Actions

Work Header

Tsundere

Work Text:

Jikalau Trois bilang ia semakin yakin Honey menyukai Jyugo hanya karena tak sengaja melihat kedua pemuda itu bertubrukan di lorong—rasanya itu adalah hal yang tak masuk akal.

Memangnya ini sinetron? Tak sengaja bertabrakan, langsung terdengar musik romantis bermain atau latar bunga menemani? Begitu?

Pikiran dari mana coba?

Lagipula kalau ditanya soal perasaan, jujur saja selain sakit pada bokong, tak ada perasaan lain yang menghinggapi Honey saat itu. Jyugo menabraknya sambil berlari, lalu seenak jidat terjatuh di atas tubuhnya. Pakai diam dulu selama semenit lebih pula.

Kalau saja sedang tidak menjaga image di depan para fansnya, mungkin Honey sudah menendang Jyugo agar segera menjauh darinya.

“Ayolah jujur saja padaku Honey-kun.”

“Mati saja kau Trois.”

Tsk.

Ini alasan mengapa Honey tidak suka berbincang dengan Trois—pemuda itu suka sekali memberikan kesimpulan sesuka hati.

Sudah dibilang Honey itu alergi pada Jyugo. Melihat wajahnya yang melempeng itu saja, dahi Honey pasti langsung mengerut tak senang. Bagi Honey, Jyugo itu kerjanya hanya membuat kesal, dimarahi sedikit wajah pemuda itu langsung berubah seakan dunia diserang wabah ganas.

Pokoknya senang sekali membuat Honey berakhir dilanda rasa bersalah.

Seperti waktu tabrakan kemarin. Baru dipelototi saja Jyugo langsung memasang muka hendak menangis. Memangnya Honey begitu seram? Wajar saja jika ia tersinggung.

Tangannya sempat mencubit pipi Jyugo karena tak terima.

Tapi yang punya pipi malah semakin berkaca-kaca.

“Makanya jadi orang jangan terlalu tsundere.”

“Kau jangan ikut-ikutan sialan—”

“Uno-kun mau kue?”

“Tentu saja!”

“Oi—jangan abaikan aku!”

Ini lagi.

Sejak kapan pula Uno ikut-ikutan duduk di meja yang sama dengan dirinya dan Trois—pakai makan jatah kuenya segala pula. Trois sialan. Bukankah tadi pemuda itu bilang, kue itu spesial dibeli untuk Honey?

Dasar pengkhianat.

“Kalau kau begitu terus, Jyugo tidak akan berani dekat denganmu,” Uno berucap setelah memakan tiga suapan. “Bagaimana bisa kau mendapatkan hatinya.”

“Siapa juga yang mau mendapatkan hati—”

“Tentu saja kau Honey-kun. Sekali lihat juga kami tau kalau kau menyukai Jyugo-kun.”

Tidak adakah yang mau mendengarkan ucapannya hingga selesai? Asumsi dari mana rasa kesalnya pada Jyugo adalah isyarat perasaan cinta?

Jyugo itu payah, lambat, tidak pandai bergaul, pendiam, tidak terlalu pintar, menyebalkan—bagian mana dari ‘kelebihan’ pemuda itu yang dapat membuat Honey dimabuk cinta?

Honey memijit keningnya.

Seharusnya ia ingat—setiap kali berbincang dengan kedua makhluk didepannya itu, pasti akan ada kerutan muncul didahinya.

“Jyugo itu berhati kaca. Jadi gunakan kata-kata yang menenangkan. Bukannya malah marah-marah.”

“Aku tidak marah-marah kok, hanya menasehatinya saja—”

‘Kau buta ya! Kalau jalan pakai mata dasar bodoh!’ Ehem—jadi bagian mana yang menurutmu adalah nasehat Honey-kun?” Trois menggelengkan kepala, pandangannya mengiba. “Aku tau maksudmu itu ‘Apakah kau bak-baik saja?’ tapi karena malu, yang keluar malah makian. Aku benarkan?”

Apa?

Honey tak membalas. Pura-pura sibuk dengan sedotan yang sedang ia gigiti ujungnya. Lagipula ucapan Trois tidak masuk akal, jadi untuk apa dipikirkan.

Dia khawatir? Pada Jyugo?

Haha—yang benar saja. Iya kan...?

“Aku tau Honey-kun. Kau pikir aku sudah mengenalmu berapa lama?”

“....3 tahun.”

“Jadi?”

Jadi?

Tentu saja Honey tidak khawatir—

—Ukh—Oke! Baiklah!

Honey tak tahan dengan pandangan yang Trois dan Uno berikan.

Trois benar. Hati kecil Honey sempat terbesit demikian. Ia khawatir—(apalagi setelah mereka terjatuh dan mendengar Jyugo mengaduh)—Honey sempat berdebar dan panik. Takut sekali jikalau pemuda itu terkilir.

Hei! Me-memangnya salah kalau Honey khawatir?

Jyugo terpaut 4 tahun darinya, lebih pendek pula darinya. Bolehkan kalau Honey menganggapnya sebagai adik kecil?

Itu—Adik kecil yang disayang, disuka dan dicinta.

Ehem. Ya pokonya begitulah.

“Minta maaf sana ke Jyugo, dari kemarin kerjanya uring-uringan terus.” Kue dipiringnya sudah habis, giliran jus strawberry milik Honey yang menjadi sasaran Uno. “Dia galau karena membuatmu marah lagi padanya.”

“Eh kenapa Jyugo-kun begitu?” Honey yakin nada bicara Trois terdengar jahil ditelingnya.

“Kenapa ya? Hm....Ah—apa karena Jyugo tidak mau orang yang ia suka membencinya?”

“Iya—Iya bisa jadi!”

BRAK.

“BERISIK! TUTUP MULUT KALIAN!”

Honey benar-benar sudah tak tahan dengan kedua rekannya. Sejak kapan mereka bersengkongkol menggoda hubungannya dengan Jyugo? Apa-apaan mereka?

Untung saja Honey sempat membalikkan meja (dengan brutal) sebelum beranjak menjauh. Kalau tidak—mungkin wajah meronanya sudah membuat kedua pemuda itu tergelak karena puas.

(Habis mereka berdua sukses menemukan fakta.)