Actions

Work Header

Que sera-sera

Chapter Text

Hubungan yang awalnya mereka sendiri tidak tahu akan berujung dimana dan membuat mereka seperti apa akhirnya menginjak usia ke 14 tahun. Mencoba berbagai macam perkembangan teknologi komunikasi sampai pada tahap mereka lebih intense bertukar pesan dan foto lewat pada  awal-awal smartphone muncul. Rangga memutuskan untuk mencari pekerjaan sembari meneruskan studinya di New york, dan kini ia menjadi salah satu penulis kolom di salah satu koran yang memiliki reputasi sangat besar di Amerika. Dilan setuju dengan pilihan Rangga karena menurutnya Rangga akan lebih berkembang disana ketimbang di negara sendiri.

 

‘Kamu gedein dulu nama kamu disana, baru kamu boleh pulang kesini.’ ujar Dilan pada hari dimana Rangga mengutarakan niatnya untuk melanjutkan sekolah dan bekerja terlebih dahulu di New York. Rangga sering menuliskan tentang Hak Asasi Manusia, kebebasan berekspresi,dan juga mengenai keberagaman identitas seksual dan juga gender, setelah lulus Rangga memang mengambil kajian gender di universitas lain, awalnya memang karena motivasi pribadi.

 

Bagaimana dengan Dilan kita yang dari remaja urakan, mantan preman sekolah, dan berubah menjadi mahasiswa hukum ? Kini DIlan aktif membantu mengadvokasi kasus-kasus pelanggaran HAM dan kelompok minoritas lainnya.  Sebenarnya Dilan memang sudah aktif ikut dalam gerakan mahasiswa hukum yang fokus terhadap pelanggaran-pelanggaran hak minoritas semasa ia duduk di bangku kuliah. Hal ini benar-benar membuat ayahnya sangat marah yang notabene mantan militer yang terseok kasus yang Dilan urus juga.

 

Pertentangan itu memuncak hingga akhirnya Dilan memutuskan untuk keluar dari rumah, ibunya menangis hebat kala itu membujuknya untuk tinggal di rumah dan mendinginkan kepala. Dilan menolak ajakan ibunya dan bertekad untuk keluar dari rumah. Hari itu, merupakan titik balik dari hidup seorang Dilan. Ia menumpang di rumah temannya untuk beberapa hari sembari mencari pekerjaan. Beruntungnya ia punya kenalan di salah satu lembaga bantuan hukum di Jakarta, akhirnya ia mulai membantu disana.

 

Walau sudah tidak tinggal di rumah lagi,Bunda masih tetap mengunjungi Dilan di indekosnya, kadang tiap akhir pekan Bunda menginap semalam, kadang Bunda hanya mengunjungi Dilan sekitar sejam sampai dua jam karena harus membatu Aida, kakak perempuan  Dilan yang terkadang meminta bantuan untuk menjaga Tita anak semata wayangnya. Sejak Dilan kecil Aida yang lebih dekat dengannya. Dia juga yang paling mendukung Dilan untuk memilih fakultas hukum, dan sering membantu keuangan Dilan juga ketika adik laki-laki semata wayangnya ini kehabisan uang. Karena hal itu, Dilan juga terkadang menginap di rumah Aida dan menjadi baby sitter tidak tetap TIta.

 

Begitulah yang terjadi selama beberapa tahun ini pada kedua insan tangguh pejuang LDR sejati dari zaman 90an. Saat ini Dilan ngontrak  dengan dua kamar tidur dan satu kamar mandi, yang kadang di satu kamar itu ditempati oleh Tita ( dan entah sejak kapan di klaim sebagai kamar pribadi Tita).

 

Setelah merapihkan mejanya, Dilan bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Tiba-tiba handphone Dilan berbunyi, ternyata telpon dari Rangga.

“ Halo.., Rangga kamu kenapa telpon jam segini. Kamu tumben banget telpon pagi-pagi.”

“Kamu belum pulang jam segini?”

“Belum, aku baru selesai beresin berkas kasus yang beberapa hari lalu aku cerita ke kamu.”

“Udah makan siang kamu?”

“Udah kok.”

“Dilan, aku dua hari lagi pulang ke Jakarta.”

Dilan terdiam, otaknya mengolah lebih lama ucapan Rangga dari biasanya.

“Hah dua hari lagi? Kamu becandanya gak lucu gitu sih.”

“Loh kok becanda sih. Kamu gak suka aku pulang.”

“Ya nggak gitu ya Rangga, aku cuma kaget aja. Bukannya rencananya diundur?”

“Aku ada urusan sama keluargaku. Jadi aku harus pulang sebentar. Dan why not aku gak sekalian pulang ke rumahku.” ujar Rangga dengan memberi penekanan pada kata rumah.

Dilan cuma tersenyum geli, empat belas tahun itu seperti roller coaster bagi mereka dua, berkali-kali salah paham, berkali-kali hampir putus, berkali-kali harus mengeluarkan budget lebih untuk menyelesaikan masalah mereka.

“Iya walau hanya jadi tempat singgah sementara, karena harus jadi bang Toyib lagi.”

“Aku pasti pulang. Karena aku gak betah pulang ke rumah bukan milikku”

“Iya Rangga. Iya. Jadi dua hari lagi?”

“Iya dua hari lagi.”

“ Berapa lama kamu di Jakarta?”

“Paling cuma tiga hari. Ada banyak hal yang harus ku urus dulu.”

“Nanti pasti kamu ada waktu luangkan?” tanya Dilan ada sedikit nada berharap dan sedikit menuntut.

“Sayang…,  jadwalku penuh banget tiga hari itu. Maybe next time. Lagipula aku bakal bener-bener menetap di Indonesia gak lama lagi. Dilan yang sabar ya.”

“Oh.., oke.” ada nada kecewa dalam suara Dilan.

“Dilan…, empat belas tahun itu gak singkat loh.”

“Iya aku tahu Rangga. Aku cuma agak capek akhir-akhir ini.”

“Makanya mas pengacara probono kita yang satu ini, kalau diingetin makan jangan suka ngambek.” tutur Rangga.

“Iya mas columnist terkenal. Oke aku mau beres-beres dulu, nanti aku telpon lagi ya.”

Okay see you dear. Love you.”  Dilan kembali memasukkan handphone-nya ke saku celananya dan bersiap untuk pulang ke rumah.

 

Jarak dari kantor Dilan ke rumah pada jam-jam pulang kantor seperti ini bisa membuat mati tegang di motor, sudah macet, polusi udara, polusi suara, orang- orang yang marah karena ingin buru-buru pulang. Buat Dilan ia paling malas pulang terburu-buru, lagipula siapa juga yang menunggunya di rumah. Terkadang Dilan memang pulang larut malam sekali karena menyelesaikan sebuah kasus.Kadang juga ia menghabiskan waktu di kedai kopi bersama beberapa teman kantornya, seperti saat ini ia tengah nongkrong bersama dua teman seperjuangannya di LBH tempat mereka bekerja. Yang satu bernama Ratri yang satu lagi bernama Bruno.

 

Ratri lebih muda dua tahun dari dirinya, sudah menikah dengan pacarnya yang seorang chef pastry, beberapa kali Ratri membawa kue-kue pastry lezat. Perawakan Ratri tinggi semampai lebih tinggi 10 cm dari Dilan. Mukanya tegas, dan jika sedang senggang lebih senang menghabiskan waktu di ruangan Dilan untuk ‘ghibah’. Bruno lebih tua satu tahun dari Dilan. Sama-sama pengacara probono di Lembaga Bantuan Hukum tempat mereka bekerja. Bruno belum menikah sama seperti Dilan.diusianya ini Bruno memang sudah dicereweti keluarganya akan menikah kapan. Bukannya Bruno belum memiliki kekasih, ia sudah memiliki kekasih yang sudah hampir 10 tahun berhubungan dengannya.

 

Sejujurnya Bruno dan pacarnya tidak tertarik untuk menikah. Tiara, kekasih Bruno seorang seniman yang juga aktif dalam isu perempuan.Dilan sudah kenal dekat  dengan Mbak Tia (* panggilan akrab Dilan ke Tiara) dan mereka acap kali ngopi bareng juga. Bagi Bruno dan Tiara, mereka sepakat bahwa menikah itu sangat sulit untuk dilakukan, tidak segampang yang orang-orang tua mereka katakan. Ya asal mereka bahagia, Dilan tidak keberatan dengan alasan mereka yang penting tidak ada kekerasan dalam hubungan mereka.

Ratri masuk terlebih dahulu ke kedai kopi langganan mereka disusul Bruno lalu Dilan yang mengikuti dari belakang. Mereka mengambil tempat duduk favorit mereka. Pojok. Rakyat semesta alam juga senang yang dipojok-pojok. Posisi yang enak untuk bergosip katanya. Mereka memesan kopi favorit mereka,  favorit Ratri adalah Espresso , begitu juga dengan Dilan, sedangkan Bruno bertahan dengan Black Coffee -nya.

 

“Gua gak nyangka, ini kopi item ke sepuluh yang gua minum hari ini,” ujar Bruno membuka percakapan diantara mereka.

“Ini espresso ke empat yang gua minum sehari ini,” Ratri menimpali dengan raut muka yang juga kusut.

Dilan hanya diam saja sambil memandang kosong ke espresso yang baru ditaruh oleh sang barista di mejanya. Ia sedang membayangkan skenario apa yang akan terjadi ketika nanti akhirnya bertemu lagi dengan kekasihnya. Walaupun kini mereka berkomunikasi setiap hari, rasanya bertemu secara langsung itu tetap saja memiliki sensasi yang berbeda. Bagaimana jika ketika mereka nanti akhirnya bisa bersama lagi, keadaan malah berubah menjadi buruk?

“Dil. lu kenapa ? diem aja daritadi ?” tanya Bruno sembari menyeruput kopi hitamnya.

“Gapapa.”

“Dih ya Dilan, kayak anak SMA baru puber aja nih diem-diemannya. Kenapa ? ada masalah lagi sama laki lu?” tanya Ratri.

“Rangga tiba-tiba telpon terus bilang kalau dia bakal ke Indonesia dua hari lagi.”

“WUIH…., congrats dilaaan~ , harusnya kan lu seneng dong.” ujar Ratri.

“Bukan gitu. Lu kebayang gak sih, orang yang udah lama gak ketemu secara langsung selama hampir 14 tahun, terus akhirnya ketemu lagi. Coba bayangin bakal se- awkward apa?”

“Ya maklum lah namanya juga baru ketemu lagi.”

“Tapi gua gatau kenapa gua jadi takut nanti bakal terjadi yang aneh-aneh.”

“Aneh? Apa? Angry sex di dapur?” canda Bruno.

“Dih otak lu niat banget gua  gampar ya.”

“Ya apa Dil? Emang selama belasan tahun ga ketemu kan. Tapi kan kalian selalu komunikasi. Awkward   itu bukan pertanda buruk kok,”

“Dan pasti ada banyak hal baru yang bakal kalian temuin. Dan itu membuat hubungan kalian gak boring.

“Gimana kalo dia merasa aneh dengan gua yang sekarang. Kayak banyak hal dalam diri gua yang berubah, terus dia malah masih membayangkan gua yang masih sama kayak Dilan sebelum kami LDR?”

“Iya mungkin dia bakal merasa aneh awalnya, tapi laki lu gak bakal mikir seperti itu. Kita semua tahu dengan fakta bahwa kita akan berubah, gak mungkin bakal kayak gitu-gitu aja.”

Kedua temannya ini suda tahu bahwa ia berpacaran dengan laki-laki bernama Rangga. Waktu pertama kali Bruno dan Ratri tahu bahwa seorang DIlan sudah LDR hampir tujuh tahun, mereka hanya ternganga tidak percaya, iya mereka bukan kaget karena mengetahui Dilan memiliki kekasih laki-laki.

 

‘Gila lu bisa selama itu?’

‘Shit.. dari kapan lu LDR.. SMA?’

‘Kalian, gapapa kalo saya punya pacar laki-laki?’

‘Santai bro, gua banyak kok temen-temen yang bergerak di advokasi kawan-kawan minoritas seksual dan gender, nanti gua kenalin deh,’

‘Gua juga biasa aja Dil. ihh pengen dong liat foto cowok lu,’  mendengar kalimat-kalimat sederhana dari teman-temannya yang menerima Dilan, hatinya merasa hangat.  Rangga, Dilan punya temen baru disini, ucapnya dalam hati sembari tersenyum mendengar celotehan Ratri, mengagumi foto terakhir yang Rangga kirim lewat surel.

 

Hari sudah menunjukkan pukul sembilan malam, jalanan mulai agak sepi. Karena besok masih hari Rabu, dan mereka masih harus masuk kerja, akhinrya mereka memutuskan untuk pulang. Kalau jalanan seperti ini, jarak dari kedai kopi ini sampai ke rumah Dilan  hanya memakan waktu satu jam, sebenarnya tidak terlalu jauh hanya jalannya saja yang agak ribet.

 

Di perjalanan Dilan masih memikirkan nasehat-nasehat sahabatnya. Memang benar apa yang dikatakan oleh dua sahabatnya itu, overthinking -nya mulai kambuh. Ratri selalu menasehatinya tentang masalah   ini, sepertinya ia harus kembali melakukan yoga, ha yoga? Iya menurut Dilan ia sudah tidak bisa melampiaskan emosinya dengan olahraga dengan medium kekerasan seperti muaythai atau tinju, ia benar-benar butuh ketenangan jiwa. Maka dari itu dia memutuskan untuk beryoga. Kontrakan Dilan berada di sebuah kompleks perumahan di daerah Jakarta Barat, gang rumahnya agak berada paling belakang komplek itu. Dan kebetulan sekali ia menemukan kontrakan di pojokkan gang buntu. Sepi. itu yang Dilan sukai. Mendapatkan kesunyian di dekat pusat kota itu agak sulit dan hampir-hampir langka.    

 

Dilan sampai di kontrakkannya, lampu teras rumah sudah menyala terang benderang kebetulan Tita sedang menginap seminggu penuh di rumahnya. Dilan memang memberikan satu kunci cadangan untuk Tita, agar kalau ada apa-apa Tita bisa pulang ke rumahnya. Sepertinya Tita sudah tidur, lampu ruang keluarga terlihat sudah gelap.

Setelah mengunci pintu depan, Dilan memeriksa kamar keponakannya yang berada didekat ruang tamu, sesudah ia ketuk terdengar suara cempreng Tita menyahut dari dalam. Tita sudah bergelung nyaman didalam selimutnya. Tumben sekali keponakannya ini sudah siap-siap mau tidur, biasanya jika berada di rumahnya. Tita paling malam akan tidur sekitar jam 12-san.

 

“Tita.. pura-pura tidur banget kamu? Biasanya jam segini masih sibuk nelponan sama Adit.” Goda Dilan.

“Bodo!!”

“Kamu kenapa lagi sama Adit?” tanya Dilan sambil duduk disamping Tita yang berbaring menghadap dinding.  

“Tau. Tita benci Adit. “

“Duh anak milenial, kalo ngambek ya.”

“Om sok tua banget sih ngomongnya. Dulu juga pernah kayak gini kan. Masa Om Rangga gak pernah nyebelin.” Dilan cuma menahan senyum, oke ia akui jika melihat Tita, ia seperti kembali melihat masa-masa awal melakukan hubungan jarak jauh dengan Rangga.

“Jangan gitu, nanti nyesel lagi, kemaren bilangnya, uu Titaa sayang banget sama Aditt om. Pokoknya sayang banget.”

“Ih… Om mah.. Bukannya menghibur malah bikin kesel. Udah ah Tita males.”

“iya-iya . yaudah kamu habis ini tidur ya. Besok mau bareng berangkatnya sama om?”

Tita mengangguk tanpa menoleh ke arah Dilan.

Dilan keluar dari kamar Tita, rutinitas sepulang kerja setelah dia membersihkan diri biasanya Dilan akan berada di ruang kerjanya, menyelesaikan beberapa berkas, lalu berangkat ke pulau kapuk.

Hari sudah semakin larut ketika Dilan menoleh ke arah jam di meja kerjanya. Pikirannya masih sedikit berantakan karena percakapannya dengan teman-temannya tadi. Ia melirik ke arah handphone -nya, ingin sekali ia menelpon Rangga dan mendiskusikan kegundahannya saat ini. Sesaat ingin memencet tombol call , Dilan berubah pikiran dan menaruh handphone -nya kembali,

 

‘kamu bego banget sih Dilan, over thinking kamu yang bakal ngancurin hubungan ini, stop being stupid ’ pikirnya.