Actions

Work Header

Listen To Me!

Work Text:

Buddy Complex © Sunrise and Funimation
I have no right to take any advantage.

 


 

Seorang gadis dengan setelan Corporal tampak berlari menyusuri lorong dengan kecemasan yang tersirat di paras manisnya.

Langkahnya terhenti sesampainya dia di depan ruang medis—tempat tujuannya. Hatinya mencelus seketika saat melihat sosok yang dikhawatirkannya tengah terbaring tak berdaya.

“Dio!” segera ia hampiri pemuda bersurai pirang itu.

“Nessa …?” sang pemuda menyahut lemah. “Kenapa kau di sini …?”

Gadis itu, Anessa Rossetti, mendekat dan duduk seraya membenamkan wajahnya di sisi pemuda tersebut.

“Bodoh! Tentu saja aku khawatir denganmu!” ia merajuk dengan suara bergetar dan sekepal tangan yang meremas tepian ranjang.

Pemuda bermarga Weinberg itu tersenyum tipis. Dirangkulnya bahu mungil sang gadis sembari mengucapkan sepatah kalimat. “Aku akan baik-baik saja, kaupercaya, ‘kan?”

Anessa mengangkat wajahnya dan menatap Dio dengan kedua mata berpendar. “Berapa kali kukatakan padamu, aku tak suka melihatmu memaksakan diri! Aku benci melihatmu kesakitan! Aku benci mengetahui kalau kau menyakiti dirimu sendiri!”

Buliran air mata berjatuhan seirama dari sudut-sudut permata madunya. Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangan dan mengeluarkan isakan-isakan yang membuat bahunya bergetar.

Sang pemuda, walau sembari menahan nyeri, beringsut untuk membawa gadisnya dalam dekapan. “… Dan aku benci melihatmu menangis karena diriku, kautahu itu,” ujarnya pelan.

“Itu semua … karena kau tak mau mendengarku, ‘kan?!” seru Anessa, berusaha memukul tubuh kekasihnya namun tertahan oleh genggaman tangan.

“Aku mendengarmu.”

“Bohong! Kau tidak pernah mendengar perkataanku! Yang tadi pun tidak!”

Yang tadi ….” Dio mengerutkan dahi sembari melonggarkan pelukannya. “Yang mana?”

Apa yang kaulakukan, Dio? Jangan gegabah menyerang musuh seorang diri seperti itu!” Anessa menirukan kembali suara berikut ekspresi paniknya beberapa waktu lalu—ditambah sedikit gembungan di pipi.

Ara ….” pemuda itu mendengus geli. “Jadi itu suaramu, Nessa,” ujarnya sambil menepuk puncak kepala sang gadis.

“Eh, apa? Jangan bilang kau tidak mengenali suaraku …?”

“Duh. Tentu saja aku kenal, tapi yang tadi itu mungkin ada distorsi dalam gelombang radionya, jadi suaramu tak begitu jelas ….” ujar Dio.

“Hum … pantas saja ….”

“… Omong-omong, aku malah sempat berpikir kalau itu suara Aoba, lho. Jadi aku abaikan saja,” lanjut si surai pirang dengan ekspresi bak orang tak berdosa.

“… Eeeeeeeeeh?! Telingamu kenapa, sih, masa enggak bisa membedakan suara cewek dan cowok?! Dio tega …!” Anessa kembali merajuk.

“Ya ampun, Nessa, aku hanya bercanda … tentu saja aku tahu itu suaramu ….” Dio merengkuh pipi gadis bersurai merah muda itu.

“Ja-Jadi tadi kau sengaja mengabaikan aku?!”

“’Kan sudah kubilang, ada distorsi gelombang radio. Duh, kau ini ….” Dio berujar gemas.

“Bohong! Dio pasti bo—“

 

Cup.

 

“—Umph.” tubuh Anessa mengejang sesaat ketika Dio menyegel bibirnya.

Lalu pemuda tersebut melepas pagutannya, menatap kedua permata madu itu dengan intens. “Jangan banyak berseru, sayang, aku tidak bisa mendengarmu ….” bisiknya.

Ugh ….” gadis itu menunduk malu, berusaha menyembunyikan rona merah di wajahnya. “Baiklah. Tapi lain kali kau harus mendengar setiap perkataanku, janji?” ia menunjukkan jari kelingkingnya.

Hn. Tentu saja ….” sang pemuda menautkan kelingkingnya. “… Oh ya, akan kuperbaiki radio milik Bradyon secepatnya,” ia melanjutkan.

Anessa tersenyum riang. “Bagus!”

 

END