Actions

Work Header

hana wa saku

Chapter Text

Cantik.

Jika seseorang diminta menggunakan kata itu untuk mendeskripsikan satu saja member Iginari Tohoku San, tentu jawabannya akan bervariasi. Cantik itu relatif. Subyektif sesuai dengan selera si penilai.

Sebagian mungkin akan menjawab Yasumori Waka. Tidak bisa dibantah, tentu saja. Tuhan barangkali telah memilih bagian-bagian paling sempurna untuk dipahat di wajah gadis itu. Atau mungkin Sakura Hinano. Dia punya kecantikan yang dipadu dengan wajah imut. Bagi yang mudah luluh dengan perilaku menggemaskan, mungkin akan jatuh pada Ritsuki Hikaru.

Tapi, Date Kaaya adalah satu-satunya yang ada dalam retina Kousaku.

Orang-orang bilang, Kaaya hanya versi perempuan dari kakaknya, Ryubi. Hanya Ryubi versi berambut panjang. Tapi bagi Kousaku, Kaaya adalah Kaaya. Dia punya sejuta hal yang tidak akan mungkin ditemukan dalam diri Ryubi. Kaaya punya pesona sendiri, yang telah berhasil memerangkap Kousaku dalam satu fokus atensi saja.

Hari ini, lagi-lagi jadwal latihan Ebidan Sendai dan Iginari Tohoku San bertabrakan. Terjadi adu mulut selama beberapa menit oleh Kaaya dan Ryubi, yang kemudian dibubarkan oleh Karen. Seperti biasa mereka sepakat untuk membagi tempat latihan menjadi dua. Tapi karena dinilai tidak efektif—berhubung mereka berlatih menggunakan musik—akhirnya mereka memutuskan untuk bergantian. Beberapa member sudah menggerutu karena waktu latihan menjadi lebih sedikit.

Kousaku sih, senang-senang saja.

Kaaya menggulung rambutnya di puncak kepala. Tidak terlalu rapi. Helai-helai masih berjuntai di leher, sebagian menempel oleh peluh. Dia hanya memakai kaus polos dan celana selutut. Wajahnya pun polos tanpa makeup—barangkali hanya bedak asal tabur beberapa menit sebelum berangkat.

Mungkin yang barusan bukan deskripsi perempuan cantik. Tapi, jika bukan, mengapa Kousaku tak bisa melepas tatap dari Kaaya?

Musik mengalun. Musik yang ceria dan menghentak-hentak, seolah mengundang para member Ebidan Sendai untuk ikut menggoyangkan tubuh. Kaaya berada di posisi tengah. Setiap gerakan Kaaya seakan dipoles dengan euforia. Tangan diangkat dengan mantap, lalu diayunkan dengan penuh semangat. Kemudian ia melompat setinggi-tingginya, serasa seluruh tenaganya ada di lompatan itu.

Satu lagu berakhir dan Kaaya seperti tidak kehilangan energi satu mili pun. Ia tetap mengakhirinya dengan tawa—yang tiba-tiba membuat dunia Kousaku bagaikan berpindah di bawah naungan wisteria.

“Jangan tertipu.” Tiba-tiba saja Ryubi sudah ada di sebelah Kousaku. Kousaku tersentak. “Tertipu apa?”

“Adikku. Memang cantik, tapi aslinya banyak tingkah. Nggak ada cewek-ceweknya.”

Kousaku mendadak jadi salah tingkah. Ia tertangkap basah memandangi Kaaya oleh kakak Kaaya sendiri. “A-Aku tahu kok dia banyak tingkah.” Oh, mungkin itu bukan jawaban yang tepat. Kenapa Kousaku malah menjawab seolah ia memang selalu memperhatikan Kaaya (walaupun kenyataannya memang begitu)?

Ryubi tertawa. “Haha, tapi kamu suka, ‘kan.”

Ryubi berlalu seakan ia tidak mengucapkan sesuatu yang berarti.

Tapi pipi Kousaku sudah menghangat mendengarnya.