Actions

Work Header

Trust You

Chapter Text

 

—Trust You—

Author: Rin

Chapter: 1/2

Disclaimer: All casts is belong to theirselves.

Rated: T

Pair: YeKyu (Yesung x Kyuhyun)

Genre: Romance – Friendship

.

Warning: AU, Crack Pair, Shonen-ai/BL, OOC untuk keperluan cerita, fluff (maybe… ^^a).

Ket: italic, semacam flashback.

.

.

DON’T LIKE DON’T READ

.

 

Jam masih menunjukkan pukul setengah tujuh pagi ketika pesawat dengan penerbangan dari Salzburg tiba di Seoul. Walau sebenarnya waktu masih terbilang cukup pagi bagi kebanyakan masyarakat untuk beraktivitas, namun suasana di Incheon Airport jauh dari kata sepi—dan memang selalu seperti itu hampir di setiap detiknya.

Seorang namja bertubuh sedang meregangkan tubuhnya tatkala ia menapakkan kakinya di lantai ruang tunggu bandara terbesar di Korea Selatan tersebut, sedikit melemaskan otot-ototnya yang agak tegang gara-gara tertidur dalam posisi yang… katakanlah tidak terlalu nyaman di pesawat selama perjalanan tadi.

Ia melemparkan pandangannya ke sekelilingnya. Kacamata hitam semi-transparannya memantulkan cahaya matahari yang menyusup masuk ke dalam bangunan tersebut. Ia menghela nafas lega, tak ada yang menjemputnya karena ia memang tidak menceritakan pada siapapun—termasuk keluarganya—mengenai kepulangannya ke kampung halamannya ini, setelah lebih dari dua tahun berada di salah satu kota terbesar di Austria itu.

Segera setelah ia selesai dengan kegiatannya melemaskan otot-ototnya yang agak menegang, ia menarik koper hitam yang berada dekat dengan kakinya—melangkah keluar dari bandara tersebut dan menuju suatu tempat. Lagipula tujuannya kembali ke Seoul adalah tempat itu…

.

.

Suasana kelas saat itu sangat jauh dari kata tenang. Salahkan para guru yang malah mengadakan rapat rutin di tengah jam sekolah, hingga para siswa pun mau tidak mau—walau sembilan puluh persen mungkin menyatakan kemauannya—harus mengalami yang namanya jam kosong. Dan itu—hanya baginya mungkin—adalah satu-satunya momen di sekolah yang paling ia benci.

 

Kalian pikir ia gila? Menganggap jam kosong adalah sesuatu yang sangat buruk? Ayolah, bahkan hoobaenya di kelas dua sana bahkan bisa berubah perangai hanya karena momen yang sangat disenangi oleh sembilan puluh persen siswa—atau mungkin lebih tapi tidak akan mencapai angka seratus persen mengingat ada dirinya dan hoobaenya itu di jajaran pembenci jam kosong.

 

Yah, bukan karena ia yang terlalu mencintai pelajaran atau apalah, yang menyebabkannya bisa begitu membenci jam kosong. Ia bahkan tidak terlalu senang dengan yang namanya sekolah, kalau saja tidak ada kewajiban untuk menuntut ilmu. Yang ia benci dari momen ini hanyalah keributan yang—pasti—akan tercipta ketika saat-saat ini datang. Hell, tidak bisakah mereka bersikap sedikit lebih dewasa? Bahkan tingkah laku mereka yang katanya sudah menginjak kelas tiga SMU ini tak lebih baik dari anak SD.

 

Ia menghela nafas dengan agak keras—walau mungkin tak cukup keras untuk didengar seluruh teman sekelasnya—hingga kacamata berbingkai hitam yang dikenakannya agak berembun. Ia berdiri dari tempat duduknya yang berada di pojok belakang kelas. Sengaja ia memilih tempat itu agar tak ada yang mengganggunya—yang memang mencintai ketenangan.

 

Langkah kakinya terdengar halus, hingga tak ada seorang pun yang menyadari ia yang menyelinap keluar kelas. Ia melangkahkan kakinya menyusuri koridor-koridor di bangunan sekolahnya tersebut. Sepi, namun ribut. Bingung? Yang dimaksudnya adalah sepi tak ada satu pun manusia yang terlihat di koridor-koridor berlantai marmer itu, namun suara-suara yang berasal dari balik pintu-pintu geser berwarna gading itu sanggup membuatnya ingin berheadwall ria—kalau ia tidak ingat akan resiko kena geger otak.

 

Dalam situasi seperti ini, kelihatannya taman belakang sekolah adalah opsi terbaik untuk masuk kategori tempat tenang tanpa gangguan makhluk-makhluk pencipta keributan di sekolah ini.

.

.

Namja bersurai hitam itu berhenti tepat di luar bangunan Incheon Airport. Diam sejenak, seolah berpikir—dan memang itu yang sedang dilakukannya. Berpikir apakah sebaiknya ia pulang ke rumahnya terlebih dulu atau langsung menuju tempat itu.

Tak ingin menghabiskan waktu dengan sia-sia seperti ini, ia memberhentikan sebuah taxi yang melewati tempat itu. Pulang ke rumah bisa ia lakukan nanti, yang terpenting adalah ke tempat itu.

Lagipula dua tahun tak bertemu dengannya, dan itu sangat menyiksanya.

.

.

Kakinya berhenti tepat di hamparan seluas 5x8 meter yang terletak di bagian belakang sekolahnya. Iris obsidiannya menyapu seluruh objek di tempat itu, memperhatikan kalau-kalau ada guru yang terlihat di sana. Walaupun ini jam kosong—untuk semua kelas—namun bukan berarti para siswa bebas untuk berkeliaran di lingkungan sekolah. Dan kalau ia ketahuan berada di tempat ini oleh guru yang memang diharuskan untuk mengajar di kelasnya, ia dalam masalah besar.

 

Ia melangkahkan kakinya menuju sebuah pohon yang agak besar di tengah taman, salah satu tempat favoritnya di tempat ini.

 

Iris obsidiannya kembali menyapu daerah sekitar itu. Yakin kalau tempat itu benar-benar sepi, ia pun menjatuhkan tubuhnya di hamparan tanah yang tertutup oleh rerumputan yang terpotong rapi. Berterimakasihlah pada tukang kebun sekolah mereka, hingga tempat ini layak untuk diduduki.

 

Krrsskk... krrsskk...

 

Baru saja ia akan memasang earphone di kedua telinganya, indera pendengarannya menangkap suara lain yang kelihatannya berasal di dekatnya. Ditajamkannya pendengarannya, berharap kalau ia salah dengar. Ayolah, ia hanya sendirian di tempat ini lalu tiba-tiba terdengar suara aneh, bukankah itu agak sedikit... menakutkan? Apa jangan-jangan sekolah ini adalah tempat berhantu? Mungkin saja...

 

Krrsskk... krrsskk... BRUUKKK!!

 

“Aww... appo...“

 

Ia mengerjapkan kedua matanya. Berkali-kali, berusaha untuk meyakinkan penglihatannya kalau ia memang tidak salah lihat. Ada sesuatu—atau mungkin lebih tepatnya seseorang—yang baru saja jatuh dari pohon di atasnya tepat di hadapannya.

 

Dan demi alasan kemanusiaan, daripada ia dianggap tidak berperikemanusiaan, berhubung ia satu-satunya makhluk di tempat itu yang berjuluk manusia, sang namja bersurai hitam itu mendekat ke arah objek yang baru saja terjatuh. Sedikit bersimpati tidak masalah kan, toh bisa saja orang yang jatuh itu adalah orang yang dikenalnya.

 

“Hei, gwaenchana?“

 

Objek yang terjatuh—ah, atau katakanlah namja yang terjatuh itu mengingat kata ‘objek‘ sebenarnya agak sedikit tidak sopan—dan tengah mengaduh kesakitan serta bersumpah serapah ria (beruntung tak ada anak-anak di tempat itu), mendongakkan kepalanya. Kedua matanya mengerjap beberapa kali—yang membuatnya seperti mengalami deja vu mengingat ia baru saja melakukan itu beberapa saat lalu—ketika dirasanya ada seseorang yang memanggilnya.

 

Nde?“

 

Beruntung bagi sang namja berkacamata yang memiliki tingkat kesabaran lumayan tinggi, kalau tidak, mungkin ia akan menabok siapapun namja di hadapannya ini.

 

Gwaenchana?“ Ia mengulangi kalimat yang sama—dan ia benci itu.

 

Namja berambut coklat itu menganggukkan kepalanya—ragu. “Ng… mungkin…”

 

Ia mengerutkan alisnya. Jawaban yang singkat, namun tidak memuaskan. Jatuh dari pohon dengan ketinggian sekitar tiga meter itu sejujurnya bisa dikatakan tidak baik-baik saja, terutama kalau posisi jatuhnya seperti yang dialami oleh namja—yang diperkirakan adalah hoobaenya—ini dimana kepala duluan yang jatuh. Tak adakah posisi jatuh yang lebih bagus lagi? Lagipula untuk apa orang ini ada di atas pohon segala? Bersaing dengan seorang Lee Hyukjae, siswa kelas dua yang entah kenapa selalu dikatakan mirip dengan monyet, kah?

 

Ia mengulurkan tangannya, sekali lagi, setidaknya bersimpati pada orang lain tidak ada buruknya. Namja berambut coklat itu mengerjapkan kembali kedua matanya, bingung. Namun detik berikutnya, ia menerima uluran tangan tersebut dengan sedikit ragu.

 

“Aa… gomawo… sunbae...”

 

Ternyata benar dugaannya. Memang adik kelasnya.

 

“Namamu?”

 

Namja berambut coklat itu diam sesaat. Benar-benar irit kalimat, itu kesan pertamanya terhadap namja yang diperkirakan adalah sunbaenya ini. “Cho… Kyuhyun…”

 

“Namaku Kim Jongwoon, ingat itu baik-baik.”

 

Dan berikutnya, sang senior pun berlalu dari tempat itu, melupakan tujuan awalnya untuk mencari ketenangan di tempat ini dan meninggalkan namja yang terjatuh tadi, membuat sang hoobae menatapnya dengan tatapan heran—dan bingung.

 

Sunbae yang aneh…”

.

.

Ia memandangi pemandangan yang terlihat sepanjang perjalanannya menuju tempat itu. Tidak menarik sebenarnya, karena toh ia tidak benar-benar memandangi keadaan yang tidak banyak berubah selama dua tahun terakhir ini. Bukan melamun, lebih tepatnya hanya memikirkan sesuatu. Ini sudah dua tahun, dan selama itu pula ia tidak pernah menghubungi kekasihnya itu. Sengaja ia melakukan itu, setidaknya ingin agar mereka berdua bisa berkonsentrasi dengan apa yang menjadi urusan mereka saat itu. Ia dengan pendidikan musiknya dan orang itu dengan sekolahnya.

Dua tahun…

Bukan waktu yang singkat, namun juga bukan waktu yang terlampau lama. Hanya dua puluh empat bulan, dan kalau ia menjalaninya tanpa ada yang membebani pikirannya, mungkin waktu sepanjang itu dapat dilalui secara singkat.

Masalahnya adalah…

Dua tahun itu, ia tidak pernah sekalipun menghubunginya. Ia hanya mengetahui bagaimana kabar anak itu dari email yang selalu dikirimkan oleh adiknya. Dan kini, ia sangsi anak itu masih akan menerimanya.

Ia tersenyum tipis. Ini sudah dua tahun, artinya anak itu pasti sudah lulus SMU. Dan menurut kabar terakhir yang diberikan adiknya beberapa minggu yang lalu, anak itu kelihatannya melanjutkan kuliahnya di jurusan musik.

.

.

Lima hari berlalu sejak insiden jatuhnya Kyuhyun dari atas pohon (dan ia sendiri heran sebenarnya untuk apa anak itu diam di atas sana karena anak itu tidak pernah mengatakan apapun mengenai hal itu), yang berarti sudah lima hari itu pula mereka selalu bersama di taman belakang sekolah mereka.

 

Kim Jongwoon—atau Yesung—selalu menghabiskan waktunya di tempat itu untuk mendengarkan musik sementara Cho Kyuhyun tenggelam dalam PSP hitam yang selalu dibawanya. Tak banyak kata yang sering terucap dari kedua bibir mereka, karena keduanya selalu tenggelam dalam kegiatan masing-masing. Toh mereka juga berada di sini bukan karena kesepakatan keduanya, melainkan lebih dikarenakan faktor kebetulan—

 

—atau sebenarnya itu yang berusaha ditanamkan Jongwoon dalam otaknya. Setidaknya mereka tidak pernah bertemu karena hal yang disengaja.

 

Tak dapat dipungkiri dalam otaknya—walau ia pastinya tidak akan mengakuinya di hadapan orang lain, satu kata mengenai anak yang keberadaannya selalu berada di dekatnya tanpa sengaja ini adalah—

 

—tertarik.

 

Tertarik, dalam konteks bahwa namja yang lebih muda dua tahun darinya itu benar-benar membuatnya tidak bisa mengalihkan sedikit pun pandangannya dari namja ini walau ia terlihat seolah fokus dengan musik yang mengalun di telinganya.

 

Tertarik, karena hanya namja ini saja yang benar-benar bisa masuk dalam circle yang ia buat untuk membatasi dirinya dengan orang lain, tanpa harus melakukan komunikasi secara verbal terlalu sering.

 

 


“Jongwoon-ah…

 

Ah, dan satu hal lainnya yang membuatnya tertarik—sekaligus juga kesal—adalah… anak ini adalah orang pertama yang tidak sopan padanya. Hell, ia lebih tua dua tahun dari anak ini tapi anak ini malah dengan beraninya memanggil namanya seolah mereka ini seusia? Yah, bukannya ia mengakui kalau usianya itu memang sudah tua, tapi… jelas saja itu kesannya kurang sopan.

 

“Yesung-hyung…”

 

Setidaknya panggilan ini jauh lebih baik.

 

Ia mendongakkan kepalanya. “Nde?”

 

“Aku bosan.” Katanya sambil merebahkan tubuhnya di atas rerumputan.

 

Jongwoon mengerutkan alisnya, Tumben sekali…

 

Hyung...

 

“Apa lagi?“

 

“Aku ingin dengar suaramu.“ Lanjut Kyuhyun, kali ini menatap langsung ke arah Jongwoon.

 

“Bukannya aku selalu mengeluarkan suaraku kalau bicara denganmu?“

 

“Maksudku... bernyanyi.“

 

Aniyo, aku tidak mau. Suaraku tidak bagus...“

 

Kali ini Kyuhyun memutar kedua matanya. “Hyung, memangnya kau pikir kau bisa menipuku, apa? Ayolah, kau dipanggil dengan nama ‘Yesung‘ karena ada alasannya kan? Karena itu bernyanyilah...“

 

Jongwoon terdiam. Dan Kyuhyun dengan setia menunggu sunbaenya itu mengeluarkan suaranya.

 

Kyuhyun tidak dekat dengan orang lain di sekolah ini, itulah alasannya kenapa dia selalu menghabiskan waktunya di tempat ini—yang kebetulan sekali itu juga hal yang sering sunbaenya itu lakukan.

 

Dan satu hal mengenai sunbae beda dua tahunnya itu yang menyangkut dalam otaknya—aneh namun di sisi lain seperti ada semacam ketertarikan yang membuatnya bisa berlama-lama dengan orang itu. Rekor untuknya, yang kurang bisa bersosialisasi dengan orang lain, dan kini malah sering menghabiskan waktunya dengan namja yang irit bicara itu. Yah, walau komunikasi verbal selalu dilakukan dengan singkat, padat, dan jelas.

 

Lima hari yang mereka lalui, cukup untuk membuatnya bisa mengartikan maksud dari ketertarikan pada sunbaenya itu.

 

Suka.

 

Atau mungkin lebih tepatnya... cinta.

 

Benar, memang itu yang dirasakannya. Hanya seniornya ini yang entah kenapa bisa membuatnya merasa… yah… katakanlah… merasa nyaman. Nyaman dalam artian bahwa ia merasa tidak perlu menyembunyikan apapun dari orang ini karena seniornya ini memang tidak pernah menanyakan apapun padanya—dan itu cukup untuk membuatnya sedikitnya bisa agak lepas di hadapannya.

 

“Baiklah…”

 

Kyuhyun mendongakkan kepalanya dan tersenyum lebar. Membuat Jongwoon terpaku melihatnya. Satu kata… manis.

.

.

Macet…

Satu hal yang sebenarnya agak disyukurinya saat ini. Ia masih bingung bagaimana seharusnya ia bersikap di hadapan orang itu saat ini, setidaknya ini akan sedikit mengulur waktunya dan ia bisa memantapkan hatinya untuk benar-benar bertemu dengannya.

“Hufft…”

Sulit sepertinya.

Dan ia kini mengutuk—sekaligus juga menyesali—keputusannya untuk tidak pernah menghubungi kekasihnya itu, dengan mengganti nomor ponselnya dan mengacuhkan setiap email yang dikirimkan padanya.

Ternyata ini malah menjadi bumerang untuknya.

Ia menopang kepalanya dengan tangan kanannnya. Matanya menatap ke arah jalanan yang dipadati oleh berbagai macam kendaraan bermotor dan lalu lalang para pejalan kaki. Ini hari Sabtu, wajar saja kalau jalanan terlihat penuh seperti sekarang ini.

Kira-kira...

Apa yang sedang dilakukan anak itu saat ini?

.

.

Krrruuukk...

 

Jongwoon mengerutkan alisnya. Ia mendongakkan kepalanya. Dilihatnya Kyuhyun kini menundukkan kepalanya—berusaha menyembunyikan wajahnya yang... kelihatannya agak memerah. Malu kah?

 

“Kau lapar?“

 

Tak menjawab, Kyuhyun memilih untuk berpura-pura fokus pada game yang tengah ia mainkan. Dan Jongwoon sebenarnya sadar, kalau pertanyaannya itu adalah pertanyaan retoris. Ia sudah tahu jawabannya—sebenarnya, tapi ia juga ingin mendengarkannya secara langsung dari mulut yang bersangkutan. Dan itu... percuma saja, karena Kyuhyun memilih untuk mengatupkan bibirnya.

 

Kyuhyun menekan tombol-tombol pada PSPnya secara asal. Game yang tengah ia mainkan sebenarnya sudah mengalami game over sejak insiden perutnya yang berbunyi. Ia tidak peduli, toh permainan ini sudah terlalu sering ia mainkan. Yang ia khawatirkan saat ini adalah… bagaimana reaksi sunbaenya itu terhadap… err… kejadian barusan. Itu kan memalukan. Ia khawatir kalau sang sunbae malah menertawakannya—walau ia sebenarnya jarang melihat seniornya itu tersenyum apalagi tertawa. Bukannya sangat memalukan kalau orang yang ia sukai malah mendengar hal memalukan dari dirinya?

 

Jongwoon mendengus perlahan dengan sedikit senyum tipis terulas di wajahnya—walau tak terlalu kentara tampaknya. Jongwoon menutup buku yang sedari tadi dibacanya dan ia pun berdiri, menghampiri Kyuhyun yang duduk tak jauh darinya.

 

Kajja…” ucapnya. Tangan kanannya menarik tangan Kyuhyun, menyuruhnya untuk berdiri dan mengikutinya.

 

Mwo?” Kyuhyun mengerjap, mencerna apa yang barusah dikatakan oleh hyungnya itu. “Ke mana?”

 

“Kantin.” Jawab Jongwoon—singkat. Dan tanpa menunggu jawaban dari si pemilik tangan, namja bersuara emas itu sudah menarik Kyuhyun.

 

Dan Kyuhyun... ia hanya bisa pasrah mengikuti kemana sang senior membawanya pergi. Ah, satu lagi, wajah pucatnya yang sudah memerah, kini semakin memerah ketika didapatinya Jongwoon tengah memegang tangannya—dengan erat.

.

.

Jongwoon memandangi wajah Kyuhyun yang tengah duduk di hadapannya. Kini keduanya melakukan sesuatu di luar kebiasaan tiap kali mereka bersama, yaitu duduk berdua di kantin. Ditatapnya mulai dari kedua biji obsidian yang bersinar cerah, hidung mancungnya, bibir plumya yang… kelihatannya manis dan pipi pucatnya yang masih sedikit terdapat rona merah. Manis sekali… masih malukah ia karena hal tadi?

 

Kyuhyun menundukkan kepalanya, berusaha fokus terhadap makanan di depannya. Ia bukannya tidak sadar kalau sang senior tengah memandanginya saat ini. Ia justru sangat sadar, dan hal itulah yang membuatnya jadi salah tingkah kini. Ingin mendongak tapi ia khawatir kalau wajahnya—yang diyakininya masih memerah—akan terlihat olehnya dan itu sama saja menunjukkan hal yang sangat memalukan. Terus menunduk pun bukan pilihan tepat. Lehernya benar-benar sakit saat ini.

 

“Kyu…”

 

Kyuhyun mendongakkan kepalanya. “Nde?”

 

Jongwoon menjulurkan tangannya, tepat ke wajah Kyuhyun. Kyuhyun membatu, ia bahkan sampai melupakan dengan makanan di dalam mulutnya yang masih belum ia telan, ketika tangan seniornya itu mengusapkan jarinya di pipi kanannya, membersihkan remah-remah yang kelihatannya berserakan di wajahnya.

 

“Apa kau tidak bisa makan dengan sedikit lebih tenang? Setidaknya jangan sampai berantakan seperti ini...“

 

Kyuhyun diam. Bukan karena ia meresapi ucapan sunbaenya itu, tapi lebih dikarenakan efek shock dari apa yang baru saja dilakukan orang itu.

 

Gomawo... hyung...

 

Diam kembali menyelimuti keduanya, sebelum kemudian sebuah suara menginterupsi mereka—dengan kalimat yang sangat mengganggu.

 

“Ah, Yesung-hyung, jadi benar gosip mengenai kalian berdua yang pacaran?“

 

Mwo?

.

.

Ia tersentak, ketika dirasakannya taksi yang ia tumpangi kembali melaju. Kelihatannya macet yang sempat mengganggunya sudah dapat diatasi. Walau masih padat kendaraan, setidaknya mobil bisa melaju—pelan juga tidak masalah.

Kembali ia tenggelam dalam pikirannya. Di luar sana, seluruh masyarakat sedang memulai aktivitas harian mereka. Ia tidak peduli dengan itu.

Kurang dari satu jam lagi taksi yang ia tumpangi akan tiba di tempat yang ditujunya.

Masalahnya adalah… apa yang harus dikatakannya nanti ketika mereka bertemu?

Dan satu lagi… apa dirinya siap kalau ternyata penolakanlah yang nantinya akan diterimanya hanya karena keputusan bodohnya?

Entahlah…

Berdoa saja… semoga Tuhan berkenan untuk memberkatinya dengan kebaikan hari ini.

Dan ia pun menutup kedua matanya, menikmati hembusan angin Seoul di pagi hari.

.

—To Be Continued—

.