Actions

Work Header

Kalau Memang Jodoh

Chapter Text

Sepasang belahan jiwa yang telah saling bertemu itu berjalan menaiki undakan Gedung Administrasi Jodoh pada Jumat siang. Cuaca tidak begitu bagus ketika itu, tipikal pertengahan bulan November: matahari bersinar samar dari balik gumpalan awan kelabu yang memadati langit dan angin bertiup kencang menerbangkan dedaunan kering serta debu. Skarf yang terpasang longgar berkibar dan bukaan jaket berkelepak, akhirnya pasangan itu berhasil menyelesaikan rangkaian tangga dan kini membuka pintu ayun dengan kekuatan yang sedikit berlebih. Keriut tajamnya, juga deburan angin menusuk kulit dari luar ruangan, menarik perhatian staf yang duduk kebosanan di meja penerima.

“Ada yang bisa kubantu,” pria itu menatap kedua orang di seberang meja bergantian dengan sorot mata yang lesu, “Tuan-tuan?”

“Ya, tentu saja. Makanya kami ke sini,” jawab Lee Taemin cepat seraya meletakkan satu map manila berwarna merah ke atas meja. Sedikit membantingnya, bahkan, hingga empasan anginnya cukup membuat satu-dua helai rambut depan si petugas pria melayang lambat. “Kami berniat pisah.”

Itu jelas bukan sesuatu yang tidak lazim bagi si petugas menilai dari ragam ekspresi yang nyaris nol di wajahnya. Barangkali, tidak seperti rambutnya, dia tidak mudah tergugah oleh ketegangan dan emosi yang meledak-ledak dari para pengunjung kantornya. Dia menarik map mendekat menggunakan ujung jari, tapi matanya yang suntuk itu tetap ditujukan kepada kedua orang di depannya—tepatnya pada benang merah yang menyambungkan kelingking-kelingking kiri mereka.

“Kalian jodoh,” dia tidak bermaksud memberitahu apalagi membantah, melainkan hanya menyatakan fakta. Namun, pundak Lee Taemin menegang dan rahang Choi Minho mengeras, seperti baru saja mendengar satu komentar paling ofensif di perjalanan hidup mereka.

“Itu tidak mengubah kenyataan bahwa kami tidak cocok. Kami tetap ingin menyatakan bahwa benang merah ini tidak valid lagi,” sahut Minho datar, mendahului Taemin yang sejatinya sudah buka mulut. Dia, mengabaikan pelototan Taemin, melanjutkan, “Lagi pula, konsep mengenai kau harus tinggal selama-lamanya bersama orang yang terikat padamu sudah mulai kuno.”

Taemin membetulkan letak maskernya sambil memutar bola mata. “Yeah, benar.”

Petugas itu memandangi mereka bergantian sekali lagi. “Aku akan segera meneruskan permohonan kalian,” akhirnya dia berujar, map dipindahkan ke puncak tumpukan merah yang tipis, bersandingan dengan segunung map warna krim yang nampaknya berkontradiksi dengan perkataannya barusan. “Tapi apakah ada alasan kalian harus menyembunyikan wajah?”

Celetukan itu seketika membuat Minho semakin menekankan gagang kacamata hitamnya ke pangkal hidung, sedangkan Taemin menurunkan lidah topi. “Tidak ada alasan,” jawab Minho dan Taemin menimpali, “Hanya mengikuti tren.”

“Baiklah.” Agaknya pertanyaan si petugas tadi tidak mengandung kepedulian yang tulus; dia tidak peduli. “Aku akan menghubungi lagi kalau permohonannya sudah diproses. Untuk sementara, kalian bisa kembali ke persembunyian kalian atau apalah.”

“Baguslah,” gumam Taemin.

“Kami tidak bersembunyi,” sanggah Minho, tapi sama-sama bergumam.

Determinasi serta kobaran api yang sempat membawa mereka secara menandak-nandak ke sini telah surut, digantikan keraguan yang semakin kentara. Mereka menggaruk leher, memegangi lengan, dan melirik sekeliling dengan gelisah, tidak ada yang benar-benar terpikir untuk meninggalkan tempat, seolah akan ada hal besar yang hilang jika kaki mereka sampai beranjak.

“Tidak banyak yang bisa bertemu dengan belahan jiwa mereka sampai akhir hayat,” si petugas mendadak berbicara, mengagetkan keduanya. “Coba renungkan lagi.”

 

‘Coba renungkan lagi?’ Bah. Taemin menggerutu dalam hati sambil memasuki pintu penumpang depan BMW X1 milik Minho, si empunya sudah duduk di kursi kemudi dan sedang mengenakan sabuk pengaman. Masih banyak sekali orang yang berpikiran bahwa belahan jiwa merupakan harta paling berharga dalam hidup, dan bagi Taemin itu adalah konsep paling menggelikan yang pernah ada. Ya, kelingking kalian disambungkan oleh benang merah semitransparan yang fleksibel, tapi memangnya kenapa? Itu tidak menjamin kau dan pasanganmu adalah dua keping puzzle yang saling melengkapi; bisa jadi kalian justru saling menikam dan mencakar, seperti kasus yang dialami Taemin sekarang.

Sekarang dan seterusnya, karena benang ini tidak memiliki fungsi apa-apa kecuali memastikan dua orang yang terikat di dalamnya tidak akan terpisahkan sampai maut yang melakukannya Begitu saja sebenarnya prinsip belahan jiwa. Namun, media membesar-besarkannya dan memberikan taburan kelopak mawar banyak-banyak supaya kelihatan jauh lebih romantis ketimbang aslinya. Sepasang belahan jiwa yang telah bertemu serta-merta menjadi objek fantasi bagi orang-orang yang masih menanti penuh damba. Kita akan bersama selama-lamanya, bahkan di kehidupan selanjutnya. Oh betapa romantis!

“Mau makan apa?” tanya Minho. Lihat, kan, apa yang memenuhi pikiran mereka selama sepuluh menit terakhir juga sangat berbeda: Minho hanya memikirkan perut sepanjang waktu.

“Sup darah.”

Minho menunggu sekitar dua detik untuk membantah, “Aku sedang kepingin makanan Cina.”

“… Oke.”

Lalu mereka berdua terdiam, tidak ada yang membahas soal makanan lagi. Mereka punya terlalu banyak perbedaan pendapat, sehingga, kendati masih ada momen-momen di mana mereka ingin mempertahankan opini masing-masing demi menyelamatkan harga diri, tidak jarang pula mengalah menjadi pilihan demi kepentingan kesehatan mental. Berdebat itu melelahkan, pertengkaran tidak lagi menjadi bumbu hubungan sehat. Mereka sudah terlalu muak dengan satu sama lain.

“Restoran yang di dekat tempat kerjamu itu lumayan enak. Kita ke sana.”

“Enak sekali,” koreksi Taemin.

“Yeah.”

Minho melirik spion, menyalakan lampu sein, lalu dengan mulus berpindah lajur. Tepat di depan restoran kecil yang mereka bicarakan selama sepuluh detik, mobil berhenti. Taemin melepas topi sejenak untuk menyusurkan rambutnya ke belakang, sebelum mengenakannya lagi; Minho juga kembali memasang kacamata hitam.

Itu bukanlah penyamaran efektif karena bahkan orang yang tidak mengenal mereka akan segera berhenti melangkah untuk memandang. Mereka adalah Choi Minho dan Lee Taemin, pasangan selebritas meski tidak pernah terjun ke dunia hiburan secara sukarela—kecuali Taemin, yang pernah menjadi bintang idola sewaktu kanak-kanak. Popularitas mereka meroket berkat rekaman-rekaman amatir tentang adanya benang merah yang mengaitkan kelingking keduanya di tengah-tengah festival kampus yang juga sekaligus tempat pertemuan pertama mereka. Tidak lama sampai media menghebohkan fenomena tersebut dengan berbagai bentuk wawancara eksklusif serta penayangan opini para ahli belahan jiwa, fiksi-fiksi populer mulai mengambil plot serupa, yang kemudian diangkat menjadi beberapa judul drama.

Sejujurnya Taemin selalu menanti masa di mana demam itu akhirnya mereda, tapi sampai detik ini ketika dia memasuki restoran makanan cina lima tahun kemudian, mereka masih diperlakukan seperti singa bersurai emas atau kuda bertanduk satu. ‘Benang merah yang mengaitkan dua lelaki: apakah mungkin?’ masih menjadi tipikal judul artikel yang mengundang banyak sekali klik mengingat fenomena semacam ini tidak sering terjadi, meski bukan yang pertama kali di dunia. Di sisi lain, ketampanan Minho sama sekali tidak membantu suasana menjadi lebih baik—lelaki itu punya basis penggemar yang besar di seluruh Korea Selatan, mengungguli Taemin.

Bagaimana tidak, baru saja menempatkan bokong di kursi, segerombol gadis berseragam SMA di meja tak jauh dari mereka segera memekik dan saling menampar lengan teman. Taemin menurunkan masker dan mengambil menu dari kertas yang laminatingnya sudah melenting, tidak benar-benar perlu mempertimbangkan sesuatu kecuali untuk menghindari kontak mata dengan siapa pun selain Minho.

Jjajangmyeon,” kata Minho sambil melepas jaket pada pramusaji muda berpipi merona yang mendadak muncul di samping meja mereka. “Kau?”

“Sama.”

“Dua, kalau begitu.” Minho melepas kacamatanya dan tersenyum sopan. “Terima kasih.”

Pramusaji itu buru-buru menyingkir ke dapur, tapi pekikannya masih bisa didengar sampai ruangan utama. Minho mulai berkutat dengan ponsel dan Taemin memain-mainkan ujung tisu yang terkulai dari kotaknya. ‘Jangan ganggu Minho yang sedang kerja’ adalah satu peraturan yang mereka sepakati sejak awal, dan dulu Taemin sering dengan sengaja melanggarnya hanya supaya Minho merasa kesal, tapi kini Taemin justru lega dirinya ditinggalkan sendirian. Taemin mencabut tisu tersebut, lalu mulai melipatnya menjadi perahu.

“Permisi.” Satu suara malu-malu membuat mereka berdua mendongak bersamaan. Itu adalah salah satu dari gerombolan seragam SMA, pipinya merah padam dan dia berusaha keras menutupi sebagian wajah menggunakan ponsel. “Mungkinkah kalian Minho dan Taemin …?”

“Ya, benar,” jawab Taemin sebagai orang yang jaraknya paling dekat. “Ada yang bisa kubantu?”

“Sungguh, ya ampun, aku tidak mempercayai ini.” Gadis itu mengeluarkan suara antara tertawa histeris dan kehabisan napas. “Maaf, bisa aku, uh, melihat benang merah kalian? Satu kali saja, kalau itu tidak memberatkan kalian?”

Ini adalah satu hal yang paling tidak dipahami Taemin. Hampir semua orang tua anak-anak ini juga terikat oleh benang merah serupa, dan milik mereka berdua bukannya bertabur debu kilau apalagi pelangi. Mereka semacam dijadikan tontonan tertentu, pemandangan anomali yang semestinya hanya bisa ditemukan dalam kebun binatang, seolah-olah ada pembual yang sudah menyebarkan mitos bahwa dengan melihat benang merah mereka berdua, orang-orang akan ikut tertabur keajaiban cinta. Tapi tetap saja Taemin tersenyum.

“Tentu.”

Minho tidak mengatakan apa-apa ketika memindah ponsel ke tangan kanan dan mengulurkan tangan kirinya di atas meja, bersandingan dengan milik Taemin. Seutas benang merah tipis bergelimang cahaya lampu restoran yang kekuningan, membuatnya tampak manyala. Gadis itu terlihat hampir pingsan dan mulai mengipasi wajah menggunakan satu tangan; Taemin tidak bisa berhenti memandangi kelingkingnya yang masih bebas.

Bagus untukmu, anak muda.

“Terima kasih. Astaga, kalian benar-benar jodoh dari surga. Sama-sama tampan … ah, apa yang sudah kukatakan. Maaf aku tidak bisa berpikir jelas. Terima kasih.” Lalu gadis itu ngacir kembali ke markas, disambut dengan pekik dan jeritan tertahan teman-temannya. Dia mengatakan banyak sekali, “Sungguhan,” dan, “Sumpah, aku tidak percaya ini.”

Pesanan mereka diantarkan oleh pramusaji yang sama, dua mangkuk mi hitam yang menggugah selera dan membuat Taemin diam-diam bersyukur mereka tidak jadi makan sup darah. Dia mengambil sepasang sumpit dan baru sadar Minho memandangi wajahnya lekat-lekat.

“Kenapa?”

“Sekarang kau suka anak SMA?”

Taemin mendengus keras sekali. “Bagaimana gagasan konyol itu bisa terpikirkan olehmu.”

“Yah, kau memandangi anak tadi dengan sorot mata penuh damba,” kata Minho, nadanya sambil lalu, tapi mukanya terlipat. Dia mengaduk mi dan kuah dengan kekuatan tak wajar. “Mungkin kau sudah pindah jalur atau semacamnya.”

“Tidak, tolol.”

“Baguslah, aku juga tidak sudi tinggal serumah dengan pedofil.”

Taemin melempar tatapan sebal, kemudian berkonsentrasi menarik mi menggunakan sumpit dan meniup-niupnya. “Omong-omong soal tempat tinggal,” katanya lantas menghirup mi ke mulut, “aku sedang mencari apartemen lain. Mau bantu?”

Minho nyaris tersedak. “Kau pindah?”

“Yah, segera setelah lembar pernyataan itu disahkan, kita secara administratif bukan lagi belahan jiwa dan kita akan bercerai. Masa’ masih tinggal serumah?”

“Iya juga.”

“Karena itu, bantu aku mencari satu yang cocok akhir pekan ini, hm?”

Taemin memohon sambil mencondongkan badan ke depan, tapi Minho memundurkan punggung dan menepuk-nepuk sudut bibir menggunakan tisu. “Aku sibuk sampai akhir bulan. Kalau buru-buru, cari sendiri.”

“Pelit,” gerutu Taemin dan kembali berkutat dengan makanannya. Minho menatapnya tidak terima.

“Kau kan juga bekerja, pentingkan daftar prioritasmu lebih dulu.”

“Ini yang mereka sebut multitasking, dan kalau kau bisa menyusun daftar prioritas dengan benar, kau akan mendapati pisah rumah adalah hal yang lumayan mendesak.”

“Tidak, itu tidak sebegitu penting; papan selalu menjadi paling buncit di antara sandang dan pangan.”

“Perhatikan konteksnya. Kau selalu menilai sesuatu di luar konteks yang semestinya.”

“Kau yang tidak sabaran, Taemin. Semuanya perlu proses dan tidak bisa dikerjakan dalam satu waktu sekaligus. Lagi pula, permohonan cerai baru bisa dikabulkan setelah kita mendapat surat pernyataan bahwa benang merah diputus.”

“Tapi kan—”

Taemin tidak melanjutkan argumentasinya begitu menyadari berpasang-pasang mata dan telinga sedang memperhatikan mereka lekat-lekat. Pasangan lanjut usia di meja terjauh mengerutkan kening tidak setuju, sedangkan antusiasme gerombolan anak SMA itu terlihat mulai menguap. Percakapan mereka, entah bagian mana sampai mana, pasti telah terekam dengan jernih di telinga semua saksi. Taemin merasa kepanikan mulai mengisi perutnya sampai merasakan kerah sweternya ditarik ke depan, Minho mencondongkan badan sejauh mungkin ke arahnya, dan mencium bibirnya.

“Kita lanjutkan di rumah,” bisik Minho sambil mengusap sudut bibir Taemin menggunakan ibu jarinya, lalu kembali duduk. Bersamaan dengan itu, kegemingan restoran kembali mencair dan digantikan dengan banyak sekali kilas cahaya dan bunyi klik dari kamera-kamera yang diacungkan.

Dengan kejengkelan berlipat ganda, Taemin melirik Minho yang meneguk air putih. Sebenarnya bukan hanya pada Minho saja kejengkelannya bermuara: dia jengkel pada orang yang bisa-bisanya merekam dua mahasiswa yang sedang melonjak mengikuti lagu sambil menyesap bir murahan lima tahun lalu, dia jengkel pada platform media sosial yang membuat video mereka viral, dia jengkel pada masyarakat yang sangat mudah dibutakan oleh fantasi soal belahan jiwa sehingga mudah dijejali lebih banyak tayangan bermuatan serupa, dia jengkel pada keharusan menjaga imej sampai sekarang. Dia memasuki terowongan ini tanpa sengaja, tanpa pengetahuan apalagi bekal memadai, dan tidak bisa kembali lagi.

Dia juga jengkel pada orang tua Minho dan orang tuanya yang tanpa pikir panjang menikahkan mereka hanya karena benang merah sudah terkait. Usianya masih dua puluh dua saat itu, baru saja keluar dari militer dan mendambakan masa muda yang bebas. Sekarang dia berusia dua puluh tujuh tahun, menjadi setengah selebritas, dengan karier biasa-biasa saja sebagai ilustrator di perusahaan iklan, dan mendapat begitu banyak tekanan di berbagai sisi untuk tetap bersikap sebagai partner Minho yang selalu melendot manja dan mesra.

Dengan penuh dendam Taemin memandangi salah satu billboard yang mengiklankan kelab malam. Usia dua puluhannya hampir habis dan dia belum pernah pergi ke kelab malam untuk bersenang-senang bersama teman sepermainannya. Masa kecilnya pun tidak bisa dibilang bahagia dengan semua jadwal pemotretan serta akting peran kecil-kecilan di drama atau film.

“Pagi ini ibu mertua menelepon, katanya minta kita mampir sebentar,” ujar Minho, padahal Taemin ingat benar lelaki itu berjanji mereka akan langsung pulang setelah pergi ke kantor administrasi. Taemin hanya mengenakan sweter serta celana training karena terlalu mempercayai suami pengkhianatnya. “Ke mana sih ponselmu? Tidak bisa dihubungi siapa-siapa.”

“Hilang.”

“Lagi?”

Taemin mengangkat bahu, kembali merajuk. Nyatanya, dia hanya meninggalkannya di rumah, tapi merasa terlalu merepotkan untuk menjelaskan.

“Demi Tuhan, rasanya aku baru membelikanmu bulan lalu,” gerutu Minho, jari-jemari tangannya meregang dan mengepal di roda setir, kebiasaan tiap kali gusar. “Yah, pokoknya, kita ke rumah orang tuamu sekarang. Ada yang mau diberitahukan.”

“Palingan mereka mau pelesir keliling Asia Tenggara lagi,” gumam Taemin. Bukan satu kali saja pasangan Lee, yang kekayaannya terus mengalir dari bisnis properti, mengundang mereka untuk menanyakan langsung oleh-oleh apa saja yang mereka inginkan dari destinasi wisata. Ragamnya bisa luas sekali, mulai dari gantungan kunci berbentuk sandal sampai pulau tak bernama di batas terluar negara tertentu.

“Apa pun itu, nadanya kedengaran agak mendesak,” ujar Minho, tidak terlalu menolak opini Taemin, tapi tidak juga membenarkannya. Taemin memberhentikan percakapan sampai situ dan membiarkan keheningan mengambil alih. Perjalanan mereka tetap seperti itu hingga mobil Minho menderum masuk ke teritori kediaman keluarga Lee yang luar biasa besarnya di salah satu perumahan mewah di distrik Gangnam.

Angin dingin segera menyambut mereka begitu keluar dari mobil, meski dengan sedikit terlalu kencang. Topi Taemin ikut terempas ke belakang, mungkin akan bergulung-gulung di rerumputan yang basah kalau Minho tidak segera menangkapnya dan memasangkannya kembali di kepala Taemin.

“Ke rumah orang tuamu sendiri mengenakan masker dan topi?”

“Kulit wajahku kering,” jawab Taemin ringkas. Kalau ini adalah dia dari satu atau dua tahun lalu, dia akan meladeni sindiran Minho dengan balasan yang sengit, tapi menyimpan energi sudah menjadi keahliannya demi mempertahankan keseimbangan emosional. Jika tidak, bisa botak dia.

Mereka masuk tanpa membuka pintu karena seorang pelayan telah secara sigap melakukannya—pasangan Lee adalah tipe orang kaya kuno yang senang memamerkan kekayaan seperti itu. Taemin memanggil ibu, lalu ayahnya, tapi pelayan yang sama memberitahu agar mereka menunggu di ruang keluarga.

“Kuharap ini tidak terlalu lama,” gerutu Taemin sambil duduk di salah satu sofa yang menelan pantatnya perlahan-lahan. Minho mengambil tempat di sofa paling jauh, barangkali sempat tergoda untuk duduk di ruang makan supaya kehadirannya tidak diketahui. Mereka tidak mengobrol; Minho menyibukkan diri dengan dunia maya sedangkan Taemin membaca-baca salah satu seri terjemahan Chicken soup for the Soul milik ibunya yang entah kenapa bergeletakan di sofa.

“Taemin?”

Taemin menurunkan maskernya, tapi tidak menoleh. “Aku di sini, Ibu!”

“Nah, nah, di sini rupanya anak-anakku.” Sementara Minho secara refleks melonjak berdiri saat Nyonya Lee memasuki ruangan, Taemin tetap duduk menyilangkan kaki dan membiarkan ibunya memberondongkan ciuman ke setiap jengkal kulit wajahnya. “Aku merindukanmu, anak manis. Bagaimana kabarmu?”

“Sedikit meriang, selain itu baik-baik saja.”

Nyonya Lee terkesiap dan menoleh cepat ke arah Minho. “Apa kau tidak membungkusnya dalam selimut di malam hari?”

“Aku selalu melakukannya, Ibu,” kata Minho, tentu saja bualan karena sudah lama sekali sejak terakhir kali mereka tidur bersama. Taemin bahkan sangsi Minho mengetahui dirinya menghabiskan beberapa malam di kantor untuk mengejar tenggat waktu—sebagai perbandingan, dia juga tidak tahu pada pukul berapa saja Minho berada di rumah.

“Duduklah, Minho sayangku.” Nyonya Lee tertawa kecil. Satu sikunya diletakkan di puncak sandaran yang dekat dengan kepala Taemin, badannya sedikit dicondongkan mendekat. “Omong-omong kenapa kau duduk di pojokan seperti itu? Kemarilah.”

“Sudah jelas Minho takut karena Ibu ada di sini,” balas Taemin seraya memutar bola mata. Nyonya Lee tertawa lagi seolah kejailannya baru saja terbongkar, kemudian beringsut menjauh dan menepuk-nepuk bantalan sofa yang kosong.

“Sini, sini. Duduk di samping belahan jiwamu. Aku tidak tahan melihat benang merah yang terentang terlalu jauh.”

Minho menurut untuk duduk di samping Taemin, sedangkan Taemin diam saja. Mereka belum saling adu pendapat soal bagaimana cara memberitahu para orang tua mengenai rencana berpisah, tapi rencana paling menjanjikan adalah mendiamkan semua orang sampai semuanya selesai diproses dan mereka hanya selangkah dari perceraian. Akan terlalu merepotkan kalau orang-orang berusaha campur tangan di saat mereka sendiri masih sibuk menyiapkan berkas dan kehidupan mandiri yang akan datang.

“Jadi,” kata Taemin, mencoba mempercepat terkuaknya kabar dari sang ibu. Namun, wanita berusia enam puluh tahun itu justru mendahulukan cengiran teramat lebar yang memberikan firasat buruk bagi Taemin.

“Bagaimana kondisi apartemen kalian?”

“Huh?” Secara otomatis Taemin memadu pandang dengan Minho, yang juga menatapnya tidak paham. Kemudian dia menatap ibunya lagi. “Kondisinya baik, tentu saja. Itu kan bangunan milik Ayah dan Ibu.”

“Soal kualitas, Ibu tidak meragukan lagi. Maksud Ibu adalah, apakah kurang luas atau bagaimana begitu.”

Unit apartemen dua lantai dengan empat kamar tidur, tiga kamar mandi, satu dapur besar, dan satu atrium berdesain terbuka itu mana mungkin kurang luas ditempati dua orang yang lebih sering menghabiskan waktu di tempat kerja. Mereka bahkan bisa bermain lempar tangkap di dalamnya.

“Kami sudah puas dengan apartemen yang sekarang, terima kasih atas kemurahan hati Ibu,” kata Minho sopan. Lima tahun menikah dan dia masih menganggap ibu mertuanya sebagai bos besar yang harus dijilat, meskipun Taemin bukannya tidak tahu orang tuanya dapat berbalik menjadi musuh berbahaya jika kaki mereka tidak dijilat.

Namun, Nyonya Lee tercenung. “Sungguh? Tidakkah kalian merasa sumpek tidak bisa menghirup udara segar setiap pagi?”

Taemin muak diputar-putar tanpa petunjuk jelas seperti itu. Dia menegakkan duduk. “Apa yang sudah Ibu rencanakan untuk kami?”

Ekspresi Nyonya Lee menjadi cerah. “Aku punya kejutan besar untuk kalian. Secara harfiah, sangat besar.”

“Kejutan besar?”

“Benar, kalian akan mendapat otoritas atas rumah ini selama satu minggu. Lupakan apartemen sempit itu dan sambutlah rumah ini sebagai milik kalian!”

Alih-alih bersorak senang, karena mereka memang tak punya alasan untuk senang, Minho dan Taemin saling berpandangan singkat. “Kenapa?” Taemin yang mewakili pertanyaan besar mereka.

Entah dari mana asalnya, Nyonya Lee mengeluarkan sebendel dokumen dengan judul ‘Benang Merah di Antara Kami’ yang dicetak tebal-tebal di bagian depannya.

“Karena kalian akan menjadi bintang acara realitas!” seru Nyonya Lee senang. “Akhirnya cerita cinta kalian yang autentik akan dikenal di seluruh dunia!”