Actions

Work Header

Que sera-sera

Chapter Text

Jika ditanya apa rutinitas pagi seorang Tita di rumah Om kesayangannya pasti Tita akan berkata,  ‘Bangunin manusia super kebo,’  Tapi hari ini berbeda. Berbeda sekali karena handphone Tita mati karena lupa di charge semalam,  otomatis Tita kalang kabut melihat jam yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.

“MAMPUS GUE TELAT,  OM DILAN JUGA, “ Tita langsung  terjum dari tempat tidurnya dan ke kamar mandi. Setelah mencium bau ketiaknya yang syukurlah tidak bau-bau amat,  Tita putuskan untuk mencuci muka dan menggosok giginya. Secepat orang yang dikejar-kejar anjing karena disangka maling,  Tita menyambar seragam putih abu-abunya lalu tanpa membereskan isi tasnya ia bergegas keluar kamar menuju kamar Dilan.  

 

Sesaat sebelum merangsek masuk ke kamar Dilan, bel rumah Dilan berbunyi berkali-kali.

“YA AMPUN SIAPA LAGI SIH DATENG PAGI-PAG.. , “ teriaknya frustasi sembari membukakan pintu rumah Dilan dan terdiam ketika melihat seseorang yang ia hanya kenali lewat foto saja sudah berada didepan rumah Dilan.  

 

“Pagi, Kamu Tita ya. Dilan sering banget cerita tentang kamu. Oh iya Aku Rangga. Salam kenal ya,” Ujar orang tersebut dengan senyum khasnya. Di tangan kanannya terdapat sebuah pot kecil seukuran genggaman tangan berisi tanaman succulent berwarna warni.

“Oh ..my..god..crap.” Tita langsung berlari ke arah kamar DIlan, meninggalkan Rangga yang bingung dengan tingkah keponakan kekasihnya.

 

“OM DILAN.. BANGUN !!!! OM BANGUN OM .. ADA DIA DATENG..” teriak Tita sambil mengguncang-guncang tubuh Dilan. Dilan yang masih tidur dengan tenang mulai merasa terganggu dengan tingkah Tita.

“Tita .. berisik ahh, masih jam enam tahu !” ujar DIlan semakin mendekap gulingnya.

“IH .., OM DILAN.. OM HARUS BANGUN LIAT SIAPA YANG DATENG.”

“Siapa sih? Satpam depan minta uang keamanan? Biarin aja suruh kesini akhir pekan.”

“Bukaaannnn om, makanya om bangun liat sendiri !!.” Dilan berdecak kesal, lalu perlahan bangun dan mengucek matanya yang masih setengah terbuka.  Rambutnya yang sudah panjang sebahu dan sedikit menutupi mukanya ia rapihkan dan ia kuncir cepol dengan asal.

“Okay..okay.. Kamu gak mau kasih tahu om.. Siapa yang dateng.”

“Om mending lihat sendiri. Daripada Tita disangka boong.”

“Iya.., om liat sendiri.”  Dilan beranjak dari tempat tidurnya, dengan langkah yang masih agak sempoyongan, ia keluar dari kamar tidurnya dan berjalan ke arah pintu masuk

“Dilan.”

Langkah Dilan terhenti ketika mendengar suara  dari arah belakang. Jantungnya berdetak kencang. Grogi bercampur takut, perasaan takut yang kurang bisa ia jelaskan. Ia tidak berani menoleh ke belakang.

“Ternyata.., rambut kamu lebih panjang dari terakhir kali kita video call. “ ujar Rangga menampakkan senyum simpulnya.  

“Kata kamu dua hari lagi.”

“Surprise i guess?”

Tangan Dilan mengepal dengan kencang. Kesal.  Ia benar-benar kesal dengan dirinya juga Rangga yang tiba-tiba datang dan masuk ke rumahnya. Apa semudah itu bertemu dengan kekasihmu yang sudah 14 tahun tidak bertemu dan masuk ke rumahnya seenak jidat?  Apa bertemu dengannya itu bukan hal yang besar?  

“Jangan deket-deket!” Rangga mengernyitkan dahinya.  Oke,  dia bingung. Apakah Dilan tidak suka dia memberikan surprise seperti ini.

“Dilan?  Kamu kenapa?  Apa aku ada salah? “

“Kamu tuh.  Kamu tuh gak peka atau gimana sih. Kamu enteng banget dateng ke rumah Saya, dan gak mikirin gimana perasaan Saya.”

“Loh kamu ngomong apa sih sayang. Tentu aku mikirin hal itu. Kamu kenapa, cerita sama aku.”

Tita yang melihat omnya yang masih mematung di tempatnya tidak berani berkata apa-apa. Peraturan pertama  ketika kamu menjadi keponakan seorang Dilan, jangan ganggu om Dilan disaat dia sedang emosional. Walhasil, Tita cuma melipat tangannya di dada sembari mengigit kuku jarinya khawatir.

‘Haduh..  Jangan sampe putus dong,  ‘ ujar Tita dalam hati.  

“Rangga..,  aku takut.”

“Iya sayang aku tahu. “

“Kamu gak takut?  Kamu gak takut pas kamu ketemu aku,  ternyata aku udah berubah drastis dari sebelum kita berhubungan jarak jauh? “

“Orang kan berubah-ubah sayang.  Itu hal biasa. Tentu aku punya ketakutan yang sama kayak kamu.  Beberapa bulan ini aku mikir bakal kayak gimana hubungan kita setelah kita bersama lagi. Kita bakal tinggal dimana, Apakah ini bakal berhasil,  apakah aku bisa bahagiain kamu seterusnya. Aku tahu kita akan hadapi ini bersama, berdua, kamu sama aku,  mungkin ke depan kita bakal adopsi anjing atau kucing.  Terserah kamu. Selama itu sama kamu,  aku dan kamu akan baik-baik saja.  So.., please Dilan izinin Rangga kembali pulang ke dalam hidup Dilan. Rumah Rangga cuma Dilan seorang.  Gak ada lagi.” Ucap Rangga dengan perlahan Rangga mendekati Dilan yang masih berdiri membelakanginya. Dengan hati-hati Rangga menyentuh bahu kekasihnya dan memutar badan kekasihnya menghadap ke arahnya.  

 

Dilan hanya mengikuti gerakan Rangga.  Akhirnya ia berhadapan dengan kekasihnya,  namun pandangannya masih berfokus pada lantai yang ia injak.  

 

“Dilan..,  lihat aku.” Dilan masih diam.

“Dilan..,” perlahan tangan kanan Rangga menyentuh dagu Dilan dan mendongakkan wajah dilan untuk bertatapan langsung denganya. Manik cokelat Dilan bertemu dengan manik kehitaman Rangga. Kekasihnya menitikkan air mata sedari tadi, pelan-pelan Rangga menghapus air mata yang mengalir di sudut mata Dilan.

“Dilan sayang. Kamu tahu sudah ratusan kali Rangga membayangkan skenario apa yang bakal terjadi ketika kita bertemu. Kamu lebih sering mengalah di hubungan ini. Kamu yang selalu bilang semua akan baik-baik saja.  Jadi sekarang aku pun bakal bilang semua akan baik-baik saja. ya.” ujar Rangga sembari mengusap lembut pipi Dilan.  

“Maafin Dilan. Dilan over thinking sama hal-hal yang gak perlu. Di.. Dilan cuma takut.” Tangis Dilan lalu pecah dan Rangga memeluk Dilan dengan erat.  

“Iya.. Aku tahu kamu takut. It's  gonna be alright .” Badan Dilan kembali rileks didalam peluk Rangga.  Astaga,  betapa rindunya ia dengan pelukan Rangga. Nyaris ia lupa bagaimana hangatnya peluk Rangga.  Dilan balas memeluk kekasihnya dan membenamkan mukanya yang tak karuan di dada bidang kekasihnya.  

“Aku kangen kamu. Aku kangen kayak gini.”

“Aku juga kangen kamu.  Oh ya. Astaga aku hampir lupa.” Rangga buru-buru melepas pelukannya lalu melangkah ke meja kecil di pojok ruangan.  Ia ambil pot kecil berisi sukulen berwarna hijau dan kuning.  Ketika melihat pot kecil itu,  Dilan tersenyum kecil.  

“Kamu jauh-jauh dari New York cuma kepikiran bawa kaktus?” canda Dilan.  

“Ini sukulen,  kamu tahu walau mereka kecil,  mereka tahan panas, tahan kemarau, dan kamu tahu arti dari tumbuhan ini?”

“yang punya orang-orang pemales rawat tanaman? “ giliran Rangga yang tertawa.

“ya…  bisa sih.  Tapi sebenernya aku kasih ini ke kamu. Tumbuhan ini simbol hubungan kita yang sampai saat ini bertahan walau hampir putus berkali-kali, salah paham berkali-kali,  lost contact belasan kali. Dan akhirnya kita ketemu lagi.” ujar Rangga sembari memberikan pot kecil itu ke tangan Dilan.  

“Aku ..aku gak tahu harus balas apa ke kamu.”

“ Gimana kalau,  pindah ke tempatku? Move in with me Dilan. “ lagi-lagi Dilan ternganga tidak percaya ketika mengeluarkan sebuah kunci  dengan gantungan kunci berukir Dilan.  

“Ka.. Kamu.. Katanya baru tahun besok kamu Bener-bener permanen..,”

“Surprise lagi…,Jadi Dilan, kamu mau temenin aku selamanya?  Jadi partner hidup saya sampai kita berdua sama-sama bosan? “ tanya Rangga lagi.

“Rangga kamu kedengeran kayak lagi ngelamar saya. “ pipi dilan merona kemerahan. Ia tidak bisa menahan senyumnya yang semakin melebar.  

“Iya aku lagi ngelamar jadi partner seumur hidup kamu.  Jadi gimana Mas Dilan apa saya lulus? “

“Sini mana bibir kamu.” Dilan menjawabnya dengan ciuman. Bibir Rangga tak berubah dari sebelumnya.

“Espresso? “ tanya Dilan selepas mencium Rangga

“Favorit kamu.” ujar Rangga.  

 

Tita yang melihat adegan per adegan hanya bisa memandang omnya dengan tatapan ‘ASTAGA..  SERIUSAN DI DEPAN KEPONAKANNYA BANGET’,’YA AMPUN OM GUEEE NGEDRAMAAK BANGET SIH’

 

“EHEMM… , OM maap-maap nih yak,  udah selesai belom?  Telat ini Tita.” Tukas Tita. Seketika Rangga dan Dilan sadar bahwa mereka dari awal bertiga,  bukan hanya berdua. Pipi Dilan semakin memerah ketika mengingat tadi ia menciumnkekasihnya di depan Tita.  

“ASTAGA…. IYA KITA TELAT. YA AMPUN TITA.. MAAFIN OM YA.  SEBENTAR OM GANTI BAJU DULU. “ dilan bergegas ke kamarnya dan meninggalkan Rangga bersama Dilan.  

“Jadi… kalian bakal tinggal serumah? “ tanya Tita tiba-tiba.  

“ Ya itu rencana saya sejak lama.”

“Oke, Tita ngerti.  Tita harap kalian bahagia.  Tapi yang harus om tahu, Om iti beruntung karena dapet omnya Tita. Kalau Om Dilan kenapa-kenapa, Tita bisa bales om berkali lipat.” ancam Tita sembari menatap tajam ke arah Rangga. Dalam hati Rangga tertawa terbahak melihat Keponakan kekasihnya.  Tita mengingatkannya pada Dilan semasa SMA.  

“Om tahu kok Tita.  Om tahu betapa beruntungnya om bisa dapetin om kamu. Kamu restuin kami berduakan. “

“Restu itu udah pasti om,  tenang aja,  asal jangan umbar-umbar adegan drama romcom di depan Tita ya. Bikin iri aja. “ omel Tita.

“Kamu bisa pegang omongan om. Kamu mau kerjasama dengan saya untuk bahagiain Om Dilan? “ tanya Rangga sembari mengulirkan tangannya.  

“Tentu om.  Aku sepakat dengan perjanjian ini. “

 

Ini adalah babak awal bagi Rangga dan Dilan menghadapi masalah-masalah berdua sebagai pasangan dan juga babak awal bagi Tita yang bakal sering jadi nyamuk diantara om-om kesayanganya.