Actions

Work Header

Bloody Sun, Heavy Rain

Chapter Text

Prologue: Tears from the Sky

Romano berjongkok, memetiki tomat-tomat matang kemerahan dan menaruhnya dalam keranjang besar di punggungnya. Hari itu entah mengapa mendung menggantung di rumah Spain yang biasanya penuh cahaya matahari itu, membuat moodnya semakin buruk. Dan dia harus sudah selesai memanen tomat-tomat itu sebelum hujan turun dan merusak hasil kerja keras mereka. Hasil kerja dia dan Spain. Romano mengangkat kepalanya, tangannya mengusap peluh yang mengaliri keningnya. Sudah untuk kesekian kalinya dia memanen tomat-tomat itu sendirian, tanpa ada Spain di sisinya.

Romano, aku pergi dulu ya, urusan penting nih. Mungkin akan makan waktu satu dua minggu. Kamu baik-baik ya di rumah. Jangan bukakan pintu ke sembarang orang. Oh ya, tomat di ladang kita sepertinya sebentar lagi matang. Tolong diurus ya. Adiós, Romano~!

"Satu dua minggu my ass… Dasar tomato-bastard, keluyuran ke mana saja sih…" personifikasi South Italy itu menggerutu, memasukkan tomat demi tomat ke dalam keranjang. Sudah lebih dari empat bulan tidak ada kabar dari Spain, bahkan sepucuk surat pun tidak. Namun, Romano lebih memilih mati overdosis tomat daripada mengakui bahwa dirinya khawatir. Paling-paling Spain cuma nyasar sampai Australia lalu keasyikan main sama koala sampai lupa pulang, atau diseret France dan Prussia ke bar dan mabuk-mabukan sambil strip tease(?), atau kepincut cewek cakep lalu…ah yang terakhir nggak mungkin, mana ada orang waras yang mau sama Spain yang sudah tampangnya biasa-biasa saja (oke, dia mungkin agak sedikit cakep, cuma sedikit, oke?) gobloknya nggak ketulungan pula. Romano mendengus sambil menurunkan keranjangnya yang sudah penuh, memijat bahunya yang mulai kaku. Dasar Spain bego, sendirinya nanem, eh giliran panen malah ngilang…boss macam apa tuh…

JDERR!

Romano terlonjak, refleks memeluk keranjang tomatnya. "Oh crap!" dia mengutuk ketika butiran-butiran air mulai berjatuhan dari langit, makin lama makin deras. Cepat-cepat ditutupinya keranjang tomat dengan jaketnya, sebelum berlari masuk ke dalam rumah.

"Hari ini emang hari sial atau apa sih?" Dia menggerutu seraya menaruh keranjang tomat di atas meja makan dan mengangkat jaketnya yang basah kuyup. Baru saja dia berkata demikian, lampu rumah mendadak berkedip-kedip, makin lama makin redup. Romano mengerang, merasakan firasat buruk, dan benar saja…

PET!

"Anjrit! Kenapa musti mati lampu segala sih, pe-el-en sial!" umpat Romano, yang seperti biasa tidak pernah menahan lidahnya. Sambil menyebutkan isi kebun binatang dia menggeledah meja dapur, mencari lilin, senter, atau apapun yang bisa dijadikan penerangan.

JEDEEEEEEEERR!

"Gya! Spain!" Romano tanpa sadar berteriak, langsung ambil posisi merunduk di bawah meja, gemetar hebat. Di luar, hujan mulai turun dengan deras, suaranya bergema menghantam bumi sesekali diiringi kilatan cahaya. Romano terus meringkuk, memeluk lututnya, butir-butir air mata mulai terbentuk.

"Spain bodoh…kenapa di saat seperti ini…"

Romano memejamkan matanya, menutup telinganya ketika sebuah kilat menyambar sangat dekat dengan rumah, sejenak menyinari penjuru rumahnya sebelum menggelegar membuat jantungnya nyaris terbang.

"Spain…" Air mata sudah mulai mengaliri wajah bundarnya, segala fungsi tsunderenya dimatikan sudah. "Cepetan pulang…" Dia mengisak perlahan, memeluk lututnya yang gemetar.

"Lo…Lovi…"

Romano tersentak. Matanya jelalatan mencari asal suara yang memanggilnya itu. Suara yang sangat dikenalnya. "Spain? Kamu di mana?"

Di saat itulah dia melihat sosok samar di jendela pintu depan, sosok berjubah dengan rambut berantakan yang sangat dikenalnya. Spain…dia pulang. Romano langsung bangkit, menghapus air matanya dengan lengan baju, sebelum berlari ke pintu depan dan langsung menyentaknya terbuka sambil marah-marah.

"Spain bodoh! Kenapa baru pulang sekarang! Sadar nggak kamu sudah pergi berapa lama hah! Dasar b…" Romano terkesiap ketika melihat sosok Spain dengan jelas untuk pertama kalinya. Jubah merah Conquistador yang sangat dibanggakan Spain robek di mana-mana, kapaknya retak dan tergeletak tak berguna di sampingnya. Wajahnya dialiri darah yang separuh mengering, napasnya berat dan tersengal-sengal. Spain tampak nyaris pingsan.

"Sp…Spain! A-apa yang terjadi? Kenapa…kenapa bisa…" Romano bertanya terbata-bata, memegang lengan Nation yang membesarkannya itu, hanya untuk menariknya kembali ketika dirasakannya jemarinya menyentuh sesuatu yang basah dan panas. Dia menatap ngeri cairan yang mewarnai telapak tangannya.

D-Darah?

"Lovi…? Kamu… baik-baik saja…?" Spain bertanya, suaranya serak dan kasar seolah sudah berhari-hari tidak dilewati cairan. Romano membelalak. Si bodoh ini, di saat kondisinya sendiri hancur-hancuran begini, masih sempat-sempatnya khawatir tentang dia…

"B-Bodoh! Kenapa mengkhawatirkan orang lain di saat begini? Spain bodoh, bodoh! Kamu ngapain aja sih sampe luka-luka gini? Dasar bodoh! Idiot!" Sebelum Romano tersadar, air mata telah kembali mengaliri wajahnya, kali ini diiringi rasa sesak di hati. Lama menghilang, sekarang pulang sekarat…

Spain hanya tertawa kecil, tawa yang bercampur dengan batuk yang terdengar menyakitkan. "S-Syukurlah…kupikir England…sudah…" Tanpa peringatan, Spain roboh ke depan, membuat Romano menjerit ketika tubuhnya tertimpa Nation yang lebih besar itu.

"Spain! Spain! Kamu nggak apa-apa, Spain?" Untuk pertama kalinya, Romano membiarkan rasa khawatirnya yang bertumpuk terdengar jelas. Dia memegang sisi tubuh Spain, berusaha menopangnya ketika tangannya meraba sesuatu yang dingin dan keras di leher Spain. Mata cokelatnya melebar ngeri ketika dia menyadari benda apa itu.

Rantai…? Spain…apa yang sebenarnya terjadi?

Diguncang-guncangkannya tubuh lemas Spain, berusaha membangunkan Nation yang tak sadarkan diri itu.

"Spain…bangun Spain… kamu kan kuat… jangan… jangan mati Spain... Sp...ANTONIO!" tak kuasa menahan diri, Romano meneriakkan nama manusia Spain. Namun itu juga tak bisa mengembalikan kesadaran Spain, mengembalikan senyum di wajahnya yang berlumur darah.

Air mata sudah mengalir deras sekarang, menetes ke rambut cokelat Spain yang bernoda darah kering. Romano melingkarkan tangannya ke bahu Spain, mengisak keras. Seolah semua itu masih belum cukup, apa yang dilihatnya di belakang Spain seolah membuat jantungnya berhenti berdetak.

"A-Armadanya…"

151 kapal pergi, hanya 67 yang kembali.

-tbc (to be continued, bukan tuberculosis, oke? *ditendang*)