Actions

Work Header

Skyflight

Work Text:

 

As long as there are sovereign nations

Possessing great power,

war is inevitabe.

Albert Einstein

.

.


 

 Skyflight 

 

[#1 — Prelude ]

 


 

Dunia ini seakan runtuh.

Percayalah tidak kepada siapapun. Melainkan...

... kepada dirimu sendiri.

.

.

1937

“Kau udah ada kerjaan?”

“Nah, masih belum. Aku rencananya mau apply kerjaan di perusahaan Mr. Douglas. Mau ikut? Tapi kau harus berkualifikasi menjadi engineer dan pekerja kasar. Kayak, menyatukan pesawat gitu.”

“Sure, ayo.”

Banyak orang sibuk mencari pekerjaan. Diiringi dengan radio dari toko antik yang berdiri di deretan bangunan di jalan besar suatu kota sebagai berikut:

[ Selamat siang!

Anda bersama kami dengan saya, Mary Ann Rosemary, radio XXX. Kami membawakan Anda sejumlah berita internasional, sebagai berikut—. ]

Di sebelahnya, ada pula toko roti. Sejumlah orang—tua muda, sehat sakit, lelaki perempuan—mengantri di depannya menanti jatah yang diberi plus bertransaksi sesuai jumlah uang yang mereka bawa di pagi yang sedikit suram tersebut.

Persis di jalan yang berdampingan dengan para toko, orang saling berlalu lalang. Ada anak anak berpakaian lusuh yang sedang menjajakan koran kepada para pekerja. Antara lain ada yang berlarian tergesa-gesa melewati kerumunan itu. Salah satunya memekik serak, “Ya Tuhan! Interviewnya akan selesai, damn...!”

Beberapa dari mereka bergerak ke titik yang serupa, di tengah arus yang berlawanan tersebut.

Menuju sebuah pabrik besar yang berada di kejauhan dari batas keramaian bangunan serupa yang berjejer di sekelilingnya.

 


  [Skyflight #1 : Prelude]


 

 

`“Hmmm. Kau memiliki kualitas sebagai engineer... Oh dang, kau juga ada pengalaman mendesain pesawat. Kamu diterima.”

Sang applicant menggangguk pelan ketika seorang lelaki membaca ulang profil dan portofolio pekerjaanya. Lalu beliau menyimpankan portofolio dan menunjuk pintu lain di suatu ruang, “Silakan pergi ke pintu itu. Anda akan dibimbing oleh ‘jiwa’ perusahaan ini—Mr. Douglas.”

Sama saja...

“Mr. Douglas, huh.” Ed menggangguk datar.

 “Benar.” Beliau menggangguk optimis, “Di sini, kita bekerja di bawah suatu nama. Nama itu perlahan menjadi besar, dan melahirkan seorang jiwa untuk memimpin mereka yang bekerja di bawah nama itu.

Jika kau kesulitan, beliau akan membantumu dengan segala hal mengenai seluk beluk perusahaan ini, dan jika Anda bisa berkontribusi, Anda tinggi kemungkinan diberi tambahan lebih. Meski dipastikan Anda masih kurang puas sih, palingan nambah sekitar 200 dolar dari uang yang—.”

“1.300 dolar?”

“Yup, Ed Heinemann.” Beliau tersenyum miris, “Tapi berjuanglah. Mungkin Anda bisa sedikit bersantai bekerja di sini, sebab Anda sudah ada pengalaman di lingkup ini.”

“Terima kasih.”

Ed—si lelaki itu—lalu berdiri dan menggangguk singkat. Sekarang, hidupnya sudah tak perlu pusing ribet mencari penghidupan di tengah Depresi Besar begin—.

“Oh tunggu.”

Spontan mengobrak-abrik laci kusam pada mejanya yang sedemikian rapuh dimakan usia, beliau melempar lembut sebuah surat kecil dan kartu kecil, “Identitasmu. Tolong pasang foto dan tulis nama Anda, dan perlihatkan saban mau masuk ke plant dan area kerja.

Di beberapa blok, ada studio kecil. Anda bisa memakai nama Mr. Douglas untuk mendapat diskon atau diprioritaskan dalam pengambilan foto.”

“Terima kasih.”

Langkah si engineer sekaligus desainer lalu bergerak mendekati pintu itu, dan memutar gagangnya hingga terbuka.

Oh, sungguh dia rindu dengan aroma dan pemandangan tipikal hanggar yang biasa dia datangi setiap memulai kesehariannya.

Beberapa pekerja lain—yang sebelumnya sudah diterima dan dikumpulkan di titik pusat dari pelbagai engine—berdiri dengan sedikit rasa tegang. Banyak dari mereka adalah lelaki, namun perlu diperhatikan beberapa hal yang cukup mengganggu pemandangan di era itu.

Sejumlah wanita ikut berdiri bersama, dan jumlahnya tak sedikit. Sekitar dua puluhan, setidaknya dalam perhitungan  si engineer tersebut.

Serta sejumlah mesin dan bagian-bagian dari pesawat yang belum dipasang dan direkatkan bersama.

“Phuah, panassss...” Ed bisa mendengar salah satu dari para adam mengeluh.

Bah, tentu saja.

Hari itu, mentari sudah meninggi nyaris di atasnya. Musim panas ditambah krisis keuangan, sungguh kombinasi luar biasa untuk membunuh kewarasan seseorang. Heck, Ed takkan menerima kemalangan akibat mal-manajemen dan dugaan manipulasi itu.

Dia akan melewatinya, tentu saja.

“Si boss masih belum datang ya?”

“Masih pukul sepuluh kurang sedikit. Apa perlu sekalian bersiap kalau-kalau disuruh kerja?”

“Kurasa begitu. Takkan salah bila ingin bekerja lebih awal untuk mendapat sedikit penyambung hidup kalian.”

Mereka lalu menoleh ke sumber suara tadi; si Ed sendiri yang mengungkapkannya.

Untuk beberapa momen, mereka saling melempar pandangan ke satu sama lain. Lantas mereka tersenyum sembari menyingsingkan lengan kemeja panjangnya. Salah satu adam kemudian menyengir, “Well, well, jika itu yang kau minta.”

“Hm.” Ed tersenyum tipis.

Mata kecokelatannya tentu tak bisa mengabaikannya.

Persis kejadian setahun lalu—.

“Sudahkah Anda memandangi hanggar ini, Ed Heinemann?”

“...” Ed memutar kepala ke sosok lelaki dengan karisma yang khas—tak bisa dia jelaskan—menghampiri para pekerja selagi mengenakan perlengkapan kerjanya. Saat yang lain serempak memekik kaget dan menyapa, Ed menghela napas dan ikut menggangguk hormat, “Ed Heinemann. Applicant bulan ini, mohon bantuannya.”

“Terima kasih.” Beliau tersenyum tipis.

Oh... ternyata masih sama saja.

Ed mendecih kurang senang, lalu berbaris bersama para pekerja lain mengikuti arahan Mr. Douglas.

Beliau lalu mengambil posisi di depan para pekerja membelakangi Hanggar No. 3. Dua kali tepukan tangan mengambil atensi mereka, “Selamat datang di Douglas Aircraft plant Tuscla, Oklahoma. Nama saya Mr. Douglas. Seperti yang dijelaskan pak HRD tadi, saya adalah ‘jiwa’ dari perusahaan besar ini.

Agak rumit menjelaskannya, intinya, selama perusahaan ini ada, maka saya ada.

Nah, untuk posisi pekerja assembly, silakan ke arah sana, dan engineer silakan ke arah situ. Arah situ menuju ruang perbaikan engineer.

Desainer aerodinamika silakan ikut aku.

Oh iya, kalian akan dibimbing oleh koordinator masing masing kecuali desainer/draftsman. Draftsman akan bekerja dibawah arahan langsung dari saya. Mohon untuk sudah sigap, karena hari ini juga kalian akan bekerja meski paruh waktu karena jadwal shift yang tak banyak.”

Koordinator lalu melambaikan tangannya, sembari memanggil pekerja golongannya. Begitu barisan pekerja sudah buabr, Mr. Douglas lalu mengajak Ed bersama sejumlah desainer, “Ed, kemari sini.”

“Apakah kau yang sejenis dengan Mr. Northrop yang sudah mati itu? Dan kau kembali mempekerjakanku... Lawak sekali.”

“Yeah. Maaf ya, terpaksa memanggilmu kemari. Aku mana tega membuang tenaga sebagus dirimu, kau tahu?”

“Ini tak lucu—.”

“Aku tahu. Tapi siapapun draftsman, akan aku rekrut tanpa kecuali. Kau setahun lalu pindah ke Northrop, yeah, aku berharap kau selamat dan sehat, ternyata Mr. Northrop ‘mati’, aku mengajakmu kerja kembali. Dengan begitu kau akan tetap bertahan hidup kan?”

“...”

Suasana bak es tadi, perlahan diretakkan dengan sebuah suara kecil, “... Permisi? Anda belum mengantar kami.”

Beliau tersenyum kecil, lantas menggiring Ed sembari membimbing para desainer bawahannya, “Baiklah. Maaf membuat Anda sekalian menunggu kami.”

Langkah kaki segerombolan draftsman tersebut terbawa ke koridor yang menghubungkan hanggar dengan sebuah ruang. Ruang tersebut sungguh berantakan dalam artian penuh alat ukur dan tabel perhitungan matematis. Ada sejumlah papan besar yang tertata rapi bertingkat di dalam rak kayu, yang ketika ditarik oleh Mr. Douglas muncul beberapa helai blueprint.

Lantas berpaling kepada Ed serta para desainer dan mulai mengganti topik, “Kalian tahu, buatan Mister Ed Heinemann yang Northrop BT kurasa masih bisa dikembangkan.

... Kurasa aku mau membiayaimu mengembangkan dia... uh...”

“Hayden Riedel Northrop.” Nada Ed tampak kurang terkesan.

“Baiklah, Hayden. Tapi dalam bodi baru. Bukan upgrade.”

“Tapi aku butuh empat... no... Lima desainer.”

“Oh, apa kau tersilaukan oleh pesonaku? Sehingga tak bisa melihat siapa saja yang kubawa bersamamu?” Mr. Douglas menyengir kecil, “Pilihlah mereka. Kau bisa membagi tim, aku pasti akan ikut bersama untuk mendesain dan menghitung aerodinamika sebuah pesawat.”

“Oh geez. Kalau kau mau... Baiklah.”

Mr. Douglas tersenyum, lalu berjabatan tangan dengan para desainernya, “Senang bekerja dengan kalian semua! Kuharap kita sama-sama mampu menciptakan pesawat yang kuat. Oh, soal Mr. Ed, itu baru anak Militer.

Mungkin ada yang tertarik mencoba membuat desain... uh... pesawat yang lebih besar?”

Semua pria di sana saling menatap bingung. Salah satu dari mereka—bahkan Ed—menghela napas, “Kami belum banyak berpengalaman dalam hal itu, Pak.”

“Oh well, it’s OK. Mari kita mulai. Mr. Ed, ambil blueprint Hayden-mu. Kita sama-sama memecahkan masalah di sini.”

Para desainer lalu mengambil kursi yang mengelilingi meja persegi panjang itu. Tak lupa mereka dengan profesional membawa penggaris dan sebuah karung kecil. Bahkan salah satu dari desainer dengan sukarela membagikan kertas kosong untuk membantu penghitungan sekunder. Ed sendiri mengambil blueprint lamanya dari tas cokelat berdebunya.

Mr. Douglas lalu mencuri atensi lagi, “Gentlemen, di sisi timur ruang ini ada mesin kalkulator jenis Dalton, dua buah masing-masing. Jika kalian memerlukan bahan untuk mock-up, sayang sekali, kalian harus keluar dan mengambil kayu kualitas menengah di toko yang akan saya tunjuk.”

 Ed menghela napas, “Ya, tipikal ‘jiwa’. Sistemnya mirip ya.”

“Kau bisa berkata begitu, Ed.” Mr. Douglas tersenyum tipis, “Untuk saat ini, pekerjaanku hanya re-desain dan penghitungan ulang seluruh ukuran yang cocok di sini. Plus mengurus DC-3... Ya, pretty much fun. Saya berencana membuat lebih banyak lagi, fu fu~”

Tuk. Tuk—.

“Permisi? Ada Mr. Douglas—oh, yeah, Tuan!” Seorang pegawai perempuan—pirang dengan mata biru, tipikal bule Amerika dan Eropa Barat—menghampiri ruang tersebut.

“Oh, ya, ada apa?”

“Ada panggilan dari Navy. Saluran 9. Uh, apa Tuan sekalian mau kusiapkan kopi?”

Para desainer saling melempar muka, dan kompak menggangguk sembari menyunggingkan senyuman. Perempuan ayu tersebut lalu membalas balik senyuman mereka, “Akan kusiapkan dalam waktu dekat. Dan nama saya Amy, pegawai bagian logistik. Jika kalian membutuhkan bahan atau peralatan, kalian bisa membuat formulir permintaan yang ada di kantor office.

Sampai jumpa. Oh ya, Mr. Douglas, Navy minta untuk disegerakan kontak.”

“Roger that. Aih, saya minta maaf sedalam-dalamnya atas gangguan ini. Kadang suka ada panggilan begitu. Ed, tolong bimbing mereka proses pengerjaan re-desain.”

Ed lalu menggangguk dan berdiri mengambil posisi duduk beliau selagi yang bersangkutan diharuskan pergi keluar ruang. Mereka perlahan menenggelamkan diri dalam petualangannya; menghitung dan mendesain ulang ukuran serta nilai satuan yang sempurna.

 


 [Skyflight #1 : Prelude]


 

 Mr. Douglas meneruskan langkah tegasnya ke kantor, ketika ada seorang pekerja kantoran tiba-tiba keluar dari salah satu ruang kerja berderet di salah satu sisi koridor dan memekikkan warta kepadanya, “Mr. Douglas! Sudahkah Anda mendapatkan pesan dari kolegaku? Sekalian aku taruh laporan keuangan kita ya, di sisi kanan meja Anda!”

“Terima kasih! Aku akan mengeceknya.”

Dan suara decit jalannya semakin kencang—memang, dia tak sempat memberi salam kepada si kolega ruang kerja itu—dan berlari pelan menuju ruang kerjanya. Buru-buru beliau tutup pintu ruang kerja dan segera mengambil gagang telepon besarnya. Cekatan pula diputarkan lubang nomor, dan perlahan tersambung.

Tak membuang waktu, beliau lalu menyapanya sembari duduk di meja tersebut—sesekali melihat dan melakukan skimming pada laporan keuangan yang dimaksud, “Selamat siang, kantor utama perusahaan Douglas Aircraft. Berbicara dengan Mr. Douglas, apa yang bisa saya bantu untuk Anda?”

[ Selamat siang.

Mengenai laporan tingkat kepuasan pilot, dengan berat hati Anda, sebagai penerus Mr. Northrop—alias Northrop Corporation—tak mendapatkan tingkat kepuasan mengenai Northrop BT. Jika bisa, Anda boleh mengajukan beberapa prototype lagi. ]

Mr. Douglas menghela napas.

Sesekali menggaruk rambut, lalu melepas jaket kerja dan mulai menyingsingkan lengan bajunya, “Anda perlu tahu, di saat depresi begini saya berencana memulainya tak hanya dengan DC-3, juga dengan sebuah ide.”

[ Ide apa? ]

“Merevisi Northrop BT. Desain itu sebenarnya punya potensial, hanya saja, belum maksimal. Sekarang saya sudah mempekerjakan kembali Ed Heinemann, dan ya...

Dia sekarang sedang masa pengenalan dengan desainer lain, saya yakin, dia akan memimpin desain ulang Hayden—maksudku, Northrop BT.”

[ Yah, kutunggu.

Cepat atau lambat, bom akan meledak. Kita perlu bersiap. ]

“Aku tahu.

... Makanya aku sedang menumpuk uang dan mentransfernya ke investasi, kau tahu?”

[ Paling cepat 1940. Kau akan mempresentasikan revisimu paling lambat akhir tahun.]

“Roger.”

PIP.

Tak langsung menurunkan gagang teleponnya; beliau rupanya sedang merapikan suspender dan juga singsingan kedua lengan baju kerja putihnya. Barulah setelah dia menaruh gagang telepon tadi, lalu memutar alur jalannya menjadi di depan meja tersebut.

Dibukakan laci paling atas mejanya, dan kini berteter rapi sebuah buku besar. Di pojok kanan atas ada tulisan miring terbuat dari tinta hitam menyebut sesuatu—.

Northrop BT Blueprint and Design.

need some fixes on several parts.

Scott.

Mr. Douglas.

Senyuman sedikit gugup berbunga dari ekspresi sang ‘jiwa’ perusahaan itu.

.

.

. 

1939

“Sedikit lagi.”

Dibarengi helaan napas lelah tiada akhir, Ed membawa lampu minyak mengecek kabel-kabel yang menyambung di  dalam cangkang kosong—benar, sebuah bodi. Bodi yang besarnya tak terlalu raksasa, namun tidak juga kecil. Beliau sampai harus masuk ke dalam bodi untuk memeriksa keakuratan peletakkan kabel dan juga aliran listrik kecil dari lokasi engine yang nanti akan dipasang.

Salah satu perempuan bergulung ke belakang—karyawati rupanya dengan nametag Marcella—lalu memekik pelan serta melongok ke dalam, “Sudah OK?”

“Sedikit.”

Jemari beliau dengan cekatan merapikan alur kabel, dan mengeluarkan diri plus sang cahaya buatan dari cangkang tersebut, “OK. Sekarang, tugas kalian menaruh dan memasang kokpit.”

“Roger!”

Marcella lalu memekik kepada sekelompok pekerja dan memberi isyarat tangan tertentu. Pertanda pekerjaan tahap akhir akan dimulai, dan benar saja—mereka spontan membawa kemari peralatan kokpit dan menunggangi tubuh yang kosong tersebut.

Kelompok pekerja lain juga membantu mengevaluasi keakurasian pengelasan leher manusia super besar tadi.

Ed sendiri, memilih duduk kembali di meja kayu kecil yang terletak persis di pojok paling kanan, selangkah lagi akan keluar dari hanggarnya.
Menyeduh lembut kopi yang dibawakan pekerja lain, mata cokelat beliau begitu terikat kepada sosok makhluk tanpa nyawa tersebut. Usai puas mencuci mata dengan riuh ramai suara ketukan palu dan gesekan logam di sekitar ‘cangkang’ itu, Ed membuka kembali sekumpulan kertas besar.

Menelusur garis garis yang membentuk desain yang sama persis dengan apa yang dilihat tadi, Ed menghela napas.

Ingatannya melayang ke masa lalunya...

 

Masa lalu itu, tentu saja terpahat baik.

Kedua tangan itu dengan giat memegangi buku dan ditemani oleh sedikit lampu petromak, menyesapi ilmu pengetahuan kepada katalog di bank memori dalam kepalanya.

.

.

“Ed, nggak ikut daftar ke sekolah teknik aerodinamika saja? Kayak semacam kursus privat oleh beberapa pelopor pesawat?”

Digeleng kepala, dan memiliki ekspresi kusam, “Kita sedikit sekali duit...”

Sosok ibu tua lalu tersenyum teduh. Lalu mengelus kepala anak tersebut.

 

Hidupnya tak pernah tak susah. Ed tahu, begitu memasuki dunia yang keras—banyak spekulasi atas nama uang, kemudian isu perpeloncoan dunia yang digerakkan oleh tangan Amerika dan Inggris hingga krisis pekerjaan sebagai dampak sekunder dari dua hal diatas—ia tak bisa santai.

 

“Mr. Edward Henry Heinemann, Anda dipecat.”
Sesosok lelaki sedikit terperanjat kaget mendengar ucapan dari si paruh baya yang duduk persis di depan meja kerjanya.

Sepucuk surat lalu digeserkan menghadap Edward—si draftsman—sembari menjelaskannya, “Mungkin bukan ide bagus, tetapi aku akan lebih senang kau bekerja di Mr. Northrop? Dengan begitu kau mungkin akan menemukan semacam... Errr... Inspirasi?”

Hah? Inspirasi?

Ed menatap tak percaya.

Tuan yang mempekerjakannya, memecatnya begini? Di saat resesi begitu?

“... Maaf?”

“Uh, yeah, maaf... Aku akan bantu rekomendasikan kau ke Mr. Northrop, bagaimana?”

Ed mendecak. Nadanya menjadi sedikit marah.
Lalu bangkit dari kursi dan mengambil kasar draf gambar yang sedang ia kerjakan, “Oke jika itu yang kau mau. Selamat tinggal, saya tidak butuh surat rekomendasi. Saya akan bekerja sesuai dengan kemampuan dan keuntungan yang bisa saya dapatkan!”

Sang atasan lalu tersenyum pedih.
“Aku tahu, Ed... ‘Jiwa’ sepertiku mana bisa melepaskan denganmu tanpa ucapan dari ‘brain’ku—sang CEO. Kuharap kau sehat selalu, Ed.”


“Hei?” Sang pekerja menatap lekat-lekat pria tadi.

Ed bagaikan tersetrum kembali ke realistis, mendapati kursi yang didudukinya nyaris jatuh kalau saja ia tidak refleks menangkapnya. Mengguncang sedikit isi kepala yang sedikti disorientasi, Ed lalu menggangguk kecil sembari menatap sang pekerja, “Apa sudah selesai?”

“Kurasa. Anda perlu menginvestigasi keakurasian kerjaan kami.”

“Oke, terimakasih.”

Meninggalkan meja kecil bergelarkan sebuah draf besar berisi gambaran skala mini anak itu, Ed berjalan dengan langkah sigap menuju bocah tersebut. Dibantukan beberapa pekerja lelaki, ia memasuki area kokpit untuk melihat akurasi pengerjaan.

Desainer lain lalu melambaikan tangan ke Ed yang sedang mengecek perlengkapan kendali mesin di dalam kokpit, “Aku periksa bawah! Sama bagian depan ya!”

“Tolong, ya!”

Si desainer lelaki ini tak perlu sepersekian menit untuk membuang waktu; ia bahkan menyelip ke bawah serta mencatat dan memberi dokumentasi operasional pada ruang kecil untuk memasang bom torpedo.

“All OK.”

“Roger.”

Kemudian turun dari badan bocah tersebut, dibantu beberapa pekerja, Ed berkacak dengan ekspresi lelah. Meski demikian, ada seurat harapan di satu sudut ekspresi pria tersebut. Lalu dia berpaling ke kelompok pekerjanya, “Panggil Mr. Doug—.”

“Sudah bagus.”

Para pekerja serempak memekik kaget begitu yang bersangkutan malah tiba-tiba muncul persis di belakang mereka. Beruntung Ed hanya bisa mengelus dada—mengurangi rasa kagetnya—mendapati keberadaan makhluk tersebut.

Marcella—si wanita—mengernyitkan dahi merespon keberadaan lelaki paruh baya itu, “Err, permisi?”

“Yeah?”

“Bagaimana kau... uh...”

“Jangan khawatir. Aku menyaksikan kalian bekerja. Aku bisa bilang, aku bekerja lewat kalian. Selama  aku—namesake perusahaan ini—ada, orang orangnya bekerja, then, bam. Itu yang dikerjakan kita kan?” Mr. Douglas berjalan dengan langkah upbeat,berkeliling  melihat-lihat sejenak desain luar anaknya.

Inspeksi itu berakhir sebuah sunggingan memuaskan, “Good. Kita akan testing setelah Tahun Baru ya!”

“Yeah!”

Begitu para pekerja yang sedang bubar, tiba-tiba saja suasana tersebut dihentikan oleh suara yang sama—sang ‘jiwa’,  “Oh sebentar.
Kita mungkin akan melakukan sedikit pengetesan lagi sebelum hari H yang akan saya umumkan nanti di penghujung tahun.
Jadi, bersiaplah untuk pengecekan final ya.”

“Siap.”

 .

.

. 

1940

Cuaca hari itu begitu panas.

Walau demikian, tidak bagi sejumlah orang yang sedang berdiri dengan antusias.

Charles P. Synder termasuk satu dari kerumunan manusia yang berada di sekeliling hanggar tersebut—malah, ia berada di barisan VIP lantaran pekerjaannya sebagai Admiral United States Navy. Mata birunya menatap tajam hari yang membahagiakan itu; ia bahkan sengaja mencatat hari itu untuk melihat senjata terbaru negara besar ini.

Perlu dicatat, Charles belum menerima informasi detail mengenai desain baru kontraktor yang ia sewa. 

Kuharap mereka tak mengecewakan USN deh... Mau tidak mau Charles menghela napas. 
Apa salah ya, untuk menggantungkan harapan kepada para kontraktor? 

Mengingat sekarang tensi politik di seluruh dunia sedang memanas, dan Amerika pun tak luput dari tensi yang sedemikian mendidih; satu saja kesalahan dan bam, korban siap berjatuhan. 

 

 

Beberapa pekerja tampak berkumpul dengan sebuah senyuman lelah dan riang dibalik bilik pintu hanggar.
Salah satu diantara mereka adalah Ed, sang desainer anak tersebut. Ia—bersama pekerja lain—ikut membuka garasi hangarnya, “Keluarkan dia. Ayo, ayo, salah satu orang penting Navy akan melihat seberapa kuat anak ini.”

Seadanya, sebuah mobil kecil dikendarai oleh salah satu dari pekerja lantas menarik keluar sesuatu di sana; menampakkan sesosok anak kecil bertubuh cukup besar—katakanlah, 10,09 meter—berdiri tertidur di sana. Seorang pilot—yang diberi salut oleh petinggi pabrikan tersebut—lalu memanjat sosok bocah itu, dan menyalakannya—.

...ZZHH...

Orang-orang juga mulai memutar baling-baling begitu sudah ditandai oleh si pilot; sebagai langkah berikut dalam proses pemanasan.

“Ooohh...! Terlihat kuat, terlihat kuat!” Beragam komentar bermunculan, menyoraki nyalanya seluruh mesin milik si anak itu.

Namun tidak dengan sang Admiral sepuh tadi.
Matanya menangkap bahwa desain tersebut nyaris serupa dengan apa yang pernah disebut-sebut sebagai kegagalan dari ‘jiwa’ sebelah. Benar-benar sama persis—kecuali dia entah mengapa, bisa merasakan sedikit kejanggalan pada perbandingan gambaran dua desain beda perusahaan tersebut.

Apakah si Mr. Douglas sudah gila...? Dan perasaan apa ini...? Rasanya sama persis?

Si pilot lalu muncul dari jendela kokpit  dan memberi jempol atas satu tangan kepada para pekerja—khususnya Ed—serta mulai menjalankan anak itu—.

Master, ignition, start.

KREK. SHUUUSSSHHH.

Baling-baling engine semata wayang anak itu mulai berputar.

Ed menghela napas sedikit lega.
Tentu, perjuangan mendesain ulang karyanya memang berbuntut panjang. Kenangannya masih bisa tergambarkan baik di dalam bank memori...

.

.

Aku tak habis berpikir.
Mengapa desainku gagal...?

Hari itu, sekitar 6 bulan sebelum deadline akhir tahun.

Aku melihat desain yang sudah susah payah kugambar dengan penggaris dan tinta. Aku merasa desain ini berkata bahwa kau punya sedikit cacat entah di suatu tempat.
Mungkin aku bisa mencarikan engine yang tepat untuk anak ini—.

“Merasa kesulitan?”

Aku tentu saja melompat kaget.

Oh, damn. Bagaimana si lelaki sialan ini bisa memasuki ruang kerjaku tanpa suara...

“Oh, well. Aku bukan lelaki brengsek kalau saja hanya menanyaimu.
Biar kulihat...”

Kedua kaki si jiwa lalu berjalan dan berdiri berdampingan denganku. Kuperhatikan ekspresinya; betapa ia cukup tenang memeriksa dan membolak-balik lembaran desain pesawat baru. Beberapa kali dia menggangguk; mungkin dia bisa memberi saran—.

“Kurasa tak masalah.”

Huh?

Aku tentu merasa terganggu.

Apanya yang tak masalah?!

“Hei, ini kan pesawat gagal yang pernah kubuat—.”

“Mungkin sedikit perbaikan. Coba yang lebih... uh, berisi dan serba lengkung?  Tipe lengkung yang seperti pangkal pulpen tinta juga adalah sesuatu yang bagus.” Mr. Douglas tersenyum begitu saja sembari menepuk bahuku.

Hah?
Aku mana paham—.

“Uh...”

Suara itu...!

Aku seketika menoleh ke ambang pintu.

Aku bisa melihat seorang anak kecil berdiri dengan malu-malu di sana. Astaga, kukira apa...

“Hayden. Ayo, sini kugendong kau.”

Hayden—si kecil di ambang pintu—lalu menggangguk kikuk, kemudian berjalan dengan lembut dan memelukku. Oh, anak yang malang. Aku gagal menyempurnakannya...

Mr. Douglas terkikik pelan, dan menjentikkan jemarinya, “Ingat ucapanku ya.”

Lalu dia pergi begitu saja.

Aku tentu saja tak habis pikir dengan ucapan bossku itu. Ah, apa kata deh. Aku lalu menggendong Hayden sembari mengelus-elusnya.
Hmmm...

 

 

“Mr. Ed?”

Oh, holy s%$t!

Aku lagi-lagi melompat kaget.

Seorang perempuan dengan rambut digulung ke belakang, tersenyum tipis sembari mengeluarkan lembaran desain dan menghela napas, “Kami agak kesulitan menyesuaikan rasio di ekor. Kami pribadi belum mencobanya, tapi kayak ada ketidaksesuaian... Anda bisa memecahkannya?”

“Oh, baiklah.”

Kuambil pelan satu lembaran itu.

Lembaran itu didapati ada lingkaran merah di bagian bawah engine dan tail. Aku mengernyitkan dahi, “Apakah ada masalah?”

“Well, uh, kami memperkirakan kalau dengan engine terbaru yang Anda minta, bisa saja kecepatannya bagus, tetapi... Kayak ada yang menghalangi gitu...”

“Menghalangi, huh—.”

—apa?

Aku kembali menatap desain lamaku. Desain karya sebelumku ini...
Bagian kaki yang tidak sepenuhnya masuk ke kabin...
Lengkung yang seperti pangkal pulpen tinta...

“Oh, yeah...” Aku serasa mendapat ilham.

“Eh?”

“Eh, oh...!” Langsung kusambar tinta dan menggambar ulang, “Kurasa kita harus memasukkan roda secara menyeluruh. Ke dalam kabin!
Bagian ini dihilangkan saja.
Lalu yang tail, aku coba begini!”

Digambar ulang, dan kukembalikan dengan terburu-buru kepadanya, “Pokoknya, dahulukan saja tail! Dan—.

.

.

. 

“—all engine, on.

Anak itu mulai berjalan dengan kikuk.

Para hadirin mulai bergerak mendekati garis batas kunjungan first flight itu. Pun dengan Charles.

Mr. Douglas lalu menyengir, “Bagaimana rasanya ketika kau menyadari adanya kekurangan pada Hayden dan Scott?”

“... Aku tak suka kau. Tapi berkat saranmu, aku merasa setingkat lebih maju.
Yah, kurang tahu.” Ed mengedikkan kedua bahu malas.

“Ayolah. Dia adalah anak pertamaku dari tanganmu, Mr. Ed.” Mr. Douglas menyengir kecil.

Whatever.

Si anak kecil itu lalu berjalan dengan pelaaannn, hingga melakukan putaran 180 derajat menghadap runway. Ia kemudian mengatur posisi siap berlari—dengan kedua tanggan memegangi landing gear depan. Secara alamiah—entah pikiran langsung atau perintah dari sang pilot—ia menundukkan kepala, tertinggal matanya yang masih bisa menangkap pemandangan 180 derajat ke depan.

Suara engine berdecak kencang, dan anak itu terus melaju kencang dengan landing gear menderu keras.

“Nnnnhhh...!!! AAAAAAA—.”

Entah siapa yang memekik—anak itu atau sang pilot—hukum aerodinamika membuat anak itu mulai terangkat melayang. Tak buang-buang waktu, dinaikkan tuas gear up, dan mulai memacu agak diagonal menghadap sang Langit.

 

 

“—aku mungkin akan mengubah desain roda!”

“Apa?”

“Selama ini aku berpikir cara Hayden menaikkan rodanya cukup terbelakang. Memindahkan titik pangkal landing gear agak ke pangkal sayap akan membantu melipat roda ke tengah, bukan ke belakang!”

Sang pekerja wanita seolah terbayangkan taktik pengubahan roda, lalu menggangguk, “Apa yang harus kulakukan?”

Aku menggeleng kepala, “Tunggu satu hari, aku bilang. Besoknya kita lihat sama sama dan mungkin ada dari kalian yang bisa membantu mengusulkan lokasi kabel dan sejenisnya!”

“Ba-Baiklah!”

 

 

Ed mendecak kecil.
Agaknya, ia cukup puas dengan penerbangan perdana desain ulangnya.

Satu tarikan kecil di ujung kemeja putih kerjanya membuat Ed sadar dari anak yang sedang dibawa terbang itu. Spontan beliau menolehnya, “Oh, Hayden. Bukankah kau harus menemani Mr. Northrop?”

“... Uh, well...
Aku penasaran dengan anak itu...”

Mr. Douglas—yang kebetulan juga menyadari keberadaan anak tersebut—mengelus sayang, “Oh, dia adalah adik langsungmu.
Namanya...”

Bibir sang jiwa perusahaan Douglas Aircraft lalu berbisik di salah satu telinga kecil Hayden

“Scott de Danter-Heinemann-Douglas.

SBD Dauntless, itu namanya.”