Actions

Work Header

To Find Out

Chapter Text

100


 

 

1. Bets dan Cita-Cita

Cita-cita Bets sebelum mengenal dunia kriminal adalah memiliki butik. Iya, butik. Dan Bets cilik sudah bisa membayangkan jenis pakaian apa saja yang akan tersedia di butiknya itu. Pakaian mewah dan gaun dari segala negara, yang dulunya hanya bisa ia lihat dari televisi.

Sederhana saja 'kan cita-cita Bets? Dan juga tidak mustahil. Maksudnya, melihat latar belakang Nyonya Hilton yang juga berkaitan dengan pakaian, tentunya mudah bagi Bets untuk mewujudkan cita-citanya.

Sekarang, kenapa dipersulit?

Kenapa cita-cita sederhana itu saja tidak bisa terwujud? Kenapa dia justru menjauh dari dunia yang selama ini jadi impiannya, dan bergumul dengan dunianya sekarang?

Huh! Salahkan saja Fatty.

 

 

 

 

2. Larry dan Larry

Namaku Laurence Daykin.

Begitu yang selalu didengungkan Larry tiap kali ia merasa kehilangan identitasnya.

Larry. Semua orang memanggilnya Larry.

Larry. Itu namanya. Ia bukan pembunuh. Ia hanya seorang pria muda yang menjadi arsitek freelance di sebuah kota kecil di Inggris. Ia bukan pembunuh. Ia hanya Larry.

Tapi.. gadis itu..

Tuduhannya tidak benar. Jika saja, Larry diberi kesempatan untuk menghubungi adiknya, semuanya pasti jelas. Ia pernah menjadi detektif amatir saat masih kanak-kanak. Daisy akan membuktikan itu semua. Ditambah Fatty. Dan Pip. Bahkan sekalian saja Bets memberikan kesaksian. Semuanya akan menjadi lebih jelas.

Larry bukan pembunuh.

Larry tidak akan membunuh.

Iya 'kan?

 

 

 

3. Daisy dan Dilema

Antara mawar dan bunga tulip, mana yang akan kau pilih?

Tangan Daisy terhenti di udara. Tanpa sengaja, justru permainan kanak-kanak itu yang ia ingat di atas semuanya. Saat ia dan Bets bermain 'Pilih Mana'. Tentu saja segalanya jauh lebih sederhana. Sekarang, Daisy harus memilih sesuatu yang lebih rumit. Sangat rumit.

Ia tidak mengira bahwa lamaran Pip itu datang bersamaan dengan pernyataan cinta laki-laki lain. Dan Daisy harus memilih meski Pip sendiri tidak mengetahui dilema itu.

Antara dia dan dia, mana yang akan kau pilih?

Tapi, ia menyayangi keduanya. Dan meskipun berat bagi Daisy, harus ada yang dia pilih pada akhirnya.

 

 

 

4. Pip dan Buket Bunga

Tahu tidak? Pip benci toko bunga. Bunga membuatnya bersin. Alergi serbuk sari itu sungguh menjengkelkan. Apalagi di musim semi. Ia bisa bersin seharian gara-gara koleksi bunga-bunga Bets.

Tapi, betapa banyak yang bisa berubah hanya karena orang yang kau cintai akhirnya memilihmu. Kini, Pip justru memakai masker dan bertahan di sebuah kios florist. Ia memaksakan matanya melihat berbagai jenis bunga yang dipajang di sana.

Tapi ia sama sekali tidak menderita Ia senang berada di sana untuk Daisy Daykin. Gadis yang sudah ditaksirnya sejak masih bocah.

Daisy sudah memilih untuk mengiyakan lamarannya.

Persetan dengan alergi bunga. Buket bunga untuk Daisy lebih penting.

 

 

 

5. Fatty dan Donat

Bagaimanapun, Fatty benci udara panas. Ia sudah terlalu terbiasa dengan udara dingin di dataran Eropa, maka ketika ia menjejakkan kaki di Mesir, rasanya sungguh seperti di neraka.

Memang, ia sudah tidak segendut dulu. Dan rasanya, julukan Fatty kurang pas disematkan pada sosoknya yang kini kekar dan atletis. Hasil latihan dan diet yang akhirnya berhasil —terima kasih pada Inspektur Jenks.

Sungguh, jika bukan karena tugas, Fatty tidak akan mau keluar di udara sepanas ini. Rasanya seperti dalam oven.

Oven.. Donat.. Daisy..

Ia tiba-tiba merasa sakit. Luka itu ternyata belum sembuh sepenuhnya. Fatty gampang sekali sentimentil, sekarang, ya 'kan? Bets pasti setuju.