Actions

Work Header

Weekend Scenario(s)

Chapter Text

1.

Sabtu pagi, pukul…

 

“Ming-ge~” terucap dengan inosen, senyuman lebar terkulum di bibir. “Baju yang ini cocok buatku enggak?” diucapkan sambil berputar kecil, bertumpu pada satu kaki.

 

Bukannya menjawab pertanyaan si gadis berambut panjang, Ming Yi malah memusatkan perhatian ke jam di ponselnya. Sekarang pukul setengah sebelas, sementara mereka sudah berada di sini sejak pukul sembilan lewat limabelas menit.

 

Dan Shi Qing Xuan masih belum selesai mencoba pakaian yang menarik perhatiannya.

 

Tanpa belas kasihan sedikitpun, ia bertitah, “Kutinggal kau kalau belum selesai shopping sekarang.”

 

Satu pekikan histeris, disusul derap langkah tergesa menuju meja kasir. Ketika Shi Qing Xuan menarik lengannya, Ming Yi merasa seperti helai daun yang diterbangkan angin topan.

 

2.

Saat waktu untuk memasak mie instan lewat, Ming Yi sudah menemukan dirinya duduk di salah satu bangku kosong untuk pengunjung mall. Tas kertas berisi hasil buruan Shi Qing Xuan duduk manis di pangkuannya, sementara pelaku utama yang menyeretnya keluar rumah di akhir pekan pamit ke kamar kecil.

 

Hiruk pikuk terdengar tak jauh dari tempatnya duduk. Dari suatu kios, beberapa pasangan keluar bergandengan tangan dengan senyum dan canda tawa.

 

Ming Yi termenung sejenak.

 

3.

“Ming-ge, maaf bikin nunggu lama barusan Gege—“

 

Shi Qing Xuan mematung. Sudah tidak ada orang di tempat Ming Yi seharusnya berada. Senyuman di wajahnya perlahan memudar, ucapan sang Kakak kembali terngiang.

 

Tentang betapa tidak cocoknya ia dengan ‘Ming-ge’. Tentang kenyataan bahwa ‘Ming-ge’ hanya menganggapnya sebatas teman. Tentang ‘Ming-ge’ yang akan meninggalkannya begitu saja tanpa pamitan, dan hal-hal buruk lain yang tidak ingin ia ingat…

 

Bibir berlapis lip gloss transparan digigit. Jemari berkuku rapih dan dipoles cat hijau mint mencengkeram rok hijau toska selututnya. Kepalanya tertunduk; helaian rambutnya yang panjang menghalangi pandangan orang-orang dan menyembunyikan air mata yang mengancam akan tumpah tak lama lagi.

 

Setidaknya, sampai ia melihat sebuah tangan menyodorkan paket menu fast food yang kelewat familiar. Satu bucket berlogo gambar seorang kolonel berkacamata, warnanya didominasi nuansa merah dan putih. Isinya berupa nugget, ayam goreng, dan kentang goreng—lengkap dengan saus tomat.

 

“Aku kehabisan crepe spesialnya.”

 

Satu kalimat. Diucapkan dengan singkat, padat, dan jelas. Dari seorang lelaki berjaket hitam longgar. Wajahnya minim ekspresi, sedangkan tangannya penuh barang bawaan. Kedua telapak tangan menyodorkan makanan. Tas kertas berisi pakaian hasil buruan Shi Qing Xuan menggantung di lengan kirinya.

 

Shi Qing Xuan cepat-cepat menyeka air matanya. Dengan dagu terangkat dan wajah sedikit dipalingkan, ia berkata agak ketus, “Seenggaknya mampir ke bakery atau apa gitu, buat ganti yang manis-manis!”

 

Ming Yi tidak berkomentar saat ember mini berisi junk food itu direbut dari tangannya. Ia masih bungkam saat Shi Qing Xuan menggigit barbar salah satu nugget ayam, sangat tidak mencerminkan sosok nona muda dari keluarga konglomerat. Ia juga masih bungkam ketika mendapati mata Shi Qing Xuan yang agak bengkak.

 

Dalam hati, ia bersyukur eyeliner yang dipakai Shi Qing Xuan hari ini tipe waterproof.

 

4.

Baru saat Shi Qing Xuan menyentuh paha—AYAM—favoritnya, Ming Yi angkat bicara:

 

“Jauhkan tanganmu dari paha(ayam)ku, makhluk terbang tak dikenal.”

 

“MING-GE JAHAT SUMPAH.”