Chapter Text
“Pertemuan kali ini cukup sampai di sini.”
Para mahasiswa mulai membereskan barang-barang bawaan mereka dan meninggalkan ruang kelas. Josh buru-buru menambahkan sebelum ada yang meninggalkan kelas, “Jangan lupa minggu depan ada kuis sebagai persiapan ujian beberapa minggu lagi.” katanya mengingatkan.
Lelaki yang berdiri di depan kelas itu berbadan tinggi dan kekar. Rambutnya hitam legam dengan mata yang berwarna coklat gelap, nyaris hitam sempurna. Yang mengherankan adalah beberapa waktu sebelumnya wujudnya tidak seperti itu, lebih pendek setidaknya hampir dua puluh sentimeter dan agak gemuk. Tetapi karena terjadi sesuatu, inilah wujudnya yang sekarang. Wajahnya tetap sama namun dengan garis-garis wajah yang lebih mulus, tubuhnya lebih tinggi, dan juga lebih sehat dari sebelumnya, tampak bagaikan orang yang berbeda. Anehnya, tidak ada yang mengingat wujud lamanya selain teman-temannya dan semua orang yang saat itu berada bersama mereka sewaktu terjadi sesuatu hal yang menggemparkan seluruh dunia. Bahkan dia membutuhkan waktu setidaknya dua minggu untuk meyakinkan kedua orang tuanya kalau dialah anak pertama mereka. Yang membuat Josh bingung adalah perilaku semua orang seakan-akan tidak pernah ada.
Ruang kelas telah kosong ketika Josh selesai membereskan barang-barang bawaannya sendiri. Setelah merapikan semuanya, dia bersandar sejenak di bangkunya dan dengan mata tertutup. Dia memijat perlahan dahinya yang sedari tadi berkedut. Itu baru tahun kedua dia diangkat menjadi pengajar di perguruan tinggi itu, setidaknya menurut perhitungannya.
Sebenarnya dia sudah menjadi dosen di sana satu setengah tahun sebelum terlempar ke ‘dunia itu’ selama hampir tujuh tahun lamanya. Saat itu, hanya dengan mengandalkan kemampuan analisis dan mengumpulkan informasi yang dia miliki, dia berusaha mengeluarkan setidaknya lima puluh hingga enam puluh orang, termasuk dirinya sendiri, dari sebuah dunia imitasi yang diciptakan dengan sihir. Dia nyaris menyerah, namun dengan bantuan teman-temannya, mereka semua berhasil dikembalikan ke tujuh tahun sebelumnya untuk mengisi waktu yang hilang. Sedangkan Josh, yang waktu itu dengan sangat terpaksa berjuang sendirian, terlempar ke enam tahun sebelumnya karena Kunci Ruang dan Waktu yang dipegangnya tiba-tiba bereaksi sewaktu terkena gelombang kejut di dalam Lorong Waktu dan Dimensi.
Overlap antara ruang dan waktu yang terjadi menyebabkan kekacauan dan kepanikan yang luar biasa. Masa lalu, masa depan, dan masa kini seakan menjadi satu. Orang-orang yang seharusnya sudah meninggal bisa tiba-tiba muncul, sedangkan orang yang belum seharusnya lahir telah mendadak menjadi dewasa. Kondisi alam pun demikian, karena ada yang berupa campuran bangunan masa lalu dan bangunan futuristik, membuat pemandangan yang sangat aneh.
Sekarang, setelah hampir satu setengah tahun semua terjadi, semuanya telah berangsur kembali normal. Hampir seluruhnya kembali dalam situasi sebelum terjadinya gelombang kejut.
Josh sendiri telah kembali beraktifitas seperti biasa. Dia cukup menikmatinya, bahkan beberapa kali dia mondar-mandir berangkat ke Korea karena undangan teman-temannya yang mengajaknya jalan-jalan atau sekedar untuk menghilangkan rasa bosan. Dia merasa senang, tentu saja, karena dia selalu ditraktir oleh mereka. Well, setidaknya karena dia bisa berangkat tanpa membutuhkan biaya apapun termasuk biaya tiket pesawat terbang. Dia bahkan tidak membutuhkan visa karena teknologi yang dia gunakan untuk transportasi jarak jauh itu sudah sangat maju meski masih belum diketahui oleh umum.
Teleportasi, teknologi yang telah lama ditemukan oleh para Penjaga hingga kini masih misteri di kalangan fisikawan di seluruh dunia. Karena tugas mereka yang berat, para Penjaga harus memiliki teknologi setidaknya seratus tahun lebih maju dibandingkan kalangan biasa. Dan untuk mencapai teknologi setinggi itu, mereka mendapat bantuan dari sumber yang tidak terduga.
Setelah merasa sakit di kepalanya agak mereda, Josh mengangkut barang-barangnya sendiri lalu meninggalkan ruang kelas itu, kembali ke ruangannya sendiri. Selain karena satu alasan lain, terlalu banyak berpikir membuatnya agak kesulitan tidur tadi malam. Setahun belakangan ini dia sering merasakan firasat yang aneh dan beberapa hari ini firasat itu semakin kuat. Tapi hingga sekarang dia tidak bisa menebak firasat apa itu. Setidaknya, dia merasa bahwa ada sesuatu yang melenceng.
Josh menghempaskan diri di bangku tempat duduknya lalu kembali memijit kepalanya dengan mata terpejam.
“Sakit kepala?” tanya salah satu rekan kerjanya.
Josh hanya mengangguk dalam diam.
“Kalau sudah tidak ada jadwal mengajar, pulang saja. Istirahat.” saran rekan yang lain, melihat betapa menderitanya dia menahan rasa sakit.
“Ya, kurasa aku harus pulang.” katanya. Dia mulai membereskan mejanya, memasukkan laptopnya ke dalam tas, lalu berangkat meninggalkan kampus.
Ketika sampai di luar kampus, dia segera melepas kacamatanya. Kacamata itu sepertinya sudah tidak cocok lagi untuk dia gunakan, karena matanya kini telah sembuh. Well, setidaknya mendekati sembilan puluh lima persen. Angka yang sangat signifikan. Walau begitu, dia masih membutuhkan kacamata untuk membaca.
Josh memacu mobilnya sedikit dan bergegas kembali ke rumah. Dia akan bertemu dengan Changmin di Korea tiga jam lagi. Sebuah perjalanan yang mustahil dilakukan jika hanya menggunakan pesawat terbang. Tapi sebelumnya dia harus istirahat terlebih dahulu, setidaknya untuk meredakan sakit kepalanya.
Sesampainya Josh langsung menghempaskan dirinya di atas kasur tanpa mengganti pakaiannya sama sekali. Dalam hitungan detik, dia pun tertidur pulas hingga akhirnya terbangun dua jam kemudian.
Dengan terburu-buru dilihatnya jam tangannya. Jam tiga sore. Masih ada waktu satu jam untuk memenuhi janjinya dengan Changmin. Rencananya sore hari itu Changmin akan mengajaknya jalan-jalan di Seoul bersama Yunho karena jadwal keduanya di sore itu kosong.
Changmin dan Yunho adalah member sebuah boyband terkenal asal Korea, TVXQ. Ada juga yang mengenal mereka dengan nama Dong Bang Shin Ki atau Tohoshinki. Awalnya TVXQ adalah sebuah boyband beranggotakan lima orang, namun karena masalah tertentu, akhirnya Jaejung, Yuchun, dan Junsu memilih untuk keluar dan meniti karir sendiri. Semenjak itu banyak fans mereka yang menginginkan kelimanya kembali. Itu pernah terwujud, namun hanya untuk sementara waktu.
Dua puluh menit kemudian Josh telah siap, mengenakan sweater krem muda dengan syal putih dengan celana hitam dan sepatu coklat. Meski di Indonesia pakaian seperti itu dapat membuat pemakainya menjadi sangat gerah, namun berbeda halnya di berada di Korea. Udara di malam hari bisa sangat menusuk, dan dia sudah belajar banyak mengenai itu dalam kunjungan pertamanya di Korea.
Setelah dia yakin semuanya sesuai, dia lalu memutar-putar benda yang seperti jam tangan yang melekat pada pergelangan tangan kirinya lalu menekan sebuah tombol di situ.
Detik berikutnya dia menghilang dari kamarnya, menuju lokasi berikutnya, dorm TVXQ di Korea.
* * *
“Halo? Ada orang di sini?” Josh memanggil-manggil. Dia teleport masuk tepat di bagian dalam pintu dorm dua puluh menit berikutnya. “Changmin? Yunho?”
Dormitory itu tetap sunyi. “Changmin? Yunho?” Josh melepas sepatunya di depan pintu lalu perlahan menuju ke dalam. "Di mana mereka?" gumamnya.
Dua orang laki-laki berbadan kekar dan tinggi berlarian keluar. Yunho tampaknya baru saja selesai mandi karena dia berlari sambil mengenakan baju kaos berwarna merah. Rambutnya tampak masih basah. Sedangkan Changmin? Dia tampak sangat rapi, seakan hendak ke pesta. Tapi saat itu dia berlari keluar dari kamarnya dengan sebungkus makanan ringan di tangannya.
“Jo-Hyung!” seru Changmin. “Kapan sampai?”
“Pertanyaan bodoh untuk orang cerdas sepertimu, Changmin.” kata Yunho nyengir.
“Ah, Hyung benar.” Changmin lalu mempersilahkan Josh untuk duduk di sofa. “Aku sudah siap dari tadi, sementara Yunho hyung…” Dia melempar tatapan jengkel ke arah leader-nya itu.
“Hyung—“ Yunho memanggil Josh, mengalihkan perhatiannya dari Changmin yang masih terus memasukkan makanan ringan ke dalam mulutnya. Josh berbalik. “—tunggu sebentar. Aku harus mengeringkan rambutku dulu.” Dia menunjuk rambutnya yang masih basah.
“Kau kesulitan mengeringkan rambutmu?” kata Josh sambil berdecak.
Yunho mengangkat bahu. Tapi ketika dia berbalik, dia merasa ada sesuatu yang aneh. Sudah tidak ada lagi air yang menetes dari rambutnya. Rambutnya telah kering dengan sempurna. Dia berbalik lagi menatap Josh, yang membalas tatapannya dengan mengangkat bahu.
Tersenyum lebar, dia menuju kamar untuk mengganti bajunya dengan baju yang lebih pantas. Sebagai seorang figur publik yang terus-menerus mendapat sorotan dari masyarakat, tentunya dia tidak akan keluar dari dorm hanya dengan kaos oblong. Lagipula di luar sana udara sudah mulai mendingin.
“Aku tidak melihat Junsu, JJ, dan Yuchun.” kata Josh.
Changmin, yang menemaninya di ruang tengah, menghela napas. “Hyung, kau tahu tidak semudah itu kami bertemu dengan mereka.” katanya frustasi. “Kami masih dilarang untuk saling bertemu, jadi setiap saat kami harus sembunyi-sembunyi. Jangan sampai atasan ataupun media tahu.”
Josh menghela napas. “Jadi mereka masih memperlakukan kalian dengan buruk.”
“Untung fans masih sangat mendukung.” kata Changmin lagi, sekarang memindahkan posisi duduknya di sebelah Josh.
“Bagaimana dengan konser kejutan waktu itu? Apa mereka juga bertindak semaunya?” tanya Josh.
“Mereka hampir saja memberi kami sanksi kalau saja beritanya tidak bocor ke fans.” jawab Changmin. “Hyung seharusnya lihat bagaimana reaksi fans di sini. Mereka mengamuk.” Dia tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih. Dia mendekatkan mulutnya hingga dekat sekali dengan telinga Josh. “Tapi tidak ada yang tahu kalau aku yang membocorkannya, termasuk Yunho hyung.” bisiknya dengan suara yang sangat pelan.
Josh nyengir, lalu mengacak rambut Changmin dengan geli. “Cerdas.” pujinya sambil terkikik pelan.
“Ehem.”
Changmin sebenarnya hendak protes mengenai rambutnya Yang baru saja diacak-acak oleh Josh namun dia membatalkannya setelah mendengar suara itu di belakang mereka.
Keduanya berbalik dan mendapati Yunho yang sudah rapi berdiri di belakang mereka dengan kedua tangan terlipat di depan dada, memandang keduanya dengan datar.
“Hyung, kalau mau pacaran, jangan di sini.” katanya asal.
“Yah! Jung Yunho!” pekik keduanya serempak. Keduanya segera mengambil bantal kursi terdekat lalu mulai melempari Yunho yang berusaha menghindar sambil tertawa puas karena berhasil menggoda mereka berdua. Mereka baru menghentikan aksi kejar-kejaran itu ketika mendengar suara ringtone bernuansa remix.
One look from you girl and it’s too hard to get by
But excuse me girl, I been watchin’ you
All night’ that’s right, I’d like to
Take this night over
What I’m tryin to say is you should be mine
She should be my
Baby, baby
Baby, baby
Josh tersenyum geli mendengar suara ring tone itu. Itu lagu JYJ, tentu saja, dan itu menjadi ringtone ponsel Yunho. Desas-desus itu benar, Yunho adalah fans JYJ nomor satu.
“Yeoboseo (Halo)?” Hanya kata itu yang bisa ditangkap oleh telinga Josh. Dia sudah tidak mengerti kata-kata selanjutnya. Selama ini Yunho dan Changmin berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris. Meski keduanya masih terkesan agak kaku dan terkadang salah pelafalan, Josh memakluminya.
“Mwo (Apa)?” Sekarang keduanya mendengarnya berseru kaget. Tampaknya dia berusaha berargumentasi mengenai sesuatu tapi hubungan telepon itu mendadak terputus.
Yunho mematikan ponselnya dengan kesal. “Aish, jinjja—“
“Waeyo (Kenapa)?” Sekarang Changmin yang berbicara.
Yunho menatapnya, mendadak saja dia tampak lelah. “Changmin, kurasa kau harus mengungsikan Jo-Hyung untuk sementara waktu.”
“Mwo? Wae?”
“Ada masalah?” tanya Josh bingung, bersamaan dengan seruan Changmin.
“Manajer kami dalam perjalanan kemari. Dia membawa tim dari stasiun TV untuk mewawancarai kami.” katanya. “Mungkin mereka akan memeriksa kamar kita juga. Memangnya kita anak kecil, kamarnya perlu diperiksa segala.”
“Tapi bukannya sore ini kita libur?” kata Changmin protes.
“Kau kira aku tidak tahu itu?” Yunho menghempaskan diri di sofa depan mereka dengan wajah ditekuk. Changmin yang paham betul sifat leader-nya menatapnya heran. Belum pernah Jung Yunho bersikap seperti itu di depan orang lain. Sifatnya yang selalu tampil cool telah kabur entah ke mana, dan dia tampak lebih mirip anak kecil yang keinginannya tidak terpenuhi.
Changmin menghela napas. “Arrasso. Hyung, kajja (ayo).” katanya kepada Yunho lalu menarik Josh keluar. Josh, yang kebingungan, menurut saja.
“Akan kutahan mereka selama yang aku bisa. Kau harus segera kembali, kau dengar?” Mereka mendengar kata-kata Yunho sebelum pintu dorm tertutup.
* * *
“Sebenarnya kau hendak membawaku ke mana?” tanya Josh ketika akhirnya mereka berdua naik lift di sebuah apartemen lain. Changmin menekan angka dua belas.
“Ke dorm yang lain. Semoga saja mereka ada, dan sedang tidak ada acara.” Changmin merasa tidak yakin atas kata-katanya sendiri, tapi apa boleh buat. Dia tidak punya ide lain saat itu.
“Dorm yang lain?” tanya Josh masih tidak mengerti.
“Kau akan tahu begitu kita tiba di sana.”
Pintu lift membuka dan keduanya langsung keluar. Mereka melewati beberapa pintu apartemen dan berhenti di salah satu pintu yang terletak paling pojok. ChangMin menekan bel yang ada di situ sekali lalu menatap kamera yang ada di situ.
tak lama, mereka mendengar suara pintu terbuka, mempersilahkan mereka masuk. Mereka disambut oleh seorang lelaki yang mengenakan pakaian berwarna pink.
Menyadari yang datang bukan hanya Changmin, dia buru-buru berlari ke dalam dengan panik. Josh merasa pernah melihatlaki-laki itu, namun dia tidak dapat mengingatnya.
Mereka mendapati semua orang yang ada di sana berlarian kesana-kemari. Ada tumpukan pakaian di tangan mereka.
“Aish, kenapa kalian tidak pernah rapi? Menggantung pakaian di dalam rumah. Yang benar saja.” kata Changmin. “Leeteuk Hyung—“ Dia menatap seorang laki-laki yang memiliki senyum seperti malaikat. “—bukannya ada ahjumma (bibi) yang bertugas membersihkan tempat ini?”
“Hari ini dia sedang sakit dan karena di luar sana terlalu beresiko terpaksa kami menjemurnya di sini.” Dia membalas Changmin dengan senyuman, lalu menyerahkan pakaian yang ada di tangannya sendiri kepada laki-laki yang memiliki kaki paling panjang di antara mereka.
“Ah,” kata Changmin memperkenalkan Josh kepada mereka. Josh membungkukkan badannya sedikit. “kurasa kalian sudah mengenalnya.”
Josh tertegun. Dia memang merasa pernah melihat mereka, tapi dimana, dia benar-benar lupa. Laki-laki berpakaian pink itu, lalu si pipi montok bermata sipit itu, ada juga yang suaranya agak cempreng, dan laki-laki yang memiliki senyum yang membuatnya terlihat licik…
Mereka juga tampak menyadari sesuatu ketika melihatnya. Untuk beberapa saat lamanya mereka saling bertatapan.
“AH! “ seru mereka serempak.
“Ah, kalian—“ Josh berseru tepat pada saat yang sama. Dia ingat sekarang. Mereka adalah orang-orang yang dia temui sewaktu mereka terperangkap di dunia cermin, yang diberi nama Corona. Mereka juga sempat melihat bagaimana dia, Gilland, dan Justin—dua kembaran dirinya yang berasal dari dimensi yang berbeda—bertarung mati-matian menghadapi berbagai macam monster. Dan mereka juga menyaksikannya bertarung di layar tiga ratus inci di dalam markas Penjaga.
Pertarungan hidup dan mati itu dimenangkan olehnya, namun itu memicu ledakan besar yang menyebabkan gelombang kejut di dalam ruang dan waktu. Yang membuat mereka kaget adalah, dia selamat. Sementara menurut perhitungan, tidak ada yang bisa selamat dari ledakan sedahsyat itu.
“Tunggu, apakah itu kau?” kata laki-laki yang berpipi tembem.
“Dia yang kita lihat di—“
“Kau—masih hidup?” kata si pipi tembem lagi.
“Yah, Henry! Jangan kurang ajar.” sela Changmin. Semua mata memandangnya dengan heran. Tidak biasanya dia membela seseorang seperti itu. “Dia sembilan tahun lebih tua darimu, kau tahu?” Dia melanjutkan, “Dan ya, dia masih hidup.”
“Maafkan aku. Tapi ledakan itu? Bagaimana bisa?”
“Berhenti bertanya. Aku mau menitipkannya sebentar di sini.” sela Changmin.
“Menitipkanku?” kata Josh cepat. Dia menatap Changmin. “Memangnya aku anak hilang?”
“Hyung—“ Sekarang dia menatap Josh dengan tatapan yang mengisyaratkan kalau dia sedang tidak ingin bercanda.
“Aku mengerti. Cepat pergi sana—“ Dia berhenti. Changmin telah mengalihkan perhatiannya dari Josh dan mengarah ke si evil smirk yang sedang asyik main game.
“Game baru, Kyu?” tanyanya tertarik. “Ayo kita tanding.”
Sebelum Josh berkata apa-apa, si senyum malaikat mendekatinya lalu berkata, “Excuse me. Sit please…” katanya dengan bahasa Inggris sekenanya.
Josh sempat tertegun sebentar, tapi dia paham maksud Leeteuk.
“Oh, thanks.” tanggapnya.
Josh mendekati sofa lalu duduk di sana dengan agak canggung. Matanya terus menghadap televisi dan memperhatikan si evil smirk, yang kemudian dia kenal dengan nama Kyuhyun. Dia merasakan sesuatu yang berbeda berasal dari anak itu. Eterna. Dia samar-samar bisa merasakan Eterna yang cukup kuat. Tapi bukan hanya dia, melainkan juga beberapa di antara semua orang yang ada disitu juga demikian, meski tidak sejelas anak itu.
Josh mendadak tersadar dari lamunannya setelah beberapa menit. Matanya beralih dari KyuHyun ke Changmin yang masih asyik bertanding.
“Changmin…” Dia memanggilnya sekali namun sepertinya dia tidak mendengar. “Oi, Changmin.” panggilnya lagi, dengan suara yang sedikit lebih besar. Changmin masih tetap saja asyik dengan pertarungannya dengan Kyuhyun.
“SHIM CHANGMIN!” pekiknya, membuat semua orang melonjak kaget. Semua mata beralih memandanginya, termasuk Changmin.
Dengan wajah agak memerah karena malu, dia berkata, “Bukannya kau ada interview bersama Yunho sekarang?”
Mata Changmin membulat dengan horor. Dan detik berikutnya, dia berdiri dan berlari menuju pintu bagaikan orang yang dikejar setan, nyaris terjatuh ketika berada di depan pintu, dan—lagi-lagi, nyaris lupa mengenakan sepatunya sebelum keluar.
“Leeteuk Hyung, aku titip Jo-hyung sebentar, ya!” katanya dan lari keluar dari dorm.
“Ne, arrasso. (Aku mengerti)”
Josh menepuk dahinya lalu menggelengkan kepalanya tidak percaya.
* * *
Suasana berubah menjadi canggung setelah Changmin pergi.
“Maaf jika aku merepotkan kalian.” kata Josh memulai, berusaha menghilangkan kecanggungan itu.
“Tidak apa-apa.” jawab Leeteuk yang diterjemahkan oleh Henry. “Kami juga sedang santai hari ini.”
“Kalian pasti sibuk sekali selama ini.” kata Josh.
“Ya, bisa dikatakan begitu.” jawab Leeteuk lagi. “Kami bahkan sudah jarang bertemu satu dengan yang lain karena kesibukan masing-masing.”
Suasana kembali sunyi. Terkecuali Kyuhyun yang masih asyik dengan gamenya dengan ditemani salah satu temannya bernama Hyukjae—teman akrab Junsu yang terkenal dengan nama Eunhyuk. Dia mengetahui namanya ketika dia dan Junsu mengajaknya jalan-jalan beberapa waktu sebelumnya.
Sementara keduanya bermain game, yang lain hanya duduk-duduk di sana sambil memandangi Josh. Sesekali mereka berbincang di antara mereka sendiri, entah mendiskusikan apa.
Lama-lama dia merasa risih juga. “Ah, kalian tidak perlu menemaniku seperti ini.” katanya kemudian. “Kalau ada yang ingin kalian kerjakan, silahkan saja. Aku akan menunggu Changmin di sini.” Tentu saja semua kalimatnya diterjemahkan kembali oleh Henry.
“Kau ada janji dengan Changmin?” tanya Kyuhyun, yang kini tertarik.
“Sebenarnya dia dan Yunho yang mengundangku.” jawab Josh.
“Berapa lama kau akan berada di Korea?” Sekarang Henry ikut bertanya.
“Aku baru saja sam—“ Dia berhenti. Mendadak dia menyadari sesuatu yang membuatnya membatu.
Josh lalu menepuk dahinya dengan keras mengundang reaksi dari yang lain.
“Astaganaga, aku lupa kalau aku bisa teleport. Kenapa aku tidak menyadarinya dari tadi?” gumamnya dalam bahasa Indonesia sambil kembali menepuk-nepuk dahinya sendiri.
Yang lain termangu-mangu melihat tingkah lakunya. “Aku bisa pulang dulu tadi.” lanjutnya.
Dia berhenti, ketika kembali menyadari hal lain, dan mengalihkan pandangannya kepada sekelompok orang yang sedang menatapnya itu. Baru saja dia menyadari sesuatu.
“Tunggu dulu.” katanya. “Kalian satu grup? Sama seperti Changmin dan Yunho?”
Leeteuk mendengus geli, memperlihatkan lesung pipinya.
“Bukannya kau sudah tahu?” kata Kyuhyun tidak percaya.
“Tidak.” jawab Josh polos. “Kukira kalian cuma teman dekat saja.” Dan kata-katanya disambut dengan dengusan geli dari mereka. Tanpa bermaksud membuatnya tersinggung, tentu saja.
Josh memang sudah tahu kalau semua yang ada di ruangan itu adalah artis karena mereka semua terjebak di tempat yang sama dengannya. Tapi dia tidak pernah menyangka kalau mereka berada di dalam satu grup karena mereka tidak pernah membicarakannya sama sekali.
“Berapa jumlah anggota kalian?” tanya Josh lagi.
“Lima belas.”
Dan Josh menatap mereka dengan mata terbelalak. Tapi dia tidak berniat menanyakan lebih lanjut tentang itu. “Yang lain sedang ada kegiatan?”
“Ya.” jawab LeeTeuk sopan. “Jadwal kami cukup padat sebenarnya.”
“Ah, begitu.” tanggap Josh. Josh sudah pernah tinggal bersama Yunho beserta keempat anggotanya dari TVXQ selama kurang lebih empat tahun. Tinggal bersama orang Korea membuatnya paham betul mengenai perfeksionisme dan profesionalitas mereka dalam segala hal. “Kalian ada jadwal besok?”
“Ya. Hampir seharian.”
“Apa?” Josh keheranan.
“Kami sudah terbiasa.” tanggap LeeTeuk sambil tertawa ringan.
/em
