Actions

Work Header

gloss

Chapter Text

Mulanya berbentuk serabut benang sari. Bulu-bulu halus itu terbang di atas kepala serupa kunang-kunang dengan warna kuning cerah.

Para peri mendongak. Udara sekitar terasa sublim jadi pasir. Napas mereka tertahan. Takut bulu-bulu itu menyusup masuk rongga paru dan membakar mereka dari dalam. Hanya seorang peri yang berani bergerak di antara mereka. Dia peri bermata hijau tajam dan suaranya terlampau lantang, sebab dia bisa melihat apa yang terjadi di masa depan.

“LARI!”

Hanya beberapa detik kemudian, bulu-bulu di udara memadat meruncing. Bentuknya ribuan jarum, yang menukik terjun seperti hujan, ganas menghunjam kulit-kulit bercahaya.

Para peri terlambat berlari. Bahkan tak sempat berteriak. Seluruhnya tertikam, terjatuh, menggeliat-geliut. Hujan jarum belum berhenti menekan.

Peri yang sebelumnya memberi peringatan terbang, melindungi rekannya yang terluka. Dia menjerit, “Armin? Armin! Bertahanlah!” Sambil bersiap menahan pedih, ia rengkuh tubuh temannya dan berpejam.

Di atas ubunnya, jarum-jarum berpatahan dengan bunyi yang mengiris telinga.

Sayap berzirah hitam membentang di atasnya. Sayap itu melekat pada tubuh peri pria berpedang dua. Surai gelap membingkai wajah tampan yang berdarah. Tangguh, pedangnya mengayun secepat kilat, nyaris tak kasat saat ia membelah jarum-jarum di atas mereka. Serpihan yang lolos menembus pelindung dan mencederai kulit pria itu.

Geraman lirih dari mulut pria itu membuat hati sang peri mencelus. Pria itu menoleh kepadanya, dan dengan senyum terakhir, ia berkata, “Eren—”

Hujan jarum berikutnya datang menghunjam, menusuk tubuh maupun sayap pria itu sampai menyerpih di hadapannya.

Eren menyaksikan kematian pria itu, dan menjerit.