Actions

Work Header

Gaudeamus Igitur

Chapter Text

Kenalilah musuhmu, maka kau akan dengan mudah mengalahkan mereka. Selama lebih dari 1 dekade Hiroto mengecap bangku sekolahan, tidak pernah sekali pun ia lupa dengan petuah purba yang diajarkan ayahnya. Ya, termasuk saat ia terlibat tawuran antar pelajar bertahun silam.

Satu hal yang pasti, ayah Hiroto tak pernah mengenal praktisi akademi berperangai garang penderita waham kedisiplinan macam Karasuma Tadaomi; sehingga petuah bijak di atas tak bisa diterapkan pada orang yang bersangkutan. Karasuma-sensei selaku pembimbing penelitiannya muntab ketika Hiroto membawakan seporsi martabak manis saat bimbingan.

"Tidak tahu adat! Kau tahu tidak? Kampus kita mencanangkan program wilayah bebas korupsi. Bisa-bisa saya diciduk karena menerima martabak dari kamu!"

Suara sang dosen garang seakan membuat sekat kubikel itu ikut bergetar. Hiroto membatu, wajahnya pias dibanjiri keringat dingin. Ia tampak tak sanggup menimpali sepatah kata pun. Sebagai pengamal dasa dharma pramuka, ia tak berani menyela pembicaraan, tidak sopan. Ia biarkan saja Karasuma-sensei marah-marah, biar saja dia jadi objek pandang adik tingkat yang sedang mengumpul makalah, biar saja ia didamprat habis-habisan.

Lain pembimbing dua, lain pembimbing utama. Koro-sensei yang hobi berpakaian nyentrik bahkan senang sekali mendapat martabak dari Hiroto. Usut punya usut, Koro-sensei adalah pembimbing akademik Hiroto sejak masih semester 1. Jadi, Hiroto tahu betul kalau Koro-sensei itu masih lajang, tak pandai memasak, dan sering tak kebagian makanan di kafetaria.

Roda nasib yang berputar itu ada benarnya. Ia pernah menertawakan Gakushuu yang ternyata mendapatkan ayahnya sendiri sebagai pembimbing penelitian. Hari ini, tidak ada seorang pun yang menyangka Hiroto akan mendapat petaka. Roda nasib Hiroto berputar terlalu kencang, pengaitnya copot, dan berakhir tengkurap mengenaskan di atas aspal panas.

.

.

...***...

...***...

.

.

Gaudeamus Igitur

Mozaik 1 : Vivat academia

"Bagi Hiroto, lulus adalah prioritas utama, harga mati dan tidak bisa ditawar. Ibarat salah satu warna triase, lulus berada dalam garis merah; gawat darurat dan mengancam keselamatan. Bagi Eren, lulus itu bagai membalik telapak tangan. Mudah, kecuali jika tangan yang dibalik itu tangan gergasi, maka istilah mudah pun harus dinegasi."

Oleh :

emirya sherman dan Roux Marlet

Disklaimer :

Ansatsu Kyoushitsu (c) Yuusei Matsui

Shingeki no Kyojin (c) Hajime Isayama

Parodi tagline "hiduplah seperti Larry", Spongebob Squarepants (c) Nickelodeon

Fanfiksi ini adalah murni karya nonprofit, kami tidak mengambil keuntungan sedikit pun dari fanfiksi ini.

Dipublikasi atas dasar kemanusiaan(?) dan perwujudan solidaritas untuk mahasiswa yang pernah atau sedang dalam proses melewati tugas akhir. Apabila terdapat kesamaan tokoh, kisah tragis mahasiswa atau latar tempat, semuanya adalah sejumput pengalaman pribadi dan rekayasa kami.

...***...

Selamat membaca :)

.

.

...***...

...***...

.

.

Dedengkot UKM jurnalistik, Araki Teppei, pernah memberikan kiat-kiat lancar skripsi lewat majalah kampus. Banyak mahasiswa yang heran, karena sebenarnya Teppei masih satu angkatan. Berani-beraninya si kacamata itu memberikan kiat yang belum diuji validitas dan reabilitasnya.

Salah satu kiatnya adalah, bersikap baik pada pembimbing. Bleh! Bocah cilik juga tahu kalau siswa harus menghormati gurunya.

Hiroto mengaitkan langkah itu dengan informasi lain yang menarik dari majalah itu. Dalam sebuah rubrik perkenalan jurusan, ada informasi kalau Karasuma-sensei langganan martabak dekat Kunugi-mart. Berdasar informasi nirfaedah itu Hiroto buru-buru membuat janji bimbingan sambil membawa sekotak martabak. Niat baik Hiroto ternyata menghadapi batu sandungan, sehingga ia ingin protes pada Teppei.

Namun, saat Hiroto bertemu Teppei di pojok internet kampus mereka, si kacamata itu pura-pura amnesia bahwa UKM yang diketuainya pernah menerbitkan artikel terkait.

"Aku tidak merasa pernah melihat tulisan seperti yang kaubicarakan. Itu salahmu sendiri, siapa suruh membawa upeti waktu bimbingan. Kaupikir ini zaman kerajaan?"

Hiroto makin manyun. "Huh? Mana mungkin kau tidak tahu. Kalau begitu ganti saja kacamatamu dengan kacamata kuda!"

Teppei mengedikkan bahu tak ambil pusing. Ia balik kanan bubar jalan kemudian melenggang penuh gaya meninggalkan Hiroto. Dari ekspresi wajahnya, tampak sekali ia setengah mati menahan tawa. Komplotannya Gakushuu memang super, super menjengkelkan.

Bagi Hiroto, lulus adalah prioritas utama, harga mati dan tidak bisa ditawar. Ibarat warna triase di IGD, lulus berada dalam garis merah; gawat darurat dan mengancam keselamatan. Mencarikan jodoh untuk Koro-sensei adalah prioritas kedua—untuk balas budi. Warnanya hijau; gawat tetapi tidak mengancam nyawa. Meremukkan kacamata Araki Teppei adalah prioritas ketiga. Warna kuning; bisa ditunda.

Hari itu Hiroto berinisiatif menemui pembimbing lebih dahulu dari jadwal yang ditetapkan kalender akademik. Terdengar rajin, padahal niatnya adalah agar ia bisa santai ongkang-ongkang lebih lama, dan bisa bebas mejeng di jurusan sebelah. Setidaknya di lembar konsultasinya sudah ada paraf Koro-sensei, meskipun dalam kolom materi hanya ditulis, melaporkan judul penelitian dan motivasi—basa-basi—untuk Hiroto agar memperbaiki penulisan dan memperjelas urgensi penelitian. Lebih baik, daripada tidak sama sekali.

Teppei telah hilang di selasar taman, Hiroto ditinggal sendirian dengan gerutuan, "Hah, jam segini biasanya aku sudah makan siang. Mana makalah belum di-print. Sudah semester bangkotan masih saja diberi tugas."

Uang yang dipakainya untuk membeli martabak adalah uang jatah makan siangnya. Sudah disampaikan pula bahwa martabak itu tidak ada maksud apa-apa, bukan sogokan melainkan untuk maksud ramah-tamah. Karasuma-sensei tidak peduli, dan tidak mau peduli.

Hiroto membuka dompetnya, kemudian dimasukkannya ke dalam saku lagi. Buat apa dicek, toh dompetnya sudah tipis.

.

.

...***...

...***...

.

.

Hiroto membuka aplikasi pesan di ponselnya, berharap ada kabar ia telah memenangkan undian sabun cuci baju, meskipun dia tahu itu serupa modus operandi kasus penipuan. Ia selalu menggunakan jasa binatu, sekadar informasi saja.

Setidaknya, ia hanya memohon mendapat 1 atau 2 kabar baik untuk memperbaiki suasana hatinya. Apa pun, dari operator provider pun tak masalah.

Di grup percakapan kelasnya, ada lebih dari 70 pesan yang belum dibaca. Hiroto tak ambil pusing, barangkali itu mahasiswa paranoid yang meminta kontak dosen tertentu. Bibirnya membentuk kurva setengah lingkaran, cengiran itu mulai terlihat sinis nan sadis. Balon notifikasi grup itu bahkan makin bertambah, sudah hampir mencapai 100 pesan. Sepertinya penghuni grup percakapan itu mengetik dengan kecepatan setan.

Pesan pertama yang dibukanya adalah dari Akabane Karma, "Oi, makan yuk, bareng anak-anak kost. Ayam penyet depan kampus, bagaimana?"

Hiroto menyahut jengkel, "Tentu, kalau kau yang membayari. Tch, biasanya kalau seperti ini aku yang diperas untuk membayari kalian. Dasar tengik." Ia lebih memilih untuk mengamankan sisa uang di dompetnya.

Pesan kedua, dari Mr. Dosbing II, "Maehara, martabakmu saya bagi ke teman-teman dosen. Mereka bilang rasanya enak. Beli di mana? Omong-omong proposalmu sudah saya koreksi, nanti bisa kauambil di atas meja saya."

Hiroto merasa mentalnya teraniaya, "Tch. Katanya tadi tidak mau."

Pesan ketiga, dari Pak Bos, "Maehara-kun, makalahmu sudah di-print. Dijilid tidak?"

Pesan itu langsung dibalas cepat, "Dijilid pakai mika bening, ya."

Kontak yang ia namai Pak Bos itu pun membalas tak kalah cepat dengan oke singkat.

Hiroto menatap layar ponselnya penuh determinasi, ia kemudian membalas dengan penuh pertimbangan masak-masak, "Ngebon dulu ya. Hehehe."

Beberapa saat kemudian satu pesan hinggap di ponselnya, "Sudah kuduga." Tak lupa emoji tawa sampai menangis. Hiroto meringis.

Tanpa diketahui orang banyak, si mahasiswa tingkat akhir itu sudah mulai mengurangi gaya hidupnya yang hedonis cenderung konsumtif. Benar kata Koro-sensei, penelitian membutuhkan banyak pengorbanan, termasuk lembaran uang saku yang biasa ia hamburkan di tempat nongkrong favoritnya.

Baru beberapa jam lalu ia harus bolak-balik lahan penelitian dan ruang tata usaha kampus karena surat izin penelitian ada kesalahan pada bagian penerimanya. Belum lagi menunggu tanda tangan dari ketua jurusan, padahal yang bersangkutan sedang rapat di direktorat.

Kemalangan lain menimpa ketika ia berkenalan dengan seorang gadis cantik di bus kota. Entah sudah bawaan orok atau panggilan jiwa, Hiroto iseng meminta kontak dan media sosial gadis itu. Saat gadis itu turun dari bus terlebih dahulu, masih sempat juga Hiroto melambaikan tangan lewat jendela. Gadis itu bahkan membalas lambaiannya.

Namun, ada yang aneh, gadis itu melambaikan tangan dengan memegang beberapa lembar uang. Memerlukan waktu tak sedikit hingga bus melewati beberapa blok sampai Hiroto menyadari bahwa uang yang dilambaikan gadis itu berasal dari dompetnya. Sialnya lagi, kontak dan media sosial yang diberikan si gadis fiktif belaka. Hiroto gigit jari.

Barangkali Gakushuu diam-diam mengirim teluh padanya. Maklum saja, harga diri Gakushuu sering mendadak inflasi jika ia dengar ada yang menyinggung nama Asano senior disebut-sebut dekat corong telinganya. Termasuk saat Hiroto dan Karma memicu amukan Gakushuu beberapa hari yang lalu. Apalagi kalau bukan masalah tetek-bengek tugas akhir, mahasiswa mana pun biasanya akan jadi lebih sensitif.

"Oke, jadi sekarang ambil hasil koreksian di meja Karasuma-sensei dulu."

.

.

...***...

...***...

.

.

Di antara miliaran manusia yang hidup di planet mirip kelereng ini, Hiroto menemukan satu orang yang unik. Menurut Yukiko Kanzaki yang pernah berdinas di rumah sakit jiwa, ada kemungkinan orang itu menderita waham kebesaran—merasa dirinya mempunyai kehebatan dan kekuasaan. Orang itu adalah tukang fotokopi di depan kampusnya dan para mahasiswa yang sering hilir-mudik di kiosnya selalu memanggilnya dengan sebutan Pak Bos.

Pria itu mungkin di usia sekitar 30-an, berambut hitam yang potongannya hampir menyentuh leher, dan beralis tipis.

Hiroto tidak habis pikir, karena pria yang terlihat awet muda ini cukup tampan jika dibandingkan dengan abang-abang fotokopian yang lain. Pernah suatu ketika ia menguping pembicaan pria itu dengan seorang ibu-ibu paruh baya yang sedang fotokopi KTP di sana. Ibu itu bertanya kenapa pria itu tidak jadi bintang iklan saja. Jawaban yang dilontarkan terasa sangat menjengkelkan, dan terdengar seperti tipikal orang yang menderita waham betulan.

"Ah, saya ini mantan asasin ahli. Pernah membantai gembong narkoba, keturunan ningrat, dan caleg. Mana mungkin saya tampil di ruang publik. Saya takut diciduk Interpol."

Ibu itu cekikikan, menganggap pria itu sangat jenaka. Namun, ketika ibu itu menanyakan kenapa tidak sembunyi di daerah terpencil saja, pria itu menjawab dengan kalem,

"Saya ini tidak pernah mengecap bangku pendidikan formal, jadi saya merasa kalau berada di dekat mereka membuat saya berada di dalam lingkungan para akademisi."

Hiroto yang mendengar penuturan itu merasa terharu.

.

.

...***...

...***...

.

.

"Bumi kepada Maehara-kun ... Bumi kepada Maehara-kun!"

Hiroto tak merespon. Pria yang dari tadi memanggil Hiroto itu mencubit ujung bawah telinga Hiroto. Si mahasiswa lepas dari lamunan lalu mengaduh kesakitan.

"Kenapa lagi sih, Bang?"

"Hm, barusan itu salah satu cara untuk menilai respon orang yang tidak sadar loh."

Alis Hiroto menukik tajam, ia sangsi.

"Ini makalahmu, sudah dijilid. Bayarnya lain kali saja."

Hiroto memasukkan makalahnya dengan berseri-seri. Kios fotokopian ini memang idola seluruh umat. Tidak heran kios itu selalu ramai meskipun saingan bermunculan. Termasuk saat koperasi kampus Hiroto membuka tempat fotokopi juga. Kejayaan kios ini tak tertandingi.

Hiroto hampir pamit pulang ketika hendak memasukkan makalah dan hasil koreksian pembimbingnya ke dalam map. Ia mendapati makalahnya disusun dengan urutan halaman yang salah. Bahkan, beberapa halaman terkena jejak karbon hitam sehingga menutupi rangkaian kalimat dalam makalah itu. Buru-buru ia balik badan.

"Bang, ini banyak yang ketutupan. Tinta ya?" Tas Hiroto diletakkannya asal-asalan. Dibentangkannya halaman yang acak-acakan itu di atas meja konter.

"Ah, mungkin mesinnya error. Ya sudah, sana di-print lagi. Pakai Mesin 2 saja. Tidak usah bayar."

Hiroto bersorak girang, "Siap! Kapan-kapan aku pinjamkan pensil alis dari Hinata deh, Bang."

"Tidak, tidak usah repot-repot."

Saat itu sebuah suara baru menyisip,

"Bang, print-copy dan warna bisa?"

"Bisa, pakai komputer dekat orang yang rambutnya pirang itu ya."

Hiroto yang selesai mengeklik ikon berlambang print langsung menengok ke sebelahnya. Ia menemukan pemuda yang terlihat seumuran dengannya. Berambut gelap sedikit berantakan dan beriris hijau terang. Hiroto sempat berpikiran ngawur kalau orang ini mata duitan.

Dilihat dari wajah, sepertinya orang ini sudah tidak tidur beberapa hari; kantung matanya mengerikan. Dilihat dari tingkah, orang ini terlihat tergesa-gesa. Dilihat dari lambang pada korsa yang dikenakan—

"Maaf, kenapa lihat-lihat saya, ya?"

—orang ini jelas tidak satu kampus dengan Hiroto.

Kedapatan menatap orang itu, Hiroto berjengit kaget. Mata bertemu mata, berlatar mesin fotokopi dan bocah-bocah cilik yang berebut penghapus berbentuk kumbang. Tidak, tentu tidak ada latar bunga-bunga, atau alunan musik yang mendayu-dayu. Alis orang yang ditatap Hiroto menukik tajam.

"Ada masalah apa denganku? Tidak pernah lihat orang dikejar deadline, ya?"

Ups. Orang ini jelas tersinggung parah.

"Ah, maaf. Kamu bukan mahasiswa Kunugigaoka, 'kan?"

"Oh, memang bukan kok. Kebetulan semua tempat print di sekitar kampusku sedang ramai. Jadi, aku ke sini. Kata temanku di sini lebih murah."

Batin Hiroto mengiyakan, karena memang benar demikian.

"Maehara-kun, punyamu sudah selesai. Sana pulang."

Hiroto berpamitan pada lawan bicaranya, kemudian menghampiri meja konter. Diceknya dari kover sampai daftar pustaka. Makalahnya aman. Ia memasukkan barang-barangnya yang berserakan ke dalam map, kemudian menenteng tasnya.

"Pulang dulu, Bang."

Sekilas Hiroto melihat orang yang memakai komputer di sebelahnya. Satu fakta yang ia dapat, mereka sama-sama mahasiswa tua. Perbedaannya adalah, Hiroto masih mengerjakan proposal, sedangkan orang itu sudah berjibaku dengan laporan skripsi. Entah Hiroto harus muntah darah berapa kali untuk bisa menyelesaikan tanpa turbulensi yang berarti.

Namanya juga tugas akhir. Kurang epic kalau tidak dilalui tanpa meresapi semboyan 'Hiduplah seperti Larry'.

.

.

...***...

...***...

.

.

Mozaik 1 : Selesai

.

.