Actions

Work Header

Night of the Hunter (Idn)

Chapter Text

Aoi sebagai The Hunter Langkah kaki itu terdengar menggema di antara tembok-tembok di sebuah gang. Setelah menjauh dari keramaian, Aoi bisa mendengar langkah kaki targetnya dengan lebih mudah. Walaupun dia tak sepenuhnya berada di sebuah tempat terpencil, tapi menjauh dari nightclub itu sudah cukup baginya untuk memudahkan tugasnya.

Beberapa langkah di depan Aoi, laki-laki itu memijakkan kakinya di tembok untuk kemudian menggunakannya sebagai tumpuan untuk melompati sebuah pagar kawat. Setelah laki-laki itu menapakkan kakinya dengan mantap di sisi yang berseberangan dengan Aoi, laki-laki itu kembali beranjak berdiri dan melangkahkan kakinya untuk kembali berlari.

“Reita!! Tunggu!!” seru Aoi ketika langkahnya memelan saat dia menghadapi pagar kawat itu di hadapannya.

“Dia sudah bukan 'Reita' lagi, Sayang...” kata suara berat yang mendayu-dayu di sisi kanan Aoi.

Aoi menoleh ke arah laki-laki berbaju hitam dengan suara mendayu-dayu itu. “Tapi, Takashima—!”

“Kau tidak akan lari lebih jauh lagi dari ini!!” seru seorang laki-laki lain, laki-laki berbaju merah di samping kiri Aoi, sambil mengayunkan tangan kanannya ke pagar kawat itu. Sekumpulan aura berwarna merah muncul di kepalan tangannya dan membuat kepalan tangannya menyala seperti terbakar. Ketika laki-laki itu memukulkan kepalan tangannya ke pagar kawat itu, pagar kawat itu langsung hancur berkeping-keping.

Laki-laki berbaju hitam itu bersiul sambil memainkan tongkat hitamnya dengan memegang ujung atasnya yang melengkung. “Kouyou-chan sedang bersemangat hari ini...” katanya sambil membenahi letak kacamata hitamnya.

Aoi melihat ke arah laki-laki bernama Reita yang lari tadi. Reita menoleh, dan dia terlihat sangat terkejut melihat pagar kawat yang tiba-tiba rubuh itu. Reita mencoba untuk lari lagi. Tapi dia mengurungkan niatnya setelah melihat hanya ada tembok tinggi di hadapannya. Reita melihat ke sisi kanan dan kirinya, dan yang dia temui juga tembok-tembok tinggi yang tidak memiliki pijakan apapun, yang mustahil untuk dipanjat begitu saja tanpa bantuan apapun.

Reita berbalik membelakangi tembok, dan menghadapi Aoi yang berdiri di antara dua laki-laki tadi, Takashima yang berpakaian serba hitam, dan Kouyou yang berpakaian serba merah. Reita menggeram, dan dia menghentakkan tangan kanannya. Sebentuk tongkat muncul dalam genggaman tangan kanan Reita. Tongkat itu pendek, panjangnya hanya sekitar dua kepalan tangan. Tongkat itu tak memiliki hiasan apapun. “Aku Magician, membawa nama Apollo,” katanya. “Aku matahari, dan kalian semua akan berakhir dalam apiku!!” serunya saat ujung dari tongkat yang ia genggam itu kemudian terbakar, dengan kobaran api yang sangat besar. Dengan kobaran api seperti itu, tongkat itu jadi terlihat lebih menyerupai obor daripada sekedar tongkat biasa.

“Apollo,” kata Takashima sambil tertawa pelan.

“Kau tak layak menyebut nama itu!!” seru Reita sambil mengarahkan tongkat apinya yang seperti obor ke arah ketiga orang di hadapannya.

Takashima menghunuskan tongkat hitamnya sambil tetap memegang ujung atas tongkatnya yang melengkung. “Ya, ya. Mau kau kobarkan apimu sebesar apapun, tak bisakah kau lihat kalau saat ini bukanlah waktu yang tepat untukmu untuk bersinar?” tanya Takashima sambil menunjuk ke arah bulan dengan tongkat hitamnya itu.

“Cih...” umpat Reita.

“Kau tak akan bisa membakar apapun, Magician.” Takashima kemudian melintangkan tongkatnya ke depan Aoi. “Pegang tongkatnya, Sayang.”

Aoi terkejut. “Tapi—”

“Kalau begitu kubakar kalian semua sekarang!!” seru Reita sambil berlari ke arah Aoi.

“Aoi-san!!” seru Kouyou sambil memegang tangan kiri Aoi, dan mengulurkannya ke arah Reita yang kian dekat padanya.

Terkesiap dengan situasi yang dia hadapi, Aoi melakukan apapun yang diperintahkan. Kepanikan itu membuat dia pasrah dengan apapun yang dia dengar. Dia menggenggam tongkat hitam Takashima dengan tangan kanannya, dan yang terjadi setelah itu, tongkat Takashima berubah menjadi begitu dingin.

Freeze...” bisik Takashima sambil menunjukkan seringainya.

Reita mendekat dan mengayunkan tongkat obornya ke arah Aoi. Di saat yang sama, dalam sekejap, sebentuk uap yang begitu dingin keluar dari telapak tangan kiri Aoi, dan melesat ke arah api yang masih berkobar dari tongkat obor Reita.

“A-APA!?” seru Reita terkejut ketika dia melihat uap es tiba-tiba mengelilingi api dari tongkat obornya dan merayap hingga ke pangkal tongkat yang dia pegang. Karena uap es itu, api di tongkat obor Reita padam, dan Reita sampai terpaksa melepaskan tongkat obornya. Tongkat obor itu jatuh ke aspal dan menggelinding ke arah Takashima.

Di sebelah kiri Aoi, Kouyou melepaskan tangan Aoi. “Apa... yang... terjadi..?” tanya Aoi yang masih belum bisa memahami keadaannya. Dia perlahan-lahan melepaskan genggamannya dari tongkat hitam Takashima.

Di sebelah kanannya, Takashima hanya memegang kepala Aoi dan mencium rambut pemuda berambut hitam itu. “Terima kasih banyak atas kerja samanya, Sayang. Kau hebat sekali,” kata Takashima yang kemudian menggunakan tongkat hitamnya untuk bertumpu ketika dia berlutut. Takashima memungut tongkat obor milik Reita tadi sebelum dia kembali bangkit berdiri. “Kau tahu, Magician? Apollo tanpa api tak akan bisa menjadi matahari.”

“Tutup mulutmu...” kata Reita dengan napas tersengal-sengal. Reita kemudian melihat ke arah Aoi. “Kau...”

“Y-ya..?” sahut Aoi gugup.

“Kau akan terus melakukan ini sampai kau mendapatkan semua Arcana?”

“Y-ya...” jawab Aoi yang masih gugup.

“Kenapa kau mau berbuat sejauh itu?”

“Karena...” Aoi menatap lurus ke dalam mata Reita. “Karena aku sudah berjanji akan membantu mereka,” kata Aoi sambil melihat ke arah Takashima dan Kouyou.

“Apa yang sudah mereka lakukan untukmu sampai kau mau melakukan ini semua?” tanya Reita lagi. Aoi terdiam mendengar pertanyaan itu. Reita tersenyum. “Sampai tak bisa diucapkan rupanya. Baiklah. Kalau begitu, apakah ada yang kau inginkan untuk kulakukan bagimu?” tanya Reita.

“Eh?”

“Itu caraku menghormatimu yang punya keberanian untuk menghadapiku,” jelas Reita.

“Oh... mm...” Aoi bergumam. “Aku... hanya ingin... kau memperbolehkanku mengontrol kebebasanmu.”

Reita menunduk. Dia menghela napas panjang. “Tak adakah permintaan lain? Aku bisa memberimu kekuatan api yang bisa membakar apapun kalau kau mau.”

“Mm... sepertinya... itu... mengerikan...” kata Aoi sambil menggaruk kepalanya.

“Jadi, kau tak mau?” tanya Reita. Aoi menggeleng. “Kau tetap berteguh pada permintaan pertamamu tadi?” tanya Reita lagi. Aoi mengangguk. Reita kembali menghela napas panjang. “Yah, sepertinya memang hanya itu yang harus kulakukan sekarang, ya...” kata Reita sambil berlutut.

Melihat itu, Kouyou berjalan mendekati Reita. “Kau sudah menikmati kebebasanmu, Magician,” kata Kouyou sambil mengulurkan tangan kanannya, dan menghadapkan telapak tangannya ke kening Reita. “Sekarang waktunya bagimu untuk kembali ke tempat kau berasal,” kata Kouyou yang membuat Reita memejamkan kedua matanya. Sebentuk asap kemudian menguap dari badan Reita.

Dari sisi Aoi, Takashima mengambil sebuah kartu kosong dari kantung bagian dalam jas hitamnya, dan melemparkan kartu itu ke atas kepala Reita. Kartu kosong itu kemudian menghisap semua asap yang keluar dari badan Reita. Tongkat obor yang tadi Takashima pegang pun ikut berubah menjadi asap dan ikut masuk ke dalam kartu itu. Kouyou langsung buru-buru berlutut dan menahan hempasan tubuh Reita yang tiba-tiba saja melemah dan hampir jatuh menabrak aspal.

“A-apakah dia tidak apa-apa..?” tanya Aoi khawatir.

“Dia tidak apa-apa,” jawab Kouyou. “Tubuhnya hanya melemah karena The Magician sudah memaksanya menguras habis tenaganya.”

Setelah semua asap yang menguap dari badan Reita sudah habis terhisap oleh kartu kosong itu, kartu kosong itu melayang kembali ke tangan Takashima. Takashima menangkap kartunya dan memperlihatkan kartunya pada Aoi. “Ini dia, Sayang,” katanya. “Ini kartu pertama yang berhasil kau tangkap untuk kami. The Magician.” Kartu yang semula kosong itu kini bergambar laki-laki berjubah merah dengan lingkaran infiniti melayang di atas kepalanya.

“K-kurasa... sejak tadi, aku tidak melakukan apa-apa...” kata Aoi ragu sambil melihat ke arah kartu berlambang “I” itu.

“Anda salah, Aoi-san,” kata Kouyou sambil membaringkan badan Reita dengan hati-hati di aspal. “Kalau tidak ada anda, kami tidak tahu ke mana kami harus menyalurkan tenaga kami untuk bisa mengalahkan The Magician.”

“Ah...” Aoi mengangguk pelan. “Begitukah..?”

“Ya,” jawab Kouyou sambil beranjak berdiri. Dia kemudian berbalik dan kembali menghadap ke arah Aoi. “Ini baru awal dari segalanya.” Kouyou kemudian berjalan mendekati Aoi dan memegang bahu kiri Aoi. Di sebelah kanannya, Takashima ikut memegang bahu kanan Aoi. “Untuk selanjutnya, kami mohon bantuan anda.”

*+*

Pagi itu, suara yang sangat keras tiba-tiba saja memenuhi kamar di apartemen sederhana Aoi. Aoi mengulurkan tangannya keluar dari dalam selimut dan meraba-raba untuk mencari sumber suara nyaring itu. Setelah dia memegang sebuah benda dingin, Aoi langsung menekan tombol yang ada di bagian atas benda itu, dan suara itu langsung menghilang. Aoi mengambil benda dingin itu, dan membawanya ke dalam selimutnya.

“Jam tujuh pagi...” ucapnya pelan dengan suara yang masih serak dari dalam selimutnya ketika dia melihat ke arah jam weker yang dia ambil tadi.

Ohayou gozaimachuuu, Mai Darliiiing~”

Aoi terdiam. Aoi berpikir. Aoi tiba-tiba membelalakkan matanya. Aoi buru-buru mendorong selimutnya dan sekuat tenaga berusaha untuk bangkit dari posisi tidurnya. Di hadapannya, dia melihat laki-laki berpakaian merah-merah yang menatapnya dalam diam, dan laki-laki lain dengan penampilan hitam-hitam yang tersenyum ke arahnya sambil menarik selimutnya pelan-pelan.

“CABUL!!” seru Aoi sambil menampar wajah Takashima keras-keras sebelum menarik kembali selimutnya sampai ke batas dagunya.

“Sayaaaang! Kenapa, oh, kenapaaa!?” seru Takashima sambil memegangi pipi kirinya.

“A-apa yang kalian lakukan di sini!?”

“Akan lebih mudah untuk sebisa mungkin selalu berada dekat dengan anda, Aoi-san,” jawab Kouyou kali ini. Dia mendekat ke arah tempat tidur Aoi dan menunjukkan kartu The Magician itu pada pemuda berambut hitam itu.

Aoi langsung memasukkan kepalanya kembali ke dalam selimut. “Ternyata yang tadi malam itu bukan mimpi...”

“Ayo, Sayangkuuu!” seru Takashima yang sudah kembali ceria. “Nanti kau terlambaaat!” seru Takashima kembali menarik selimut Aoi.

“MENJAUH DARIKU!!” seru Aoi yang langsung menggunakan kakinya untuk mendorong-dorong Takashima supaya menjauh darinya.

Aoi Shiroyama, pemuda berusia dua puluh enam tahun yang bekerja di sebuah kafe untuk menyambung hidupnya. Dirasa begitu mustahil ketika dia hanya bekerja di kafe untuk alasan seberat itu. Ini sudah kesekian kalinya Aoi berpindah kerja di banyak tempat. Dulu Aoi bahkan bekerja di tiga tempat yang berbeda dalam satu hari supaya dia bisa membayar uang sewa apartemen yang layak. Aoi kemudian bertemu dengan Hiroto, temannya semasa SMA. Hiroto mengajak Aoi untuk bekerja bersamanya di kafe yang baru saja dibuka. Merasa cukup dengan tabungan yang sudah dia kumpulkan dan gajinya yang sekarang, barulah Aoi berhenti di dua tempat kerjanya yang lain.

Setelah lulus SMA, Aoi memang tidak kuliah. Dia lebih memilih untuk bekerja di banyak tempat daripada terkungkung dalam satu struktur pendidikan yang – menurutnya – menjemukan. Karena sering berpindah tempat kerja, Aoi tak memiliki banyak orang yang dia kenal dengan akrab. Sejauh ini, hanya Hiroto yang dia kenal dengan baik. Selain itu, Aoi hanya bisa sedikit terbuka dengan atasannya, pemilik kafe itu. Karena itulah, pertemuannya dengan Kouyou dan Takashima adalah satu hal yang cukup mengejutkan bagi Aoi, terlebih karena Aoi harus diperkenalkan dengan dunia sihir yang selama ini Aoi anggap hanya ada dalam buku, film, atau hal-hal sejenisnya.

Aoi melihat ke dua sudut apartemennya yang sederhana. Dulu, dia hanya tinggal sendirian di apartemennya itu. Sekarang, setelah dia melihat kehadiran Kouyou dan Takashima, apartemennya terasa begitu sempit.

Kouyou dan Takashima tidak benar-benar tinggal di dalam apartemen Aoi. Katakanlah, mereka berdua bukan manusia. Aoi sendiri tidak tahu apakah kedua ‘orang’ itu sebenarnya. Mereka bisa muncul di mana saja yang mereka suka. Seperti sekarang contohnya. Tadi malam, setelah Aoi berhasil mendapatkan kartu The Magician, dia pulang ke apartemennya dan memastikan kedua orang itu ada di luar apartemennya. Tetapi ketika Aoi terbangun, kedua orang itu tiba-tiba sudah berada di dekat tempat tidurnya. Itu sama seperti pertemuan pertama Aoi dengan kedua orang itu.

Saat itu Aoi hampir saja mengalami kecelakaan. Ada seorang anak kecil yang sedang bermain bola di trotoar. Aoi sudah menduga kalau bola itu akan menggelinding ke tengah jalan. Anak itu langsung berlari ke tengah jalan untuk mengambil kembali bolanya. Saat Aoi menoleh, Aoi melihat truk yang melaju dengan cukup kencang. Sama seperti anak laki-laki yang tadi langsung berlari ke tengah jalan untuk mengambil bolanya, Aoi pun tak berpikir panjang saat dia berlari ke arah anak itu. Aoi mendorong anak itu ke pinggir jalan, dan menjadikan dirinya berada di posisi anak itu tadi, berada di depan truk besar yang melaju kencang.

Saat itu Aoi sudah mengira kalau dia akan mati. Dia hanya memejamkan matanya dan pasrah pada takdirnya. Anehnya, setelah beberapa saat menunggu, dia tak kunjung merasakan apapun menghantam tubuhnya. Lebih dari itu, suara truk itu pun tak lagi dia dengar. Saat Aoi membuka kedua matanya, saat itu dia sudah berada di pinggir pantai.

Aoi tidak tahu bagaimana caranya dia bisa berada di sana dalam sekejap. Sampai dia melihat Kouyou dan Takashima di apartemennya saat ini pun dia masih tak mengerti dengan apa yang terjadi saat itu. Tapi, di pantai itulah Aoi bertemu dengan Joker – atau Kouyou – yang berpakaian merah-merah, dan Albino – atau Takashima – yang berpakaian serba hitam untuk pertama kalinya, dan mereka berdiri masing-masing di sisi kiri dan kanan Aoi. Mereka berdua menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan “pengorbanan” dan sebuah “perjanjian”. Aoi hanya memejamkan kedua matanya dan mengangguk dengan segala hal yang mereka katakan tanpa pernah bisa mengingat semuanya dengan detil.

Setelah Aoi membuka matanya kembali, saat itu dia sudah terbaring di trotoar. Ada banyak orang yang mengelilingi Aoi saat itu. Mereka bertanya apakah Aoi baik-baik saja. Seorang perempuan bahkan berterima kasih pada Aoi karena sudah menyelamatkan anaknya yang tadi mengambil bola di tengah jalan itu. Di belakang kerumunan itu, Aoi melihat Kouyou dan Takashima yang tadi dia temui di pantai. Saat itu, Kouyou hanya mengangguk, dan Takashima tersenyum. Baru di pertemuan kedua mereka, Takashima menjelaskan pada Aoi kalau ‘pantai’ itu adalah sebuah ‘ruang’ di bawah alam sadar Aoi. Walau masih belum terlalu paham dengan penjelasan itu, Aoi memilih untuk diam.

Pertama kali Aoi bertemu dengan kedua orang itu, mereka mengaku bernama Joker dan Albino. Mereka kemudian mengganti nama mereka dengan nama yang lebih lazim dengan tempat Aoi tinggal sekarang. Joker mengganti namanya menjadi Kouyou, dan Albino mengganti namanya menjadi Takashima. Alasan mereka mengganti nama mereka? Karena mereka tidak ingin para Arcana bisa menemukan mereka dengan mudah.

Siapa Arcana?

“Mereka adalah...” Takashima terdiam sambil menoleh ke arah Kouyou. “Aku lupa bagaimana kau menjelaskannya, Joker-chan...” kata Takashima dengan suaranya yang mendayu-dayu.

Takashima termasuk seseorang yang membingungkan bagi Aoi. Takashima mungkin mengenakan kemeja putih. Tapi kulitnya tak cukup pucat untuk bisa disebut “Albino”. Terlepas dari keadaan fisiknya, Albino atau Takashima ini lebih cocok disebut mafia atau sejenisnya. Setidaknya, itulah yang Aoi pikirkan saat dia melihat Takashima.

Takashima mengenakan topi fedora berwarna hitam, kacamata hitam dan dia bahkan memakai lipstik berwarna hitam. Diulang: LIPSTIK berwarna HITAM. Ya, Takashima itu laki-laki. Tapi tampaknya dia memang tipe laki-laki yang suka berdandan. Selain itu, dia juga mengenakan sarung tangan berwarna hitam. Yang lebih mencolok, Aoi bisa melihat beberapa cincin yang cukup besar yang melingkar di jari-jarinya di luar sarung tangannya. Bisa membayangkan besar lingkaran cincin-cincin itu? Jas dan celananya juga berwarna hitam dengan motif garis-garis putih tipis. Dia mengenakan rompi hitam, sepatu BERHAK TINGGI berwarna hitam, dan dia suka membawa tongkat berwarna hitam. Takashima juga suka menghisap cerutu.

Takashima punya cara jalan yang meliuk-liuk, yang membuat Aoi begitu kesal melihatnya. Seandainya Aoi tidak ingat bagaimana Takashima membantunya menghadapi Reita, The Magician, tadi malam, Aoi tidak akan tahu kalau Takashima masih memiliki sisi gagah. “Sungguh androgini sekali...” gumam Aoi pelan setiap kali dia memperhatikan detil penampilan Takashima.

Siapa nama aslinya tadi? Albino. Albino memiliki sifat yang bertolak belakang dengan ‘rekan kerjanya’ yang memiliki nama asli Joker.

“Joker sayaaang?” Takashima mengulang panggilannya.

“Hentikan itu.”

“Ih, sangat tidak romantis,” cibir Takashima.

“Diam, Albi.”

“Hei, kupikir aku sudah pernah bilang padamu untuk memanggilku ‘Takashima’?!”

“Itulah kenapa aku mau kau berhenti memanggilku ‘Joker’.”

“Tapi kau—”

“Tuan-tuan?” panggil Aoi dengan nada malas karena sepertinya kedua orang itu tidak akan berhenti bertengkar.

“Oh, maaf, Sayang,” sahut Takashima yang kembali riang sambil mengembalikan perhatiannya pada Aoi. “Arcana adalah sekumpulan kekuatan besar yang bersemayam di dalam banyak kartu. Kekuatan-kekuatan itu memiliki kemampuan yang aneh.”

“Unik,” ralat Kouyou. “Seperti yang kami pinjamkan pada anda saat menghadapi The Magician tadi malam, Aoi-san.”

Aoi melihat ke arah Kouyou. “Tolong, tak perlu pakai ‘-san’.”

“Tidak mau,” tolak Kouyou, dan Aoi hanya bisa menghela napas panjang.

Kouyou memiliki rambut coklat yang sama seperti Takashima. Hanya saja, karena pengaruh aura merah yang tak berhenti berpendar di sekitar matanya, warna rambutnya jadi terlihat sedikit kemerahan. Aura itu tak berhenti berpendar karena besar energi yang Kouyou miliki dalam tubuhnya. Karena terlalu besar, energi itu meluap dari matanya.

Kouyou menggunakan sangat banyak aksesoris yang melekat di badannya. Dia mengenakan empat kalung. Ada cincin perak dan emas melingkar hampir di setiap jemarinya. Selain itu, Kouyou juga mengenakan beberapa gelang, dan anting.

Kalau Takashima berpenampilan hitam-hitam, Kouyou berpenampilan merah-merah. Rambutnya yang coklat kemerahan itu terasa semakin merah karena pengaruh jubah panjangnya yang juga berwarna merah. Di mata Aoi, Kouyou terlihat seperti kobaran api yang berjalan.

“Jadi—” Kouyou melanjutkan penjelasannya. “Para Arcana itu adalah kekuatan yang berbahaya. Mereka bisa merasuki manusia. Masalah dimulai jika orang-orang tidak bisa mengontrolnya. Kekuatan itu bisa meledak-ledak, dan bisa membuat kehancuran di mana-mana. Seandainya pun ada seseorang yang bisa mengontrol kekuatan itu, masalah lain bisa saja muncul jika orang itu tergoda menggunakan kekuatan itu untuk hal-hal jahat.”

“Misalnya?” tanya Aoi.

“Menghilangkan semua ingatanmu.”