnya tidur sebelum jam 11 malam begini?"

"Aah, aku hanya mau lihat tanaman",ujar Roppi sambil melangkah menyamping hendak kembali ke kamar.

"Tanganmu!"

"A-apa?"

"Perlihatkan kedua tanganmu, Roppi-kun."

Roppi menggeleng. Dia berlari ke arah kamar, namun Shitsuo menangkap tangannya.

"Lepaskan!",seru Roppi lantas melayangkan tendangan ke arah Shitsuo. Shitsuo menangkisnya, namun tak menyangka Roppi akan melingkarkan tali ke lehernya lalu menggigit pergelangan tangannya.

"Huh?",gumam Shitsuo. "Hebat juga."

Roppi berkutat untuk melepaskan diri. Namun, Shitsuo mengangkatnya dan berkata,"Hei, Roppi-kun, kamu mau kemana malam-malam begini?"

"Pulang",jawab Roppi.

"Mau pulang kemana?",tanya Shitsuo heran.

Roppi memilih diam.

"Roppi-kun?"

Roppi menaruh jari di bibir. "Sshhh... Shitsuo-san, apa kamu bisa menolongku?"

"Apa?"

Roppi menarik lengan Shitsuo menuju balkon. Dia tidak ingin ada yang dengar pembicaraan mereka.

"Apa kamu tahu Ikebukuro?",tanya Roppi.

"Mm... Ada apa dengan kota itu?",tanya Shitsuo.

"Bisakah kamu membantuku mengirim surat kepada seseorang di sana? Teman baikku."

"Baik. Pada siapa?",tanya Shitsuo.

"Heiwajima Shizuo, kakak laki-laki teman baikku, Yuu-kun."

Shitsuo menatap Roppi seolah ada bunga tumbuh di atas kepala anak laki-laki tersebut.

"Huh, tidak mungkin. Flea?"

Kali ini, Roppi yang tampak kaget. "Shizu-chan?"

Keduanya saling berpandangan selama beberapa saat, lalu Roppi tersenyum. "Apa kamu kemari untukku?"

"Tentu saja. Aku akan menghukummu setelah pulang ke rumah",ujar Shitsuo.

"Aku tidak ingin pulang",ujar Roppi. Dia mendekati pinggiran balkon. "Tujuanku pulang hanya untuk menyuruhmu mengembalikan wujudku."

"Roppi-kun, tempatmu bukan di sini. Kamu punya Shinra, si kembar dan bukannkah sushi kesukaanmu ada di sana juga?",ujar Shitsuo.

"Shizu--;Shitsuo-san, di sini aku tidak merasa sendirian. Ada Tsukki dan Ayah Keysuu... Di Shinjuku... Aku sendirian di apartment. Aku lebih suka di sini, sebagai Roppi."

---

Tsukishima baru saja bangun, dia mendapati tempat tidur di sebelahnya kosong. "Roppi?"

Tsukishima melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 01.30 dini hari. Jadi, dia berjalan keluar untuk mencari Roppi.

Dia mengetuk kamar Shitsuo. Tidak lama, pintu di buka. Shitsuo tersenyum padanya. "Pagi, Tsukishima-kun. Jika kamu mencari Roppi, dia ada di dalam..."

Tsukishima mengangguk. Dia mendapati Roppi yang menguasai tempat tidur Shitsuo. Tsukishima memandang Shitsuo yang kembali berbaring di lantai yang sudah di alasi futon.

"Kamu boleh tidur di sini, Tsukishima-kun."

Tsukishima tampak ragu, kemudian menggeleng. Dia mendekati Roppi dan hendak menggendongnya, tapi Shitsuo berkata,"Tsukishima-kun, Roppi-chan bisa marah kalau tidurnya terganggu..."

Tsukishima mengabaikan Shitsuo. Dia menaruh tangan kanan di belakang punggung Roppi, tangan satu lagi pada belakang lututnya, lalu mengendong Roppi ke dekat dadanya.

"Nggg..."

"Ssshhh.... ",bisik Tsukishima memandang Roppi yang coba membuka matanya yang masih mengantuk.

"Tsukki...",gumam Roppi.

Shitsuo melihat Roppi benaran terbangun, tapi anehnya tidak mengamuk. Dia melihat Tsukishima membawa Roppi kembali ke kamar.

-----

 

Sore keesokan harinya, saat kedua remaja sedang menikmati waktu santai di taman, Shitsuo di panggil oleh Keysuu.

"Keysuu-san, ada apa?",tanya Shitsuo.

"Duduklah. Aku sudah mendapat laporan dari bagian keamanan tentang pertemuanmu dan Roppi semalam",ujar Keysuu.

"Ah, ya. Dia tidak bisa tidur",ujar Shitsuo.

"Kamu tidak perlu melindunginya. Dia selalu coba berbuat ulah setiap malam. Aku senang kamu berhasil menghentikannya",ujar Keysuu.

"Keysuu-san, aku ingin bertanya sesuatu padamu",ujar Shitsuo.

"Ya, katakan saja. Jangan sungkan",jawab Keysuu ramah.

"Seberapa besar anda menyayangi Roppi-kun?",tanya Shitsuo.

"Hanya sebatas memaafkan apapun kesalah an yang telah dan akan ia buat",ujar Keysuu. "Apa itu cukup?"

Shitsuo tersenyum. "Roppi-kun beruntung mendapatkan Ayah seperti Keysuu-san."

Keysuu menggeleng. "Justru aku beruntung mendapatkannya. Dia adalah hartaku yang hilang dan kembali lagi."

***

Satu minggu kemudian... Shitsuo mendapat telepon dari Shinra.

"Shizuo, aku sudah mendengar tentang dirimu dari Shiki-san. Kamu belum memberi kabar. Apa Izaya sudah ketemu?"

"Ya. Tapi, ada kendala Shinra. Dia senang berada di tempat ini",ujar Shitsuo.

"Dengar, Shizuo. Kamu harus segera mengembalikan dia ke wujud semula. Jika tidak, jangka waktu tidurnya akan semakin bertambah parah!"

"Apa tidak bisa membiarkan dia seperti ini saja? Dia berada dalam tangan yang tepat dan di sini semua menyayanginya",ujar Shitsuo.

"Shizuo, Shiki-san adalah Ayah angkatnya. Shiki tahu betul apa yang penting buat putranya. Kamu mendapat misi penting, jangan biarkan kebahagiaan sementara membahayakan masa depan Izaya. Jika kamu peduli padanya walau sedikit."

"Aku akan bicarakan pada Roppi."

"Shizuo! Siapa lagi Roppi? Kamu harus rahasiakan tugasmu dari siapapun termasuk Izaya!"

"Ya, ya. Aku mengerti!"

Shitsuo baru saja menyimpan ponsel kembali dalam saku, saat Roppi tiba-tiba mengarahkan pistol ke arahnya. "Hey, Shitsuo-san, barusan kamu bicara dengan siapa?",tanya Roppi.

"Istriku. Dia bilang anakku ingin aku segera pulang",jawab Shitsuo. "Aku harus menemui Keysuu-san."

Roppi menurunkan tangan yang memegang pistol. "Shitsuo-san mau berhenti?",tanya Roppi.

"Iya. Ku pikir kamu bisa dapat bodyguard yang lebih baik. Benar kan Tsukishima-kun?",tanya Shitsuo memandang Tsukishima.

Tsukishima memandang Roppi yang berbalik menghadapnya dan menariknya pergi menjauh dari Shitsuo. "Pergi sana, kalau istrimu lebih penting dari kami!",seru Roppi.

"Ya, benar. Roppi-kun, jaga dirimu baik-baik."

***

Shitsuo sedang memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper malam itu. Roppi menerobos masuk ke dalam kamarnya yang tak terkunci.

"Kamu benaran pergi?",tanya Roppi.

"Ya. Mengapa tidak? Di sini aku tidak di perlukan",ujar Shitsuo menutup tutup kopernya.

"Kamu akan meninggalkanku di sini sendirian?",tanya Roppi.

"Kamu punya pengganti bukan? Tsukki yang bisa membuatmu terhibur setiap saat",ujar Shitsuo tersenyum. "Lagipula, aku juga senang bisa kembali ke Ikebukuro yang tenang dan aman."

"Begitu...",gumam Roppi menunduk.

"Tentu saja, aku akan lebih senang kalau ada Sakuraya bersamaku",ujar Shitsuo.

Roppi menatapnya. Shitsuo menekuk sebelah lututnya di hadapan Roppi, ia mengulurkan sebelah tangannya dan menatap Roppi. "Maukah Roppi-kun berubah menjadi Sakuraya dan pulang bersama pelayan pribadimu ini?"

"Apa harga yang akan kamu beri untuk gantikan semua kebahagiaan milikku saat di sini?",tanya Roppi ragu.

"Kalau anda tak keberatan, aku siap bersamamu sampai penyakit allergimu sembuh",ujar Shitsuo.

"Ini penyakit keturunan. Aku takkan sembuh, kamu masih yakin?",tanya Roppi lagi.

"Ya. Shiki bilang saat kamu menemukan pasanganmu yang sejati, penyakit ini akan sembuh. Aku akan membantumu sampai saat itu tiba. Gimana?",tanya Shitsuo.

Roppi masih belum bergerak untuk meraih tangan Shitsuo. "Kamu akan main cosplay denganku lagi?"

"Ya, apapun",ujar Shitsuo yakin. Asalkan dia bisa menikmati waktunya bersama Psyche yang lucu dan Sakuraya yang lembut. Dia ingin tahu seberapa banyak sifat lain Izaya yang masih tersembunyi. Jujur, Izaya cukup menarik baginya kalau sedang tidak mencelakai orang.

Roppi mengabaikan tangan Shitsuo. Dia memeluknya dan berkata," Kalau kamu bohong, aku akan membuatmu menyesal telah di lahirkan, Shizu-chan."

Shitsuo membalas pelukan Roppi. " Bohong itu keahlianmu, Izaya-kun."

Saat pelukan di lepas oleh Roppi, Shitsuo melihatnya berlari kembali ke kamarnya dan Tsukishima. Ia memilih tidak ikut.

Tidak lama, Izaya kembali dengan syal merah melingkari lehernya. Tsukishima mengikuti di belakang dengan wajah sedih dan berusaha menahan tangisannya.

"Aku sudah menyampaikan salam perpisahan pada Tsukki, Shitsuo-san. Soal Ayah... aku yakin dia akan memaafkanku."

"R-Roopppiii... Sshhiiitsssuo-san, jjagga ba-baikk",ujar Tsukishima. Air mata mulai mengenang di matanya. Tangannya masih bergandengan erat dengan Roppi.

"Iya, Tsukishima-kun. Jangan khawatir",ujar Shitsuo.

Roppi menghadap Tsukishima. "Jangan nangis. Roppi masih tetap sayang pada Tsukki, biarpun jauh, tidak akan lupa. Janji!"

Tsukishima mengangguk.

Tsukishima mengikuti Roppi dan Shitsuo menuju pintu keluar di lantai satu. Saat mereka tiba di luar rumah, Tsukishima melambaikan tangan pada keduanya.

Shitsuo masih menggendong Roppi, meninggalkan halaman rumah keluarga Midorikawa malam itu.

"Tsukishima...",panggil Keysuu.

Tsukishima terlonjak kaget. Dia menoleh dan melihat Keysuu.

"Ayah sengaja melonggarkan keamanan bukan?",ujar Tsukishima.

Keysuu mengangguk. "Ya. Roppi-chan anak yang baik. Dia sudah memberi kita kesempatan bertemu Roppi. Ayah hanya bisa membiarkan dia pergi dengan baik-baik."

Tsukishima terisak. "Aku ingin sekali menahannya di sini. Tapi, aku tak ingin membuatnya sedih. Ayah, apa aku salah berbohong padanya?"

Keysuu menggeleng. Ia memeluk putranya.

Ya. Nama asli Tsukishima adalah Midorikawa Tsukishima. Roppi adalah adiknya.

"Tsuki, kita akan kembali ke rumah asli. Dan kamu..."

"Aku mengerti Ayah. Aku akan kembali ke sekolah. Aku tak ingin kalah dengan nilai Roppi."

"Bagus",ujar Keysuu.

"Ayah ketemu Roppi dimana?",tanya Tsukishima.

"Ah.. Ayah beli dia dari penculik anak. Syukurlah Shitsuo bisa menemukan Roppi."

"Ayah, kira-kira Shitsuo itu siapanya Roppi?",tanya Tsukishima. "Dia selalu menjaga kami dengan baik."

"Kamu tahu Tsuki, Melihat Shitsuo, Ayah seperti melihat sosok dirimu versi dewasa",ujar Keysuu tersenyum. "Dan jika saja Roppi-kun sama besar dengan dia,..."

"Bisa saja mereka kakak adik sepertiku dan Roppi",ujar Tsukishima.

"Ahahaha Nami-chan tidak pernah bilang dia punya anak kembar selain kamu dan Roppi sayang",ujar Keysuu.

"Benar. Dan itu tidak berarti Bunda tidak punya anak selain kami berdua. Lagipula, Bunda kan Ayah selamatkan saat dia hampir di bunuh oleh dua pembunuh bayaran yang bekerja di bawah naungan Yakuza bukan?"

"Benar. Ayah tidak pernah membuat masalah pada yakuza itu karena berkat mereka Ayah mendapatkan bundamu dan kalian berdua",ujar Keysuu.

"Ya. Meskipun bunda dan Roppi-chan harus meninggal dalam kecelakaan pesawat saat umurku 9 tahun",ujar Tsukishima.

"Ya. Tapi, Ayah masih memiliki anak kebanggaan sepertimu." ujar Keysuu.

"Roppi-chan dan Bunda juga masih mengawasi kita dari surga",ujar Tsukishima. "Kalau beruntung, mungkin aku bisa bertemu Roppi-channya Shitsuo-san lagi!"

"Ya."

Kedua Ayah dan anak itu berjalan masuk. Namun, keduanya jelas merasa kehilangan Roppi. Tsukishima memilih tidur bersama sang Ayah malam itu.

***

Sementara itu...

Shitsuo dan Roppi harus menginap di hotel malan itu. Saat Roppi tidur setelah cukup menangis, Shitsuo mencium bibirnya dan berkata," Selamat tidur dan lekaslah bangun, Roppi-chan."

Tentu saja, saat bangun, Shizuo mendapati sosok Roppi sudah kembali ke wujud Izaya dan masih tidur.

Shizuo mandi dan memandikan Izaya juga. Setelah itu, ia memakaikan kimono pink untuk Izaya dan dirinya memakai kimono biru. Dengan penampilan sebagai Sakuraya dan Tsugaru, Shizuo harap jejak Shitsuo dan Roppi tak bisa di lacak. Bahkan oleh keluarga Midorikawa.

Chapter Text

Chapter 13

"Shinra!"

Shinra segera membuka pintu. Bagaimanapun, dia sudah menunggu kedatangan Shizuo dan Izaya. Tapi, dia tidak mempersiapkan diri untuk melihat sosok Tsugaru yang tengah menggendong Sakuraya.

"Bawa ke ruang kerjaku!",ujar Shinra sebelum melemparkan pertanyaan apa-apa.

"Dia hanya tidur",ujar Tsugaru. "Apa aku bisa pinjam kamar tamu milikmu?"

"Tentu saja!",jawab Shinra cepat.

Tsugaru segera menuju kamar tamu Shinra. Dia membaringkan tubuh Sakuraya dengan hati-hati di atas tempat tidur, lalu menyelimutinya.

"Apa kalian berdua baik-baik saja?",tanya Shinra memperhatikan Tsugaru dari atas ke bawah. "Dan ada apa dengan penampilan kalian yang tak biasa?"

Tsugaru menyingkir dan membiarkan Shinra memeriksa kondisi Sakuraya sejenak. "Kami tak ingin membuat kehebohan tak penting. Ini juga buat kebaikan Sakura-- maksudku Izaya."

"Oh ho~ Aku tidak tahu kalian berdua suka dengan cosplay. Apa penampilanmu saat ini adalah Papa Psyche-chan yang jadi rumor itu? Kalau gak salah yang Psyche-chan panggil sebagai Tsu-chan dan Sakuraya ini~~ Istri yang jadi rumor tersebut?"

Tsugaru mengangguk. "Begitulah, Shinra. Dia baik-baik saja kan?"

"Ya",jawab Shinra. "Bagaimana kalau selama dia istirahat, kamu temani aku minum teh di ruang tengah?",tanya Shinra.

***

Tsugaru duduk di sofa ruang tengah bersama Shinra. Tidak lama kemudian, Celty pulang bersamaan dengan kedatangan Shiki dan Akabayashi.

"Hello",sapa Akabayashi dan ikut duduk di ujung sofa yang sama dengan Tsugaru. Shiki duduk di sofa yang sama dengan Shinra. Celty pergi ke dapur membuat teh.

"Hello, Shiki-san, Akabayashi-san",balas Tsugaru dan Shinra bersamaan.

"Bagaimana Izaya?",tanya Shiki.

"Dia tidur dari semalam",jawab Tsugaru.

"Ini sudah hampir sore",ujar Shiki.

"Ya. Jika waktunya lebih lama bisa jadi besok atau lusa dia baru bangun",jawab Shinra.

"Hah... Tidak di sangka informant kita menjadi seperti Pangeran tidur dari hari ke hari. Jika begini terus, pekerjaannya hanya akan semakin terhambat",ujar Akabayashi.

"Maaf, aku belum bisa menemukan sosok yang bisa mencintainya",ujar Tsugaru.

"Bagaimana dengan Vorona atau Adik laki-lakimu?",tanya Shiki.

"Atau tidak bisakah kamu saja yang jadi calon?",tanya Akabayashi tersenyum.

Shinra menatap Shizuo. Tsugaru menggeleng. "Kedengaran mustahil",ujar Tsugaru. "Adikku... memiliki kekasih dan Vorona benci si kutu."

Shiki menatap marah pada Tsugaru. Tapi, Tsugaru dengan santai melanjutkan kalimatnya,"Lalu aku tidak mungkin menjadi calon. Dia musuhku ... Rival lebih tepat. Dia istimewa, tapi ku rasa menyukainya seperti kekasih agak...."

"Kalau sampai 3 Minggu batas yang ku beri belum ada calon yang pantas, kamu akan coba menyukai dan membuatnya membalas perasaanmu",ujar Shiki. "Jika tidak, Iza-chan-- ehmm Izaya bisa masuk dalam tidur panjang."

"Aku akan coba jika hari itu tiba",jawab Tsugaru.

"Lalu, bisa kamu ceritakan tentang Midorikawa?"

"Midorikawa Keysuu. Dia memiliki kesabaran untuk memaafkan segala kenakalan Roppi,, maksudku Izaya. Dan keponakannya kelihatan sangat peduli pada Roppi. Walau Roppi senang melakukan bully padanya secara ekstrim, dia masih selalu bersama Roppi."

"Tidak heran Izaya betah di sana",ujar Akabayashi. "Dia memiliki kebebasan dan merasakan kehidupan anak-anak nya yang dia inginkan."

Shiki tampak tengah berpikir. Izaya sedari usia 9 tahun harus menjaga adik perempuan kembar sendirian. Dia juga mempertahankan prestasi di sekolah, bahkan bekerja sambilan di usia sekecil itu sebagai informant.

"Umm Shiki-san, Shizuo, apa kalian tahu kalau mental Izaya saat menjadi kecil juga kembali ke sifat aslinya saat masih anak-anak?",tanya Shinra.

3 Pasang mata kini fokus pada Shinra. Mereka tidak sadar akan hal itu sama sekali. "Apa?'

"Ya... Jadi, aku harap kalian tidak terlalu keras padanya saat ia berwujud anak-anak",ujar Shinra.

***

Dua hari kemudian...

Shizuo sedang merokok di dekat balkon apartmentnya. Izaya masih belum bangun dan tidur di tempat tidurnya. Shinra sudah memasangkan selang infus untuk Izaya.

Rasanya sunyi tanpa Izaya.

Kasuka berkunjung malam sebelumnya. Dia menanyakan keberadaan Psyche. Shizuo hanya menjawab Psyche bersama ibunya. Shizuo bahkan berusaha mengalihkan perhatian Kasuka dari kamarnya. Saat Kasuka pamit, dia baru bisa merasa lega.

Tiba-tiba seseorang mengambil rokok yang ada di tangannya. Shizuo menoleh dan melihat Izaya yang baru bangun. Rambutnya masih berantakan dan di lengan kirinya ada jejak berkas darah kecil di sekitar kulit yang biru karena jarum infus.

"Ah, akhirnya kamu bangun",ujar Shizuo. Dia melihat Izaya menyelipkan rokok yang sudah ia hisap sisa setengah ke bibir. "Aku tidak tahu kamu merokok."

"Dan sekarang kamu tahu",jawab Izaya menghembuskan asap putih dari mulut.

"Kamu tidur 3 hari",ujar Shizuo menatap ke bawah, dimana orang-orang berjalan di gang kecil di bawah sana.

"Ah, pekerjaanku akan menumpuk",ujar Izaya. Dia mengembalikan sisa rokok pada Shizuo. Shizuo mematikan rokok tersebut dan membuangnya ke lantai begitu saja.

"Aku akan membantumu bagaimana?",tanya Shizuo.

"Gratis?",tanya Izaya menoleh padanya.

Shizuo mengangguk. "Mandi dulu. Nanti dalam perjalanan ke Shinjuku, kita mampir ke supermarket dulu."

"Heh, apa Shizu-chan mau membuatkanku makanan enak?",tanya Izaya penuh harap.

"Ya."

***

"Namie-chan!"

Namie membuka pintu. Wajahnya terlihat sangat muram. Tangannya bergerak menarik rambut Izaya dan menyeretnya masuk.

"Aw awa... Duh Namie-chan sakit!"

Shizuo tampak cuek berjalan masuk paling belakangan dan menutup pintu. Dia melihat bagaimana Izaya kena marah oleh Namie. Bahkan, seorang Izaya yang tengah melemparkan protes dan kena pukul dengan tampalan di tangan oleh Namie, bisa membuat Shizuo merasa puas.

'Tidak heran Izaya yang suka bermain ini masih selalu selesai menyelesaikan segala pekerjaannya tepat waktu.'

Izaya melihat Shizuo menaruh barang belanjaan di dapur. Namie sudah meletakkan setumpuk tugas yang harus ia selesaikan.

Sepertinya dia harus bergadang lagi.

***

Namie pergi ke dapur untuk membuat makan siang bagi Izaya, tapi tak jadi. Wanita itu melihat pemuda berambut pirang itu sudah siap menyiapkan makan siang. "Wow, apa kamu hantunya Heiwajima itu?"

Shizuo menatapnya, ia mengangkat sebelah alis dan bertanya,"Seaneh itukah melihatku memasak?"

"Tidak aneh jika bukan di apartment seorang Orihara Izaya. Bukankah kamu selalu bilang ingin membunuhnya?",tanya Namie sambil mengambil toples berisi bubuk kopi dan gula dari rak.

"Kami lagi berdamai. Dia manis saat tubuhnya mengecil",jawab Shizuo tersenyum.

"Rupanya bukan tenaga mu yang tak normal, bahkan imajinasimu juga sama gila dengan pemuda tak berguna itu. Aaah, sungguh di sesali hari ini aku lupa bawa racun ular untuk ku masukkan ke cangkir kopi ini."

Shizuo tertawa mendengar itu. "Izaya mempekerjakan orang sepertimu? Aku takkan heran lagi pada alasan dia selalu cari mati untuk ku bunuh setiap kali datang ke Ikebukuro."

"Kalian sungguh kejam membicarakanku di belakang, Namie-chan dan Shizu-chan."

Keduanya menoleh pada pemuda berambut hitam dan bermata cokelat kemerahan itu. Tanpa jaket bulu yang selalu di pakainya, hanya t-shirt hitam dan celana panjang hitam membuat pemuda berkulit putih pucat itu seperti vampire saja. Ya, tapi tidak mengubah fakta kalau dia memiliki wajah di atas rata-rata. Jika saja, dia tak punya hobi gila mengobservasi manusia.

"Kalian mengabaikanku?",tanya Izaya menyipitkan mata, dia menggigit bibir bawahnya dan tidak menyembunyikan ekspresi raut tak senangnya sama sekali.

Namie dan Shizuo berpandangan. Mereka tak suka melihat ekspresi murung anak satu ini.

"Nih, aku membuatkan kopi kesukaanmu!",ujar Namie meletakkan cangkir kopi di atas meja makan.

"Makan siang juga sudah selesai ku buat",ujar Shizuo.

Izaya memandang meja makannya yang ada beraneka jenis masakan. Semua tampak indah dan enak. Dia menoleh pada mereka berdua, " Kali ini saja, kalian berdua mau makan sama-sama denganku?"

Shizuo juga lapar, jadi tentu saja dia hanya mengambil salah satu kursi di dekat meja. Izaya duduk berhadapan dengannya dan Namie diduk di sebelah Izaya.

"Eh, benaran?",tanya Izaya gak percaya.

Namie mengambil piring dan menyendokkan nasi ke dalam. Ia memberikan sepiring pada Shizuo, dirinya dan Izaya. "Aku hanya makan karena tidak bawa bekal hari ini",ujar Namie.

Di sore hari, Shizuo yang tak sengaja melihat tas Namie yang mengelembung yakin bahwa di dalam jelas ada kotak bekal.

Izaya tampak senang. Dia memakai sumpit mengambil lauk yang menurutnya kesukaan Namie ke piring wanita itu. "Namie-chan, masakan Shizu-chan itu enak. Kamu harus coba ini."

Shizuo melihat Namie memandang lauk menumpuk di piringnya. Wanita itu menghela nafas dan berkata,"Izaya, kamu juga harus makan. Badanmu tidak ada bedanya dengan tiang penunjuk jalan."

"Benar, nih makan yang banyak",ujar Shizuo menyuapkan sepotong telur gulung ke mulut Izaya.

Izaya memakannya dan mulai memakan makanannya. Dia senang untuk pertama kali sejak keluar dari rumah utama, akhirnya dia bisa makan tanpa sendirian.

"Huh?",gumam Shizuo. "Izaya, jangan di makan lagi kalau makanannya gak enak."

"Aneh, ini enak kok. Izaya, kamu gak enak badan?",tanya Namie.

Izaya menatap keduanya bingung. Apa yang aneh, makanan di mulutnya enak kok. Kenapa Namie dan Shizu-chan berhenti makan tiba-tiba. "Apa? Ini enak kok",ujar Izaya.

"Kamu pucat",ujar Shizuo.

"Dan... hujan",tambah Namie pelan. Tampak cemas.

Shizuo berdiri, ia berjalan mengitari meja, menuju kursi Izaya. Dia menarik Izaya berdiri," Apa kamu merasa pusing?"

"Aku hanya sedikit senang",jawab Izaya. "Dan lupa kalau aku makan kebanyakan." Izaya menggunakan tangan menutup mulut dan segera lari ke toilet.

Alis Shizuo berkerut. Bibirnya tertarik ke bawah murung memandang piring Izaya. "Dia belum makan setengah piring",ujarnya.

Namie mengutuk dirinya sendiri. "Aku lupa kalau tidak pernah melihatnya makan. Aku hanya memasak untuknya dan dia selalu sendirian di dapur saat waktu makan."

"Ku rasa aku harus membawanya ke Shinra",ujar Shizuo.

"Ya. Aku tidak tahu dia nggak bisa makan terlalu banyak ataukah allergy. Pemuda itu tidak pernah bilang soal dirinya sama sekali",ujar Namie.

"Tenang saja. Aku akan menjaganya",ujar Shizuo pada Namie lalu menyusul ke toilet.

Izaya tergeletak tak sadarkan diri di lantai.

"Izaya?",panggil Shizuo cemas. Ia mengangkat tubuh Izaya. "Hei, bangun!"

Jika bukan karena suara kecil Izaya, Shizuo pasti mengira pemuda itu pingsan. "Shizu-chan, aku gak apa-apa."

"Aku bisa mati karena jantungan gara-gara kamu, Izaya!",ujar Shizuo dengan nada kesal. Di peluknya erat sosok Izaya dalam genggamannya.

"Heiwajima-san, dia kenapa?",tanya Namie mendekat.

"Aku menemukannya tergeletak di lantai. Ku kira pingsan tapi tidak",ujar Shizuo bingung.

Namie berlutut di dekat Shizuo yang memeluk Izaya. Dia menyingkap poni rambut yang menutupi mata Izaya. "Hey, apa yang kamu rasakan?"

"Tenagaku hilang tiba-tiba",ujar Izaya. "Mairu... Bisa panggil dia kemari?"

Jika tidak fokus pada bibir Izaya, sulit sekali untuk tahu dia bilang apa.

***

 

Saat si kembar tiba, Izaya sudah berganti pakaian dan berbaring di tempat tidurnya.

"Iza-nii!",seru Mairu. Gadis remaja itu berambut hitam, berkacamata dan rambut panjang sepinggangnya di kepang dua. Dia memakai seragam sailor. Di samping Mairu ada Kururi, ia memakai pakaian olahraga dan berambut pendek warna hitam. Mata mereka sama dengan Izaya.

"Mairu... Kururi",jawab Izaya.

Kedua adik perempuannya bergantian memeluk dan mencium pipinya.

"Niisan kata Shizu-nii tenagamu hilang ya?",tanya Mairu.

"Waktu...",gumam Kururi.

"Dia kenapa?",tanya Shizuo.

"Kondisi Iza-nii mirip Kuru-nee. Kuru-nee tidak apa-apa karena dia punya aku. Kuru-nee hanya butuh tranfusi darahku untuk tenaganya kembali. Tapi, Iza-nii setengah... Jadi gak bisa."

"Maksudmu?",tanya Shizuo.

"Iza-nii punya separuh dirinya lagi. Seperti aku dan Kuru-nee, dia punya adik kembar. Tapi, entah ada dimana."

"Cukup Mairu. Jangan cerita soal mereka lagi!",tegur Izaya. Tiba-tiba marah, ia menarik selimut menutupi dirinya.

'Adik kembar?', pikir Shizuo.

Namie menghibur si kembar yang tampak sedih dengan membawa mereka pergi jalan-jalan. Shizuo tetap bersama Izaya dan tidak jadi memanggil Shinra.

'Pertama-tama, selain pasangan, ia butuh mencari kembaran Izaya. Ya, kalau kembaran itu masih menginjak di tanah bukan di alam sana.'

Chapter Text

Chapter 14

Hujan turun dengan deras. Hawa dinginnya serasa membekukan kulit. Izaya yang baru berusia 5 tahun memegang erat tangan saudara kembarnya. Dia dan kembarannya sudah di lindungi dengan mantel hujan warna hitam. Begitu juga dengan wanita yang di ikuti keduanya.

"Cepat jalannya Shi-kun, Iza-kun!"

"Ya, Mom!"

"Shishi, kamu capek?",tanya Izaya.

Adik kembarnya menggangguk. Isakan kecil keluar dari bibirnya, tangan kanan tengah mengucek mata yang tersembunyi oleh poni rambutnya yang cokelat gelap.

"Sshhh, jangan nangis. Ayo niichan gendong di belakang, ok?",bujuk Izaya.

Sang adik mengangguk.

Izaya berbalik dan menekuk sebelah lututnya di permukaan aspal yang basah oleh hujan. Dia bisa merasakan sang adik melingkarkan kedua tangan memeluk pundaknya dari belakang, lalu kedua kaki sang adik melingkari pinggangnya.

"Sudah?",tanya Izaya.

Adiknya mempererat pegangannya. Izaya paham. Dia memegangi kaki sang adik yang memeluk erat pinggangnya untuk memastikan sang adik tak jatuh. Walau bebannya lebih dari tubuhnya, Izaya tetap berjalan, sesekali memperbaiki gendongannya pada sang adik.

"Mom, kita mau kemana?",tanya Izaya.

"Tempat yang aman. Teman mama akan memberi kita tempat tinggal dan perlindungan",jawab wanita itu.

Izaya lantas tersenyum. "Kamu dengar itu Shishi?"

"Tempat aman",gumam sang adik. Dia menggesekkan pipinya pada Izaya yang masih menggendongnya. "Bisa makan juga?"

"Ya, Shishi. Tidak ada orang jahat lagi",ujar Izaya.

"Iza-niisama gak akan pergi?"

"Huh? Aku tidak akan pergi meninggalkanmu, Shi-shi."

"Mom bilang... Iza-niisama akan di adopsi."

"Mom?",panggil Izaya pada wanita yang berjalan 2 meter di depannya. Wanita itu tentu gak dengar perbincangan Izaya dan kembarannya. Suara kembarannya sangat halus dan kecil.

"Iza-kun!"

Seruan wanita itu membuat Izaya kaget dan jatuh terjerembab ke aspal. Keningnya terjeduk dan berdarah. Rasanya sakit. Dia menoleh bingung karena tidak melihat wanita itu.

Saat pandangannya menjadi jelas setelah ia menyeka darah yang menghalangi pandangan matanya, Izaya melihat sosok adik kembarnya terbaring tak jauh dari dirinya. Sang adik berbaring tak sadarkan diri. Dari dekat kepala adiknya cairan merah kehitaman merembes menodai aspal.

Hujan masih turun semakin deras.

Izaya melihat wanita itu terkejut melihat mereka berdua. Izaya tidak bisa mendengar jelas komat-kamit mulut wanita yang kelihatan panik. Tapi, Izaya bisa melihat pandangan wanita itu berubah saat melihat ke arahnya.

Pandangan ketakutan.

Wanita itu segera berjongkok mengambil adik kembarnya ke dalam pelukannya dan berlari pergi. Izaya bangkit duduk, dia berdiri, kepalanya masih pusing. Tangannya terulur ke arah wanita yang lari meninggalkannya.

"Mom, Shi-shi. Tunggu...!",panggil Izaya.

Semakin besar jarak dia dan wanita itu, Izaya mulai menangis. Bunyi tembakan terdengar dan Izaya merasakan sesuatu menembus bahunya. Sakit, sakit sekali.

"Mom!",panggil Izaya. Langkahnya semakin lambat, sosok ibunya semakin tak kelihatan, saat kesadadannya menipis, sepasang tangan menggendongnya.

"Satu anak sudah di amankan",ujar sosok yang menggendongnya. Suara perempuan.

Izaya mengulurkan tangan untuk meraih wajah orang yang tampak samar itu. "M-mom, jangan tinggalin Izaya. Izaya akan jadi anak baik."

"Ya, sayang. Mulai hari ini, aku Ibumu, namaku Kyouko."

***

 

Izaya menangis di dalam tidurnya. Seseorang mengguncang pelan bahunya. "Izaya, bangun. Kamu mimpi buruk?"

Izaya merasa tak asing akan suara itu. Tangannya meraba tangan yang menyentuh bahunya," Jangan pergi Shi--"

"Izaya",suara itu memanggil lagi.

Kali ini, Izaya membuka matanya dan bertemu dengan mata warna cokelat madu milik Shizuo. "Shizu-chan...?"

"Ya. Kamu mau cerita tentang mimpimu?",tanya Shizuo. Tidak biasanya Izaya bisa melihat mata Shizuo yang tampak perhatian padanya.

"Aku mimpi ibunda",jawab Izaya. "Dia menolongku yang sekarat saat wanita yang melahirkanku meninggalkanku begitu saja."

Shizuo mendengarkan. Dia berkata,"Ibundamu sayang padamu?"

Izaya mengangguk, dia menatap Shizuo dan tersenyum. "Ibunda walau jauh dan mungkin bisa di bilang oleh orang-orang tidak bisa mengurusku, tapi bagiku, dia wanita hebat yang menjadikanku kuat seperti saat ini."

"Hmm.. Ya."

"Ne, Shizu-chan, kamu tahu kenapa aku sangat membencimu?",tanya Izaya. Senyumnya hilang berganti dengan wajah datar dan raut sedingin es. Tatapannya seperti pisau yang menghunjam ke diri Shizuo.

"Apa?", tanya Shizuo, coba menepis perasaan tak nyaman dari hatinya.

"Kamu sangat mirip dengannya. Sosok yang paling ku sayangi dari apapun. Ya, tapi dia tidak memiliki kekuatan monster sepertimu",ujar Izaya. Dia merangkak mendekati Shizuo yang duduk di samping tempat tidurnya dan berhenti di dekat Shizuo, keduanya berhadapan.

"Maksudmu siapa Izaya?",tanya Shizuo.

"Shizune, adik kembarku",ujar Izaya. "Dia sangat manis seperti permen kapas, baik dan perhatian. Kadang dia juga menangis, tapi saat aku sedih, dia selalu tersenyum untukku."

"Emm... Kalau boleh tahu dimana dia sekarang?",tanya Shizuo. Kalau anak sebaik itu bisa ia temukan, mungkin dia bisa membantu Izaya.

Izaya turun dari tempat tidur. Dia berjalan ke arah jendela dan membuka gordennya. Di luar langit malam di taburi bintang terlihat begitu indah. Izaya bisa tahu Shizuo mengikutinya. Jadi, dia menunjuk langit di atas sana, "Shizune mungkin di atas sana. Memandang kemari, mengawasi diriku yang telah membunuhnya."

Shizuo memandang Izaya dengan sorot mata yang di penuhi keraguan. Dia tidak percaya akan perkataan Izaya. "Sedikit pun aku tak percaya padamu, Izaya. Kamu mungkin bajingan tanpa aturan yang suka bermain dengan kehidupan orang-orang, tapi kamu tidak akan membunuh."

Izaya kali ini terpana mendengar perkataan Shizuo. Tersenyum miris, dia berkata,"Shizu-chan, aku menggendongnya dan saat aku jatuh, dia juga terlempar." Izaya bisa ingat darah di aspal dan sosok adiknya tak bergerak. Dia tidak sadar tubuhnya gemetar dan air matanya mengalir. "Aku.. Aku membunuhnya Shizu-chan. Makanya... Mom meninggalkanku yang monster ini."

Shizuo hanya diam memandangi Izaya yang sedang menangis itu. Benaknya benar-benar kacau karena Izaya. Izaya sudah kelewatan.

"Izaya, kamu tidak membunuh adikmu. Kamu bilang kalian jatuh kan? Itu kecelakaan, Izaya. Kamu tidak boleh menyalahkan dirimu begini!",ujar Shizuo.

Izaya menggeleng. Nafasnya terasa tercekat. Dia panik. Langkahnya segera mendekat ke arah Shizuo. Shizuo bergegas memeganginya agar Izaya tak jatuh. "Percaya padaku, Shizu-chan. Aku benar-benar membunuh Shizune."

Shizuo memegangi pundak Izaya, dia menempelkan keningnya pada Izaya dan berbicara langsung sambil menatap ke mata cokelat kemerahan milik Izaya. "Izaya, kalau percaya kamu membunuhnya bisa membuatmu lebih baik, aku akan percaya padamu. Tapi, jangan membohongi dirimu sendiri Izaya."

Izaya menggigit bibir bawahnya mencoba meredam air mata yang terus menitik. Namun, ia benar-benar kaget saat menyadari cairan bening warna kebiruan yang menghiasi pipi Shizuo. "Shizu-chan, maaf. Jangan... Jangan menangis. Lihat, aku akan tersenyum. Jadi, jangan menangis."

Shizuo melihat Izaya tersenyum, meski air mata masih menghiasi pipi keduanya. Shizuo bingung akan perasaan sedih yang datang entah dari mana begitu mendengar Izaya begitu menyalahi diri sendiri.

"Shizushizu, lihat aku bisa membuat balon seperti ini!"

Shizuo melihat Izaya menggembungkan pipi, tangan Izaya mencoba menyeka air mata Shizuo. Melihat sosok konyol yang menghibur diri sendiri saja tak bisa, tapi coba untuk orang lain, membuat Shizuo membenamkan kepalanya di pundak Izaya yang berdiri dekat sekali dengannya. Bukannya berhenti menangis, tapi makin jadi. Shizuo bisa merasa Izaya mengusap punggungnya.

"Shizu-chan, hey, jangan menangis lagi ku mohon ya",bujuk Izaya.

"Izaya, kamu tidak salah. Shizune beruntung memiliki kakak kembar sepertimu. Kamu bahkan menggendongnya. Kamu bilang dia selalu membuatmu tersenyum bukan, Shizune pasti sangat sayang padamu."

"Uh, Shizu-chan, jangan membuatku makin bersalah",ujar Izaya. "Aku bukan kakak yang baik bagi Shizune."

Shizuo melepas pelukannya, ia masih memegangi Izaya yang pasti sudah terlalu banyak menggunakan tenaganya. Shizuo memandang wajah Izaya, ia tersenyum meski belum bisa benar-benar menahan air matanya. "Aku bisa mengatakan itu padamu, Izaya. Aku bisa. Soalnya saat kecil, aku punya kakak yang sangat sayang padaku."

"Kamu tidak punya kakak, Shizu-chan. Aku meneliti latar belakang musuhku!",ujar Izaya.

"Tentu saja tak punya di data keluarga baruku. Kakakku meninggal di bunuh orang jahat",ujar Shizuo. "Mom selalu menyalahi dirinya karena gagal menolong kakak. Sampai sekarang, jasad kakakku tak pernah di temukan."

"Shizu-chan, ibumu tidak salah. Dia berhasil menyelamatkanmu dari tangan orang jahat. Kakakmu pasti sangat lega melihat kalian berdua selamat. Pasti itu yang kakakmu inginkan."

"Aku tidak bisa mengatakan itu padanya. Ibuku di bunuh oleh pembunuh bayaran. Dia meninggalkanku saat Kasuka baru berusia 5 tahun dan hilang tanpa jejak."

"Ah, Shizu-chan. Ibumu tidak meninggal dalam kecelakaan pesawat sekitar kurang lebih 4 tahun yang lalu bukan?",tanya Izaya.

Shizuo menatap Izaya dengan pandangan kaget. "Ya. Sekarang kamu bilang, aku ingat. Di antara korban yang meninggal dalam ledakan pesawat 4 tahun lalu, aku melihat foto sosok yang mirip ibuku. Dia memakai nama Nami."

Izaya menepuk lengan Shizuo. "Shizu-chan, bisa bantu temani aku jalan ke dekat meja komputer yang ada di ruang kerjaku. Aku ingin mengecek sesuatu."

***

Shizuo menarik kursi yang biasa Namie duduki saat kerja ke dekat meja kerja Izaya. Ia duduk di sana memperhatikan tangan Izaya yang bermain cepat di atas keyboard.

Dari layar dekstop, Shizuo bisa melihat Izaya mengecek segala file yang berhubungan dengan kasus ledakan pesawat 4 tahun lalu.

Di antara sejumlah nama penumpang yang meninggal, Shizuo mengenali 2 nama yang tak asing.

"Izaya, berhenti. Lihat Midorikawa Roppi, umur 9 tahun. Bukankah itu nama pemberian Keysuu-san padamu?"

Izaya tidak menanggapi. Matanya tertuju pada foto wanita dengan nama Midorikawa Nami.

"Izaya, ini wanita yang ku maksud. Dia sangat mirip dengan ibuku. Nama ibuku Heiwajima Namiko",ujar Shizuo. "Ku rasa dia ibuku."

"NGGAK! TIDAK MUNGKIN!"

Shizuo terperanjat dengan raung penuh kemarahan milik Izaya. "Izaya, aku hanya bilang mungkin...",ujar Shizuo.

Izaya berdiri dari kursinya, dia menepis komputernya secara brutal hingga jatuh ke lantai bagian belakang meja kerja tersebut.

"Aku tidak akan lupa... Tidak! Selamanya aku takkan lupa padanya. Nama bisa berganti, tapi mataku tak salah. Dia wanita yang paling ku benci lebih darimu!",bibir Izaya bergetar karena marah sekali.

Kemudian dia tersungkur ke lantai di dekat kursinya. Izaya memeluk lutut dan membenamkan wajahnya di atas tangannya. Tubuhnya bergetar, tangisannya terdengar, namun kemudian di ikuti tawa yang membuat Shizuo merasa tidak nyaman.

"Izaya, berhenti tertawa",pinta Shizuo berusaha memeluk untuk menenangkan Izaya. Izaya masih berusaha menepis tangannya. Shizuo tidak mengerti apa Izaya mau tertawa, menangis atau marah. Hanya saja ia bisa pastikan dirinya tak sanggup melihat Izaya yang tampak begitu terluka.

Shizuo segera menciumnya. 'Berhenti. Berhenti menyakiti dirimu, Izaya.'

Izaya mendorong Shizuo dari dirinya keras. Tenaganya kuat karena amarahnya dan Shizuo yang tidak siap membentur pinggiram meja tepat di kepalanya.

"Tch",decak Shizuo agak kesal menyadari cairan basah yang mulai membasahi rambutnya.

"Aaah..."

Suara Izaya yang mundur ketakutan masuk terduduk di lantai membuat rasa takut Shizuo semakin menjadi.

"Aku tidak sengaja... Maaf, Shizu-chan",ujar Izaya.

Shizuo merasa bersalah. Dia mendekat dan menggendong Izaya kembali ke kamar. "Luka kecil begini tak masalah Izaya. Bukankah kamu bilang aku ini monster?"

Izaya menggeleng. Saat dia sudah menyentuh tempat tidur, Izaya menyelipkan tangan di bawa bantal dan mengeluarkan ponsel. Masih gemetaran saking takutnya, ia menekan kontak Shinra.

"Hello, Kishitani di sini."

"S-Shinra, cepat kemari. Shizu-chan mati..."

Shizuo yang tengah menggunakan handuk menutupi luka di kepalanya tercengang mendengar perkataan Izaya dan melihat Izaya mematikan telepon.

'Oh, Shinra. Dia pasti kelabakan di sebelah sana.'

Tapi, Shizuo lebih mementingkan kondisi Izaya. Izaya segera memeluknya saat Shizuo naik ke atas tempat tidur.

"Jangan mati Shizu-chan. Shinra akan kemari",ujar Izaya. Berulang-ulang sambil menangis.

Shizuo baru lega kala Izaya tertidur setelah lelah menangis. Tapi, kepalanya yang berdenyut membuatnya jatuh tak sadarkan diri di sisi Izaya.

Chapter Text

Chapter 15

Apartment Shinra

"Hello, Kishitani di sini!",jawab Shinra begitu siap mengangkat telepon yang berbunyi.

"S-Shinra, cepat kemari. Shizu-chan mati..."

Tut tut tut....

Siapa yang gak panik habis di beritahu hal begitu, telepon langsung di matikan.

"Celty! Celty!",seru Shinra.

|| Shinra, ada apa? ||

"Izaya. Dia meneleponku untuk ke tempatmya dan bilang kalau Shizuo mati!"

Shinra berlari ke ruang kerjanya. Dia memasukkan beberapa bungkus darah cadangan dan peralatan dokternya. "Celty, kita harus cepat!"

|| Aku akan membunuh Izaya! ||

Celty gemetaran dengan asap hitam mengepul di atas lehernya.

Shinra mengangguk. "Ayo Celty, kita harus cepat sebelum tubuh Shizuo di mutilasi."

Ya, Shinra bilang begitu. Tapi, dia hanya ingin kekasihnya segera membawanya ke tempat Izaya secepat mungkin. Dia tahu Izaya tak mungkin membunuh Shizuo.

***

Apartment Izaya

Shinra panik bukan main mendapati pintu Izaya terkunci dan tak ada yang datang menjawab walau bel sudah di tekan berulang kali.

"Celty, dobrak pintunya!",ujar Shinra.

Celty menggunakan bayangan menghantam pintu hingga terbuka. Sang dokter dan Dullahan itu menemukan ruang kerja Izaya yang sedikit berantakan. Juga jejak darah di lantai menuju arah kamar Izaya.

"Shizuo, Izaya?",panggil Shinra. Celty berjaga-jaga di dekatnya.

Saat keduanya tiba di pintu kamar Izaya, jantung Shinra serasa ingin copot melihat kedua temannya tak sadarkan diri di atas tempat tidur. Yaaa Shinra gak akan tahu satunya tidak terluka.

"Izaya? Shizuo?"

Shinra melihat ada banyak darah di dekat tempat yang Shizuo tiduri. Dia memeriksa dan mendapati luka di kepala Shizuo. Anehnya, ada bekas jahitan yang sudah lama di sana.

Celty yang memeriksa Izaya memberitahu Shinra bahwa informant muda itu hanya tidur. Dari matanya bisa terlihat jelas bahwa dia habis menangis.

Beberapa saat kemudian, Shinra selesai mengobati Shizuo. Ia membaringkan Shizuo di samping Izaya. Seprai yang ada darahnya sudah di alasi kain bersih. Tidak bisa di ganti karena Izaya masih tidur.

***

Pagi tiba, Shinra yang bergerak pergi ke kamar Izaya untuk memeriksa kondisinya melihat Izaya berada dalam pelukan Shizuo. Keduanya masih tidur dengan begitu nyenyak.

Shinra memilih membangunkan Izaya lebih dulu. Tapi, justru salah pilih. Saat Izaya menggumamkan suara, Shizuo terbangun. Merasa ada bahaya, dia segera melayangkan tinjunya ke arah Shinra. Shinra terkesiap coba menggunakan tangan menghalangi wajah. Tapi, bayangan hitam Celty lebih cepat mementalkan Shinra menjauh dari Shizuo. Walau Shinra harus terima punggungnya menghantam lemari kamar Izaya. Keras.

Baik Shizuo maupun Izaya akhirnya bangun. Keduanya menatap Shinra yang malang dengan heran.

"Shinra?",gumam Shizuo. Lalu, sadar akan apa yang hampir ia lakukan, Shizuo segera turun dari tempat tidur dan membantu Shinra berdiri. "Maaf, apa kamu terluka?"

Shinra mengibaskan tangan, tersenyum maklum. "Tidak. Aku hanya sakit punggung. Kenapa kamu bisa terluka?"

"Ah, aku terpeleset!"

"Ah, aku mendorongnya!"

Jawaban keduanya pada saat yang sama membuat Shinra tampak sedikit kaget.

Shizuo berbalik ke arah Izaya. "Izaya, kamu bisa berdiri?",tanya Shizuo.

Izaya melangkah turun dari tempat tidur. Shizuo mendekat, tidak meraih tangan Izaya, namun bersiap menangkap jika pemuda itu tiba-tiba jatuh. Shinra memperhatikan dengan sebelah alis terangkat. "Apa maksud pertanyaanmu pada Izaya, Shizuo?"

"Tenaga Izaya hilang. Menurut Mairu, satu-satunya cara adalah transfer darah kembarannya baru bisa menolong Izaya."

Jawaban Shizuo tidak mendapat reaksi berarti dari Shinra. "Huh, adik kembar Izaya? Maksudmu Mairu atau Kururi?"

Shizuo tidak sempat menjawab Shinra karena Izaya hanya berdiri sesaat, kemudian ambruk. Shizuo segera menangkap pinggangnya. Izaya bernafas putus, putus, lelah hanya karena berdiri tak begitu lama.

Shizuo mendudukkan Izaya di tempat tidur, lalu menjawab Shinra," Adik kembar Izaya yang lahir bersamaan dengan Izaya."

"Izaya punya adik kembar?",tanya Shinra heran. "Kamu gak pernah memberitahuku, Izaya-kun?"

Izaya memandang Shinra dan menghela nafas. " Shinra, setiap orang punya hal pribadi ok. Kalau bukan karena Mairu, Shizu-chan gak akan tahu juga."

"Baik kalau kamu bilang begitu. Lalu, perkataan Mairu kalau hanya darah kembaranmu yang bisa menolongmu itu tidak sepenuhnya benar."

"Maksudmu adikku bohong?",tanya Izaya, jelas dengan nada terganggu mengingat adik perempuannya seakan di tuduh.

Shinra mengangkat kedua tangan tanda menyerah. "Dengar dulu, selama ini, kamu kehilangan tenaga bukan sekali ini saja. Aku doktermu bukan?"

Izaya dan Shizuo memandang Shinra.

"Aku selalu diam-diam mengambil darah kalian berdua saat salah satu dari kalian check up. Lalu, begitu ada yang lemah, aku memakai darah kalian yang ku simpan untuk yaa kalian berdua juga. Toh darah kalian sama."

"Itu ampuh?", tanya Shizuo.

"Ya. Bisa di coba",ujar Shinra.

"Jangan. Shizu-chan kekurangan darah... Jangan lagi",ujar Izaya.

Shinra menatap Shizuo, lalu Izaya, lalu Celty. "Celty, apa dua orang ini alien?"

Celty terperanjat. // Benaran? Kita harus lari dari sini, Shinra! //

"Ya, ku rasa begitu!",jawab Shinra antusias.

"Oh, Shinra. Berhenti main-main. Aku tidak apa. Donorkan saja darahku padanya!",ujar Shizuo.

"Tapi, Shizu-chan..."

"Kamu selalu bilang aku monster, jadi terimalah kenyataan bahwa aku tidak selemah yang kamu pikirkan!",ujar Shizuo agak marah."Jadi diam dan terima saja."

***

Saat Namie tiba pada jam 8 pagi itu, ia melihat Shizuo dan Izaya masih tidur. Shinra dan Celty sedang nonton tv di ruang tengah.

"Kalian di sini, apa ada kejadian buruk?",tanya Namie.

"Ya, kecelakaan kecil dan memperbaiki kondisi Izaya",jawab Shinra. "Sekarang keduanya lagi istirahat di kamar."

"Memang ada cara untuk menolong Izaya?",tanya Namie. "Kamu menemukan adik kembarnya dengan bantuan dewi kematianmu ini?"

"Tidak. Dari awal, asal kalian menelponku... Sebenarnya, bantuan untuk Izaya berada sangat dekat dengannya. Ya, itu darah keduanya bisa membantu."

"Heiwajima-san dan Izaya?", tanya Namie.

"Yup. Walau bukan adik kembar, asalkan darah keduanya sama memang bisa." Ujar Shinra.

"Pernah donorkan darah O lain ke tubuh Izaya?", tanya Namie.

Kali ini giliran Shinra yang tersenyum dengan bibir terkatup rapat. "Tidak. Untuk Shizuo, aku selalu memberinya darah Izaya. Begitu juga sebaliknya. Ku pikir salah mereka hobi bertengkar."

// Jangan-jangan mereka kembar? //

Namie dan Shinra menggeleng. "Mustahil. Ulang tahun mereka saja beda.",ujar Shinra.
"Bahkan Shizuo kecil dari Izaya setahun."

***

 

Jam 11 lewat, Izaya dan Shizuo akhirnya bangun. Namie menyuruh mereka makan siang karena dia sudah masak. Celty berbaik hati mengantarnya belanja dan Shinra menjaga keduanya yang sedang tidur tadinya.

Izaya benar-benar mendapat tenaganya kembali. Dia memakai t-shirt merah lengan pendek dengan hoodie dan celana selutut warna hitam. Shizuo memakai t-shirt putih lengan pendek dan celana panjang warna hitam. Ada tulisan I love human di tampilan depannya.

"Kamu sudah lebih sehat, kenapa mood mu kelihatan jelek?",tanya Namie saat mereka tengah makan siang bersama.

"Bukan apa-apa, Namie-chan",jawab Izaya. Dia hanya makan beberapa suap, kemudian berniat meninggalkan meja. Tapi, Shizuo yang duduk di sebelahnya menariknya kembali duduk.

"Izaya, habis makan, mau jalan-jalan cari angin?",tanya Shizuo.

"Ya."

***

 

Shinra, Shizuo dan Izaya terlihat berjalan bersama di dekat Sunshine 60. Celty sudah pergi menjalankan pekerjaan dari Awakusu-kai.

Jika ada Shinra, biarpun Shizuo dan Izaya bersama, takkan ada yang heran. "Hey, Izaya. Aku ingin tahu tentangmu."

"Tidak, Shinra. Kamu tidak boleh menggoda Izaya. Kamu sudah ada Celty!",ujar Shizuo.

"Dia tidak perlu, Shizu-chan."

"Haha benar. Soalnya aku sudah pernah menolak Izaya saat SMP."

"Apa?",seru Shizuo kaget. "Izaya, kamu suka Shinra?"

Izaya mengangkat bahu. "Dia teman pertamaku, Shizu-chan. Duh. Wajar kalau aku suka padanya."

"Oh teman. Terus dia menolak apa?",tanya Shizuo masih belum ingin ganti topik.

"Ciuman",jawab Izaya dan Shinra barengan.

"Teman tidak ciuman Izaya!",ujar Shizuo.

"Musuh juga tidak ciuman, Shizuo",ujar Shinra menepuk bahu Shizuo dengan wajah tersenyum. "Kalian berdua sama. Sama-sama hanya tahu berantem dari dulu."

"Jangan samakan aku dengannya!",ujar Izaya dan Shizuo barengan.

"Tapi kalian sama. Dimana ada Izaya pasti ada Shizuo. Dimana ada masalah, pasti ada kalian berdua. Lucu bukan?",tanya Shinra. "Kalau kalian mendengarku dan berteman dari dulu, bukankah bagus. Lihat kita jalan sama-sama."

"Aku masih membencinya",ujar Izaya cepat.

"Oh, aku masih merasa kamu menyebalkan Izaya!",ujar Shizuo.

"Kalian berdua berhenti. Jangan berantem tiba-tiba lagi. Bukankah Shizuo akan cari pasangan buat Izaya?"

"Hah? Tidak usah repot Shizu-chan. Kamu pikir aku perlu bantuanmu?"

"Aku juga tidak niat membantumu Izaya. Kamu pikir kamu istimewa?"

"Kalau begitu, biarkan aku membantumu Izaya. Sebagai gantinya beri aku informasi soal Sakuraya-chan",ujar Kadota. Datang tiba-tiba dan di sampingnya ada Chikage.

"Hello",sapa Chikage. Dia memandang Izaya dan berkata,"Apa benar kamu perempuan, Informant-chan?"

Izaya melemparkan pandangan jijik pada Chikage. Entah sejak kapan dia sudah mendorong pisaunya ke arah depan mata Chikage. "Kamu buta atau mau ku buat buta hah? Siapa yang perempuan?",protes Izaya.

Chikage mengangkat kedua tangan. Dia belum siap mati. Duo terkuat memang benar-benar tak bisa di ajak bercanda. "Ampun, Informant-san. Hanya ingin memastikan.Tapi, kamu cukup menarik dari segi penampilan",lanjutnya mengedipkan sebelah mata. Tentu saja bergerak mundur saat Izaya menyingkirkan pisau dan ikut mengambil jarak darinya.

"Lho bukan ya, ku pikir... Tapi gak masalah. Izaya, kamu butuh pasangan? Mau coba denganku?",tanya Kadota menunjuk dirinya sendiri. "Aku tak sekuat Shizuo, tapi pasti bisa selalu ada untukmu."

Izaya menatap Shizuo. Lalu, Kadota. "Dota-chin, aku sedang tak butuh bawahan. Shizu-chan bisa jadi bodyguard-ku."

Shinra dan Chikage tertawa. "Izaya, maksud Kadota-kun adalah mengajakmu kencan dengannya",ujar Shinra.

Shizuo tidak suka melihat Izaya kelihatan mempertimbangkan. Dia menyikut lengan Izaya dan berkata,"Huh, kalau minat jawab iya, kutu!"

Kesal bukan main kembali mendapat panggilan itu, Izaya menendang lutut Shizuo keras. "Bukan kamu yang menentukan jawaban untukku, kasar.",ujar Izaya. Lengannya terasa berdenyut karena ulah Shizuo.

"Kalian ini yang akur dong, ini baru sebentar kita berjalan---"

Ya, Shizuo tak lagi mendengarkan Shinra. Dia sudah baik-sabar-tahan kesal-Tapi ada batasnya juga kali. Dia mendecakkan lidah dan memandang Izaya dengan pandangan berapi-api. "Berani sekali kamu menendangku, Huh Kutu sialan?!",tangan mencengkram kerah baju Izaya.

"Oi , oi, kalian tidak bermaksud---"

Shizuo melempar Izaya ke arah tong sampah. "Pergi sana ke tempat asalmu, kutu!",serunya.

Bruakhh!!

Wajah Izaya langsung berubah karena rasa sakit. Dia mengatupkan rahangnya dan mengeluarkan beberapa pisau lipatnya.

Dalam beberapa detik ke depan, aksi brutal keduanya yang coba menyerang satu sama lain kembali di mulai.

Suasana Ikebukuro yang damai kembali hilang. Orang-orang di jalan berlari mencari tempat berlindung. Lebih baik menyingkir daripada menjadi target salah sasaran monster Ikebukuro mengingat gerakan super cepat Informant Shinjuku yang menyelip di antara mereka untuk berlari dari kejaran Shizuo.

Raungan kemarahan Shizuo, ledekan Izaya dan suara klang klontang benda-benda berat yang terbang ke arah sang informant menelusuri gang demi gang di sekitar Ikebukuro.

Shinra melihat jam. "Ah, sudah waktunya aku pulang. Celty pasti sudah di rumah sebentar lagi."

Dengan itu sang dokter mulai berjalan ke arah apartmentnya. Sungguh beruntung karena jejak yang baru ia tinggalkan itu baru saja menjadi tempat baru bagi mesin penjual minuman yang di lempar oleh Shizuo.

Mikage yang baru keluar dari salon melihat motornya hancur. "Ah, kedua orang itu... tak pernah berubah."

Sebuah mobil berhenti tak jauh dari posisi Mikage. Kaca depan pengemudi terbuka. "Huh, itu informant Shinjuku yang kamu bilang mirip Roppi, Tsukishima-sama."

Tsukishima membuka pintu mobil bagian belakang dan keluar. Dua bodyguard ikut turun dan berjaga di belakangnya.

"Aku ingin dia membantuku mencari cara untuk menemukan Roppi-chan yang hilang tanpa kabar",ujar Tsukishima merapatkan syal merah di lehernya.

"Ya, kami akan mengantarmu padanya." Jawab salah satu bodyguard, namun tak bersiap pada sebuah tiang listrik yang melayang ke arahnya. Dan Bamm!

"Wuah, Yuto!",seru bodyguard satunya lagi panik.

Tsukishima menggeleng. Dia menunduk dan dengan mudah mengangkat naik tiang listrik itu. Yuto di bantu berdiri oleh bodyguard satunya lagi yang bernama Chihiro.

"Chi, bawa Yuto ke rumah sakit. Temui aku sore ini di Rusia sushi!",ujar Tsukishima.

"Baik, Tsukishima-sama. Berhati-hatilah!",ujar Chihiro memapah Yuto ke dalam mobil.

"Jangan khawatir",jawab Tsukishima. Remaja laki-laki berambut pirang itu berjalan ke asal kehebohan tanpa rasa takut.

Chapter Text

Chapter 16

Midorikawa Tsukishima, di hari liburannya, menutuskan untuk mencari tahu tentang keberadaan Roppi. Jadi, dia meminta izin pada Keysuu untuk pergi ke Ikebukuro. Takut anaknya nakal, Keysuu meminta Yuto dan Chihiro untuk mengawasinya. Ya, meski dalam sekejap kedua bodyguard sudah berhasil Tsukishima tinggalkan lebih dulu.

Tsukishima berjalan, tangannya memegang ponsel, chatroom dollars tertampil di layar depannya di penuhi pesan beruntun dari orang-orang. Tsukishima membaca pesan tentang dimana posisi terakhir Shizuo dan Izaya terlihat. Tanpa pikir panjang, remaja laki-laki yang baru 13 tahun itu melangkah ke arah tersebut.

Tsukishima yang muncul tiba-tiba di antara perempatang gang benar-benar di luar dugaan duo Tom jerry Ikebukuro. Dimana papan penunjuk jalan terbang ke arah remaja itu.

"Awas!",seru Shizuo dan Izaya bersamaan.

Tsukishima mengalihkan perhatian dari ponsel. Dia tidak bergerak menghindar melihat papan yang siap menghantam tubuhnya. Namun dia mendengar bunyi besi bertemu besi dan papan penunjuk jalan jatuh ke lantai tepat sebelum mengenai dirinya.

Tsukishima menoleh mendapati sosok Izaya yang tampak pucat dan lelah, dia menatap Tsukishima dengan pandangan tak percaya.

"Hei, apa kamu terluka?",tanya Shizuo menghampirinya. Izaya masih terpaku di tempat semula. Dia berjalan ke tepian dan bersandar pada tembok. Sepertinya tengah mengatur nafas. "Oi, Izaya. Kamu gak apa?",tanya Shizuo.

Izaya menggeleng. Tubuhnya sakit. Ya, luka apapun tidak begitu ia pikirkan. Jantungnya yang tak karuan saat ini karena mengingat perkelahian dia dan Shizuo hampir melukai Tsukishima.

"D-da-rah",ujar Tsukishima menanggapi pertanyaan Shizuo. Matanya tertuju pada luka sayatan pada dada lengan dan punggung Shizuo.

"Ini tidak masalah. Bagaimana denganmu?",tanya Shizuo.

"P-pisau",ujar Tsukishima menunjuk paha kiri Shizuo.

Shizuo mencabut pisau itu dan walau sempat merasa sakit, dia hanya melempar pisau itu ke arah Izaya. Izaya mengulurkan tangan menangkap pisau itu.

"M-musuh , t-teman?",tanya Tsukishima menunjuk Izaya dan melihat Shizui untuk jawaban. Jika Shizuo bisa lempar tepat sasaran pisau itu, kenapa benda berat yang ia lempar tak pernah kena Izaya?

"Hey, Shizu-chan. Kamu kenal anak ini?",tanya Izaya mencoba mengenali Tsukishima. Shizuo menggeleng. Lalu, pandangan Izaya tertuju pada Tsukishima, tersenyum dia berkata,"Siapa namamu?"

"Tsuukkisshima",jawab Tsukishima. Dia menarik lengan jaket Izaya pelan,"O-Oriihaara niisan.."

"Huh, aku di panggil kakak? Shizu-chan, lihat, dia menggemaskan!",pekik Izaya tiba-tiba saja langsung gembira dan memeluk Tsukishima.

Shizuo menarik Izaya menjauh dari Tsukishima. "Tertangkap. Ikut aku ke Shinra!",ujar Shizuo.

"Hmph, tapi... Tsukki bilang dia adikku!",ujar Izaya.

"Izaya, kamu tahu itu mustahil",ujar Shizuo lanjut berjalan sambil menarik Izaya.

Izaya masih berusaha menggapai Tsukishima. "Uh... Bye-bye Tsukki."

Tsukishima yang tertinggal agak jauh, tersenyum tipis dan melambaikan tangan pada Izaya.

***

"Hey, Izaya, kenapa anak itu di sini?",tanya Shizuo setelah mereka masuk ke dalam taxi.

"Rupanya Shizu-chan masih ingat padanya",jawab Izaya. "Tumben otakmu jalan."

"Izaya, kamu ingin tanganmu ku patahi? Berhenti mengetuk kepalaku!",gerutu Shizuo menangkap telapak tangan Izaya.

Izaya menjulurkan lidah. "Huh, coba saja kalau berani, aww aduh berhenti tanganku bisa patah benaran."

Shizuo melepaskan tangan Izaya. Izaya memijat tangannya yang masih sakit. "Izaya, apa Tsukishima-kun benaran mirip adikmu?"

Izaya menoleh keluar jendela. "Tidak. Tidak sama sekali. Adikku lebih mirip ... Ya, maksudku.. Kalau Shizu-chan bukan pirang.. Mirip sedikit banyak."

'Mirip denganku dan berambut hitam. Mungkin lebih mendekati Kasuka.'

"Apa kamu punya fotonya?",tanya Shizuo.

Izaya tampak sedih. "Saat Ibunda menemukanku, aku dalam keadaan sekarat Shizu-chan. Yang ada pada diriku hanya pakaian yang sudah penuh darahku dan tidak ada apa-apa lagi",ujar Izaya.

Shizuo mengelus rambut hitam Izaya. "Kamu pernah mencari ibu kandungmu tidak?",tanya Shizuo. "Bagaimana kamu bisa yakin dia meninggalkanmu?"

"Aku melihat dengan mataku. Sosoknya yang membawa pergi adikku dan tak menyahut panggilanku yang berusaha mengejarnya. Dia membuangku Shizu-chan. Makanya aku iri sekali padamu. Walau kamu monster, kamu punya ibu yang baik bukan?"

Shizuo mengangguk. "Ibu memang baik. Tapi, dia hilang Izaya. Satu-satunya penghubung hanya wanita yang ada di pesawat itu. Ku rasa itu ibuku."

Izaya menatap Shizuo. "Shizu-chan, kamu bercanda kan?"

"Buat apa? Dia selalu memakai nama Nami kalau berkenalan dengan orang lain di jalan." Jawab Shizuo. "Soalnya, itu nama yang Iza-niisama--- huh?"

"Shizu-chan, kau sebut apa barusan?",tanya Izaya. Dia benar-benar merasa tertusuk pisau kala mendengar nama asing itu.

Sebelum Izaya menjawab, mobil yang mereka tumpangi berhenti.

"Ah, Izaya sudah sampai",ujar Shizuo.

"Iya." sahut Izaya.

***

Shinra menghela nafas begitu membuka kan pintu bagi Izaya dan Shizuo. Izaya diam memperhatikan Shizuo di obati Shinra. Shizuo juga diam lebih dari biasanya.

"Kalian kenapa?",tanya Shinra.

Shizuo menggeleng. "Izaya bertemu Tsukishima."

"Kamu juga, Shizu-chan." Izaya mengingatkan.

"Oh. Di Ikebukuro?",tanya Shinra.

"Ya." sahut Izaya.

"Izaya, kamu lebih baik pergi liburan bersama Shizuo. Berhenti berurusan dengan Midorikawa." Ujar Shinra.

"Tapi, Tsukki sudah datang ke Ikebukuro--"

"Kamu ini Orihara Izaya. Bukan Roppi."

Izaya diam. Shizu-chan benar. Dia sebaiknya tidak biarkan Daddy Keysuu tahu tentangnya. "Shinra, tolong jagakan Tsukki. Shizu-chan, rumah keluargamu di perkampungan kan?"

"Izaya, kamu tidak bermaksud liburan ke sana kan? Di sana tak ada hotel!",ujar Shizuo.

"Aku bisa tinggal di rumahmu",ujar Izaya cepat.

"Kamu tidak ada maksud lain?",tanya Shizuo.

Izaya mendekat dan mengalungkan lengannya di leher Shizuo dari belakang sofa. "Aku hanya mau lihat foto kakakmu",ujar Izaya. "Boleh kan?"

"Kakak?",tanya Shinra heran.

Shizuo menghalangi Izaya menjawab Shinra dengan menciumnya. Tapi, tidak menyangka kalau Izaya akan menjadi kecil tiba-tiba. Terlalu kecil, kalau saja Shinra tidak segera meraih ke arah belakang sofa menangkap kaki kiri Izaya, anak kecil 2 tahun itu sudah jatuh dengan kepala ke lantai dulu.

"Huh?! Izaya???",panggil Shizuo kaget.

"Shizuo, kamu makan strawberry ya?",tanya Shinra memperbaiki posisi Izaya yang sedang komat-kamit bahasa tak jelas. Tangan Izaya memukul-mukul pipi Shinra dan coba menggapai kacamatanya.

"Susu strawberry...",jawab Shizuo, tangannya terulur menarik Izaya kecil dari gendongan Shinra.

Izaya kecil tertawa saat Shizuo menaruhnya duduk di pundak. "Selamat, Shizuo. Kamu bawa dia ke kampungmu dan di sana sampai aku menghubungimu!"

"Izaya, kamu yakin mau ke kampungku?",tanya Shizuo meremas tangan batita di pundaknya.

Izaya bergerak-gerak dan jatuh terguling ke pangkuan Shizuo. Kedua tangan mungilnya menangkap ujung t-shirt Shizuo. "Lagi, lagi!",ulangnya ceria.

Shizuo mengangkat Izaya dan mendecak ringan,"Hmm.. Shinra, lihat dia menggemaskan bukan. Hmm Chibi Izaya sebaiknya ku panggil apa ya?"

Shinra menoel pipi Izaya kecil, "Bagaimana kalau Hibiya?"

Shizuo mengangguk. "Hibiya, nah kamu akan ku panggil begitu!",ujar Shizuo dengan nada gembira.

Shinra menggunakan ponselnya dan memotret Hibiya. "Aha~ Celty pasti akan sangat menyesal mendapati dia tidak melihat Hibiya ini."

"Shinra, aku mau pulang siap-siap. Sekalian mau ke toko baju beli pakaian Hibiya",ujar Shizuo dengan Hibiya bergelantungan pada lengannya.

"Shizuo perbaiki gendonganmu dan lukamu--"

"Aku akan ganti perban secara teratur."

"Kelihatannya kamu tak berniat mengembalikan Hibiya ke bentuk semula dalam waktu dekat?"

Shizuo menggendong Hibiya dimana justru terlihat lucu, dengan si bayi duduk di pergelangan tangan Shizuo. "Yup. Dia tidak akan cerewet."

"Kamu tidak takut dia akan tidur lebih lama saat ia kamu kembalikan ke wujud semula?",tanya Shinra.

Shizuo menaruh tangan kanannya di sekitar perut Hibiya agar si kecil tidak jatuh. "Aku akan kasih dia minum darahku?"

"Dia bukan vampire!", seru Shinra.

Shizuo tertawa dan berkata,"Bye, Shinra."

Chapter Text

Chapter 17

Shizuo tidak terlalu peduli akan pandangan orang-orang yang tertuju padanya saat ia membeli tiket kereta. Hibiya duduk manis di pundaknya. Satu tangan Shizuo memegangi pinggang si kecil agar gak jatuh.

"Heiwajima Shizuo-san dan siapa nama adik kecil itu?",tanya nona penjual tiket.

"Subarashi Hibi",jawab Shizuo cepat. "Adik sepupuku."

"Baik. Ini tiketnya."

Setelah mendapat tiket, Shizuo menuju platform 6. Dia menunggu kereta tiba.

"Shichan",panggil Hibiya menarik rambut Shizuo.

"Apa, Hibiya?",tanya Shizuo. Hibiya menunjuk arah wanita yang mendorong anak kecil 3 tahun dengan kereta dorong bayi. "Itu untuk anak perempuan. Hibiya anak laki-laki. Paham?"

Hibiya menelengkan kepala, ia mengulum jari terlunjuk tangan kirinya. "Hai~",gumamnya. Kakinya bergerak-gerak terayun-ayun menampuk dada Shizuo tanpa peduli. Lagipula gak akan sakit.

"Nanti Hibiya bisa lihat pemandangan kalau sudah masuk kereta ya",ujar Shizuo.

"Mau main",ujar Hibiya.

"Ya. Apa saja",jawab Shizuo santai.

Tidak lama kereta tiba. Shizuo menggendong Hibiya di dada dan berjalan masuk. Melindungi Hibiya agar tak tersenggol penumpang kereta lainnya. Dia duduk di dekat jendela. Hibiya menempelkan tangan mungilnya di jendela kaca. Cemberut mendapati pemandangan gelap.

"Kalau keretanya udah jalan, Hibiya bisa lihat",ujar Shizuo.

Sepanjang perjalanan 3 jam, Shizuo dan Hibiya tertidur selama 2 setengah jam. Hibiya hanya semangat dari awal hingga setengah jam, kemudian mengantuk. Dia tidur di pangkuan Shizuo, kepalanya bersandar pada perut Shizuo dan tangan pemuda itu melingkari pinggang si bayi erat.

Saat tiba di perkampungan keluarga Shizuo yang jauh dari kota Ikebukuro, Hibiya masih tidur begitu pulas. Shizuo masih merasa begitu akrab dengan suasana kampungnya.

Shizuo bahkan mengangguk pada beberapa pejalan kaki yang mengenalinya. Dia mengabaikan ledekan dari beberapa pemuda yang berkumpul di depan toko sembako.

Shizuo tiba di depan sebuah rumah besar dari kayu. Dia mengetuk pintu dan tidak lama pintu di buka. Seorang pria sekitar 50 tahun dengan rambut hitam yang sebagian sudah memutih. Mirip dengan Kasuka.

"Shizuo",sapa pria tua itu.

"Ayah, aku pulang",ujar Shizuo meletakkan kopernya dan dengan satu tangan membalas pelukan Ayahnya.

"Siapa anak manis itu?",tanya sang Ayah.

"Ini Hibiya, Ayah. Adik temanku",jawab Shizuo."Aku membawanya pulang untuk menjenguk Ayah."

"Oh, masuklah ke dalam Shizuo. Kamarmu masih seperti sediakala",ujar sang Ayah. Dia senang setiap kali anak-anaknya pulang.

Shizuo jalan masuk sambil menyeret kopernya. Sang Ayah mengantarnya sampai ke depan kamar. "Kamu istirahat dulu, Ayah mau ke kebun dulu."

"Iya, Ayah."

***

Sore tiba, Hibiya bangun. Dia memandang sekelilingnya dengan rasa ingin tahu.

"Shichan?"

Dia tidak melihat Shizuo di dekatnya. Hibiya kecil turun dari tempat tidur dan berjalan menuju arah pintu yang sengaja tak di tutup rapat.

"Shichan?"

Hibiya mendengar suara perbincangan dan berjalan ke sana. Di teras, ia melihat Shizuo sedang duduk dengan pria tua dengan sepiring ubi rebus dan 2 cangkir teh. Keduanya duduk di lantai kayu, di luar teras tampak halaman yang masih berupa tanah dan pada tepiannya di tanami bermacam tanaman hias.

Hibiya tersenyum kecil dengan tangan menutupi bibirnya. Dia berjingkat ringan menyelinap ke dekat Shizuo. Shizuo masih lanjut mengobrol walau dia bisa merasakan seseorang mendekat. Ya, sense nya mengatakan itu aura malaikat kecilnya.

"Baa!",seru Hibiya menabrakkan diri ke punggung Shizuo dan coba memanjat menaiki punggungnya.

Shizuo berbalik dan menarik Hibiya duduk di pangkuannya. "Hibiya, kenali ini Ayahku." Shizuo menunjuk sosok pria tua di depan Hibiya.

Hibiya tersenyum riang. Dia mengulurkan tangan ke arah Ayah Shizuo. "Paman, hello. Namaku Orihara Izaya."

Shizuo menatap ke bawah pada Hibiya. "Hibiya-kun, gak apa?"

Hibiya menggeleng. "Gak apa. Soalnya Paman ini Daddy Shichan."

"Oh, namamu tidak asing, Izaya-kun."

Shizuo mengacak rambut Hibiya dengan lembut. Senyum kecil terlihat di bibirnya. "Ayah, maaf aku berbohong. Dia ini temanku yang sering kuceritakan",ujar Shizuo. "Wujudnya kecil, tapi dia lebih besar setahun dariku."

"Eh? Shizuo, apa Izaya-kun ini punya allergy?",tanya sang Ayah.

"Ya. Dia akan kembali besar kalau mm ku cium?",jawab Shizuo. Hibiya mengangguk mengiyakan.

"Coba kemari sini",pinta Ayah Shizuo.

Hibiya melangkah mendekat. Ayah Shizuo memperhatikannya dan berkata,"Kamu anaknya Shiro-kun dan Kyouko-senpai."

"Ayah kenal Izaya?",tanya Shizuo.

"Ya. Si kecil yang kamu panggil Hibiya ini barusan menyebut nama keluarganya untukku. Aku masih ingat jelas saat melihatnya ketika dia berusia 7 tahun."

"Aku tidak tahu akan hal itu, Ayah tak pernah bilang",ujar Shizuo. Dia melihat Hibiya duduk di dekat Ayahnya. Tangan Hibiya terulur meraih ubi rebus.

"Apa ini?",tanya Hibiya menatap Shizuo. Sepertinya mengabaikan perbincangan Ayah dan anak tersebut.

"Makan saja. Itu manis",ujar Shizuo.

Hibiya memainkan ubi itu, lalu mendekatnya ke mulut menggigit kecil. "Enak",ujar Hibiya.

Shizuo tersenyum. Lalu melihat Ayahnya lagi. "Oh iya, Ayah. Ayah tahu tidak soal kecelakaan pesawat 4 tahun lalu?",tanya Shizuo.

"Kamu tahu darimana, Shizuo?"

Shizuo menunjuk Izaya yang berhenti fokus pada ubinya. Dia meletakkan ubi di lantai dan menoleh ke arah Ayah Shizuo.

"Hey, Izaya-kun... Kenapa kamu bisa tahu soal istriku?",tanya Ayah Shizuo. "Dia memang menjadi korban. Benar, Shizuo Midorikawa Nami itu ibumu."

"Ah, benar rupanya",ujar Shizuo. Dia terlambat tahu. "Hibiya, kenapa kamu menangis?"

Hibiya menggeleng. Dia menarik lengan kimono cokelat milik Ayah Shizuo, "Paman... nama asli istri anda... siapa? Bukan Namiko kan?"

"Maaf, paman tidak tahu. Mungkin Shizuo bisa memberitahumu",ujar Ayah Shizuo."Kenapa kamu bisa tahu kalau namanya bukan nama asli?"

Izaya mengucek matanya. "Midorikawa Nami mirip dengan wanita yang meninggalkanku hampir mati di tengah jalan pada hari berhujan saat umurku 5 tahun."

"Hibiya, kamu bilang apa?",tanya Shizuo.

Ayah Shizuo memandang Shizuo. "Shizuo, nama ibumu?"

"Izaya, ibuku bukan wanita itu. Aku dan kakakku memiliki umur yang sama. Kamu setahun lebih tua dariku.."

"Shichan benar. Paman apa istri Paman punya anak selain Shichan?",tanya Hibiya."Soalnya aku tidak akan salah mengenali orang."

Ayah Shizuo memandang bayi kecil yang tengah berbicara. Aneh melihat bayi membicarakan hal serius begitu. "Kamu ingat rupa adikmu?"

"Dia lemah, cengeng, selalu tersenyum, suka di gendong, baik.. Ah, rupanya... Matanya mirip wanita itu... Dia memiliki rambut yang mirip wanita itu",ujar Hibiya. "Rambutnya cokelat gelap dan berombak.."

Ayah Shizuo tersenyum mendengar deskripsi dari Izaya. "Shizuo, Izaya ini anak yang suka berkelahi denganmu itu kan? Kalian pernah bertemu sebelum SMA?"

Hibiya berjalan ke dekat Shizuo, dia duduk di pangkuan Shizuo. "Gak pernah",jawab Shizuo.

"Izaya-kun, Shizuo bukan asli pirang. Apa kamu tahu?",tanya Ayah Shizuo.

"Huh? Bukan pirang?",tanya Hibiya mendongak menatap Shizuo. Shizuo mengangguk dan tersenyum.

"Kukira informant sepertimu tahu?",ujar Shizuo. Rasanya senang ada hal tentangnya yang bisa mengejutkan Izaya.

Hibiya tampak cemberut. "Penipu",ujarnya.

Shizuo tertawa. "Ayah, mungkin lebih cepat memperlihatkan album foto padanya."

"Benar",ujar Ayah Shizuo. "Pergi ambil sana."

Shizuo menggendong Hibiya, lalu jalan ke ruang tamu keluarganya. Dia mengambil sebuah album foto yang terselip di antara tumpukan buku sewaktu ia dan Kasuka masih sekolah.

Shizuo membawa Hibiya ke ruang tengah. Ia menyalakan kipas, lalu duduk di sofa dengan Hibiya di pangkuannya. Shizuo melihat tangan kecil itu menepuk album dengan gak sabar.

"Kamu siap?",tanya Shizuo.

Hibiya mengangguk.

Foto pertama membuat Hibiya tertegun. Hibiya menunjuk foto sosok anak berambut cokelat gelap dan anak berambut hitam di sisinya.

"Kamu kenal salah satu dari mereka?",tanya Shizuo.

Hibiya mengangguk. "B-boleh untukku?"

"Tidak boleh. Itu satu-satunya hal yang gak bisa ku berikan padamu, Hibiya."

Hibiya menepuk lengan Shizuo. "Ku mohon. Aku benar-benar kenal mereka."

Shizuo menggeleng. "Haha itu tidak mungkin Hibiya. Orang itu sudah meninggal."

"Aku tahu..",ujar Hibiya mulai terisak. "Aku yang membunuhnya."

"Hah?! Kamu bilang apa Hibiya?"

"Shizune. Aku bilang gara-gara aku, adikku Shizune meninggal. Itu fotoku dan adikku."

Album di tangan Shizuo jatuh ke bawah sofa. Dia menarik Hibiya ke dalam pelukannya. "Tidak mungkin bukan, Hibiya,, kamu tidak mungkin..."

"Shichan? Aku benar-benar membunuhnya",ujar Hibiya membenamkan wajah ke dada Shizuo. Tangisannya pecah tanpa bisa di tahan.

Shizuo mengelus punggung Hibiya. "Ah-ahhaha... Kenapa.. Kenapa aku tak pernah menyadarinya? Oh, aku senang sekali. Senang sekali!",ujar Shizuo.

"Jahat!",ujar Hibiya tak percaya. Ia memukuli Shizuo. "Kenapa kamu senang tahu wajah adikku? Kamu pasti makin membenciku kan?",ucap Hibiya di sela isakannya.

Shizuo membuat Hibiya berbaring dalam gendongannya. Sehingga pandangan mereka bisa bertemu. "Kamu tidak membunuh adikmu, Hibiya. Aku memang merasa aneh nama adikmu sama. Tapi, orang di sebelah Shizune yang kamu maksud adalah kakak kembarku."

Hibiya menggeleng tak mau percaya. Shizuo tersenyum, namun kemudian air matanya turun. "Namaku berubah setelah Ayah mengadopsiku, Hibiya. Kamu juga!"

"Tidak. Aku tetap Izaya!"

Shizuo menggeleng. "Bukan. Benaran bukan. Nama Iza-niisama adalah Izanami. Makanya kubilang Mom menggunakan nama kakak. Mom bilang biar kami tidak lupa padamu."

"Huh, aku tidak ingat. Wanita itu memanggilku Iza-kun dan adikku.."

"Iza-niisama",jawab Shizuo tersenyum. "Kami kira kamu meninggal. Mom melihatmu di tangkap penjahat."

Hibiya merasa sedih sekali. "Mom.. kembali padaku?"

Shizuo mengangguk. "Mom sangat menyesal terlalu lemah dan tak bisa menolongmu."

Hibiya mengulurkan tangan, "Kamu benaran Shishi?"

Shizuo mengangguk. Dia memegangi tangan Hibiya dan menciumnya. "Aku sangat bahagia bertemu denganmu kembali, Iza-niisama. Kamu orang yang paling ku sayangi."

Hibiya menggigit bibir bawahnya sendiri. Terisak namun kemudian berhenti dan memegangi dadanya. "Sakit",ujar Hibiya.

"Iza-niisama?",panggil Shizuo panik.

Hibiya mengabaikan rasa sakitnya, dia menyentuh pipi Shizuo. "Shishi, ini mimpi kan? Aku juga sangat sayang padamu."

Shizuo mengangguk. Dia menarik Hibiya dalam pelukannya. Tak pernah menyangka, kalau Hibiya kembali ke bentuk semula dalam pelukannya dan ironisnya dalam keadaan sadar.

"Huh, kamu tidak tidur lagi?",tanya Shizuo.

Izaya tidak menjawab Shizuo. Dia menarik satu-satunya orang yang ia katai sebagai monster ke dekatnya dan mencium bibirnya. Shizuo membalas ciuman Izaya. Dia tertarik jatuh ke sofa oleh Izaya yang berada di bawahnya.

Setelah beberapa saat, Izaya yang entah sejak kapan memeluk dirinya melepas ciuman. Tersenyum dia berkata,"Shizu-chan ternyata Shishi. Kamu terlalu banyak berubah hingga aku tak bisa mengenalimu."

Shizuo berdecak. "Kamu tidak berhak mengataiku, Iza-niisama. Mulai sekarang, aku tidak akan membiarkanmu lepas dariku."

Izaya memejamkan mata. "Shizune... kamu tidak marah padaku?"

Shizuo menarik diri agar tidak membebani Izaya. Dia menyentuh pipi Izaya dan mengusap air matanya. "Tidak. Aku senang kamu masih hidup, Iza-niisama. Jangan salahkan dirimu. Kamu tak pernah salah."

Izaya membuka matanya. "Ne,,, Shizune.. Kamu akan mencarikanku pasangan bukan untuk lepas dari kutukan?"

Shizuo berpikir sejenak, lalu menggeleng. "Gak. Kamu hanya allergy. Kondisi tidurmu hanya karena kita pisah terlalu lama. Sekarang, kamu cukup ada aku, bukan?"

Izaya tak bisa menahan diri untuk tertawa. "Ironis sekali, musuh bebuyutanku ternyata adik kecilku."

Shizuo tertawa. "Iza-niisama, sekarang kamu akan bicara pada Shiki-san?"

Izaya mengamati Shizuo. "Urgh... Jangan dulu. Aku masih ingin memonopoli adikku",ujar Izaya menarik Shizuo duduk dengannya.

"Ku rasa sebaiknya kamu ganti pakaianmu dulu",ujar Shizuo. Dan setelah sukses baik hati mengingatkan, Shizuo di tendang tepat di kening oleh Izaya. Selagi Shizuo tengah mengaduh kesakitan karena Izaya benaran tendang sekuat tenaga, Izaya menyelinap ke kamar untuk memakai pakaiannya. Pakaian Hibiya sudah jelas rusak saat tubuhnya kembali normal.

Chapter Text

Chapter 18

Shinjuku, apartment Orihara Izaya.

Tsukishima membunyikan bel. Tidak lama, Namie keluar membukakan pintu. "Ada urusan apa?",tanya Namie masih menahan pintu.

Tsukishima mengetik di layar ponselnya dan menunjukkannya pada Namie. // Aku ada janji dengan Orihara Izaya untuk bertemu. Namaku Amaterasu Tsukishima. //

"Ah, boss-ku sedang keluar kota. Kamu bisa meninggalkan kontak",ujar Namie.

Tsukishima tampak kecewa. Dia mengibaskan tangan, mengetik dan menunjukkan ponselnya pada Namie. // Tidak perlu. Aku akan datang lagi akhir pekan nanti. Terima kasih, Yagiri Namie-san. //

Saat Tsukishima berbalik meninggalkan apartment Izaya, Namie menutup pintu. Keras dan Tsukishima menggelengkan kepala, lalu lanjut berjalan menuju lift.

***

Kampung maple merah, suatu perkampungan yang gak jauh dari kota Ikebukuro...

Ini sudah hari ketiga Shizuo dan Izaya di sana. Izaya sedang duduk di mulut jembatan dekat sungai. Sementara Shizuo sedang berada di dalam air sungai.

"Shizune! Cepat, ikannya berkumpul di sana!",seru Izaya.

Shizuo dan Izaya sedang senang bermain game kakak adik kali ini.

Shizuo berenang ke arah yang kakaknya maksud. Adanya ikan itu justru kabur.

Izaya berteriak penuh sesal. "Payah!",serunya.

"Sudahlah, kamu mau turun berenang saja?",ajak Shizuo.

"Aku gak bisa berenang",jawab Izaya.

"Tenang saja. Aku akan memegangimu ok?",bujuk Shizuo penuh harap.

Izaya menyilangkan tangan di depan dada. Berdiri dan lari meninggalkan jembatan menelusuri jalan kecil yang kanan kirinya di aliri air sungai yang menuju parit kecil di samping rumah Shizuo.

Tidak lama, Izaya kembali dengan beberapa potongan bambu runcing... "Shizune, tetap di tempatmu!",seru Izaya dengan mata berkilat penuh bahaya pada target di belakang Shizuo.

Shizuo menahan nafas. Dia benaran agak takut, walau tahu Izaya adalah Izanami, kakak laki-laki kembarnya, dia yang sudah jadi musuh bebuyutan Izaya selama hampir 10 tahun tetap saja waswas sama senjata yang pemuda berambut hitam itu lemparkan.

Shizuo terkesiap saat 3 bambu runcing sepanjang 15 cm melesat cepat dari sisi kanan lehernya. Saat dia berbalik untuk melihat nasib target Izaya, ia menemukan 3 ekor ikan yang cukup besar dengan kepala di tembus bambu runcing itu.

"Apa aku berhasil?",seru Izaya nyaring. Tangannya masih memegang sekumpulan bambu runcing yang sama.

Shizuo mengangkat 3 ikan yang ekornya masih menggelepar ke atas air. "Ini, sudah cukup kan?", balas Shizuo. Dia berenang ke dekat tangga untuk naik ke atas jembatan.

Izaya menghampirinya, dengan senyum lebar menepuk kepala Shizuo. "Haha bagus. Aku tidak salah menjadikanmu sebagai umpan",ujar Izaya.

Shizuo menatap Izaya dengan pandangan jengkel, namun tidak bergerak untuk menghajarnya. Bagaimanapun setelah tahu sosok Izaya adalah kakak yang selama ini ia sayangi dan kira telah mati, Shizuo tak sanggup untuk melukainya lagi.

Shizuo menaruh 3 ikan itu ke dalam ember yang berisi beberapa ikan yang berhasil ia tangkap dengan tangan. Dia berendam di air, Izaya duduk di tingkap tangga terakhir sebelum anak tangga lain yang terendam air. Kedua kakinya sengaja di celupkan ke dalam air.

"Izaniisama, bagaimana kalau kamu turun saja. Di sana ada batang pohon di bawahnya dan hanya sedada saja tinggi airnya",ujar Shizuo.

Izaya terlihat ragu, namun melihat Shizuo yang terlihat basah dan segar membuatnya merasa ingin. Dia menanggalkan T-shirtnya dan menaruhnya di anak tangga.

Shizuo terlihat senang. Dia berenang mendekat dan memegangi tangan Izaya. Izaya menahan nafas, bibirnya terkatup rapat, fokus menatap ke dalam air yang tak begitu kelihatan dasarnya. Air sungai itu bersih namun tidak sejernih mata air di antara bebatuan. "Eww..",pekik Izaya jijik saat kakinya menginjak dasar sungai yang berlumpur. Dia memindahkan dua tangannya ke atas pundak Shizuo.

Shizuo tertawa. "Ayo jalan saja hanya beberapa langkah untuk tiba di batang pohon yang ku bilang",ujar Shizuo.

Izaya hanya berjalan 2 langkah saat ada ikan yang berenang melewati kakinya. Dia mengangkat kedua kakinya dan alhasil kehilangan keseimbangan dan tubuhnya jatuh ke air. Shizuo segera menangkap pinggang Izaya dan menariknya keluar dari sentuhan air. Izaya melingkarkan kedua kaki pada pinggang Shizuo dan memeluk lehernya erat.

"Cukup, cukup. Aku gak mau lagi. Bawa aku naik!",pinta Izaya di sertai batuk-batuk kecil.

Beberapa gadis 20-an tahun yang baru datang ke sungai dengan menenteng ember berisi pakaian untuk di cuci tertawa melihat tingkah Izaya.

"Heiwajima-kun, apa itu adikmu?",tanya wanita berambut hitam dan bermata cokelat, Yuna-chan.

Shizuo berjalan ke dekat lokasi dimana ada batang pohon di bawahnya, lalu menurunkan Izaya. "Bukan, Yuna-chan. Ini kakak kembarku, Izanami."

Yuna dan 2 wanita lain yang datang bersamanya lalu menatap Izaya sekali lagi.

"Dia masih hidup?",tanya Akira, wanita berambut pendek warna cokelat. Usianya sekitar 28 tahun.

Shizuo mengangguk. "Iya. Masih hidup."

"Ahaha... Jadi, kamu sudah membawanya ke tempat itu?",tanya Nana, gadis remaja 16 tahun dengan rambut bergelombang warna putih.

"Hush Nana",tegur Yuna.

"Tempat apa, Shizune?",tanya Izaya heran.

Shizuo tersenyum gugup. Dia masih berdiri di dekat Izaya. "Tempat peristirahatan terakhir?"

Izaya tidak terlihat kaget. Dia tersenyum paham. "Aku juga memiliki tempat itu buatmu, Shizune."

"Kalian beruntung bisa bertemu lagi. Ikatan anak kembar memang luar biasa ya. Tak heran Namiko-san selalu tak henti membicarakan soal putranya ini",ujar Yuna.

"Benar, kamu pasti kaget setelah bertemu Heiwajima-kun bukan,, hmm Iza-kun?",tanya Akira. "Biarpun sekarang kelihatan kuat begini, dulu dia sangat cengeng dan lemah. Dari kecil biasanya bermain di dekat depan rumah kami agar tak di ganggu anak-anak lainnya."

"Akira-san, aku tidak selemah itu",protes Shizuo dengan pipi agak memerah.

Izaya tertawa mendengar itu. "Kenapa bisa sekuat ini tiba-tiba---ah, patah tulang...",gumam Izaya.

"Ah, ya. Sangat di sayangkan",ujar Nana. "Padahal Shizuo-san sangat tampan. Tapi kami gak berani mendekat takut kena amukannya."

"Jangan dengarkan Nana, dia terlihat manis saja, Izaniisama. Dia lebih parah darimu!",ujar Shizuo.

"Shizuo-san, tidak boleh menjelekkan orang di depan. Aku baru mau merayu Izanami-oniisama milikmu untuk jadi calon kekasihku!",ujar Nana mengirimkan tiupan ciuman dan kedipan genit ke arah Izaya.

Izaya tertawa geli saat Shizuo memberengut kesal dan mencipratkan air ke arah Nana, dimana alhasil kena Akira dan Yuna juga.

"Gyaa, hentikan",seru Nana berlari sembunyi di belakang Akira dan Yuna.

"Duh protective sekali, Heiwajima-kun. Kamu tidak begini waktu Kasuka di godai",ujar Akira mendecak.

Izaya memegang tangan Shizuo dan coba menceburkan kepalanya ke air hanya beberapa saat, lalu memunculkan kepalanya lagi. Dia mendapati Shizuo memandanginya.

"Huh, kenapa?",tanya Izaya bingung.

"Tumben, kamu diam sekali?",ujar Shizuo. 3 wanita itu tengah asyik bergosip ria sambil mencuci baju.

"Ah, aku hanya tidak ingin mengacaukan orang di kampung halamanmu",jawab Izaya pelan. "Apa kita naik saja. Ini beda dengan bath-tub."

"Tentu saja beda. Kalau kita datang lebih pagi, ada penjual sayur yang memakai perahu kecil singgah. Ibu-ibu di sini biasa senang memberi sayur padanya."

"Benarkah? Kita besok bisa datang pagi-pagi?",tanya Izaya.

"Ya. Habis mandi, aku akan bawa Izaniisama main ke kebun mau?",tanya Shizuo.

"Tempat Ayah Shizune bekerja?",tanya Izaya.

"Ya. Kita akan melewati hutan kecil yang di tanami buah manggis,, ya belum musim berbuah sih. Kalau durian iya.. Setelah itu sampai deh kita di kebun."

"Kebun tempat menanam sayur?",tanya Izaya.

"Sayur ada beberapa ledeng lahan saja, selebihnya ada rumah kaca berisi aneka jamur dan sebelahnya buah strawberry."

"Erghh...",gumam Izaya mendengar nama buah yang jadi masalah besarnya itu. Shizuo mengerti dia menangkup air dan membasahi kepala Izaya yang berhenti mencelupkan kepala ke air. Dia tak ingin Izaya pusing karena ini sekitar jam 9 pagi lewat dimana matahari cukup panas.

"Jangan makan saja, aman kan?",ujar Shizuo santai sambil melihat Izaya mengusap air di sekitar matanya.

"Aku tidak akan makan. Tapi, kamu suka sekali buah itu kan?",tanya Izaya.

Shizuo tersenyum. "Yup. Aku mungkin akan memetik sekeranjang penuh dan menaburi gula di atasnya."

"Kedengarannya enak",ujar Izaya. "Walau aku tidak suka manis, strawberry segar asam manis begitu kan rasanya?"

"Huh, pernah makan diam-diam?",tanya Shizuo.

"Waktu kelulusan SMP. Setelah itu, aku di tegur Shiki-san habis-habisan",jawab Izaya.

Shizuo menarik Izaya mendekat. Dia memeluknya membuat Izaya menatapnya dengan aneh. Sedikit menyeringai kecil, Shizuo berkata,"Mau coba tes allergy mu sudah sembuh atau belum?"

"Gak mau",jawab Izaya menyeruduk kepala Shizuo. Dia menepis sang adik dan berbalik dengan niat berjalan menuju tangga.

Byuurrr!!

Izaya tercebur ke dalam air. Panik membuatnya lupa bahwa dia bisa menginjak dasar sungai. Shizuo segera mencoba meraih Izaya kembali. Izaya berusaha menggapai apa saja. Setelah tangannya bertemu tangan di dekatnya, ia meraihnya.

Saat ia kembali tertarik ke permukaan, Izaya panik melihat ia berpegangan pada seorang pemuda sekitar 23 tahun berambut putih dan bermata merah. Pemuda itu cukup tampan dengan tanda lahir di bawa mata kirinya.

"Hey, kamu baik-baik saja?",tanya pemuda itu.

"Izaniisama!",seru Shizuo berenang mendekat. "Kamu gak apa?"

Izaya mengangguk cepat. Dia merasa Shizuo menariknya kembali. "Terima kasih sudah menolongnya, Shinichi-san",ujar Shizuo.

"Ya, tidak apa",jawab Shinichi. Matanya memperhatikan Izaya, kemudian bertanya,"Hei, kamu tak mengenaliku, Iza-chan?"

Mata Izaya terbuka lebar begitu mempelajari sosok Shinichi. "Huh, Tsukumoya Shinichi anak yang mengompol saat baca puisi di acara pentas seni sekolah waktu sd bukan?",celetuk Izaya tanpa pikir panjang.

Shizuo menatap Izaya yang mengucap kalimat itu dengan datar dan wajah Shinichi yang memerah seketika. Dengan tangan menutupi wajahnya, Shinichi berkata,"Duh, jangan mengingatku dari hal memalukan itu. Aku yang memberimu bunga setiap hari di saat SMP."

"Maksudmu mawar merah?",tanya Izaya, ada aura gak enak mulai keluar dari diri sang kakak, Shizuo tidak begitu mengerti.

"Ya",ujar Shinichi bangga. "Kamu suka kan?"

"Ne, Shizune,,, bisa lemparkan dia ke tengah sungai sana?",tanya Izaya.

Sebelum Shinichi mencerna perkataan Izaya, pemuda malang itu sudah merasa rambutnya di tarik dan tubuhnya terbang melampaui tengah sungai.

"Gimana, bagus?",tanya Shizuo.

Izaya tertawa dia menyanderkan kepala ke leher Shizuo yang menggendongnya keluar dari air. "Yup. Shinichi-kun pantas di beri pelajaran. Dia mengirimiku mawar yang masih ada durinya dan itu selalu melukai tangan Shinra."

"Kenapa malah Shinra?",tanya Shizuo menurunkan Izaya di jembatan. Keduanya mengabaikan Shinichi yang tengah berenang kembali ke jembatan, ya masih 20 meter jauh.

"Shinra ingin memberi bunga yang mau ku buang pada Celty. Mengerti?"

"Oh",sahut Shizuo.

Izaya memakai t-shirtnya lagi. Shizuo menenteng ember berisi ikan dan keduanya basah kuyup jalan kembali ke arah rumah.

***

 

Keduanya sedang bersantai di halaman. Shizuo tengah bercerita tentang kejadian-kejadian yang ada di kampungnya. Dia cerita karena Izaya terus merengek ingin tahu.

Di tengah bercerita, ada telepon masuk dari Shinra. Shizuo mengangkat ponselnya dan menuruti isyarat dari Izaya yang minta agar panggilan itu di loud speaker.

"Hello, Shinra!",sapa Shizuo dan Izaya bareng.

"Hei, Izaya. Kamu baik-baik saja?",tanya Shinra.

"Ya",jawab Izaya.

"Dia baik-baik saja. Shinra, ada apa menelepon?",tanya Shizuo.

"Celty ingin dengar suara Hibiya. Tapi, anak itu sudah membesar kedengarannya." ujar Shinra.

"Bicara soal Hibiya.. Aku mau tanya sesuatu",ujar Izaya.

"Apa, Izaya-kun?",tanya Shinra.

"Kali ini saat kembali ke wujud besar, aku tidak tidur lagi",ujar Izaya.

"Ya. Apa ini artinya allergynya sembuh?",tanya Shizuo.

"Hah, apa dia dapat pacar?",tanya Shinra.

"Ya. Dapat!",jawab Izaya riang. Tangannya di taruh di bibir Shizuo agar tidak sembarangan bicara.

"Ah, sayang sekali. Bagaimana pacarmu, alien, hantu atau raksasa?",tanya Shinra tidak begitu percaya.

"Nama pacarnya Shizune",ujar Shizuo menepis tangan Izaya.

"Hah? Benaran? Oi, Izaya!",panggil Shinra.

Izaya mencoba merebut ponsel dari tangan Shizuo. Shizuo mengangkat ponsel itu di atas kepala dan terus bicara pada Shinra tentang pacar Izaya. Yang sebenarnya hanya nama asli dirinya.

Izaya menggelitik pinggang Shizuo. Saat Shizuo lengah karena tertawa karena geli, dia berhasil mengambil ponselnya. Shizuo menangkapnya sebelum Izaya coba kabur.

"Sudah ya, Shinra. Bye!",ujar Shizuo dan menjatuhkan ponsel itu jauh dari jangkauan Izaya.

Izaya meronta ingin di lepaskan. Tapi, Shizuo mengangkatnya seperti memikul beras. "Ayo ke tempat Ayahku saja, Iza-niisama!",ujar Shizuo mengabaikan ponselnya yang ternyata masih tersambung panggilannya.

"Shinra belum jawab pertanyaanku, Shizune!",ujar Izaya mencoba turun.

"Dia kan harus memeriksamu lagi",ujar Shizuo setelah keluar dari halaman baru menurunkan Izaya. Dia menggandeng tangan Izaya,"Ayo bersenang-senang sedikit besok siang kita sudah akan kembali ke Ikebukuro kan?"

"Bagaimana dengan Tsukki?",tanya Izaya jalan mengikuti Shizuo.

"Kita bisa menjenguk Daddy Keysuu-mu bukan?",ujar Shizuo santai.

"Tidak Shizune. Aku bukan Roppi. Lagipula, bisa jadi Tsuki adik kita bukan?",ujar Izaya.

"Bukan bisa jadi, kurasa begitu. Tapi, kamu yakin mau biarkan dia tahu hubungan kita? Dia hidup bahagia dan dengan menjadi adik kita, Tsukki akan berada dalam bahaya."

"Kau benar. Mungkin sebaiknya jangan beritahu. Tapi, aku ingin bertemu untuk mendengar apa keinginannya menemuiku."

"Ya. Kita bisa pikirkan besok."

Keduanya berjalan memasuki hutan kecil yang menjadi pembatas kebun dan rumah. Izaya tak sabar untuk melihat kebun pertama kalinya.

Chapter Text

Chapter Akhir

Keesokan harinya, Izaya dan Shizuo kembali menaiki kereta untuk pulang ke Ikebukuro.

Izaya duduk di dekat jendela dan Shizuo di sampingnya. " Shizu-chan, rahasiakan soal kita dari yang lain ya. Aku ingin cukup kita saja yang tahu."

"Rahasia yang mana, Iza-nii?",tanya Shizuo. Dia membuka bungkusan snack potato dan menawarkannya pada Izaya. Namun, sang informant hanya menggeleng.

"Soal kalau kita kakak adik kembar harus di sembunyikan. Nama asli kita juga, mengerti?"

"Memangnya kenapa? Kupikir aku ingin membatasi jarak agar tidak ada yang sembarangan mengusikmu, Iza-nii."

"Shizu-chan, aku takut saat mimpiku jadi kenyataan dimana aku mengacaukan Ikebukuro terjadi, kamu akan di salahkan."

"Itu takkan terjadi. Aku akan menghentikan Iza-nii sebelum semua terjadi",ujar Shizuo. "Percaya padaku."

Izaya menyandarkan kepalanya di bahu Shizuo. "Aku tidak bisa melawan mimpiku, Shizu-chan. Aku hanya harap jika saat itu tiba, kamu bisa menghentikanku. Aku ingin kamu mengakhiri hidupku jika saat itu tiba."

"Jangan bicara hal buruk seperti itu, Iza-nii. Shizune akan selalu ada saat Iza-nii perlu seseorang di dekatmu. Jadi, Iza-nii tidak akan memikirkan hal buruk seperti mengacaukan Ikebukuro lagi."

"Aku percaya padamu, Shizu-chan. Berusahalah, tapi saat gagal, tolong akhiri hidupku ok?"

Shizuo berhenti ngemil. "Gak mau. Aku tidak mau sendirian, jadi aku akan membawa Iza-nii pergi dari Ikebukuro dan hidup berdua saja."

Izaya tersenyum. "Kamu tidak takut ku ganggu setiap hari?"

"Shizune sayang Iza-nii. Kalau kesal, Shizune hanya akan menaruh kepala ikan untuk Iza-nii."

Membayangkan saja membuat Izaya ngeri-ngeri sedap. "Err... tolong jangan."

Shizuo tertawa pelan. "Ah rasanya aneh bisa duduk tenang bersama Iza-nii. Apa sikap Iza-nii akan tetap begini saat kita tiba di Ikebukuro?"

"Rasanya sulit untuk membencimu setelah tahu hal sebenarnya. Aku selalu mengataimu monster bukan? Ya, darah kita sama, jadi aku bisa menampung setengah monstermu",ujar Izaya.

"Ugh, Iza-nii, aku tak suka di katain monster. Tolong hentikan",ujar Shizuo lanjut memasukkan potato ke mulutnya.

"Baiklah",ujar Izaya menyerah. "Aku rasa kamu tak perlu khawatir hal gak penting. Lagipula tugasmu selesai. Aku bisa kembali ke bentuk semula kalaupun mengecil asal menciummu saja. Tanpa efek tidur, ku rasa tidak apa-apa."

"Maksud Iza-nii apa?"

"Pekerjaanku pasti menumpuk, untuk beberapa minggu mungkin aku tak bisa mengunjungimu di Ikebukuro. Kecuali kalau aku mengecil",ujar Izaya.

"Bukan. Apa maksud Iza-nii tugasku selesai?"

"Ah, aku tahu Shiki-san memintamu mencarikan pasangan buatku agar aku tidak masuk tidur panjang bukan?"

"Ketahuan. Iza-nii tak marah?"

Izaya tertawa. "Gak. Beberapa minggu ini cukup menyenangkan. Kalau bukan karena masalah allergy, mungkin aku takkan tahu kalau kamu adikku."

"Tidak, Iza-nii. Kita harus berterima kasih pada Simon. Kalau malam itu dia tidak menyuruh kita duduk bersama, aku takkan mencium Iza-nii",ujar Shizuo menoleh pada Izaya, ia mengedip saat mata mereka bertemu.

Izaya menghadap Shizuo dan mencubit pipi Shizuo. "Oh iya, kalau di ingat-ingat kamu yang mulai semua masalah ini ya."

"Sakit, Iza-nii. Hentikan",protes Shizuo. Menjauhkan dan menahan tangan sang kakak dalam genggamannya.

"Dengar, Shizu-chan. Kalau aku dengar kamu mencium orang sembarangan lagi, aku akan membayar semua pekerja toko kue agar tidak menjual kuenya padamu!",ancam Izaya menatap tajam penuh peringatan pada sang adik.

"Jangan di coba, Iza-nii. Aku hanya suka mencium Iza-nii."

"Lepasin tanganku?"

Shizuo membebaskan tangan Izaya. Izaya memeluk kepalanya dan mengelusnya dengan gemas sedikit geram pada sang adik. "Buang hobi anehmu. Kamu hanya boleh menciumku dengan tujuan mengembalikan bentuk asliku!"

"Pelit",ujar Shizuo membuang muka.

"Suka-suka aku",ujar Izaya masa bodo.

"Ne, Iza-nii, kalau aku bawakan ootoro, boleh kan aku berkunjung ke apartmentmu walau kamu sibuk?",tanya Shizuo tanpa menoleh.

"Kalau ootoro tinggal minta Celty antarkan saja, Shizu-chan."

"Huh, dasar gak peka. Apa aku gak punya hak ketemu kakak kembarku? Mairu, Kururi saja boleh ke tempatmu!"

"Ho oh? Kamu mau membandingkan dengan anak SMP? Shizu-chan jangan kekanakan. Sabar saja, aku pasti akan menemuimu saat waktuku senggang."

"Terlalu gak pasti. Apa aku boleh telepon?"

"Jangan. Mengganggu konsentrasi."

"Sms?"

"Biasanya hanya ku abaikan dan ku hapus serentak kalau menumpuk",ujar Izaya.

"Kalau ku dobrak pintumu?"

"Aku akan lapor polisi."

'"Huh, kalau dia mengecil, takkan ku kembalikan ku bentuk semula"

"Kedengaran, Shizu-chan."

Shizuo menatap jengkel pada Izaya yang menatap cuek pasanya itu. "Boleh ku pukul sekali?"

Izaya tertawa melihat usaha Shizuo mencoba bersabar. Dia menunduk dan mengecup keningnya. "Jangan ngambek. Hanya sementara, Shizu-chan."

Saat stasiun Ikebukuro tiba, Shizuo menarik Izaya ke arah kamar kecil yang cukup sepi. "Iza-nii, boleh minta pelukan?"

"10000 ¥ ", jawab Izaya. Namun memeluk Shizuo saat melihat Shizuo tampak kecewa. "Sudah ya, bye."

Shizuo menarik tangan Izaya sebelum dia pergi. "Iza-nii, Namie-san itu apa hanya sekretaris?"

"Yup. Kamu suka padanya?",tanya Izaya tersenyum.

"Gak. Aku hanya memastikan Iza-nii bukan pacarnya."

"Pacarku Shizune kan?",balas Izaya. "Aku takkan selingkuh, tenang saja Shizu-chan."

Izaya berlalu sambil tertawa. Shizuo menggeleng, dia berjalan keluar dari stasiun.

'Iza-nii, sayangku dan sayangmu sepertinya berbeda ya? Aku benar-benar menginginkanmu seperti Shinra menginginkan Celty.'

Shizuo tampak sedih, namun menjadi sang adik bagi Izaya juga langkah pertama bukan?

Izaya tampak gembira masuk ke dalam kereta tujuan Shinjuku. Bersama Shizu-chan membuatnya begitu senang. Tak berubah dari SMA hingga sekarang.

'Untung saja, Shizu-chan gak tahu kalau aku tidak benar-benar benci padanya selama ini. Aku hanya benci dirinya yang pintar membaca segala taktikku. Aku tak sabar bertemu lagi dengannya.'

 

----

Strawberry Kiss Tamat

Jika ingin tahu kisah mereka setelah ini, baca saja Falling to the darkness. ^_^